• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Sastra: Problematika dan Beberapa Pemecahannya

Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd Assalaamualaikum Wr. Wb.

Yang saya hormati

Rektor Universitas Negeri Malang, selaku Ketua Senat Universitas Negeri Malang Anggota Senat, Ketua dan Angota Komisi Guru Besar Universitas Negeri Malang Pejabat Struktural Universitas Negeri Malang

Dosen dan Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Undangan dan Hadirin

Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kita bisa hadir dalam pertemuan ini. Sunguh tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah. Hanya Allah sebaik-baik tempat bergantung dan bersandar. Dalam kesempatan yang berbahagia ini. perkenankanlah saya menyampaikan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi idola dan panutan saya.

Pada hari ini saya mohon izin untuk menyampaikan sedikit gagasan saya, dalam pidato pengukuhan Guru Besar, dalam bidang Pembelajaran Bahasa Indonesia, tentang Pembelajaran Sastra: Problematika dan Beberapa Pemecahannya

Hadirin yang berbahagia.

Pendidikan di Indonesia tidak hanya berperan sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai pembudayaan (enkulturisasi), yang salah satu bidangnya adalah pembentukan karakter dan watak. Sayangnya, pendidikan nasional menurut banyak kalangan belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik. Pendidikan nasional gagal dalam pembentukan karakter dan watak (Azra. 2006: xiii—xiv). Untuk itulah, perlu dipikirkan secara serius pendidikan yang dapat membentuk karakter dan watak anak didik. Salah satu mata pelajaran yang dapat digunakan untuk mendidik karakter dan watak untuk anak didik adalah mata pelajaran sastra.

Sudah saatnya kita perlu meninjau kembali mata pelajaran ini, apakah sudah dapat membentuk kepribadian dan watak murid ataukah belum? Yang perlu dipikirkan pada pelajaran sastra tidak hanya hal ini. tetapi juga bagaimana dengan kurikulum, guru, pembelajaran, materi, media, dan alat evaluasinya.

Kurikulum

Setelah Kurikulum 1975 diganti Kurikulum 1984, hampir sepuluh tahun sekali kurikulum pendidikan kita berganti. Pergantian kurikulum ini memang dibutuhkan untuk mengikuti perkembang- an dan tuntutan zaman. Sayangnya, sosialisasi perubahan kurikulum tidak selalu berjalan lancar.

Sering terjadi, kulikulum sudah diberlakukan, bahkan beberapa tahun, masih banyak guru yang tidak memahami kurikulum yang berlaku beserta bagaimana mengajarkan mata pelajaran yang harus diampu, sehingga guru masih banyak yang mengajar dengan cara dan materi kurikulum lama meskipun kurikulumnya sudah berganti. Bila guru tersebut sudah atau baru memahami kurikulum.

tiba-tiba saja kurikulumnya diganti lagi. Nasib guru dan keadaan guru untuk belajar hal baru terjadi lagi. Hal ini terjadi pada tahun 1984, 1994, dan 2004. Bahkan, pada saat Kurikulum 2004 diluncurkan, masih belum ada kepastian kurikulum mana yang harus digunakan guru karena begitu banyaknya draft kurikulum yang diberikan pemerintah dan beredar, yang dari waktu ke waktu selalu berubah.

Kondisi semacam ini kurang menguntungkan bagi psikologi guru dalam menghadapi perubahan.

Mereka menjadi apatis terhadap perubahan, karena perubahan dianggap sebagai beban dan ketidakpastian.

Kurikulum Tungkat Satuan Pendidikan (KTSP) hanya berisi garis besar program (latar belakang, tujuan, ruang lingkup, standar kompetensi, dan kompetensi dasar). Kurikulum ini bisa ditafsirkan, dipahami, dan diterapkan secara berbeda-beda, bergantung pada kemampuan dan kemauan guru. Dalam kondisi dan kualitas guru seperti sekarang, kurikulum semacam ini tidak menguntungkan dan cenderung merepotkan berbagai pihak. Sebaiknya, kunkulum lebih terperinci sehingga bisa diukur kedalaman, keluasan, dan keruntutan materi. Kalau perlu, kurikulum sudah dilengkapi dengan berbagai petunjuk teknis (misalnya buku evaluasi, metode, media dan sumber belajar, silabus, dan rencana pembelajaran) yang dikeluarkan bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum. Tidak seperti sejarah keluarnya KTSP yang semuanya disusun dan disahkan secara diangsur.

Guru Sastra

Hadirin yang saya hormati,

Membahas guru (sastra) Indonesia, saya suka membayangkan dan berdoa agar mereka seperti Bu Muslimah yang begitu gigih tanpa pamrih dan mengagumkan mampu membelajarkan seorang Andrea Hirata dan orang pinggiran dan terpinggirkan menjadi orang yang mampu mengaktualisasikan diri dengan baik. Saya juga membayangkan guru yang ada di sinetron Aku Cinta Indonesia yang begitu dihormati dan bijak; atau guru di novel Totto Chan yang begitu sabar dan kreatif dalam membelajarkan muridnya. Saya begitu kecewa dengan tokoh guru di sinetron akhir-akhir ini, seperti di Bolu (Bocah Lucu) atau di Cagur (Calon Guru) Naik Bajaj, yang digambarkan sebagai orang yang bodoh dan bloon, ketinggalan zaman, kurang pergaulan, bahan olok-olok murid, dan gambaran negatif lainnya.

Berbicara guru kita akan menemukan berbagai masalah. Ini tidak berarti tidak ada guru yang baik. Bahkan, saya perlu mengacungkan dua ibu jari untuk guru yang mampu memenangi lomba guru kreatif, lomba menulis karya ilmiah, lomba menulis cerpen, atau guru yang menulis buku. Di harian Jawa Pos pemah memuat pendapat Zainal Rahmat. Kepala UPTD Kecamatan Kedung Kandang tentang adanya sepuluh penyakit yang diderita guru. Kesepuluh penyakit itu adalah kusta (kurang tanggap strategi). TBC (tidak banyak cara), kudis (kurang disiplin), lesu (lemah sumber), kram (kurang terampil), tipes (tidak punya selera), asam urat (asal susun materi), asma (asal masuk), mual (muatan amat lemah), dan jadul (zaman dulu). Bagaimana dengan guru sastra? Mungkin kurang lebih sama.

Masalah itu bisa ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada guru sastra yang tidak mempunyai kualifikasi (ijazah) yang sesuai untuk mengampu mata pelajaran ini. Yang lebih parah lagi, banyak guru yang tidak mengerti atau kurang menguasai materi yang seharusnya diajarkannya. Penelitian di beberapa tempat menunjukkan bahwa nilai guru cukup rendah saat mengerjakan soal UAN yang diperuntukkan bagi murid mereka. Belum lagi ketidak mampuan mereka memahami kurikulum dan menjabarkannya ke dalam materi pembelajaran yang sistematis yang sesuai dengan tingkat usia murid. Guru kurang bisa membelajarkan materi dengan efektif dan efisien, sehingga sering tidak bisa mengelola waktu dan kurang bisa membelajarkan murid sesuai dengan tuntutan kurikulum. Belum lagi kesukaan Guru suka mengajar teori dibanding keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra. Masalah seperti ini sering saya temui saat saya menunggu PLPG. Itulah sebabnya, upaya pemerintah dalam mengakui profesi guru melalui berkas portofolio dan PLPG perlu ditinjau kembali.

Bila perlu pemberian sertifikasi dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan yang melembaga.

Guru sebagai tenaga profesional di bidang pembelajaran wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi Program Sarjana atau Program Diploma IV (empat) yang sesuai dengan tugasnya sebagai guru. Guru bahasa Indonesia sudah seharusnya guru lulusan pendidikan bahasa Indonesia.

Selain itu. guru harus mempunyai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Ke- mampuan itu meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pem- belajaran, evaluasi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Guru hendaknya memiliki dan menguasai sepuluh keterampilan dasar mengajar. Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan: (1) membuka dan menutup pelajaran, (2) menjelaskan. (3) memberi penguatan. (4) menggunakan media pembelajaran. (5) mengadakan variasi, (6) mengelola kelas. (7) bertanya, (8) komunikasi personal. (9) membimbing diskusi, dan (10) mengevaluasi.

Kompetensi kepribadian merujuk pada kemampuan kepribadian guru. Seorang guru hendaknya mempunyai kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Banyak resep untuk menjadi pribadi yang baik. Ada beberapa hal yang diajukan Syukur (2010) untuk menjadi guru dahsyat, yaitu taqwa, cinta mengajar, kemauan yang kuat, mempunyai visi dan idealisme yang jelas, disiplin, mau mengajar dan mengikuti zaman, bisa bersikap tegas, menjadi motivator dan mau memberi pujian, bijaksana, serta menjadi mitra dan mediator.

Ajisaka (2008) mengemukakan bahwa untuk menjadi manusia yang mempunyai magnet keberuntungan, manusia hendaknya mempunyai sepuluh hal. Kesepuluh hal itu adalah membangun dan memperbesar jejaring berpetualang dan mencari hal-hal baru, banyak memberi dan melayani, memiliki tujuan, fleksibel dan rileks, mengikuti dan mengasah intuisi, memiliki sikap positif, bertumbuh dan belajar, beram mengambil tindakan. taqwa, syukur, doa. yakin, serta tawakal.

Dengan bahasa yang berbeda Abidin (2007) memberikan tujuh formula agar individu menjadi cemerlang. Ketujuh formula itu adalah (1) mengenali kekuatan dan potensi diri. (2) me- munculkan ketaqwaan. (3) meningkatkan ilmu, (4) memili wawasan dan tujuan hidup. (5) memelihara amanah. (6) berfikir positif, dan (7) menyantuni manusia.

Dalam konteks semacam ini, wajar bila seorang guru dinilai dari beberapa aspek. Aspek yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan ajaran agama, tanggungjawab, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan bekerjasama.

Bagaimana dengan kompetensi profesional? Yang dimaksud dengan kompetensi profesi- onal adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Pendidikan Nasional.

Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat. Ke- mampuan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Guru bahasa Indonesia dihargai karena kemampuan membelajarkan siswa. Oleh karena itu. guru bahasa Indonesia adalah guru yang hebat di kelas. Guru yang bisa menjadikan muridnya mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra Indonesia secara maksimal. Penghargaan dan penilaian terhadap guru untuk kenaikan pangkat. sertifikasi, guru teladan, guru kreatif, atau penghargaan dan penilaian sejenis sebaiknya berbasis kelas. Pelatihan terhadap guru sebaiknya juga diorientasikan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan peningkatan kemampuan guru di kelas.

Pembelajaran Sastra Hadirin yang saya hormati.

Bagaimana, supaya pembelajaran sastra efektif dan efisien? Salah satu yang perlu dilaku- kan adalah kemampuan dan kemauan guru untuk membelajarkan sastra dengan model yang tepat.

Dalam kurikulum KTSP ada kompetensi dasar tentang puisi, prosa, dan drama. Dalam beberapa pengamatan yang saya lakukan, guru banyak menghabiskan waktu untuk membahas teori tentang puisi, prosa, dan drama. Guru-guru sering melupakan untuk membelajarkan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis puisi, prosa, atau drama dengan waktu yang cukup, karena sudah dihabiskan untuk membahas teori. Selain itu. yang sering dilupakan guru adalah bagaimana cara

atau model menyimak, berbicara, membaca, dan menulis puisi, prosa, atau drama itu sendiri. Beriku, ini akan diuraikan secara singkat contoh model menulis puisi dan prosa.

Seringkah guru membelajarkan siswa menulis puisi justru dengan menjelaskan teori puisi.

Kalau ada guru yang sedikit kreatif, mereka membelajarkan menulis puisi kepada siswa dengan mengajak siswanya keluar kelas—misalnya dalam bentuk mengamati pemandangan alam, tingkah laku orang, objek tertentu—untuk mendapatkan inspirasi puisi yang akan ditulis. Setelah itu. siswa diminta untuk menulis puisi. Bagaimana cara menulis puisi, diserahkan kepada siswa. Dengan model pembelajaran semacam ini. siswa tidak mengetahui bagaimana langkah konkret menulis puisi atau contoh langkah yang harus ditempuh dalam menulis puisi. Seharusnya, guru memberikan langkah- langkah konkret dalam menulis puisi atau model menulis puisi. Berikut ini salah satu model menulis puisi, yaitu model definisi.

Model definisi adalah model menulis puisi dengan memberi definisi atau arti terahadap sesuatu. Kata kunci yang biasanya digunakan yaitu adalah. Siswa diajak untuk menentukan terlebih dahulu kata yang akan didefinisikan. Langkah berikutnya siswa mendefinisikan kata itu dalam beberapa definisi. Setelah itu, siswa diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan atau mengandung pesan. Terakhir, siswa mencoba untuk memperindah bunyi definisi menjadi puisi.. Berikut ini akan diberikan contoh menulis puisi dengan model ini.

Langkah 1: Siswa diminta untuk memilih kata yang akan didefinisikan. Sebagai contoh, kata yang didefinisikan adalah putih

Langkah 2: Siswa mendefinisikan kata dalam beberapa definisi.

Putih

Putih adalah bening Putih adalah bersih Putih adalah suci

Langkah 3: Siswa diminta untuk menambah definisinya menjadi definisi yang bisa direnungkan atau mengandung pesan.

Putih

Putih adalah bening bola matamu, dengan cara sama menatap manusia

Putih adalah bersih hatimu, tak pemah ada dendam walau muka pernah terlempar batu Putih adalah suci pribadimu, selalu menomorsatukan umat

Langkah 4: Siswa mencoba untuk memperindah bunyi definisi menjadi puisi.

Putih

Putih adalah bening bola matamu, dengan cara sama menatap manusia tanpa pandang bulu Putih adalah bersih hatimu, tak pemah ada dendam walau muka pemah terlempar batu Putih adalah suci pribadimu, selalu menomorsatukan umatmu

Berikutnya, akan diuraikan model menulis prosa. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidik- an, ada beberapa kompetensi dasar yang berkenaan dengan apresiasi terhadap latar karya sastra.

Kompetensi yang dimaksud adalah (1) menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek) dengan realitas sosial; (2) menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan; (3) menjelaskan alur cerita. pelaku, dan latar novel remaja (asli atau terjemahan); serta menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen.

Dalam pengamatan saya terhadap kegiatan pembelajaran latar prosa di kelas, banyak guru yang saat membelajarkan apresiasi latar karya sastra masih menghabiskan sebagian besar waktu di kelas pada tataran teori. Mereka asyik menjelaskan pengertian latar dan macam- macam latar.

Kegiatan guru meminta siswa untuk mencari latar yang ada di dalam karya sastra hanya menempati porsi yang sedikit atau dilakukan bila ada sisa waktu. Tidak heran, bila kegiatan belajar mengajar sastra Indonesia berjalan biasa-biasa saja dan kurang menyenangkan.

Model pembelajaran menulis latar bisa dilakukan dengan cara bertahap. Pertama, siswa diminta untuk belajar mendeskripsikan latar. Siswa bisa diajak untuk mengamati kenyataan yang bisa digunakan sebagai latar karya sastra, misalnya, tempat, suasana, waktu, budaya, musim, bahasa.

Tempat yang diamati, antara lain, di pasar, stasiun, taman rekreasi, kantor kecamatan. Suasana yang diamati, misalnya, ketenangan di desa, kesibukan di terminal, atau kebisingan di pabrik. Waktu yang diamati, misalnya, pagi hari di pantai, siang hari di hulu sungai, sore hari di hutan, malam hari di rumah sakit. Budaya yang diamati, misalnya, bagaimana norma, cara pandang, ide, sopan santun, kekerabatan, kebiasaan makan, kebiasaan berkumpul, atau hasil kerajinan suatu suku. Musim yang diamati, misalnya, musim awal kemarau, musim kemarau, musim awal penghujan, dan musim akhir penghujan. Guru hendaknya mengajak siswa untuk menuliskan kenyataan yang dekat dengan siswa.

Pelatihan dimulai dari hal-hal yang menjadi milik atau lingkungan siswa. Pelatihan dimulai dan yang mudah hingga ke yang sulit; dari yang sederhana ke yang kompleks. Model yang ditawarkan bisa berupa bentuk seperti close test. Siswa diminta untuk melengkapi gambaran latar yang dihilangkan beberapa katanya, seperti contoh di bawah ini.

Pagi ini demikian cerah. ... tersenyum riang. Perempatan jalan ...., yang tidak pernah dipandang ... pengendara mobil, sepeda motor, ...., sepeda, dan pejalan kaki ...

menjadi magnit tersendiri. Bunga- bunga di berbagai sudut, trotoar dengan mozaik warna dan ... seakan karpet panjang bagi... kaki. Kini semua yang lewat... memperlambat untuk menikmati kesegaran .. itu.

Siswa bebas untuk mengisi kata-kata yang dihilangkan, asal deskripsi itu menjadi masuk akal.

Jawaban setiap siswa tidak harus sama. Salah satu jawaban siswa mungkin seperti ini.

Pagi ini demikian cerah. Matahari tersenyum riang. Perempatan jalan itu. yang tidak pemah dipandang oleh pengendara mobil, sepeda motor, becak, sepeda, dan pejalan kaki kini menjadi magnit tersendiri. Bunga-bunga menyambut di berbagai sudut, trotoar baru dengan mozaik warna dan bentuk seakan karpet panjang bagi pejalan kaki.

Kini semua yang lewat justru memperlambat untuk menikmati kesegaran taman itu.

Model lainnya, guru bisa memulai dengan memberikan stimulus berupa kalimat awal deskripsi latar seperti contoh di bawah ini.

• Matahari mulai menampakkan wajahnya. (Siswa melanjutkan untuk mendeskripsikan latar).

• Pasar ini merupakan pasar peninggalan Belanda. (Siswa melanjutkan untuk mendeskripsikan latar).

• Bangunan rumah sakit ini mirip dengan sekolah kami. (Siswa melanjutkan untuk mendeskripsikan latar).

Guru juga bisa memberikan stimulus berupa rangkaian kalimat. Siswa diminta untuk melengkapi kalimat itu menjadi gambaran latar. Rangkaian kalimat itu seperti di bawah ini.

• Rumput menunduk tak bergairah. Kupu-kupu enggan

• terbang dan mencari madu. Angin malas berhembus ...

• Seprei dan selimut terpisah dari kasur. Guling dan bantal berserakan di lantai....

• Sepeda motorku baru saja melewati gerbang sebelum memasuki areal tempat rekreasi. Sungguh menarik, gerbang itu tinggi dan berbentuk seekor kera raksasa yang lucu...

Model menulis latar bisa juga dengan cara guru bisa menuntunnya dengan memberikan gambaran singkat latar. Siswa menulis kembali dan mengembangkan latar berdasarkan gambaran yang telah didengarnya dari guru. Gambaran itu misalnya:

• desa yang hijau

• jalanan yang sibuk

• taman yang luas

• sungai yang deras

• langit yang biru

• awan yang berpintal-pintal seperti kapas

Model lainnya, guru bisa menggunakan media gambar/film/lagu/cerita. Siswa menggambar- kan latar sesuai dengan gambar/film/lagu/cerita. Latar yang ditulis siswa bisa sesuai dengan gambar/film/lagu/cerita. bisa juga gambar/film/lagu/cerita itu hanya merupakan titik berangkat bagi

;atar yang ditulis siswa. Yang perlu diperhatikan guru adalah bagaimana latar yang ditulis siswa itu dilihat dari kerincian, urutan, dan juga pemanfaatannya bagi karya sastra yang ditulis siswa secara utuh nanti.

Model lain yang diberikan guru, siswa meniru latar yang ada di dalam karya sastra yang bagus. Siswa bisa mengganti-ganti kata, kalimat, atau unsur lainnya yang ada di dalam latar tersebut.

Sebagai contoh, perhatikan latar cerpen Budi Darma yang berjudul “Mata yang Indah” di bawah ini!

Ketika saya tiba kembali di desa ibu. saya melihat pemandangan yang benar- benar mengerikan. Debu beterbangan, rumah tinggal sedikit karena rumah-rumah lain sudah roboh, tanah retak-retak kekeringan, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu hewan pun yang nampak. Sungai juga sudah benar- benar kering. Desa ibu telah ditinggalkan oleh semua penduduk, kecuali ibu. Dan ibu nampaknya tetap bertahan, untuk menunggu kedatangan saya kembali.

Latar di atas bisa diubah menjadi latar yang agak lain. Sebagai contoh, mengubah latar dengan mengganti tokoh saya menjadi tokoh kami, ibu menjadi paman, hewan diganti orang, dan penduduk diganti orang.

Ketika kami tiba kembali di desa paman, kami melihat pemandangan yang benar- benar mengerikan. Debu beterbangan, rumah tinggal sedikit karena rumah-rumah lain sudah roboh, tanah retak-retak kekeringan, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu orang pun yang nampak. Sungai juga sudah benar- benar kering. Desa paman telah ditinggalkan oleh semua orang, kecuali paman. Dan paman nampaknya tetap bertahan, untuk menunggu kedatangan kami kembali.

Latar di atas bisa diubah menjadi latar lain yang lebih kompleks. Sebagai contoh, mengubah latar desa menjadi kota, sehingga unsur- unsur desa berubah menjadi unsur-unsur kota.

Ketika saya tiba kembali di tempat ibu. saya melihat pemandangan yang benar- benar mengerikan. Debu beterbangan. Rumah, toko, dan pabrik tinggal sedikit karena sudah banyak yang roboh, jalanan retak-retak, pohon-pohon mati, dan tidak ada satu orang pun yang nampak. Air tidak mengalir. Tempat ibu telah ditinggalkan oleh semua penduduk, kecuali ibu. Dan ibu nampaknya tetap bertahan, untuk menunggu kedatangan saya kembali.

Latar di atas bisa diubah menjadi latar lain yang berbeda. Sebagai contoh, mengubah latar desa sepi, kering, dan gersang menjadi desa yang indah dan subur.

Ketika saya tiba kembali di desa ibu, saya melihat pemandangan yang benar- benar menakjubkan. Udara sangat segar. Rumah penduduk tampak asri oleh pagar hidup dan pohonan yang masih alami. Jalanan tanah tampak menambah harmonis pemandangan. Hewan-hewan peliharaan tampak berkeliaran aman. Sungai-sungai jernih, seakan airnya langsung bisa diminum. Tidak heran ibu nampaknya tetap betah tinggal di desa itu sambil menunggu kedatangan saya kembali.

Model lain, guru bisa menuntunnya dengan memberi pedoman. Pedoman itu, misalnya, dengan meminta murid menulis latar berdasarkan arah, seperti dan timur, utara, barat, dan selatan;

atau dari depan, samping, dan belakang. Perhatikan latar cerpen “Kritikus Adinan” karya Budi Darma yang tampak di bawah ini.

.... Tepat satu jam sebelum jam yang ditentukan dalam surat panggilan kritikus Adinan sampai di depan rumah pengadilan. Rumah ini nampak kuno, besar dan gelap. Banyak pohon- pohon tinggi yang mengelilingi rumah itu. Kritikus Adinan melangkahkan kaki di atas trap tengah, dan setelah sampai di trap yang paling atas kritikus Adinan berhenti sebentar untuk melihat petunjuk yang tertera di atas tembok. Lalu kritikus Adinan berjalan ke kanan, dan sesudah itu sesuai dengan petunjuk di pojok tembok kritikus Adinan membelok ke kiri. Sekarang kritikus Adinan memasuki lorong gelap dan panjang.

Rasanya kurang bebas bernafas dalam lorong itu. Di sebelah kiri nampak pintu-pintu kamar yang semuanya tertutup, dan di sebelah kanan tampak tembok putih luntur yang kadang- kadang disela-sela oleh jendela-jendela tertutup. Tidak ada satu lampu pun yang menyala dalam lorong itu. Satu-satunya cahaya matahari yang menerobos sela- sela jendela kayu kanan.... (Darma, 1974:104)

Model lain, guru bisa menuntun murid menulis dengan memberi dari hal-hal yang menonjol hingga yang tidak menonjol, dan yang menarik perhatian hingga yang bisa dilewatkan. Perhatikan contoh latar tempat cerpen '‘Bambang Subali Budiman" karya Budi Darma di bawah ini!

Seperti pemandangan lain yang sempat saya lihat dalam kecamatan ini. kebersihan kamar ini juga patut diberi nilai tinggi. Sepreinya putih bersih dan tersetrika rapi, demikian juga taplak mejanya. Labur dindingnya masih baru dan segar. Kamar mandinya, menjadi satu dengan kamar tidur, juga bersih. Di beberapa tempat ada tombol bel untuk memanggil kacung. Dan bau wangi dalam kamar ini mematikan selera saya untuk meninggalkan kamar, dan sekaligus memperhebat nafsu saya untuk tidur (Darma, 1981:332)

Materi Pembelajaran Hadirin yang saya hormati.

Secara umum, tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang sastra dalam Kurikulum 2004 adalah sebagai berikut. Pertama, siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Kedua, siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Tujuan itu dijabarkan ke dalam kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis sastra. Kemampuan mendengarkan sastra meliputi kemampuan mendengarkan, memahami, dan mengapresiasi ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) baik karya asli maupun saduran/terjemahan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Kemampuan berbicara sastra meliputi kemampuan membahas dan mendiskusikan ragam karya sastra sesuai dengan isi dan konteks lingkungan dan budaya. Kemampuan membaca sastra meliputi kemampuan membaca dan memahami berbagai jenis dan ragam karya sastra, serta mampu melakukan apresiasi secara tepat. Kemampuan menulis sastra meliputi kemampuan mengekspresikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa, drama) dalam bentuk sastra tulis yang kreatif, serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang sudah dibaca.

Kalau dicermati, kompetensi yang akan dikembangkan masih berkutat pada intrasastra dan pengetahuan tentang sastra. Begitu kompetensi ini dijabarkan dalam buku pembelajaran, isinya masih berkisar pada (mohon maaf) sekadar tema, tokoh, watak, penokohan, perwatakan, alur, sudut pandang, latar, gaya bahasa, nilai, dan amanat, kalau itu pembelajaran prosa. Pembelajaran puisi masih berkutat pada masalah (1) struktur fisik puisi: perwajahan, diksi, pengimajian, kata konkrit,