BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…
4.3 Pembahasan
Glaukoma sudut tertutup primer dikarakteristikan dengan adanya obstruksi aliran keluar cairan akuous pada sudut iridokorneal yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular (TIO) dan akhirnya mengakibatkan kerusakan saraf optik. Oleh karena itu, penurunan TIO sangat penting untuk melindungi fungsi visual pada pasien GSTpP. Dengan menciptakan jalur aliran keluar tambahan menuju permukaan okular, operasi filtrasi glaukoma, seperti trabekulektomi maupun trabekulektomi yang disertai ekstraksi lensa, telah menjadi tindakan umum dalam pengurangan TIO pada kasus GSTpP.4,9,17
Tindakan ekstraksi lensa sering dilakukan pada orang tua seiring dengan munculnya katarak. Berdasarkan beberapa studi, dilaporkan bahwa penurunan TIO dapat terjadi dengan lebih baik setelah ekstraksi lensa pada pasien dengan GSTpP. Beberapa kasus dengan GSTpP, dibutuhkan kombinasi fakotrabekulektomi (fakoemulsifikasi disertai trabekulektomi) dengan implantasi lensa intraokular. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa fakotrabekulektomi dapat secara efektif menurunkan TIO serta memiliki keunggulan dalam meningkatkan penglihatan pada pasien dengan koeksistensi GSTpP yang disertai katarak.9,27,28
Berdasarkan data yang didapatkan, ditemukan jumlah tindakan bedah trabekulektomi atau fakotrabekulektomi primer pada glaukoma sudut tertutup primer dilakukan pada 145 mata. Rata-rata usia pasien pada penelitian ini adalah 60.73 tahun dengan rata-rata usia pada kelompok fakotrabekulektomi ditemukan lebih tua dibandingkan trabekulektomi. Perbedaan usia pada kedua kelompok ini
berbeda secara statistik. Hal ini dikarenakan fakotrabekulektomi umumnya dilakukan pada pasien dengan kekeruhan lensa yang berpengaruh terhadap tajam penglihatan. Semakin bertambah usia, lensa menjadi semakin bertambah keruh sehingga mempengaruhi tajam penglihatan. Hal ini sesuai dengan berbagai penelitian, seperti yang dilakukan oleh Song dkk di Amerika dan Mei dkk di Cina yang menemukan hal yang sama dengan penelitian ini. Jumlah total pasien perempuan ditemukan lebih banyak daripada laki-laki pada penelitian ini. Pada masing-masing kelompok tindakan didapatkan hasil yang serupa dimana perempuan lebih banyak. Hal ini sesuai dengan berbagai literatur yang menyatakan bahwa perempuan merupakan jenis kelamin terbanyak yang mengalami glaukoma sudut tertutup primer.5,9
Tekanan intraokular dan cup disc rasio antara kelompok tindakan trabekulektomi dan fakotrabekulektomi memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0.05). Didapatkan rata-rata TIO yang lebih tinggi, yaitu 40.51 mmHg pada kelompok trabekulektomi, dibandingkan dengan TIO pada mata yang dilakukan fakotrabekulektomi. Rata-rata TIO pada tindakan fakotrabekulektomi sebesar 33.49 mmHg. Tingginya tekanan intraokular prabedah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan perubahan pemilihan tindakan bedah dari fakotrabekulektomi menjadi trabekulektomi saja. Demikian halnya dengan c/d rasio kedua kelompok. Didapatkan rata-rata c/d rasio kelompok tindakan trabekulektomi sebesar 0.75±0.237, lebih besar daripada kelompok fakotrabekulektomi. Temuan ini mendekati temuan Mei et al yang menemukan rata-rata c/d rasio sebesar 0.8 pada kelompok tindakan trabekulektomi. Hal ini
44
sejalan dengan besarnya rata-rata TIO yang ditemukan pada kelompok trabekulektomi. Tajam penglihatan pada kedua kelompok ditemukan tidak berbeda secara statistik dengan kelompok tajam penglihatan kurang dari 3/60 ditemukan paling banyak. Pasien pada kedua kelompok tindakan rata-rata mendapatkan 2 obat glaukoma sebelum dilakukan tindakan bedah. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari jumlah obat prabedah antara kedua kelompok.5,9 Jumlah tindakan trabekulektomi yang jauh lebih banyak daripada tindakan fakotrabekulektomi dapat dijelaskan berdasarkan temuan rata-rata TIO yang tinggi pada kelompok tersebut. Kondisi tersebut memberikan informasi bahwa pasien yang datang berobat ke PMN RS Mata Cicendo memiliki kondisi glaukoma yang berat. Status lensa pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan pada analisis statistik. Walaupun secara persentase didapatkan status lensa yang agak keruh sebagai mayoritas status lensa mata yang dilakukan tindakan, tindakan trabekulektomi saja tanpa ekstraksi lensa tetap menjadi pilihan terbanyak yang dilakukan mengingat banyaknya pasien yang datang dalam kondisi glaukoma berat. Pemilihan trabekulektomi saja diharapkan mengurangi risiko yang dapat terjadi berupa reaksi inflamasi yang lebih besar pascaoperasi sehingga mempengaruhi hasil bleb yang terbentuk dan pada akhirnya akan berpengaruh pada hasil akhir TIO.24,28
Fakotrabekulektomi memiliki kemungkinan terjadinya komplikasi pascaoperasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan trabekulektomi saja.
Komplikasi yang terjadi dapat berupa hifema dan fibrin di bilik mata depan, endoftalmitis, dan peningkatan jaringan parut pada bleb penyaringan. Pada
penelitian ini, ditemukan jumlah komplikasi yang lebih banyak pada kelompok fakotrabekulektomi, yaitu sebanyak 3 komplikasi dari 41 tindakan fakotrabekulektomi (7.2%). Komplikasi tersebut berupa ablasio koroid, glaukoma maligna, serta prolaps vitreus yang terjadi pada 3 pasien berbeda. Namun, hal ini tidak bermakna secara statistik (p= 0.897). Pasien dengan ablasio koroid mendapatkan tatalaksana berupa steroid oral selama satu minggu. Terdapat penurunan tajam penglihatan pasien dari 0.2 menjadi 0.05. Kelompok pasien yang dilakukan trabekulektomi saja tidak ditemukan adanya komplikasi pada penelitian ini. Hal ini berbeda dari beberapa studi yang menyatakan bahwa prosedur trabekulektomi lebih sering mengalami komplikasi berupa hifema yaitu 6,9% dan 14%, seperti yang dikemukakan oleh Song dkk dan Mei dkk. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya komplikasi hifema pada kedua kelompok tindakan.
Komplikasi berupa TIO hari pertama yang meninggi ditemukan sebesar 12% pada kelompok fakotrabekulektomi oleh Mei dkk. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya lonjakan TIO pada hari pertama pascaoperasi. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kombinasi fakotrabekulektomi memiliki risiko komplikasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan prosedur trabekulektomi. Hal ini sesuai dengan temuan pada penelitian ini yang menemukan komplikasi sebesar 7.2% pada tindakan fakotrabekulektomi. Hasil berbeda ditemukan pada metanalisis Ahmadzadeh dkk. Penelitian Ahamadzadeh dkk menemukan risiko komplikasi yang lebih rendah pada kelompok fakotrabekulektomi jika dibandingkan dengan trabekulektomi.5,9,29
46
Glaukoma maligna merupakan salah satu komplikasi yang dapat terjadi pascaoperasi ekstraksi katarak maupun bedah glaukoma. Patomekanisme terjadinya komplikasi ini adalah terjadinya aliran balik cairan menuju vitreus sehingga mengakibatkan penambahan volume vitreus dan pendangkalan bilik mata depan maupun belakang. Glaukoma sudut tertutup merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya komplikasi ini. Selain itu, peradangan yang tinggi pascaoperasi juga meningkatkan risiko terjadinya glaukoma maligna. Pada penelitian ini ditemukan 1 mata (2.44%) mengalami glaukoma maligna pada minggu kedua follow-up pascaoperasi fakotrabekulektomi. Pasien menjalani tindakan vitrektomi dan pembentukan bilik mata depan. Tajam penglihatan pasien mengalami penurunan dari 0.1 menjadi persepsi cahaya. Komplikasi glaukoma maligna pada penelitian ini serupa dengan temuan Varma dkk yang menemukan glaukoma maligna pada periode follow-up 1-3 minggu pascaoperasi katarak. Krix- Jachym dkk menemukan insidensi sebesar 1.81% pada pasien pascafakotrabekulektomi dalam penelitiannya.30,31
Keberhasilan kedua kelompok tindakan dianalisis menggunakan analisis kesintasan. Berdasarkan hasil uji statistik, tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok tindakan (p=0.102) dengan survival rate kumulatif tindakan trabekulektomi pada kelompok keberhasilan parsial sebesar 58.6% dan tindakan fakotrabekulektomi sebesar 85.4% pada tahun kelima. Rotchford dkk menemukan tingkat keberhasilan tindakan trabekulektomi maupun fakotrabekulektomi ditemukan beragam antara 36% - 98% di berbagai penelitian. Lazcano Gomez dkk ketika melakukan penelitian pada populasi hispanik menemukan serupa, yaitu
tidak adanya perbedaan yang berbeda signifikan secara statistik antara tingkat keberhasilan kedua kelompok tindakan. Demikian juga Choy dkk dan Parikh dkk dalam penelitiannya juga mendapatkan hasil yang sama bahwa keberhasilan tindakan fakotrabekulektomi sebanding dengan trabekulektomi. 11,25,32,33
Beberapa kemungkinan yang mendasari keberhasilan yang sebanding antara kedua kelompok tindakan pada penelitian ini adalah perbedaan usia antara kedua kelompok tindakan, tekanan intraokular sebelum tindakan, dan pemberian antiinflamasi pascatindakan. Berbagai literatur mengatakan bahwa usia yang lebih tua mengakibatkan terjadinya peradangan pascaoperasi yang lebih rendah.
Tekanan intraokular awal yang lebih rendah pada kelompok fakotrabekulektomi juga dapat menjadikan hasil penurunan TIO antara kedua kelompok menjadi sebanding. Beberapa literatur mengemukakan bahwa walaupun terjadi peradangan yang lebih besar pada fakotrabekukektomi, bukaan sudut bilik mata depan yang lebih besar karena lensa yang sudah terekstraksi menjadikan aliran akuous lebih baik sehingga trabekulektomi dan fakotrabekulektomi dapat memiliki efektivitas yang sebanding dalam mengontrol tekanan intraokular. Namun, pada penelitian ini, pemeriksaan sudut bilik mata depan pascaoperasi tidak rutin dilakukan, sehingga efek tindakan fakotrabekulektomi dalam perubahan sudut bilik mata depan tidak dapat terlihat. 11,25,32,33
Antiinflamasi pascaoperasi diberikan kepada kedua kelompok tindakan. Pasien diberikan steroid topikal berupa prednisolone asetat dengan dosis pemberian tiap 4 jam per hari dengan diikuti penurunan dosis bertahap tiap minggunya.
Pemberian steroid topikal ini mempengaruhi proses peradangan yang terjadi pada
48
kedua kelompok tindakan sehingga penurunan TIO pada kedua kelompok dapat tercapai. Amatlouh dkk dalam meta analisisnya tentang penggunaan steroid sebagai agen antiinflamasi pascaoperasi trabekulektomi dan fakotrabekulektomi, menemukan bahwa pemberian steroid topikal memberikan efek pengontrolan TIO yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian plasebo melalui mekanisme aksinya pada fase penyembuhan luka.29,34,35
Penyembuhan luka jaringan dapat dikategorikan menjadi empat fase utama, yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Steroid bekerja pada fase inflamasi dengan menurunkan respon inflamasi melalui penghambatan fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini berperan dalam perubahan membrane fosfolipid menjadi asam arakidonat yang merupakan tahap awal dari terjadinya produksi leukotrin, prostaglandin, dan tromboksan. Hal ini akan mengakibatkan penurunan konsentrasi, migrasi, dan aktivitas leukosit, serta menurunkan degranulasi sel mast dan granulosit, juga mencegah pembentukan fibrin. Aktivitas leukosit yang terhambat mengakibatkan terhambatnya diferensiasi monosit menjadi makrofag, sehingga pengeluaran faktor pertumbuhan pun terhambat.
Keseluruhan hal ini menyebabkan fase remodelling dari bleb dan flap sklera pada penyembuhan luka terjadi lebih minimal sehingga risiko kegagalan bleb berkurang dan TIO dapat terkontrol dengan baik. Namun, pada penelitian ini peneliti tidak dapat menganalisa status peradangan yang terjadi dikarenakan keterbatasan data yang tertulis pada rekam medis. Selain itu, kondisi bleb yang terbentuk tidak dapat dievaluasi pada periode follow-up dikarenakan tidak adanya data bentuk bleb pada rekam medis.34,35
Terdapat 14 mata (13.46%) yang menjalani operasi ekstraksi katarak dalam rentang follow-up 5 tahun, termasuk di dalamnya 5 mata yang sebelumnya direncanakan untuk dilakukan fakotrabekulektomi. Namun, karena TIO yang tinggi pada pemeriksaan praoperasi, tindakan trabekulektomi dipilih untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukannya ekstraksi katarak pada follow-up selanjutnya. Jumlah terbanyak dilakukan operasi katarak terdapat pada periode follow-up 1 tahun dimana terdapat 4 mata yang menjalankan operasi katarak pascatrabekulektomi. Trabekulektomi dapat mengakselerasi berkembangnya katarak. Advanced Glaucoma Intervention Study melaporkan terjadinya peningkatan risiko berkembangnya katarak sebesar 78% dalam 5 tahun pascatindakan trabekulektomi. Patel dkk mengemukakan munculnya katarak yang signifikan mempengaruhi penglihatan setelah lima tahun pascatindakan trabekulektomi. Penelitian yang dilakukan Tsai dkk menemukan proporsi yang tinggi mencapai 50% pasien yang membutuhkan operasi katarak dalam kurun waktu follow-up 3 tahun. 7,36,37
Studi ini memiliki beberapa kekurangan dikarenakan adanya limitasi dari studi retrospektif. Pertama, randomisasi pada pasien tidak dilakukan. Indikasi pemilihan tindakan operasi apa yang diberikan kepada pasien mungkin berbeda pada dua grup tersebut. Trabekulektomi lebih diindikasikan untuk menurunkan tekanan intraokular yang tidak terkontrol, sedangkan fakotrabekulektomi dilakukan pada pasien dengan katarak yang signifkan mengganggu penglihatan dengan TIO yang lebih terkontrol dengan obat antiglaukoma. Kedua, homogenitas dari kedua kelompok tindakan berbeda. Kelompok tindakan trabekulektomi
50
ditemukan lebih banyak pada studi retrospektif ini. Ketiga, tidak dapat dilakukan analisis untuk menyesuaikan potensi perancu, seperti kondisi peradangan, pada penelitian ini.
51 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Tidak terdapat perbedaan keberhasilan tindakan trabekulektomi dibandingkan dengan tindakan kombinasi fakotrabekulektomi dalam menurunkan tekanan intraokular pada glaukoma sudut tertutup primer. Walaupun tidak terdapat perbedaan secara statistik pada komplikasi yang terjadi di kedua kelompok tindakan, terdapat komplikasi pascaoperasi berupa ablasio koroid dan glaukoma maligna pada kelompok fakotrabekulektomi yang mengakibatkan terjadinya penurunan tajam penglihatan.
5.2 Saran
1) Dilakukan penelitian analisis kesintasan tindakan trabekulektomi dan fakotrabekulektomi yang bersifat prospektif.
2) Dilakukan penelitian dengan subyek penelitian yang homogen pada kedua kelompok tindakan.
3) Dilakukan penelitian lanjutan dengan menganalisis potensi perancu pada penelitian ini.
52
DAFTAR PUSTAKA
1. Asian Pasific Glaucoma Society. Asia Pacific Glaucoma Guidelines. Kugler Publications; 2016.
2. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. Angle Closure Glaucoma. Dalam: Basic Science and Clinical Course Section 10: Glaucoma. USA: American Academy of Ophthalmology; 2016. hlm. 113–5.
3. The International Agency for the Prevention of Blindness. Global Vision Database Maps [Internet]. IAPB Vision Atlas. 2017. Tersedia pada: http://atlas.iapb.org/gvd- maps/
4. Sun X, Dai Y, Chen Y, Yu D-Y, Cringle SJ, Chen J, dkk. Primary angle closure glaucoma: What we know and what we don’t know. Progress in Retinal and Eye Research. 1 Maret 2017;57:26–45.
5. Song BJ, Ramanathan M, Morales E, Law SK, Giaconi JA, Coleman AL, dkk.
Trabeculectomy and Combined Phacoemulsification-Trabeculectomy: Outcomes and Risk Factors for Failure in Primary Angle Closure Glaucoma. Journal of Glaucoma.
September 2016;25(9):763–9.
6. Lochhead J. Long term effect on intraocular pressure of phacotrabeculectomy compared to trabeculectomy. British Journal of Ophthalmology. 1 Juli 2003;87(7):850–2.
7. Tsai H-Y, Liu CJ, Cheng C-Y. Combined trabeculectomy and cataract extraction versus trabeculectomy alone in primary angle-closure glaucoma. British Journal of Ophthalmology. 1 Juli 2009;93(7):943–8.
8. Williams AL, Moster MR. Combined Cataract Extraction and Glaucoma Surgery.
Advances in Ophthalmology and Optometry. Agustus 2017;2(1):261–77.
9. Mei W, Min F, Yu-jing B, Wei-zhong Z, Ming-kai L, Bing-qian L, dkk. Comparison of combined phacotrabeculectomy with trabeculectomy only in the treatment of primary angle-closure glaucoma. Chinese Medical Journal. :5.
10. Jiang N, Zhao G-Q, Lin J, Hu L-T, Che C-Y, Wang Q, dkk. Meta-analysis of the efficacy and safety of combined surgery in the management of eyes with coexisting cataract and open angle glaucoma. Int J Ophthalmol [Internet]. 18 Februari 2018
[dikutip 7 September 2020]; Tersedia pada:
http://www.ijo.cn/gjyken/ch/reader/view_abstract.aspx?file_no=20180217&flag=1 11. Choy BNK. Comparison of surgical outcome of trabeculectomy and
phacotrabeculectomy in Chinese glaucoma patients. Int J Ophthalmol. 18 Desember 2017;10(12):1928–30.
12. Allingham R. Cellular and molecular biology of aqueous humor dynamics. Dalam:
Shield’s textbook of glaucoma. 6 ed. North Carolina: Wolters kluwer; 2011. hlm. 8–
28.
13. Cantor LB, Rapuano CJ, McCannel CA. Intraocular Pressure and Aqueous Humor Dynamics. Dalam: Basic Science and Clinical Course Section 10: Glaucoma. USA:
American Academy of Ophthalmology; 2019. hlm. 25–41.
14. Stamper R, Lieberman M, Drake M. Aqueous humor formation, Aqueous humor outflow system overview. Dalam: Aqueous humor dynamic. 8 ed. Mosby Elsevier;
2009. hlm. 8–54.
15. Braunger B, Fuchshofer R, Tamm E. The aqueous humor outflow pathways in glaucoma: A unifying concept of disease mechanisms and causative treatment. Eur J Pharm Biopharm. 2015;
16. Ansari M, Nadeem A. Atlas of Ocular Anatomy. Springer International Publishing;
2016. 19 hlm.
17. Netland P. Principles and Management. Dalam: Glaucoma Medical Therapy. 2 ed.
New York: Oxford University Press, Inc; 2008. hlm. 33–106.
18. Cantor LB, Rapuano CJ, McCannel CA. The Eye. Dalam: Basic Science and Clinical Course Section 2: Fundamentals and Principles of Ophthalmology. USA: American Academy of Ophthalmology; 2019. hlm. 88–98.
19. Johnson M, McLaren J, Overby D. Unconventional aqueous humor outflow: A review. Exp Eye Res. 2017;94–158.
20. Khazaeni B, Khazaeni L. Acute Closed Angle Glaucoma. Dalam: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 [dikutip 6 Februari 2021]. Tersedia pada: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430857/
21. E. Graf N, Müller M, Gerlach F, M. Meyer L, Philipp S, Distelmaier P, dkk.
Comparison of 2-year-results of mitomycin C-augmented trabeculectomy with or without cataract extraction in glaucoma patients. Canadian Journal of Ophthalmology. Juni 2019;54(3):347–54.
22. Chang L, Thiagarajan M, Moseley M, Woodruff S, Bentley C, Khaw PT, dkk.
Intraocular Pressure Outcome in Primary 5FU Phacotrabeculectomies Compared With 5FU Trabeculectomies: Journal of Glaucoma. Desember 2006;15(6):475–81.
23. Verma J, John D, Nair S, Oomman S, Mishra R, Shah P, dkk. Efficacy And Safety of Surgical Treatment Options for Primary Angle Closure Glaucoma: a Meta-Analysis of Randomised Controlled Trials. Value in Health. November 2015;18(7):A415–6.
24. Nguyen DQ, Niyadurupola N, Tapp RJ, O’Connell RA, Coote MA, Crowston JG.
Effect of phacoemulsification on trabeculectomy function: Effect of phaco on trab function. Clin Experiment Ophthalmol. Juli 2014;42(5):433–9.
25. Lazcano-Gómez G, Soohoo JR, L Jung J, Isida-Llerandi CG, Kahook MY.
Intraocular Pressure Control after Trabeculectomy, Phacotrabeculectomy and Phacoemulsification in a Hispanic Population. Journal of Current Glaucoma Practice.
Agustus 2014;8(2):67–74.
26. Neiweem AE, Bussel II, Schuman JS, Brown EN, Loewen NA. Glaucoma Surgery Calculator: Limited Additive Effect of Phacoemulsification on Intraocular Pressure in Ab Interno Trabeculectomy. Gonzalez P, editor. PLoS ONE. 14 April 2016;11(4):e0153585.
27. Budenz DL, Gedde SJ. New options for combined cataract and glaucoma surgery:
Current Opinion in Ophthalmology. Maret 2014;25(2):141–7.
28. Kyari F. Managing cataract surgery in patients with glaucoma. Community Eye Heal J. 2019;31(104):88–90.
29. Ahmadzadeh A, Kessel L, Subhi Y, Bach-Holm D. Comparative Efficacy of Phacotrabeculectomy versus Trabeculectomy with or without Later Phacoemulsification: A Systematic Review with Meta-Analyses. Gatzioufas Z, editor. Journal of Ophthalmology. 13 Februari 2021;2021:1–17.
30. Varma DK, Belovay GW, Tam DY, Ahmed IIK. Malignant glaucoma after cataract surgery. Journal of Cataract and Refractive Surgery. November 2014;40(11):1843–9.
31. Krix-Jachym K, Żarnowski T, Rękas M. Risk Factors of Malignant Glaucoma Occurrence after Glaucoma Surgery. Journal of Ophthalmology. 2017;2017:1–6.
32. Parikh HA, Bussel II, Schuman JS, Brown EN, Loewen NA. Coarsened Exact Matching of Phaco-Trabectome to Trabectome in Phakic Patients: Lack of Additional Pressure Reduction from Phacoemulsification. Acott TS, editor. PLoS ONE. 19 Februari 2016;11(2):e0149384.
33. Rotchford AP, King AJ. Moving the Goal Posts. Ophthalmology. Januari 2010;117(1):18-23.e3.
54
34. Almatlouh A, Bach‐Holm D, Kessel L. Steroids and nonsteroidal anti‐inflammatory drugs in the postoperative regime after trabeculectomy – which provides the better outcome? A systematic review and meta‐analysis. Acta Ophthalmol. Maret 2019;97(2):146–57.
35. Masoumpour MB, Nowroozzadeh MH, Razeghinejad MR. Current and Future Techniques in Wound Healing Modulation after Glaucoma Filtering Surgeries.
TOOPHTJ. 29 Februari 2016;10(1):68–85.
36. The AGIS Investigators. The Advanced Glaucoma Intervention Study. 8: Risk of cataract formation after trabeculectomy. Arch Ophthalmol. 2001;(119):1771–9.
37. Patel HY, Meyer HVD. Incidence and Management of Cataract After Glaucoma Surgery. Curr Opin Ophthalmol. 2013;24(1):15–20.
LAMPIRAN 1. PERSETUJUAN ETIK
56
LAMPIRAN 2. PERMOHONAN PENGAMBILAN DATA REKAM MEDIK
LAMPIRAN 3. PERSETUJUAN PENGAMBILAN DATA REKAM MEDIK
58
LAMPIRAN 4. DATA PENELITIAN
DATA DEMOGRAFIS KELOMPOK TINDAKAN TRABEKULEKTOMI
No Usia Jenis Kelamin OD OS Presenting VA Baseline TIO c/d rat awal Status Lensa Komplikasi
1 58 P x 1 38 1,0 Agak keruh -
2 57 P x 5 30 0,6 Agak keruh -
3 53 P x 5 35 0,5 Agak keruh -
4 49 P x 3 28 0,7 Agak keruh -
5 48 P x 1 68 0,9 Agak keruh -
6 52 P x 1 24 0,8 Agak keruh -
7 60 P x 1 60 0,8 Agak keruh -
8 56 P x 3 41 0,7 Agak keruh -
9 65 P x 1 56 0,9 Agak keruh -
10 57 P x 1 16 0,9 Agak keruh -
11 65 P x 1 35 0,8 Agak keruh -
12 49 P x 3 20 0,8 Agak keruh -
13 53 P x 1 70 - Agak keruh -
14 63 P x 5 22 0,7 Agak keruh -
15 70 P x 1 53 1,0 Agak keruh -
16 61 P x 1 44 0,9 Keruh -
17 76 L x 5 30 0,4 Agak keruh -
18 54 P x 1 20 0,9 Agak keruh -
19 54 P x 2 45 0,9 Agak keruh -
20 49 P x 3 50 0,3 Agak keruh -
21 65 P x 5 35 0,7 Agak keruh -
22 43 P x 5 16 1,0 Agak keruh -
23 43 P x 5 21 0,9 Agak keruh -
24 61 L x 1 48 0,9 Agak keruh -
25 47 P x 3 52 0,8 Agak keruh -
26 56 P x 3 20 0,6 Agak keruh -
27 52 P x 1 52 0,4 Agak keruh -
28 74 L x 1 26 0,7 Agak keruh -
29 72 L x 1 34 0,7 Agak keruh -
30 45 P x 1 40 0,9 Jernih -
31 45 P x 3 28 0,8 Jernih -
32 63 P x 1 22 0,9 Agak keruh -
33 63 P x 5 22 0,8 Agak keruh -
34 45 P x 1 26 1,0 Agak keruh -
35 45 P x 1 23 1,0 Agak keruh -
36 55 P x 1 56 0,8 Agak keruh -
37 54 P x 1 46 0,9 Jernih -
38 54 P x 5 24 0,4 Jernih -
39 66 P x 1 58 - Keruh -
40 63 P x 1 48 0,8 Agak keruh -
41 51 P x 1 54 1,0 Agak keruh -
42 61 P x 3 28 0,5 Agak keruh -
43 66 P x 1 40 0,9 Agak keruh -
44 67 P x 5 46 0,8 Jernih -
45 58 P x 4 60 0,6 Jernih -
46 53 P x 1 80 0,8 Agak keruh -
60
47 53 P x 1 80 1,0 Agak keruh -
48 73 L x 1 44 - Agak keruh -
49 65 P x 1 26 0,9 Agak keruh -
50 74 P x 1 28 1,0 Agak keruh -
51 57 P x 4 48 0,6 Agak keruh -
52 59 P x 2 28 0,4 Agak keruh -
53 51 P x 1 60 1,0 Agak keruh -
54 68 P x 1 28 0,8 Agak keruh -
55 68 P x 1 60 0,9 Agak keruh -
56 51 P x 1 55 1,0 Agak keruh -
57 65 P x 1 32 1,0 Keruh -
58 55 L x 1 64 0,4 Agak keruh -
59 79 L x 2 25 0,8 Agak keruh -
60 50 P x 1 54 0,6 Agak keruh -
61 52 L x 1 60 0,9 Agak keruh -
62 70 L x 4 20 0,8 Agak keruh -
63 49 P x 3 38 0,8 Agak keruh -
64 79 P x 1 58 0,9 Agak keruh -
65 70 L x 1 23 0,9 Agak keruh -
66 49 P x 1 40 0,8 Agak keruh -
67 79 P x 1 54 0,9 Agak keruh -
68 52 P x 2 60 0,5 Agak keruh -
69 62 L x 3 52 0,7 Agak keruh -
70 69 P x 1 22 0,8 Agak keruh -
71 69 P x 5 12 0,5 Agak keruh -
72 48 L x 2 63 0,5 Agak keruh -
73 60 P x 1 42 0,8 Agak keruh -
74 57 P x 1 72 0,9 Agak keruh -
75 57 P x 1 66 0,9 Agak keruh -
76 72 P x 1 45 0,9 Agak keruh -
77 62 L x 3 35 0,7 Agak keruh -
78 66 L x 4 60 1,0 Agak keruh -
79 69 P x 3 15 0,6 Agak keruh -
80 53 P x 1 51 0,8 Keruh -
81 72 L x 2 32 0,4 Agak keruh -
82 64 L x 1 32 0,5 Agak keruh -
83 70 P x 1 47 0,9 Agak keruh -
84 70 P x 3 27 0,9 Agak keruh -
85 64 P x 1 34 0,9 Agak keruh -
86 47 P x 5 46 0,6 Jernih -
87 53 L x 1 25 0,9 Agak keruh -
88 53 L x 1 39 0,9 Agak keruh -
89 52 P x 1 28 0,9 Jernih -
90 52 P x 1 28 0,9 Jernih -
91 56 P x 1 48 - Agak keruh -
92 56 P x 3 28 0,3 Agak keruh -
93 48 P x 1 32 0,8 Agak keruh -
94 47 P x 1 46 0,5 Jernih -
95 47 P x 1 49 1,0 Agak keruh -
96 59 L x 1 43 0,8 Agak keruh -
62
97 56 P x 1 38 0,9 Agak keruh -
98 50 P x 1 50 0,9 Agak keruh -
99 67 P x 4 42 0,9 Agak keruh -
100 43 L x 5 22 0,6 Jernih -
101 62 L x 3 28 0,8 Agak keruh -
102 59 P x 1 34 1,0 Agak keruh -
103 59 L x 1 56 0,5 Agak keruh -
104 59 P x 1 49 1,0 Agak keruh -
Keterangan:
- Tidak ada data
DATA FOLLOW-UP KELOMPOK TINDAKAN TRABEKULEKTOMI
N o.
Us ia
Jenis Kela min
Baseline POD 1 Minggu POD 1 Bulan POD 3 Bulan POD 6 Bulan POD 1 Tahun POD 2 Tahun POD 3 Tahun POD 4 Tahun POD 5 Tahun
TI O
Juml ah Obat
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
TI O
Juml ah Obat
Tingkat Keberhas ilan
1 58 P 38 2 10 0 Berhasil 15 1
Berhasil
18 0
Berhasil
22 1
Berhasil
16 2
Berhasil
14 2
Berhasil
16 2
Berhasil
21 2
Berhasil
12 2
Berhasil
2 57 P 30 2 24 1
Berhasil
19 1
Berhasil
16 1
Berhasil
16 1
Berhasil
14 2
Berhasil
17 2
Berhasil
15 2
Berhasil
14 2
Berhasil
17 2
Berhasil
3 53 P 35 2 23 2
Berhasil
14 2
Berhasil
12 2
Berhasil
13 3
Berhasil
18 3
Berhasil
17 1
Berhasil
20 1
Berhasil
18 1
Berhasil
12 1
Berhasil
4 49 P 28 2 17 1
Berhasil
18 2
Berhasil
10 1
Berhasil
14 1
Berhasil
12 0
Berhasil
15 1
Berhasil
14 1
Berhasil
16 1
Berhasil
13 1
Berhasil
5 48 P 68 3 5 0
Berhasil
16 1
Berhasil
11 1
Berhasil
10 1
Berhasil
19 1
Berhasil
34 1
Berhasil
23 2
Berhasil
42 2
Berhasil
27 3
Berhasil
6 52 P 24 2 22 2
Berhasil
12 1
Berhasil
14 1
Berhasil
18 2
Berhasil
19 1
Berhasil
16 1
Berhasil
14 1
Berhasil
16 1
Berhasil
14 2
Berhasil
7 60 P 60 3 24 1
Berhasil
23 1
Berhasil
10 1
Berhasil
19 2
Berhasil
25 2
Berhasil
17 2
Berhasil
23 2
Berhasil
28 3
Berhasil
20 1
Berhasil
8 56 P 41 2 10 0
Berhasil
8 0
Berhasil
8 0
Berhasil
8 0
Berhasil
7 0
Berhasil
13 0
Berhasil
12 0
Berhasil
12 0
Berhasil
10 0
Berhasil
9 65 P 56 2 10 1
Berhasil
8 0
Berhasil
14 0
Berhasil
14 0
Berhasil
14 0
Berhasi
10 57 P 16 3 20 1
Gagal -
StLy 18 2 Gagal 11 1
Berhasil
16 1 Gagal 12 1
Berhasil
20 1 Gagal 25 2 Gagal 18 2 Gagal 18 2 Gagal
11 65 P 35 2 16 1
Berhasil
12 1
Berhasil
Berhasi
12 0
Berhasil
Fako + IOL
12 49 P 20 2 14 1
Berhasil
20 2
Berhasil
12 1
Berhasil
15 1
Berhasil
12 0
Berhasil
14 1
Berhasil
11 1
Berhasil
8 1
Berhasil
Fako + IOL
13 53 P 70 3 27 2
Berhasil
14 2
Berhasil
20 1
Berhasil
16 1
Berhasil
20 2
Berhasil
17 2
Berhasil
18 2
Berhasil
17 2
Berhasil
14 63 P 22 2 18 0
Berhasil
18 1
Berhasil
16 0
Berhasil
16 0
Berhasil
10 0
Berhasil
14 0
Berhasil
13 0
Berhasil
18 0
Berhasil
15 70 P 53 3 22 1
Berhasil
19 2
Berhasil
19 2
Berhasil
13 1
Berhasil
12 1
Berhasil
11 2
Berhasil
14 1
Berhasil
16 61 P 44 3 12 0
Berhasil
18 1
Berhasil
12 1
Berhasil
14 1
Berhasil
20 1
Berhasil
22 1
Berhasil
Fako + IOL OD
17 76 L 30 1 30 2 Gagal 14 1
Berhasil
14 1
Berhasil
14 1
Berhasil
12 2
Berhasil
14 2
Berhasil
15 2
Berhasil
18 54 P 20 2 12 1
Berhasil
13 1
Berhasil
17 1
Berhasil
18 1
Berhasil
16 1
Berhasil
14 2
Berhasil
19 54 P 45 2 20 2
Berhasil
14 1
Berhasil
18 1
Berhasil
14 1
Berhasil
19 1
Berhasil
13 2
Berhasil
20 49 P 50 3 4 0
Berhasil
18 0
Berhasil
18 1
Berhasil
13 1
Berhasil
16 1
Berhasil
17 1
Berhasil
18 1
Berhasil
21 65 P 35 2 13 0
Berhasil
23 1 Berhasil 21 1 Berhasil 24 2
Berhasil
20 2 Berhasil 20 2 Berhasil 23 2 Berhasil