BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Pembahasan Peta
5.3.1. Peta MA Konduktivitas Low Penetration
Gambar 5.5 ini merupakan peta Konduktivitas Low Penetration yang dibentuk pada software Surfer berdasarkan data x, y dan z. Dimana pada peta ini nilai z adalah nilai dari konduktivitas low.
Gambar 5. 5. Peta MA Konduktivitas Low Penetration
Pada gambar 5.5 merupakan peta MA Konduktivitas Low Penetration dimana parameter bawah permukaan yang digunakan adalah parameter konduktivitas batuan. Semakin tinggi nilai konduktivitas suatu batuan maka semakin rendah pula resitivity dari suatu batuan begitupun sebaliknya. Peta ini digambarkan dengan menggunakan bantuan software Surfer dan interpolasi yang digunakan ialah triangulation with linear interpolation.
Peta MA Konduktivitas Low Penetration ini memiliki satuan fisis berupa mS/m yang menggambarkan nilai konduktivitasnya. Pada penelitian ini memiliki target atau tujuan untuk menemukan pipa besi pada bawah permukaan. Dapat dilihat pada peta terdapat anomali dengan nilai konduktivitas tinggi yang memanjang dengan arah baratlaut hingga tenggara. Anomali dengan nilai
23 konduktivitas tinggi tersebut diduga sebagai pipa besi sebab seperti yang diketahui bahwa medium besi merupakan konduktor yang baik sehingga memiliki nilai resitivity yang rendah dan nilai konduktivitas yang tinggi. Nilai konduktivitas tinggi yang diduga sebagai pipa besi tersebut memiliki rentang 11 hingga 16 mS/m yang ditandai oleh garis hitam pada gambar. Pada gambar 5.5 juga diberikan tanda lingkaran dimana pada lingkaran tersebut menunjukkan bahwa terdapatnya infiltrasi yang disebabkan oleh air hujan yang masuk kebawah permukaan dan menyebabkan meningkatnya nilai konduktivitas bawah permukaan. Anomali yang ditunjukkan oleh infiltrasi air hujan tersebut berupa anomali dengan warna hijau dengan range nilai 3 mS/m – 8 mS/m. Lalu warna ungu hingga biru tua pada peta merupakan batuan utama penyusun dari lokasi penelitian yang mana memiliki range nilai mulai dari -4 mS/m – 2mS/m.
24 5.3.2. Peta MA Konduktivitas High Penetration
Gambar 5.6 ini merupakan peta Konduktivitas High Penetration yang dibentuk pada software Surfer berdasarkan data x, y dan z. Dimana pada peta ini nilai z adalah nilai dari konduktivitas high.
Gambar 5. 6. Peta MA Konduktivitas High Penetration
Pada gambar 5.6 merupakan peta MA Konduktivitas High Penetration dimana parameter bawah permukaan yang digunakan adalah parameter konduktivitas batuan. Semakin tinggi nilai konduktivitas suatu batuan maka semakin rendah pula resitivity dari suatu batuan begitupun sebaliknya. Peta ini digambarkan dengan menggunakan bantuan software Surfer dan interpolasi yang digunakan ialah triangulation with linear interpolation.
Peta MA Konduktivitas High Penetration ini memiliki satuan fisis berupa mS/m yang menggambarkan nilai konduktivitasnya. Pada penelitian ini memiliki target atau tujuan untuk menemukan pipa besi pada bawah permukaan. Dapat dilihat pada peta terdapat anomali dengan nilai konduktivitas tinggi yang memanjang dengan arah baratlaut hingga tenggara. Namun, berbeda dengan anomali yang ditunjukkan oleh peta MA Konduktivitas Low Penetration dapat dilihat warna anomali tinggi tidak sedominan di konduktivitas low penetration. Hal
25 tersebut disebabkan oleh penetrasi yang digunakan, karena semakin tinggi penetrasi yang digunakan maka kedalaman yang didapatkan pula semakin dalam. Anomali dengan nilai konduktivitas tinggi tersebut diduga sebagai pipa besi sebab seperti yang diketahui bahwa medium besi merupakan konduktor yang baik sehingga memiliki nilai resitivity yang rendah dan nilai konduktivitas yang tinggi. Nilai konduktivitas tinggi yang diduga sebagai pipa besi tersebut memiliki rentang 4.5 mS/m hingga 7.5 mS/m yang ditandai oleh garis hitam pada gambar. Pada gambar 5.6 juga diberikan tanda lingkaran dimana pada lingkaran tersebut menunjukkan bahwa terdapatnya infiltrasi yang disebabkan oleh air hujan yang masuk kebawah permukaan dan menyebabkan meningkatnya nilai konduktivitas bawah permukaan.
Namun tidak seperti pada konduktivitas low penetration anomali dengan konduktivitas sedang yang ditandai warna hijau terlihat lebih pudar hal tersebut diduga air belum terseerap lebih dalam sehingga nilai konduktivitas akan lebih tinggi pada low penetration. Anomali yang ditunjukkan oleh infiltrasi air hujan tersebut berupa anomali dengan warna hijau dengan range nilai 1 mS/m – 3 mS/m.
Lalu warna ungu hingga biru tua pada peta merupakan batuan utama penyusun dari lokasi penelitian yang mana memiliki range nilai mulai dari -3.5 mS/m – 0 mS/m.
26 5.3.3. Peta MA Inphase Low Penetration
Gambar 5.7 ini merupakan peta In - Phase Low Penetration yang dibentuk pada software Surfer berdasarkan data x, y dan z. Dimana pada peta ini nilai z adalah nilai dari In – Phase Low.
Gambar 5. 7. Peta MA Inphase Low Penetration
Gambar 5.7 merupakan peta MA In - Phase Low Penetration dimana parameter bawah permukaan yang digunakan adalah parameter in - phase batuan.
Semakin tinggi nilai in - phase suatu batuan maka semakin tinggi pula kemampuan suatu batuan untuk termagnetisasi begitupun sebaliknya. Peta ini digambarkan dengan menggunakan bantuan software Surfer dan interpolasi yang digunakan ialah triangulation with linear interpolation.
Peta MA In – Phase Low Penetration ini memiliki satuan fisis berupa PPT yang menggambarkan nilai in – phase-nya. Pada penelitian ini memiliki target atau tujuan untuk menemukan pipa besi pada bawah permukaan. Dapat dilihat pada peta terdapat anomali dengan nilai in - phase tinggi yang memanjang dengan arah baratlaut hingga tenggara. Anomali tersebut terlihat sangat mencolok karena disekeliling anomali dengan nilai tinggi tersebut memiliki sebaran nilai yang jauh lebih rendah. Nilai in - phase tinggi yang diduga sebagai pipa besi tersebut memiliki
27 rentang 12 PPT hingga 16 PPT dan ditandai oleh garis hitam pada gambar. Nilai in – phase tersebut memberikan respon nilai yang tinggi dikarenakan material penyusun dari pipa besi tersebut adalah material yang ferromagnetik atau dapat termagnetisasi dengan baik. Juga terlihat terdapat perbedaan dengan peta MA Konduktivitas baik low maupun high penetration dimana anomali dari infiltrasi air tidak terlihat pada peta ini. Hal tersebut dapat terjadi karena air hujan tidak mempengaruhi kemampuan termagnetisasinya suatu batuan. Sehingga infiltrasi yang disebabkan oleh air hujan tidak terlihat pada peta MA In – Phase Low Penetration ini. Lalu pada peta terdapat dominasi warna ungu hingga biru tua yang merupakan batuan utama penyusun dari lokasi penelitian yang memiliki range nilai mulai dari 1 PPT – 5 PPT.
28 5.3.4. Peta MA Inphase High Penetration
Gambar 5.8 ini merupakan peta In - Phase Low Penetration yang dibentuk pada software Surfer berdasarkan data x, y dan z. Dimana pada peta ini nilai z adalah nilai dari In – Phase High.
Gambar 5. 8. Peta MA Inphase High Penetration
Gambar 5.8 merupakan peta MA In - Phase High Penetration dimana parameter bawah permukaan yang digunakan adalah parameter in - phase batuan.
Semakin tinggi nilai in - phase suatu batuan maka semakin tinggi pula kemampuan suatu batuan untuk termagnetisasi begitupun sebaliknya. Peta ini digambarkan dengan menggunakan bantuan software Surfer dan interpolasi yang digunakan ialah triangulation with linear interpolation.
Peta MA In – Phase High Penetration ini memiliki satuan fisis berupa PPT yang menggambarkan nilai in – phase-nya. Pada penelitian ini memiliki target atau tujuan untuk menemukan pipa besi pada bawah permukaan. Dapat dilihat pada peta terdapat anomali dengan nilai in - phase sedang hingga tinggi yang memanjang dengan arah baratlaut hingga tenggara. Anomali tersebut memiliki kesamaan dengan anomali yang ditunjukkan pada peta in – phase low penetration hanya saja
29 nilai anomali yang dominan pada high penetration cenderung sedang hingga tinggi.
Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan penetrasi yang dapat diduga bahwa anomali tersebut menggambarkan bagian bawah dari pipa besi dan menyebabkan nilai anomali akan berkurang pula seiring bertambahnya kedalaman. Nilai in - phase tinggi yang diduga sebagai pipa besi tersebut memiliki rentang 6 PPT hingga 7.5 PPT dan ditandai oleh garis hitam pada gambar. Namun, pada peta MA In – Phase High Penetration terlihat terdapat pola anomali sedang seperti pola anomali pada peta MA Konduktivitas Low dan High Penetration. Berbeda dengan interpretasi pada peta MA konduktivitas yang menyatakan anomali tersebut disebabkan oleh infiltrasi air hujan pada peta in – phase diduga nilai anomali sedang tersebut merupakan noise pada saat pengukuran yang dipengaruhi oleh logam – logam disekita lokasi pengukuran. Hal tersebut didasari karena air hujan tidak mempengaruhi kemampuan termagnetisasinya suatu batuan. Lalu pada peta terdapat dominasi warna ungu hingga biru tua yang merupakan batuan utama penyusun dari lokasi penelitian yang memiliki range nilai mulai dari 0.5 PPT – 2.5 PPT.
30
BAB VI PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Didasarkan dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan beberapa hal seperti berikut ini :
Pada 4 buah grafik yang merupakan perbandingan dari nilai konduktivitas dan in – phase terlihat bentuk grafik yang saling sesuai. Sehingga dapat dianggap bahwa pada daerah penelitian memiliki nilai respon yang tepat.
Pada 4 buah peta yang dihasilkan dapat disimpulkan saling memberikan respon yang berkaitan satu sama lainnya. Keberadaan pipa besi sama – sama ditunjukkan sebagai anomali dengan nilai konduktivitas serta in – phase yang tinggi.
Pada peta konduktivitas low penetration dugaan keberadaan pipa besi ditandai dengan nilai konduktivitas dengan range 11 mS/m - 16 mS/m.
Sedangkan untuk peta konduktivitas high penetration nilai konduktivitas pipa besi berada pada range 4.5 mS/m - 7.5 mS/m.
Pada peta in - phase low penetration dugaan keberadaan pipa besi ditandai dengan nilai konduktivitas dengan range 12 PPT hingga 16 PPT.
Sedangkan untuk peta konduktivitas high penetration nilai konduktivitas pipa besi berada pada range 6 PPT hingga 7.5 PPT.
Pada peta konduktivitas pula dapat dilihat keberadaan dari infiltrasi air dengan anomali berwarna hijau, hal tersebut disebabkan oleh air hujan yang membuat lonjakan nilai pada pengukuran hal tersebut karena air merupakan medium konduktif yang baik. Sedangkan pada peta in – phase high penetration terlihat nilai yang melonjak seperti pada peta konduktivitas, namun hal tersebut diduga sebagai noise karena hujan tidak mempengaruhi kemagnetan suatu batuan.
6.2. Saran
Metode Elektromagnetik merupakan salah satu komponen penting dari proses eksplorasi yang menjadi kemampuan utama seorang geofisikawan. Oleh
31 sebab itu, penting bagi seorang Geofisikawan untuk mengerti cara membuat serta mengolah data yang baik dan benar. Penting juga sebelum melakukan penelitian untuk memperbanyak pendalaman materi agar penelitian dapat berlangsung dengan baik.
32
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R. W. (1970). The Geology of Indonesia 2nd Edition. Netherlands: The Hague.
Chin, D. C., R, S. D., & Ball, R. E. (1999). Discrimination of Buried Plastic and Metal Objects in Subsurface Soil. New Jersey: World Scientific.
Corwin, D. L., & Lesch, S. M. (2003). Application of soil electrical conductivity to precision agriculture: theory, principle, and guidelines. Agronomy Journal.
Nurwihastuti, D. W. (2008). Integrasi Pemrosesan Citra ASTER dan Sistem Informasi Geografis untuk Kajian Geomorfologi Studi KAsus di Sebagian Daerah Istimewa Yogyakarta, Thesis, Program PAsca Sarjana Fakultas Geografi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Purrya, A., Muliadib, & Zulfiana. (2019). Identifikasi Sebaran Limbah Kelapa Sawit Di Desa Kuala Mandor A. PRISMA FISIKA.
Rahardjo, W., Sukandarrumidi, & Rosidi, H. M. (1995). Geological Map of The Yogyakarta Sheet, Jawa, Scale 1:100.000. Bandung: Geological Research and Development Centre .
Telford, M., Geldart, R., & Sheriff. (1976). Applied Geophysic. Cambridge University Press.
Unsworth, M. (2006). Overview of Electromagnetic Exploration Method.
Geophysics 424.
Untung, M., Udjang, K., & Ruswandi, E. (1973). Gayaberat di daerah Yogyakarta, Wonosari , Jawa Tengah. Geological Survey of Indonesia.
Wachisbu, M. I. M. (2015). Pemodelan Data Magnetotelurik dengan Remote Reference untuk Eksplorasi Cekungan Migas Studi Kasus : Lapangan Em- 4 (Vol. 4, Isssue 1). Skripsi. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Tidak diterbitkan.
33 LAMPIRAN A. TABEL KONDUKTIVITAS