• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian .1 Status Gizi

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Variabel yang memiliki nilai P-value yang paling besar akan dikeluarkan dari kandidat model

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian .1 Status Gizi

Hasil analisis univariat menemukan status gizi balita masih ada yang tidak baik, sebesar 22.7%. Hal ini bisa disebabkan oleh asupan makanan yang masih kurang optimal. Asupan makanan dipengaruhi oleh daya beli yang juga dipengaruhi oleh pendapatan orang tua. Lebih dari separuh (54.6%) orang tua balita memiliki pendapatan kurang memadai. Selain itu penyakit infeksi pun hampir separuh balita menderitanya (42.1%).

Senada dengan hasil penelitian Linda dan Hamal (2011) di Kab.

Tangerang, Banten menemukan sebesar 30.1% anak balita masih memiliki gizi kurang baik. Demikian juga penelitian Linda (2012) kepada anak balita di Kab.

Bogor sebesar 19.9% memiliki gizi kurang baik.

4.5.2 Kelahiran Prematur

Sebesar 12.5% responden lahir dalam keadaan prematur. Kondisi prematur dapat disebabkan oleh asupan gizi ibu yang ditabung pada masa remaja kurang memadai (growth spurt yang tidak maksimal) dan kemungkinan pula saat hamil, ibu balita mengalami masalah dengan konsumsi makanan sehingga outcome yang didapatkan kurang maksimal

Dengan alfa 0.05 secara statistik, kelahiran prematur (prematur atau tidak) tidak berhubungan dengan status gizi balita. Diperoleh nilai OR sebesar 1.031, namun nilai OR ini tidak bermakna karena 95% CI melewati nilai 1. Ini memberikan penjelasan bahwa kelahiran prematur tidak serta merta menjadikan anak memasuki usia balita akan mengalami gangguan gizi

44 4.5.3 BBLR

Anak balita yang lahir dengan BBLR sebesar 8.3%. Penyebab BBLR antara lain ibu balita memiliki lingkar lengan atas (LILA) kurang dari 23.5 cm saat sebelum hamil sehingga ia memiliki risiko KEK (kurang energi kronis) dimana KEK ini memiliki risiko melahirkan BBLR.

Hasil penelitian Linda (2013) mendapati masih ada sebesar 4.3% bayi lahir dengan kondisi BBLR. Hasil Riskesdas tahun 2007, 2010, dan 2013 BBLR di Indonesia sebesar 8.3%, 11.1%, dan 10.2% sehingga prevalensi BBLR di wilayah penelitian masih relatif lebih rendah dibandingkan angka nasional namun lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Linda (2013)

Menggunakan alfa 0,05 secara statistik, status BBLR berhubungan dengan status gizi balita dengan nilai OR 5.096, artinya bayi yang dilahirkan dengan kondisi BBLR memiliki risiko 5.096 kali lebih besar untuk mendapatkan status gizi tidak baik daripada bayi yang lahir dengan berat badan normal.

Variabel BBLR masuk dalam pemodelan statistik

4.5.4 Status Imunisasi

Status imunisasi yang tidak lengkap sebesar 11.6%. hal ini bisa terjadi karena masih ada keengganan orang tua membawa balitanya ke fasilitas kesehatan untuk diimunisasi dengan alasan bila setelah imunisasi balitanya yang awalnya sehat menjadi demam, rewel, dan malah sakit. Selain itu alasan ibu bekerja kemungkinan menjadi penyebab anaknya tidak diimunisasi. Namun angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2013 dimana anak yang tidak lengkap imunisasinya sebesar 40.8%.

Analisis dengan alfa 0.05, secara statistik ada hubungan antara status imunisasi dengan status gizi balita (BB/U) (P-value = 0,003). Hasil OR menunjukkan nilai 3.842, artinya balita tidak tidak lengkap imunisasinya memiliki risiko 3.842 kali lebih besar untuk mengalami status gizi tidak baik daripada balita yang lengkap imunisasinya. Dalam pemodelan multivariat variabel status imunisasi masuk dalam pemodelan.

45 4.5.5 Penyakit Infeksi

Hampir separuh responden menderita penyakit infeksi (42.1%). Keadaan ini sangat rentan dialami oleh anak balita, terutama bila dalam kondisi kesehatan yang kurang prima. Jenis penyakit infeksi yang paling banyak adalah ISPA, hal ini kemungkinan usia balita rentan dan gampang ditularkan dari orang dewasa.

Sementara laporan Kemenkes RI (2013) bahwa paling banyak penyakit infeksi yang diderita anak balita adalah Tb (6.4%), diare (3.5%), dan pneumonia (2.7%)

Uji bivariat mendapatkan hasil dengan alfa 0.05 secara statistik, tidak ada hubungan antara ada atau tidaknya penyakit infeksi dalam sebulan terakhir dengan status gizi balita. Nilai OR yang didapatkan sebesar 1.039, dengan CI melewati nilai 1, akan tetapi diperoleh hasil anak balita dengan status gizi kurang baik memiliki riwayat penyakit infeksi

4.5.6 Jenis Kelamin

Lebih dari separuh anak balita yang dianalisis adalah laki-laki (51.9%).

Anak laki-laki memiliki masa pacu tumbuh yang lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan sehingga dapat berdampak pada status gizinya. Anak dengan jenis kelamin perempuan tidak lebih baik keadaan gizinya dibandingkan dengan anak laki-laki.

Kondisi menggunakan alfa 0.05 secara statistik, tidak ada hubungan antara jenis kelamin balita dengan status gizi balita. Diperoleh nilai OR 0.958 dengan CI melewati nilai 1. Dengan demikian, hasilnya tidak bermakna.

Walaupun demikian, dapat disimpulkan anak laik-laki lebih berisiko menderita gizi kurang baik dibandingkan wanita. Sejalan dengan penelitian Muljati, dkk, (2007) anak balita laki-laki yang menderita gizi kurang dan mengalami perlambatan pertumbuhan akan memasuki masa remajanya 2 (dua) tahun lebih lambat dibandingkan dengan anak balita dari jenis kelamin yang sama dengan status gizi yang baik walaupun hasil penelitian tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian gizi kurang.

46 4.5.7 Jenis Kelahiran

Masih ada sekitar 0.9% anak balita lahir kembar. Keadaan ini bila tidak ditangani dengan seksama dapat berdampak pada status gizinya karena anak kembar berarti kebutuhan perawatannya menjadi dobel

Dengan alfa 0.05 secara statistik tidak ada hubungan antara jumlah anak yang dilahirkan (kembar atau tunggal) dengan status gizi balita (BB/U) (P-value

= 1.0). Nilai OR tidak dapat dihitung.

4.5.8 ASI Eksklusif

Hanya sekitar 42.1% balita yang mendapatkan ASI eksklusif, padahal dengan ASI ekslusif anak mendapatkan kekebalan secara alami yang akhirnya dapat menjadikan status gizinya baik. Maraknya iklan susu formula dan kondisi ibu yang bekerja menjadikan penyebab target capaian ASI eksklusif tidak tercapai maksimal. Kemenkes RI (2015) menginformasikan cakupan ASI eksklusif di Indonesia sebesar 55.7%, sedangkan di Jawa Barat sebesar 35.3%. angka untuk wilayah penelitian juga belum memberikan hasil yang menggembirakan.

Hasil uji bivariat dengan alfa 0.05, secara statistik tidak ada hubungan antara perilaku menyusui eksklusif dengan status gizi balita (BB/U) (Pvalue = 1.0). Hasil OR menunjukkan nilai 1.027 akan tetapi nilai CI melewati angka 1, sehingga hasil tersebut tidak bermakna, namun anak balita dengan statsu gizi kurang baik tidak mendapatkan ASI secara eksklusif.

4.5.9 Umur Ibu

Kelompok umur ibu yang berisiko memiliki anak dengan status gizi tidak baik sebesar 44.9%. Umur sangat muda atau memasuki usia dewasa lanjut berisiko terhadap pengasuhan anak. Hal ini dapat berdampak pada status gizi balita. Umur ibu sangat muda disinyalir belum memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan dalam pengasuhan anak, sebaliknya ibu dengan usia dewasa lanjut sudah memasuki fase kelelahan mengasuh anak sehingga perawatan anak tidak maksimal dan akibatnya status gizi anak menjadi kurang optimal.

47

Hasil uji bivariat mendapatkan hasil yang tidak bermakna antara umur ibu dengan status gizi anaknya. Hal ini bisa disebabkan karena keterpaparan ibu dengan informasi terkait kesehatan lebih kurang sama. Walaupun demikian, diperoleh hasil anak balita dengan kondisi gizi kurang baik berasal dari ibu dengan umur yang berisiko

4.5.10 Paritas

Jumlah anak yang dilahirkan oleh ibu lebih dari 4 orang sebesar 9.3%.

masih ada ibu yang kurang mendukung adanya program keluarga berencana (KB) Hasil penelitian Linda (2013) menemukan sebesar 6.4% ibu balita memiliki paritas yang tinggi, dan tidak menemukan adanya hubungan antara paritas dengan status gizi.

Dengan alfa 0,05 secara statistik ada hubungan antara paritas dengan status gizi balita (BB/U) (P-value = 0,026). Diperoleh nilai OR 3.191, artinya ibu yang memiliki paritas lebih dari 4 anak memiliki risiko untuk memiliki anak dengan status gizi tidak baik 3.191 lebih besar daripada ibu yang memiliki anak kurang dari 4 (95% CI : 1,238 – 8,226). Variabel paritas masuk dalam pemodelan statistik.

4.5.11 Pendidikan Ibu

Masih ada sebesar 32.9% ibu yang memiliki tingkat pendidikan di level dasar atau SMP ke bawah. Masih ada responden yang menganggap kalau anak perempuan biar sekolah tinggi akhirnya ke dapur juga, sehingga pendidikan belum dianggap menjadi prioritas

Berbeda dengan hasil penelitian Linda dan Hamal (2011) bahwa pendidikan ibu balita sebesar 81.8% masih dalam kategori pendidikan dasar.

Demikian juga hasil penelitian Linda (2013) mendapati sebesar 68.1% ibu balita memiliki pendidikan tingkat dasar

Alfa yang digunakan 0.05 untuk uji bivariat, secara statistik tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi balita (BB/U) (P-value

= 0.892). Hasil OR menunjukkan nilai 1.112, akan tetapi nilai CI melewati angka

48

1, sehingga hasil tersebut tidak bermakna. Namun demikian anak dengan status gizi kurang baik berasal dari ibu yang tingkat pendidikannya SD hingga SMP (dasar)

Senada dengan hasil penelitian Linda dan Hamal (2011) pendidikan ibu tidak berhubungan dengan status gizi balita, namum sebesar 31.5% anak balita dengan status gizi kurang baik memiliki ibu berasal dari pendidikan dasar. Hasil penelitian Linda (2013) mendapati tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dan status gizi balita, meskipun ibu dengan pendidikan dasar cenderung memiliki balita dengan status gizi kurang baik

4.5.12 Pendapatan Orang tua

Lebih dari separuh orang tua balita memiliki pendapatan kurang memadai (54.6%). Ibu balita hampir seluruhnya sebagai ibu rumah tangga dan ayahnya lebih banyak memiliki pekerjaan yang kurang memadai.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Linda (2013) yang menemukan sebesar 40.4% orang tua balita memiliki tingkat pendapatan yang rendah, tidak ada hubungan antara pendapatan orang tua dan status gizi balita, walaupun orang tua dengan pendapatan rendah cenderung memiliki balita dengan status gizi kurang baik

Dengan alfa 0,05 secara statistik tidak ada hubungan antara pendapatan ayah dengan status gizi balita (BB/U) (P-value = 0.679). Hasil OR menunjukkan nilai 0.829, akan tetapi nilai CI melewati angka 1, sehingga hasil tersebut tidak bermakna.

4.5.13 Pengetahuan Ibu

Pengetahuan ibu tentang gizi masih ada sebesar 29.6% berada di kategori yang kurang baik. Ini bisa disebabkan oleh keterpaparan informasi kesehatan yang masih minimal, orang tua lebih senang menonton televisi dengan acara yang ringan (telenovela, musik, berita selebriti) dibandingkan mencari berita terkait kesehatan.

49

Dengan alfa 0.05 secara statistik tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan status gizi balita (BB/U). Hasil OR menunjukkan nilai 0.821 akan tetapi nilai CI melewati angka 1, sehingga hasil tersebut tidak bermakna.

4.5.14 Jumlah Anggota Keluarga

Balita yang berasal dari keluarga dengan jumlah anggotanya > 5 orang sebesar 37.5%. ada beberapa responden yang tinggal bersama keluarga lain (orang tua, kakak, atau adik)

Dengan alfa 0.05 secara statistik tidak ada hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan status gizi balita (BB/U) (P-value = 0.967). Hasil OR menunjukkan nilai 1.073 akan tetapi nilai CI melewati angka 1, sehingga hasil tersebut tidak bermakna. Tetapi anak yang memiliki statsu gizi kurang baik berasal dari keluarga dengan jumlah anggotanya banyak.

50

Dokumen terkait