Konteks Penelitian
Berbicara tentang karakter memang sangat mendasar. Karakter adalah permata hidup yang membedakan manusia dari binatang. Orang yang berkarakter kuat, baik secara individu maupun sosial, adalah mereka yang memiliki moral, etika dan perilaku yang baik. 3 Penguatan pendidikan karakter sangat penting dalam konteks saat ini untuk mengatasi krisis moral yang melanda generasi muda saat ini. Sebagaimana diketahui bahwa lembaga pendidikan tidak sepenuhnya mengabaikan masalah budi pekerti atau akhlak, namun fakta seputar kemerosotan karakter siswa menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tidak kurang dalam mendidik manusia yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia. Apa yang diajarkan tentang ilmu agama dan ilmu akhlak belum berhasil membentuk manusia yang berkarakter. Padahal isi dan kandungan pelajaran agama dan akhlak semuanya mengarah pada akhlakul karimah, ajaran kebaikan. Karakter adalah nilai-nilai tingkah laku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri dan sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan, yang diwujudkan dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, kebiasaan, budaya dan adat istiadat.
Berdasarkan berbagai penelitian di luar negeri bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), tetapi lebih pada kemampuan mengelola diri sendiri dan orang lain (soft skill) 8 Menurut Lickona, sebagaimana dikutip Masnur Muslich, pendidikan karakter hakikatnya merupakan integrasi antara kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia Pendidikan karakter adalah pendidikan karakter dengan melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), perasaan (feeling) dan tindakan (action).9. Mengenai pengamatan awal peneliti bahwa penerapan pendidikan karakter dilaksanakan, namun pelaksanaan pendidikan karakter tidak mencapai tujuannya. Selain itu, ada juga siswa yang pakaiannya tidak rapi 11 Dari permasalahan yang telah dijelaskan di atas, ternyata permasalahan tersebut ada kaitannya dengan kecerdasan emosional siswa.
Hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul: “Implementasi Pendidikan Karakter Untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VIII SMPN 9 Mataram Tahun Pelajaran”.
Fokus Penelitian
Berdasarkan fakta dan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, hal ini menunjukkan bahwa karakter siswa ternyata akan mempengaruhi kecerdasan emosionalnya.
Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan menahan frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Sesuai dengan judul di atas, lokasi penelitian ini adalah SMPN 9 Mataram. Peneliti memilih SMPN 9 Mataram karena sekolahnya sudah tua. Kecerdasan emosional siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VIII SMPN 9 Mataram tahun ajaran 2015-2016, dengan alasan bahwa pendidikan karakter telah diimplementasikan dalam kurikulum sekolah.
Telaah Pustaka
Model pendidikan ini menekankan pada tiga aspek yaitu: mengetahui yang baik, mencintai yang baik dan melakukan yang baik, dimana ketiga aspek tersebut dijabarkan dalam sembilan nilai karakter. Berdasarkan sembilan nilai karakter tersebut anak diajarkan perbuatan baik, ucapan, ilmu dan perbuatan, diharapkan dampak dari pengajaran tersebut anak juga dapat merasakan manfaatnya, sehingga tumbuh perasaan menyukai kebaikan, dan akhirnya anak akan terbiasa berbuat baik. , yang merupakan salah satu tujuan pendidikan karakter 16 2. Anak yang bermasalah dengan kecerdasan emosional akan mengalami kesulitan belajar, bersosialisasi dan tidak dapat mengontrol emosinya.
16Ratna Megawangi, “konsep pendidikan karakter dan relevansinya dalam pembentukan akhlak anak usia prasekolah” dalam http://karya-ilmiah.com, diakses tanggal 20 Januari 2016 pukul 20.30 WIB. Ari Ginanjar menjelaskan dalam bukunya ESQ Inner Journey 2009 bahwa kecerdasan intelektual hanya menyumbang 20% untuk kemajuan atau kesuksesan seseorang. Dari beberapa kajian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembahasan yang cenderung diperbincangkan adalah dampak dari implementasi pendidikan karakter itu sendiri, yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri, pendidikan karakter pertama kali dicanangkan pada tahun 2010. Konsep pendidikan karakter merupakan jawaban atas krisis moral yang dialami bangsa saat ini. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman dan Ari Ginanjar merupakan interpretasi keberhasilan siswa bahwa kecerdasan otak bukanlah kecerdasan yang menentukan syarat keberhasilan masa depan bagi anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional lebih dominan dibandingkan kecerdasan otak.
Bagi mengekalkan keaslian dan kebaruan tesis yang dilakukan oleh penulis, pengkaji akan meneliti “Penerapan Pendidikan Karakter.
Kerangka Teoritik 1. Pendidikan Karakter
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut Ramayulis45, Pendidikan Agama Islam adalah : Upaya sadar dan terencana untuk mempersiapkan peserta didik agar mengetahui, memahami, menghayati, meyakini, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran Islam dari sumber utama kitab suci Al-Qur' an dan Al-Hadits, dengan kegiatan bimbingan, latihan belajar, . serta penggunaan praktis. Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam agar menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, sosial, berbangsa dan bernegara serta melanjutkan pendidikannya. ke tingkat yang lebih tinggi. 45 Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 21. . berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat bermanfaat bagi orang lain.
Dapat disimpulkan bahwa fungsi Pendidikan Agama Islam adalah pengembangan imtak, penyaluran bakat, peningkatan akidah, pencegahan hal-hal negatif dan adaptasi lingkungan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dengan orientasi pada ajaran Islam. Orientasi Pendidikan Agama Islam diarahkan pada tiga ranah yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam rana ini terdapat beberapa unsur yang harus dimiliki siswa antara lain aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi dari pengetahuan yang dipelajari.
Mempromosikan penerimaan nilai-nilai yang diajarkan, dengan kemauan untuk memasukkan diri ke dalam nilai-nilai yang diajarkan, atau dengan kata lain mengidentifikasi dengan nilai-nilai tersebut. Siswa tidak hanya menerima nilai, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mendorong diri mereka menerima ajaran yang diajarkan. Bimbingan untuk menata nilai-nilai dalam suatu sistem dan menentukan hubungan antara nilai-nilai tersebut, serta menentukan nilai-nilai yang paling dominan untuk dihayati dalam kehidupan nyata. e) Karakterisasi suatu nilai atau kompleks nilai (organisasi/personalisasi nilai).
Nilai-nilai, yang tertanam secara konsisten dalam sistem, secara efektif mengendalikan perilaku pemilik dan memengaruhi emosinya. Karena itu, siswa akan memiliki karakteristik yang unik, karena orientasi dasar dihitung berdasarkan perilaku yang luas, tetapi tidak terpecah-pecah. Dalam ranah ini, siswa dapat mempraktekkan secara maksimal apa yang mereka pahami dan ketahui dalam proses pembelajaran di kehidupan sehari-hari.
Keterampilan organisasi yang melibatkan keterampilan pola gerakan baru untuk beradaptasi dengan situasi tertentu atau bermasalah. Dimensi kreativitas adalah tentang kemampuan berpikir dan bertindak siswa untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat.
Metode Penelitian
- Pendekatan Penelitan
- Kehadiran Peneliti
- Sumber Data/Informan
- Prosedur Pengumpulan Data
- Teknik Analisa Data
- Validitas data/keabsahan data
Tujuan utama kehadiran peneliti di lokasi adalah sebagai instrumen kunci guna memperoleh data yang dibutuhkan.Data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data Penerapan Pendidikan Karakter dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa pada Pendidikan Agama Islam. . mata pelajaran kelas VIII di SMPN 9 Mataram Tahun Pelajaran 2015-2016. Untuk mendapatkan data yang valid dan objektif tentang apa yang diteliti, perlu dilakukan klarifikasi terhadap informan serta karakteristiknya dan jenis data yang akan dikumpulkan. Sumber dan data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara dengan responden terpilih yaitu: guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, guru siswa, kepala sekolah SMPN 9 Mataram dan wakil kepala sekolah serta siswa SMPN 9 Mataram.
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data. Sedangkan responden yang diwawancarai adalah guru PAI, Kepala SMPN 9 Mataram, Wakil Kepala Kurikulum, Wakil Kepala Kesiswaan dan siswa SMPN 9 Mataram tahun pelajaran 2015/2016. Hubungan dalam penelitian ini observasi yang digunakan adalah observasi non partisipan dimana peneliti tidak ikut serta dalam kegiatan yang diamati dan secara terpisah bertugas sebagai pengamat. untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa.
Peneliti yang digunakan sebagai informan dalam hal ini adalah kepala sekolah, guru PAI dan siswa SMPN 9 Mataram tahun ajaran 2015/2016. Nilai-nilai karakter diinternalisasikan dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa kelas VIII pada mata pelajaran pendidikan agama Islam. Proses mencari dan mengumpulkan data secara sistematis yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengkategorikan data, mendeskripsikannya dalam satuan-satuan, mensintesiskannya, menyusunnya menjadi pola, memilih mana yang penting dan apa yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mereka mudah untuk diri mereka sendiri dan orang lain untuk memahami.
Dengan demikian, metode induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan dari data tertentu.Berawal dari pengertian di atas, peneliti menggunakan metode ini untuk menyimpulkan hasil observasi, wawancara, dan temuan penelitian lainnya. Proses analisis ini dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Reduksi data dimana peneliti memilih dan memilah data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian berdasarkan masalah yang diidentifikasi dalam penelitian. Penyajian data adalah kegiatan mengumpulkan dan mengorganisasikan temuan data setelah melakukan reduksi data.Menyusun data menjadi kalimat yang bermakna dan dapat menjawab kesimpulan dari berbagai temuan yang dicatat dan disusun dalam penyajian data. Ketekunan dalam observasi bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan isu atau masalah yang dicari dan kemudian memfokuskan pada hal-hal tersebut secara mendetail dalam hal penerapan pendidikan karakter dalam meningkatkan kecerdasan emosional peserta didik pada mata pelajaran pendidikan agama Islam. .
Karakter dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosi Siswa Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam VIII SMP Negeri 9 Mataram. Referensi yang dimaksud adalah yang relevan dengan penelitian implementasi pendidikan karakter dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam mata pelajaran VIII.
Sistematika