HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia
4. Pembinaan Rohani (Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha)
kebanggaan akan kejuangan Polri yang secara konsisten menjaga dan mengisi Negara Kesatuan Republik Indonesia.177
memperkuat keyakinan beragama, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, maupun dalam hubungan manusia dengan sesamanya179
Cakupan pembinaan rohani menurut Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Pembinaan Rohani tertuang pada Pasal 5 antara lain bahwa pembinaan Rohani berdasarkan agama masing-masing meliputi nilai-nilai: Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memuat/mencakup dasar keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; Pelaksanaan ibadah memuat/mencakup tentang tata cara pelaksanaan ibadah; Akhlak dan moral (Etika dalam berhubungan dengan Tuhan, Etika dalam menjalin hubungan antar sesama manusia dan Etika dalam berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitar) Toleransi dan kerukunan umat beragama, (Kerukunan intern umat beragama, Kerukunan antarumat beragama; dan Kerukunan umat beragama dengan pemerintah atau sering disebut dengan istilah tri kerukunan umat beragama); dan Keluarga bahagia memuat/mencakup dasar kehidupan keluarga yang kekal, bahagia dan sejahtera.180
Bentuk kegiatan pembinaan rohani sebagaimana yang tertuang pada pasal 7 Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2018 yaitu:
Pertemuan; peringatan/perayaan hari besar agama; membuat tulisan/gambar yang dimuat dalam media cetak/elektronik; sidang pranikah; pracerai dan rujuk;
pengambilan sumpah; ibadah/doa; wisata religi; dan bakti sosial.181 Bentuk kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin ataupun insidentil yaitu dengan menggunakan metode ceramah; konseling; diskusi; dan pendampingan.
179Perpol No. 10 th 2018, psl 1, op.cit.,
180Ibid, psl 5
181Ibid, psl 7
Materi pembinaan rohani disampaikan oleh rohaniwan Polri dari masing- masing agama, dan dalam hal tidak tercukupi atau tidak tersedianya Rohaniwan Polri, dapat meminta bantuan Rohaniwan dari instansi atau lembaga keagamaan atau tokoh (pemuka) agama setempat dengan tetap mempertimbangkan aspek kompetensi, moralitas, integritas, kapabilitas, serta menggunakan bahasa yang santun dan tidak provokatif.182
Pelaksana pembinaan rohani tingkat Markas Besar Polri adalah Kepala Biro Perawatan Personel Staf Sumber Daya Manusia (Karowatpers SSDM) Polri, sedangkan tingkat Kepolisian Daerah oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Kepolisian Daerah (Karo SDM Polda); dan tingkat Kepolisian Resor oleh Kepala bagian Sumber Daya Kepolisian Resor (Kabagsumda Polres).
Sebagai penanggung jawab dalam penyelenggaraan pembinaan rohani tingkat Markas Besar Polri adalah Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia (As SDM Kapolri), Tingkat Kepolisian Daerah oleh Kepala Biro Sumber Daya Manusia Kepolisian Daerah (Karo SDM Polda); dan Tingkat Kepolisian Resor dan Kepolisian Sektor oleh Kepala Bagian Sumber Daya Kepolisian Resor (Kabagsumda Polres).183
Secara rinci tugas pembinaan rohani diamanatkan dalam Perkap Nomor 6 tahun 2017 bahwa struktrur yang mengawaki pembinaan rohani adalah Bagian Pembinaan Religi Biro Perawatan Personel Staf Sumber Daya Manusia Polri.
Bagian pembinaan religi dipimpin oleh seorang Kepala Bagian dengan pangkat Komisaris Besar Polisi yang memiliki tugas pokok menyelenggarakan pelayanan
182Ibid., psl 6
183Ibid., Pasal 15-16.
adminstrasi pembinaan religi dalam lingkungan Polri yang meliputi Rohani Islam (Rohis), Rohani Protestan (Rohprot), Rohani Katolik (Rohkat), Rohani Hindu (Rohhin) dan Rohani Buddha (Rohbud), serta keyakinan lain, serta malaksanakan penyusunan bahan ajaran yang berkaitan dengan pembinaan religi.184
Dalam melaksanakan tugas, Kabagbinreligi dibantu oleh 3 (tiga) Kepala sub bagian yaitu Sub Bagian Rohani Islam (Subbag Rohis); Sub Bagian Rohani Protestan dan Katolik (Subbag Rohprotkat); dan Sub Bagian Rohani Hindu dan Buddha serta Keyakinan lain (Subbag Rohhinbudkin), dan juga dibantu oleh kelompok jabatan fungsional rohaniwan, yang masing-masing memiliki tugas sebagai berikut:
a. Kasubbagrohis, bertugas menyelenggarakan pembinaan religi Rohis yang meliputi: pembinaan pra nikah, nasehat atau bimbingan dalam menyelesaikan kasus-kasus rumah tangga bagi anggota dan PNS Polri yang beragama Islam; pelayanan administrasi kegiatan keagamaan Islam di lingkungan Polri seperti, ibadah haji, peringatan hari besar keagamaan, imam, khatib dan kegiatan ibadah lainnya; serta penyusunan bahan ajaran yang berkaitan dengan pembinaan Rohis. 185
b. Kasubbagrohprokat, bertugas menyelenggarakan pembinaan religi Rohprot dan Rohkat yang meliputi: pembinaan pra nikah, nasihat atau bimbingan dalam menyelesaikan kasus rumah tangga bagi personel Polri yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik; pelayanan administrasi dan kegiatan acara keagamaan Kristen Protestan dan Kristen
184Perkap No. 6 tahun 2017 lampiran V SSDM Polri Biro Watpers, op.cit.,
185Ibid.,
Katolik di lingkungan Polri seperti peringatan hari besar keagamaan Kristen, misa kudus dan kegiatan ibadah lainnya; penyusunan bahan ajaran yang berkaitan dengan pembinaan Rohprot dan Rohkat;186
c. Kasubbagrohhinbudkin, bertugas menyelenggarakan pembinaan religi Rohhin, Rohbud, dan keyakinan lain yang diakui oleh pemerintah Indonesia, yang meliputi: pembinaan pra nikah dan nasehat atau bimbingan dalam menyelesaikan kasus rumah tangga anggota dan PNS Polri yang beragama Hindu, Budha, atau keyakinan lain yang diakui pemerintah Indonesia; pelayanan administrasi danakegiatan parayaan hari- hari besar agama Hindu dan Budha; serta penyusunan bahan ajaran yang berkaitan dengan pembinaan Rohhin dan Rohbud;187
d. Rohaniwan, bertugas membantu Kabagbinreligi, yang meliputi: pemberian masukan sesuai dengan keahliannya; pembinaan rohani anggota dan PNS Polri di lingkungan Mabes Polri sesuai bidang keahliannya; pembinaan calon mempelai anggota dan PNS Polri sesuai bidang keahliannya;
pelaksanaan perayaan acara keagamaan di lingkungan Polri sesuai bidang keahliannya; penyusunan bahan ajaran bidang religi.188
Pembinaan rohani bagi anggota Polri adalah keniscayaan, bukan saja karena fitrah bahwa dalam setiap diri wajib meningkatkan kualitas diri, juga karena ada banyak regulasi di lingkungan Polri yang mengatur tentang pembinaan rohani, mental dan karakter kepribadian insan Bhayangkara. Kegiatan pembinaan rohani di lingkungan Polri umumnya dilaksanakan rutin setiap seminggu sekali pada hari
186 Ibid
187 Ibid
188 Ibid
Kamis, dengan membaca Al Quran dan ceramah agama, dilaksanakan setelah pelaksanaan apel pagi. Adapun maksudnya ialah untuk meningkatkan kualitas iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena menjadi sangat penting bagi anggota Polri mengingat tugas-tugas yang diemban sangat berat.
Pembinaan rohani menjadi salah satu wadah untuk membentuk karakter dan alat control diri dalam tugas, untuk menjadi lebih humanis dalam melayani masyarakat, sehingga citra Polri menjadi lebih baik.
Sejarah mencatat bahwa tugas meraih hati masyarakat hanya bisa dilakukan dengan tampilan akhlak yang baik sebagaimana dicontohkan nabi Muhammad SAW. Pertama, mengubah pola pikir yang bertumpu pada keharusan mempercayai dan mengikuti perintah Tuhan dalam arti yang seluas-luasnya.
Kedua, memberikan keteladanan atau contoh kongkrit, dengan mengikuti perintah Tuhan, baik dalam hubungan dengan Tuhan dan jagad raya, mulai dari rumah tangga, bertetangga, bekerja, bersosialisasi dengan lingkungan yang heterogen baik agama, suku dan budaya, berdiplomasi dan bahkan dalam memimpin negara.
Ketiga, melakukan proses seleksi, akomodasi, dan reintregrasi dengan nilai-nilai adat istiadat yang sesuai dan relevan. Keempat, melakukan perubahan, modifikasi, difusi, pembatasan dan penghapusan terhadap akhlak masa lalu yang tidak baik dengan cara evolutif. Kelima, berpijak pada konsep fitrah manusia sebagai makhluk yang mencintai kebaikan (etika), keindahan (estetika), dan kebenaran
(logika). Keenam, memberikan reward and funishmen secara bijaksana terhadap setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap Tuhan.189
Upaya pembinaan rohani terus dilakukan, namun demikian berdasarkan data pelanggaran sebagaimana yang dirilis oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri, bahwa jumlah pelanggaran anggota Polri pada 4 (empat) tahun terakhir ini masih cukup tinggi yaitu mencapai 28.782 pelanggaran, yang meliputi pelanggaran disiplin sebanyak 23.034, pelanggaran Kode Etik Profesi Polri sebanyak 4.458 dan pelanggaran pidana sebanyak 1290.190 Oleh karena itu, pimpinan Polri sejak awal reformasi telah berupaya melakukan pembenahan-pembenahan dengan melakukan reformasi kepolisian yang meliputi aspek struktural, aspek instrumental dan aspek kultural, yang dijalankan secara simultan.
Reformasi di bidang struktural dan instrumental dirasakan dapat berjalan dengan baik dan cepat, berbeda dengan aspek ke tiga yaitu aspek kultural yang dirasakan berjalan lamban dan terkesan sangat sulit, terutama pada perubahan pola pikir (mind set), perilaku dan budaya kerja (culture set) Polri, seperti mengedepankan kewenangan dari pada kewajiban, kecenderungan ekslusif, formalitas yang tidak efektif dan birokrasi yang berlebihan, sehingga masih terdapat gap antara perubahan paradigma Polri pada yang melekat dalam setiap anggota Polri dengan yang diharapkan.191
189Abuddin Nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam isu-isu Kontemporer Kentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013) hlm. 212.
190Divpropam Polri, Data Penindakan/Penyelesaian Pelanggaran anggota/PNS Polri Tahun 2015, 2016, 2017 dan 2018.
191Muhammad Tito Karnavian, Hermawan Sulistyo, Demokratic Policing, op.cit., hlm. 342.
Dalam rangka mendukung terwujudnya tahapan grand strategy Polri 2005- 2025, yang saat ini berada pada tahapan membangun keunggulan pelayanan publik, maka perlu motivasi yang benar. Setiap anggota Polri dalam agama apapun hendaknya dengan penuh keyakinan, pemahaman, kesadaran dan keikhlasan bahwa panggilan tugas sebagi insan Bhayangkara adalah ibadah, sehingga dalam setiap tampilanya senantiasa memperbaiki pelayanan sekaligus menjaga diri dari sifat tidak terpuji, menghindari pungli, korupsi dan pemanfaatan peluang-peluang untuk kepentingan pribadi yang nyata-nyata telah menimbulkan efek mematikan terhadap organisasi yaitu hilangnya kepercayaan masyarakat.
Setidaknya ada 5 (lima) hal yang di instruksikan Presiden kepada jajaran kepolisian untuk meningkatkan kinerja dalam rangka membangun kepercayaan publik yaitu: Pertama, Perbaikan manajemen internal Polri untuk menekan budaya negatif seperti korupsi, penggunaan kekerasan yang berlebihan dan arogansi kewenangan. Kedua, Pemantapan soliditas internal dan profesionalisme Polri guna mendukung terwujudnya Indonesia berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Ketiga, Optimalisasi modernisasi Polri dengan penggunaan tehnologi informasi dalam pelayanan publik. Keempat, Peningkatan kesiapsiagaan operasional melalui upaya deteksi dini dan deteksi aksi dengan strategi polisional aktif; dan Kelima, Meningkatkan kerjasama, kordinasi dan komunikasi dengan semua elemen, baik pemerintah maupun masyarakat serta kolega internasional sebagai implementasi pendekatan sinergi polisional guna mewujudkan kamtibmas yang kondusif. 192
192Ibid., hlm. 151