a. Pengertian Pembelajaran Al-Quran.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.25
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.26 Kegiatan belajar mengajar menjadi suatu kondisi yang sengaja dibentuk. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Perpaduan antara kedua unsur duniawi inilah yang menghasilkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai medianya. Semua komponen pembelajaran diperankan secara optimal untuk tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.27
25Afi Parnawi, Psikologi Belajar (Yogyakarta: Deepublish, 2019), H. 2.
26Afi Parnawi, Psikologi Belajar, ... H. 3.
27Marno Dan Idris, Strategi Dan Metode Pengajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009) H. 37.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan peserta didik yang saling berinteraksi edukatif/ bertukar informasi dengan memanfaatkan media belajar untuk mencapai tujuan melalui pengajaran mendidik.
Berdasarkan uraian sebelumnya Al-Quran adalah Kalam atau firman Allah Subhanahu wa ta‟ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam melalui perantara Malaikat Jibril yang bermaktub dalam mushaf-mushaf yang mengandung mukjizat dan membacanya menjadikan ibadah dan disampaikan secara kepada kita secara mutawatir yang dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri oleh surah An-Nas.
Berdasarkan uraian di atas juga disimpulkan bahwa pembelajaran Al-Quran adalah proses perubahan tingkah laku peserta didik melalui proses belajar, mengajar, membimbing, dan melatih peserta didik untuk membaca Al-Quran dengan fasih dan benar sesuai kaidah Ilmu tajwid agar peserta didik terbiasa belajar membaca Al- Quran dalam kehidupan sehari-hari. Membaca Al-Quran merupakan perbuatan ibadah, dengan membaca Al-Quran manusia akan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran.
b. Metode-Metode Pembelajaran Al-Quran 1) Metode Iqro‟
Metode iqro‟ adalah suatu metode membaca Al-Quran yang menekankan langsung pada latihan membaca. Adapun metode ini dalam praktiknya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena hanya ditekankan pada bacaannya (membaca huruf Al- Quran dengan jernih). Dalam metode ini system CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dan lebih bersifat individual.
2) Metode Qiroati
Metode qiroati adalah sebuah metode dalam mengajarkan membaca Al-Quran yang berorientasi kepada hasil bacaan murid secara mejawwad murattal dengan mempertahankan mutu pengajaran dan mutu pengajar melalui mekanisme sertifikasi/syahadah hanya pengajar yang diizinkan untuk mengajar Qiroati. Hanya lembaga yang memiliki sertifikasi/syahadah yang diizinkan untuk mengembangkan Qiroati.
3) Metode Tartil
Metode Tartil adalah metode membaca Al-Quran secara perlahan ketika membacanya dan tidak terburu-buru, serta mengucapkan huruf dan harakatnya secara jelas
4) Metode Wafa
Metode Wafa disebut dengan metode otak kanan yang mana dalam pembelajarannya menggunakan aspek multisensorik atau
perpaduan dari berbagai indera, seperti visual, auditorial dan kinestetik.
Metode Wafa ini diciptakan pada tahun 2012 oleh KH.
Muhammad Shaleh Drehem, Lc. Beliau adalah pendiri Yayasan Syafaatul Qur'an Indonesia (YAQIN) dan juga ketua IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Jawa Timur.28
Metode Wafa sudah terbukti keefektifan dalam mengingkatkan bacaan AL-Quran siswa. Hal tesebut dibuktikan melalui penelitian relavan yang hasilnya yaitu bahwa metode Wafa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap bacaan dan ketartilan membaca Al-Quran, oleh karena itu Wafa sangat relavan dengan proses perbaikan membaca Al-Quran.29
Metode Wafa dalam meningkatkan bacaan Al-Quran memiliki ciri khas tersendiri dengan nada bacaan yg khas yaitu nada bacaan Hijaz sehingga lebih indah bacaan dan memudahkan siswa dalam mengingat huruf hijaiyah dalam membaca Al-Quran.
Proses pembelajaran membaca Al-Quran dikelas biasa memiliki beberapa langkah-langkah di dalam pembelajarannya termasuk juga metode Wafa ini. Diantara langkah-langkah dalam pembelajaran Al-Quran yang diterapkan antara lain:
28Tim Wafa, Wafa Belajar Al-Qur'an Metode Otak Kanan Ghorib Musykilat, (Surabaya:
Yayasan Syafaatul Qur'an Indonesia, 2013). H. 41.
29Ainil Maqsuri, Urgensi Metode Wafa Dalam Perbaikan Tajwid Al-Quran, Jurnal Of Islamic Education. Vol. 1, No. 2, H. 149.
1) Berdoa
Pembelajaran membaca Al-Quran yaitu dimulai dengan berdoa.
Guru harus meyakinkan peserta didik dalam keadaan siap menerima pelajaran. Apabila sudah siap maka guru memberi salam kemudian memimpin do‟a untuk mempersiapkan siswa untuk menerima pembelajaran.
2) Memberikan materi
Guru setelah mempersiapkan siswa untuk menerima pembelaran. Guru menerangkan materi pembelajaran Al-Quran kepada siswa untuk menambah pemahamannya tentang membaca Al-Quran.
3) Sistim Halaqah
Guru setelah memberikan materi maka siswa dalam satu kelas dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan kemampuan membaca Al-Quran atau jilid Wafa.
4) Satu Sama Lain Saling Menyimak
Siswa setelah dibagi kedalam kelompok atau halaqah, kemudian mereka dipersilahkan untuk membaca Al-Qur‟an satu-persatu sedangkan teman-temannya yang lain menyimak bacaan temannya yang lain menyimak bacaan temannya yang sedang mendapat giliran.
5) Di simak Satu persatu
Siswa setelah diberikan waktu beberapa menit untuk saling
menyimak satu sama lain secara meneyeluruh, maka murid- murid diperkenankan untuk mendekat kepada guru (ustadz atau ustadzah) untuk diberikan kesempatan tilawah secara langsung.
4. Kemampuan Membaca Al-Quran a. Pengertian Membaca Al-Quran
Kegiatan membaca menjadi suatu hal yang sangat penting dalam Al-Quran, sampai-sampai ayat yang pertama kali diturunkan dalam sejarah turunnya Al-Quran adalah perintah membaca yang tertuang dalam Surat Al-Alaq ayat 1. Membaca Al-Quran merupakan suatu ibadah dan juga memiliki banyak keutamaan.
Membaca dalam pengertian sempit adalah kegiatan memahami makna yang terdapat dalam tulisan. Sementara dalam pengertian luas, membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu, yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.30 Membaca dipandang sebagai sarana memenuhi kebutuhan dan sarana untuk mencapai tujuan lewat bahan bacaan atau dapat dikatakan membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan untuk memperoleh kesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kata-kata atau bahasa tulis.31Sehingga membaca bukan sekedar mengenal dan mengeja kata-kata, tetapi
30Nurhadi, Teknik Membaca, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), H. 2.
31Henry Guntur Trigan, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, (Bandung:
Aksara, 2004), H 8.
jauh lebih dalam lagi yaitu dapat memahami gagasan yang dapat disampaikan kata-kata yang tampak itu dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbol-simbol bahasa yang tepat dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.
Berdasarkan Pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pengertian membaca Al-Quran adalah suatu aktivitas membaca yang disertai dengan proses berfikir dengan maksud memahami makna dalam suatu tulisan, memahami kandung di dalam kata-kata yang tertulis dalam Al-Quran serta membacanya dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Dalam penelitian ini fokus penelitiannya yaitu hanya pada cara membaca Al-Quran siswa dengan benar dan fasih, bukan pada memahami bacaan Al- Quran.
b. Kaidah-Kaidah Dalam Membaca Al-Quran 1. Kefasihan dalam membaca Al-Quran
Membaca Al-Quran berbeda dengan membaca buku atau kitab lainnya, karena isinya merupakan kalam Allah subhanahu wa ta’ala yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci, yang berasal dari Dzat yang maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Karena itu membacanya tidak lepas dari adab yang bersifat Zhahir ialah secara tartil. Makna tartil dalam bacaan ialah pelan-pelan dan perlahan-lahan, memperjelas
huruf, harokatnya dan menunaikan hak setiap huruf-huruf dalam Al-Quran. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
اًلْيِتْرَ ت َنٰاْرُﻘْﻟا ِلِّتَرَو ِوْيَلَع ْدِز ْوَا ٤
Artinya: “Atau lebih dari (seperdua)itu, dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil.” (Qs. Al-Muzammil 73: 4)32
2. Penguasaan terhadap Makhraj
Makhraj menurut bahasa, kata makharij )جراخه( adalah jamak dari kata makhraj )جرخه( yang berarti tempat keluarnya sesuatu. Sedangkan menurut istilah, makharijul huruf adalah tempat keluarnya huruf yang padanya berhenti suara dari sebuah lafazh (pengucapan) yang dengannya dibedakan suatu huruf dengan huruf lainnya.33
Mempelajari makhrajil huruf sangatla penting bagi setiap orang yang ini mempelajari Al-Quran. Mengucapkan huruf- huruf hijaiyah yang tersusun indah dan rapi di dalam Al-Quran kejelasan dalam pengucapan bunyi huruf sangatlah dibutuhkan guna memperjelas dan memperindah dalam membaca Al-Quran.
Jumlah keseluruhan makhraj huruf ada 17. Makhraj- makhraj huruf secara umum terdapat lima tempat, yaitu
a. Rongga mulut dan rongga tenggorokan (Al-Jauf), padanya ada 1 makhraj.
b. Tenggorokan (Al-Halq), padanya ada 3 makhraj.
32Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, .... H. 574.
33Abu Ya‟la Kurnaedi, Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i, .... H. 114.
c. Lidah (Al-Lisan), padanya ada 10 makhraj.
d. Dua bibir (Asy-Syafatain), padanya ada 2 makhraj.
e. Rongga hidung (Al-Khaisyum), padanya ada 1 makhraj.
3. Penggunaan Sistem Tajwid
Menurut bahasa,
( ُد ْيِوْجَّتﻟا )
tajwid diantara maknanya ( ُْيِسْحَّتﻟا) yang berarti memperbaiki atau memperindah. Secara Istilah tajwid berarti:ِتاَفِّصﻟا َنِم ُوَﻘَحَتْسُمَو ُهُءاَطْعِإَو ِوِجَرَْمَ ْنِم ٍفْرَح ِّلُك ُجاَرْخ ِإ
Artinya: Mengucapkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluarnya) serta memberikan haq dan mustahaq dari sifat-sifatnya.34
Haq huruf adalah sifat-sifat huruf yang tsabit (tetap melekat) padanya, tidak akan terpisah darinya. Di antaranya sifat jahr, syiddah, isti’la, ithbaq, dan qalqalah. Mustahaq huruf adalah sifat- sifat huruf yang tidak tsabit padanya yang sekali-kali ada dan sekali-kali tidak ada karena sebab tertentu. Diantaranya sifat tarqiq yang muncul dari sifat istifal, atau sifat tafkhim yang muncul dari sifat isti’la, ikhfa, mad, qashr, dan lain-lain.35
Para ulama tidak menyusun kaidah tajwid menurut pemikiran masing-masing atau secara individu, tetapi terlebih dahulu mereka melakukan penelitian pada setiap lidah para Qori yang benar-benar fasih dalam membaca Al-Quransebagaimana mereka belajar Al-
34Abu Ya‟la Kurnaedi, Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i, .... H. 39.
35Abu Ya‟la Kurnaedi, Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i, .... H. 40
Quranul Karim langsung secara talaqqi dari Rasul shalallahu
‘alaihi wa sallam. Qaidah Ilmu tajwid telah memberikan faedah serta manfaat dalam menjaga kemurnian kitab suci Al-Quran, hingga Al-Quran sampai kepada umat manusia dalam keadaan selamat dari pembelokkan dan perubahan baik isi maupun cara bacaannya sebagaimana diturunkan.
Pokok pembahasan ilmu tajwid di dalam membaca Al-Quran adalah lafazh-lafazh Al-Quran seperti cara pengucapan, tempat keluarnya huruf, sifat huruf dan sebagainya. Manfaat mempelajari ilmu tajwid adalah menjaga lidah dari lahn (kesalahan) ketika membaca Al-Quran.
Ilmu tajwid juga merupakan ilmu yang paling mulia karena berhubungan langsung dengan Kalamullah (Al-Quran). Seseorang yang ingin membaca Al-Quran tidak boleh sembarangan seperti membaca kitab lain.
c. Tingkatan membaca Al-Quran
Dilihat dari sisi cepat atau lambat bacaan Al-Quran atau temponya, para ulama qiraah mengklasifikasikannya menjadi tiga tahqiq, tadwir, dan hadr.36
1) Tahqiq
Tahqiq adalah membaca lambat dan tenang dengan benar memberikan haknya secara benar dan maksimal tanpa ada
36Abu Ya‟la Kurnaedi , Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i, ..... H. 28
tambahan dan pengurangan. Tingkatan ini cocok untuk dalam proses belajar mengajar.
2) Tadwir
Tadwir adalah bacaan yang sedang ketika membacaan alquran yaitu antara tahqiq (perlahan) dan Hadr (cepat).
3) Hadr
Hadr adalah bacaan cepat dengan tetap menjaga dan memoerhatikan kaedah-kaedah tajwid dengan sangat cermat, dan hendaknya seorang qoari berhati-hati dari memotong huruf mad, menghukangkan suara ghunnah, atau ikhtilas (membaca sebagian harakat.
d. Adab-Adab Membaca Al-Quran
Al-Quran adalah Kalamullah yang berbeda dengan kitab- kitab lain buatan manusia. Oleh karena itu membacanya pun harus mengikuti adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Di antaranya adalah:
1. Mengikhlaskan niat untuk Allah.
2. Suci dari hadats besar dan kecil.
3. Memiliki waktu dan tempat yang cocok.
4. Menghadap kiblat.
5. Bersiwak atau membersihkan mulut.
6. Membaca Istiadzah.
7. Membaca Basmalah.
8. Membaca dengan tartil tidak terlalu cepat atau terburu-buru.
9. Memperindah suara dan bacaan Al-Quran 10. Tadabur, khusyu, dan menangis
11. Mengeraskan bacaan jika tidak menggang orang lain.
12. Tidak membaca sewaktu mengantuk.
13. Sujud tilawah seusai membaca ayat sajdah.
e. Keutamaan Membaca Al-Quran
Membaca Al-Quran adalah ibadah yang mempunyai banyak keutamaan. Di antaranya yaitu:
1) Perniagaan yang tidak pernah merugi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
َّي ًث َيِّنا َ
ل َغ َّو ا ًّر ِّس ْم ُىٰنْكَز َر اَِّّّ اْيُلَفْنَاَو َةيٰل َّصلا ايُماَكَاَو ِّ ٰللّا َبٰتِّك َنْيُلْخَي َنْي ِّذَّ
لا َّ
ن ِّا
َن ْي ُج ْر
ْنَّ
ل ًة َرا َم ِّت َِۙر ْيُتَح
٢٩ ٌر ْيُ
ك َش ٌر ْيفُ َ
غ ٗهَّنِّا ۗفهِّل ْضَ
ف ْن ِّم ْمُو َدْيِّزَي َو ْم ُو َر ْي ُجُ
ا ْم ُى َي ِّف َي ُيِّل ٣٠
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sunggu, Allah maha pengampun, maha mensyukuri.” (Qs. Fathir 35: 29-30)37 Berdasarkna ayat ini Allah menjanjikan kepada ahlul Quran (para pembaca Al-Quran yang mengamalkannya) pahala yang besar, dan Dia memberikan tambahan kepada mereka karunia yang tidak diketahui besarnya kecual oleh-Nya. Sungguh, beruntunglah
37Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya,.... H. 437.
orang-orang yang disifati sesuai dengan ayat tersebut.
Terkait dengannya, Imam Qatadah dalam buku tajwid lengkap asy-syafi‟i berkata: “Imam al-Qurthubi berkata tentang ayat di atas: “Ini adalah ayat para qari yang mengamalkan (isinya) dan memahaminya”.38
2) Mendapatkan syafaat pada hari kiamat
Abu Umamah radhiallahu anhu, beliau berkata: bahwa Rasulullah shalallahu alahi was sallam bersabda:
َمَّلَس َو ِويَلَع ُالله ىَلَص ِالله ُلوُسَر َلاَق :َلاَق ُوْنَع ُالله َىَضَر ِةاََمَُا ِبَِأ ْنَع :
َّنإَف َنآْرُﻘﻟا اْوُأَرْ قا ِوِباَحْصَِلِ اَعْ يِفَش ِةَماَيِﻘْﻟا َمْوَ ي ِتَِْيَ ُو
)ُمِلْسُمْﻟا ُهاَوَر(.
Artinya: “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia pada hari kiamat akan datang memberikan syafaat kepada pembacaaanya.”
(HR. Muslim)39
3) Memperoleh pahala yang banyak
Ibnu Mas‟ud radhiallahu anhu berkata bahwa Rasulullah shalallahu alahi wa sallam bersabda.
ْنَع ِدْوُعْسَم ِنْبا ُسَر َلاَق :َلاَق ُوْنَع ُالله َىَضَر
َمَّلَس َو ِويَلَع ُالله ىَلَص ِالله ُلو
َأَرَ ق ْنَم
ٌفْرَح لما ُلْوُ قَأ َلَ اَِلِاَثْمأ ِرْشَعِب ُةَنَسَلحاَو ُةَنَسَح ُوَلَ ف َِّللَّا ِباَتِك ْنِم اًفْرَح ٌفْرَح ٌمْيِم َو ٌفْرَح ٌم َلََو ٌفْرَح ٌفِﻟَأ ْنِكَﻟَو ﻟا ُهاَوَر ( .
ِّْت ِم )يِذ
Artinya: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (At-
38Abu Ya‟la Kurnaedi, Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i,… H. 7.
39Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, ... H. 667.
Tirmidzi).”40
5. Metode Wafa dalam Membaca Al-Quran a. Sejarah Metode Wafa
Metode Wafa adalah salah satu metode yang muncul di antara metode-metode yang lain yang dalam rangka memberikan kontribusi keilmuan kepada khalayak. Metode Wafa ini ditemukan pada tahun 2012 oleh KH. Muhammad Shaleh Drehem, Lc. Beliau adalah pendiri Yayasan Syafaatul Qur'an Indonesia (YAQIN) dan juga ketua IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Jawa Timur.
Wafa merupakan sebuah revolusi pembelajaran Al-Quran yang dikembangkan oleh Yayasan Syafa‟atul Quran Indonesia didirikan pada tanggal 20 Desember 2012. Yayasan Syafa‟atul Quran Indonesia menghadirkan sistem pembelajaran Al-Quran Metode Otak Kanan wafa yang bersifat komprehensif dan integratif dengan metodologi terkini yang dikemas mudah dan menyenangkan. Sebagai wujud dari komprehensifitas sistem ini, pembelajaran dilakukan secara integral mencakup 5T : Tilawah (membaca dan menulis Al-Quran), Tahfidz (Menghafal Al-Quran), Tarjamah (menerjemahkan Al-Quran), Tafhim (memahami). 41
b. Pengertian Metode Wafa
Metode Wafa disebut dengan metode otak kanan yang mana dalam pembelajarannya menggunakan aspek multisensorik atau
40Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, ... H. 669-670.
41Tim Wafa, Buku Tilawah, Tajwid, dan Ghorib, (Surabaya: Yayasan Syafaatul Qur'an Indonesia, 2013) H. 41.
perpaduan dari berbagai indera, seperti visual, auditorial dan kinestetik.
Tiga bagian otak dibagi menjadi dua belahan kanan dan belahan kiri. Dua belahan ini lebih dikenal dengan istilah otak kanan dan otak kiri. Masing-masing belahan otak bertanggung jawab terhadap cara berfikir, dan masing-masing mempunyai spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu. Cara berfikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistic. Cara berfikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat non verbal seperti perasaan, emosi, kesadaran yang berkaitan dengan perasaan, pengenalan bentuk, pola, musik, seni, kepekaan warna kreativitas dan visualisasi. Di sisi lain salah satu kelebihan otak kanan yaitu lebih bisa menyimpan memori dalam jangka panjang. Dengan metode wafa atau otak kanan ini diharapkan akan tercipta pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan.42
c. Visi dan Misi Wafa 1) Visi
Melahirkan ahli Al-Qur'an sebagai pembangun peradaban masyarakat qur'ani di Indonesia.