• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah/penyuluhan agama tidak selalu dapat diletakkan dalam konteks yang bersifat makro. Oleh karena setiap dai/penyuluh agania harus mampu memetakan kelompok sasaran karena tidak mungkin seorang penyuluh agama dapat melakukan kegiatan yang menyentuh semua strata dan segmen masyarakat dalam waktu yang bersamaan.

Pemetaan kelompok sasaran Penyuluh Agama Islam merupakan langkah yang penting untuk memudahkan dalam memilih metode pendekatan dan menen- tukan materi bimbingan atau penyuluhan yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran.

Dalam melakukan pemetaan kelompok sasaran penyuluhan agama Islam, ada beberapa hal pokok yang menjadi tolok ukur dan kerangka analisis yaitu:

a. Kelompok masyarakat dilihat dari tingkatan sosial ekonominya.

b. Kelompok masyarakat dilihat dari tingkatan pendidikan dan pengetahuan- nya.

c. Kelompok masyarakat dilihat dari statusnya.

d. Kelompok masyarakat dilihat dari segi wilayah/geografis dan profesinya.

1. Kelompok Sasaran

Berdasarkan empat tolok ukur di atas, sasaran dakwah/ penyuluhan agama Islam dalam masyarakat Indonesia kontemporer antara lain:

1) Kelompok sasaran masyarakat umum, terdiri dari:

a. Masyarakat pedesaan b. Masyarakat transmigrasi

2) Masyarakat perkotaan terdiri dari:

a. Komplek Perumahan. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan komplek perumahan adalah untuk meningkatkan kesadaran beragama bagi para para karyawan pemerintah atau swasta penghuni komplek sehingga tercipta suasana keagamaan dan kehidupan yang harmonis baik di rumah tangga maupun di lingkungan komplek.

b. Real Estate. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan real estate adalah untuk meningkatkan kesadaran beragama di kalangan komunitas penghuni real estate yang memiliki tingkat pendidikan relatif tinggi, gaya hidup berkelas dan mapan secara ekonomi. Penghuni real estate memiliki mobilitas kegiatan dan intensitas kesibukan yang tinggi sehingga sedikit waktu untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

Penyuluhan agama di lingkungan real estate harus menyentuh subsansi beragama secara praktis dan nilai-nilai kehidupan sosial.

c. Asrama. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan asrama adalah untuk menanamkan kesadaran hid up beragama bagi anggota tentara atau kepolisian dan keluarganya agar terbina suasana yang baik di lingkungan- nya.

d. Daerah pemukiman baru. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan daerah pemukiman baru adalah untuk menanamkan kesadaran beragama dan membina kegiatan ibadah di lingkungan tempat tinggal baru.

e. Masyarakat Pasar. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan masya- rakat pasar yang notabene kelompok masyarakat paling sibuk adalah untuk menanamkan kesadaran beragama dan implementasi nilai-nilai agama dalam kegiatan bisnis yang mereka lakukan.

f. Masyarakat Daerah Rowan. Dakwah/Penyuluhan agama dilingkungan masyarakat daerah rawan, baik rawan dari segi keamanan maupun rawan dari segi pengaruh sesuatu paham atau ajaran lain, harus diarahkan untuk menanamkan kesadaran, pengertian dan ketahanan spiritual dan sosial terhadap berbagai pengaruh yang merugikan.

g. Karyawan instansi pemerintah/swasta tingkat Kabupaten/Provinsi.

Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan karyawan instansi pemerintah/

swasta adalah untuk meningkatkan dan memperdalam pengamalan ajaran agama sehingga agama menjiwai etas kerja dan mewarnai perilaku kerja serta tumbuhnya suasana agamis di tempat kerja.

h. Masyarakat industri. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan masyarakat industri adalah untuk membina kehidupan beragama dikalangan para pekerja industri/pabrik dan keluarganya.

i. Masyarakat sekitar kawasan industri. Dakwah/Penyuluhan agama di lingkungan masyarakat sekitar kawasan industri terutama harus diarah- kan untuk membina ketahanan iman dan moral masyarakat sehingga kehidupan sosial dan moral masyarakat tidak mudah bergeser karena pengaruh hadirnya kawasan industri di sekitar mereka.

3) Kelompok sasaran masyarakat khusus, terdiri dari:

a. Cendekiawan, terdiri dari kelompok binaan:

1) Pegawai/karyawan instansi pemerintah 2) Kelompok profesi

3) Kampus/masyarakat akademis 4) Masyarakat peneliti serta para ahli b. Generasi muda, terdiri dari kelompok binaan:

1) Remaja Masjid 2} Karang Taruna 3) Pramuka

c. LPM, terdiri dari kelompok binaan:

1} Majelis Taklim 2) Pondok Pesantren 3) TPA/TKA

d. Binaan Khusus, terdiri dari kelompok binaan:

1) Panti Rehabilitasi/Pondok Sosial

2) Rumah Sakit

3} Masyarakat gelandangan dan pengemis 4} Lokalisasi Wanita Tuna Susila (WTS) 5} Lembaga Pemasyarakatan (LP}

e. Daerah Terpencil, terdiri dari kelompok binaan:

1} Masyarakat Daerah Terpencil 2) Komunitas Adat Terpencil.

2. Ciri-ciri Kelompok Sasaran/Binaan.

Dalam pelaksanaan kegiatan dakwah/Penyuluh Agama Islam, setiap dai/

penyuluh agama berhubungan secara langsung dengan obyek sasaran yaitu:

1}. Kelompok sasaran. Kelompok sasaran adalah kelompok atau anggota masyarakat yang berada dalam suatu wilayah sasaran dakwah/ bimbingan penyuluhan. Kelompok sasaran ini mempunyai ciri-ciri antara lain:

a. jamaahnya tidak terdaftar sehingga setiap kali ada kegiatan dakwah/

bimbingan atau penyuluhan selalu berubah-ubah baik dalam jumlah maupun individu yang hadir.

b. tidak terstruktur, maksudnya adalah tidak ada struktur organisasinya baik yang sifatnya sederhana maupun yang rapi.

c. bersifat sementara, adalah pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan apabila dipandang sangat mendesak dan penting.

d. tidak terjadwal, karena sifatnya sementara maka pelaksanaan bimbi- ngan dan penyuluhan tidak terjadwal rapi. Misalnya sebulan 4 kali setiap minggu 1 kali dan tiap kali tatap muka 1 jam, hal tersebut telah dilakukan.

2} Kelompok binaan, adalah kelompok atau anggota masyarakat yang berada dalam kelompok sasaran yang secara sengaja mengelompokkan diri/

dikelompokkan oleh dai/penyuluh agama dan menjadi sasaran bimbingan penyuluh agama secara kontinyu dan terencana.

Kelompok ini mempunyai ciri-ciri yang merupakan kebalikan dari ciri-ciri kelompok sasaran terse but di atas. Ciri-ciri tersebut antara lain adalah:

a. memiliki program pembinaan yang terarah dan sistematis

b. terstruktur, yaitu mempunyai organisasi, walaupun organisasinya sangat sederhana, tetapi kelompok ini memiliki sekurang-kurangnya ketua/ koordinator/kiayi/guru ngaji, dll.

c. kegiatan bersifat kontinyu, yaitu kegiatan bimbingan dan penyuluhan sifatnya kontinyu dan terjadwal secara rapi. Misalnya setiap hari jam 19 s.d. 21, setiap hari Kamis atau sebulan sekali setiap hari Jumat malam jam 19 s.d. 21.

d. memiliki jangka waktu yang relatif lebih lama, maksudnya adalah kelompok binaan ini tidak ada keinginan untuk bubar, kecuali sebab- sebab tertentu yang tidak direncanakan sebelumnya atau jangka waktunya ditetapkan selama 6 bulan atau 1 tahun, dll.

Dokumen terkait