Judul : MODEL PEMBELAJARAN SUPERFLEX® UNTUK PENDIDIKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SOSIAL (Studi Pada Siswa Sekolah Dasar Inklusi Kota Cimahi Jawa Barat). Penelitian pada tahun kedua bertujuan untuk: mempresentasikan draft model pembelajaran Superflex® dalam forum ilmiah nasional dan internasional sesuai tema seminar; mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan guru-guru SD inklusi di Kota Cimahi untuk menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi model pembelajaran Superflex, uji coba terbatas model pembelajaran Superflex di tiga sekolah dasar inklusi dan perbaikan model pembelajaran Superflex. Tahun kedua penelitian dimulai dengan mengundang guru mitra dari tiga sekolah dasar inklusi untuk membahas mekanisme pelaksanaan uji coba Model Pembelajaran Superflex di sekolah melalui kegiatan FGD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal kegiatan guru masih mengalami kesulitan dalam menerapkan Model Pembelajaran Superflex, namun setelah minggu ke-3 guru sudah dapat memperkenalkannya ke dalam pembelajaran yang dilakukan dengan memfokuskan pada siswa yang memiliki EBD. Di akhir kegiatan penerapan model pembelajaran Superflex, guru menemukan beberapa hal yang berkaitan dengan penyempurnaan model, seperti panduan dimana langkah-langkah kegiatannya masih kurang jelas dan alat ajar yang lebih menarik dan memadai serta bantuan dari guru yang sudah berpengalaman dalam menangani siswa difabel. Huriah Rachmah, M.Pd (Ketua), Dr. Anggota 2) dengan judul penelitian “MODEL PEMBELAJARAN SUPERFLEX® UNTUK MENJELAJAHI KEMAMPUAN KOGNISI SOSIAL (Studi Pada Siswa Sekolah Dasar Inklusi Kota Cimahi Jawa Barat).
Penelitian pada tahun kedua ditujukan untuk menguji coba model pembelajaran Superflex® yang diterapkan di 3 SD negeri dan swasta di Kota Cimahi. Uji coba dilakukan sebanyak 10 kali, melibatkan 6 kelas di 3 sekolah, dengan fokus pada 6 (enam) siswa.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Hal ini menggambarkan bahwa keterlibatan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut belum memadai. Guru membutuhkan strategi mengajar yang tepat agar siswa dapat mengubah perilakunya melalui kognisi sosial (social thinking). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Winner (2014) menunjukkan bahwa masalah ketidakmampuan kognisi sosial siswa dapat dilatih dengan model pembelajaran Superflex®, dimana siswa diajak menjadi detektif sosial, yang diajak untuk mencari sendiri permasalahannya dalam hubungannya dengan perilakunya. bahwa mereka dapat menjadi pemikir sosial dan memecahkan masalah.masalah sosial. Tingkah laku yang tidak baik atau tidak masuk akal (unthinkable) ditunjukkan kepada anak didik, sehingga menjadi tingkah laku yang baik atau wajar (thinkable) dengan munculnya tokoh-tokoh yang menggambarkan sikap anak yang tidak terpikirkan.
Superflex® adalah sosok manusia superhero yang hidup dalam pikiran setiap anak untuk membantu diri mereka sendiri dengan peningkatan diri, kognisi sosial, dan keterampilan sosial. Selain itu, guru reguler/umum dapat menggunakan Superflex® Learning untuk membantu siswa mengeksplorasi keterampilan kognisi sosial mereka. Berdasarkan kebutuhan pembelajaran Superflex® dan bukti empiris terjadinya gangguan perilaku sosial di sekolah dasar inklusi, teori tentang Superflex® dan hasil penelitian sebelumnya tentang model ini, maka peneliti akan mencoba menyelidiki “Model Pembelajaran Superflex® for Exploring Social Cognitive Behavior (studi di sekolah dasar inklusi di Kota Cimahi, Jawa Barat)”.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari pembelajaran Superflex® di Amerika Serikat yang pertama kali dimulai pada tahun 2008, dan bertujuan untuk mengeksplorasi kemampuan kognisi sosial anak melalui pembelajaran Superflex®.
Temuan/Inovasi yang Ditargetkan serta Penerapannya
Tinjauan Pustaka
- Kajian Pustaka
- Pembelajaran Superflex
- Kognisi Sosial
- Pendidikan Inklusif
- Tunalaras
- Studi Pendahuluan yang Sudah Dilakukan
- Peta Jalan Penelitian
Dalam Pedoman Penilaian Sekolah Dasar (Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, 2015), penilaian kinerja merupakan salah satu penilaian keterampilan yang dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik siswa. Asesmen kinerja merupakan asesmen yang menuntut siswa untuk melakukan tugas dalam situasi nyata dengan menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan (Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar, 2015). Pemrosesan Informasi: Penekanan pada bagaimana siswa memproses informasi melalui atensi (perhatian), memori, berpikir, dan proses kognitif lainnya.
Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang berkelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan bersama peserta didik pada umumnya (Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia terbitan 70, 2009). Pasal 2 menyatakan bahwa tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Siswa Berkebutuhan Khusus Diterima Minimal 1 (satu) orang dalam setiap 1 (satu) rombongan belajar yang diterima.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir dan keterampilan sosial menghasilkan siswa yang cerdas dan berpengetahuan luas. Siswa dapat belajar memecahkan masalah pada diri sendiri dan lingkungannya serta dapat bekerja sama dengan orang lain.
Tujuan dan Manfaat
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Khusus Tahun 2
- Tujuan Khusus Tahun 3
- Manfaat
Metode Penelitian
- Lokasi dan Metode Penelitian
- Partisipan dan Prosedur
Penelitian dilakukan di 3 sekolah dasar inklusi di Kota Cimahi yang memiliki siswa berkebutuhan khusus tunagrahita. Siswa yang termasuk dalam kategori ini adalah siswa yang memiliki masalah perilaku mulai dari sangat pendiam, hiperaktif, tidak percaya diri dan mudah tersinggung. Sekolah yang menjadi target uji coba adalah SDN Cimahi Mandiri 5, SDN Cibabat Mandiri 2 dan SDIT CCI.
Pengamatan di antara siswa terkait dengan guru (pendidikan umum dan khusus) di sekolah-sekolah ini. Hasil uji coba akan digunakan untuk bahan evaluasi bersama pakar pendidikan sosial dan pendidikan khusus. Studi eksplorasi ini bertujuan untuk memetakan kebutuhan dan pengembangan Model Pembelajaran Superflex® di sekolah dasar inklusi di Cimahi.
Selama penelitian, semua siswa diminta untuk menunjukkan gambar perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan.
Hasil dan Luaran yang Dicapai
- Hasil Penelitian
- Focus Group Disscussion (FGD)
- Observasi dan Kuesioner
- Pembahasan
- Luaran yang Dicapai
Jangan sampai siswa terobsesi dengan sosok-sosok yang tidak terbayangkan, segera hentikan model pembelajaran Superflex® jika siswa menjadi negatif dengan menirukan sosok-sosok yang tidak terbayangkan. Semua guru diberikan penjelasan mengenai media pembelajaran dan buku panduan dalam mengimplementasikan model pembelajaran Superflex. Media Pembelajaran mengambil sumber dari semua nilai di Superflex Learning dengan melakukan terjemahan yang disederhanakan dan sesuai dengan kemampuan bahasa siswa di sekolah dasar.
Manual Model Pembelajaran Superflex berisi kegiatan sebelum penerapan Model Pembelajaran Superflex, implementasi dan observasi serta evaluasi. Panduan Model Pembelajaran Superflex dirancang untuk melihat kemajuan siswa dalam belajar di kelas dan di luar kelas. Keberhasilan model pembelajaran Superflex® ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengarahkan siswa, terutama dalam membedakan antara realitas dan fantasi.
Model pembelajaran Superflex® dapat diikuti oleh kreativitas guru dengan menggunakan kurikulum ini sebagai tujuan antara ketika melibatkan pembelajaran motivasi. Lima siswa setuju bahwa model pembelajaran Superflex® membantu mereka tetap fokus dan menyelesaikan pekerjaan. Dalam persepsi guru, Model Pembelajaran Superflex® adalah metode pengajaran yang menekankan pada pengenalan diri berdasarkan sosok yang tidak terpikirkan dalam materi Model Pembelajaran Superflex®.
Model pembelajaran Superflex® disesuaikan dengan perkembangan siswa, kesadaran diri dan kepedulian terhadap lingkungan sosial (Linton, 2015). Model pembelajaran Superflex sebagai model pembelajaran yang inovatif akan mempertimbangkan aspek awal dari proses pembuatan, perancangan dan penerapan desain tersebut di dalam kelas. Model Pembelajaran Superflex® adalah model yang menggunakan komik sebagai media pembelajaran dan selebaran yang menampilkan protagonis pahlawan super bernama Superflex® melawan tim yang terdiri dari 14 karakter kaku yang tak terbayangkan.
Dengan model pembelajaran Superflex®, siswa dapat belajar tentang diri mereka sendiri dan bagaimana mengatasi kelemahan sosial yang mereka temukan dalam diri mereka (Rachmah, Gunawan, & Mulyani, 2016). Pembelajaran Superflex® dapat menjadi alternatif model pembelajaran inovatif yang dapat disesuaikan dengan perkembangan kesadaran diri dan kepedulian siswa terhadap lingkungan sosial (Linton, 2015). Keberhasilan model pembelajaran ini akan berbeda pada setiap siswa, tergantung pada sisa kemampuan mereka dalam membentuk hubungan sosial.
Model pembelajaran Superflex® dapat diikuti dengan kreativitas guru menggunakan kurikulum ini sebagai model pembelajaran yang inovatif. Dalam kegiatan ini peneliti memaparkan artikel yang berjudul “Superflex Teaching: Pengajaran Inovatif dalam Membangun Sikap Sosial Siswa”.
Rencana Tahapan Berikutnya
Kesimpulan dan Saran
- Kesimpulan
- Saran
Keberhasilan penggunaan model pembelajaran Superflex® ditentukan oleh kemampuan siswa dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran Superflex® yang telah dikembangkan akan diimplementasikan di sekolah dasar inklusi di Kota Cimahi. Model Pembelajaran Superflex Eksplorasi Kognisi Sosial (Studi Pada Siswa Sekolah Dasar Inklusif Kota Cimahi Jawa Barat).
Model Pembelajaran Superflex Eksplorasi Kognisi Sosial (Studi Pada Siswa Sekolah Dasar Inklusif Kota Cimahi Jawa Barat). Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model pembelajaran Superflex untuk menggali keterampilan kognisi sosial siswa sekolah dasar inklusi di Kota Cimahi. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di SDN Kota Cimahi, model pembelajaran superflex belum pernah diterapkan di sekolah.
Focus Group Discussion (FGD) dilakukan peneliti untuk mengetahui kualifikasi pendidikan guru sekolah komprehensif dan jumlah anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan perilaku emosional, membangun persepsi tentang pola pembelajaran bagi anak dengan gangguan emosi dan perilaku serta untuk dapatkan snapshot awal dari model pembelajaran superflex. Selama ini model pembelajaran yang ditawarkan kepada siswa dengan gangguan perilaku emosional sama dengan siswa lain di kelas. Setelah mendapat penjelasan tentang Model Pembelajaran Superflex® di awal kegiatan berupa penjelasan lisan, video dan materi tentangnya, para peserta FGD merasa bahwa Model Pembelajaran Superflex® cocok untuk pelatihan kognisi sosial anak behavioral. gangguan emosi.
Model pembelajaran superflex dapat dikembangkan di sekolah yaitu dengan melaksanakan kerja kelompok, pembelajaran di luar kelas, melalui pembelajaran audiovisual. Tentunya diperlukan dukungan dari semua pihak agar pengembangan Model Pembelajaran Superflex® dapat dilakukan secara maksimal. Selama implementasi, model pembelajaran Superflex® dapat dilakukan secara individual di kelas khusus secara bertahap dan berkesinambungan.
Pengembangan model pembelajaran Superflex® pada penelitian ini didasarkan pada model yang dikembangkan di Amerika Serikat (Madrigal & Winner, 2008). Konsep model pembelajaran Superflex® dan pemilihan karakter superhero dipilih karena siswa memiliki imajinasi yang luar biasa dan kreativitas yang tinggi. Model pembelajaran Superflex® menyenangkan dan tidak berbahaya bagi siswa serta dapat memotivasi siswa untuk mengeksplorasi cara berpikir yang fleksibel.
64 telah menggunakan model pembelajaran Superflex® jika siswa tidak dapat bermain peran (berpura-pura), menerima semua informasi secara harfiah dan memiliki kelemahan dalam kemampuan berbahasa sehingga tidak mampu memproses dan merespon informasi yang masuk ke dalam dirinya (Linton, 2015). Keberhasilan model pembelajaran Superflex® pada setiap siswa akan berbeda tergantung dari kemampuan bawaan siswa dalam melakukan interaksi sosial.