• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODELOGI PENELITIAN

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono 2017: 147). Adapun analisis dalam penelitian ini menggunakan interpretasi skor. Interpretasi skor digunakan untuk memaparkan data angket budaya literasi dan data tes keterampilan menulis narasi. Untuk menginterpretasikan pada masing- masing varabel, haruslah diketahui terlebih dahulu nilai maksimal, nilai minimal, mean, rentang dan standar deviasi pada masing-masing variabel.

Pada penelitian ini, tingkatan kategori budaya literasi dan tingkatan kategori keterampilan menulis narasi dipetakan kedalam empat kategori, dalam hal ini sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan rentang skor menentukan kategori masing-masing variabel.

2) Analisis Statistik Inferensial

Analisis statistik inferensilal digunakan untuk menguji hipotesis asosiatif, yaitu untuk mengetahui arah hubungan dan kuatnya hubungan antara kedua variabel X dan Y. Berikut langkah dalam melakukan analisis statistik inferensal:

a. Uji Prasyarat

Uji prasyarat merupakan uji yang dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis. Uji prasyarat terdiri atas uji normalitas dan uji linearitas.

Uji normalitas bermaksud mengetahui distribusi antara kedua variabel mempunyai distribusi normal atau tidak. Adapun uji normalitas pada penelitian ini menggunakan One-Sample Kolmogrov-Smirnov Tes. Kaidah yang digunakan ialah, jika P>0,05 sebarannya dikatakan normal, dan sebaliknya jika p<0,05 sebarannya tidak normal. Adapun apabila nilai signifikansinya

>0,05 bahwa data berdistribusi normal.

Uji Linearitas bermaksud untuk mengungkap apakah kedua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Data dapat dikatakan linear, apabila kenaikan skor variabel X di ikuti kenaikan variabel Y. Pada penelitian ini, uji linearitas, mengggunakan test of linearity pada taraf signifikansi 0,05. Kaidah pada uji linearitas, yaitu apabila nilai P>0,05 dan sebaliknya apabila P<0,05 maka dinyatakan tidak linear.

b. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui hubungan anntara kedua variabel yaitu dengan berdasar nilai perolehan nilai koefisien korelasi, yaitu dengan menggunkan rumus korelasi product moment: Nilai koefisien korelasi ini nantinya dapat

menunjukkan keeratan hubungan dan arah hubungan dari kedua variabel (berkontribusi positif atau negatif):

∑ ∑ ∑

√ ∑ √ ∑

Keterangan:

Koefisien korelasi antar X dengan Y

∑ : Jumlah skor tiap butir

∑ : Jumlah Skor Total

∑ : Jumlah hasil kali skor X dengan skor Y

∑ : Jumlah X

∑ : Jumlah Y : Banyak Subjek

(Kesumawati 2017: 107) Statistik Hipotesis:

H0: tidak ada hubungan yang positif dan signifikan anatara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II Kec. Ujung Pandang Kota Makassar.

H1: ada hubungan yang positif dan signifikan anatara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II Kec. Ujung Pandang Kota Makassar.

Jika r hitung ≥ r tabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya jika rhitung < rtabel, maka H1 ditolak.

Selanjtnya untuk mengetahui besarnya tingkat keeratan hubungan diantara kedua variabel budaya literasi (X) terhadap keterampilan menulis narasi (Y), maka koefisien korlasi (rxy) dikonsultasikan pada tabel/pedoman interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:

Tabel 3.2 Indeks Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0, 199 Sangat rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1, 000 Sangat Kuat

Sumber: (Sugiyono, 2017: 184)

53 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif

Analisis deskripftif digunakan untuk menganalisis data dan memaparkan data hasil penelitan variabel budaya literasi dan keterampilan menulis narasi.

Berikut analisis deskriptif kedua variabel tersebut:

a. Budaya Literasi

Data terkait budaya literasi siswa yang diperolah dari angket disebar kepada 55 siswa-siswi kelas IV SDN Sudirman II dalam hal ini selaku responden. Angket disebar dengan metode daring menggunakan google formulir (Terlampir). Terdapat sebanyak 25 pertanyaan, dan tiap pertanyaan memiliki empat alternatif jawaban, sangat setuju, jawaban setuju diberi skor 3, jawaban tidak setuju diberi skor 2, jawaban sangat tidak setuju diberi skor 1.

Berdasarkan tabulasi data perolehan skor angket sebagaimana terlampir, skor terendah yang diperoleh responden adalah 25, sementara skor tertingi 90 dan total keseluruhan skor adalah sebanyak 3234.

Kemudian data dianalisis lebih lanjut, yaitu dengan menentukan kualifikasi dan interval nilai sebagaimana di bawah ini:

Jumlah Butir Angket = 25

Skor Terendah = 1 x 25 Interval Skor Tertinggi = 4 x 25

Dengan demikian, data perolehan skor siswa pada angket budaya literasi dapat dikalsifikasikan dan dikategorikan sebagai berikut:

Tabel 4.1 Kategori Budaya Literasi Siswa

Kategori Interval F %

Sangat Baik 81 100 4 7%

Baik 62 80 19 35%

Cukup Baik 44 61 22 40%

Kurang 25 43 10 18%

Jumlah 55 100%

Adapun distribusi frekuensi data perolehan angket budaya literasi siswa pada tabel tersebut dapat pula digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagai berikut:

Selanjutnya untuk mencari besaran nila rata-rata dari varibel X, dapat menggunkan rumus:

Mv= Mx=

58,8

Keterangan:

M= Rata-rata variabel (X atau Y) V= Variabel

N= Jumlah responden

(Kesumawati 2017: 108)

7%

35% 40%

18%

0 5 10 15 20 25

Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang

Budaya Literasi Siswa

Dari perolehan nilai rata-rata variabel X, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya literasi siswa kelas IV SD Sudirman II berada dalam kategori cukup baik yang dapat dibuktikan dengan nilai rata-rata 58,8 yaitu berada pada interval 44 - 61.

b. Keterampilan Menulis Narasi

Data keterampilan menulis narasi, ialah data yang diperoleh dari hasil tes keterampilan menulis narasi oleh sisiwa kelas IV SDN Sudirman II.

Dimana peneliti memberikan tes menulis narasi kepada 55 siswa melalaui metode daring. Peneliti menggunakan media gambar seri, yang terdiri atas potongan-potongan gambar yang terkait dan memuat peristiwa atau kegiatan sehari-hari seorang anak mulai dari bangun tidur hingga berangkat kesekolah (terlampir). Peneliti juga terlebih dahulu menjelaskan kepada ketidak adanya kaitan antara tes menulis dengan nilai maupun kenaikan kelas siswa. Dalam melakukan penilaian, peneliti melihat beberapa aspek, yaitu ide/gagasan, organisasi isi, struktur tata bahasa, diski, ejaan dan tata tulis, alur cerita dan penokohan. Adapun untuka masing-masing aspek, itu mempunyai bobot skor penilaian yang berbeda, disesuaikan dengan tingkat kesulitan masing-masing aspek. Sementara untuk nilai keterampilan menulis narasi siswa, yaitu Nol (0) untuk nilai minimal dan seratus (100) untuk nilai maksimal yang dapat diperoleh siswa. Nantinya nilai-nilai tersebut, akan dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang.

Berdasarkan skor perolehan tes keterampilan menulis narasi siswa, skor terendah yang diperoleh responden adalah 24, sementara skor tertingi 92 dan adapun total keseluruhan skor adalah sebanyak 3047. Selanjutnya data perolehan skor diklasifikasikan pada tabel berkut ini:

Tabel 4.2 Kategori Keterampilan Menulis Narasi

Kategori Interval F %

Sangat Baik 76 100 5 9%

Baik 51 75 30 55%

Cukup Baik 26 50 16 29%

Kurang 0 25 4 7%

Jumlah 55 100%

Distribusi frekuensi data keterampilan menulis narasi siswa pada tabel tersebut dapat pula digambarkan dalam bentuk diagram batang sebagaimana dibawa ini:

Selanjutnya mencari besaran nila rata-rata dari varibel Y:

MY=

55,4

Dari nilai rata-rata di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SD Sudirman II berada dalam kategori baik, karena dengan nilai rata-rata adalah 55,4 yang berada pada interval 51-75.

9%

55%

29%

7%

0 10 20 30 40

Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang

Keterampilan Menulis Narasi

2. Analisis Statistik Inferensial a. Uji Prasyrat

Uji prasyarat merupakan uji yang dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis. Uji prasyarat terdiri atas uji normalitas dan uji linearitas.

1) Uji normalitas bermaksud mengetahui distribusi antara kedua variabel mempunyai distribusi normal atau tidak. Adapun uji normalitas pada penelitian ini menggunakan One-Sample Kolmogrov-Smirnov Tes pada program SPSS.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Budaya Literasi

Keterampilan Menulis Narasi

N 55 55

Normal Parametersa Mean 58.8000 55.4000

Std. Deviation 16.49063 15.99838 Most Extreme

Differences

Absolute .092 .101

Positive .045 .071

Negative -.092 -.101

Kolmogorov-Smirnov Z .679 .753

Asymp. Sig. (2-tailed) .745 .623

a. Test distribution is Normal.

Kaidah yang digunakan ialah, jika nilai Sig>0,05 sebarannya dapat dikatakan normal, maka dalam hal ini data kedua variabel dapat dikatakan berdistribusi normal, karena nilai signifikansinya 0,623 yakni lebih besar dari 0,05.

2) Uji Linearitas bermaksud untuk mengungkap apakah kedua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secar signifikan. Data dapat dikatakan linear, apabila kenaikan skor variabel X di ikuti kenaikan variabel Y. Pada penelitian ini, uji linearitas, mengggunakan test of linearity pada taraf signifikansi 0,05:

MANOVA Table

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Keterampilan Menulis Narasi * Budaya Literasi

Between Groups

(Combined) 9126.117 32 285.191 1.336 .242

Linearity 2598.624 1 2598.624 12.177 .002

Deviation from Linearity 6527.493 31 210.564 .987 .522

Within Groups 4695.083 22 213.413

Total 13821.200 54

Berdasarkan tabel di atas, nilai signifkansi 0,522 lebih besar dari 0,05 sehingga dalam hal ini hubungan di antara kedua variabel dapat dikatakan linear.

b. Uji Hipotesis

Uji hipotesis merupakan bagian yang paling penting dalam penelitian ini, untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan oleh peneliti. Dalam hal ini uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak adanya korelasi, tingkat keeratan dan arah hubungan di antara variabel budaya literasi siswa dengan ketermapilan menulis narasi sisiwa. Yaitu dengan berdasar kepada perolehan nilai koefisien korelasi, yang dengannnya dapat menggunkan rumus korelasi product moment untuk mengetahui besaran nilai koefisen korelasi:

∑ ∑ ∑

√[ ∑ ] [ ∑ ]

Keterangan:

Koefisien korelasi antar X dengan Y

∑ : Jumlah seluruh skor X

∑ : Jumlah seluruh skor Y

∑ : Jumlah hasil kali skor X dengan skor Y

: Jumlah hasi skor X kuadrat

: Jumlah Y : Jumlah Responden

(Kesumawati 2017: 107)

Berdaasarkan tabel kerja product momen didapatkan nilai sebagai berikut:

= 3234

= 3047

= 185341

= 204844

= 182625

= 3234 x 3234 = 10458756 = 3047 x 3047 = 10458756

= 55

Selanjutnya mengihitungnya dengan memasukkan ke dalam rumus:

√[ ][ ]

√ √

√[ ] [ ]

√[ ] [ ]

4

Adapun pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui penerimaan atau penolakan hipotesis dengan asumsi:

H0 : Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan anatara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II Kec. Ujung Pandang Kota Makassar.

H1 : Ada hubungan yang positif dan signifikan anatara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II Kec. Ujung Pandang Kota Makassar.

Jika r hitung ≥ r tabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Sebaliknya jika rhitung < rtabel, maka H1 ditolak. Adapun diketahui nilai rtabel berdasarakan hasil analisis data ialah sebesara 0,434 dan nilai r tabel dengan N= 55 pada taraf signifikansi 5% adalah sebesar 0,266. Sehingga dengan membandingkan kedua nilai tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (0434 ≥ 0,266). Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima.

Hal tersebut juga dapat diuji menggunakan program SPSS, sebaiamana di bawah ini:

Correlations

Buadaya Literasi

Keterampilan Menulis Narasi Buadaya Literasi Pearson Correlation 1 .434**

Sig. (2-tailed) .001

N 55 55

Keterampilan Menulis Narasi

Pearson Correlation .434** 1 Sig. (2-tailed) .001

N 55 55

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasar kepada hasil analisis data di atas, menunjukkan bahwa budaya literasi siswa kelas IV SDN Sudirman II, berada pada kategori cukup baik. Hal itu terlihat dari frekwensi skor yang dicapai oleh siswa, yaitu sebesar 40%. Adapun selanjutnya 35% berada dalam kategori baik, kemudian 18% pada kategori kurang baik dan 7% sisanya berada pada kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas IV SDN Sudirman II memiliki kesadaran akan pentingnya membangun budaya literasi, utamanya dalam hal ketertarikan untuk selalu mencari informasi serta keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan literasi disekolah.

Sedangkan hasil analis data keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II berada pada kategori baik. Dimana frekwensi terbanyak perolehan skor keterampilan menulis narasi, itu berada pada kategori baik, yakni sebesar 55%. Adapun 29 %, berada pada kategori cukup baik, kemudian 7% pada kategori kurang baik dan 9% berada dalam kategori sangat baik. Dari nilai tersebut, mampu menunjukkan bahwa siswa kelas IV SDN Sudirman II cukup cakap dalam mengembangkan ide dan menuangkan gagasan kedalam sebuah cerita atau karangan narasi.

Adapun berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan rumus uji korelasi, dan ditemukan koefisien korealsi sebesar +0,434. Dari nilai tersebut, dapat diketahui terdapat korelasi postif yang artinya terdapat hubungan positif antara budaya literasi dengan keterampilan menulis narasi siswa.

Hubungan positif mengartikan semakin tinggi budaya literasi maka semakin tinggi pula keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II.

Begitupun sebaliknya, jika budaya literasi siswa rendah maka akan semakin rendah pulah keterampilan siswa dalam menulis narasi.

Selanjutnya untuk mengetahui tingkat hubungan antara variabel minat membaca dengan keterampilan menulis narasi, yaitu dengan menggunakan pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi sebagai berikut :

Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0, 199 Sangat rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1, 000 Sangat Kuat Sumber: (Sugiyono, 2017: 184)

Mengacu dengan demikian, dapat diketahui tingkat keeratan hubungannya berada pada rentang interval 0,40 – 0,599, yaitu menunjukkan tingkat hubungan kedua variabel yang berada pada kategori sedang.

Kemudian untuk mengetahui apakah hasil uji hipotesis dapat diberlakukan generalisasi untuk seluruh anggota populasi dimana sampel diambil dalam hal ini seluruh siswa SDN Sudirman II, maka dilakukan upaya membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel pada taraf signifikansi 5% dengan N= 55. Dimana bila rhitung lebih besar dari rtabel maka nilai koefisien korelasi dapat berlaku terhadap populasi, dan begitupun sebaliknya. Nilai r tabel dengan N= 55 pada taraf signifikansi 5% adalah sebesar 0,266, sehingga dapat diketahui nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (0,434 ≥ 0,266). sehingga dapat disimpulkan bahwa budaya literasi memiliki hubungan yang signifikan dengan keterampilan menulis narasi dan dengan hasil perbandingan nilai rhitung dengan rhitung, maka nilai koefisien

korelasi dalam hal ini dapat digeneralisasi terhadap selurh anggota populasi dimana sampel diambil.

Dengan demikian hal di atas dapat dikatakan membenarkan atas teori yang dibangun, bahwa untuk bisa terampil dalam menulis, seseorang membutuhkan wawasan luas, daya imjinasi dan penguasan kaidah kebahasaan. Salahsatunya ialah menulis dalam bentuk karangan narasi. Karangan narasi adalah suatu karya tulis yang didalamnya memuat sebuah kejadian atau peristiwa yang dialami seseorang pada tempat dan waktu tertentu. Keterampilan menulis narasi mensyaratkan penguasaan penggunaan tanda baca, ejaan, diksi, penyusunan kalimat dan dibutuhkan ide, dan kreatifitas serta pengalaman dalam mengorganisasikan gagasan secara runtut dan logis sesuai maksud yang hendak disampaikan oleh penulis melalui bahasa tulis, agar dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca.

Penguasaan tersebut dapat dimiliki oleh seseorang apabila tanpa dilatari budaya literasi yang baik. Begitupulah dengan ide, daya imajinasi dan wawasan yang luas, dapat dimiliki seseorang bila ditopang oleh budaya literasi yang kuat.

Budaya literasi siswa secara sederhana diterjemahkan sebagai kebiasaan membaca yang dimiliki seseorang dalam memahami informasi. Kebiasaan membaca ini merupakan modal awal atas siswa dalam membuat karangan dalam bentuk tulisan narasi. Membaca bisa diartikan sebagai proses menyerap berbagai bentuk dan jenis informasi atau ide dan gagasan didalam berbagai sumber dan media apapun. Dilain hal budaya literasi juga dapat diartikan sebagai keaktifan atau kebiasaan dalam melaksanakan kegitan-kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan literasi yang dengannya akan semakin membiasakan seseorang dalam

memahami informasi. Dimana kebiasaan memahami informasi menjadikan seseorang banyak tahu akan suatu hal, tidak berhenti sampai dengan meluasnya wawasan, tetapi juga membantu mengembangkan pemikiran, memperdalam pemahaman serta menguatkan memori dan imajinasi terhadap suatu gagasan, peristiwa, fenomena dan permasalahan. Dengan terbiasa mengupayakan untuk dapat memahami informasi, akan dapat memperkaya perbendaharaan kata, memperkaya ide, meningkatkan kemampuan menemukan gagasan yang terdapat didalam informasi.

Hal demikian terkait erat dalam kegitan menulis. Dalam proses menulis, penulis dituntut berfikir menemukan gagasan, kemudian menuangkan gagasan atau hasil pikiran kedalam bentuk teks. Perubahan dari ide kedalam bentuk teks, menunut penulis agar mampu menerejmahkan ide kedalam bentuk huruf atau kata-kata, kemudian menghubung-hubungkan kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga paragraf demi paragraf, membentuk kesatuan yang padu, selanjutnya melahirkan pesan dan maksud tertentu, membentuk kesan dan pehaman kepada pembaca terhadap suatu topik atau tema yang dibahas.

Sehingga semakin sering seseorang melatih kemampuan literasinya, maka akan turut mentukan keterampilan dalam menuangkan ide maupuan gagasan kedalam bentuk tulisan. Dengan kata lain, semakin baik budaya literasi seseorang, akan memperbanyak wawasan dan pengetahuan, yang selanjutnya akan memudahkan menemukan dan mengembangkan ide sehingga dapat pula menuangkannya dengan baik dan benar kedalam sebuah tulisan yang berkualitas lagi muda dipahami oleh pembaca. Termasuk jika dituangkan dalam bentuk karangan narasi.

C. Keterbatasan Penelitian

Adalah wajar, bila dalam penelitian ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Hal yang mungkin terjadi ialah, yaitu pada saat pengisian angket dan pengerjaan tes menulis narasi dimana peneliti tidak dapat melakukan kontroling sebagaimana seharusnya oleh karena peneliti dalam pelaksanaan penelitan, itu terpaksa menggunakan metode daring tanpa melalui tatap muka. Dengan kata lain peneliti mengikuti situasi dan keadaan yang diberlakukan sekolah, yang melakukan pembelajaran melaui daring ditengah-tengah situasi darurat pandemi.

Karenanya Peneliti sepenuhnya menyadari Angket dan tes disebar secara online, membuka kemungkinan bagi siswa /responden dalam mengerjakannya tidak berdasarkan keadaan sebenarnya.

Dilain hal jika mengacu kepada hasil uji korelasi, setidaknya dapat menunjukkan tingkat hubungannya berada pada kategori sedang dan itu berarti memungkinkan adanya variabel-variabel lain turut memberi pengaruh, bahkan lebih memiliki hubungan, tetapi peneliti tidak melibatkannya pada penelitian ini.

Dengan demikian pada penelitian mendatang, sebaiknya agar dilibatkan variabel- variabel lain untuk dapat menghasilkan penelitian yang maksimal.

66 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Mengacu kepada hasil dan pembahasan penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara budaya literasi denga keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Sudirman II. Hal demikian ditunjukan dari budaya literasi yang berada pada kategori cukup baik, yaitu sebesar 40%, dan keterampilan menulis narasi siswa berada pada kategori baik, yaitu sebesar 55%. Pun juga nilai koefien korelasi yang diperoleh adalah sebesar 0,430 dan setelah dikonsultasikan dengan nilai r tabel pada taraf signifikansi 5% dan N= 55, sehingga dapat diketahui nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (0,434 ≥ 0,266. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin budaya literasi siswa Kelas IV SDN Sudirman II, maka semakin baik pula keterampilan menulis narasinya. Adapun jika budaya literasi rendah, maka keterampilan menulis narasi juga akan rendah). Adapun mengacu kepada pedoman interpretasi koefisien korelasi, menunjukkan hubungan diantara kedua variabel berada pada kategori sedang.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka pada bagian ini peneliti hendak mengajukan beberapa saran sebagaimana di bawah ini :

1. Bagi Guru

Untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa, sebaiknya guru pertama-tama mengusahakan menggenjot budaya litarasi siswa. Terlebih bagi siswa yang dalam hal ini keterampilan menulis narasinya masih rendah sehingga penting bagi guru mengambil sebuah upaya untuk meningkatakan budaya literasi siswa.

2. Bagi Siswa

Teruntuk siswa, agar seharus mungkin tetap meningkatkan budaya literasi, yaitu dengan terus membiasakan diri melakukan kegiatan literasi.

Terutama terhadap kegiatan membaca, tetap harus senang tiasa dilatih dan tetap dilaksanakan secara berkesinambungan. Di samping itu, siswa juga tetap aktif mengikuti kegiatan literasi disekolah, seperti pembiasaan membaca, belajar menulis, dan latihan mewarnai.

68

DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri. 2012. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta:

PT. LKiS Printing Cemerlang.

Achmad Zakaria. 2017. Pengaruh Budaya Literasi Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Kebudayaan Islam Peserta Didik di SMP Iskandar Said.

Surabaya: Universitas Isalam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Bukhari. 2019. Keterampilan Berbahasa (Membaca dan Menulis). Banda Aceh:

Pen Na Banda Aceh.

Burhan Nurgyantoro. 2018. Penilaian Otentik dalam Pembelajaran Bahasa.

Yogyakarta: UGM Press.

Burhan Nurgyantoro. 2018.Sastra Anak. Yogyakarta: UGM Press.

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional

Badudu, J.S. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Beers. C. S. 2009. A Principal’s Guide to Literacy Instruction. Newyourk:

Guilford Press.

Clay, M. M. 2001. Change Over Time in Children’s to Literacy Development.

Portsmouth: Heinemann.

Dalman. 2016. Keterampilan Menulis. Jakarta : Rajawali Pers.

Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Evi Rahmawati. 2012. Hubungan Kebiasaan Membaca Tajuk Rencana dengan Keterampilan Menulis Argumentasi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Endang K. Supardi. 2010.Pengembangan Keterampilan Menulis. Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan.

Henry. G. Tarigan. 2008. Menulis sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung:

Angkasa.

Iriantara, Yosal. 2009. Literasi Media. Bandung: Simbiosa Reka Mata Media

Kemendikbud. 2016. Desain Induk Gerakan Literasi. Jakarta: Direktoral Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.

Keraf, G. 2010. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : Gramedia

Pangesti Wiedarti. 2016. Menuju Budaya Menulis, Suatu Bunga Rampai.

Yogyakarta: Tiara Wacana.

Nila Kesumawati.2017. Pengantar Statistika Penelitian. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Pangesti Wiedarti. 2017. Panduan Praktis Gerakan Literasi Jakarta: Dikdasmen.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 2015. Jakarta: Direktoral Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah

Sulasman dan Gumiliar, Setia. 2013. Teori-Teori Kebudayaan. Bandung: Pustaka Setia.

Sutanto Leo. 2017. Mencerahkan Bakat Menulis. Jakarta: Gramedi Pustaka Utama.

Sutirna. 2014. Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik. Jakarta: Penerbit Anda

Sudaryono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

Sugyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta

Unesco. 2003. The Prague Declaration. “Toward an Information Literate Society.”

Yaya Suhendar. 2006. Dinamika Informasi dalam Era Global. Jakarta: Fajar Interpratama.

Zainurrahman. 2011. Menulis dari Teori Hingga Praktik. Bandung; Alfabeta.

70

RIWAYAT HIDUP

IRFAN SAMSIR, lahir di Pulau Sapuka, Kab. Pangkep pada tanggal 03 Maret 1995. Anak kedua dari empat (4) bersaudara yang merupakan buah kasih sayang dari pasangan Ayahanda BAKRI dengan Ibunda SALMIA. Penulis menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 28 Sapuka 2002 sampai 2008. Pada tahun yang sama penulis pendidikan di SMP Negeri 1 Liukang Tangaya dan tamat pada tahun 2011. Pada tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan di SMA 1 Liukang Tangaya, hingga akhirnya tamat pada tahun 2014. Kemudian pada tahun 2014 penulis mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar dan terdaftar pada jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Strata 1 (S1) kependidikan. Pada tahun 2021 Penulis menyelesaikan studi dengan menyusun karya ilmiah yang berjudul “Hubungan Budaya Literasi Dengan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas IV SDN Sudirman II Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar”.

Dokumen terkait