• Tidak ada hasil yang ditemukan

Download (1MB)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Download (1MB)"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Fokus Penelitian

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Sistematika Pembahasan

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Pengertian pendidikan karakter adalah upaya manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memantapkan potensi peserta didik untuk membangun karakter pribadi sehingga menjadi individu yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan. Ramli, Pengertian pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengutamakan hakikat dan pentingnya moralitas dan etika sehingga mampu membentuk kepribadian peserta didik yang baik. Di lingkungan sekolah diberikan pendidikan karakter dan siswa diajarkan untuk membentuk dan mempunyai karakter yang sejalan dengan visi dan misi sekolah, serta memiliki semangat cinta tanah air (cinta tanah air).

Di lingkungan sekolah pun, yang berperan dalam membentuk karakter baik siswa adalah guru dan seluruh pihak sekolah. Dengan kata lain peserta didik adalah individu yang sedang mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik, mental, dan kejiwaan. Penyebabnya adalah siswalah yang membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi kebutuhan siswa.

Siswa atau peserta didik merupakan salah satu komponen manusia yang menduduki posisi sentral dalam proses belajar mengajar, siswalah yang menjadi permasalahan utama dan fokus perhatian. Pengertian ini berarti bahwa peserta didik merupakan individu yang belum matang sehingga memerlukan orang lain untuk menjadi dewasa. Orang dewasa tidak boleh memanfaatkan dunia siswa dengan menuruti segala aturan dan keinginan sehingga siswa kehilangan dunianya.

Setiap siswa mempunyai aktivitasnya masing-masing (self-help) dan kreativitasnya sendiri (inventiveness), sehingga dalam pendidikan kita tidak hanya memandang anak sebagai objek pasif yang biasanya hanya menerima dan mendengarkan.

Kajian Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan persamaan yaitu membahas bagaimana nilai karakter toleransi disisipkan pada saat kegiatan belajar mengajar maupun pada saat melakukan kegiatan lainnya seperti pada saat pembagian tugas antara siswa laki-laki dan perempuan, pembagian kursi, pembagian kelompok kerja, dan lain-lain. Bedanya terletak pada diadakannya sosialisasi yang mereka namakan sosialisasi madrasah kepada masyarakat sekitar dan RA atau TK yang ada disekitarnya, disertai dengan pengenalan nilai toleransi kepada anak.31. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 29 Tahun 5 2016 berjudul Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Sosial di SDN Kotagede 5 Yogyakarta.

Penelitian ini membahas tentang bagaimana guru melakukan upaya pengembangan pendidikan karakter peduli sosial pada anak. Dalam penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan kesamaan yaitu adanya kegiatan kelompok seperti menegur anak nakal, serta mengadakan kerja kelompok. Perbedaannya terletak pada adanya kegiatan rutin dengan infaq yang didemonstrasikan terlebih dahulu oleh guru, serta pembuatan poster tentang kepedulian sosial.32.

31 Hesti Ariestina, “Lembaga nilai toleransi sebagai penguatan pendidikan karakter di Madrasah Ibtidaiyyah”, (Jurnal, E-Jurnal Unaris Ungaran). 32 Ahsan Masrukhan, “Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Sosial di SDN 5 Kotagede Kotagede”, (Jurnal Pendidikan Guru SD Edisi 29, Tahun 2016). Dalam penelitian yang dilakukan peneliti ditemukan adanya kesamaan yaitu pengembangan karakter siswa melalui aktivitas sehari-hari di sekolah.

Perbedaannya terletak pada cara penelitian memandang penanaman nilai-nilai karakter siswa melalui perspektif teori pembelajaran behaviorisme.33. 33 Herlina Gantini dan Endang Fauziati, “Meningkatkan karakter siswa SD melalui kebiasaan sehari-hari dalam perspektif behavioristik”, (Jurnal Papeda: Vol 3, No 2, Juli 2021). Persamaannya adalah membahas bagaimana guru berupaya mengembangkan dan menanamkan sikap menghargai prestasi pada siswa.

Ahsan Masrukhan, 2016, Implementasi Pendidikan Karakter Peduli Sosial di SD Negeri 5 Kotagede Yogyakarta”, Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 29, Edisi 5. Persamaannya ada pada kegiatan seperti reproduksi anak nakal, juga Seperti diadakannya kerja kelompok, perbedaannya terletak pada adanya kegiatan rutin dengan infak yang didemonstrasikan terlebih dahulu oleh guru, serta pembuatan poster kepedulian sosial.

1.1  Tabel  Telaah  Hasil  Penelitian  Terdahulu  Dapat  Diringkas  dalam  Bentuk  Matriks
1.1 Tabel Telaah Hasil Penelitian Terdahulu Dapat Diringkas dalam Bentuk Matriks

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Data dan Sumber Data
  • Prosedur Pengumpulan Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Pengecekan Keabsahan Penelitian
  • Tahap Penelitian

Peneliti melakukan observasi atau pengamatan terhadap aktivitas siswa yang berhubungan langsung dengan pembentukan pendidikan karakter di sekolah. Berbagai pertanyaan diajukan untuk membantu pihak terkait pendidikan karakter siswa kelas V SDN Koripan Bungkal Ponorogo. 48 Beliau juga mengungkapkan bahwa kegiatan pembentukan karakter siswa SDN Koripan telah dilaksanakan secara disiplin.

Selama ini siswa SDN Koripan alhamdulillah sudah tanggap dengan sikap saling tolong menolong. Pembiasaan membaca dan menulis Al Quran dilakukan siswa SDN Koripan sesuai jadwal masing-masing. 5S (senyum, sapa, sapa, sopan dan santun) Budaya 5 S merupakan salah satu upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa di SDN Koripan Bungkal Ponorogo.

Penerapan pembentukan karakter siswa di SDN Koripan Bugkal Ponorogo tentunya berdampak pada karakteristik siswa. Adanya intervensi guru yang selalu mengingat dan mendampingi siswa di SDN Koripan Bungkal Ponorogo.55. Menyajikan data di atas, di SD Koripan Bungkal Ponorogo diketahui bahwa pendidikan karakter siswa kelas V sudah mulai berkembang, meliputi nilai-nilai agama, toleransi dan sikap mandiri.

Hal ini dapat dijadikan contoh kecil bahwa pendidikan karakter di SDN Koripan Bungkal Ponorogo sejalan dengan teori pendidikan karakter bagi siswa yang berbasis pada nilai toleransi. Maka salah satu cara untuk membentuk karakter siswa adalah dengan melakukan kegiatan yang rutin dan positif di SDN Koripan Bungkal Ponorogo. Dampak dari kegiatan yang dilakukan di sekolah sedikit demi sedikit dapat meningkatkan karakter siswa.

Dijelaskannya, dampak pendidikan karakter di SDN Koripan adalah menyadarkan siswa terhadap keyakinan terhadap agama Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Maka budaya tidak pilih-pilih teman pada siswa Kelas V dapat menunjukkan sikap pembentukan karakter terhadap nilai toleransi. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan di atas tentang pembentukan karakter siswa dalam nilai-nilai agama, toleransi dan sikap mandiri.

Gambar 3.1 Bagan Analisis Data Interaktif  Menurut Miles Hubber & Saldana  1.  Pengumpulan Data
Gambar 3.1 Bagan Analisis Data Interaktif Menurut Miles Hubber & Saldana 1. Pengumpulan Data

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran umum latar penelitian

Paparan data

Ia juga menambahkan bahwa siswa di SDN Koripan yang santun dalam berperilaku dan berbicara dapat mencerminkan karakter setiap siswa. Selain itu, kita juga mempunyai budaya mencium tangan guru untuk menyambut siswa yang datang ke sekolah. Karena tidak jarang setelah salat Dhuha ada aliran sesat yang menanamkan sikap menolong siswa.

Karakter siswa diharapkan dapat dibentuk melalui rutinitas sederhana seperti ini.49 Beliau juga mengungkapkan bahwa siswa SDN Koripan ikut serta dalam pembentukan karakter siswa juga dengan bertanggungjawab terhadap pekerjaan rumah yang diberikan. Siswa mempunyai semangat tersendiri ketika mengerjakan pekerjaan rumah, terutama pada saat tugas kelompok. Oleh karena itu, ada sanksi yang harus ditanggung oleh siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, seperti bekerja di luar kelas.

Dari pemaparan data yang juga telah peneliti kemukakan, peneliti menyimpulkan bahwa dengan adanya kegiatan sebagai wirausaha upaya sekolah membentuk karakter siswa diharapkan dapat bermanfaat bagi kehidupan siswa. Kegiatan ini dimulai ketika siswa sampai di sekolah, setelah itu siswa disambut oleh guru yang bertugas. Bahkan ketika siswa datang sebelum gurunya, mereka buru-buru mengambil alih seperti guru yang baru tiba di sekolah.

Perbedaan tingkat kelas siswa SD Koripan tidak membuat mereka acuh terhadap teman-temannya yang tidak menjemput mereka sesampainya dari sekolah. Berdasarkan wawancara dengan Ibu Anis Imroatul Azizah, S.P., dan Rahmayani Aristu, S.P., beliau menjelaskan bahwa kegiatan di sekolah dapat membentuk karakter siswa.54 Hal ini terlihat ketika peneliti mengamati siswa. Apalagi kegiatan rutin siswa ini sangat bermanfaat untuk membangun karakter siswa.

Sikap mandiri juga muncul pada diri siswa ketika melakukan kegiatan positif di sekolah. Santri kini lebih rajin shalat, tepat waktu, dan bila ada waktu, mereka mencoba memanfaatkannya untuk membaca Al-Quran. Dari berbagai data yang tersaji di atas, peneliti menyimpulkan bahwa implementasi pembentukan karakter siswa di SDN Koripan Bungkal Ponorogo memberikan dampak yang besar terhadap karakter siswa, baik dalam dimensi keimanan atau agama, toleransi dalam pergaulan dengan orang lain. siswa.

Pembahasan

Guru akan selalu mendampingi siswa saat salat berjamaah dan kebiasaan BTQ, sehingga kebiasaan yang diperoleh di sekolah dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mempersiapkan siswa menghadapi masa depan. Hal ini sejalan dengan teori yang menjelaskan bahwa pendidikan karakter tentang nilai-nilai agama dapat dilakukan dengan keyakinan terhadap agama Islam dan kebiasaan salat Dzuhur secara berjamaah. Kemudian setiap guru akan memberikan sanksi agar siswa dapat disiplin dalam menyelesaikan tugas untuk melatih kemandirian dan tanggung jawabnya.

Hal lain yang terlihat pada karakter siswa melalui nilai kemandirian adalah inisiatif siswa dalam melaksanakan tugas piket di kelas. Para siswa sudah melaksanakan salat Dhuha dan Dhuhur secara rutin secara berjamaah sesuai dengan tata tertib sekolah. Siswa juga mempunyai sikap toleransi antar siswa dalam hal kurangnya budaya memilih teman.

Dengan kegiatan yang positif, jika dilakukan secara rutin dan bersama-sama oleh siswa, lambat laun akan tertanam dan membentuk karakter dalam diri siswa. Melalui kegiatan sholat berjamaah dan kebiasaan BTQ di SDN Koripan, berbagai perilaku negatif siswa dapat ditanggulangi.64 Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Ibu Anis selaku guru PAI. Ibu Anis dan Ibu Rahma selaku guru di SDN Koripan sepakat bahwa pendidikan karakter harus ditanamkan sejak dini.

Pendidikan karakter sebagai penggerak tanggung jawab siswa 66 Menurut Ibu Rahma selaku guru PAI menjelaskan bahwa pendidikan karakter dapat menjadikan siswa terbiasa bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Sebisa mungkin guru melaksanakan kegiatan seperti salat berjamaah, melaksanakan pembelajaran BTQ secara rutin, menerapkan 5S dan memberikan hukuman bagi siswa yang melanggar sedini mungkin dan sesering mungkin serta secara bersama-sama. Santri akan mempunyai tata cara shalat berjamaah, upaya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Quran, serta budaya santun, santun, memberi dan menyikapi salam.

Melalui penugasan di rumah, mandiri maupun kelompok, siswa menjadi pribadi yang maju dan bertanggung jawab. Diharapkan mereka lebih berperan aktif dalam pengajaran dan pembelajaran pendidikan karakter kepada anak di rumah. Hasil penelitian ini memberikan informasi bagi peneliti selanjutnya mengenai pendidikan karakter khususnya aspek keagamaan, kemandirian dan toleransi.

SIMPULAN DAN SARAN

Gambar

1.1  Tabel  Telaah  Hasil  Penelitian  Terdahulu  Dapat  Diringkas  dalam  Bentuk  Matriks
Gambar 3.1 Bagan Analisis Data Interaktif  Menurut Miles Hubber & Saldana  1.  Pengumpulan Data

Referensi

Dokumen terkait

Remaja adalah generasi penerus bangsa yang harus menjaga moralitas agar mampu bersaing di era globalisasi, namun pada kenyataannya justru banyak sekali fenomena remaja yang

Pedidikan Nilai Moral/Agama sangat penting bagi para remaja sebagai generasi penerus bangsa, agar martabat bangsa terangkat, kualitas hidup meningkat, kehidupan menjadi lebih

“ karakter merupakan hal yang sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, hilangnya karakter menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa. Karakter berperan

Adalah generasi penerus yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Sangat di khawatirkan apabila generasi muda ini tidak dapat memahami situasi bangsa.

Oleh karena itu, nilai cinta kasih yang dikandung dalam seni tembang Bali tradisional perlu ditanamkan sejak dini kepada peserta didik agar tumbuh menjadi generasi

TPA Assalam adalah untuk mencetak generasi penerus yang Qur’ani. Jika bangsa ini memiliki generasi penerus yang qur’ani , maka akan menjadi bangsa yang bermoral

Pendidikan karakter untuk siswa di sekolah sangat penting untuk mempersiapkan generasi penerus masa depan

Salah satu usaha yang dapat dilakukan mahasiswa sebagai generasi penerus untuk mendukung Indonesia berkarakter yaitu dengan gerakan 5M antara lain menyadari pentingnya karakter,