Tujuan dari temuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memprediksi kontribusi balita dan orang tua terhadap status gizi balita. Hasil uji bivariat didapatkan variabel yang berhubungan dengan status gizi (p-value < 0,05) yaitu berat badan lahir rendah, status imunisasi dan paritas, dan ketiga variabel tersebut pada uji multivariat berpengaruh terhadap status gizi balita. . Data Rencana Jangka Menengah Nasional Jangka Panjang (RJPMN) bidang kesehatan menyebutkan status gizi buruk di Indonesia sebesar 5% dan gizi buruk sebesar 20% (Kementerian Kesehatan RI, 2005).
Pakhri et al (2011) menemukan balita dengan status gizi kurang dengan indeks BB/PB 10,1% dan status gizi obesitas dengan indeks PB/U 2,2%, status gizi sangat pendek 5,6% dan pendek 14,6%. Status gizi tidak adekuat secara langsung disebabkan oleh asupan gizi yang tidak adekuat, adanya penyakit infeksi, sedangkan secara tidak langsung disebabkan oleh kurangnya persediaan makanan, pola asuh, sanitasi dan pelayanan kesehatan. Status gizi buruk dan stunting merupakan masalah serius karena berkaitan dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (FLD), dimana terjadi perubahan status.
Penelitian belum pernah meneliti seberapa besar kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kelengkapan imunisasi dan variabel lainnya dapat memprediksi status gizi balita. Tujuan penelitian ini secara keseluruhan adalah untuk menganalisis hubungan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kelengkapan imunisasi dan variabel lain dengan status gizi balita serta memprediksi seberapa besar pengaruh variabel tersebut terhadap status gizi balita. Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi teori status gizi anak balita dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta mendeskripsikan keadaan status gizi sesuai dengan teori sebelumnya, sehingga menjadi salah satu upaya pencegahan.
Penelitian ini dilakukan dengan kajian mendalam melalui analisis univariat, bivariat dan multivariat terkait prediksi kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kelengkapan imunisasi dan variabel lain dengan status gizi balita di wilayah studi, yang kemungkinan juga menyajikan prediksi status gizi di suatu daerah, cakupannya lebih luas, dan akan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dari berbagai jurnal, lokal maupun internasional.
KAJIAN PUSTAKA
Status Gizi
Dari sudut pandang gizi, antropometri gizi berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh yang berbeda pada usia dan tingkat gizi yang berbeda. Secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi, yang terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Cara penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (terutama jaringan) dan melihat perubahan struktur jaringan.
Metode ini dapat digunakan dalam situasi tertentu, seperti wabah rabun senja. Tinjauan sampel yang diuji di laboratorium dilakukan pada berbagai jenis jaringan tubuh (darah, urin, feses, otot, dan hati).
Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung 1) Survei Konsumsi Makanan
- Kelahiran Prematur
- Imunisasi
- ASI Eksklusif
- Pendidikan Ibu
- Pendapatan Keluarga
- Pengetahuan Ibu
- Roadmap Peneliti
Nadimin (2010) menemukan hubungan antara status gizi bayi dengan penimbangan rutin bayi, pemberian ASI eksklusif, konsumsi variasi makanan, dan penggunaan garam beryodium. Ibu yang rutin menimbang bayinya, memberikan ASI eksklusif, memberikan variasi makanan, dan menggunakan garam beryodium lebih banyak memiliki anak dengan status gizi baik (Sukmawati dan Ayu, 2010). Status gizi juga dikaitkan dengan aktivitas berat badan bayi, balita dengan berat badan rendah memiliki status gizi yang lebih tidak teratur.
Menurut Sukmawati dan Ayu (2010), terdapat hubungan asupan energi dengan status gizi balita, dengan balita dengan status gizi kurus memiliki asupan energi yang lebih rendah. Meskipun pada penelitian ini, anak dengan status gizi kurang lebih cenderung memiliki asupan protein yang lebih sedikit. Sukmawati dan Ayu (2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa ibu dengan pendidikan rendah, balitanya memiliki status gizi kurus, lebih banyak ibu dengan pendidikan rendah juga memberikan makanan dengan asupan energi dan protein yang rendah.
Linda (2012) menemukan bahwa balita usia 12 sampai 59 bulan lebih banyak mengalami gizi kurang (68,8%) dibandingkan dengan kelompok umur 0 sampai 11 bulan. Secara keseluruhan, terdapat 13,4% ibu yang menganggap bayinya lahir kecil, 66,5% menganggap bayinya berukuran normal, dan 20,0% menganggap bayinya besar. Ukuran lahir menurut ibu persentase ibu yang memiliki bayi perempuan menunjukkan bayinya kecil (14,5%) dibandingkan dengan persentase ibu yang memiliki bayi laki-laki besar (12,4%).
Sedangkan menurut tipe wilayah, lebih banyak ibu di perdesaan (14,5%) berpendapat bahwa bayinya lahir kecil dibandingkan di perkotaan (11,8%). Sukmawati dan Ayu (2010) menyatakan bahwa imunisasi tidak lengkap berhubungan dengan kejadian infeksi (ISPA), dengan balita yang mengalami infeksi berulang lebih banyak dibandingkan balita dengan imunisasi lengkap yang kurang baik. Sharda dan Babel (2017) menemukan bahwa balita di Udaipur (India) mengalami underweight sedang, stunting dan wasting lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki.
Jika pengetahuan ini cukup, maka dampaknya terhadap pengasuhan anak akan baik dan dapat meningkatkan status gizi anaknya. Alur penelitian yang dilakukan peneliti menitikberatkan pada aspek status gizi dan aspek kesehatan yang berkaitan dengan gizi. Makanan Formula Balita di Bawah Garis Merah Tahun 2011 Profil Balita dengan Status Gizi Balita di Bawah Garis Merah Tahun 2013 Balita BBLR Tahun 2013.
METODE PENELITIAN 3.1 Alur Penelitian
- Disain Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Indikator
- Disain Alat Pengumpul data
- Pelaksanaan
- Manajemen Data a. Coding
- Pengumpulan Data
- Instrumen Penelitian
- Manajemen Analisis Data
- Indikator Capaian Hasil Penelitian
- Fishbone Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain kohort retrospektif, yaitu untuk mencari atau mempelajari dinamika korelasi antara faktor balita dengan orang tuanya dan status gizi, dengan pendekatan, pengamatan dan pengumpulan data secara mundur (back time). Populasi penelitian ini adalah seluruh balita usia 10-59 bulan yang berkunjung ke posyandu yang terpilih menjadi kelompok di Kel. Setelah melewati shift tersebut, terpilihlah masing-masing kecamatan Cipayung dan Bojong Pondok Terong (dari 5 Kelurahan yang ada).
Kelurahan Cipayung diwakili oleh posyandu RW 1, 5 dan 11, sedangkan Bojong Pondok Terong diwakili oleh posyandu RW 2, 4 dan 9. Besar sampel dihitung menggunakan rumus simple random sampling dengan design effect 2 (penentuan WHO) . penambahan sampling error sebesar 20%, dan jumlah responden akan didistribusikan secara proporsional ke masing-masing Posyandu. Penambahan sampling error adalah 235 pembulatan sehingga jumlah responden adalah 235 balita yang terdistribusi secara proporsional dengan 6 posyandu.
Penelitian ini menggunakan data primer untuk memperoleh variabel status gizi dan karakteristik ibu dan balita. Data status gizi diperoleh dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan responden menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,1 kg merk KRIS dan meteran tinggi badan mikrotois dengan kapasitas ukur 2 meter dan ketelitian 0,1 cm. Hasil perhitungan pengukuran tersebut dibandingkan dengan tabel standar WHO NCHS dengan menggunakan software WHO-Anthro, data karakteristik ibu dan balita diperoleh melalui wawancara.
Alat ukur pada penelitian ini menggunakan timbangan badan digital, alat ukur tinggi badan mikrotois, kuesioner, kartu sehat (KMS) dan buku kesehatan ibu. Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel, yang akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Analisis bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (faktor balita dan orang tua) dengan variabel terikat (status gizi).
ATAU > 1 (hubungan positif): kelompok yang terpapar lebih mungkin mengembangkan penyakit daripada kelompok yang tidak terpapar. Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk mendapatkan model prediksi hubungan variabel bebas dengan status gizi balita. Kajian ini memiliki indikator luaran penelitian, yang selain format laporan penelitian, meliputi penulisan artikel di jurnal nasional ber-ISSN dan prosiding seminar nasional.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Deskrispi Wilayah Penelitian
- Hasil Univariat
- Status Gizi Balita berdasarkan Indeks BB/U, TB/U, dan BB/TB Hasil analisis status gizi menunjukkan secara indeks BB/U lebih banyak berada
- Faktor Orang tua
- Analisis Bivariat
- Analisis Multivariat
- Variabel Kelahiran Prematur
- Variabel Status BBLR
- Variabel Status Imunisasi
- Variabel Jenis Kelamin
- Variabel Jenis Kelahiran
- Variabel ASI Eksklusif
- Variabel Paritas
- Variabel Pendidikan Ibu
- Variabel Pendapatan Orang tua
- Variabel Jumlah Anggota Keluarga
- Variabel yang memiliki nilai P-value yang paling besar akan dikeluarkan dari kandidat model
- Pembahasan Hasil Penelitian .1 Status Gizi
Analisis bivariat untuk variabel balita didapatkan hasil yang berhubungan dengan status gizi (p=value < 0,05) yaitu BBLR dan status imunisasi. Di bawah ini adalah hasil analisis bivariat faktor ibu dengan status gizi didapatkan hasil yang berhubungan dengan status gizi (p=value < 0,05) yaitu paritas. Analisis multivariat pada penelitian menghasilkan variabel yang berhubungan dengan status gizi balita yaitu BBLR, paritas dan status imunisasi.
Dengan alpha 0,05 secara statistik kelahiran prematur (prematur atau tidak) tidak berhubungan dengan status gizi balita. Analisis dengan alpha 0,05, secara statistik ada hubungan antara status imunisasi dengan status gizi bayi (B/U) (P-value = 0,003). Hasil uji bivariat dengan alpha 0,05 secara statistik tidak ada hubungan antara ada tidaknya penyakit infeksi dalam sebulan terakhir dengan status gizi balita.
Nilai OR yang diperoleh adalah 1,039, dengan CI di atas 1, namun hasil yang diperoleh anak balita dengan status gizi buruk memiliki riwayat penyakit infeksi. Secara statistik dengan alpha 0,05 tidak ada hubungan antara jenis kelamin balita dengan status gizi balita. Hasil uji bivariat dengan alpha 0,05, secara statistik tidak terdapat hubungan antara perilaku pemberian ASI eksklusif dengan status gizi (P value = 1,0).
Hasil uji bivariat diperoleh hasil yang tidak signifikan antara umur ibu dengan status gizi anaknya. Alpha yang digunakan adalah 0,05 untuk uji bivariat, secara statistik tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi bayi (BB/U) (P-value . = 0,892). Namun, anak dengan status gizi buruk berasal dari ibu yang berpendidikan SD hingga SMP.
Sejalan dengan hasil penelitian Linda dan Hamal (2011), pendidikan ibu tidak berhubungan dengan status gizi bayi, namun 31,5% balita dengan status gizi buruk memiliki ibu dengan pendidikan dasar. Hasil penelitian Linda (2013) tidak menemukan hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita, meskipun ibu dengan pendidikan dasar cenderung memiliki anak dengan status gizi buruk. Dengan alpha 0,05, secara statistik tidak ada hubungan antara pendapatan ayah dengan status gizi (BB/U) (P-value = 0,679).
Dengan alpha 0,05, secara statistik tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan status gizi balita (BB/U). Dengan alpha 0,05, secara statistik tidak ada hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan status gizi (BB/U) balita (P-value = 0,967).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
LUARAN YANG DICAPAI
Penilaian status gizi balita di daerah perkotaan distrik Barpeta, Assam, India. Hubungan antara pendidikan dan pekerjaan orang tua serta pola asuh dengan status gizi balita di kota dan kabupaten tangerang, banten. Probabilitas kesembuhan pada bayi kurus dan sangat kurus menurut kepatuhan setelah sembuh rawat jalan di Klinik Gizi Bogor.
Penilaian status gizi anak pra sekolah (2-5 tahun) di Girwah tehsil kota Udaipur. Pengaruh literasi ibu terhadap status gizi anak di bawah usia 5 tahun di komunitas Babban Dodo kota Zaria, Nigeria Barat Laut. Hubungan status gizi, berat badan lahir (BBL), imunisasi dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tunikamaseang Kabupaten Maros.