• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan

BAB 5 Hasil dan Luaran yang Dicapai

A. Hasil Penelitian

3. Pembahasan

Seluruh guru mengharapkan perbaikan terhadap beberapa hal seperti media pembelajaran yang lebih menarik dan memadai serta pendampingan dari guru yang sudah berpengalaman menghadapi siswa tunalaras. Model Pembelajaran Superflex® menurut persepsi guru merupakan metode pembelajaran yang memberikan penekanan pada identifikasi diri berdasarkan tokoh unthinkables yang ada pada materi Model Pembelajaran Superflex®. Setelah mengetahui dirinya termasuk tokoh unthinkables yang mana, dimunculkan sosok thinkables yang dapat mengatasi sosok unthinkables tersebut.

Tujuan Model Pembelajaran Superflex® adalah memfasilitasi peserta didik untuk mengeksplorasi koginisi sosialnya, meningkatkan kesadaran perilaku peserta didik sendiri, mempelajari aturan-aturan yang ada dalam lingkungan manapun, mempertimbangkan tingkah laku dari sudut pandang yang berbeda, memodifikasi perilaku menjadi lebih “pintar sosial”

33

dengan cara mempunyai strategi bergaul yang fleksibel dan mengatur kata-kata atau bahasa tubuh serta mempertahankan perasaan baik orang lain kepada peserta didik. Model Pembelajaran Superflex® disesuaikan dengan perkembangan peserta didik, kesadaran diri dan perhatiannya terhadap lingkungan sosial (Linton, 2015).

Model pembelajaran Superflex sebagai salah satu pembelajaran yang inovatif akan mempertimbangkan aspek awal proses menciptakan, merancang, serta mengimplementasikan rancangan tersebut di dalam kelas. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah proses belajar yang dilakukan betul-betul cocok dengan kelas yang dihadapi serta menghasilkan perubahan positif/nilai tambah (Rachmah, 2012). Cross (2012) menjelaskan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam membuat inovasi pembelajaran yaitu: (1) For who is the innovation innovative? (2) Where is the innovation? (3) Innovation when in the business process?

Aspek pertama adalah menentukan untuk siapa pembelajaran inovatif ini dilakukan.

Guru SD dapat melakukan identifikasi terhadap siswa dikelaskan mengenai kesulitan belajar baik itu pembelajaran langsung atau tidak langsung. Setelah melakukan identifikasi, guru dapat berdiskusi dengan siswa, guru lain, kepala sekolah atau siapa saja yang dapat memberi masukan mengenai pola yang tepat dalam melakukan inovasi pembelajaran untuk kelas tertentu. Hasil diskusi dapat membantu guru untuk melakukan pembelajaran yang lebih inovatif. Aspek kedua adalah guru memutuskan pelaksanaan pembelajaran inovasi dengan melihat beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi kesulitan belajar siswa, sumber belajar yang dapat diakses dengan mudah, penilaian autentik yang dapat dilakukan, aktivitas siswa, serta ruangan kelas yang memadai. Faktor-faktor ini dapat didiskusikan pula dengan stake holder, sehingga semakin memantapkan keinginan guru dalam melakukan pembelajaran inovatif. Aspek ketiga yang harus dipertimbangkan dalam pembelajaran inovatif adalah kapan inovasi tersebut akan diterapkan. Hal ini harus diperhatikan karena perkembangan pembelajaran terjadi cukup dinamis sehingga perubahan sedikit saja dapat mempengaruhi proses pembelajaran secara keseluruhan.

Model pembelajaran Superflex® adalah model yang memanfaatkan komik sebagai media pembelajaran dan handout dengan tokoh protagonis superhero yang namanya Superflex® vs unthinkables team dengan 14 karakter yang tidak fleksibel. Tokoh Superflex® digambarkan sebagai karakter yang problem-solver dan berpikir fleksibel yang diharapkan akan mewarnai diri siswa tersebutlah yang menjadi Superflex®. Model yang dibuat dengan tokoh kartun dengan cerita yang sesuai dengan kriteria siswa. Proses imitasi yang dilakukan oleh siswa, diharapkan dapat membangun sikap sosial yang baik. Pembelajaran yang

34

menggunakan media gambar dapat menarik perhatian dan menambah konsentrasi peserta didik. Dengan Model Pembelajaran Superflex® siswa dapat mengenal dirinya dan bagaimana mengatasi kelemahan sosial yang terdapat pada diri sendiri (Rachmah, Gunawan,

& Mulyani, 2016).

Pembelajaran Superflex® dapat menjadi model pembelajaran alternatif yang inovatif serta dapat disesuaikan dengan perkembangan siswa terhadap kesadaran diri dan perhatian terhadap lingkungan sosial (Linton, 2015). Sebagai salah satu pembelajaran yang inovatif, model ini dikembangkan sesuai dengan aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pembelajaran yang inovatif. Proses tersebut mengacu pula pada do and don’t pada pembelajaran Superflex®. Kolaborasi antara aspek pembelajaran inovatif dan Superflex®

dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4 Kolaborasi Pembelajaran Superflex® sebagai Inovasi Pembelajaran

Aspek Do

1. Untuk siapa?

Untuk siswa yang mempunyai masalah dengan sikap sosial

Mulailah mengajarkan bagaimana melakukan observasi sosial (detektif sosial) sebelum mengenalkan peserta didik pada superhero (Superflex®) Tekankan pada anak bahwa Superflex® adalah dirinya sendiri bukan hanya sekedar tokoh komik saja

Biarkan anak melakukan eksplorasi, apakah mereka masuk Unthinkables Team atau thinkables Team sehingga mereka mempunyai kesadaran sendiri dalam melakukan perubahan perilaku

2. Dimana pelaksanaannya?

Di sekolah, di kelas dan di rumah

Gunakan detektif sosial dan strategi Superflex® pada sekolah umum juga Kaitkan Superflex® dan Unthinkables dalam pembelajaran dan materi yang diajarkan

3. Kapan dilaksanakan?

Ketika siswa sudah siap dan orang tua mau terlibat di dalamnya serta guru mampu berpikir kreatif

Lakukan dengan hati-hati pada peserta didik yang berusia lebih muda Lakukan menghubungkan konsep Superflex dengan konsep-konsep lain yang terkait dengan perilaku belajar dan perilaku sosial

Ambil banyak waktu untuk mengajar dari berbagai sudut pandang yang berbeda

Libatkan orang tua/pengasuh dan pastikan semua pihak tahu kosa kata dan harapan yang diinginkan dengan jelas. Ingat perubahan perilaku berjalan lambat

Bersenang-senang dan kreatif!

Sumber: (Cross, 2012; Crooke & Winner, 2015; Rachmah, Gunawan, & Mulyani, 2016) Setelah mengetahui bahwa pembelajaran Superflex® dikembangkan berdasarkan aspek- aspek pembelajaran inovatif, maka guru dapat menentukan bahwa siswa dapat dikatakan siap apabila mampu membedakan antara kenyataan dan bermain peran. Selain itu pula siswa sudah mampu menghubungkan antara apa yang dipikirkan dengan tingkah laku yang dilakukan oleh siswa. Keberhasilan model pembelajaran ini akan berbeda bagi setiap siswa, tergantung dari kemampuan sisa dalam membangun sikap sosial.

35

Kompetensi sikap sosial yang dapat dibangun oleh siswa melalui model pembelajaran Superflex® sesuai dengan rencana lima langkah yang penuh dengan kekuatan yaitu (Winner, 2015):

1. Kekuatan 1: Decider (pembuat keputusan), dengan mempelajari langkah yang pertama, maka siswa akan lebih percaya diri dalam memutuskan segala hal yang terkait dengan dirinya.

2. Kekuatan 2: Social Detective (Detektif Sosial), menjadi detektif sosial dapat membantu siswa dengan menggunakan seluruh indera yang dimiliki serta berpikir lebih kritis untuk menentukan setiap hal yang akan dilakukan. Kekuatan ini dapat membantu siswa dalam membangun sikap disiplin dan tanggung jawab.

3. Kekuatan 3: Brakester (pemutus pikiran negatif), kekuatan ini dapat membantu siswa untuk memikirkan hal-hal negatif dan membuat aturan tersendiri. Hal ini dapat membantu siswa untuk keluar dari perilaku yang tidak diharapkan. Kekuatan ke-3 ini dapat membantu siswa untuk berperilaku santun dalam setiap situasi.

4. Kekuatan 4: Flex Do Body (fleksibel dalam mengatur strategi berpikir sosial).

Kekuatan ke-4 dapat membantu siswa untuk memilih sikap yang benar, jujur pada diri sendiri apabila akan melakukan hal yang tidak baik. Kekuatan ini akan membantu siswa untuk merencanakan tindakan untuk melawan perilaku buruk.

5. Kekuatan 5: Cranium Coach (pelatih pelindung otak). Kekuatan ini akan membawa siswa untuk selalu mengingatkan diri sendiri jika akan melakukan sikap yang tidak baik. Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupannya, maka siswa dapat melawan sikap-sikap negatif yang terkait dengan pergaulan sosialnya serta dapat membantu siswa lain untuk mengatasi masalah sikap sosial. Dengan kekuatan yang ke-5 ini maka siswa akan lebih peduli terhadap orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Keberhasilan Model Pembelajaran Superflex® ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengarahkan peserta didik terutama dalam membedakan kenyataan dan khayalan. Guru harus membiarkan peserta didik untuk mengetahui keberhasilan mereka dalam mengatasi Tim Unthinkables. Peserta didik harus diingatkan bahwa tim unthinkables bukanlah pasukan jahat sehingga tidak untuk ditakuti. Model Pembelajaran Superflex® dapat diikuti dengan kreativitas guru dengan menggunakan kurikulum ini sebagai salah satu model pembelajaran yang inovatif.

36

Dokumen terkait