• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pembentukan Kelompok Binaan

2. Tahap Pembentukan

(jika diperlukan), tempat dan frekuensi kegiatan, dan dukungan pendanaan.

Dalam penentuan pengurus sebaiknya dai/penyuluh agama Islam hanya sebagai fasilitator, sedangkan pimpinan pengurusnya diserahkan kepada para pemuda sendiri sehingga tidak timbul kesan bahwa kelompok pengajian yang dibentuk itu membawa misi dari luar. Kelompok pengajian yang dibentuk harus dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat setempat, dikelola oleh, dari dan untuk kepentingan mereka sendiri.

Kelompok pengajian pemuda yang baru itu dibentuk bukan bersifat sementara, tetapi dirancang dan dibina untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Seorang dai/penyuluh agama Islam dapat datang dan pergi dalam waktu singkat karena tugasnya, tetapi kelompok sasaran yang dibinanya adalah untuk jangka waktu yang panjang. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka untuk keleng- kapan organisasi bagi kelompok sasaran (binaan) segera ditetapkan visi dan misi serta program yang lebih rinci lagi yang diterangkan di bawah ini.

1. VISI

Tahap berikutnya setelah dai/penyuluh Agama Islam berhasil membentuk kelompok binaan dalam suatu organisasi apakah itu organisasi yang sederhana maupun organisasi yang rapi adalah menetapkan visi organisasi/kelompok binaan. Visi adalah cara pandang jauh ke de pan kemana kelompok binaan harus dibawa agar tetap eksis, antisipatif, dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran yang menantang.

a. Peran dan Fungsi Visi

Dalam perjalanan kelompok binaan, maka visi memainkan peran yang menentukan dalam dinamika perubahan lingkungan sehingga kelompok binaan dapat bergerak maju menuju masa depan yang lebih baik.

Visi dapat dikatakan sebagai kompas atau arah jalannya bagi setiap jamaah yang ingin memahami maksud dan tujuan kelompok binaan. Apabila suatu saat kelompok binaan tersebut perlu diubah baik sebagian maupun secara keseluruhan, untuk itu perlu dilakukan penyesuaian dengan visi baru kelompok binaan tersebut oleh mereka yang terlibat didalamnya.

Visi yang baik bagi masa depan kelompok binaan adalah visi yang dapat menggerakan jamaahnya untuk bertindak, karena itu kelompok binaan berkembang dan mendapat kemajuan. Bagi kelompok binaan visi memiliki peran dan fungsi imtara lain: l)Memberikan arah bagi anggota kelompok binaan 2)Mencipatakan kesadaran untuk mengendalikan dan mengawasi 3)Mendorong anggota kelompok binaan untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik 4)Menciptakan daya dorong untuk perubahan S)Mempersatukan anggota kelompok binaan.

b. Kriteria Visi yang Kuat

Untuk mengetahui apakah visi yang telah ditetapkan merupakan visi yang kuat atau lemah. Berikut ini beberapa kriteria untuk mengetahui apakah visi

kelompok binaan itu baik dan kuat: l)Visi harus sesuai dengan situasi dan semangat kelompok binaan. Maksudnya adalah visi tersebut harus cocok dengan sejarah, budaya dan nilai-nilai kelompok binaan, konsisten dengan situasi dan kondisi sekarang. 2)Visi harus mampu melukiskan suatu sosok kelompok binaan ida man yang he bat dan mampu memikat hati setiap orang.

3)Visi harus mampu menjelaskan kemana tujuan kelompok binaan yang dituju. 4)Visi harus mempunyai kekuatan persuasif dan dapat menjelaskan harapan, aspirasi, sentimen, pendirian dan kerinduan jamaah kelompok binaan. S)Visi harus dapat menimbulkan antusiasme dan komitmen dari hati yang tulus. 6)Visi harus mengandung norma dan nilai yang menjadi dasar bagi perilaku jamaah kelompok binaan. 7)Visi harus mudah dimengerti.

c. Tujuan Penetapan Visi Kelompok Binaan

Pada dasarnya membentuk visi kelompok binaan adalah mencari gambaran bersama-sama mengenai masa depan, dalam hal kesepakatan-kesepakatan tanpa didasari rasa tertekan, terpaksa, dll.

Visi adalah roh model hari depan dengan demikian visi harus dimiliki bersama dan diyakini oleh seluruh anggota kelompok binaan.

Visi yang tepat bagi kelompok binaan sebaiknya mempunyai tujuan antara lain: a.Menggambarkan apa yang ingin dicapai oleh kelompok sasaran (binaan). b.Memberikan arah dan tujuan strategi yang jelas. c.Dapat menimbulkan perekat dan pengatur dari berbagai gagasan stratejik.

d.Berorientasi terhadap masa depan. e.Menimbulkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan kelompok sasaran (binaan). f.Memberikan kepastian kesinambungan kepemimpinan kelompok sasaran (binaan).

d. Proses Penetapan Visi Kelompok Sasaran (Binaan)

Kelompok sasaran (binaan) yang berkeinginan untuk membuat visi bersama perlu secara terus menerus mengajak anggotanya untuk dapat mengembang-

kan visi individu mereka. Apabila tidak ada visi individu cenderung akan menghasilkan sekedar kesepakatan terhadap visi orang lain. Hasilnya ada- lah "kepatuhan" dan bukan komitmen. Pada umumnya kita berada dalam 'kepatuhan'. Apabila kita dalam kepatuhan maka yang terjadi adalah dukung- an yang kita berikan terhadap visi tersebut sesuai dengan konteksnya.

Namun kita tidak akan menjadi anggota kelompok binaan sebenarnya.

Sebagaimana visi yang merupakan keinginan atau image yang terbawa oleh seseorang dalam dirinya, begitupun juga visi kelompok binaan adalah meru- pakan keinginan dan gambaran yang terbawa oleh masing-masing individu dalam suatu kelompok sasaran (binaan).

2.MISI

Tujuan atau misi menjelaskan apa kegiatan yang digeluti. Apa alasan atau pertimbangan yang melatarbelakanginya. Misi memberi bobot suatu organisasi kelompok binaan. Organisasi yang besar memiliki wawasan tujuan yang luas, mendalam dan luhur. Disinilah arti dan fungsi misi yaitu untuk menjembatani organisasi kelompok binaan dengan kondisi hari depan yang diupayakan diproyeksikan.

Dengan demikian misi (mission), merupakan masa depan organisasi kelompok binaan yaitu bagaimana organisasi ada.

Misi harus dapat menjawab beberapa pertanyaan yaitu:

~ Mengapa organisasi ada dan apa tujuannya?

~ Apa yang unik dan berbeda dari organisasi?

~ Apa yang kelihatannya akan berbeda mengenai kegiatanorganisasi pada 3 sampai dengan 5 tahun mendatang?

~ Siapa customer kita?

~ Apa produk organisasi kita?

~ Apa yang menjadi perhatian kita mengenai agama dan perekonomian

umat yang mendasar?

~ Apa kepercayaan, nilai, aspirasi dan prioritas filosofi kita.

a. Unsur-unsur Misi

Misi menurut Kotler merupakan pernyataan tentang tujuan organisasi yang diwujudkan dalam produk dan pelayanan, kebutuhan yang dapat ditanggu- langi kelompok masyarakat, nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan cita-cita di masa mendatang (Kotler et al, 1987).

Dari batasan tersebut di atas ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan misi suatu organisasi.

1) Produk apa atau pelayanan apa yang ditawarkan (bimbingan dan penyuluhan/pendidikan agama, kesehatan dan sebagainya).

2) Apakah produk atau pelayanan yang ditawarkan tersebut memang diperlukan kelompok masyarakat.

3) Misi harus dengan jelas memiliki sasaran publik mana yang akan dilayani (kelompok tani, nelayan, wan ita, dokter, pendidik, ibu-ibu rumah tangga, remaja).

4) Kualitas produk dan pelayanan yang ditawarkan memiliki daya saing yang meyakinkan masyarakat. lni diperlukan untuk menarik dukungan publik.

5) Aspirasi apa yang diinginkan di masa datang, dijelaskan pula manfaat dan keuntungan masyarakat dengan produk dan pelayanan dimaksud.

b. Proses Perumusan Misi

Misi sebaiknya dirumuskan oleh satu kelompok dan bukan hanya oleh satu orang. Pertanyaan pokok dimuat dalam formulir mencakup masalah keagamaan, sosial dan politik. Apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi dan memberi jawaban terhadap kebutuhan dan masalah terse but. Bagaimana respon kita terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dan organisasi kita?

Juga dimuat tentang nilai-nilai dan identitas organisasi kelompok binaan.

Pertanyaan tersebut perlu dikaji secara mendasar oleh tim perumus yang terdiri dari pakar dan para ahli terkait dalam organisasi pengajian.

Langkah-langkah dalam perumusan misi dimaksud dapat ditempuh sebagai berikut:

1) seorang ditetapkan untuk menghimpun hasrat aspirasi dan keinginan yang dihadapi kelompok binan. Pesan atau masukan terse but bisa datang dari luar organisasi/kelompok binaan.

2) kelompok binaan atau tim pengkaji semua unsur yang terkait dengan organisasi seperti ulama, pemuka masyarakat, generasi muda, kelompok profesi, LSM keagamaan, media. Kelompok di atas merupakan pihak- pihaik yang terkait dengan organisasi pemerintah.

3) sesudah diadakan pengkajian mengenai pihak yang terkait, tiap anggota mengisi formulir misi dengan rumusan masing-masing. Kemudian diikuti dengan diskusi kelompok tentang misi yang ditulis masing-masing anggota sehingga menghasilkan rumusan bersama yang jelas.

4) hasil rumusan ini sudah berbentuk rencana misi dan dikembalikan kepada tiap anggota kelompok binaan untuk diperdebatkan. Hasilnya disusun dalam bentuk rumusan misi yang telah disepakati kelompok.

3. TAHAP KONSOLIDASI

Setelah kelompok pengajian pemuda resmi terbentuk, maka dai/penyuluh agama memfasilitasi penyusunan agenda kegiatan, pemilihan tema pengajian yang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta, serta inventarisasi anggota pengajian. Keanggotaan pengajian terdiri dari anggota tetap dan anggota lepas.

Dalam rangka konsolidasi maka keberadaan kelompok pengajian pemuda perlu disosialisasikan dan dikomunikasikan sejak dini kepada segenap unsur dan lapisan masyarakat agar mereka memberi support (dukungan) karena Kelompok

pengajian yang dibentuk bukanlah kelompok yang tertutup dan ekslusif, tetapi kelompok pengajian yang terbuka.

C. PENYUSUNAN RENCANA KERJA. PERENCANAAN POSES DAKWAH/

PENDIDIKAN/PENGAJIAN.

Setiap dakwah/bimbingan penyuluhan didahului dengan pembuatan rencana dakwah/bimbingan penyuluhan tahunan, tengah tahunan atau tiga bulanan.

Rencana disusun dan disesuaikan dengan waktu yang telah ditetapkan, ketersediaan waktu bagi jamaah dan materi yang telah ditetapkan serta sarana yang tersedia.

1. Perencanaan tahunan

Perencanaan tahunan merupakan suatu rencana dakwah/bimbingan penyuluhan selama satu tahun yang disusun berdasarkan garis besar pokok pengajian serta disesuaikan dengan jumlah tatap muka dalam pengajian dan ketersediaan waktu yang dipilih. Rencana tahunan terdiri dari rencana tengah tahunan.

Rencana tengah tahunan mencakup komponen: pokok bahasan, konsep/tema, alokasi waktu tiap pokok bahasan/konsep/tema, dan waktu pelaksanaan. Selain itu, disediakan pula alokasi waktu untuk evaluasi dan kegiatan lain yang tidak terduga. Dengan demikian rencana tengah tahunan terlihat uraian bahan kajian dan alokasi waktu pelaksanaan.

Dalam menentukan alokasi waktu setiap pokok bahasan perlu dipertimbangkan tingkat kesulitan dan keluasan/kedalaman bahan serta banyaknya kegiatan (praktik, latihan).

Rencana tahunan dan tengah tahunan belum dapat digunakan secara langsung untuk melaksanakan kegiatan pengajian, oleh karena itu perlu dibuat rencana harian (apabila pengajian dilaksanakan tiap hari) mingguan (apabila pengajian dilaksanakan tiap minggu) berapa persiapan pengajian.

2. Persiapan Pengajian

Sebelum penyuluh agama memberikan pengajian perlu membuat persiapan mengajar/ngaji. Persiapan mengajar ngaji sekurang-kurangnya memuat:

a) Bahan kajian (pokok bahasan/sub pokok bahasan).

b) Tempat, hari, tanggan dan jam.

c) Tujuan pengajian (tujuan setiap pokok bahasan).

d) Tujuan khusus pengajian (tujuan yang dijabarkan dari tujuan pengajian pokok bahasan).

e) Bahan pengajian dan kegiatan pengajian secara umum.

f) Cara menilai kemajuan pengajian jamaah.

Dokumen terkait