• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemidanaan

Dalam dokumen pengenalan dasar hukum - pidana (Halaman 42-49)

BAB III TEORI-TEORI PEMIDANAAN

3.1. Pemidanaan

Hukum adalah istilah untuk seluruh akibat atau tindakan karena melanggar suatu norma hukum. Jika seseorang melakukan pelanggaran atas hukum pidana maka akan dikenakan sanksi dari hukuman pidana.

Pidana merupakan penderitaan yang sengaja diberikan oleh negara pada seseorang sebagai reaksi atas perbuatan yang melanggar hukum pidana, sanksi ini diatur oleh negara dan ditetapkan dengan rinci (Hiariej, 2016). Ilmu hukum pidana mengenal sejak dahulu defenisi dari sifat melawan hukum, kesalahan, tindak pidana, pertanggungjawaban pidana dan pemidanaan yang ada di Indonesia yang hampir secara menyeluruh mengadopsi dari hukum pidana Belanda yang menganut civil law system (Rusianto, 2016).

Hukum pidana merupakan aturan hukum dari negara yang memiliki kedaulatan yang mengandung perbuatan-perbuatan yang dilarang atau diperintahkan, disertai dengan adanya sanksi pidana bagi yang

melanggar atau tidak mematuhi, dan bagaimana pelaksanaan pidana yang dalam penerapannya bersifat memaksa oleh negara. Perbuatan pidana menurut Moeljatno (2009) merupakan perbuatan pidana yang diartikan sebagai perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum, larangan tersebut disertai sanksi yang berbentuk pidan tertentu bagi yang melanggar larangan tersebut.

Karakteristik hukum pidana memiliki perbedaan dengan karakteristik hukum-hukum lainnya. Salah satu karakteristik yang membedakan hukum pidana dengan hukum lainnya adalah dengan adanya sanksi pidana yang diterapkan dengan cara memaksa oleh negara.

Hukum pidana berfungsi untuk menjaga keteraturan dan melindungi masyarakat dari tindakan yang merugikan.

Sudarto (1990) membagi fungsi hukum pidana menjadi dua fungsi yaitu pertama, fungsi umum yang mengatur kemasyarakatan dan menyelenggarakan ketertiban dalam masyarakat. kedua, funsi khusus yang melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang dapat mengancamnya dengan sanksi berupa pidana.

Pemidanaan merupakan upaya dalam mneyadarkan narapidana atau anak pidana dengan tujuan agar menyesali perbuatan yang dilakukannya dan dapat kembali menjadi masyarakat yang taat hukum,

menjunjung tinggi nilai moral, sosial dan keagamaan, agar tercapat kehidupan bermasyarakat yang aman, tertib, dan damai. (Asmarawati, 2015). Terdapat perangkat tujuan pemidanaan yaitu:

1. Pencegahan (umum dan khusus).

2. Perlindugan masyarakat.

3. Memelihara solidaritas masyarakat.

4. Pengimbalan atau pengimbangan.

Pemidanaan merupakan suatu proses atau cara menjatuhkan sanksi pada orang yang melakukan tindak kejahatan (rechtsdelict) maupun pelanggaran (wetsdelict). (Zaini, 2019). Kata kejahatan berasal dari kata yang tidak baik, yang memiliki maksud buruk yang tertuju pada tingkah laku seseorang (Rinaldi, 2022).

Kejahatan merupakan perbuatan yang oleh hukum dilarang dan diancam dengan suatu sanksi (Rinaldi, 2022). Penerapan pidana dalam pemidanaan bersifat universal, artinya sulit untuk menetapkan standar pemidanaan dalam menjatuhkan pidana. Selaras dengan tujuan dari adanya pemidanaan dalam penerapan pidana penjara, maka hakim diharapkan tidak memberikan pidana penjara sewenang-wenang.

Terdapat 3 pemikiran tentang tujuan yang ingin dicapai

dari adanya pemidanaan. Menurut Lamintang (1994) tujuan pidana yaitu sebagai berikut:

1. Memperbaiki pribadi dari penjahat itu sendiri.

2. Menjadikan pelaku jera untuk melakukan tindak pidana.

3. Membuat pelaku kejahatan tertentu tidak berdaya untuk melakukan tindak pidana.

Pemidanaan dapat defenisikan sebagai tahap penetapan sanksi juga tahap pemberian sanksi dalam hukum pidana (Murniyati & Sudiartha, 2015). Tujuan adanya sanksi pidana dipengaruhi oleh alasan yang menjadi dasar penjatuhan pidana, maksud dalam konteks ini adalah alasan pemidanaan merupakan pembalasan, kemanfaatan, dan gabungan antara pembalasan yang memiliki tujuan atau pembalasan yang diberikan dengan tujuan tertentu. Koeswadji dalam Usman (2011) mengemukakan tujuan pokok dari pemidanaan yaitu :

1. Untuk menjaga ketertiban masyarakat (dehandhaving van de maatschappelijke orde).

2. Untuk memperbaiki kerugian yang diderita masyarakat sebagai akibat dari terjadinya kejahatan (het herstel van het doer de misdaad onstane maatschappelijke nadeel).

3. Untuk memperbaiki penjahat (verbetering vande dader).

4. Untuk membinasakan penjahat (onschadelijk maken van de misdadiger).

5. Untuk mencegah kejahatan (tervoorkonning van de misdaad).

Filsafat pemidanaan sebagai landasan filosofis merumuskan dasar keadilan jika terjadi pelanggaran pidana. Pada konteks ini, pemidanaan memiliki keterkaitan hubungan yang erat dengan proses penegakan hukum pidana. Efektivitas penegakan hukum memiliki keterkaitan yang erat dengan efektivitas hukum, agar hukum dapat berlaku maka penegak hukum diharuskan untuk menegakkan sanksi tersebut (Rinaldi

& Setiawan, 2021).

Sebagai suatu sistem, ulasan mengenai pemidanaan dapat ditinjau dari dua sudut yaitu fungsional dan norma substantif yaitu sebagai berikut:

1. Sudut Fungsional

Sistem pemidanaan dapat didefenisikan sebagai sistem aturan perundang-undangan untuk fungsionalisasi/operasionalisasi pidana dan keseluruhan sistem yang mengatur tentang bagaimana hukum pidana dijalankan secara

konkret, sehingga seseorang dijatuhi sanksi pidana. Pemidanaan identik dengan penegakkan hukum pidana yang terdiri dari sub-sistem pidana materil, sub-sistem pidana formil, dan sub-sistem pelaksana pidana.

2. Sudut Norma-Substantif

Sistem pemidanaan diartikan sebagai keseluruhan sistem norma hukum pidana materil untuk pemidanaan. Dengan demikian maka keseluruhan aturan yang terkandung dalam perundang-undangan yang ada dalam KUHP maupun undang-undang di luar KUHP, hakikatnya merupakan sebuah kesatuan sistem pemidanaan yang terdiri dari aturan umum dan aturan khusus. Aturan umum dapat diperoleh di dalam Buku I KUHP dan aturan khusus terdapat di dalam buku II dan III KUHP dan undang- undang di luar KUHP (Arief, 2005).

Pemidanaan sebagai upaya terhadap pelaku kejahatan dapat dibenarkan secara normal, bukan disebabkan karna pemidanaan mengandung konsekuensi positif bagi terpidana, korban juga masyarakat. Pemidanaan dilakukan bukan sebagai upaya balas dendam, namuns sebagai upaya pembinaan

bagi pelaku kejahatan sekaligus sebagai bentuk upaya preventif. Diberikannya pidana dan pemidanaan dapat terlaksana dengan baik jika melihat beberapa tahapan perencanaan sebagai berikut:

1. Pidana yang diberikan oleh pembuat Undang- undang.

2. Pidana yang diberikan oleh badan berwenang.

3. Pidana yang diberikan oleh instansi pelaksana yang berwenang.

Bagian terpenting dalam sistem pemidanaan merupakan penetapan suatu sanksi, eksistensinya akan memberikan arah dan pertimbangan terkait apa yang semestinya dijadikan sanksi dalam tindak pidana untuk memberlakukan norma (D.P Handoyo, 2018). Kata pemidanaan menurut Sudarto merupakan sinonim dari kata penghukuman. Menurut Sudarto dalam bukunya menyatakan bahwa tujuan pemidanaan umumnya dibedakan menjadi tiga yaitu sebagai berikut:

1. Pembalasan atau retribusi sebagai tujuan pemidanaan dapat ditemukan dalam teori hukum pidana yang absolut.

2. Mempengaruhi tingkah laku orang demi melindungi masyarakat.

3. Pidana tidak dijatuhkan demi pidana itu sedniri, namun untuk tujuan yang bermanfaat yaitu untuk melindungi mayarakat. Pidana memiliki pengaruh terhadap masyarakat pada umumnya.

Dalam dokumen pengenalan dasar hukum - pidana (Halaman 42-49)