• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

warga yang secara jelas menyebutkannya namun tidak secara tertulis sehingga dapat menimbulkan perdebatan dikemudian hari.

Jika merujuk pada seluruh hasil penelitian terkait dengan analisis tinjauan Islam terkait dengan tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare dapat dikatyegorikan belum sesuai dengan syarat dan kaidah aturan dalam akad muzara’ah.

61

dijelaskan bahwa Allah sendirilah yang menetapkan harga dan manusia dilarang menetapkan harga secara sepihak. Islam memberikan kesempatan antara penjual dan pembeli untuk tawar-menawar serta melarang dilakukannya monopoli ataupun bentuk perdagangan yang berpotensi merugikan pihak lain.

Sistem bagi hasil yang digunakan dalam bidang pertanian ini tidak didasari oleh sistem Islam, sehingga beberapa aspek tidak terpenuhi, sistem yang digunakan hanyalah sebagai sistem bagi hasil diaman penggarap mendapatkan 2/3 dari hasil panen dan pemilik lahan mendapatkan 1/3 dari hasil panen.

Sistem tersebut disebut dengan sistem bagi hasil pertelon (berdasarkan luas lahan yang digarap), sistem bagi hasil tersebut adalah kesepakatan bagi hasil antara pihak yang punya lahan dan modal dengan pihak yang mengerjakan atau yang merawat pemeliharaan tanaman. Pihak yang punya lahan mendapatkan 2/3 dari hasil panen, sementara yang pemelihara tanaman mendapatkan 1/3 dari hasil panen. 72

Berdasarkan kajian penelitian yang dilakuklan dimana sistem bagi hasil yang digunakan dalam bidang pertanian ini tidak didasari oleh sistem Islam, sehingga beberapa aspek tidak terpenuhi, sistem yang digunakan hanyalah sebagai sistem bagi hasil dimana penggarap mendapatkan 2/3 dari hasil panen dan pemilik lahan mendapatkan 1/3 dari hasil panen tanpa adanya kesepakatan secara tertulis secara konkrit.

72 Ahmad, Mustaq, Etika Bisnis dalam Islam, Penerjemah Samson Rahman, (Pustaka Al- Kautsar, Jakarta, 2011)

Hasil penelitian yang mendukung penelitian ini ialah yang dilakukan oleh Dewi safitri dalam penelitiannya yaitu tinjauan ekonomi Islam terhadap sistem bagi hasil (muzara’ah) studi petani Balinappang Desa Bontoramba Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa yang menyebutkan bahwa Penerapan sistem bagi hasil (muzara’ah) petani Desa Bontoramba secara keseluruhan menunjukkan bahwa syarat sistem bagi hasil (muzara’ah) dimana hasil panen adalah milik berasama oarng yang berakad tanpa ada pengkhususan terlebih dahulu, belum dilaksanakan sepenuhnya oleh petani Desa Bontoramba.73 Hal tersebut juga senada dengan hasil penelitian ini dimana masih terdapat beberapa unsur yang tidak dilakukan berdasarkan ketentuan Islam.

2. Tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare

Pembahasan penelitian selanjutnya yaitu terkait dengan tinjauan ekonomi Islam dimana peneliti mendeksripsikan tinjauan ekonomi Islam dengan merujuk pada beberapa aspek, diantara yaitu adanya ijab dan Kabul, akad, serta lama durasi perjanjian.

Jika merujuk pada seluruh aspek dalam sistem bagi hasil yang digunakan oleh informan dalam proses bagi hasil mereka, dimana pengelolaan hasil kerja dirujuk pada perjanjian berbentuk lisan yang tidak dituliskan secara tertulis oleh kedua belah pihak.

Para ulama fiqih sepakat bahwa rukun dalam akad adalah unsur yang membentuk substansi sesuatu. Tetapi, ketika rukun itu diterapkan secara nyata

73 Dewi safitri “Tinjauan ekonomi Islam terhadap sistem bagi hasil (muzara’ah) studi petani Balinappang Desa Bontoramba Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa, ( Jurnal Web digilibadmin.unismuh.ac.id)

63

kepada akad, ada perbedaan pendapat tentang unsur mana dari rukun itu yang membentuk akad. Menurut Mahzab Hanafi, yang dimaksud rukun akad adalah unsur-unsur pokok yang membentuk akad.74

Berdasarkan penjelasan diatas tersebut bahwa rukun dalam akad dibagi atas beberapa bagian diantara yaitu pelaku akad, objek akad, tujuan akad dan ijab serta Kabul. Akad terdiri dari ijab dan kabul, merupakan ungkapan yang menunjukkan kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan akad atas hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari perikatan akad.

Adapun syarat-syarat akad antara lain; Ijab dan kabul harus jelas (dinyatakan dengan ungkapan yang jelas dan pasti maknanya) sehingga dapat dipahami jenis akad yang dikehendaki ;Adanya kesesuaian maksud antara ijab dan kabul. Pernyataan kabul dipersyaratkan adanya keselarasan atau persesuaian terhadap ijab dalam banyak hal;Ijab dan kabul menceritakan kehendak masing-masing pihak secara pasti, tidak ragu-ragu dan tidak menunjukkan adanya unsur keraguan dan paksaan.

Berdasarkan hasil peneltiian tersebut bahwa penelitian yang mendukung penelitian ini ialah yang dilakukan oleh Mustafaenal dengan judul Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Bagi Hasil Mukhabarah Lahan Pertanian Di Desa Somba Palioi Kec. Kindang Kab. Bulukumba dimana menyebutkan bahwa kerjsa sama petani pengarap dan pemilik lahan sama- sama mendapatkan keuntungan dari hasil panen tersebut.ditinjau dari hukum Islam bahwa transaksi ini belum sesuai dengan syariat Islam karena kedua

74 Abdul Rahman Ghazaly dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012)

belah pihak membuat perjanjian dengan sukarela tanpa adanya bukti secara tertulis yang saling mengikat untuk tujuan adil,saling membantu dan saling tolong menolong.75

Ijab dan kabul harus bersambung, maksudnya ijab dan kabul terhubung antara satu dengan lainnya, baik secara langsung dalam satu tempat atau melalui media. Penjelasan tersebut memberikan bukti bahwa ijab dan Kabul haruslah jelas tertuang sebagai suatu akad dalan perjanjian. Penelitian ini merujuk pada sistem bagi hasil dimana ketentuan terkait dengan kejelasan akad yang tidak jelas. Tidak adanya unsur pencatatan dan saksi dalam akadnya mnejadikan sistem ini cacat secara hukum tinjauan ekonomi Islam.

75 Mustafaenal “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Bagi Hasil Mukhabarah Lahan Pertanian Di Desa Somba Palioi Kec. Kindang Kab. Bulukumba” (Jurnal digilibadmin.unismuh.ac.id)

65 BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan seluruh penjelasan diatas, maka penelitian terkait dengan Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Bagi Hasil Pada Akad Muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare dapat disimpulkan bahwa:

1. Sistem bagi hasil di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare menggunakan sistem bagi hasil berdasarkan luas lahan yang digarap yaitu penggarap sawah menggunakan lahan untuk digarap dengan beban biaya seluruh proses pengelolaannya ditanggung leh penggarap, sistem bagi hasil yang digunakan ialah 1/3 untuk pemilik lahan dan 2/3 untuk penggarap dengan kesepakatan melalui lisan tanpa pencatatan diawal akad.

2. Tinjauan Ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare yaitu berdasarkan pada aspek akad ijab dan kabul dimana kedua belah pihak tidak melakukan pencatatan selama proses kerjasama dilakukan dan tidak jelasnya masa berakhirnya kerjasama yang dilakukan, maka berdasarkan dua aspek tersebut maka sistem bagi hasil di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare tidak sesuai dengan akd muzara’ah.

B. Saran

Berdasarkan simpulan penelitian diatas, maka beberapa saran ditujukan kepada:

1. Kepada Tokoh Agama

Tokoh agam dihgarapkan dapat memberikan sosialisasi dan wawasan terkait dengan sistem bagi hasil berdasarkan aturan dalam Islam kepada para masyarakat.

2. Kepada Petani dan Penggarapm

Pemilik lahan dan penggarap diharapkan untuk mempelajari hukum bagi hasil pada akad muzara’ah khususnya pada syarat syarat dalam bermuamalah khususnya pada bagi hasil.

67

DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku

Abdul Rahman Ghazaly dkk, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012)

Abdulahanaa, Kaidah-kaidah Keabsahan Multi Akad (Hybrid Contrack) Abdulahanaa, Kaidah-kaidah Keabsahan Multi Akad (Hybrid Contrack) Fiqh ‘Ala Madzabih al-Arba’ah, h. 4-35,8,42, dan 44.

Ghufron A Mas’adi Fiqh Muamalah Kontekstual (Cet. I Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002)

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008)

joko Subagyo, Metode Penelitian (Dalam Teori Praktek)(Jakarta: Rineka Cipta,2006) M.Burhan Bungi, Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan

Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta:Kencana,2020)

Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana Pustaka Spirit, 2012) Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 2, (Yogyakarta:Andi Offset, 1995) Tim Redaksi Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat.

Husein Umar, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2000)

Muhammad, Metode Penelitian Bahasa, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Mmedia, 2011) Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2012) Sumber Skripsi dan Jurnal

Abdul Aziz Muhammad Azzam, Nidzam Al-Muamalat Fi Al-Fiqh Al-Islami, Edisi Indonesia Fiqh Muamalat Sistem Transaksi Dalam Fiqh Islam, (Jakarta:

Amzah, 2010)

Aryuningsih “Analisis Sistem Bagi Hasil Antara Pemilik dan Penggarap Karet Di Desa Tanah Abang Pendopo Kabupaten Pali” (Skripsi Sarjana: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang 2017).

Pemilik Cucian Mobil Dengan Pengelola (Studi Kasus Pada Cucian Mobil Kusuma Utama Desa Bandung Baru Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu)” (Skripsi Sarjana: Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung 2018).

Hammad Ardi, Asas-Asas Perjanjian (Akad), Hukum Kontrak Syariah dalam Penerapan Salam dan Istisna, Jurnal Hukum Diktum, Vol. 14, No. 2, 2016 Tria Kusumawardi, “Tinjauan Hukum Islam Tentang Bagi Hasil Dalam Kerja Sama

Pengembangbiakan Ternak Sapi (Studi Kasus Di Pekon Margodadi Dusun Sumber Agung Kecamatan Sumberejo Kabupaten Tanggamus)” (Skripsi Sarjana: Jurusan Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung 2018).

Sumber Undang-Undang

Undang-Undang Nomor 2 tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil.

69

LAMPIRAN

Kepada Yth.

Bapak/Ibu/Saudara (i) Di Tempat

Assalamualaikum Wr.Wb.

Bapak/Ibu/Saudara/i dalam rangka menyelesaikan karya (Skripsi) pada Prodi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Parepare (IAIN) Parepare maka saya,

Nama : Yuni Maharani NIM : 18.2300.135

Judul : Tinjauan Akad Muzara’ah terhadap Praktik Bagi Hasil Penggarapan Sawah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare

Untuk membantu kelancaran penelitian ini, Saya memohon dengan hormat kesediaan Bapak/Ibu/Saudara(i) untuk menjadi narasumber dalam penelitian kami. Kami ucapkan terima kasih,

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Hormat Saya,

Yuni Maharani

AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PAREPARE FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

Jl. Amal Bakti No. 8 Soreang

911331Telepon(0421)21307,Faksimile(0421)2404 VALIDASIINSTRUMENPENELITIANPENULISANSKRIPSI

71

A. Kepada Pemilik Lahan

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rusdi

Alamat : jln jend muh yusuf, Calo-caloaka Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : bengkel (tukang las) Umur : 35 thn

1. Berapakah luas tanah pertanian yang dimiliki?

 31 are

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dan sejak kapan?

 Sekitar 10 tahun lebih sampai sekarang

3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Bentuk perjanjiannya itu saya pemilik lahan mendapatkan hasil panen setelah panen dilakukan nntinya dan penggarap mengurus semua kebutuhan lahan.

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Sejauh ini berbeda beda setiap orang, jadi bagi saya pribadi, itu perjanjiannya selama 1 panen dan nnti akan diteruskan kalau masih cocok dan seterusnya, Secara lisan, hanya berbicara sesuai dengan kesepakatan kedua belapihak.

5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada jadi sudah ada kespakatan yang selama ini dilakukan di daerah sini

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Keuntungannya yaitu mendapatkan padi / beras tanpa harus ikut bekerja sebagai petani sawah. Kalau kerugian, alhamdullillah selama ini belum pernah ada kerugian yang merugikan saya.

7. Apakah ada saksi diantara kesepakatan perjanjian anda?

 Sakti itu keluarga seperti istri dan orang lain juga

8. Masalah apa yang biasanya ditimbulkan oleh pihak penggarap sawah?

 Tidak ada masalah , cuman kadang kalau ada musibah saja seperti banjir

9. Bagaimanakah sistem pembagian hasil dari pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah ini?

 Jadi sistemnya itu dilakukan pembagiannya dalam bentuk hasil panen itu padi bukan uang. Pembagiannya bagi 3, pemilik lahan 1 dan si penggarap 2 karena dia yang menyediakan semua alat. Saya Cuma menerima bersih. Jadi saya dapat 1 saja.

10. Bagaimana cara anda mengatasi konflik saat terjadi kendala bagi hasil ?

 Sejauh ini tidak ad akonflik tapi kalau penyelesaiaannya harus secara kekeluargaan, karena yang dijadikan penggarap juga keluarga

73

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Rizal Jenis Kelamin : Lakilaki Pekerjaan : Petani Umur : 37 thn

1. Berapakah luas tanah pertanian yang dimiliki?

 15 are

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dan sejak kapan?

 Kalau saya itu sudah sangat lama, kisaran 20-25 tahun sampai sekarang

3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Perjanjiannya itu penggarap yang kerja dan sediakan semua kebutuhan padi sampainya panen nanti., saya mendapatkan hasil bagian dari hasil panen itu bentuknya padi bukan uang,

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Seterusnya, tergantung dari kesepakatan, biasanya kalau hasilnya bagus itu kita lanjut lagi

5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada karena kita saling percaya

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Keuntungannya itu karena kita tidak kerja lagi tapi nanti kita dapat hasil berasnya kalau panen kalau kerugiannya itu kita tanggung bersama kalau misalnya ada musibah atau hama menyerang

7. Apakah ada saksi diantara kesepakatan perjanjian anda?

 Ada

8. Masalah apa yang biasanya ditimbulkan oleh pihak penggarap sawah?

 Tidak ada masalah

9. Bagaimanakah sistem pembagian hasil dari pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah ini?

 Sistemnya tadi itu seperti dibagi 1/3 saja, klo saya dapat 1 klo yang kerja dapat 3 hasil panennya

10. Bagaimana cara anda mengatasi konflik saat terjadi kendala bagi hasil ?

 Tidak ada konflik karena memang keluarga semua

75

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nasri

Alamat : Jln Jend Muh Yusuf, Bujung Sitongkoe Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : satpam Umur : 30 th

1. Berapakah luas tanah pertanian yang dimiliki?

 15 are

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dan sejak kapan?

 Kalau saya itu sudah sangat lama, kisaran 20-25 tahun sampai sekarang

3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Perjanjiannya itu penggarap yang kerja dan sediakan semua kebutuhan padi sampainya panen nanti., saya mendapatkan hasil bagian dari hasil panen itu bentuknya padi bukan uang,

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Seterusnya, tergantung darikesepakatan, biasanya kalau hasilnya bagus itu kita lanjut lagi, tapi pernah juga Saya memberikan jangka waktu 1 tahun untuk melihat cara kerjannya dan cara dia merawat lahan tersebut, jika dia melakukannya dengan baik maka saya akan tetap mempekerjakannya di lahan tersebut.

5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada karena kita saling percaya, Lisan sesuai dengan kesepakatan kami berdua

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Keuntungannya itu karena kita tidak kerja lagi tapi nanti kita dapat hasil berasnya kalau panen kalau kerugiannya itu kita tanggung bersama kalau misalnya ada musibah atau hama menyerang

7. Apakah ada saksi diantara kesepakatan perjanjian anda?

 Ada

8. Masalah apa yang biasanya ditimbulkan oleh pihak penggarap sawah?

 Tidak ada masalah

9. Bagaimanakah sistem pembagian hasil dari pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah ini?

 Untuk sistemnya itu kita pake selama ini pembagiannya bagi tiga, yang penggarap dapat 3 kita dapat 1 begitu

10. Bagaimana cara anda mengatasi konflik saat terjadi kendala bagi hasil ?

 Untuk konflik itu tidak ada selama ini

77

B. Kepada Penggarap Sawah

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Lamalla

Alamat : jln jend muh Yusuf, Bujung sitongkoe Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : petani Umur : 50 tahun

1. Berapakah luas tanah pertanian yang anda garap?

 31 are sekarang

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan dan sejak kapan?

 Iya saya sudah lama sekali juga menggarap sawah keluarga 3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Perjanjiannya itu saya yang urus semua kebtuuhan terus nantinya kalau panen kita bagi hasil panennya dua disaya 1 di pemilik sawah ini jadi memang aturannya begitu, kalau soal cara menggarap sama aturannya itu tugasnya ialah hanya memperbaiki lahan jika rusak dan tetap menjaga lahan itu agar tetap bagus, dan menjaga lahan agar tidak kena banjir.

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Tergantung, kalau sawah sekrang ini sudah lama saya garap hamper 4 tahun sudah

5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Kalau keuntungannya itu karena ini pekerjaan juga jadi mendapatkan untung dari kerja sawah ini kalau kerugiannya itu cuman sebatas kaya banjir atau penyakit hama sawah saja, disisi lain yang susah juga karena semua biaya saya yang sediakan

7. Apakah ada saksi diantara kesepakatan perjanjian anda dengan pemilik lahan?

 Saksi itu dulu tidak ada, kita saling percaya, yanga da itu cuman persetujuan saja.

8. Masalah apa yang biasanya ditimbulkan oleh pihak pemilik lahan?

 Tidak ada masalah

9. Bagaimanakah sistem pembagian hasil dari pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah ini?

 Hasil panen tidak dijual tetapi melainkan membagi hasil sawah tersebut, misalnya dalam satu petak sawah terdapat tiga karung padi maka saya akan membagi 2 karung untuk saya dan 1 karung untuk pemilik sawah, Sistem pembagian seperti ini telah dilakukan berpuluh tahun dan memang terkadang ada yang dilebihkan oleh pemilik lahan, misalnya kita dapatnya kurang, maka pemilik lahan itu memberikan sebagian dari hasil panen tersebut kepada kita

10. Bagaimana cara anda mengatasi konflik saat terjadi kendala bagi hasil ?

 Konflik itu tidak pernah ada, kita selalu kerjasama, Konflik antara kita dengan pemilik sawah tidak pernah terjadi dan jika ada maka cara mengatasi konflik tersebut pasti dfilakukan dengan sangat baik

79

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Lojeng

Alamat : bujung sitongkoe, kelurahan Galung Maloang Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : petani Umur : 52 tahun

1. Berapakah luas tanah pertanian yang anda garap?

 Luasnya 15 are

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan dan sejak kapan?

 Iya bagi hasil sama pemiliknya. 7 tahun kalau tidak salah 3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Bentuk perjanjiannya itu kita bagi hasilnya nnti saat panen di akhir itu kita hitung karungnya baru di bagi , Saya yang menyediakan semua mulai dari membeli bibit, pupuk racun, dan kebutuhan lainnya, kalau tugasnya itu untuk tetap menjaga lahannya agar tetap terawat, mengelola lahan dan menanam tanaman sampai panen

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Kalau saya setiap panen itu nnti bicara lagi sama pemilik lahannya 5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada, Kalau persetujuannya itu hanya ada diawal saja, jadi aturan turan pembagian hasil yang diberikan itu sudah difahami masing masing, intinya sama sama butuh. Intinya kalau perjanjianya itu

seperti yang menyediakan semua mulai dari pembeli pupuk, bibit, racun dan kebutuhan lainnya itu saya.

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Keuntungannya itu karena kita kerja, dari pada tidak punya kerjaan jadi ini kita garap sawahnya keluarga

7. Apakah ada saksi diantara kesepakatan perjanjian anda dengan pemilik lahan?

 Keluarga

8. Masalah apa yang biasanya ditimbulkan oleh pihak pemilik lahan?

 Masalahnya itu cuman sebatas keluahan sama kondisi cuaca begitu 9. Bagaimanakah sistem pembagian hasil dari pelaksanaan bagi hasil pertanian

sawah ini?

 Sistemnya itu seperti tadi berapa berapa hasil panen nantinya baru ktia bagi dua lebih banyak saya dapat, jadi yang dibagi itu padinya Ini tidak dijual melaikan membagi hasil panen misalnya dalam 1 petak sawah mendapatkan 5 karung hasil panen, maka saya mengambil 3 karung dan 2 karungnya saya serahkan ke pemilik lahan.

10. Bagaimana cara anda mengatasi konflik saat terjadi kendala bagi hasil ?

 Pasti dengan cara baik baik saja, Selama ini tidak ada konflik kalau pun ada akan di selesaikan secara baik-baik

81

IDENTITAS INFORMAN Yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Andika

Alamat : bujung sitongkoe, kelurahan Galung Maloang Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : petani Umur : 43 tahun

1. Berapakah luas tanah pertanian yang anda garap?

 Sekitar 15 are

2. Apakah anda melakukan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan dan sejak kapan?

 Iya sudah 5 tahun lebih

3. Bagaimanakah bentuk perjanjian bagi hasil pertanian sawah ini?

 Perjanjiannya itu kerja sawah sampai panen

4. Berapa lama jangka waktu yang digunakan dalam pelaksanaan bagi hasil pertanian sawah?

 Selama pemilik lahan masih suka sama cara kerja kita 5. Apakah terdapat bukti tertulis perjanjian bagi hasil anda?

 Tidak ada bukti

6. Apa keuntungan dan kerugian bagi hasil pertanian yang dilakukan selama ini?

 Keuntungannya itu karena ini pkerjaan juga yang bantu kita, Karena keluarga dan juga keuntungannya itu karena kita tidak kerja lagi tapi nanti kita dapat hasil berasnya kalau panen kalau kerugiannya itu kita tanggung bersama kalau misalnya ada musibah atau hama menyerang.

Dokumen terkait