PENGENALAN HUKUM PIDANA
Pengertian Hukum Pidana
Pada prinsipnya dikenal dua istilah umum dalam hukum pidana, yaitu ius poenale dan ius puniend. Secara obyektif hukum pidana adalah hukum pidana yang berlaku atau disebut juga hukum positif atau jus poenale.
Pengertian Tindak Pidana
Hukum pidana adalah undang-undang yang mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan memberikan sanksi apabila seseorang melanggar atau melakukan suatu pelanggaran dan memenuhi kriteria yang ditentukan dalam undang-undang. akuntabilitas. Adapun pidana yang mengancam bagi pelaku tindak pidana, yaitu pidana yang dapat dijatuhkan kepada setiap pelaku tindak pidana yang melanggar hukum, baik sebagai pidana pokok maupun pidana tambahan.
Sejarah Hukum Pidana
Setelah kemerdekaan, Koninklijk Besluit Van Srtafrech Voor Nederlandsh Indie tetap berlaku berdasarkan Pasal II Ketentuan Peralihan UUD 1945. Berdasarkan undang-undang tersebut, nama Wetboek Van Srtafrech Voor Nederlandsh Indie dapat disebut dalam bahasa Indonesia yaitu Penal Kode.
SUMBER DAN FUNGSI HUKUM PIDANA
- Sumber Hukum Pidana
- Jenis-Jenis Hukum Pidana Yang Lain
- Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana
- Hukum Pidana Tertulis dan Hukum
- Hukum Pidana Internasional dan Hukum
- Sifat Hukum Pidana
- Fungsi Dan Tujuan Hukum Pidana
- Sanksi hukum pidana
- Primium Remedium
Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tidak tertulis (hukum pidana adat). Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik karena mengatur hubungan antara masyarakat dan negara.
TEORI-TEORI PEMIDANAAN
Pemidanaan
Salah satu ciri yang membedakan hukum pidana dengan undang-undang lainnya adalah adanya sanksi pidana yang diterapkan dengan paksaan dari negara. Hukuman dapat diartikan sebagai tahapan penetapan sanksi sekaligus tahapan pemberian sanksi dalam hukum pidana (Murniyati & Sudiartha, 2015).
Dasar Pemidanaan
Dasar pemidanaannya dicari atas dasar kesepakatan bersama, yaitu kesepakatan fiktif antara rakyat dan negara, dimana kedudukan rakyat mempunyai kedaulatan dalam menentukan bentuk pemerintahan. Dengan kata lain, dasar pemidanaan adalah penggunaan kejahatan sebagai alat untuk memelihara dan menjamin ketertiban hukum.
Tujuan Pemidanaan
Tujuan menghukum pelaku kejahatan adalah untuk mencegah atau menghalangi pelaku kejahatan yang bermaksud dan berpotensi melakukan pelanggaran. Kedua, terkait dengan pernyataan Durkheim yang menyatakan bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk melestarikan atau melindungi masyarakat.
Teori-Teori Pemidanaan
- Teori Retributif (Teori Absolut/
- Teori Relatif ( Teori Tujuan/Deterrence)
- Teori Gabungan/Integratif
Lamintang berpendapat bahwa setiap tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dibedakan menjadi dua jenis, antara lain: (Lamintang, 2004:184). Ruang lingkup hukum pidana (KUHP) meliputi tempat terjadinya tindak pidana (Locus Delicti) dan waktu terjadinya tindak pidana (Tempus Delicti).
ASAS LEGALITAS
Sejarah dan Landasan Asas Legalitas
Asal usul asas legalitas pada umumnya bermula pada masa belum lahirnya hukum pidana yang ditandai dengan terjadinya Revolusi Perancis dimana masyarakat bergejolak untuk menuntut keadilan atas kesewenang-wenangan penguasa pada saat itu. Beberapa literatur secara umum menjelaskan bahwa asal muasal asas legalitas dimulai pada masa belum adanya hukum pidana, ketika kesewenang-wenangan para penguasa pada saat itu yaitu raja atau hakim membuat masyarakat semakin menderita secara tidak adil. 18 Tahun 1960 tentang perubahan besaran denda dalam hukum pidana dan ketentuan pidana lainnya yang dikeluarkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945.
Makna Asas Legalitas
Schaffmeister menyatakan bahwa yang dimaksud dengan asas legalitas adalah suatu perbuatan tidak dapat dihukum kecuali atas dasar kekuatan ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah ada sebelumnya. Mengenai pengertian asas legalitas, terdapat kesepakatan di antara para ahli hukum pidana, namun mungkin saja terdapat perbedaan pendapat mengenai pengertian atau hakikat yang terkandung dalam asas legalitas. Menurut Groenhuijsen seperti dikutip Komariah Emong Sapardja, ada empat makna yang terkandung dalam asas legalitas dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, yaitu.
Asas Legalitas dalam Hukum Pidana Indonesia
- Perundang-undangan pidana harus
- Peraturan Hukum Pidana tidak boleh
- Dalam penerapan hukum pidana tidak
Di bidang hukum pidana, kecuali atas dasar KUHP dan undang-undang di luar KUHP sebagai landasan sahnya suatu tindak pidana, dalam masyarakat. Pada kenyataannya hukum pidana tidak menganut asas larangan berlaku surut secara mutlak, hal ini tertuang dalam alinea kedua Pasal 1 KUHP yang menyatakan bahwa apabila undang-undang diubah setelah perbuatan itu dilakukan, maka hukum pidana harus diubah. Salah satu asas asas legalitas adalah tidak boleh digunakan analogi dalam penerapan hukum pidana.
Pengaturan Asas Legalitas di Beberapa Negara
Ditinjau dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), yang dapat dijadikan subjek tindak pidana adalah manusia sebagai perseorangan. Aturan hukum pidana berlaku bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana sesuai dengan asas ruang lingkup KUHP. Ketentuan pidana dalam hukum Indonesia berlaku bagi setiap orang yang di wilayah Indonesia melakukan tindak pidana.”
KUHP DAN SEJARAHNYA
Subjek Hukum Pidana
Menurut sistem hukum pidana Indonesia, yang dapat menjadi subjek hukum pidana adalah orang perseorangan atau manusia. Badan hukum adalah suatu organisasi atau sekelompok orang yang mempunyai tujuan tertentu serta dapat memikul hak dan kewajiban. Berbicara tentang sejarah korporasi sebagai objek hukum pidana menurut KUHP Indonesia yang dibentuk berdasarkan doktrin kesalahan perseorangan.
Perkembangan Pertanggungjawaban pidana
Pandangan ini mengatakan bahwa pengertian kejahatan atau perbuatan meliputi perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana atau perbuatan salah. Ketentuan pidana dalam hukum Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan tindak pidana di dalam perahu atau pesawat udara Indonesia di luar wilayah Indonesia. dan sejenisnya (KUHP, Pasal 19 prosedur).
SUBJEK HUKUM DAN SUBJEK HUKUM
Pengertian Subjek Hukum
Badan hukum adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat mempunyai (dapat mempunyai) hak dan kewajiban. Utrecht mengartikan badan hukum sebagai pembela hak, yaitu seseorang atau badan yang secara hukum berhak menjadi pembela hak. Lebih lanjut Sudikno Mertokusumo menjelaskan, badan hukum adalah segala sesuatu yang memperoleh hak dan kewajiban dari hukum.
Manusia Sebagai Subjek Hukum
Hal ini ditegaskan dalam alinea pertama Pasal 1 KUHPerdata yang menyatakan bahwa penikmatan hak-hak warga negara tidak bergantung pada hak-hak negara. Pasal 330 KUHPerdata mengatur bahwa untuk dapat melakukan perbuatan hukum di bidang harta benda, harus berumur 21 tahun atau sudah menikah (kawin) atau pernah kawin. Ayat pertama Pasal 6 mengatur bahwa mereka yang belum berumur 21 tahun harus mendapat izin orang tua atau walinya untuk melangsungkan perkawinan.
Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum
Menurut filosofinya, berdirinya suatu badan hukum adalah dengan meninggalnya pendirinya diharapkan badan hukum tersebut tetap dapat bermanfaat bagi orang lain. Badan hukum itu sendiri harus mempunyai harta kekayaan dengan tujuan tertentu yang bukan merupakan harta pribadi para pendirinya. Dengan adanya beberapa orang sebagai pengurus badannya, maka badan hukum dapat digolongkan menjadi dua, yaitu badan hukum publik dan badan hukum perdata.
Syarat Berdirinya Badan Hukum
Badan yang berwenang adalah badan yang didirikan dengan tujuan yang tidak bertentangan dengan hukum atau kesusilaan. Badan hukum tersebut nantinya akan disahkan demi hukum dan akan bubar jika dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Jenis Badan Hukum
- Badan Hukum Publik (publiekrecht)
- Badan Hukum Privat (privaat
Contoh badan hukum publik tersebut adalah Bank Indonesia, badan usaha milik negara, dan pemerintah daerah. Sebagai subjek hukum, badan hukum juga mempunyai kekuasaan untuk melakukan perbuatan hukum sebagai subjek hukum atau perseorangan. Namun karena badan hukum itu merupakan kumpulan orang-orang, maka dalam pelaksanaan perbuatan hukum itu,.
Objek Hukum
- Benda yang Berwujud dan Benda Tidak
- Benda Bergerak dan Benda Tidak
Benda tak berwujud yaitu segala macam benda yang tidak berwujud yang berupa segala macam hak yang melekat pada suatu benda, misalnya hak cipta, hak merek, hak atas tanah, hak milik. Sesuai dengan peruntukannya, setiap benda dihubungkan dengan suatu benda yang sifatnya tidak bergerak, seperti wastafel kamar mandi, ubin, alat percetakan besar di pabrik; Pentingnya pembedaan antara barang bergerak dan barang tidak bergerak diberikan oleh undang-undang dalam peralihan hak, yaitu bahwa untuk barang bergerak cukup dengan cara pemindahtanganan langsung, sedangkan untuk barang tidak bergerak dapat dilakukan dengan penyerahan surat atau akta. perpindahan nama.
Subjek Hukum Pidana
Hal ini terlihat dari rumusan KUHP yang banyak menjelaskan ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat tindak pidana dan hukuman bagi masing-masing tindak pidana dalam KUHP. Seseorang dapat dipidana apabila perbuatan yang dilakukannya memenuhi syarat-syarat tindak pidana atau strafbaarfeit. Perasaan takut atau cemas, yang termasuk dalam rumusan tindak pidana berdasarkan Pasal 308 KUHP.
LINGKUNGAN KUASA BERLAKUNYA HUKUM
Ruang Lingkup Hukum Pidana
Menurut asas ini, hukum pidana berlaku terhadap setiap tindak pidana yang terjadi di dalam wilayah suatu negara, yang dilakukan oleh setiap orang, baik warga negara, bukan warga negara, atau orang asing. Menurut teori ini, yang dimaksud dengan Locus Delicti adalah tempat asal mula terjadinya akibat tindak pidana tersebut. Dalam hukum pidana internasional terdapat asas kriminalitas ganda/dual yang berkaitan dengan kerja sama internasional dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana internasional/transnasional.
Berlakunya Hukum Pidana Menurut Waktu
Berlakunya Hukum Pidana Menurut Tempat
- Asas Territorialitas atau Asas
- Asas Nasionalitas Aktif atau Asas
- Asas Universalitas (universaliteits
Dengan kata lain, peraturan perundang-undangan pidana suatu negara yang berdaulat selalu mengikuti warga negaranya. Menurut asas ini, lahirnya peraturan perundang-undangan pidana didasarkan pada kepentingan hukum suatu negara yang dilanggar oleh seseorang di luar wilayah negara atau di luar negeri. Menurut asas ini, penerbitan peraturan perundang-undangan pidana didasarkan pada kepentingan seluruh dunia yang dilanggar oleh seseorang.
Teori Locus Delicti
Oleh karena itu teori ini menekankan bahwa yang dianggap sebagai tempat terjadinya suatu tindak pidana adalah tempat bereaksinya alat-alat yang digunakan dalam kejahatan itu. Menegaskan bahwa yang dianggap sebagai tempat terjadinya suatu tindak pidana adalah tempat terjadinya perbuatan itu secara fisik, tempat terjadinya alat yang digunakan untuk bereaksi, dan tempat terjadinya akibat kejahatan itu. Sesuai dengan uraian mengenai doktrin tempat terjadinya tindak pidana di atas, maka penentuan waktu terjadinya kejahatan di suatu tempat mengikuti salah satu doktrin atau teori yang terdapat dalam Locus Delicti.
UNSUR PERBUATAN DAN MELAWAN
- Perbuatan Merupakan Unsur Obyektif
- Perbuatan Aktif/Pasif
- Pengertian Melawan Hukum
- Rumusan Melawan Hukum Dalam Delik
- Melawan Hukum Formil dan Materil
- Pertanggungjawaban Pidana
Menurut pandangan ini, belum tentu suatu perbuatan yang memenuhi kata-kata dalam undang-undang itu ilegal. Suatu perbuatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan hukum, sehingga berada di luar diri pelakunya. Pembenaran tersebut bersifat menghilangkan atau melawan hukum dan perbuatan yang dinyatakan dilarang dalam KUHP.
HAL-HAL YANG MERINGANKAN,
Hal-Hal yang Memberatkan Perbuatan Pidana
Hal-hal yang meringankan hukuman Terdakwa harus mengetahui beberapa hal yang meringankan hukumannya, agar hukuman yang dijatuhkan tidak berat; Hal terpenting yang menjadi pertimbangan hakim adalah apakah terdakwa pernah dihukum karena melakukan tindak pidana, jika ternyata terdakwa tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana, maka hakim dapat mengambil keputusan untuk mengurangi hukumannya. Hukuman terhadap terdakwa berbeda jika terdakwa adalah orang yang kembali/telah dihukum;. Sikap sopan atau berperilaku baik selama persidangan dan tidak menunjukkan ekspresi menantang dapat menjadi hal yang dapat meringankan hukuman terdakwa.
Hal-Hal yang Memberatkan Hukuman Pidana
Anak-anak sangat dilindungi undang-undang, apalagi jika mereka menjadi korban kejahatan, hukuman pidana bagi korban yang masih anak-anak akan lebih berat dibandingkan dengan korban dewasa; Pengulangan suatu tindak pidana merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam menjatuhkan hukuman kepada terdakwa yang pernah dihukum sebelumnya, hukumannya akan lebih berat dibandingkan dengan terdakwa yang belum pernah dihukum; Hukuman bagi Terdakwa dapat lebih berat dibandingkan dengan Terdakwa lainnya apabila terbukti dalam persidangan bahwa Terdakwa adalah dalang kejahatan yang dilakukan.
Hapusnya Kewenangan Menuntur dan
Perkara tersebut telah disidangkan dan akhirnya diputus dan berkaitan dengan apa yang disebut dengan nebis in idem. Penyelesaian di luar pengadilan yang hanya berkaitan dengan pelanggaran dan berada di luar KUHP yaitu abolisi dan amnesti. Pembayaran denda setinggi-tingginya kepada pejabat tertentu ditetapkan untuk pelanggaran yang diancam dengan pidana denda saja (Pasal 82).
Alasan Hapusnya Kewenangan Menjalankan
Jadi A “bebas” dari menjalani hukuman penjara apabila ia “berhasil” melarikan diri selama 16 tahun atau setelah tanggal 1 Januari 2020. Pengampunan tidak menghapuskan putusan hakim yang bersangkutan, namun pelaksanaannya dihapus atau dikurangi, maka pengampunan dapat berupa: 1. Salah satu sebab hapusnya hak menggugat adalah apabila perkara telah dipertimbangkan dan telah diambil keputusan akhir.
Alasan Penghapus Pidana
Sebagai negara berdaulat, Indonesia mempunyai hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam pemeliharaan keamanan dan perdamaian dunia berdasarkan kedaulatannya yang diakui oleh hukum internasional dan prinsip-prinsip yang berlaku dalam hukum internasional. Berdasarkan hukum internasional, implikasi dari setiap negara berdaulat adalah bahwa setiap negara mempunyai hak untuk menentukan nasib bangsanya tanpa campur tangan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, salah satu permasalahan pembangunan nasional yang terkait dengan hukum internasional adalah meningkatnya kejahatan transnasional, seperti