BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
69
0 5 10 15 20
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
ROA
ROA
70
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
NPM
NPM
4.2.2 Pergerakan Rasio Net Profit Margin (NPM)
Pergerakan Net Profit Margin PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat dilihaat dalam bentuk grafik pada gambar sebagai berikut:
Gambar 4.3 Pergerakan Net Profit Margin
Sumber : Laporan Keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia Periode 2011-2018
Pada gambar 4.3 nilai tertinggi Net Progfit Margin (NPM) pada tahun 2017 menurut lapoan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dikarenakan adanya pertumbuhan pendapatan sebesar 10,2% dari tahun sebelumnya disebabkan adanya peningkatan pendapatan data, internet dan jasa teknologi informasi sebesar 16,2% seperti peningkatan penggunaan internet, data selular dan jasa teknologi informatika. Nilai terendah Net Profit Margin (NPM) pada
71
0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
DER
DER
tahun 2018 menurut laporan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk disebabkan adanya penurunan penjualan pada pendapatan seluler sebesar 18,3%
karena pelanggan lebih memilih menggunakan layanan Over the Top yang merupakan salah satu subtitusi dari layanan selular. Pendapatan telepon tidak bergerak mengalami penurunan sebesar 11,7% dikarenakan penurunan penggunaan layanan voice akibat pelanggan memilih layanan selular.
4.2.3 Pergerakan Rasio Debt to Equity Ratio (DER)
Pergerakan Debt Equity Ratio PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat dilihaat dalam bentuk grafik pada gambar sebagai berikut:
Gambar 4.4 Pergerakan Debt to Equity Ratio
Sumber : Laporan Keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia Periode 2011-2018
72 Pada gambar 4.4 nilai tertinggi Debt to Equity Ratio (DER) pada tahun 2015 menurut lapoan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dikarenakan adanya pertumbuhan liabilitas perusahaan sebesar 30,3% dari tahun sebelumnya disebabkan adanya peningkatan beban yang harus dibayar sebesar Rp3.036 milyar.
Tidak hanya itu, terjadi peningkatan utang usaha dan utang pajak masing masing 13,2% dan 37,8% sehingga memberikan dapat memberikan dampak secara signifikan terhadap kewajiban perusahaan. Nilai terendah Debt to Equity Ratio (DER) pada tahun 2014 menurut laporan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk disebabkan adanya kompensasi penurunan obligasi dan wesel sebesar 27,1%, meskipun demikian perusahaan memiliki liabilitas jangka panjang yang mencapai Rp22.090 milyar lebih besar dibandingkan dengan tahun 2013, hal tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan hutang bank sebesar 39,8%
4.2.4 Pergerakan Rasio Total Asset Turnover (TATO)
Pergerakan Total Asset Turnover PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat dilihaat dalam bentuk grafik pada gambar sebagai berikut:
73
0,56 0,58 0,60 0,62 0,64 0,66 0,68 0,70
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
TATO
TATO
Gambar 4.5 Pergerakan Total Asset Turnover
Sumber : Laporan Keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia Periode 2011-2018
Pada gambar 4.5 nilai tertinggi Total Asset Turnover (TATO) pada tahun 2012 menurut lapoan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dikarenakan adanya pertumbuhan pendapatan sebesar 8,3% dari tahun sebelumnya disebabkan adanya peningkatan pendapatan telepon selular sebesar 7,5% dikarenakan meningkatnya pelanggan sebesar 16,9%. Selain itu, perusahaan mengalami peninggkatan data, internet dan jasa teknologi informasi yang memberikan kontribusi pendapatan sebesar 35,9% dikarenakan penggunaan internet, data selular dan jasa teknologi informatika yang meningkat dari tahun sebelumnya.
Nilai terendah Total Asset Turnover (TATO) pada tahun 2015 menurut laporan
74
0,000000 0,000500 0,001000 0,001500 0,002000 0,002500 0,003000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
VPS
VPS
tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk disebabkan adanya penunrunan pendapatan telepon tidak bergerak sebesar 7,1%. Penurunan pendapatan telepon tidak bergerak terjadi dikarenakan penurunan pemakaian telepon lokal dan penghentian layanan Flexi.
4.2.5 Pergerakan Rasio Aktivitas Volume Perdagangan Saham
Pergerakan Volume Perdagangan Saham PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat dilihaat dalam bentuk grafik pada gambar sebagai berikut:
Gambar 4.6 Pergerakan Volume Perdagangan Saham Sumber : www.idx.com Periode 2011-2018
Menurut gambar 4.6 nilai tertinggi Volume Perdagangan Saham pada tahun 2011 menurut lapoan tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dikarenakan pada tahun tersebut perusahaan memiliki aktivitas jual beli saham yang aktif. Sehingga PT. Telekomunikasi Indonesia menggalami penjualan dan
75
0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 4.000 4.500 5.000
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Harga Saham
Series 1
pembelian lembar saham begitu cepat. Meskipun demikian, perusahaan mengalami penurunan secara terus menerus sampai di titik terendah pada 2015.
Volume Perdagangan Saham pada tahun 2015 menurut laporan tahunan PT.
Telekomunikasi Indonesia, Tbk lembar saham yang diperjual belikan pada awal tahun memiliki nilai yang cukup tinggi tetapi mengalami penurunan pada setiap bulannya sehingga cenderung akan mengalami penurunan dalam aktivitas perdagangan saham dan perusahaan melakukan stock split pada tahun 2015 sehingga mempengaruhi aktivitas volume perdagangan saham pada 2016 yang meningkat.
4.2.6 Pergerakan Variabel Harga Saham
Pergerakan Harga Saham PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dapat dilihaat dalam bentuk grafik pada gambar sebagai berikut:
Gambar 4.7 Pergerakan Harga Saham
76 Sumber : www.idx.com Periode 2011-2018
Pada gambar 4.5 memperlihatkan harga saham cenderung naik dari tahun 2011 sampai 2017. Harga Saham pada 2017 mengalami kenaikan dikarenakan adanya trend bisnis yang dominan menagarah pada arah digital sehingga akan mendorong profitabilitas perusahaan pada sektor telekomunikasi khususnya PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tetapi, harga saham pada tahun 2018 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengelolaan utangnya yang kurang produktif sehingga mengakibatkan kinerja PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk tidak optimal serta investor asing yang melakukan penjualan atas saham PT. Telkom dikarenakan adanya pelemahan terhadap mata uang rupiah.
4.2.7 Pengaruh Return on Asset (ROA) Terhadap Harga Saham Secara Parsial
Hasil pada uji hipotesis parsial (uji t) pada model regresi menunjukan bahwa diperoleh nilai thitung < ttabel untuk Return on Asset (ROA) adalah -0,479 lebih kecil dari ttabel yaitu 2,055 dan dapat dilihat dengan membandingkan nilai tingkat signifikansi dimana profitabilitasnya sebesar 0,0636 lebih besar dari nilai signifikasi dimana profitabilitasnya 0,05 (0,0636 > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya secara parsial Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi laba perusahaan yang tidak dalam kondisi optimal. Dalam periode 2011 sampai dengan 2018, PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk mengalami laba setelah pajak
77 dan total aset yang tidak stabil yang membuat Return on Asset (ROA) tidak stabil atau cenderung rendah. Semakin rendah ROA menunjukan kinerja perusahan yang semakin menurun karena tingkat pengembalian investasi pada total aset semakin rendah. Ketika semakin rendah tingkat pengembalian investasi pada total aset akan mengakibatkan rendahnya pada perubahan harga saham.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Efendi dan Ngatno (2018) yang menyatakan bahwa Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham secara parsial. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Rachmaniyah (2018) yang menyatakan bahwa pada uji t secara parsial variabel Return on Asset (ROA) berpengaruh signifikan positif terhadap harga saham.
4.2.8 Pengaruh Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham Secara Parsial
Hasil pada uji hipotesis parsial (uji t) pada model regresi menunjukan bahwa diperoleh nilai thitung < ttabel untuk Net Profit Margin (NPM) adalah 1,094 lebih kecil dari ttabel yaitu 2,055 dan dapat dilihat dengan membandingkan nilai tingkat signifikansi dimana profitabilitasnya sebesar 0,0284 lebih besar dari nilai signifikasi dimana profitabilitasnya 0,05 (0,284 > 0,05) maka H0 diterima dan H1
ditolak yang artinya secara parsial Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan. Hal ini menunjukan bahwa harga saham perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk tidak tergantung pada nilai Net Profit Margin (NPM). Laba bersih yang diterima perushaan tidak sepenuhnya
78 indikator bahwa suatu perusahaan telah memiliki kinerja yang baik selama periode tertentu yang mengakibatkan tidak berpengaruhnya terhadap Harga Saham.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2018) yang menyatakan bahwa Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Watung (2016) yang menyatakan bahwa NPM berpengaruh terhadap harga saham secara parsial.
4.2.9 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham Secara Parsial
Hasil pada uji hipotesis parsial (uji t) pada model regresi menunjukan bahwa diperoleh nilai thitung > ttabel untuk Debt to Equity Ratio (DER) adalah 3,104 lebih kecil dari ttabel yaitu 2,055 dan dapat dilihat dengan membandingkan nilai tingkat signifikansi dimana profitabilitasnya sebesar 0,005 lebih kecil dari nilai signifikasi dimana profitabilitasnya 0,05 (0,005 < 0,05) maka H0 ditolak dan H1 ditterima yang artinya secara parsial Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap Harga Saham secara signifikan. Debt to Equity (DER) yang tinggi cenderung menunjukan perusahaan memiliki tanggung jawab pada pihak ketiga untuk menyesaikan kewajibannya. Perusahaan membutuhkan pendanaan dalam melakukan aktivitas peusahaan. PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk menggunakan hutang dalam struktur modalnya sehingga dapat menjalankan peusahaannya yang mempengaruhi Harga Saham. Penggunaan hutang yang tinggi pada perusahaan
79 menunjukan bahwa perusahan membutuhkan dana tambahan untuk melakukan peningkatan usahanya agar mendapatkan keuntungan yang tinggi. Meskipun demikian, perusahaan tetap harus menjaga nilai Debt to Equity Ratio (DER) agar jika hutang terlalu tinggi membuat investor tidak mau terlibat dalam risiko beban hutang yang diderita perusahaan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Kundiman dan Hakim (2016) yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif secara signifikan terhadap harga saham. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Pratama dkk (2019) yang menyatakan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap harga saham secara parsial.
4.2.10 Pengaruh Total Asset Turnover (TATO) Terhadap Harga Saham Secara Parsial
Hasil pada uji hipotesis parsial (uji t) pada model regresi menunjukan bahwa diperoleh nilai thitung < ttabel untuk Total Asset Turnover (TATO) adalah 0,427 lebih kecil dari ttabel yaitu 2,055 dan dapat dilihat dengan membandingkan nilai tingkat signifikansi dimana profitabilitasnya sebesar 0,673 lebih besar dari nilai signifikasi dimana profitabilitasnya 0,05 (0,0673 > 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya secara parsial Total Asset Turnover (TATO) tidak berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan. Perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan. Semua aktiva yang menciptakan penjualan belum
80 tentu dapat meningkatkan laba dan sebagian laba yang didapatkan guna untuk membayar hutang perusahaan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuniati dkk (2018) yang menyatakan bahwa Total Asset Turnover (TATO) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham secara parsial. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Amrah (2019) yang menyatakan bahwa Total Asset Turnover (TATO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.
4.2.11 Pengaruh Volume Perdagangan Saham Terhadap Harga Saham Secara Parsial
Hasil pada uji hipotesis parsial (uji t) pada model regresi menunjukan bahwa diperoleh nilai thitung < ttabel untuk Volume Perdagangan Saham adalah 4,023 lebih besar dari ttabel yaitu 2,055 dan dapat dilihat dengan membandingkan nilai tingkat signifikansi dimana profitabilitasnya sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai signifikasi dimana profitabilitasnya 0,05 (0,000 < 0,05) maka H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya secara parsial Volume Perdagangan Saham berpengaruh positif terhadap Harga Saham secara signifikan. Volume Perdagangan Saham dapat dijadikan acuan untuk mendapatkan informasi penilaian terhadap Harga Saham dan di pasar modal. Naiknya Volume Perdagangan Saham artinya ada pada kenaikan aktivitas dalam jual beli oleh investor di pasar modal dan menunjukan optimisme pasar terhadap saham.
Hasil ini dapat didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Masud (2019) yang menyatakan bahwa Volume Perdagangan Saham
81 signifikan terhadap Harga Saham secara parsial. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Arifannisa dan Nugraha (2017) yang menyatakan bahwa Volume Perdagangan Saham tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
82 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Bedasarkan hasil penelittian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Pergerakan Return on Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Debt Equity Ratio (DER), Total Asset Turnover (TATO), Volume Perdagangan Saham dan Harga Saham pada PT. Telekomunikasi Tbk peiode 2011 sampai dengan 2018 sebagai berikut:
a. Pergerakan Return on Asset (ROA) pada PT. Telekomunikasi Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Nilai tertinggi pada tahun 2012 dikarenakan kenaikan laba bersih sebesar 17,2%.
Kenaikan tersebut karenakan ada peningkatan laba bersih dari Telkomsel sebesar 22,5%. Nilai terendah pada tahun 2018 dikarenakan penurunan laba bersih salah satunya pada selular Telkomsel.
b. Pergerakan Net Profit Margin (NPM) pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami fluktuasi pada tiap tahunnya. Nilai tertinggi pada tahun 2017 dikarenakan adanya pertumbuhan pendapatan sebesar 10,2% disebabkan adanya peningkatan pendapatan data, internet dan jasa teknologi informasi. Nilai terendah pada tahun 2018 disebabkan adanya penurunan penjualan pada pendapatan seluler sebesar 18,3% karena pelanggan lebih memilih menggunakan
83 layanan Over the Top yang merupakan salah satu subtitusi dari layanan selular.
c. Pergerakan Debt Equity Ratio (DER) pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami fluktuasi tiap tahunnya.
Nilai tertinggi pada tahun 2015 dikarenakan adanya pertumbuhan liabilitas perusahaan sebesar 30,3% disebabkan adanya peningkatan beban yang harus dibayar sebesar Rp3.036 milyar. Nilai terendah pada tahun 2014 disebabkan adanya kompensasi penurunan obligasi dan wesel sebesar 27,1%, meskipun demikian perusahaan memiliki liabilitas jangka panjang yang mencapai Rp22.090 milyar lebih besar dibandingkan dengan tahun 2013, hal tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan hutang bank sebesar 39,8%.
d. Pergerakan Total Asset Turnover (TATO) pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Nilai tertinggi pada tahun 2012 dikarenakan adanya pertumbuhan pendapatan sebesar 8,3% dari tahun sebelumnya disebabkan adanya peningkatan pendapatan telepon selular sebesar 7,5%. Nilai terendah pada tahun 2015 disebabkan adanya penunrunan pendapatan telepon tidak bergerak sebesar 7,1%. Penurunan pendapatan telepon tidak bergerak terjadi dikarenakan penurunan pemakaian telepon lokal dan penghentian layanan Flexi.
e. Pergerakan Volume Perdagangan Saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami fluktuasi
84 tiap tahunnya. Nilai tertinggi pada tahun 2011 dikarenakan pada tahun tersebut perusahaan memiliki aktivitas jual beli saham yang aktif.
Sehingga PT. Telekomunikasi Indonesia menggalami penjualan dan pembelian lembar saham begitu cepat. Meskipun demikian, perusahaan mengalami penurunan secara terus menerus sampai di titik terendah pada 2015. Volume Perdagangan Saham pada tahun 2015 lembar saham yang diperjual belikan pada awal tahun memiliki nilai yang cukup tinggi tetapi mengalami penurunan pada setiap bulannya sehingga cenderung akan mengalami penurunan dalam aktivitas perdagangan saham dan perusahaan melakukan stock split pada tahun 2015 sehingga mempengaruhi aktivitas volume perdagangan saham pada 2016 yang meningkat.
f. Pergerakan Harga Saham pada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk periode 2011 sampai dengan 2018 mengalami cenderung naik sampai di titik tertinggi pada 2017 tetapi mengalami penurunan pada tahun 2018.
Kenaikan tersebut dikarenakan adanya trend bisnis yang dominan menagarah pada arah digital sehingga mendorong profitabilitas perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tetapi, pada tahun 2018 mengalami penurunan dikarenakan adanya pengelolaan utangnya yang kurang produktif sehingga mengakibatkan kinerja perusahaan tidak optimal serta investor asing yang melakukan penjualan atas saham PT.
Telkom dikarenakan adanya pelemahan terhadap mata uang rupiah.
2. Variabel fundamental: Return on Asset (ROA) tidak berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Harga Saham karena disebabkan oleh kondisi
85 laba perusahaan yang tidak dalam kondisi optimal. Net Profit Margin (NPM) tidak berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Harga Saham karena laba bersih yang diterima perushaan tidak sepenuhnya indikator bahwa suatu perusahaan telah memiliki kinerja yang baik selama periode tertentu yang mengakibatkan tidak berpengaruhnya terhadap Harga Saham. Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap Harga Saham secara signifikan karena Debt to Equity (DER) yang tinggi cenderung menunjukan perusahaan memiliki tanggung jawab pada pihak ketiga untuk menyesaikan kewajibannya.
Perusahaan membutuhkan pendanaan dalam melakukan aktivitas peusahaan.
PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk menggunakan hutang dalam struktur modalnya sehingga dapat menjalankan peusahaannya yang mempengaruhi Harga Saham. Total Asset Turnover (TATO) tidak berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Harga Saham karena perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan. Semua aktiva yang menciptakan penjualan belum tentu dapat meningkatkan laba dan sebagian laba yang didapatkan guna untuk membayar hutang perusahaan.
3. Variabel teknikal: Volume Harga Saham berpengaruh positif terhadap Harga Saham secara signifikan karena naiknya Volume Perdagangan Saham artinya ada pada kenaikan aktivitas dalam jual beli oleh investor di pasar modal dan menunjukan optimisme pasar terhadap saham.
86 5.2 Saran
Bedasarkan hasil kesimpulan diatas yang dilakukan terdapat beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam menunjang pelaksanaan yang lebih baik lagi diantaranya sebagai berikut:
1. Bagi calon investor baru yang hendak melakukan investasi pada PT.
Telekomunikasi Indonesia Tbk sebaiknya mempertimbangkan dalam melihat variabel Debt to Equity Ratio (DER) dan Volume Perdagangan Saham sebagai indikator pergerakan Harga Saham jika situasi perekonomian dan operasional PT. Telekomunikasi Tbk. sesuai dengan periode penelitian
2. Bagi perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan hutang jangka pendek dan jangka panjang agar nilai Debt to Equity Ratio (DER) tidak terlalu tinggi dan dapat mengoptimalkan kinerja sehingga perusahaan mendapatkan laba yang maksimal.
3. Bagi peneliti lain, apabila ingin melakukan penelitian serupa disarankan untuk menambak faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik.
87 DAFTAR PUSTAKA
Abidin, S. Suhandak. dan Hidayat, R.R. (2016). Pengaruh Faktor-Faktor Teknikal Terhadap Harga Saham (Studi Pada Harga Saham IDX30 di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2012-2015). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.37 No.1.
Arifannisa, W. dan Nugraha, A.A.N. (2017). Pengaruh Faktor-Faktor Fundamental dan Faktor-Faktor Teknikal Terhadap Harga Saham (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industi Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015). Jurnal Akuntansi ISSN-2252- 3936.
Amrah, R. Y. dan Elwisam (2018). Pengaruh Current Ratio, Return on Assets, Debt to Equity Ratio dan Total Assets Turnover Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan LQ45 Tahun 2013-2015. Jurnal Ilmu Manajemen Vol.14 No.1.
Astuti, O. D. D. A. (2018). Pengaruh Return on asset (roa), Earning Per Share (EPS), dan Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2014-2017. Jurnal Ekonomi Manajemen Vol.4 No.2.
Budiman, W. dan Darmawan, A. (2018) Analisis Fundamental Harga Saham Perusahaan Dengan Mengunakan Metode Discounted Cash Flow dan Price Earning Ratio. Jurnal Administrasi Bisnis Vol.63 No.1.
Darmadji, T. dan Fakhruddin, H. M. (2011). Pasar Modal di Indonesia. Edisi Ketiga, Jakarta: Salemba Empat.
Dewi, N. dan Saryadi. (2016). Pengaruh Suku Bunga (BI Rate), EPS, dan ROE Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambanggan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014. Jurnal Administrasi Bisnis Vol.5 No.2.
Efendi, F. M. dan Ngatno (2018). Pengaruh Return On Asset (ROA) Terhadap Harga Saham dengan Earning Per Share (EPS) sebagai Intervening (Studi Kasus pada Perusahaan Sub Sektor Tekstil dan Garmen yang terdaftar di Bursa Efek Inonesia Periode 2013-2016). Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.7, No.1.
Fahmi, I. dan Hadi. (2011). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedua.
Bandung: ALFABETA.
Fahmi, I. (2013). Analisis Laporan Kuangan. Bandung: ALFABETA.
Fahmi, I. (2014). Analisis Kinerja Kuangan: Panduan Bagi Akademisi, Manajer, dan Investor Untuk Menilai dan Menganalisis Bisnis dari Aspek Keuangan.
Cetakan Ketiga. Bandung: ALFABETA
88 Fahmi, I. (2014). Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: Mitra Wacana Media Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21.
Edisi 7. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gumanti, T. A. (2011). Manajemen Investasi: Konsep, Teori, dan Aplikasi. Jakarta:
Mitra Wacana Media.
Halim, A. (2015). Analisis Investasi dan Aplikasinya. Jakarta: Salemba Empat.
Hanafi, M. M. (2012). Manajemen Keuangan. Cetakan Kelima. Yogyakarta: BPFE.
Harahap, S.S. (2009). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Horne, J. V. C. dan John, M. W. (2013). Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat.
Jogiyanto, H. (2014). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedelapan.
Cetakan Pertama. Yogyakarta: BPEE.
Kasmir. (2010). Pengatar Manajemen Keuangan. Edisi Kedua. Jakarta Kencana Prenada Media Group.
Kasmir. (2012). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Kundiman, A. dan Hakin, L. (2016) Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Asset, Return on Equity Terhadap Harga Saham Pada Indeks Lq 45 Di Bei Periode 2010-2014. Jurnal Among Makarti Vol.9, No.18.
Martalena, dan Malinda. (2011). Pengantar Pasar Modal. Edisi Pertama, Yogyakarta : Andi.
Mawardi, A. (2018). Pengaruh Nilai Tukar, Tingkat Bunga, Inflasi, dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Keuangan Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol.9 No.1.
Nazir, M. (2011). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Pratama, C. A. Azizah, D. F. dan Nurlaily, F. (2019) Pengaruh Return on Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Current Ratio (CR) dan Debt to Equity Ratio (DER) Terhadap Harga Saham. Jurnal Administrasi Bisnis Vol.66 No.1.
Rachmaniyah, F. (2018). Pengaruh Profitabilitas Terhadap Harga Saham pada PT.
Semen Indonesia Periode 2012-2017. Jurnal Management and Accounting Vol.1 No.1.
Rahayu, T. N. dan Masud, M. (2019). Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Nilai Tukar Rupiah dan Volume Perdagangan Saham Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur. Jurnal Ilmu Ekonomi Vol.2 No.2.