BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasar kepada hasil analisis data di atas, menunjukkan bahwa budaya literasi siswa kelas IV SDN Sudirman II, berada pada kategori cukup baik. Hal itu terlihat dari frekwensi skor yang dicapai oleh siswa, yaitu sebesar 40%. Adapun selanjutnya 35% berada dalam kategori baik, kemudian 18% pada kategori kurang baik dan 7% sisanya berada pada kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas IV SDN Sudirman II memiliki kesadaran akan pentingnya membangun budaya literasi, utamanya dalam hal ketertarikan untuk selalu mencari informasi serta keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan literasi disekolah.
Sedangkan hasil analis data keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II berada pada kategori baik. Dimana frekwensi terbanyak perolehan skor keterampilan menulis narasi, itu berada pada kategori baik, yakni sebesar 55%. Adapun 29 %, berada pada kategori cukup baik, kemudian 7% pada kategori kurang baik dan 9% berada dalam kategori sangat baik. Dari nilai tersebut, mampu menunjukkan bahwa siswa kelas IV SDN Sudirman II cukup cakap dalam mengembangkan ide dan menuangkan gagasan kedalam sebuah cerita atau karangan narasi.
Adapun berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus uji korelasi, dan ditemukan koefisien korealsi sebesar +0,434. Dari nilai tersebut, dapat diketahui terdapat korelasi postif yang artinya terdapat hubungan positif antara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa.
Hubungan positif mengartikan semakin tinggi budaya literasi maka semakin tinggi pula keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II.
Begitupun sebaliknya, jika budaya literasi siswa rendah maka akan semakin rendah pulah keterampilan siswa dalam menulis narasi.
Selanjutnya untuk mengetahui tingkat hubungan antara variabel minat membaca dengan keterampilan menulis narasi, yaitu dengan menggunakan pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi sebagai berikut :
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0, 199 Sangat rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1, 000 Sangat Kuat Sumber: (Sugiyono, 2017: 184)
Mengacu dengan demikian, dapat diketahui tingkat keeratan hubungannya berada pada rentang interval 0,40 – 0,599, yaitu menunjukkan tingkat hubungan kedua variabel yang berada pada kategori sedang.
Kemudian untuk mengetahui apakah hasil uji hipotesis dapat diberlakukan generalisasi untuk seluruh anggota populasi dimana sampel diambil dalam hal ini seluruh siswa SDN Sudirman II, maka dilakukan upaya membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel pada taraf signifikansi 5% dengan N= 55. Dimana bila rhitung lebih besar dari rtabel maka nilai koefisien korelasi dapat berlaku terhadap populasi, dan begitupun sebaliknya. Nilai r tabel dengan N= 55 pada taraf signifikansi 5% adalah sebesar 0,266, sehingga dapat diketahui nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (0,434 ≥ 0,266). sehingga dapat disimpulkan bahwa budaya literasi memiliki hubungan yang signifikan dengan keterampilan menulis narasi dan dengan hasil perbandingan nilai rhitung dengan rhitung, maka nilai koefisien
korelasi dalam hal ini dapat digeneralisasi terhadap selurh anggota populasi dimana sampel diambil.
Dengan demikian hal di atas dapat dikatakan membenarkan atas teori yang dibangun, bahwa untuk bisa terampil dalam menulis, seseorang membutuhkan wawasan luas, daya imjinasi dan penguasan kaidah kebahasaan. Salahsatunya ialah menulis dalam bentuk karangan narasi. Karangan narasi adalah suatu karya tulis yang didalamnya memuat sebuah kejadian atau peristiwa yang dialami seseorang pada tempat dan waktu tertentu. Keterampilan menulis narasi mensyaratkan penguasaan penggunaan tanda baca, ejaan, diksi, penyusunan kalimat dan dibutuhkan ide, dan kreatifitas serta pengalaman dalam mengorganisasikan gagasan secara runtut dan logis sesuai maksud yang hendak disampaikan oleh penulis melalui bahasa tulis, agar dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca.
Penguasaan tersebut dapat dimiliki oleh seseorang apabila tanpa dilatari budaya literasi yang baik. Begitupulah dengan ide, daya imajinasi dan wawasan yang luas, dapat dimiliki seseorang bila ditopang oleh budaya literasi yang kuat.
Budaya literasi siswa secara sederhana diterjemahkan sebagai kebiasaan membaca yang dimiliki seseorang dalam memahami informasi. Kebiasaan membaca ini merupakan modal awal atas siswa dalam membuat karangan dalam bentuk tulisan narasi. Membaca bisa diartikan sebagai proses menyerap berbagai bentuk dan jenis informasi atau ide dan gagasan didalam berbagai sumber dan media apapun. Dilain hal budaya literasi juga dapat diartikan sebagai keaktifan atau kebiasaan dalam melaksanakan kegitan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan literasi yang dengannya akan semakin membiasakan seseorang dalam
memahami informasi. Dimana kebiasaan memahami informasi menjadikan seseorang banyak tahu akan suatu hal, tidak berhenti sampai dengan meluasnya wawasan, tetapi juga membantu mengembangkan pemikiran, memperdalam pemahaman serta menguatkan memori dan imajinasi terhadap suatu gagasan, peristiwa, fenomena dan permasalahan. Dengan terbiasa mengupayakan untuk dapat memahami informasi, akan dapat memperkaya perbendaharaan kata, memperkaya ide, meningkatkan kemampuan menemukan gagasan yang terdapat didalam informasi.
Hal demikian terkait erat dalam kegitan menulis. Dalam proses menulis, penulis dituntut berfikir menemukan gagasan, kemudian menuangkan gagasan atau hasil pikiran kedalam bentuk teks. Perubahan dari ide kedalam bentuk teks, menunut penulis agar mampu menerejmahkan ide kedalam bentuk huruf atau kata-kata, kemudian menghubung-hubungkan kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga paragraf demi paragraf, membentuk kesatuan yang padu, selanjutnya melahirkan pesan dan maksud tertentu, membentuk kesan dan pehaman kepada pembaca terhadap suatu topik atau tema yang dibahas.
Sehingga semakin sering seseorang melatih kemampuan literasinya, maka akan turut mentukan keterampilan dalam menuangkan ide maupuan gagasan kedalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, semakin baik budaya literasi seseorang, akan memperbanyak wawasan dan pengetahuan, yang selanjutnya akan memudahkan menemukan dan mengembangkan ide sehingga dapat pula menuangkannya dengan baik dan benar kedalam sebuah tulisan yang berkualitas lagi muda dipahami oleh pembaca. Termasuk jika dituangkan dalam bentuk karangan narasi.