Pada bab ini akan dijelaskan kesenjangan antara teori dan asuhan keperawatan secara langsung pada klien Ny. M dengan masalah keperawatan nyeri akut dan kunjungan langsung ke asuhan keperawatan klien Tn N dengan masalah menyusui nyeri akut di desa Jumput Rejo Sukodono Sidoarjo
4.1 Pengkajian
Pada tahap pengumpulan data penulis menemukan perbedaan pada dua klien yaitu Ny M, dengan soleus dan mati rasa, dan pada M. Nyeri lutut dan plantar fascia.
4.1.1 Identifikasi klien
Dalam tinjauan literatur, hasil menunjukkan bahwa pada hiperkolesterolemia lebih sering menyerang pria karena pria muda lebih cenderung memiliki kolesterol tinggi pada daripada wanita. Namun, pada wanita, kadar kolesterol melonjak dengan menopause pada usia tahun dari 40 hingga 65 tahun.
Gaya hidup dan tekanan kerja di tempat yang sama dapat menyebabkan kolesterol seseorang meningkat (Andhiyani, 2013). Wanita bernama Ny. berusia 85 tahun, beragama Islam dan tidak bekerja. Pelanggan tinggal di kelurahan Jumput Rejo, RT 27 RW 09, pelanggan mengatakan sekolahnya setingkat SD. Pada klien kedua, Tn.
"N" berusia 85 tahun dan Muslim, adalah seorang pengusaha. Klien berdomisili di Desa Jumput Rejo RT 27 RW 09 Sukodono Sidoarjo Menurut hemat penulis tidak ada perbedaan antara tinjauan dokumen dan tinjauan kasus karena usia pelanggan 85 tahun dan jenis kelamin perempuan karena pada usia 85 tahun dapat mengalami hiperkolesterolemia dipengaruhi oleh gaya hidup, sedangkan pria cenderung
61
terkena kolesterol tinggi karena gaya hidup dan tekanan pekerjaan, serta Tn. N, tahun, mengalami peningkatan kolesterol darah. Tidak ada kesenangan antara tinjauan dokumenter dan tinjauan kasus.
4.1.2 Riwayat Penyakit 4.1.2.1 Keluhan Utama
Dalam tinjauan pustaka, terdapat gejala umum yang terlihat pada pasien hiperkolesterolemia, khususnya gejala seperti dispnea akibat obstruksi lipid dalam darah. memungkinkan aliran oksigen ke dalam aliran darah menjadi terhambat dan ditandai dengan pusing, mual dan mata tidak mau terbuka, nyeri di dada serta nyeri di kaki (Mumpu dan Ari, 2011). Klien 1 mengeluh telapak kaki kaku dan mati rasa sedangkan Klien 2 nyeri pada lutut dan merasa mati rasa pada telapak kaki. Tidak ada perbedaan antara meninjau literatur dan melihat kasus.
4.1.2.2 Riwayat medis saat ini
Dalam tinjauan literatur, hasil status kesehatan harus dinilai satu tahun sebelumnya jika mereka pernah memiliki kolesterol tinggi atau kondisi lain terkait dengan hiperkolesterolemia (Wartonah, 201) Dalam tinjauan kasus, hasilnya pada klien 1 melaporkan kolesterol rendah dalam 2 minggu sebelumnya, klien melaporkan nyeri pada telapak kaki, nyeri seperti terbakar, berjalan-jalan Sekali lagi pada skala 6 poin, tampak muram dan menghindari rasa sakit, pelanggan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti penyakitnya seperti mengerti penyebab, gejala, pengobatan, diet, pelanggan 2 mengatakan memiliki kolesterol selama 1 minggu, klien mengatakan nyeri lutut, nyeri seperti luka bakar, nyeri punggung dan punggung skala 5, meringis dan menghindari rasa sakit. Tidak ada skala seni antara tinjauan sastra dan kritik.
4.1.2.3 Riwayat medis
1) Riwayat sebelumnya
Dalam tinjauan pustaka, hasil yang diperoleh. 1 dan 2, data pelanggan yang diperoleh menunjukkan bahwa ia tidak memiliki riwayat hiperkolesterolemia. Jadi ada perbedaan antara meninjau literatur dan melihat kasus. Menurut hemat penulis, ada perbedaan karena klien sama- sama berobat. dan mengalami tanda dan gejala kolesterol.
2) Riwayat Alergi
Pada pengkajian riwayat alergi, tidak ada perbedaan evaluasi kasus antara klien 1 dan 2 karena keduanya menyatakan tidak memiliki riwayat alergi.
3) Riwayat pembedahan
Dalam tinjauan riwayat pembedahan, tidak ada perbedaan antara klien 1 dan klien 2 karena keduanya melaporkan bahwa mereka belum pernah menjalani operasi sebelumnya.
4) Riwayat Jatuh
Saat meninjau riwayat jatuh, tidak ada perbedaan antara pelanggan 1 dan klien 2 karena keduanya mengatakan mereka tidak pernah jatuh sebelumnya.
4.1.2.4 Riwayat keluarga
Menurut tinjauan literatur, gastritis bukanlah penyakit keturunan. Dari tinjauan kasus dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan keluarga Klien 1 dan
Klien 2, melaporkan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit.
Jadi tidak ada celah.
4.1.2.5 Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
Dalam tinjauan literatur, konsumsi tinggi lemak jenuh dan kolesterol dalam makanan sehari-hari ditemukan bertanggung jawab atas peningkatan kadar kolesterol darah. Selain itu, kebiasaan konsumsi kopi yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL dalam darah (Firdaus, 2017). Dalam tinjauan kasus, ditemukan bahwa pelanggan 1 melaporkan bahwa ia biasanya mengkonsumsi makanan berlemak di masa mudanya, sedangkan klien 2 masih mengkonsumsi makanan berlemak meskipun pelanggan sudah tahu bahwa orang.
Jika Anda memiliki kolesterol, sebaiknya hindari makanan berlemak. . Ada perbedaan antara tinjauan dokumen dan tinjauan kasus. Menurut hemat penulis, ada perbedaan terutama pada klien 2 karena dia terus makan makanan berlemak.
4.1.2.6 Pengetahuan klien tentang penyakit
Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh dan kolesterol tinggi dalam makanan sehari-hari meningkatkan kadar kolesterol darah.
Selain itu, kebiasaan terlalu banyak mengonsumsi kopi dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL dalam darah (Firdaus, 2017). Saat meninjau kasus, Klien mengatakan bahwa dia tidak mengetahui penyakitnya, sedangkan Klien 2 mengetahui penyakitnya, yaitu hiperkolesterolemia. Dengan demikian, pada profile dan literature review terdapat gap karena klien 1 malah kurang terekspos informasi karena diam di rumah seperti ibu rumah tangga.
4.1.8 Riwayat Psikososial 4.1.8.1 Kondisi Tempat Tinggal
Klien 1 dan melarang menyajikan bahwa kondisi rumahnya bersih, siap ventilasi, siap tempat ssampah. Sehingaa tidak teradi ketimpangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus.
4.1.8. 2 Hubungan / Dukungan Keluarga
Klien 1 dan 2 melarang menyajika dirinya dengan keluarganya sangat baik beiring tentang kesembuhan konsumen. Sehingga tidak ada ketimpangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus
5.1.8.3 Kemampuan Klien dalam Melaksanakan Perannya
Tidak ada ketimpangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena kedua konsumen mengamalkan perannya dengan baik
5.1.8.3 Harapan Klien terhadap Penyakitnya
Tinjauan pustaka menurut (Cahyani, 2020) berpendapat bahwa umumnya orang yang sedang sakit berharap dirinya segera cepat sembuh dari penyakit yang di derita. Tinjauan kasus 1 dan 2 di dapatkan hasil data klien mengatakan berharap penyakit yang di derita sejak lama segera cepat sembuh. Hasil pengamat penelitian tidak terjadi ketimpangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus di karenakan sama – sama berharap penyakit di derita semoga segera cepat sembuh 4.1.8.5 Hubungan Klien dengan Masyarakat di Sekitarnya
Tinjauan kasus 1 dan 2 di dapatkan hasil data Klien mengatakan hubungan dirinya dengan masyarakat di sekitar sangat baik. Hasil pengamat penelitian tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus sama – sama
memiliki hubungan orang yang menderita tekanan darah meningkat dengn masyarakat baik
4.1.9 Riwayat Nutrisi dan Cairan 4.1.9.1 Nafsu Makan
Pada tilikan teks penderita hiperkolesterol lansia menjalani kehidupan penurunan nafsu makan dan menurunnya tempat menyimpan beiring berkurangnya darah putra (Kemenkes,2016). tinjauan kasus didapatkan klien 1 dan klien 2 nafsu makannya berkurang saat sakit. Sehingga tinjauan pustaka dan tinjauan teori tidak terjadi kesenjangan.
4.1.9.2 Frekuensi Makan
Pada tinjauan pustaka penderita hiperkolesterol lansia menjalani kehidupan penurunan nafsu makan dan menurunnya tempat penyimpan beiring berkurangnya darah putra (Kemenkes,2016). Tinjauan kasus didapatkan klien 1 mengatakan saat sakit hanya makan 2x sehari dengan porsi cukup, klien 2 mengatakan saat sakit hanya makan 2x sehari . Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kaus.
4.1.9.3 Menu Makan
Pada tinjauan pustaka didapatkan jumlah tingginya target lemak jenuh dan kolesterol front menu pertunjukkan sehari-perian menyelenggarakan pertambahan kadar kolesterol episode bagian dalam putra . Selain itu sifat mengkonsumsi turunan secara berlebihan racun mempergiat kadar kolesterol kuantitas dan LDL putra (Firdaus,2017). Tinjauan kasus 1 di dapatkan bahwa menu makan konsumen yaitu pertunjukkan yang rendah lemak dengan sayur dan lau pauk yang cukup.
Sedang klien 2 melarang didapatkan hasil bahwa menu makan klien mengandung
lemak jenuh dan perbanyak sayur. Terjadi kesenjangan antrara tinjauan pustaka dengan tinjaua kasus. Menurut opini
penulis terjadi kesenjangan karena klien terutama klien 2 memakan makanan ang tinggi lemak
4.1.9.4 Pantangan Makan
Kolesterol mancatatkan lemak putra, yang tidak dibutuhkan bagian dalam pertunjukkan, karena dengan perhitungan yang cukup nyana disintesis oleh anak buah. Kolesterol juga siap bagian dalam pertunjukkan dan anak buah terutama seumpama kolesterol beristirahat atau seumpama ester dengan cuka belanda lemak.
Kolesterol yang dibutuhkan akan diproduksi suku episode bagian dalam perhitungan yang tepat. Namun kolesterol juga racun berangkat jika ganjat meratah pertunjukkan dengan kadar lemak hewan tinggi sebagai kelicikan sapi, daging merah, seafood, kuning telur, keju, dll atau pertunjukkan akar saji (Sudikno, 2010).
Pada tinjauan kasus didapatkan hasil bahwa klien 1 tetap menaga menu makanannya yang baik tetapai pada klien 2 didapatkan hasil bahwa klien sering makan makanan yang berlemak meskipun kien mengetahui bahwa memiliki pantangan makan yang berlemak. Terjadi kesenjangan pada tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Menurut opini penulis terjadi kesenjangan karena klien 2 tetap mengonsumsi makanan yang diarang
4.1.9.5 Jenis Konsumsi Cairan Perhari
Tinjauan pustaka menurut (Cahyani, 2020) berpendapat bahwa Orang yang menderita kolesterol meningkat sering mengkongsumsi air putih sedikit. Tinjauan kasus 1 dan 2 di dapatkan hasil data klien mengatakan dirinya ketika sehat dan ketika sakit pasien hanya minum air putih sebanyak 1500 ml/hari. Hasil
pengamatan penulis tidak terjadi kesenjangan antara tinajuan pustaka dengan tinjauan kasus
4.1.9.6 Jenis Minuman
Pada tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena klien 1 dan klien 2 mengatakan hanya mengkonsumsi air putih dalam sehari-hari.
4.1.5 Pemeriksaan Fisik
4.1.5.1 Keadaan Umum dan TTV
Penatalaksanaan hiperkolesterol bisa dilakukan dengan memelihara kadar kolesterol besaran agar hilang jiwa berdomisili di sisi belakang nilai pangkal yaitu 200 mg/dL, baik kadar kolesterol LDL tidak lebih dari nilai 100 mg/dL. Tinjaun kasus didapatkan klien 1 Tekanan darah: 130/90 mmHg, Suhu : 37 °C, kadar kolesterol 210 mg/dl, Nadi : 85×/menit, Respirasi : 20×/menit, klien 2 Tensi : 120/80 mmHg, Suhu : 36.5 °C Nadi : 90×/menit, Respirasi : 20×/menit, kadar kolesterol 215mg/dl. Menurut penulis mengalami kesenjanagan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus disebabkan oleh pada kedua klien mempunyai kadar kolesterol diatas 200mg/dl (Evania, 2018)
4.1.5.2 Sistem Pernapasan (B1) 4.1.5.2 Sistem Pernapasan (B1)
Pada literature review didapatkan hasil Pernapasan Normal, Tidak Ada Kontraksi Otot Bantuan Pernapasan, Tidak Dispnea, Tidak Ada Batuk, Suara Normal, Echo, Semua Bidang Suara paru vesikular, tanpa akumulasi sekret, cairan atau darah. Tidak ada suara nafas tambahan seperti ronki dan wheezing di seluruh lapang paru (Wartonah, 2014). Pada review case tersedia data klien 1 Cek : bentuk dada simetris, pola nafas teratur, tidak ada kontraksi otot bantu pernafasan, tidak
ada ventilator, tidak ada nyeri dada saat bernafas, tidak ada batuk, Palpasi : vertebra dorsal kiri dan kanan simetris aransemen, vokal strategi keseimbangan fremitus kanan dan kiri Perkusi : terdengar perkusi toraks Mendengarkan jantung janin : suara nafas lenticular (tidak ada suara nafas tambahan) pada klien 2 dengan data uji : bentuk toraks simetris, nafas teratur, tidak ada kontraksi otot bantu nafas , tanpa ventilator, tanpa nyeri dada saat bernafas, tidak ada batuk, Palpasi: Struktur vertebra kanan dan kiri simetris, vokal fremitus fremitus fremitus keseimbangan taktis kanan kiri. Perkusi: Perkusi Thoracic Auskultasi jantung: Suara nafas granular, yaitu tidak ada suara nafas tambahan. Antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, terdapat kesamaan. Menurut pendapat penulis, tidak membuat perbedaan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus.
4.1.5.3 Sistem Kardiovaskuler (B2)
Pada tinjauan pustaka di dapatkan hasil pada lansia dengan hiperkolesterol dada terlihat simetris,gerakan dinding dada normal , tidak ada nyeri tekan , pekak ,tidak ada suara tambahan (wartonah,2014) secara khusus perubahan sistem kardiovaskuler pada lansia yang terjadi karena proses penuaan adalah katup jantung menebal dan menjadi kaku sehingga menyebabkan bising jantung (murmur), jantung serta arteri kehilangan elastisitasnya (Muhit, 2016). Pada tinjauan kasus didapatkan data klien 1 Inspeksi : Irama jantung teratur, tidak terdapat cianosis, tidak terdapat clubbing finger Palpasi : Ictus Cordis teraba kuat yang terletak di midclavicula V sinistra, Perkusi : Pekak Auskultasi : Bunyi jantung berada di S1 S2 tunggal serta tidak terdapat bunyi jantung tambahan pada klien 2 didapatkan data - Inspeksi : Irama jantung teratur, tidak terdapat cianosis, tidak terdapat clubbing finger Palpasi : Ictus Cordis teraba kuat yang terletak di midclavicula V
sinistra Perkusi : Pekak, Auskultasi : Bunyi jantung berada di S1 S2 tunggal serta tidak terdapat bunyi jantung tambahan. Menurut opini penulis terdapat kesenjangan karena pada tinjauan pustaka dan tinjauan kasus terutama pada bunyi jantung. Pada tinjauann kasus klien 1 dan 2 tidak ada bunyi jantung tambahan.
4.1.10.4 Sistem Persyarafan (B3)
Pada tinjauan pustaka didapatkan hasil pada lansia akan terjadi penurunan jumlah sel pada otak yang mengakibatkan penurunan reflex dan penurunan kognitif Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon pengelihatan dan pendengaran , mengecilnya syaraf penciuman dan perasa lebih sensitive terhadap suhu, tekanan tubuh terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan (Kemenkes ,2016). Pada tinjauan kasus didapatkan data pada klien 1 - Tes : kesadaran kombinasi dengan GCS : E : 4, V : 5, M : 6, orientasi baik, tidak kejang, istirahat cukup siang malam, tidak ada jantung berdebar abnormal , pupil isokor, refleks cahaya normal, Palpasi: Tidak ada kaku kuduk, tidak ada Brudzinsky. Pada klien 2 Tes : kesadaran umum mentis dengan GCS : E : 4, G : 5, M : 6, orientasi baik, tidak ada kejang, tidur cukup siang malam, tidak ada kelainan neurologis tengkorak, pupil, reflek cahaya normal, Palpasi : Tidak ada kekakuan leher, tidak ada Brudzinsky. Menurut pengamat penulis, terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus karena pada tinjauan kasus tidak terdapat kelainan neurologis.
4.1.10.5 Sistem Geneouritaria (B4)
Dalam tinjauan literatur, ditemukan bahwa perubahan sistem kemih pada lansia yang terjadi terutama dengan penuaan adalah penurunan aliran darah ginjal
dan penurunan fungsi ginjal, fungsi tubulus, kemampuan berkonsentrasi urin juga berkurang (Maryam, 2011). Saat meninjau catatan, hasil klien 1 Tidak dinilai bentuk alat kelamin, alat kelamin bersih, buang air kecil 9 ×/hari, keteraturan, keluaran urin 1500ml/2 jam, bau busuk khas, dan urin berwarna agak kuning.
Sedangan pada kien 2 didapatkan hasil Bentuk alat kelamin tidak terkaji, alat kelaminnya bersih, berkemih dalam sehari 7×/hari, secara teratur, dengan jumlah urine 1500ml/2 jam, bau khas, serta warna urine agak kekuningan. Menurut penulis tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus karena pada tinjauan kasus klien 1 dan 2 tidak ada masalah
4.1.10.6 Sistem Pencernaan (B5)
Pada tinjauan pustaka di dapatkan pada lansia hiperkolesterol tidak ada lesi pada abdomen , tidak ada kesulitan menelan , tidak ada perubahan suara , tidak ada nyeri tekan pada adomen (Wartonah, 2014 ). Pada tinjauan kasus didapatkan hasil pada klien 1 Inspeksi : Mulut simetris, mukosa bibir lembap, bentuk bibir normal, gigi bersih, kebiasaan gosok gigi 2×1 dalam sehari, tenggorokan normal, kebiasaan BAB 1x dalam sehari dengan konsistensi lembek, warna feses agak kecoklatan, bau khas, tempat yang digunakan WC/toilet, tidak terdapat pemakaian obat pencahar,NGT, Palpasi : Tidak terdapat tegang abdomen, tidak terdapat kembung, tidak terdapat nyeri tekan pada abdomen, Perkusi : Suara timpani, Auskultasi : Suara bising usus 5 - 25×/menit. Pada klien 2 didapatkan hasil Inspeksi : Mulut simetris, mukosa bibir lembap, bentuk bibir normal, gigi bersih, kebiasaan gosok gigi 2×1 dalam sehari, tenggorokan normal, kebiasaan BAB 1x dalam sehari dengan konsistensi lembek, warna feses agak kecoklatan, bau khas, tempat yang digunakan WC/toilet, tidak terdapat pemakaian obat pencahar, NGT, , Palpasi : Tidak terdapat
tegang abdomen, tidak terdapat asites pada abdomen, tidak terdapat kembung, tidak terdapat nyeri tekan pada abdomen, Perkusi : Suara timpani, Auskultasi : Suara bising usus 18×/menit. Tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Karena ada persamaan dan tidak ada perbedaan antara tinjauan dokumen dan tinjauan kasus.
4.1.10.7 Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6)
Pada tinjauan pustaka di dapatkan hasil pada lansia yang mengalami hiperkolesterol akan mengalami tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan tremor (Wartonah ,201). Pada tinjauan kasus didapatkan hasil pada klien 1 kemampuan pergerakan sendi dan tungkai (ROM) klien menurun (terbatas), kekuatan otot menurun 5,5,4,4, tidak terdapat fraktur, tidak terdapat dislokasi, tidak terdapat luka, akral hangat, lembap, turgor elastis, CRT andlt; 2 detik, tidak terdapat oedema, kemampuan melakukan ADL klien parsial ketika berpindah tempat dan pergi ke kamar mandi/toliet.
Pada klien 2 Kemampuan pergerakan sendi dan tungkai (ROM) klien menurun (terbatas), kekuatan otot menurun 5,5,4,4, tidak terdapat fraktur, tidak terdapat dislokasi, tidak terdapat luka, akral hangat, lembap, turgor elastis, CRT andlt; 2 detik, tidak terdapat oedema, kemampuan melakukan ADL klien parsial ketika berpindah tempat dan pergi ke kamar mandi/toliet. Terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada tinjauan kasus hanya terdapat ciri – ciri seperti kekuaan otot menurun saja tidak ada pembekaan ataupun sebagainya.
4.1.10.8 Sistem Pendideraan (B7) 1) Mata
Pada tinjauan pustaka didapatkan pada lansia yang mengalami hiperkolesterol terdapat kantung mata di sebabkan kurangnya tidur pada malam hari karena merasakan pusing di tengkuk dan merasakan nyeri dipersendihan (Firdaus,2017). Pada tinjauan kasus terdapat data pada klien 1 Bentuk mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera putih, tidak terdapat oedema pada palpebra, tidak terdapat strabismus, ketajaman penglihatan normal, tidak terdapat alat bantu penglihatan pada klien 2 Bentuk mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera putih, tidak terdapat oedema pada palpebra, tidak terdapat strabismus, ketajaman penglihatan normal, tidak terdapat alat bantu penglihatan.
Menurut opini penulis terdapat kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada tinjauan kasus tidak ditemukan adanya kelaianan pada mata klien.
2) Hidung
Pada tinjauan pustaka di dapatkan hasil hidung simetris antara kanan dan kiri, keadaan hidung bersih , pada lansia Hiperkolesterol tidak ada nyeri tekan (wartonah ,2014)
3). Pada tinjauan kasus terdapat hasil pada kien 1 Bentuk hidung normal, mukosa hidung lembap, tidak terdapat sekret, ketajaman penciuman normal pada klien 2 Bentuk hidung normal, mukosa hidung lembap, tidak terdapat sekret, ketajaman penciuman normal. Menurut penulis
tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus sama.
3) Telinga
Pada tinjauan pustaka didapatkan telinga simetris kanan dan kiri, tidak ada nyeri tekan (Wartonah,201) pada lansia dengan hiperkolesterol tidak terjadi perubahan pada telinga yang disebabkan karena hiperkolesterol. Pada telinga lansia terjadi penurunan pendengaran / prebiaskusis oleh karena hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam , terutama terhadap bunyi suara atau nada- nada yang tinggi , suara yang tidak jelas sulit di mengerti (Firdaus ,2017 ).
Pada tinjauan kasus didapatkan data pada klien 1 Bentuk simetris, tidak terdapat keluhan, ketajaman pendengaran normal, tidak terdapat alat bantu pada klien 2 Bentuk simetris, tidak terdapat keluhan, ketajaman pendengaran normal, tidak terdapat alat bantu. Menurut penulis tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus karena pada tinjauan pustaka dengan tinajuan kasus sama.
4) Perasa
Tinjauan pustaka menurut (Nurhasanah, 2013) berdasarkan data dapat merasakan rasa manis, pahit, asam, asin. Saat memeriksa kasus 1 dan 2, menjadi jelas bahwa informasi pelanggan bisa terasa manis, pahit, asam, dan asin. Hasil penelitian pengamat menunjukkan tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus 1 dan 2, karena tidak mengalami perubahan selera. Menurut penulis, tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dan studi kasus. Tinjauan kasus 1
dan 2 mengungkapkan bahwa informasi kontak pelanggan masih normal. Hasil studi observer tidak menunjukkan adanya gap antara literature review dengan review kasus 1 dan 2, karena tidak ada perubahan kontak pelanggan. Menurut penulis, tidak ada kesenjangan antara pencarian literatur dan studi kasus
4.1.10.9 Sistem endokrin (B8)
Tinjauan literatur menurut (Nurhasana, 2013) mengungkapkan informasi tentang sistem endokrin, jika ada. setiap masalah panas dan dingin, keringat berlebihan, perubahan rambut dan poliuria. Sebuah tinjauan kasus 1 dan 2 menghasilkan tes. Keringat berlebihan, polidipsia, polifagia, poliuria, rasa terbakar, karakteristik terbakar, tidak ada tempat terbakar, pada palpasi tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran ganglion tiroid, parotis. Hasil penelitian pengamat menunjukkan bahwa terdapat gap antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus 1 dan 2, karena tidak ada masalah/perubahan pada sistem endokrin
4.2 Diagnosa Keperawatan
Terdapat 3 diagnosa keperawatan dalam tinjauan pustaka SDKI 2015 yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen perusak fisiologis, kurangnya pengetahuan tentang kurangnya paparan informasi dan kurangnya kepatuhan terkait dengan pengetahuan yang tidak memadai. Selama tinjauan kasus, 2 diagnosis ditemukan untuk setiap klien. Klien 1 penulis menemukan diagnosa keperawatan pertama nyeri akut berhubungan dengan corpus callosum, saat klien mengeluh nyeri pada telapak kaki akibat kolesterol tinggi seperti rasa terbakar dengan skala nyeri 6 keatas, klien juga meringis, gelisah , dan dilindungi. Diagnosis kedua adalah defisit pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi, karena data
pelanggan telah ditemukan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak menyadari penyakit mereka. Pada klien 2 penulis menemukan perawat pertama mendiagnosa nyeri akut berhubungan dengan cidera tubuh saat klien mengeluh nyeri lutut akibat hiperkolesterolemia seperti luka bakar dengan skor nyeri 5 berjalan, Klien juga terlihat meringis, bersemangat. dan melindungi. Diagnosis ketidakpatuhan kedua melibatkan informasi yang tidak lengkap karena klien terus makan makanan berlemak meskipun dia tahu bahwa klien memiliki pantangan makan makanan berlemak.
4.3 Intervensi Keperawatan
Dalam perencanaan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, sering terjadi kesenjangan yang signifikan karena perencanaan tinjauan kasus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Kesenjangan perencanaan dalam tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, khususnya dalam tinjauan kasus, tidak ditulis karena asuhan keperawatan tidak diberikan di rumah sakit. Intervensi keperawatan pada klien 1 dan 2 setelah 3 kali kunjungan diharapkan tingkat nyeri pasien menurun dengan kriteria outcome berupa keluhan nyeri berkurang, wajah meringis berkurang, sikap protektif berkurang, ansietas berkurang, denyut nadi meningkat, tekanan darah meningkat dengan yang ditetapkan. intervensi (lokalisasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri). Tentukan skala nyeri, identifikasi respons nonverbal terhadap nyeri, berikan teknik nonfarmakologis untuk menghilangkan nyeri, fasilitasi istirahat dan tidur, interpretasikan (penyebab, menstruasi, dan pemicu) penyebab nyeri).