F. Kerangka Teoritik 1. Pendidikan Karakter
3. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut Ramayulis,45 Pendidikan Agama Islam adalah: Upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al- Qur’an dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran latihan,
serta penggunaan pengamalan.
b. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan Agama Islam di sekolah berfungsi sebagai:
1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama-tama menanamkan kewajiban dan ketakwaan dilakukan oleh setiap orang dan keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuhkembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketakwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus dibidang agama agar bakat tersebut dapat
45 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), h. 21.
berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat bermanfaat bagi orang lain.
3) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan peserta didik dalam keyakinan, pemahanan dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari- hari.
4) Pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia indonesisa seutuhnya.
5) Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.46
Dapat disimpulkan fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai pengembangan terhadap imtak, penyaluran terhadap bakat, perbaikan terhadap keyakinan, pencegahan dari hal negatif dan penyesuaian dengan lingkungan peserta didikan dalam kehidupan sehari-hari dengan berkiblat kepada ajaran islam.
c. Orientasi
Orientasi Pendidikan Agama Islam diarahkan kepada tiga ranah (domain) yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ketiga ranah tersebut diatas dapat pula dirincikan berdasarkan penjenjangan sebagai berikut:
1) Domain kognitif
a) Knowledge (pengetahuan)
Kemampuan mengingat (recall) konsep-konsep yang khusus dan umum, metode dan proses serta struktur.
b) Comprehension (Pemahaman)
Kemampuan memahami tanpa mengetahui hubungan- hubungannya dengan yang lain, juga tanpa kemampuan mengaplikasikan pemahaman tersebut.
46 Ibid…,h. 21.
c) Applicaton (aplikasi)
Kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak dan objek- objek khusus dan konkret. Konsep absrak tersebut bisa berupa ide-ide umum, prosedur prinsip-prinsip teknis, atau kategori yang harus diingat dan diaplikasikan.
d) Analysis (analisis)
Kemampuan memahami dengan jelas hirarki ide-ide dalam suatu unit bahan atau membuat keterangan dengan jelas tentang hubungan antara ide yang satu dengan ide yang lainnya.
Analisis ini memperjelas bahan-bahan yang dipelajari dan memperjelas bagaimana bahan itu diorganisasi dan bagaimana masing-masing ide itu terpengaruh.
e) Synthesis (sintesis)
Kemampuan merakit bahan-bahan menjadi suatu keutuhan.
Kemampuan ini melibatkan proses penyusunan, penggabungan bagian-bagian untuk dijadikan suatu keseluruhan yang berstruktur yang semula belum jelas.
f) Evaluation (evauasi)
Kemampuan dalam mempertimbangkan nilai bahan dan metode yang digunakan dalam menyelsaikan suatu problem, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.47
Pada rana ini terdapat beberapa unsur yang perlu dimiliki oleh peserta didik meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi dalam pengetahuan yang dipelajari.
2) Domain Afektif
a) Receiving (memperhatikan)
Pembinaan penerimaan nilai-nilai yang diajarkan dengan kesediaannya menggabungkan diri kedalam nilai-nilai yang diajarkan tersebut, atau dengan kata lain mengidentikkan diri dengan nilai itu.
b) Responding (merespon)
Pembinaan melalui upaya motivasi agar anak didik mau menerima nilai yang diajarkan. Anak didik tidak hanya menerima nilai, tetapi juga mempunyai daya yang mendorong diri untuk menerima ajaran yang diajarkan kepadanya.
47 Ibid…,h. 23.
c) Valuing (nilai)
Pembinaan yang tidak terfokus pada penerimaan nilai melainkan juga mampu menilai konsep atau fenomena, apakah ia baik atau buruk.
d) Organization (organisasi)
Pembinaan untuk mengorganisasikan nilai ke dalam suatu sistem dan menentukan hubungan-hubungan antara nilai-nilai itu, serta menentukan nilai yang paling dominan untuk diinternalisasikan di dalam kehidupan yang nyata.
e) Characterization by a value or value complex (mengorganisasi/mempribadian nilai)
Pembinaan untuk menginternalisasikan nilai sebagai puncak hirarki nilai. Nilai yang tertanam secara konsisten pada sistem di dalam dirinya, efektif mengontrol tingkah laku pemiliknya, serta mempengaruhi emosinya. Hal tersebut akan membuat anak didik mempunyai karakteristik unik, karena dasar orientasinya diperhitungkannya berdasarkan rentangan tingkah laku yang luas tetapi tidak terpecah-pecah. Di samping itu, pandangan hidup (keyakinan) mampu menghasilkan kesatuan dan konsistensi dalam berbagai aspek kehidupan. Dari sinilah anak didik benar-benar bijaksana karena telah memiliki philoshopy of life.48
Pada ranah ini peserta didik dapat dengan maksimal mungkin untuk dapat mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang telah dipahami dan diketahui pada proses pembelajaran.
3) Domain Psikomotorik a) Perception (persepsi)
Keterampilan persepsi dalam menggunakan organ-organ indera untuk memperoleh petunjuk yang membimbing kegiatan motorik.
b) Set (Kesiapan)
Keterampilan kesiapan untuk melakukan kegiatan yang khusus yang meliputi kesiapan mental, kesiapan fisik maupun kemampuan untuk bertindak.
c) Guided response (respon terbimbing)
Keterampilan respon terpimpin dalam melakukan hal-hal yang kompleks. Respon ini meliputi menirukan, (spekulasi), trial and error. Ketetapan dari pelaksanaannya ditentukan oleh instruktur atau kriteria yang sesuai.
48 Ibid…,h. 25.
d) Mechanism (mekanisme)
Keterampilan mekanisme merupakan pekerjaan yang menunjukkan bahwa respon yang dipelajari telah menjadi kebiasaan dan gerakan-gerakan dapat dilakukan dengan penuh kepercayaan dan kemahiran, sehingga melahirkan beberapa keterampilan.
e) Complex overt response (respon kompleks)
Keterampilan nyata gerakan motor yang menyangkut penampilan dan gerakan motorik, yang memerlukan gerakan kompleks. Kemahiran ditujukan dengan cepat, lancar, tepat dan menghasilkan kegiatan motorik yang di dalam koordinasinya tinggi.
f) Adaption (adaptasi)
Keterampilan adaptasi yang berkembang dengan baik sekali, sehingga individu dapat mengubah pola gerakannya untuk disesuaikan dengan persyaratan khusus dalam situasi yang bermasalah.
g) Organization (organisasi)
Keterampilan organisai yang menyangkut keterampilan pola- pola gerakan yang baru untuk menyesuaikan dengan situasi yang khusus atau yang bermasalah.49
Ketiga domain tersebut kiranya dapat dikristalkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Dimensi kepribadian sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk menjaga integritas antara sikap, tingkah laku etik, dan moralitas.
2) Dimensi produktivitas yang menyangkut apa yang dihasilkan peserta didik dalam jumlah yang lebih banyak dan kualitas yang lebih baik setelah ia menamatkan pendidikan.
Dimensi kreatifitas yang menyangkut kemampuan anak didik yang berpikir dan berbuat, menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.
49 Ibid…,h. 27