• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

belajar untuk disiplin, jujur tanggung jawab, peduli lingkungan dan kepribadian baik lainnya.

Tentunya dalam hal ini tidak mudah, terkadang masih ada peserta didik yang melakukan kesalahan-kesalahan, disinilah guru mengambil peranannya untuk membimbing para peserta didiknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

yang terbaik kepada peserta didik, guru akan melakukan apa saja yang mengarah kepada nilai positif bagi segala hal yang berkaitan dengan peserta didik. Seorang guru akidah akhlak mempunyai tujuan dalam pekerjaannya, tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, mandiri, kreatif, sehat dan berakhlak mulia.7

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa dalam dunia pendidikan peran guru sangat dominan sekali dalam meningkatkan akhlak peserta didik, khususnya pada guru akidah akhlak. Seorang guru tidak hanya mentansfer ilmu dan mengajar saja namun membimbing peseta didik agar memiliki akhlak yang baik, tidak hanya dibimbing untuk kebaikan di sekolah namun di rumah dan dilingkungan masyarakat secara luas.

Melihat diera sekarang pergaulan peserta didik yang mudah meluas begitu saja, hingga hal ini sangat dikhawatirkan pihak sekolah tidak hanya sekolah yang berbasis Islam namun sekolah umum demikian pula. Hal ini ditunjukan peserta didik tidak hanya cerdas dalam bidang mata pelajaran namun juga memiliki kepribadian akhlak yang baik bahkan hal ini akan lebih penting demi menuju bangsa yang lebih maju.

Guru memiliki banyak peran dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut:

7 Suharfami Alfaifaroh, “Kajian Keagamaan, Keilmuan, dan Teknologi”, Jurnal Lentera, Vol. 19 No. 2 September 2020, hlm.5.

a. Guru Sebagai Pendidik

Seorang guru mendidik peserta didik dengan cara mengembangkan nilai-nilai kehidupan seperti, bersikap baik terhadap orang lain, meghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Dengan cara seperti itu maka dapat menumbuhkan kepribadian peserta didik yang baik.8

Guru adalah seorang pendidik professional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta didik melalui jalur formal pendidikan.

Guru sebagai pendidik diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuanya secara optimal. Pada intinya guru memberikan pengetahuan yang belum pernah kita dapatkan dan membantu mengembangkan bakat yang terpendam dari diri kita. Mereka adalah orang yang mengajarkan kepada kita tentang sesuatu yang bermanfaat, baik dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama serta bangsa.

b. Guru Sebagai Pengajar

Tugas guru yang utama adalah mengajarkan ilmu kepada peserta didiknya, dengan menyampaikan materi pada proses pembelajaran menggunakan metode tertentu yang tujuanya agar peserta didik mampu dengan jelas memahami materi yang disampaikan.

8 Ibid, 53

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa guru menjadi pengajar berarti guru harus memiliki strategi serta metode yang cocok yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan disesuaikan dengan kemampuan peserta didiknya, juga dengan cara yang guru miliki, serta sikap dan karakter yang guru miliki, serta sikap dan kepribadian guru yang baik otomatis akan mencapai hasil yang maksimal, dan begitu sebaliknya.

c. Guru Sebagai Pembimbing

Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosi, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih mendalam dan kompleks.9

Dalam hal ini guru berusaha membimbing peserta didik agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai individu yang mandiri dan produktif. Guru membimbing peserta didiknya, mengarahkan mereka dalam menatap masa depan, membekali mereka, dan bertanggung jawab terhadap bimbingannya.

Seorang guru untuk dituntut untuk memberikan dorongan, bimbingan, arahan mengenai mana yang baik dan mana yang buruk kepada peserta didiknya.

9 Mulyasa, Menjadi GuruProfesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015) h 37

d. Guru Sebagai Pelatih

Peran guru sebagai pelatih fungsinya adalah membina peserta didik dengan mempengaruhi, membimbing, memotivasi dan mengarahkan agar peserta didik itu berbuat atau berperilaku sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan proses belajar mengajar.

Peran guru sebagai pelatih yaitu harus mampu menggali bakat- bakat yang terpendam di dalam diri peserta didik. Seorang guru harus mampu memberikan pembelajaran yang berkualitas dengan menciptakan kondisi dan lingkungan belajar yang dapat menumbuh kembangkan bakat para peserta didiknya. Berbagai potensi peserta didik harus ditumbuh kembangkan dengan cara diasah, dipoles serta dilatdian menyadarkan mereka akan bakat serta potensi yang mereka miliki, sehingga mereka terdorong melalui latihan yang diberikan oleh gueu untuk menjadi pribadi yang unggul sesui dengan bakat dan potensi dirinya.

e. Guru Sebagai Penasehat

Selain menyampaikan materi pelajaran, pendidik sebaiknya berperan aktif sebagai penasehat terhadap peserta didiknya. Selain menyampaikan pelajaran di kelas, seorang pendidik juga harus mampu memberi nasehat dan pengarahan terhadap peserta didik, baik diminta

ataupun tidak serta memiliki jalinan ikatan batin atau emosional dengan para siswa yang diajarnya.10

Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Guru sebagai penasehat memiliki tugas untuk mengajarkan, mendidik, dan menasehati peserta didiknya. Apabila seorang peserta didik berperilaku tidak jujur, tidak disiplin, dan lain sebagainya dapat dikatakan peserta didik tersebut menunjukkan perilaku yang buruk. Disinilah peran guru untuk menasehatinya, agar merubah perilaku peserta didik tersebut.

f. Guru Sebagai Model dan Teladan

Peranan pendidik sebagai model pembelajaran sangat penting dalam membentuk nilai-nailai akhlak yang baik bagi peserta didik.

Guru juga menjadi figure secara tidak langsung dalam membentuk kepribadian peserta didik dengan senantiasa memberikan bimbingan tentang cara yang baik dalam berpenampilan, bergaul dan berperilaku yang sopan. Pendidik yang mempunyai perilaku baik yaitu kedisiplinan, kejujuran, keadilan, kebersihan, kesopanan, ketulusan, ketekunan, kehati-hatian, maka juga akan berimbas baik kepada peserta didiknya, karena dari sini peserta didik dapat merekam dan

10 Ibid, 68

mencontoh apa yang telah dilakukan oleh pendidiknya demikian pula sebaliknya.11

Guru merupakan model dan teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan guru akan mendapat perhatian dari peserta didik serta orang disekitar lingkunganya. Ada beberapa hal yang mendapat perhatian guru dalam peranya sebagai model dan teladan yaitu: penggunaan gaya bahasa guru dalam berbicara, gaya berpakaian guru juga menjadi sorotan, gaya kebiasaan guru bekerja, sikap guru melalui pengalaman dan kesalahan yang dilakukan dan lain sebagainya. Untuk itu guru harus menjadi model dan teladan yang baik untuk peserta didiknya.

g. Guru Sebagai Pribadi

Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik.

Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat disbanding profesi lainya. Ungkapan yang sering dikemukakan adalah “guru bisa digugu dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bias ditiru atau diteladani.

Guru sering dijadikan panutan oleh masyarakat, untuk itu guru harus mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat

11 Ibid, 67

temapat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal. Untuk itu guru harusnya memberikan contoh yang baik untuk peserta didiknya.

1. Apa saja kendala yang dihadapi guru dalam membentuk kepribadian muslim peserta didik di MI Baabussalaam Desa Wonosari Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu?

Kendalanya yang dihadapi guru dalam membentuk kepribadian muslim peserta didik yaitu guru akidah akhlak dalam pembentukan kepribadian di sekolah adalah jam mengajar (proses pembelajaran) yang singkat, yaitu hanya satu jam dalam satu minggu. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran kurang efektivitas, karena ketika guru menyampaikan materi di kelas belum tuntas namun jam pelajaran sudah habis.

Hal ini kemudian mengakibatkan guru harus memberi tugas tambahan kepada peserta didik agar bisa diselesaikan dirumah atau PR.

Sebenarnya jika jam pelajaran ditambah maka guru akidah akhlak dapat lebih lama memberikan materi kepada peserta didik agar peserta didik juga lebih faham apa yang disampaikan oleh guru. Kemudian kendala selanjutnya adalah kurangnya antusias orang tua kepada peserta didik sehingga perilaku dan kebiasaan peserta didik yang dilakukan dalam keluarga tidak sesuai dengan yang dilakukan saat di madrasah, seperti pembiasaan berpakaian yang sopan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa guru akidah akhlak telah menjalankan perannya sebagai pengajar, pendidik, pembimbing dan pelatih dengan baik.

1. Guru memiliki banyak peran, seorang guru bukan hanya berperan mengajar di kelas saja, tapi guru juga berperan dan menjalankan segala perananannya itu di sekolah baik di dalam atau di luar jam pelajaran. Seorang guru dituntut untuk mampu mendidik dan memberikan contoh yang baik bagi peserta didiknya. Guru harus mampu mengajar, mendidik, membimbing dan melatih peserta didiknya menjadi baik. Pembentukan kepribadian peserta didik di MI Baabussalaam ditanamkan melalui pembelajaran, pembiasaan, bimbingan dan keteladanan. Pendidik yang memiliki kepribadian baik akan mampu membentuk peserta didik yang berkepribadian baik juga.

2. Kendala yang dihadapi oleh guru dalam membentuk kepribadian peserta didik di MI Baabussalaam diantaranya adalah jam mengajar guru yang terlalu singkat, yaitu satu jam dalam satu minggu. Kemudian selain itu kurangnya antusias orang tua kepada peserta didik sehingga perilaku dan kebiasaan peserta didik yang dilakukan dalam keluarga tidak sesuai dengan yang dilakukan saat di madrasah, seperti pembiasaan berpakaian yang sopan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang ada di lapangan, maka peneliti dapat memberikan saran kepada objek (tempat) penelitia sehingga dapat dijadikan perbaikan pendidikan di masa yang akan datang yaitu:

1. Bagi Sekolah

Diharapkan kepada seluruh warga sekolah untuk mendukung pembentukan kepribadian peserta didik di MI Baabussalaam Wonosari demi terwujudnya peserta didik yang cerdas dan memiliki kepribadian yang baik.

2. Bagi Pendidik

Seorang pendidik harus mampu menjadi suri tauladan dan pribadi yang baik bagi peserta didiknya, karena peran pendidik sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian peserta didiknya.

3. Bagi Peserta Didik

Hendaknya menunjukkan sikap, dan kepribadian yang baik kepada siapa saja dan dimana saja, bukan hanya di lingkungan sekolah saja tetapi di luar (di rumah) juga harus berperilaku baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulwaly Cece, Fauziah Jamilah. Mendidik Dengan Teladan Yang Baik.

Yogyakarta: Diandra Creative, 2016.

Andri Astuti, Sri. Ilmu Pendidikan Islam. Bandar Lampung: Anugrah Utama Raharja, 2013.

Arifin, Zainal. Penelitian Pendidikan Metode Dan Paradigma Baru. Bandung:

Rosdakarya, 2012.

Bukhoriansyah, Okta. “Pembelajaran Aqidah Akhlak dalam Membina Akhlak Peserta didik di MTs Ittihad Ngambur Kecamatan Ngambur Kecamatan Pesisir Barat.” Skripsi, UIN Raden Intan Lampung.

Budianto, Mangun. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013.

Darmadi. Arsitektur Kepribadian Anak. Lampung Tengah: Guepedia, 2018.

Dewantoro, Muhammad, Ummi Musa. Agenda Muslim Membentuk Pribadi Muslim Berkualitas. Solo: Hidayatul Insan, 2002.

Fathurrohman, Pupuh. Pengembangan Pendidikan Karakter. Bandung: PT Rafika Aditama, 2013.

Hambali Adang, Ujam Jaenudin. Psikologi Kepribadian Studi Atas Teori Dan Tokoh Psikologi Kepribadian. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2013.

Wulandari, Vivi. Hasil Pra Survei. Wonosari: MI Baabussalaam, 2020.

J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. ke-32. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2014.

Jalaluddin. Teologi Pendidikan. Cet. Ke-3. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003.

Margono. Metode Penelitian Pendidikan. Cet. Ke-8. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Rosda Karya, 2013.

Mubarok, Achmad. Psikologi Keluarga Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa. Cet. Ke-7. Jakarta Selatan: PT. Wahana Aksara Prima, 2009.

Mujib Abdul, Jusuf Mudzakir. Nuansa-Nuansa Psikologi Agama. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2001.

Mulyasa. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara, 2012.

Nasrullah. “Pembentukan Karakter Siswa Melalui PAI.” UMM 18, No. 1 /Juni 2015.

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf Dan Karakter Mulia. Cet. Ke-14. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2015.

Prayitno, Irwanto. Membentuk Kepribadian Muslim. Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, 2002.

Purwanto, Yadi. Psikologi Kepribadian Integrasi Nafsiyah Dan Aqliyah Perspektif Psikologi Islami. Cet. Ke-2. Bandung: PT. Refika Aditama, 2011.

Qalamuna. “Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama” 12, No. 2 /2020.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.

Psikologi Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.

Saharsaputra, Uhar. Metodologi Penelitian. Bandung: PT. Refika Aditama, 2012.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D. Bandung:

Alfabeta, 2012.

Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Cet. Ke-8. Bandung:

Alfabeta, 2009.

Suharfani Almaisaroh, Wulan Septy Lenggana, Shafa Editya Rachmawati.

Jurnal Lentera: Kajian Keagamaan, Keilmuan Dan Teknologi” 19, No.

2/September 2020.

Suryabrata, Sumardi. Metodologi Penelitian. Cet. Ke-25. Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2014.

Tim Dosen PAI. Bunga Rampai Penelitian Pendidikan Dalam Agama Islam.

Yogyakarta: CV Budi Utama, 2016.

Wahyudi, Imam. Mengajar Professionalisme Guru. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2012.

Mengejar Profesionalisme Guru. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2012.

Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak Dan Keluarga. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya, 2012.

Zuhairi. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers.

LAMPIRAN

Gambar 1 “ MI Baabussalaam Wonosari”

Gambar 2 Wawancara dengan Ibu Siti Kalimah (Guru Akidah Akhlak) di MI Baabussalaam Wonosari pada hari senin, 17 JMei2020 Pukul 09.00 WIB

Gambar 3 Wawancara dengan Ibu Siti Kalimah (Guru Akidah Akhlak) di MI Baabussalaam Wonosari pada hari Selasa, 18 Mei 2021 Pukul 09.00 WIB

Gambar 4 wawancara dengan Maura Anastasya dan M. Fadil (Selaku peserta didik ) pada hari selasa, 18 Mei 2021 Pukul 10.00

Gambar 5 Guru akidah akhlak memberikan materi di kelas. Selama masa covid 19 peserta didik di MI Baabussalaam tidak memakai seragam sesuai kebijakan

sekolah.

Gambar 6 “Poster 10 budaya malu guru”

Gambar 7 “Poster yang 10 budaya malu peserta didik ”

Gambar 8 “Tulisan-tulisan yang mengandung nilai-nilai kepribadian”

Gambar 9 “Dokumentasi kegiatan peserta didik MI Baabussalaam”

Gambar 10 “Masjid Baabussalaam yang digunakan untuk sarana ibadah guru dan peserta didik untuk melaksanakan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjama’ah’’

(Nilai kepribadian Religius)

Dokumen terkait