BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Penelitian
Indikator untuk melihat kuantitas kerja yaitu mengenai banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh pegawai dalam kurun waktu yang telah ditentukan, meliputi jumlah pekerjaan dan kecepatan pelayanan.
Berdasarkan observasi awal peneliti menemukan kendala bahwa tidak adanya kotak surat aduan yang disediakan oleh pihak Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang-Belang. Kategori ini mencakup seberapa cermat seorang pegawai mengejakan pekerjaannya. Setiap pegawai harus bekerja dengan giat dalam pelayanan bongkar muat yaitu seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu organisasi yang dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu masing-masing. Kuantitas kerja mengenai banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh pegawai dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jika jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan pegawai semakin banyak, maka semakin baik pula kinerja yang dihasilkan. Pegawai yang senantiasa berusaha menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, menunjukkan tanggung jawab yang sangat besar.
Bongkar muat adalah salah satu kegiatan yang dilakukan dalam proses forwading (pengiriman) barang. Yang dimaksud dengan kegiatan muat adalah proses memindahkan barang dari gudang, menaikan lalu menumpuknya di atas kapal lalu menyusunya di dalam gudang atau stockpile atau container.
Sedangkan untuk Lingkup kegiatan bongkar muat meliputi:
80
a. Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke dermaga/tongkang/truk atau memuat dari dermaga tongkang/truk kedalam kapal sampai dengan tersusun dalam palka dengan menggunakan derek palka atau Derek darat.
b. Cargodoring adalah pekerjaan melepaskan barang dari tali/jala-jala (ex tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang atau lapangan penumpukan barang atau sebaliknnya.
c. Receiving/Delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari timbunan/tempat penumpukan di gudang/lapangan penumpukan dan menyerahakan sampai tersususn di atas kendaraan di pintu gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknnya.
Kecepatan bongkar Muat Barang merupakan kecepatan kerja bongkar muat barang dari kapal ke dermaga dan atau sebaliknya. Kecepatan kerja bongkar muat kapal tergantung pada jumlah siklus (hook cycle) setiap jam dan berat barang yang diangkut dalam setiap siklus. Jadi kecepatan Bongkar Muat dapat dilihat berdasarkan kecepatan jumlah siklus (hook cycle) / siklus ganco, sedangkan hook cycle time adalah waktu yang diperlukan dalam proses memindahkan barang dari palka ke dermaga dalam satu siklus. Satu siklus hook adalah dimulai dari mengaitkan ganco kemuatan di dalam palka kapal `kemudian mengangkat barang tersebut ke dermaga, lalu ganco dilepaskan, dan seterusnya ganco kembali keddalam palka. Semakin cepat kerja per hook cycle maka semakin banyak kegiatan bongkar muat yang
dihasilkan dan ini dapat diukur berdasarkan satu waktu periode tertentu (jam, hari, bulan tahun).
Kecepatan pemberian pelayanan yang diberikan oleh pegawai dalam proses bongkar muat apakah sudah baik serta prosedur yang ada tidak berbelit-belit dan sesuai dengan SOP yang ada sehingga berjalan dengan efektif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, oleh Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan Belang-Belang mengatakan terkait kemampuan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dengan kuantitas yang baik, sehingga para pegawai senantiasa berusaha memberikan hasil kerja yang baik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Mangkunegara (Lie & Siagian, 2018), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, dan merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Kecepatan bongkar muat sangat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya seperti jumlah siklus dalam satuan jam dan berat rata-rata muatan serta pemilihan peralatan yang tepat, ketersedian tenaga kerja bongkar muat (TKBM) dengan SDM yang sesuai, gudang/lapangan penumpukan yang sudah siap, kondisi jalan untuk lalu lintas mobil pengangkut tidak ada yang menghalangi serta cuaca yang cerah. Dengan demikian apa yang diharapkan dalam kegiatan bongkar muat akan tercapai bahkan mungkin lebih dari yang diharapkan., kegiatan bongkar muat merupakan kegiatan dalam upaya memindahkan, memindahkan sementara, menggeser muatan dari satu tempat
82
ke tempat yang lain/ dari container yard ke container yard (CY), dari satu kapal ke dermaga/tongkang/truk atau sebaliknya.
Mengenai kecepatan pelayanan ditanggapi baik oleh beberapa pengguna jasa seperti Nahkoda, bahwa kecepatan pemberian pelayanan sudah baik, prosedur yang ada tidak berbelit-belit serta sesuai dengan SOP yang ada. Pendapat dari beberapa informan didukung oleh hasil observasi peneliti saat petugas kantor menerima informasi bahwa ada kapal yang akan segera berlabuh, maka dengan sigap mereka mempersiapkan segalanya dengan baik dan mengerjakannya dengan cepat meskipun menggunakan tenaganya sendiri. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Hariandja (Lie & Siagian, 2018), kinerja adalah hasil kerja yang dihasilkan oleh pegawai atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai dengan perannya dalam organisasi.
Dalam hal ini Pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang-Belang senantiasa memberikan pelayanan dengan baik, dengan kuantitas yang tidak diragukan lagi, serta sikap yang ramah dan tutur kata yang sopan saat berkomunikasi kepada para pengguna jasa saat mereka menunggu proses bongkar muat barang selesai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kuantitas kerja tenaga kerja bongkar muat (TKBM) sudah baik.
2. Kualitas Kerja
Indikator untuk melihat kualitas kerja yaitu penyelesaian pekerjaan dan keterampilan dalam berkeja. Berdasarkan observasi awal peneliti terkendala dalam menentukan sub indikator untuk melihat kualitas kerja pegawai karena tidak adanya sosialisasi mengenai kinerja para pegawai di kantor tersebut.
Namun seiring berjalannya penelitian, peneliti menemukan proses pelayanan bongkar muat yang dilakukan oleh pegawai selalu dikerjakan dengan baik sehingga para pengguna jasa merasa puas dengan kinerjanya. Pegawai Pelabuhan Belang-Belang selalu berhati-hati dalam memindahkan barang, selalu mengadakan cek ulang mengenai kelengkapan barang yang di bongkar muat. Setiap pegawai dalam pelayanan bongkar muat mencerminkan seberapa baik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Baik yang dimaksud di sini adalah ketepatan dalam melaksanakan pekerjaan, artinya adanya kesesuaian antara rencana kerja dengan sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Kelengkapan adalah kelengkapan ketelitian dalam melaksanakan pekerjaannya sedangkan, kerapian adalah kerapian dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya.
Konsep kualitas atau mutu dipandang sesuatu yang relatif, yang tidak selalu mengandung arti yang bagus, baik, dan sebagainya. Kualitas atau mutu dapat mengartikan sifat-sifat yang dimiliki oleh jasa yang menunjukkan kepada pelanggan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Kualitas kerja merupakan suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam pencapaian tujuan atau sasaran organisasi dengan baik dan berdaya guna.
Berdasarkan keputusan Menteri perhubungan No.KM.88/AL.305/Phb85 tentang Perusahaan Bongkar Muat Barang dari dan ke kapal menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan meliputi:
84
1. Kegiatan Stevedoring yaitu kegiatan jasa pelayanan membongkar dari/ke kapal, dermaga, tongkang, truk atau memuat dari/ke dermaga. Tongkang, truk, dermaga, tongkang, truk ke/dalam palka kapal dengan mengunakan Derek kapal.
2. Shifting adalah memindahkan muatan di dalam palka yang sama atau palka yang berbeda atau lewat darat.
3. Lashing/unlashing adalah mengikat/memperkuat muatan atau sebaliknya, melepas ikatan/penguat muatan.
4. Dunnaging adalah memasang alat/memisah muatan (dunnage separation)
5. Sweeping adalah mengumpulkan muatan-muatan yang tercecer.
6. Bagging/unbagging adalah memasukan muatan curah kekarung atau sebaliknya, yaitu mencurah muatan dari karung.
7. Restowage adalah menyusun kembali muatan di dalam palka kapal.
8. Sorting adalah pekerjaan memilih/memisahkan muatan yang tercampur atau muatan yang rusak.
9. Trimming adalah meratakan muatan dalam palka kapal.
10. Cleaning adalah pekerjaan membersihkan palka kapal.
11. Opening/closing hatches adalah membuka/menutup palka kapal
12. Rain-tent cover up adalah pekerjaan menutup palka dengan menggunakan plastik/tenda hujan pada waktu hujan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, oleh petugas staf kepegawaian mengatakan bahwa dalam proses pelayanan bongkar muat yang dilakukan
oleh pegawainya selalu dikerjakan dengan baik sehingga para pengguna jasa merasa puas dengan kinerja mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Siagian (Nasution, 2018) mengatakan bahwa kualitas kerja atau yang dikenal dengan istilah Quality Of Worklife (QWL) sebagai upaya yang sistematik dalam kehidupan organisasional melalui cara dimana para karyawan diberi kesempatan untuk turut berperan menentukan cara mereka bekerja dan sumbangan yang mereka berikan kepada organisasi dalam rangka pencapaian tujuan dan ber bagai sasarannya.
Mereka sebagai pegawai selalu berhati-hati dalam memindahkan barang, selalu mengadakan cek ulang mengenai kelengkapan barang yang di bongkar muat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Flippo (Nasution, 2018) mengatakan bahwa inti dari kualitas kerja adalah suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam pencapaian tujuan atau sasaran perusahaan denga baik dan berdaya guna.
Pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang- Belang senantiasa memberikan pelayanan dengan baik, Pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhann Belang-Belang menerapkan beberapa cara dalam pelayanan yakni: (1) selalu siap sedia, artinya saat seseorang memasuki kantor, pegawai harus segera mungkin untuk menyapa dan memperhatikan keperluannya, serta berhenti melakukan apapun jika itu tidak terlalu penting.
(2) Menyapa dengan cara yang bersahabat, dalam hal ini pegawai melakukan kontak mata, tersenyum, dan mengatakan sesuatu sesuai kebutuhan pengguna
86
jasa dipelabuhan. (3) Memberikan rasa hormat serta berperilaku sopan, artinya saat melakukan interaksi, pegawai senantiasa memperhatikan kebutuhan pengguna jasa, agar mereka juga merasa dihargai atas pelayanan yang diberikan. (4) Menutup interaksi layanan dengan tepat yakni memberikan beberapa pesan terhadap pengguna jasa apabila pelayanan yang diberikan telah selesai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja bongkar muat (TKBM) sudah berkualitas.
3. Pelaksanaan Tugas
Indikator untuk melihat pelaksanaan tugas yaitu konsisten dalam bekerja dan dapat berkeja dengan akurat. Berdasarkan observasi awal peneliti terkendala untuk melihat jadwal kerja para pegawai karena tidak adanya pembagian jadwal kerja pegawai yang ditempel pada papan pemberitahuan.
Namun untuk melihat seberapa jauh pegawai mampu melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan, maka pelaksanaan tugas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengawasan terhadap kelengkapan berkas persyaratan bongkar muatan barang, kecepatan merespon setiap kapal yang hendak berlabuh, dan pendampingan pengurusan berkas. Semua itu dilakukan dan mencapai target dalam waktu 24 jam dengan menyesuaikan pada jadwal kerja masing-masing.Dengan adanya pembagian jadwal kerja yang diterapkan pada pelayanan bongkar muat di Pelabuhan Belang-Belang maka setiap tugas dapat dicapai sesuai targetnya masing-masing.
Pelaksanaan tugas merupakan tingkat seberapa jauh pegawai mampu melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan. Setiap
pegawai melaksanakan tugasnya dalam pelayanan bongkar muat harus mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat. Komunikasi merupakan proses dimana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi antar satu sama lain. Dengan komunikasi yang efektif, maka para pengguna jasa di pelabuhan dengan mudah menyampaikan setiap keluhan yang dirasakan kepada para pegawai. Indikator untuk melihat pelaksanaan tugas yaitu seberapa jauh pegawai mampu melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan. Dengan adanya pembagian jadwal kerja yang diterapkan pada pelayanan bongkar muat di Pelabuhan Belang-Belang maka setiap tugas dapat dicapai sesuai targetnya masing-masing.
Berdasarkan jenis kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan tersebut, dapat diketahui bahwa pada hakekatnya ruang lingkup kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan terdiri dari 3 bentuk kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal. Mengingat dari ketiga kegiatan pemindahan barang di pelabuhan tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan secara bersamaan waktunya, maka lebih lanjut lampiran Inpres No. 3 tahun 1991 tentang Kebijaksanaan Kelancaran Arus Barang untukMenunjangKegiatan Ekonomi, telah mengatur jadwal kegiatan pemuatan barang sebagai berikut:
1. Giliran Kerja I : pukul 08.00-16.00 2. Giliran Kerja II : pukul 16.00-24.00 3. Giliran Kerja III : pukul 24.00-08.00
Menurut Winardi (Utami, 2017), ada beberapa indikator untuk menilai serta mengukur pelaksanaan tugas maupun kinerja dari pegawai yaitu: (1)
88
pemanfaatan waktu yang tepat; (2) jumlah output; (3) kesediaan untuk bekerjasama; (4) kualitas pekerjaan. Dengan adanya pembagian giliran kerja (shift) dalam kegiatan pemuatan barang di pelabuhan tersebut, menunjukkan adanya upaya pemerintahan (Departemen Perhubungan) dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan bongkar muat barang di pelabuhan, di samping untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada para pemakai jasa bongkar muat barang, dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas serta pelayanan kegiatan bongkar muat barang tersebut, maka dimungkinkan mampu meningkatkan kelancaran arus barang dan keamanan lalu lintas di pelabuhan.
4. Tanggung Jawab
Indikator untuk melihat tanggung jawab pegawai dalam melakukan pekerjaannya dalam pelayanan bongkar muat yaitu harus sesuai dengan tugas yang telah diberikan kepadanya serta bekerja secara tekun. Berdasarkan observasi awal peneliti terkendala untuk melihat absensi pegawai karena tidak adanya absensi manual yang bisa diakses langsung oleh peneliti. Pegawai Pelabuhan Belang-Belang melakukan pekerjaannya dalam pelayanan bongkar muat harus sesuai dengan tugas yang telah diberikan kepadanya. Saat kapal tiba persiapannya mulai dari penunjukan PBM, perijinan ke KsOP, persiapan alatnya semuanya dalam posisi siap. Selain itu tenaga kerja bongkar muat juga selalu dalam posisi siap, dan menanti datangnya kapal. Setiap pegawai selalu siap dalam posisinya masing-masing saat jam kerja, Tanggung jawab yang dimiliki setiap pegawai harus dijalankan dan memenuhi tanggung jawab
mereka dengan sangat baik. Ketika tanggung jawab terabaikan, maka hal-hal penting seperti kesehatan, keselamatan, hak atas upah (gaji), kesempatan karier, dan bagian-bagian penting lainnya juga akan terabaikan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dan memahami segala tanggung jawab yang dimiliki di tempat kerja.
Sebagaimana telah dirumuskan di dalam Inpres No. 3 Tahun 1991 tentang Kebijaksanaan Kelancaran Arus Barang untuk Menunjang Kegiatan Ekonomi berikut peraturan pelaksanannya, maka tanggung jawab pelaksanaan pemuatan dan pembongkaran barang angkutan dari dan ke kapal tidak lagi menjadi beban pihak perusahaan pelayaran (pengangkut), melainkan dilimpahkan kepada Perusahaan Bongkar Muat Barang (PBM). Dengan demikian batas tanggung jawab PBM dalam menyelenggarakan kegiatannya antara lain meliputi:
a. Tercapainya kelancaran dan keselamatan kegiatan bongkar muat barang angkutan, berikut penyerahan barang dan penerimaan barang angkutan.
b. Terjaminnya keselamatan kerja dari para tenaga kerja PBM selama melaksanakan kegiatan bongkar muat baran angkutan.
c. Tersedianya peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan kegiatan bongkar muat barang angkutan yang memadai.
d. Terselesaikannya kewajiban PBM terhadap Perum Pelabuhan.
e. Terjaminnya kebenaran dari isi laporan kegiatan bongkat muat barang angkutan.
Berdasarkan hasil penelitian, oleh petugas staf kepegawaian mengatakan bahwa, sebelum kapal tiba persiapannya mulai dari penunjukan PBM, perijinan
90
ke KsOP, persiapan alatnya semuanya dalam posisi siap. Selain itu tenaga kerja bongkar muat juga selalu dalam posisi siap, dan menanti datangnya kapal.
Setiap pegawai selalu siap dalam posisinya masing-masing saat jam kerja, karena manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan kondisi yang menuntut adanya sikap tanggung jawab pada setiap perannya. Adapun intruksi dalam segala bentuk pelayanan terutama bongkar muat meliputi 5 jenis, yaitu (1) didalam segala jenis pengurusan dokumen dilarang menggunakan perantara (calo), (2) tidak ada pungutan biaya kecuali yang telah ditentukan didalam peraturan pemerintah nomor 15 tahun 2016 tentang penerimaan negara bukan pajak (PNBP), (3) apabila ada oknum (pegawai) yang melakukan kerjasama dengan pengurus (calo) maka harus menanggung resikonya sendiri, (4) agen pelayaran maupun perorangan dilarang memberikan sesuatu apapun namanya kepada petugas. (5) diperintahkan kepada seluruh pegawai kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Belang-Belang agar dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada pengguna jasa Pelabuhan.
Menurut Sultan (Yusuf, 2018) mengemukakan bahwa tanggung jawab dalam meningkatkan prestasi kerja mencakup : bekerja secara tekun dan berdedikasi tinggi, memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, bertanggung jawab, mengkoordinasikan dalam sumber daya organisasi, bekerja secara efisien dan efektif sesuai analisis organisasi, memberikan solusi pada manajemen organisasi sebagai andil tanggung jawab memberdayakan dan mendayagunakan organisasi. Pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan
Kelas III Belang-Belang sangat bertanggungjawab terhadap pekerjaannya masing-masing, maka dari itu tenaga kerja bongkar muat (TKBM) selalu mendapatkan apresiasi dari para pimpinan mengenai laporan yang masuk tentang kinerjanya.
5. Kemampuan
Indikator untuk melihat kemampuan pegawai yaitu setiap pegawai harus paham dengan tugas yang telah diberikan, mencakup pemahaman dalam melakukan bongkar muat dan pemahaman melihat kekurangan dalam pelayanan bongkar muat tersebut serta ketercapaian target yang sudah ditentukan tersebut. Berdasarkan observasi awal peneliti terkendala pada penentuan SOP yang berlaku di Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang-Belang. Namun hasil penelitian menunjukkan, pegawai di Pelabuhan Belang-Belang cukup memiliki kemampuan masing-masing dalam melaksanakan tugasnya, seperti saat melakukan pelayanan mereka sudah paham betul apa yang menjadi persyaratan kapal yang berlabuh, berkas bongkar muatan barang. Semuanya sudah paham akan tanggungjawabnya, meskipun begitu para pegawai tetap antusias mengikuti segala arahan dari pimpinan, serta ikut aktif dalam berbagai pelatihan yang dilakukan.
Kegiatan bongkar muat dilakukan oleh tenaga kerja bongkar muat yang dikelola oleh koperasi. Tenaga kerja bongkar muat bertugas memasang atau melepaskan peti kemas pada alat pengangkat atau hook crane. Potensi bahaya yang sering terjadi pada tenaga kerja bongkar muat maupun operator crane antara lain terjepit beban, tertimpa beban, dan terpleset saat naik tangga.
92
Tugas dan tanggung jawab Supervisi PBM, yaitu (1) Foreman adalah tenaga kerja harian lepas, tugas dan tanggung jawabnya melaksanakan dan mengatur penataan barang didalam palka/dermaga pada kegiatan bongkar muat dari dan ke kapal/dermaga/gudang/lapangan penumpukan barang atau sebaliknya dan bertanggung jawab atas kesetabilan kapal dan mambuat laporan periodik hasil kegiatan bongkar muat pada setiap pergantian shift. (2) Asisten Foreman adalah tenaga kerja harian lepas, tugas dan tanggung jawabnya membantu melaksanakan tugas-tugas Foreman dan tanggung jawab atas pembuatan laporan periodik hasil kegiatan abongkar muat pada setiap pergantian shift. (3) Tallyman adalah tenaga kerja haria lepas, tugas dan tanggung jawabnya mencatat pergerakan kegiatan bongkar muat per palka, merk dan kondisi setiap gerakan barang berdasrkan dokumen serta membuat laporan ada setiap pergantian shift. (4) Administrasi Operasional adalah tenaga harian lepas, Tugas dan tanggung jawab melaksanakan dan melakukan pencatatan jumlah barang, nomor kendaraan berdasarkan surat pengiriman yang telah di buat atau di bongkar serta membuat laporan harian hasil kerja bongkar muat pada setiap pergantian shift. (5) Mandor Harian adalah tenaga kerja harian lepas, tugas dan tanggung jawabnya melakukan pelaksanaan pengaturan dan kebutuhan tenaga kerja harian koordinasi foreman dan stevedore serta membuat laporan jumlah orang yang digunakan kepada stevedore pada setiap pergantian shift. (6) Tenaga Harian adalah tenaga kerja harian lepas, tugas dan tanggung jawabnya membuat pelaksanaan kegiatan bongkar muat, membersihkan dermaga dan tugas-tugas lain yang diberikan
oleh Mandor. (7) Tenaga Peralatan adalah tenaga harian lepas, tugas dan tanggung jawabnya menyiapkan/memperbaiki dan mencatat peralatan bongkar muat yang sedang berjalan.
Menurut Robbins (Shafiah & Yudo, 2017), kemampuan kerja menunjukkan kecakapan seseorang seperti kecerdasan dan keterampilan.
Kemampuan berhubungan erat dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan. Ketidakberadaan hal seperti ini dapat mempengaruhi peningkatan kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian, petugas pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan mengatakan bahwa tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Belang-Belang cukup memiliki kemampuan masing-masing dalam melaksanakan tugasnya, semuanya sudah paham akan tanggungjawabnya, meskipun begitu para pegawai tetap antusias mengikuti segala arahan dari pimpinan, serta ikut aktif dalam berbagai pelatihan yang dilakukan.
6. Ketepatan Waktu
Indikator untuk melihat ketepatan waktu pegawai dalam melakukan pekerjaannya adalah mengatur langkah-langkah tindakan menggunakan waktu yang sudah disediakan seoptimal mungkin agar tugas-tugas yang seharusnya diselesaikan tidak tertunda. Berdasarkan observasi awal peneliti terkendala dalam melihat pegawai yang sedang bertugas karena tidak adanya jadwal kerja yang dapat dilihat secara langsung oleh peneliti, selain itu peneliti juga masih belum mengenal para pegawai di Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang-Belang tersebut. Pegawai Pelabuhan Belang-Belang melakukan
94
perkejaannya dengan sigap seperti saat melakukan persiapan untuk kapal yang ingin berlabuh, dan mengecek berkas pengguna jasa. Strategi mengelola waktu di kantor adalah mengatur langkah-langkah tindakan menggunakan waktu yang sudah disediakan seoptimal mungkin agar tugas-tugas yang seharusnya diselesaikan tidak tertunda. Mengelola penggunaan waktu di kantor yang efisien, selain membantu kelancaran kerja di kantor, juga terbebas dan pekerjaan lembur yang seharusnya tidak perlu. Demikian pula dengan pekerjaan yang dapat diselesaikan tepat pada waktunya maka kepentingan orang lain yang terkait dengan pekerjaan kita tidak terganggu. Orang yang berhasil mengelola waktunya di kantor secara efisien, akan menjadi sebuah keunggulan tersendiri bagi yang bersangkutan dibanding orang lain. Dengan demikian ia memiliki waktu luang yang lebih untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bila dibandingkan dengan teman-temannya yang masih berkutat menyelesaikan tugasnya.
Sebab-sebab terjadinya keterlambatan bongkar muat antara lain: (1) Waktu yang terbuang untuk membawa muatan dari pertengahan lubang palka dimana muatan itu diletakkan oleh kait muat, ketempat penyusunan dalam palka atau sebaliknya. Salah satu cara untuk menghindari hal ini pada dewasa ini telah direncanakan untuk membuat dua buah palka atau lebih untuk satu ruangan muat, agar muatan-muatan yang diletakkan oleh kait muat menjadi lebih dekat ke tempat pemadatannya. (2) Waktu terbuang untuk memasang muatan pada kait muat (cargo hook). Kadang-kadang pekerja-pekerja yang menyiapkan muatan sudah selesai, kait muat belum siap. Dalam hal ini dibutuhkan