BAB I PENDAHULUAN
II.5. GRAFIK
2.6. PEMBAHASAN
Pada praktikum uji sumur minggu pertama berjudul “Pengolahan Data Dan Analisa PVT Minyak Dan Gas”. Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui dan memahami tahapan dalam pengelolaan data uji sumur yang diberikan serta dapat mengerti dalam melakukan Analisa PVT miyak dan gas (Analisa fluida). Adapun prinsip dari persiapan data PVT adalah pemetaan data pengujian sumur dimulai saat alat pecatat tekanan dimasukkan kedalam sumur, selama alat tersebut disetting pada waktu tertentu sampai alat ditarik keatas dan pengujian selesai.
Adapun data-data yang diperlukan dalam analisa ini adalah well testing data, sequence operation, komposisi fluida, oil properties, gas properties dan data penunjang. Dengan mengolah data sumur TMD-04 yang betujuan untuk memahami dan mengerti data apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung dalam melakukan analisa data uji tekanan serta bagaimana mendapatkan data tersebut.
Pada pengolahan data, diberikan beberapa data yang terdiri dari Well Testing Data, Sequence Operation, dan Analisa Fluida. Pada Well Testing Data terdapat data tabel berupa time, pressure, dan temperature. Dengan data waktu operasi yang tersedia kita dapat mengolah data untuk mencari nilai elapsed time (dt). Elapsed time (dt) merupakan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pengujian sumur, yang mana dihitung dalam satu hari yang sama. Selanjutnya membuat grafik Pressure vs Elapsed Time (dt) vs Temperature pada satu grafik yang sama. Grafik tersebut digunakan untuk menganalisa tekanan dan temperaturnya selama pengujian sumur dilakukan, serta mengetahui apakah menggunakan metode Pressure Build Up (PBU) atau Pressure Draw Down (PDD). Pressure Build Up (PBU) merupakan uji tekanan dimana sumur pada awal diproduksikan dengan selang waktu tertentu hingga laju produksinya konstan kemudian sumur ditutup hingga tekanan konstan atau sama dengan tekanan reservoirnya. Sedangkan Pressure Draw Down (PDD) merupakan uji tekanan dimana pada dasarnya sumur yang awalnya ditutup sampai tekanannya konstan atau sama dengan tekanan reservoirnya, kemudian sumur diproduksikan hingga
laju produksinya konstan. Grafik tersebut disingkronkan dengan data Sequence Operationnya.
Sequence Operation adalah data yang digunakan untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan dalam pengujian sumur dari awal sampai tahap akhir yang mana akan dipakai untuk menganalisa grafik Pressure vs Elapsed Time (dt) vs Temperature yang telah didapatkan dari data uji sumur, yaitu dengan cara memadukan data Sequence Operation ini dengan grafik Pressure vs Elapsed Time (dt) vs Temperature. Dimana setiap kenaikan atau penurunan kurva pada grafik dapat disingkronkan dengan data Sequence Operation.
Pada grafik well testing sumur TMD-04 dapat dilihat bahwa metode yang digunakan yaitu Pressure Build Up (PBU). Pada titik A-B menggambarkan rangkaian alat dimasukkan kedalam sumur sehingga tekanan dan temperaturnya meningkat seiring bertambahnya kedalaman. Pada titik B-C menunjukkan sumur di produksi, dititik C-D terlihat digrafik menunjuk proses pengujian Pressure Build Up (PBU) dimana setelah diproduksi, sumur ditutup hingga tekanan konstan. Pada titik D-E menunjukkan proses dinaikkannya kembali rangkaian kepermukaan (put out of hole). Pada titik F-J dilakukan penurunan kembali rangkaian uji dari penutupan sumur kemudian membuka sumur kembali pada beberapa coke berurutan, lalu K menunjukkan kondisi saat rangkaian mulai dinaikkan dari lubang sumur kepermukaan (POOH) kemudian pembacaan akhir lalu pengujian selesai.
Analisa fluida dapat dilakukan dengan menggunakan data fluida yang diketahui pada data analisa fluida diketahui sumur TMD-04 memiliki komponen C1 sebesar 68,53 yang berarti sumur tersebut merupakan sumur gas. Adapun tujuan dari analisa ini adalah untuk mengetahui sifat gas. Selain itu tekanan reservoir jika diturunkan sedikit saja sudah mencapai tekanan Bubble Point sehingga gas terbebaskan dari fluida mengindikasikan bahwa sumur TMD-04 merupakan reservoir gas. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan, menggunakan koreksi Carr Et Al yang memperhitungkan komponen impurities (CO2, H2S, dan N2) didapatkan harga TPC terkoreksi sebesar 495,9 dan PPC terkoreksi sebesar 729,48. Lalu didapatkan nilai TPr sebesar 1,30 dan PPr sebesar
35
1,99. Dari nilai TPr dan PPr diketahui nilai Z menggunakan grafik factor Z dengan metode standing & katz sebesar 0,95. Setelah itu didapatkan harga Bg sebesar 0,002 bbl/SCF, harga CPr sebesar 0,4, harga Cg sebesar 0,0005 psi dan harga viskositas gas sebesar 0,015 cp.
Pada umumnya untuk gas terdapat beberapa jenis tes deliverability yaitu flow after flow test atau back pressure test, isochronal test, dan isochronal test.
Pada pengujian flow after flow atau back pressure test pengujian dilakukan dengan memproduksikan sumur dengan laju tertentu sehingga aliran stabil kemudian laju produksi diubah-ubah sebanyak 4 kali dan setiap pengaliran sumur itu dibiarkan stabil sebelum diganti dengan laju yang lain. Dalam merubah laju produksi tidak didahului dengan penutupan sumur. Grafik yang muncul akan naik turun dan penurunan tekanan akan semakin tinggi bila choke diganti. Tujuan dari test ini ialah untuk mengetahui laju alir yang terbesar dari berbagai pergantian choke. Isochronal test merupakan test yang dilakukan dengan menutup sumur hingga sampai tekanan reservoir, kemudian dibuka. Pada test ini tekanan yang dihasilkan akan mencapai maksimum sehingga periode penutupan dan pembukaan sumur tidak sama. Modified ischronal test (MIT) yaitu test yang hampir sama dengan isochronal test namun yang membedakannya yaitu periode penutupan dan pembukaan sumurnya sama, sehingga tekanan yag naik akibat penutupan sumur itu tidak mencapai tekanan mula-mula jika pada Analisa tekanan sudah konstan berarti sudah mencapai boundary reservoir.
Aplikasi lapangan dari paktikum ini adalah untuk memperoleh data-data PVT, data teknis dan lain-lain yang nantinya berguna sebagai data pendukung atau penunjang dalam perhitungan dianalisa uji, dimana dari analisa ini diperoleh karakter reservoir dan produktivitas sumur sehingga dapat digunakan untuk mendesain peralatan produksi secara optimum yang nantinya akan digunakan serta perkiraan cadangan hidrokarbon.