• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad

53

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka senada dengan apa yang dijelaskan oleh salah satu informan yang menjeaskan bahwa:

“Keuntungannya yaitu mendapatkan padi / beras tanpa harus ikut bekerja sebagai petani sawah. Kalau kerugian, alhamdullillah selama ini belum pernah ada kerugian yang merugikan saya”69

Berdasarkan seluruh penjelasan informan diatas maka dapat dijelaskan bahwa sistem kerjasama yang dilakukan selama ini memberikan keuntungan masing masing, baik itu dari sisi penghidupan penggarap maupun dari sisi pemilik lahannya. Pembagian hasil kerja yang dilakukan secara nyata menunjukkan keuntungan yang dapat membantu prekonomian kedua belah pihak.

2. Tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad muzara’ah

lahan pertanian untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan tertentu dari hasil panen.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebagaimana hasil penelitian pada bagian pertama dimana menyimpulkan bahwa perjanjian atau akad yang dilakukan oleh penggarap dan pemilik lahan hanya dengan mengucapkan secara lisan di awal , tanpa adanya penulisan yang jelas. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang menemukan bahwa kesepakatan atau kerjasama antara pemilik sawah dan petani penggarap yang dilakukan hanya perjanjian lisan.

Secara hasil pengamatan bahwa penggarap telah melakukan pekerjaannya.

Sedangkan pemilik lahan tidak melakukan apa apa, penggarap menyediakan jasanya dan semua alat dan bahan juga disediakan. Pekerjaan sebagai petani penggarap sudah lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menafkahi keluarganya. Dalam kerjasama jika terjadi kendala atau menghambat hasil panen yang biasanya tidak sesuai dengan hasil panen maka sesuai dengan perjanjian yang dilakukan dari awal yaitu dengan menggunakan sistem bagi hasil tanpa mempertimbangkan apapun itu kendalanya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa terdapat beberapa hal yang merujuk pada aspek aspek yang berlaku dalam akad muzara’ah yng menjadi rujukan penelitian ini untuk menganalisis praktik bagi hasil pada akad muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare sesuai pandangan dan tinjauan Islam.

Secara umum bahwa masyarakat di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare belum mengetahui seluk beluk terkait dengan praktik bagi hasil pada

55

akad muzara’ah serta berbagai syarat dan rukun yang sesuai dengan kaidah agama Islam sebagai rujukan hukum dalam bermuamalah.

Sebagaimana dijelaskan oleh salah satu informan bahwa:

“Tidak ada yang mengetahui bahwa ada hukum Islam tentang kerjasama dalam pertanian ini, sehingga sistem bagi Hasil yang dilakukan berdasarkan adat kampong yang sudah dijalani selama bertahun tahun dan selama ini selalu tentram kerjasama dan aman karena sesame warga yang bekerjasama jadi tidak ada konflik apalagi yang mau bertentangan”70

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa masyarakat secara umum telah menggunakan sistem tersebut sejak sangat lama, sehingga adanya ilmu dan wawasan terkait dengan akad Muzara’ah yang merujuk pada sistem bagi hasil pertanian ini tidak di lakukan, disisi lain ketidaktahuan masyarakat terkait dengan pembagian hasil tersebut menjadi alasan mengapa mereka tidak menggunakan istilah akad muzara’ah dalam sistem mereka. Istilah yang mereka gunakan hanyalah sebatas kerjasama. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti menganalisis beberapa aspek yang terdapat dalam sistem bagi hasil penggarap lahan dan pemilik lahan.

Pada analisis bagian pertama, salah satu syarat adanya suatu perjanjian kerjasama ialah akad yang disepakati oleh kedua belah pihak, akad yang dimaksdu ialah perjanjian serta kesepakatan diantara penggarap dan pemilik lahan, secara fakta dilapangan bahwa bagi masyarakat akadyang terpenting dalam pelaksanaan bagi hasil bukan unsur subjektif atau unsur objektif tetapi pelaksanaan dan terjadinya perjanjian itu didasarkan pada kesepakatan (mufakat).

Pada praktiknya masyarakat Kelurahan Galung Maloang mengerjakan

70 Fadhil, 35 Tahun, Lakilaki, Tokoh Agama, wawancara 15 Desember 2022

persetujuan antara pemilik tanah dan penggarap secara lisan atas dasar kepercayaan. Tidak sedikit masyarakat Kelurahan Galung Maloang dalam melakukan pertanian untuk mengelola lahannya dengan menggunakan sistem majjama galung dengan pembagian hasil antara pemilik lahan dengan petani penggarap sesuai dengan hasil panen yang didapatkan.

Berdasarkan hasil dari wawancara dan observasi yang dilakukan dan penelitian dapat disimpulkan bahwa, pihak-pihak yang mengadakan akad bagi hasil kerjasama tersebut sesuai dengan hasil penelitian ini ialah tidak ada yang menggunakan dengan cara tertulis dan tanpa adanya saksi, akan tetapi kebanyakan cukup dengan lisan dan langsung disertai serah terima tindakan, tidak ada yang tertulis.

Tahapan keduanya dilakukan dengan sistem kekeluargaan yang telah dipahami selama ini. Sejatinya bahwa para penggarap tersebut terlihat seperti kekeluargaan yang sangat dipercaya oleh pemilik lahannya.

Setelah kedua belah pihak sudah sepakat melakukan kerjasama bagi hasil maka petani penggarap mengatakan bersedia secara langsung mengelola lahan tersebut. Dengan tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak yang melakukan akad berarti perjanjian tersebut sudah tercipta pada saat tercapainya konsensus. sehingga, kata sepakat dalam bagi hasil di di Kelurahan Galung Maloang ini yang menjadi landasan lahirnya dan diadakannya perjanjian bagi hasil pertanian tersebut.

57

Berdasarkan penjelasn tersebut, maka dalam akad kerjasama yaitu ijab dan qabul dalam perjanjian kerjasama pertanian yang dilakukan oleh pemilik lahan dan penggarap dalam bentuk pernyataan lisan saja dan tanpa menghadirkan saksi tidak dianjurkan dan menyalahi syarat syarat ketentuan dalam akad Muzara’ah sesuai dengan tinjauan syariah.

Menurut Hanabilah, rukun Muzara’ah ada satu, yaitu ijab dan qabul, boleh dilakukan dengan lafazh apa saja yang menunjukan adanya ijab dan qabul dan bahkan Muzara’ah sah dilafazhkan dengan lafazh ijara.71 Dalam sistem perjanjian kerjasama yang dilakukan dan berdasarkan keterangan diatas maka praktek ijab dan qabul dalam perjanjian kerjasama pertanian sawah di Kelurahan Galung Maloang yang dilakukan antara pemilik lahan dan penggarap belum sesuai dengan ekonomi Islam karena hanya dilakukan secara lisan tanpa adanya tulisan yang menyebutkan seluruh perjanjian akad serta aspek lain yaitu saksi.

Analisis lain merujuk pada sistem bagi hasil yang digunakan oleh kedua belah pihak, sebagaimana hasil penelitian yang menyebutkan bahwa pembagian hasil kerja. Proses pengelolaan lahan pertanian padi dilakukan dengan cara yaitu dilakukan oleh penggarap itu sendiri tanpa bantuan modal dari pemilik lahan dan ada yang dilakukan dengan cara biaya pengelolaan lahan ditanggung oleh penggarap. Hal tersebut yang dijadikan tolak ukur untuk

71 Ghufron A Mas’adi Fiqh Muamalah Kontekstual (Cet. I Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002

hasil (panen), apakah dengan menggunakan sistem 2/3 dan 1/3 kepada pemilik lahan.

Jika merujuk pada hasil penelitian terkait dengan sistem bagi hasil yang digunakan di Kelurahan Galung Maloang bahwa besaran imbangan bagi hasil ditentukan sejak awal pada saat aka perjanjian dilakukan. Dalam hal waktu penentuan besaran imbangan bagi hasil pelaksanaan perjanjian bagi hasil lahan sawah sesuai dengan ekonomi Islam. Sebagaimana syarat sahnya akad sehubungan dengan bagi hasil tanaman yaitu harus disebutkan secara jelas di awal ketika akad.

Imbangan bagi hasil yang digunakan secara umum adalah berdasarkan luas lahan yang digarap yang diistilakan sebagai imbahan bagi hasil 1/3 kepada pemilik dan 2/3 kepada penggarap dengan biaya produksi ditanggung oleh penggarap, hasil panen langsung dibagiberdasarkan besaran persen tadi.

Dalam hukum Islam, kerjasama bagi hasil dalam pertanian jika bibit berasal dari pemilik tanah maka disebut dengan muzara’ah, sedangkan jika bibit berasal dari penggarap tanah disebut dengan mukhabarah. Jika mengacu pada asal bibit yang ditanam dalam kerjasama bagi hasil pertanian, maka perlaksanaan sistem bagi hasil di Kelurahan Galung Maloang termasuk dalam akad muzaraah saja. Hal itu dikarenakan bibit berasal dari pengggarap.

Untuk besaran imbangan (setengah/sepertiga/seperempat), dalam hukum Islam

59

asal disebutkan saat di awal akad maka tetap sah.

Analisis ketiga berkaitan dengan waktu lamanya perjanjian dimana hasil penelitian menyebutkan bahwa waktu perjanjian kerjasama dilakukan selama 1 tahun lamanya, perjanjian tersebut dilakukan sejak diawal dengan pertimbangan bahwa pemilik lahan selalu mengevaluasi hasil kerja yang diperoleh oleh penggarap lahan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian pada bagaian sebelumnya bahwa perjanjian bagi hasil yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Galung Maloang kebanyakan tidak ada ketentuan lamanya waktu perjanjian, akan tetapi ada sebagian yang menetukan lamanya waktu dalam melakukan kerjasama tersebut. Hal ini terjadi berdasarkan alasan dilakukannya kerjasama bagi hasil dikarenakan banyaknya pemilik tanah yang mempunyai pekerjaan lain atau pekerjaan tetap, sehingga tidak adanya waktu pemilik tanah dalam mengelolah lahannya sendiri menjadikan tidak adanya batasan waktu yang diberikan, namun berdasarkan informasi narasumber bahwa durasi waktu perjanjian yang ia lakukan ialah berdurasi selama 1 tahun lamanya.

Berdasarkan fakta dilapangan dan hasil kajian wawancara peneliti tersebut adanya perjanjian bagi hasil dengan teori yang di jelaskan oleh Islam.

Dimana dalam Islam di jelaskan masa berlaku akad bagi hasil dalam pertanian di syaratkan harus jelas dan ditentukan atau diketahui ketika awal akad, sedangkan adat masyarakat di Kelurahan Galung Maloang tidak demikian, kebiasaan masyarakat tidak menyebutkan berapa lama waktu yang akan di

warga yang secara jelas menyebutkannya namun tidak secara tertulis sehingga dapat menimbulkan perdebatan dikemudian hari.

Jika merujuk pada seluruh hasil penelitian terkait dengan analisis tinjauan Islam terkait dengan tinjauan ekonomi Islam terhadap praktik bagi hasil pada akad muzara’ah di Kelurahan Galung Maloang Kota Parepare dapat dikatyegorikan belum sesuai dengan syarat dan kaidah aturan dalam akad muzara’ah.

Dokumen terkait