INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER TAHUN 2016
B. PEMBAHASAN
pemantauan. Evaluasi sebagai proses dilaksanakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dicanangkan, faktor pendukung dan penghambatnya. Supaya tujuan pendidikan tidak meleset dan bisa terealisasi susuai dengan yang telah ditujukan. baik itu tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan daerah atau tujuan pendidikan lembaga yang sudah termuat dalam visi dan misi di masing- masing lembaga.
fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai untuk tujuan pembelajaran6.
Sedangkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu upaya membelajarkan peserta didik agar dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama Islam. Baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan7.
b. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi Manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebagaimana yang ditulis oleh Imam Nawawi yang mengutip perkataan imam syafii dalam muqaddimah karya beliau al Majmu‟
ملعلاب هيلعف ةرخلآا دارا نمو ملعلاب هيلعف ايندلا دارا نم
Artinya: barang siapa menginginkan dunia Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) dunia hendak lah dengan ilmu barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) akhirat hendaklah dengan ilmu
6Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003) hal. 57
7Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001), hal 183
8 Imam Nawawi, Al majmu’ Sarah Muhadzab, (Madinah Al munawwaroh : Mauqi‟ Ya‟sub, 476 H.) Hal 20 Juz 1
Tujuan Pendidikan Agama Islam ialah pembentukan kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al-Qur‟an disebut “Muttaqien”. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam ini, membutuhkan suatu program pembelajaran yang formal yang mempunyai tujuan yang jelas dan konkret. Pembelajaran formal adalah suatu pembelajaran yang diorganisasi segala variabel pembelajarannya; seperti tujuan, cara, alat, waktu, tempat, dan evaluasi untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sama dengan tujuan Manusia diciptakan, yakni untuk berbakti kepada Allah SWT.
Dengan kata lain untuk membentuk manusia yang memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam9.
Pendidikan budi pekerti atau akhlak dalam ajaran Islam merupakan salah satu pokok penting yang harus diajarkan, supaya umatnya mempunyai akhlak yang mulia dan dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Bahkan tugas utama Rasulullah SAW diutus ke dunia ini dalam rangka menyempurnakan akhlak sebagaimana sabda-Nya:
اِ َ ثْ َ ثْ اَ ِر َ َ ا َ َ ُ ِاُ ثْ ِ ُ ا َنَّمَ ِ
ا
Artinya: "sesungguhnya aku diutus di muka bumi ini tidak lain untuk menyempurnakan akhlak." 10
9Muhammad, Reformulasi Rancangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Nur Insani, 2003) hal. 73
10Ahmad bin al-Hasan bin „Ali, Sunan Al-Baihaqi Al-Qubro, al-Maktabah as-Syamelah, (Al- Maktabah As-Syamelah : Digital, 1994) 10 :191.
Dari rumusan tujuan Pendidikan Agama Islam tersebut di atas dapat diambil pengertian bahwa pada dasarnya ada titik penekanan yang amat esensial dalam Pendidikan Agama Islam . Titik penekanan tersebut lebih merupakan sebuah rangkaian filosofis di Mana harapan dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah Manusia beriman dah berakhlak. Dikatakan demikian, karena seperti yang telah disinggung sebelumnya Pendidikan Agama Islam adalah sebuah bentuk usaha sadar yang terncana dan memiliki hubungan erat dengan perubahan dalam masyarakat. Jadi sebenarnya antara beriman dan berakhlak merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisah.
Menurut ajaran Islam, melaksanakan pendidikan Agama merupakan perintah dari Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah SWT:
اِةَنَسَلْثْ اِةَظِعثْوَلمثْ َواِةَ ثْ ِثْلْ ِ اَك َراِلثْيِبَسا َلَِ اُعثْدُأ (
لحنل ا:
125 )
Artinya: "ajaklah kepada Agama Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan dengan nasehat yang baik (Q.S. An- Nahl: 125)."11
Dijelaskan juga dalam Hadist antara lain:
اُوُن َس جَُيُاثْوَأاُوَن َر صَنُ ياثْوَأاُوَن ُد وَهُ ياُه َوَ َأَفاِةَرثْطِفثْل اىَلَعاُدَلثْوُ ياٍدثْوُلثْوَ اُّلُك (
ىقهي ا اه ور )
ا
Artinya: "setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR.Imam Baihaqi)12."
11 Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 385-387.
12 Imam Bukhari,Shahih Bukhari,hadist nomor 1296,(Beirut Dar al-Ma‟arif,t.th.,)
Ayat dan Hadist tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam ajaran Islam memang ada perintah untuk mendidik agama, baik kepada keluaga, maupun kepada orang lain sesuai dengan kemampuannya (walaupun hanya sedikit)13.
c. Aktivitas Pengelolaan Pembelajaran
Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu. Definisi pengelolaan oleh para ahli terdapat perbedaan-perbedaan. hal ini disebabkan karena para ahli meninjau pengertian dari sudut yang berbeda- beda. Ada yang meninjau pengelolaan dari segi fungsi, benda, kelembagaan dan yang meninjau pengelolaan sebagai suatu kesatuan. Namun jika dipelajari pada prinsipnya definisi- definisi tersebut mengandung pengertian dan tujuan yang sama.
Pengelolaan adalah suatu rangkai kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian pengerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sedangkan menurut Corey
13Zuhairi dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang : UM Press, 2004), hal. 11-12
Pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan14.
Pengelolaan Pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan proses panjang yang dimulai dengan perencanaan, pengorganisasian dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, waktu dan personel yang diperlukan.
Sedang pengorganisasian merupakan pembagian tugas kepada personel yang terlibat dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran, pengkoordinasian, pengarahan dan pemantauan. Evaluasi sebagai proses dilaksanakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dicanangkan, faktor pendukung dan penghambatnya.
Pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase proses pembelajaran yang dimaksud meliputi:
tahap perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Adapun dari ketiganya ini akan dibahas sebagaimana berikut:
1) Perencanaan
Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang optimal dalam pembelajaran. Perencanaan merupakan proses
14Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung : Alfabeta, 2003), hal. 61.
penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran.
Begitu pula dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode yang akan di gunakan15.
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut 16:
a) Analisis Hari Efektif dan analisis Program Pembelajaran
b) Membuat Program Tahunan, Program Semester dan Program Tagihan
c) Menyusun Silabus
d) Menyusun Rencana Pembelajaran e) Penilaian Pembelajaran
2) Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap penerapan atas desain perencanaan yang telah dibuat guru. Hakikat dari tahap
15Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 91
16Siti Kusrini, dkk, Keterampilan Dasar Mengajar (PPL 1), Berorientasi Pada Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Malang : Fakultas Tarbiyah UIN Malang, 2005), hal. 130-139.
pelaksanaan adalah kegiatan operasional pembelajaran itu sendiri.
Dalam tahap ini, guru melakukan interaksi belajar-mengajar melalui penerapan berbagai strategi metode dan teknik pembelajaran, serta pemanfaatan seperangkat media.
Dalam proses ini, ada beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh seorang guru, diantaranya ialah:
a. Aspek pendekatan dalam pembelajaran
b. Aspek Strategi dan Taktik dalam Pembelajaran c. Aspek Metode dan Teknik dalam Pembelajaran d. Prosedur Pembelajaran
3) Evaluasi
Pada hakekatnya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan memberikan pengaruh dalam dua bentuk17:
a. Peserta akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas perilaku yang diinginkan;
b. Mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi kesenjangan antara penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah laku yang diinginkan.
Pada tahap ini kegiatan guru adalah melakukan penilaian atas proses pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi adalah alat untuk
17E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung : PT.
Remaja Rosdakarya, 2004), hal.169.
mengukur ketercapaian tujuan. Dengan evaluasi, dapat diukur kuantitas dan kualitas pencapaian tujuan pembelajaran. Sebaliknya, oleh karena evaluasi sebagai alat ukur ketercapaian tujuan, maka tolak ukur perencanaan dan pengembangannya adalah tujuan pembelajaran.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran, Moekijat seperti dikutip Mulyasa mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai berikut: “(1) Evaluasi belajar pengetahuan, dapat dilakukan dengan ujian tulis, lisan, dan daftar isian pertanyaan; (2) Evaluasi belajar keterampilan, dapat dilakukan dengan ujian praktek, analisis keterampilan dan analisis tugas serta evaluasi oleh peserta didik sendiri; (3) Evaluasi belajar sikap, dapat dilakukan dengan daftar sikap isian dari diri sendiri, daftar isian sikap yang disesuaikan dengan tujuan program, dan skala deferensial sematik (SDS)”.
Apapun bentuk tes yang diberikan kepada peserta didik, tetap harus sesuai dengan persyaratan yang baku, yakni tes itu harus:
a) Memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau dinilai, terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang telah dikaji);
b) Mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh seorang peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama);
c) Menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur, di samping perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang tidak ada hubungannya dengan maksud tes);
d) Pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis18.
2. Konsep Spiritual Quotient
a. Pengertian Spiritual Quotient
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan kalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur.19
Sementara menurut Khalil Khavari yang di kutip Agus Ngermanto kecerdasan spiritual adalah fakultas dari dimensi nonmaterial kita-ruh manusia. Inilah intan yang belum terasah yang kita semua memilikinya.Kita harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya sehingga mengkilap dengan tekad yang besar dan menggunakanya untuk memperoleh kebahagiaan abadi.Seperti dua kecerdasan lainya, kecerdasan spiritual dapat ditingkatkan dan diturunkan. akan tetapi kemampuanya untuk ditingkatkan tampaknya tidak terbatas.20
18 E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum. 171.
19Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam,(Jakarta: PT Grafindo Jakarta 2001) 329-330.
20Agus Ngermanto, Quantum Quotient cara praktis melejitkan IQ,EQ dan EQ yang harmonis.
(Bandung : Nuansa.2002) hal 117
Menurut Al-Ghazali dalam bukunya Abdullah Hadziq, bahwa di dalam diri manusia terdapat potensi psikis yang bersifat ketuhanan (rabbaniyah), jika potensi rabbaniyah di kembangkan secara maksimal maka seseorang sangat mungkin memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan spiritual dapat membawa implikasi positif terhadap segala tingkah laku yang berbasis etika ketuhanan.21 Potensi rabbaniyah yang ada pada diri manusia ini sehingga menyebabkan dia berfikir siapa tuhannya, untuk apa dia hidup di dunia ini.
Kecerdasan spiritual (yang dikenal dengan istilah SQ atau Spiritual Quotient) menurut Danah Zohar dan Ian Marshal merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan hidup seseorang lebih bermakna dengan yang lain. Namun SQ pembahasannya baru sebatas tataran psikologi (biologi) semata, tidak bersifat transedental (ketauhidan), akibatnya masih dirasakan adanya kebuntuan. Sedangkan Ary Ginandjar Agustian dalam bukunya ESQ, mengatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (Kamil) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berpotensi hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala .22
21Hadziq, Meta kecerdasan, 3.
22Agustian, Rahasia Sukses ESQ,47.
Dari beberapa difinisi tentang kecerdasan spiritual dapat di ambil kesimpulan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberikan makna ibadah dalam setiap aktifitas kita melalui langkah- langkah yang slalu di ridhai Allah menuju manusia seutuhnya (insan kamil) dan memiliki pola pemukiran integralistik dan berbuat serta berprinsip semata-mata karena Allah Swt.
b. Kriteria Kecerdasan Spiritual
Seseorang bisa dikatakan mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi apabila memenuhi beberapa kriteria atau ciri diantaranya adalah sebagai berikut:23
1) Memiliki prinsip dan visi yang kuat
Prinsip adalah kebenaran yang hakiki dan fundamental yang memiliki aplikasi universal. Prinsip selalu berlaku bagi setiap individu, perkawinan, keluarga, organisasi swasta dan pemerintah.
2) Mampu melihat kesatuan dalam keberagaman
Realitas materi yang kita hadapi sepanjang hidup nampak jelas beragam, unik, berbeda satu sama lain. Bahkan kita sama-sama satu spesies manusia, satu sama lain saling berbeda. Ada orang Jawa, Sunda, Cina, India, Amerika, Inggris, Arab dan lain-lain yang kesemuanya saling berbeda, alam materi ini menampakkan beragam perbedaan.
3) Mampu memaknai setiap sisi kehidupan
23Ngermanto, Quantum Quotient, 132.
Makna bersifat substansial, berdimensi spiritual, makna adalah penentu identitas sesuatu yang paling signifikan. Seorang pembohong memproduksi gelombang-gelombang suara sampai ke telinga kita, tetapi kita tidak senang dibohongi. Seorang alim memproduksi gelombang-gelombang suara sampai ke telinga kita dan menyentuh hati. Gelombang suaranya sama tetapi maknanya berbeda. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi menemukan makna terdalam dari segala sisi kehidupan.
4) Mampu mengelola dan bertahan dalam setiap kesulitan.
Menurut Muthahhari, pengaruh dari penderitaan dan kesulitan lebih dari sekedar menjadikan substansi yang tertutup tirai, tak ubahnya seperti barang tambang yang tersembunyi di bawah tanah, dan pengaruh dari penderitaan dan kesulitan adalah menjadikan sesuatu yang ada di bawah tanah itu menjadi tampak. Lebih dari itu penderitaan dan kesulitan mempunyai pengaruh menyempurnakan, mengganti dan mengubah.
5) Hidup dalam kesendirian dan bermasyarakat.
Nabi Muhammad, tokoh spiritual nomor wahid dalam Islam, sejak usia muda memiliki kebiasan menyendiri di gua memisahkan diri dari kebisingan kota. Dalam kesendirian ini pencerahan-pencerahan spiritual terjadi. Seseorang dapat menjalin hubungan yang paling intim dengan hakekat diri terdalamnya, atau dengan Tuhannya.
6) Mempunyai gerak tumbuh.
Gerak perubahan ini adalah potensi bagi manusia untuk maju, kita memiliki pilihan untuk bergerak maju, atau bergerak sebaliknya.
Bergerak maju berarti bergerak pada spiral ke atas, bergerak terus- menerus menyempurnakan diri, memperbarui diri.
Menurut Profesor Khalil A Khavari, ada beberapa aspek yang menjadi dasar Spiritual Quotient :
1) Sudut pandang spiritual keagamaan artinya semakin harmonis spiritual keagamaan kita ke hadirat Tuhan, semakin tinggi pula tingkat dan kualitas spiritual kita.
2) Sudut pandang relasi sosial keagamaan artinya kecerdasan harus di refleksikan pada sikap-sikap sosial yang menekankan segi kebersamaan dan kesejahteraan sosial.
3) Sudut pandang etika sosial. Semakin beradab etika sosial manusia semakin berkualitas spiritualnya.24
Karena itu seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual, biasanya memiliki dedikasi kerja yang lebih tulus dalam melakukan kegiatan- kegiatan atau aktifitas di sekolah, ia lakukan dengan ikhlas hanya karena Allah semata. Dengan kata lain orang yang cerdas secara spiritual adalah orang-orang yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai Ilahiyah sebagai manifestasi dari aktifitasnya dalam kehidupan sehari-hari dan berupaya mempertahankan keharmonisan dan keselarasan dalam kehidupanya sebagai wujud dari pengalamanya terhadap tuntutan fitrahnya sebagai makhluk yang
24Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia “Kecerdasan Spiritual”mengapa SQ lebih penting dari pada IQ dan EQ,(Jakarta,PT Gramedia Pustaka Utama,2002), hal 82-84.
memiliki ketergantungan terhadap kekuatan yang berada di luar jangkauan dirinya, yaitu Sang Maha Pencipta.
c. Langkah-langkah dalam meningkatkan Spiritual Quotient
Kecerdasan spiritual sama juga dengan kecerdasan yang lain, yakni sama-sama bisa ditingkatkan dari yang levelnya rendah ke yang levelnya tinggi atau dengan kata lain dari yang “bodoh” secara spiritual menjadi
“cerdas” secara spiritual. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall ada tujuh langkah praktis untuk mendapatkan kecerdasan spiritual lebih baik atau lebih tinggi, diantara langkah-langkah tersebut antara lain:25 menyadari situasi, ingin berubah, mengenali diri, menyingkirkan hambatan, disiplin, makna terus-menerus, dan hormati mereka.
1) Menyadari situasi
Kita harus menyadari di mana kita sekarang, seperti bagaimana situasi kita saat ini?, apakah kita membahayakan diri sendiri atau orang lain?, langkah ini menuntut kita untuk menggali kesadaran diri, yang pada proses selanjutnya menuntut kita menggali kebiasaan merenungkan pengalaman.
2) Ingin berubah
Jika hasil dari renungan kita mengatakan ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dari sebelumnya, kita harus ingin berubah, berjanji dalam hati untuk berubah. Hal ini akan menuntut kita untuk memikirkan secara
25 Danah Zohar dan Ian Marshall,2005. Spiritual Capital: Memberdayakan SC di Dunia Bisnis, Terj. Helmi Mustofa ,Bandung: Mizan. 231-233.
jujur apa yang harus kita tanggung demi perubahan itu dalam bentuk energi dan pengorbanan.
3) Mengenali diri
Langkah berikutnya membutuhkan tingkat perenungan lebih dalam, kita harus mengenali diri sendiri, letak pusat kita, dan motivasi kita yang paling dalam. Jika kita mati minggu depan apa yang akan kita lakukan?
Jika kita diberi waktu satu tahun lagi, apa yang akan kita lakukan dengan waktu tersebut.
4) Menyingkirkan hambatan
Karena begitu banyaknya hambatan sehingga kita sulit untuk mendeteksi hambatan-hambatan tersebut, oleh karena itu buatlah daftar hal yang menghambat dan mengembangkan pemahaman tentang bagaimana kita dapat menyingkirkan penghalang-penghalang ini. Baik berupa tindakan sederhana, seperti kesadaran atau ketetapan hati, atau perasaan muak terhadap diri sendiri. Langkah ini sering diabaikan, namun sangat penting dan membutuhkan perhatian terus menerus.
5) Disiplin
Pada tahap ini, kita perlu menyadari berbagai kemungkinan untuk bergerak maju. Curahkan usaha mental dan spiritual untuk menggali sebagian kemungkinan ini.
6) Makna terus-menerus
Pada tahap ini kita harus menetapkan hati pada satu jalan dalam kehidupan dan berusaha menuju pusat sementara kita melangkah di jalan
itu. Apakah kita telah mengambil manfaat sebanyak mungkin dari setiap situasi, apakah kita merasa damai dan puas dengan keadaan sekarang, apakah ada makna kita di sini.
7) Hormati mereka
Dan langkah yang terakhir adalah sementara kita melangkah di jalan yang kita pilih sendiri, kita harus tetap sadar bahwa masih ada jalan-jalan yang lain. Kita menghormati mereka yang melangkah di jalan-jalan tersebut, dan apa yang ada dalam diri kita sendiri yang di masa mendatang mungkin perlu mengambil jalan lain.
d. Spiritual Quotient Dalam Islam
Dalam konsep Islam dikatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah dalam setiap prilaku dan kegiatan, melalui perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip hanya karena Allah.26
Selain itu Spiritual quotient mendidik hati kita kedalam akal budi pekerti yang baik dan moral yang beradab. Kecerdasan spiritual menjadi guidance manusia untuk menapaki hidup secara sopan dan beradab.
Menginteralisasikan moral dan budi pekerti yang baik dan sekaligus
26Agustina, Rahasia Sukses ESQ, 57.
menginternalisasikanya kedalam perilaku hidup sehari-hari berupa objek kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.27
Sesungguhnya spiritualisasi Islam adalah metode agama Islam dalam pembinaan jiwa dan pendidikan akhlak manusia, karena pokok ajarannya adalah bersumber dari ajaran Al-Qur‟an dan Hadist. Seperti penjelasan Al Quran tentang uswah atau keteladanan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dalam membangun kecerdasan Spiritual dalam surat Al Ahzab berikut ini:
اَ وَيلٱَواَونَّمَللٱاثْ وُجرَياَن َكانَ لاةَنَسَحاٌةَوسُأاِونَّمَللٱا ِلوُسَرا ِفِامُ َلاَن َكادَقنَّمَل ٱ يرِ َكاَونَّمَللٱاَرَكَذَواَرِ ٓ ا [ ٗ
ب زح اةروس ,
٢١ ]
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Al Ahzab21)"28 Dari ayat diatas, kita bisa megambil makna tersirat dari ayat tersebut, bahwa untuk membentuk Spiritual Qoutient, salah satu caranya adalah dengan memberikan keteladanan seperti yang di teladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, guru harus bisa menjadi contoh bagi para siswanya, karena dengan strategi tersebut akan lebih efektif dalam pembentukan karakter siswa, baik dari segi IQ, EQ maupun SQ siswa dari pada sekedar memberi contoh.
Selain uswah, dalam membangun karakter Spiritual. ada pula hadits yang menerangkan tentang proses pembelajaran dalam meningkatkan
27Sukidi, Rahasia Sukses,28-29.
28 Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 385-387.