BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
53
Dari berbagai pemaparan data di atas, peneliti menyimpulkan bahwa adanya pelaksanaan dalam membentuk karakter peserta didik di SDN Koripan Bungkal Ponorogo mempunyai dampak besar terhadap karakter peserta didik baik dalam dimensi keyakinan atau religious, toleransi dalam berinteraksi dengan peserta didik lainnya. Dan sikap kemandirian yang muncul ketika metode hukuman yang dilakukan guru di SDN Koripan Bungkal Ponorogo.
54
bersangkutan menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Contoh sikapnya seperti, tidak mencuri barang dari teman sekelas atau orang lain di sekolah, jujur saat memberi uang sesuai dengan harga makanan di kantin sekolah, tidak menyontek saat ujian, dll.
c) Toleransi, adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, aliran kepercayaan, suku, adat, bahasa, ras, etnis, pendapat, dan hal-hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka, serta dapat hidup tenang di tengah masyarakat dan perbedaan tersebut.
Contoh sikapnya seperti, tidak merundung teman yang berbeda baik dari agama, fisik, ras, dan lain sebagainya dan saling membantu tanpa melihat perbedaan tersebut.
d) Disiplin, yakni kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku. Contoh sikapnya di sekolah seperti, masuk sekolah tepat waktu. memakai seragam sesuai ketentuan. menaati peraturan sekolah. mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu60
e) Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya. Contoh sikapnya di sekolah seperti, selalu mengikuti pembelajaran dengan mengerjakan tugas yang diperintahkan guru.
f) Kreatif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah, sehingga selalu menemukan cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari sebelumnya. Contoh sikapnya seperti, memberikan ide yang berbeda dari teman-teman lain dalam suatu proyek, mampu mengolah informasi atau mencari inspirasi dan melahirkan
60 Suyadi, Strategi Pembelajaran, 8.
55
gagasan baru, serta menyelesaikan masalah dengan cara atau pendekatan yang berbeda.
g) Mandiri, merupakan sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan. Namun hal ini bukan berarti tidak boleh bekerjasama secara kolaboratif, melainkan tidak boleh melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain. Contoh sikapnya seperti, mengerjakan piket tanpa disuruh, mengerjakan tugasnya sendiri, berangkat dan pulang sekolah sendiri.
h) Demokratis, yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain. Contoh sikapnya seperti, saling menghargai pendapat, tidak mau menang sendiri, menghargai hasil karya orang lain, kebebasan berpendapat, bekerjasama.
i) Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara lebih mendalam. Contoh sikapnya seperti, bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran, bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran, dll.
j) Semangat kebangsaan atau nasionalisme, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau individu dan golongan. Contoh sikapnya seperti, berbuat baik tanpa pamrih dan bertanggung jawab demi kepentigan sekolah.
k) Cinta tanah air, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya, ekomoni, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa lain yang dapat merugikan bangsa sendiri. Contoh sikapnya seperti, mengikuti upacara bendera, biasanya upacara bendera yang dilaksanakan pada hari senin.
56
l) Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri tanpa mengurangi semangat berprestasi yang lebih tinggi.61 Contoh sikapnya seperti rajin belajar agar selalu mendapat juara kelas, dan selalu berusaha agar menang dalam suatu event.
m) Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif, yakni sikap dan tindakan terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik. Contoh sikapnya seperti, suka berdiskusi mengenai pembelajaran di sekolah dengan bahasa yang baik dan sopan.
n) Cinta damai, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, tenang, dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas atau masyarakat tertentu. Contoh sikapnya seperti, saling menyayangi dan menghormati dengan teman sekelas dan guru-guru, saling berbagi dengan teman, dan sebagainya.
o) Gemar membaca, yakni kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi, baik buku, jurnal, majalah, koran, dan sebagainya, sehingga menimbulkan kebijakan bagi dirinya. Contoh sikapnya seperti, Menyisihkan uang yang dimiliki untuk membeli buku, mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi, dan lain sebagainya.
p) Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar. Contoh sikapnya seperti menjaga kebersihan kelas dan sekolah dengan cara membuang sampah di tempatnya, melakukan piket kelas, merawat tanaman, dan sebagainya.
61 Suyadi, Strategi Pembelajaran, 9.
57
q) Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkannya. Contoh sikapnya seperti menaati peraturan di sekolah, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, dansebagainya.
r) Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik yang berkaitan dengan diri sendiri, sosial, masyarakat, bangsa, negara, maupun agama. Contoh sikapnya seperti Menghormati para guru beserta pegawai sekolah lainnya. Melaksanakan piket kebersihan kelas sesuai jadwal yang telah disepakati.
Melihat hal ini, berdasarkan hasil wawancara yang telah diperoleh peneliti dan kajian teori yang relevan, maka diketahui bahwa membentuk karakter religious peserta didik melalui pembiasaan sholat berjamaah dan Pelajaran BTQ62maka guru dapat menggunakan beberapa pembiasaan untuk memperoleh tujuan diantaranya, bagi peserta didik yang tidak melakukan dengan sungguh-sungguh akan ditegur dan dinasehati agar tidak terulang kembali di kemudian hari.
Kemudian memiliki disiplin waktu ketika melakukan sholat berjamaah. Guru akan senantiasa mendampingi peserta didik selama berjalannya pembiasaan sholat berjamaah dan pembiasaan BTQ agar pembiasaan yang didapatkan disekolah dapat diterapkan dengan baik untuk bekal peserta didik kelak. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter pada nilai religius dapat dilakukan dengan adanya keyakinan terhadap agama Islam dan pembiasaan sholat dhuhur berjamaah.
Kemudian sikap toleransi juga dapat muncul ketika salah satu siswa yang belum dijemput, temannya yang berbeda jenjang mau untuk menunggunya sampai di jemput. Walaupun budaya mengejek-ejek teman dengan asumsi bercanda masih
62 Ibid., 8
58
terjadi disekolah ini. Namun budaya pilih-pilih teman tidak terjadi di SDN Koripan. Hal tersebut dapat dijadikan sedikit contoh bahwa pendidikan karakter di SDN Koripan Bungkal Ponorogo sesuai dengan teori pendidikan karakter peserta didik pada nilai toleransi.
Kemudian sikap mandiri, merupakan sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan. Dan sikap mandiri di SDN Koripan dibuktikan dengan mereka mengerjakan tugas secara mandiri. Namun hal ini bukan berarti tidak boleh bekerjasama secara kolaboratif, melainkan tidak boleh melemparkan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain.63 Mengenai unsur kemandirian di SDN Koripan ini tergolong tinggi. Seperti pernyataan salah satu ibu guru mengatakan bahwa 90% siswa mengerjakan tugas di rumah ketika mendapat PR. Maka ketika terdapat peserta didik yang tidak mengerjakan itu dikarenakan sulit atau lupa. Kemudian setiap guru akan memberikan sangsi agar kedisiplinan dalam mengerjakan tugas dapat dilakukan peserta didik untuk melatih kemandirian dan tanggungjawabnya. Hal lain yang nampak dalam karakter peserta didik melalui nilai kemandirian adalah inisiatif peserta didik dalam melakukan tugas piket di kelas.
Maka dari paparan diats terdapat kesesuaian antara teori yang dikemukakan bahwa dalam penelitian ini terdapat 3 nilai pendidikan karakter yang sudah terjadi. Yaitu religius peserta didik melalui sholat berjamaah dan pembiasaan BTQ yang sudah terjadwal. Peserta didik sudah memiliki kegiatan rutin sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah sesuai dengan ketentuan sekolah. Peserta didik juga memilki Kemudian sikap toleransi peserta didik mengenai tidak adanya buadaya pilih-pilih teman. Serta sikap kemandirian siswa dalam melakukan
63 Ibid., 9.
59
tanggungjawabnya terhadap tugas rumah yang diberikan bapak atau ibu guru secara individu maupun kelompok.
2. Dampak pendidikan karakter peserta didik kelas V di SDN Koripan Bungkal Ponorogo
Pendidikan karakter harus ditanamkan pada usia sedini mungkin. Karena perkembangan pendidikan karakter peserta didik sekarang ini sangatlah penting.
Maka salah satu cara untuk menbentuk karakter peserta didik adalah dengan melakukan kegiatan rutin dan positif yang dilakukan di SDN Koripan Bungkal Ponorogo. Dengan kegiatan positif jika peserta didik melakukannya secara rutin dan bersama-sama secara perlahan tertanam dan membentuk karakter pada diri peserta didik.
Dampak dari adanya kegiatan yang dilakukan di sekolah tersebut dapat meningkatkan karakter peserta didik sedikit demi sedikit. Khususnya pesera didik kelas V di SDN Koripan. Melalui kegiatan sholat berjamaah dan pembiasaan BTQ di SDN Koripan dapat memperangi berbagai perilaku negatif peserta didik.64 Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Anis selaku guru PAI. Beliau menjelaskan bahwa dampak dari adanya pendidikan karakter di SDN Koripan adalah menyadarkan peserta didik untuk yakin terhadap agama Islam yang bersifat membawa rahmat bagi seluruh alam. Selain itu ada usaha untuk memperbaiki cara membaca dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Termasuk dalam hafalan surat-surat pendek.
Pendidikan karakter juga dapat menjadikan individu yang maju, mandiri, dan kukuh dalam menggenggam prinsip sesuai teori diatas65. hal tersebut muncul pada kemandirian peserta didik kelas V SDN Koripan dalam mengerjakan tugas.
64 Adi Supriyatno, Pendidikan Karakter,52
65 Ibid., 52
60
Ibu Anis dan Ibu Rahma selaku guru di SDN Koripan sepakat bahwa pendidikan karakter harus ditanamkan di usia dini. Pendidikan karakter sebagai pendorong tanggung jawab peserta didik.66 Menurut Ibu Rahma selaku guru PAI menjelaskan bahwa adanya pendidikan karakter dapat membiasakan siswa bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Peserta didik memiliki prinsip melakukan tugasnya sendiri tanpa disuruh. Dan melaksanakan piket kelas yang sudah terjadwal.
66 Ibid., 52
61 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil analisis data di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pendidikan karakter pada peserta didik kelas V di SDN Koripan Bungkal Ponorogo berkembang dengan baik. Kegiatan yang dilakukan melalui melalui kegiatan sholat berjamaah, pembiasaan BTQ, penanaman budaya sopan santun.
Hal tersebut termasuk dalam pendidikan karakter pada nilai religius. Kemudian budaya tidak pilih-pilih teman pada peserta didik kelas V mampu menunjukkan sikap pendidikan karakter pada nilai toleransi. Selanjutnya kemandirian dalam mengerjakan tugas di rumah. Baik berupa tugas individu maupun kelompok dapat dilakukan peserta didik dengan baik. Tanggung jawab yang dilakukan dalam menjalankan tugas tergolong pendidikan karakter pada nilai kemandirian. Hal tersebut sesuai dengan teori yang dijelaskan diatas mengenai pendidikan karakter peserta didik pada nilai religius, toleransi, dan sikap kemandirian. Dengan kegiatan yang dilaksanakan secara rutin dan terjadwal. Maka sebiasa mungkin guru menjalankan kegiatan seperti sholat berjamaah, rutin melaksanakan pelajaran BTQ, menerapkan 5S, dan memberikn hukuman bagi peserta didik yang melanggar sedini mungkin serta secara rutin, dan bersama-sama
2. Dampak pendidikan karakter pada peserta didik kelas V di SDN Koripan ini membawa dampak positif. Yaitu peserta didik menjadi lebih tertanam karakternya. Peserta didik jadi memiliki ritunitas sholat berjamaah, usaha memperbaiki bacaan dan tulisan Al-Qur’an serta budaya sopan, santun, memberi dan menjawab salam. Hal tersebut Memiliki karakter yang bisa menjadi benteng dalam perilaku negatif. Melalui tugas di rumah secara mandiri maupun berkelompok menjadikan peserta didik menjadi individu yang maju dan menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
62 B. Saran
Dari hasil penelitian di atas, disarankan kepada:
1. Guru
Dengan memperhatikan perilaku dari penelitian, guru diharapkan untuk terus berinivasi dalam melakukan pembelajaran di sekolah.
2. Sekolah
Sekolah hendaknya saling memberi support yang baik bagi guru dan siswa sehingga bisa menciptakan suasana sekolah yang menyenangkan. Dan menjalin kerjasama dengan orangtua, khususnya pada pendidikan karater
3. Orang tua
Diharapkan untuk lebih berperan aktif dalam menanamkan dan mengajarkan pendidikan karakter pada anak ketika di rumah. Agar terdapat kerjasama antar orangtua dan pihak sekolah.
4. Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini memberikan informasi kepada peneliti selanjutnya tentang pendidikan karakter terutama aspek religius, kemandirian, dan toleransi.
64
DAFTAR PUSTAKA
A, Doni Koesoema. Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta:
Grasindo.
Aidah Siti Nur. Pembelajaran Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Penerbit KBM Indonesia, 2020.
Akhyar, Yundri dan Eli Sutrawati.” Implementasi Metode Pembiasaan dalam Membentuk Karakter Religius Anak.” Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan. 2. Juli-Desember, 2021.
Aksan, Hermawan. Pendidikan Karakter. Bandung: Nuansa noer. 2014.
Anggito, Albi & Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak, 2018.
Ariestina, “Penanaman Nilai Toleransi Sebagai Penguatan Pendidikan Karakter di Madrasah Ibtidaiyyah”. Jurnal , E-Journal Unaris Ungaran.
Arifah, Lies. “Implementasi Pendidikan IMTAQ di SMP Negeri 2 Bantul”. Tesis: Universitas Negeri Yogyakarta, 2009.
Bahri, DKK. Integrasi Nilai Karakter pada Pembelajaran Sejarah Lokal. Bandung: Media Sains Indonesia, 2021.
Basrowi & Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Daryanto. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Grava media, 2013.
Efendi, Rinja dan Asih Ria Ningsih. Pendidikan Karakter. Pasuruan: CV Penerbit Qiara Media. 2009.
Frimayanti, Ade Imelda. “Implementasi Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam,”
Jurnal al-Tadzkiyah. 11. 2017.
65
65
Gantini, Herlina dan Endang Fauziati, “Penanaman Karakter Siswa Sekolah Dasar Melalui Pembiasaan Harian dalam Perspektif Behaviorisme”, (Jurnal Papeda: Vol 3, No 2, Juli tahun 2021).
Hariyanti, Mey. Kompasiana, diakses pada 5 januari 2023, 23:51, https://www.kompasiana.com/meykurniawan/556c4b414b7a61ec048b456b/prosedur- pengumpulan-data-kualitatif
Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2016.
Hudiyono. Membangun Karakter Siswa melalui Profesionalisme dan Gerakan Pramuka.
Erlangga, 2014.
Husna, Laila. “Pendidikan Karakter Mandiri pada Siswa Kelas IV SD Unggulan Aisyiyah Bantul”, Yogyakarta: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 10 Tahun ke-6 2017.
Ihsani, Nurul dkk. ”Hubungan Metode Pembiasaan dalam Pembelajaran dengan Disiplin Anak Usia Dini”. Jurnal Imial Potensia. 1. 2018.
Kemdikbud, Diakses pada 28 Februari 2023,
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/07/penguatan-pendidikan-karakter-jadi- pintu-masuk-pembenahan-pendidikan-nasional
Kesuma, Dharma, DKK. Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktik di Sekolah.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2018.
Masrukhan, Ahsan. “Pelaksanaan Pendidikan Karakter Peduli Sosial di Sd Negeri Kotagede 5 Yogyakarta”. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 29 Tahun ke-5. 2016.
Moelong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Muchlis, Mansur. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional.
Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
66
66
Muhammad, Yaumi. Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar, dan Implementasi. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group. 2014.
Nurmalita, Azza. “Penanaman Nilai Menghargai Prestasi pada Siswa SD Negeri Mendungan I Yogyakarta”. Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014.
Purwaningsih, Endang. “Mengembangkan Sikap Toleransi dan Kebersamaan di Kalangan Siswa,” Jurnal Visi Ilmu Pendidikan. 1705.
Putri, Raihan. Nilai Pendidikan Karakter Anak di Sekolah Perspektif Kemendiknas.
International Journal of Child and Gender Studies. Vol. 1, Maret 2018.
Rahmat, Abdul. Pengantar Pendidikan: Teori, Konsep dan Aplikasi. Gorontalo: Ideas Publishing, 2014.
Rahmat, Pupu Saeful. “Penelitian Kualitatif”. Equilibrium, Vol. 5, No. 9. Januari-Juni 2009.
Rohani, Ahmad. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Rukajat, Ajat. Pendekatan Penelitian Kualitatif (Qualitative Research Approach).
Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018.
Ramayulis. Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia. 2005.
Sali, Syahrum. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Cita Pustaka Media. 2007.
Samawi, Muchlas dan Hariyanto. Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2012.
Saldana, Miles & Huberman. Qualitative data analysis. Amerika: Sage Publications. 2014.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta, 2009.
---. Metodologi Penelitian Kependidikan. Bandung: Alfabeta, 2016.
Suparman Sumahamijaya dkk, Pendidikan Karakter Mandiri dan Kewiraswastaan (Bandung:
Angkasa. 2003), 31.
Supardi. Kinerja Guru. Raja Grafindo Persada. 2014.
67
67
Suparlan. “Pendidikan Karakter: Sedemikian Pentingkah, dan Apakah yang Harus Kita Lakukan” dalam Suparlan. com dipublikasikan 15 oktober 2010 http://www.suparlan.com/pages/posts/pendidikan-karakter-sedemikian-pentingkah- dan-apa-yang-yang-harus-kita-lakukan-305.php. diakses pada 2 Januari 2023.
Suyadi. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013.
Thontowi, Ahmad. “Hakekat Relegiusitas”. Diakses pada 4 Januari 2023, 14:21, http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/hakekatreligiusitas.pdf
Ulfatin, Nurul. Metode Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasinya. Malang:
Media Nusa Creative, 2013.
Universitas Raharja, diakses pada 5 januari 2023, 22:11, https://raharja.ac.id/2020/11/08/data- primer/
Usman, Muhammad dan Anton Widyanto. “Internalisasi Nilai-Nilai Toleransi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Lhokseumawe, Aceh, Indonesia,” Journal of Islamic Education 2 no.1 2019.
Wibowo, Agus. Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah (Konsep dan Praktik Implementasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Wiyani, Novan Ardy. Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Gava Media.
2014.
Yani Dwi Ningsih. (2012). Hambatan-hambatan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Membuat Pola (Pattern Making) Dengan Teknik Konstruksi di SMK Negeri 1 IV Angkek Kab. Agam. Skripsi. Padang: FT UNP.
Yaumi, Muhammad. Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar & Implementasi. Jakarta:
Prenadamedia Group, 2016.