KONSTRUKSI DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
3.1 PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR OLEH PEMERINTAH 2000–2020
3.1.3. Pembangunan Infrastruktur oleh Kementerian ESDM
Sektor ESDM merupakan sektor strategis dan tetap menjadi andalan dalam mendukung pembangunan dan perekonomian nasional, baik melalui sisi fiskal, moneter ataupun sektor riil. Dari sisi fiskal, sektor ESDM berkontribusi terhadap penerimaan negara dan upaya pengendalian subsidi agar lebih tepat ssaran.
57
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur
Untuk sektor riil, secara timbal balik, sektor ESDM menciptakan efisiensi biaya produksi dan meningkatkan investasi di Indonesia. Peranan yang lain adalah sebagai penjamin sumber pasokan energi dengan harga energi yang terjangkau, pendorong aktivitas ekonomi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam energi dan mineral. Pada sektor energi listrik, berbagai investasi infrasruktur yang telah dilaksanakan oleh Kementerian ESDM dapat dilihat pada Tabel 3.15 berikut.
Tabel 3.15 Pembangunan Infrastruktur Energi di Sektor Kementerian ESDM
Nilai Kontrak (Rp. miliar)
Pembangunan PLTS 15 KWp di Propinsi Papua 2014 Papua 27,27
Pembangunan PLTS di Propinsi Sulawesi Utara 2014 Sulawesi Utara 22,79
Pembangunan PLTS 15 KWp di Propinsi Papua Barat 2014 Papua Barat 8.18
Pembangunan Pembangkit Listrik Tanaga Gasifikasi Batubara 2014 Indonesia 25 Pembangunan PLTS 15 KWp di Propinsi Maluku Utara 2014 Maluku Utara 10,91 Pembangunan PLTMH di Provinsi Sulawesi Selatan 2014 Sulawesi Selatan 1,95
Pembangunan PLTS 15 Kwp di Provinsi Jambi 2014 Jambi 4,91
Pembangunan PLTS 15 Kwp di Provinsi Jawa Tengah 2014 Jawa Tengah 2,27
Pembangunan PLTS 20kwp di Provinsi Sulteng 2014 Sulawesi Tengah 2,75
Pembangunan PLTS 25 KWP Di Provinsi Riau 2014 Riau 3,5
Pembangunan PLTMH Di Provinsi Jambi I 2014 Jambi 1,62
Nama Infrastruktur Tahun Lokasi
Gambar 3.9 PLTU 1.000MW Jawa 8, Cilacap, Jawa Tengah
20 Tahun LPJK: Konstruksi Indonesia 2001-2020
58
Editor:Biemo W. Soemardi & Krishna. S. PribadiTabel 3.16 Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik Nasional Berasarkan Jenis Pembangkit Infrastruktur Pembangkit Listrik 2014 2015 2016 2017 2018 2019 PLTB (MW) 1 1 1 1 144 154 PLTS (termasuk PLTS Atap dan PLTS Hybrid) (MW) 23 37 47 54 64 149 PLTSa (MW) 14 16 16 16 16 16 PLTBg/Bm/Bn (MW) 1.389 1.726 1.767 1.841 1.867 1.874 PLTM/MH (MW) 188 239 307 344 373 418 PLTA (MW) 5.049 5.069 5.344 5.344 5.400 5.559 PLTP (MW) 1.403 1.438 1.533 1.808 1.948 2.131 PLTG/GU/MG (MW) 14.885 15.890 17.070 17.660 18.926 19.860 PLTU dan PLTU MT (MW) 23.858 26.448 28.352 30.768 31.587 34.737 PLTD (MW) 3.637 3.824 3.979 4.396 4.631 4.674 Total Terpasang (MW) (MW) 50.447 54.688 58.416 62.233 64.955 69.572
Gambar 3.10 Kapasitas Pembangkit Listrik Terpasang 2015–2019
Hingga 2019, sasaran strategis yang telah dicapai oleh Kementerian ESDM dalam mewujudkan pembangunan bidang ESDM yang berkeadilan antara lain:
1. Peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik sebesar 4.617 MW, dari jumlah tersebut sejumlah 371,7 MW berasal dari pembangkit EBT.
59
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur
Energi (LTSHE) sebanyak 110.668 unit di 22 provinsi. Total LTHSE yang telah dibagikan mulai tahun 2017–2019 mencapai 363.220 unit.
3. Telah dibangun sebanyak 170 titik penyaluran dan distribusi BBM Satu Harga (akumulasi dari 2017–2019) untuk menjamin keterjangkauan BBM oleh masyarakat. Dengan perincian sebagai berikut:
a. Wilayah Sumatra, 31 titik penyaluran b. Wilayah Kalimantan, 42 titik penyaluran
c. Wilayah Sulawesi dan Gorontalo, 17 titik penyaluran d. Wilayah Maluku dan Papua, 50 titik penyaluran e. Wilayah Bali, 2 titik penyaluran, dan
f. Wilayah Nusa Tenggara, sebanyak 25 titik penyaluran
4. Pada 2019, telah dibangun jaringan gas (jargas) distribusi rumah tangga sebanyak 74.496 Sambungan Rumah (SR) sehingga total yang telah dibangun sejak program jargas dimulai pada 2009–2019 mencapai 537.656 ribu SR. penggunaan jargas dapat mengurangi biaya rumah tangga sekitar Rp90.000/bulan/keluarga serta terbukti lebih praktis, bersih, dan aman dibandingkan dengan menggunakan LPG 3kg.
5. Sepanjang 2019 telah dibagikan dan didistribusikan sebanyak 13.305 paket konverter kit kepada nelayan di 38 kabupaten/kota dan 1.000 paket konverter kit untuk petani di empat kabupaten/kota. Pendistribusian konverter kit dari premium ke LPG 3 kg kepada nelayan dan petani dimaksudkan untuk dapat menghemat biaya bahan bakar sebesar Rp50.000/hari
6. Kebijakan mandatori biodiesel di tahun 2019 telah berhasil menghemat devisa sebesar US$3,35 miliar atau sekitar Rp48,19 triliun dari penggunaan diesel sebanyak 6,26 juta kilo liter dari total produksi sebanyak 8,37 juta KL.
Dalam perjanjian kinerja 2019, kapasitas terpasang kilang LPG ditargetkan sebesar 4,68 juta MT dan realisasinya sebesar 4,74 juta MT. Penetapan target tersebut kurang mencerminkan realitas yang ada di lapangan karena kapasitas terpasang sesungguhnya sudah mencapai 4,74 juta MT yang telah tercapai sejak 2017.
Dari data publikasi Laporan Kinerja Kementerian ESDM 2019, pada 2019 tidak dilakukan pembangunann dan pengembangan kilang gas (LPG) sehingga kapasitas Kilang LPG tidak mengalami pertambahan pada 2019.
Namun, kapasitas produksi LPG dapat meningkat setelah selesainya proyek pengembangan kilang minyak RDMP dan pembangunan kilang minyak GRR PT Pertamina yang diperkirakan akan selesai 2024–2026. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan, penambahan kapasitas kilang yang akan
20 Tahun LPJK: Konstruksi Indonesia 2001-2020
60
Editor:Biemo W. Soemardi & Krishna. S. Pribaditerjadi jika kilang RDMP dan GRR selesai pada 2024–2026 adalah sebesar 30%–40%.
Kementerian ESDM terus mendorong optimalisasi bauran energi, salah satunya yaitu dengan pembangunan infrastruktur gas yang bertujuan mendukung pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjalankan amanat Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dimana bauran energi untuk gas bumi pada 2025 ditetapkan sebesar 22%.
Pemenuhan target dilakukan dengan membuka kesempatan kepada investor dan Badan Usaha Infrastruktur Gas Bumi untuk dapat membangun infrastruktur gas bumi. Penyediaan fasilitas gas bumi beruma FSRU, Regastifikasi on-shore atau LNG Terminal didorong karena keberadaan sumbur gas bumi yang tidak dekat dengan pusat industri dan kelistrikan.
Optimalisasi pemanfaatan gas bumi di Indonesia dilakukan melalui pembangunan infrastruktur jaringan gas bumi. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong operasionalisasi pembangkit, perkembangan ekonomi masyarakat dan peningkatan nilai tambah komoditas industri nasional. Ruas transmisi/
pipa jaringan distribusi gas bumi yang telah dibangun pada 2015–2019 dapat dilihat pada Tabel 3.17.
Tabel 3.17 Pembangunan Ruas Pipa Transmisi Wilayah Jaringan Distribusi Gas Bumi (Sumber: LAKIP Kementerian ESDM tahun 2015–2019)
Pertambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik di Indonesia dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan konsumsi listrik yang sangat bergantung pada faktor pertumbuhan ekonomi dan dalam perencanaanya, penambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik tetap memperhatikan keseimbangan supply and demand dari energi listrik.
Proyek pembangkit yang telah dilaksanakan hingga Desember 2019 mencapai 115 unit konstruksi sebesar 20.168 MW yang merupakan 56.9% dari target yang telah ditetapkan. Kemajuan proyek pembangkit 35.000 MW yang telah dicapai hingga 2019 dapat dilihat pada Gambar 3.11.
61
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur
Pembangunann proyek pembangkit terdisi dari PLTB, PLTS, PLTSa, PLTBg, PLTA, PLTP, PLTG, PLTU, dan PLTD. Pertumbuhan permbangunan kapasitas pembangkit tenaga listrik nasional berdasarkan masing-masing jeis pembangkit yang telah dilakukan dari 2014–2019 dapat dilihat pada Gambar 3.12. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa pertumbuhan pembangunan pembangkit selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Gambar 3.12 Tren Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik Nasional (MW) (sumber: LAKIP Kementerian ESDM 2014–2019)
20 Tahun LPJK: Konstruksi Indonesia 2001-2020
62
Editor:Biemo W. Soemardi & Krishna. S. Pribadi3.1.4. Pembangunan Infrastruktur oleh Kementerian Lainnya Beberapa data pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh kementerian lain (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Ristek, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, kementerian lain, dan lembaga negara) dalam kurun waktu 2013 hingga 2020 nilainya mencapai lebih dari Rp68,5 triliun yang perinciannya dapat dilihat pada Tabel 3.19 terlihat bahwa investasi terbesar diperuntulkan bagi pembangunan Kawasan Khusus Ekonomi, yang diharapkan menjadi pemincu pertumbuhan perekonomian di daerah. Investasi terbesar berikutnya adalah di sektor kesehatan melalui pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah. Beberapa data Pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh kementerian lain dapat dilihat pada Tabel 3.19 berikut.
Tabel 3.18 Pembangunan Infrastruktur pada Kementerian dan Lembaga
Nama Infrastruktur Tahun Lokasi Nilai Kontrak
(Rp, milyar) Pembangunan Gedung Rumah Sakit Jakarta Selatan ( RSUD Pasar Minggu) 2013 DKI Jakarta 406,28
Pembangunan RSUD Kota Banjarbaru 2013 Kalimantan Selatan 216,48
Pembangunan RSUD Kota Banjarbaru 2013 Kalimantan Selatan 244,13
Lanjutan Penyelesaian Pembangunan Stadion Bekasi Tahap II 2014 Jawa Barat 249,36 Percepatan Pembangunan Technopark 2015-2017 Tangerang Selatan & Nasional 200,00
Kawasan Ekonomi Khusus Bitung 2015-2019 Sulawesi Utara 2.300,00
Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api 2016-2019 Sumatera Selatan 12.300,00
Kawasan Ekonomi Khusus Kendal 2017 Jawa Tengah 15.300,00
Proyek Satelit Multifungsi 2017
Percepatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe 2017-2018 Aceh 151,00 Percepatan infrastruktur Kawasan Ekonomi Khusus Sorong 2017-2019 Papua Barat 3.100,00
Kawasan Ekonomi Khusus Sorong 2017-2019 Papua Barat 3,10
Kawasan Ekonomi Khusus Batulicin 2018-2020 Kalimantan Selatan 2.120,00
Kawasan Ekonomi Khusus Teluk Bintuni 2019-2020 Papua Barat 31.400,00
Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia 2019-2020 Jawa Barat 567,00
Total 68.557,35
Berbagai pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan untuk kemajuan Indonesia dilaksanakan dalam berbagai bidang, terutama fasilitas yang dapat memberikan kelancaran bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan mendorong kegiatan perekonomian, pendidikan, dan kesehatan sehingga pemerintah merencanakkan berbagai proyek strategis nasional yang menitikberatkan pada pembangunan fasilitas-fasilitas publik dan strategis dalam lingkup nasional. Pembagunan infrastruktur yang dilakukan baik oleh pemerintah, swasta, investasi asing, maupun donor dari dalam dan luar negeri yang telah dilakukan dari 2000 hingga tahun 2020 telah menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Pembangunan infrastruktur yang telah ada dapat diukur melalui tingkat pemenuhan kebutuhan masyarakat dan kapasitas kelancaran kegiatan baik dalam sektor perekonomian, kesehatan, dan pendidikan. Uraian mengenai masing-masing sektor dijelaskan pada subbab berikut.
63
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional yang diselenggarakan pada semua bidang kehidupan. Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dengan demikian, pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang pada gilirannya mendukung percepatan pencapaian sasaran pembangunan nasional (Mukmin P. dkk., 2015).
Ketidakmerataan ketersediaan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan kondisi geografis yang sangat bervariasi, menimbulkan potensi melebarnya ketidakadilan pemanfaatan kesehatan pada masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia. (Misnaniarti et al., 2017). Pada 2010, pemerintah Indonesia telah melalui instansi terkait telah merumuskan program jangka menengah mengenai keadaan masyarakat yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni melalui program ”Visi Indonesia Sehat 2010”. Dalam visi Indonesia Sehat 2010 tersebut, bermaterikan gambaran masyarakat di Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa, dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk mengjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat yang setinggi-tingginya di seluruh republik Indonesia. (Mukmin P. dkk., 2015).
Kemudian, awal 2014 merupakan momentum awal dilaksanakannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Program jaminan kesehatan dalam JKN diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial yang bersifat wajib (mandatory), dikembangkan dengan konsep untuk menjamin kesehatan seluruh penduduk secara universal. Cakupan universal ini dilaksanakan secara bertahap hingga dapat tercapai pada 2019 (Kemenkes RI, 2013).
Pelaksanaan JKN ini selaras dengan program pembangunan kesehatan yang terus dilaksanakan secara kontinyu. Sebagaimana disebutkan dalam rencana strategis pembangunan kesehatan periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan tiga pilar utama, salah satunya, yaitu pilar paradigma sehat, dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif, dan pemberdayaan masyarakat. Pembangunan infrastruktur kesehatan dalam mewujudkan Program Indonesia Sehat yang telah dilaksanakan oleh Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.13. Dari data yang diperoleh melalui Publikasi Konstruksi dalam Angka yang dirilis oleh BPS dari 2012 hingga 2019 dapat dilihat bahwa jumlah infrastruktur kesehatan paling tinggi dilaksanakan pada tahun 2019 yang merupakan puncak tahun dari target Program Indonesia Sehat yang ada dalam RPJMN 2015–2019.
20 Tahun LPJK: Konstruksi Indonesia 2001-2020
64
Editor:Biemo W. Soemardi & Krishna. S. PribadiGambar 3.13 Jumlah Infrastruktur Kesehatan di Indonesia dari 2012–2019 (sumber: Konstruksi dalam Angka (BPS) 2012–2019)
b. Infrastruktur Pendidikan
Infrastruktur pendidikan mencakup pembangunan gedung dan prasarana pendidikan lain dalam lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan.
Gambar 3.14 Jumlah Infrastruktur Pendidikan di Indonesia tahun 2012–2019 (sumber: Konstruksi dalam Angka (BPS) 2012–2019)
c. Infrastruktur Pariwisata
Sektor pariwisata memiliki peranan penting sebagai salah satu sumber bagi penerimaan devisa, serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,
65
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur
strategis yang harus dimanfaatkan untuk pembangunan kepariwisataan sebagai bagian dari pembangunan nasional. Pembangunan kepariwisataan mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan jasa.
Peran pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata di Indonesia dilakukan salah satunya yaitu melawati pembangunan infrastruktur yang meliputi akses infrastruktur jalan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan badan usaha, didukung dengan adanya pembangunan bangunan hotel dan akomodasi lainnya, bangunan restoran, bangunan olahraga, rekreasi, hiburan seni dan budaya. Pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang telah dilaksanakan dapat dilihat pada pertumbuhan investasi yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, yaitu swasta, BUMN, BUMD, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Pada 2019 berdasarkan publikasi yang telah dikeluarkan oleh Kemenparekraf, investasi paling besar berada pada sektor pembangunan hotel dan akomodasi lainnya dengan pelaksana oleh pihak swasta, BUMN, dan BUMD dengan penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing yang paling besar, yaitu pada 2017. Data lengkap mengenai investasi yang telah dilakukan dalam pembangunan infrastruktur pariwisata dapat dilihat pada Gambar 3.15 dan Gambar 3.16.
Gambar 3.15 Investasi dalam Sektor Pembangunan Pariwisata pada 2019 (sumber: Publikasi Kemenparekraf 2019)
20 Tahun LPJK: Konstruksi Indonesia 2001-2020
66
Editor:Biemo W. Soemardi & Krishna. S. PribadiGambar 3.15 di atas menunjukkan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor di mana pemerintah bukan sebagai pemain utama. Data lain menunjukkan bahwa sektor ini juga merupakan sektor yang menarik untuk investor asing (Gambar 3.16). Meskipun demikian, keberhasilan investasi swasta di sektor pariwisata ini tidak akan dapat berhasil tanpa dukungan infrastruktur lain (transportasi, air bersih, dll.) yang umumnya masih mengandalkan investasi pemerintah dan BUMN. Data lain sebagai berikut.
Gambar 3.16 Sumber Pendanaan Investasi Pembangunan Sektor Pariwisata Indonesia (Sumber: Publikasi Kemenparekraf 2019)
d. Pembangunan Perumahan dan Bangunan Gedung
Sepanjang 2016, sektor real estat (properti) di Indonesia telah berkontribusi sebesar 9,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Serupa dengan sektor pariwisata, investasi dalam pembangunan perumahan juga banya diminat oleh pihak swasta. Permintaan terhadap perumahan dan gedung komersial lainnya turut memacu perkembangan di sektor perumahan dan pengembang permukiman (real estate). Pembangunan infrastruktur perumahan paling tinggi terjadi pada 2016 dengan harga jual tertinggi pula, yaitu 183,38 juta/unit. Pada sektor properti komersial, pertumbuhan dapat dilihat dari data indeks suplai properti komersial yang tersaji pada Tabel 3.19.
Tabel 3.19 Pembangunan Infrastruktur Perumahan dari 2013–2018 (sumber: Konstruksi dalam Angka (BPS) 2013–2018)
67
Konstruksi dalam Pembangunan Infrastruktur Gambar 3.18 Nilai Konstruksi yang Diselesaikan Pada Bangunan Gedung 2010–2019
(sumber: Konstruksi dalam Angka (BPS) 2010–2019)