65 BAB IV
PERAN KONSELOR DAN KONSELI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING KELOMPOK
66
3) Kekuatan dan kelemahan diri sendiri, nilai-nilai hidup yang dianutnya dan ciri-ciri pribadinya sendiri yang dapat memberikan kemampuan sebagai pepimpin kelompok
4) Persoalan-persoalan pokok mengenai etika dan profesi yang khusus berkaitan dengan pekerjaan kelompok
5) Informasi mutahir mengenai penelitian dalam bidang pekerjaan kelompok 6) Peranan perilaku yang bersifat memudahkan anggota konseling kelompok
yang mungkin diharapkan oleh para anggota.
7) Keuntungan dan kerugian dari pekerjaan kelompok dan situasi-situasi di mana pekerjaan kelompok tepat atau tidak tepat digunakan sebagai suatn bentuk intervensi yang bersifat terapeutik
8) Ciri-ciri interaksi kelompok dan peranan konselor yang terlibat dalam tahap- tahap perkembangan kelompok
b. Kemampuan yang berkaitan dengan Keterampilan
Seorang konselor kelompok yang baik memperlihatkan penguasaan terhadap keterampilan khusus sebagai berikut:
1) Mampu menyaring dan menilai kesiapan konseli untuk turut serta dalam suatu kelompok
2) Memiliki definisi yang jelas mengenai konseling kelompok dan mampu menerangkan tujuan dan prosedur konseling kelompok itu kepada para anggota kelompok
3) Mendiagnosis perilaku yang merusak diri sendiri pada para anggota kelompok dan mampu menangi kasus-kasus yang memperlihatkan perilaku demikian itu dalam kelompok yang bersangkutan dengan cara yang konstruktif.
4) Membuat model perilaku yang tepat untuk para anggota kelompok 5) Menafsirkan perilaku non verbal secara teliti dan tepat
67
6) Menggunakan keterampilan yang dimilikinya dengan cara yang tepat pada waktunya dan efektif
7) Melakukan penanganan masalah pada saat yang kritis dalam keseluruhan proses kelompok
8) Mampu memanfaatkan teknik, strategi dan prosedur konseling kelompok 9) Menggerakkan faktor-faktor terapeutik yang dapat menimbulkan
perubahanperubahan tertentu, baik dalam kelompok maupun pada diri individu anggotanya
10) Mampu menggunakan prosedur kelompok penunjang seperti pemberian tugas pekerjaan rumah
11) Mempu bekerja san dengan pemimpin kelompok lain secara efektif 12) Mampu secara efektif mengarahkan pertemuan kelompok menuju kapda
menutupannya dan mampu mengakhirinya
13) Mampu menggunakan prosedur tindak lanjut untuk mempertahankan dan menunjang hasil konseling yang telah diperolah anggota kelompok yang bersangkutan
14) Mampu menggunakan prosedur penilaian untuk mengetahui hasil kegiatan kelompok.
c. Kemampuan yang berkaitan dengan praktik klinis Dalam hal ini, konselor harus mampu:
1) Membuat kritik mengenai rekaman kegiatan kelompok 2) Mengamati pelaksanaan konseling kelompok
3) Turut serta sebagai seorang anggota dalam kelompok 4) Menjadi pendamping pemimpin kelompok
5) Melakukan praktik konseling kelompok 6) Melaksanakan program magang (internship)
68
Kemampuan-kemampuan itu tidak hanya sapat diperoleh dari pendidikan atau latihan formal saja. Konseling kelompok harus senantiasa berusaha untuk mendapatkan kemampuan itu sebaik mungkin dengan jalan pengembangan diri sesudah pendidikan formal dan selama melaksanakan tugasnya sebagai konselor kelompok. Karena itu, konselor kelompok harus selalu berusaha mengembangkan diri dengan mengikuti perkembangan teori dan teknik konseling kelompok dan selalu menilai siri sendiri dalam hal kemampuannya.
Dia harus senantiasa bertanya pada dirinya sendiri, misalnya: ―Teknik-teknik manakah yang dapat saya gunakan sengan baik?―Konseli yang bagaimanakah yang telah dapat saya tangani sebaik-baiknya dalam kelompok ? ―Dengan siapakah saya bekerja paling jelek? ―Sejauh manakah saya dapat bertindak terhadap konseli-konseli saya? ―Bilamana dan bagimana sebaiknya saya melakukan rujukan bagi seorang konseli? ―Bilamanakah saya perlu berkonsultasi dengan orang-orang dari profesi lain? ―Bagaimana saya dapat memperbaiki kemampuan kepemimpinan saya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengarahkan upaya perkembangan diri dan peningkatan kemampuan konseling kelompok, apabila dia berusaha secara sesungguhnya untuk mencari jawaban dalam kegiatan profesionalnya sehari-hari dan berusaha untuk bekerja sama dengan rekan seprofesional dan orang-orang yang mungkin membantunya.
Pedoman Etika Profesional Konseling Kelompok
Konselor dalam konseling kelompok perlu menyadari bahwa pekerjannya
merupakan suatu fungsi profesional tersendiri. Karenanya konselor dalam hal ini perlu memperhatikan beberapa patokan yang berkaitan dengan etika profesional yang terkait dengan dirinya. Ada empat hal besar yang perlu dipertimbangkan yaitu (a) sebelum memulai kegiatan kelompok, (b) pada tahap wal
69
perkembangan kelompok , (c) pada tahap selanjutnya dari perkembangan kelompok , dan (d) sesudah kegiatan kelompok selesai.
Pertimbangan sebelum kegiatan kelompok dimulai
a. Hindari pengambilan tanggung jawab untuk memimpin kelompok konseling yang tidak sesuai dengan kemampuan konselor sendiri. Konselo harus latih diri untuk memahami sebanyak mungkin dan lengkap dalam memimpin berbagai jenis konseling kelompok.
b. Kembangkan suatu cara menyaring anggota dalam mengikuti konseling kelompok yang akan dilaksanakan. Konselor dalam konseling kelompok harus mampu menjelaskan kepada anggota kelompok mengenai teknik yang mungkin akan digunakan selama kegiatan kelompok, dan peraturan permainan yang akan digunakan selama proses konseling kelompok.
c. Jelaskan kepada anggota mengenai penting kerahasiaan pada apa yang terjadi dalam kelompok selama pelaksanaannya. Para anggota harus benar-benar memahami dan menaati aturan kerahasiaan dalam konseling.
d. Dalam penjaringan anggota kelompok perlu dijelaskan mengenai resiko psikologis sebagai akibat dari kegiatan kelompok.
Pertimbangan selama tahap perlulaan dan perkembangan kelompok a. Penjelasan kembali tujuan kegiatan kelompok. Penjelasa tentang tujuan kegiatan kelompok dengan berbagai cara yang sangat tepat untuk dapat dipahami dengan jelas.
b. Berhati-hati terhadap dampak dari nilai-nilai yang dianut oleh konselor dalam kegiatan konseling kelompok yang sedang dilaksanakan.
c. Berhati-hati terhadap gejala psikologis dalam kelompok yang menandakan bahwa kegiatan kelompok harus dihentikan. Konselor harus mampu merujuk konseli berakibat gejala tersebut kepada pihak yang tepat.
70
d. Hak anggota kelompok harus dilindungi. Yaitu meyakinkan kepada anggota bahwa mereka hanya mengungkapkan hal-hal yang ingin mereka kemukakan, menghindarkan desakan dalam kelompok yang mungkin melanggar hak peserta untuk menentukan tindakan, dan menghentikan tindakan mengkambinghitamkan seseorang yang akan menyinggung harga diri anggota lain dalam kelompok.
e. Mengembangkan dan menyatakan penghargaan yang murni (kesungguhan) terhadap anggota kelompok. hal tersebut bukan hanya terbatas dalam pencegahan pemanfaatan kelompok untuk kepentingan dan kebutuhan suasana psikologis konselor saja, melainkan juga kesediaan untuk menghargai kemampuan setiap anggota kelompok dalam menentukan kehidupannya sendiri.
f. Konselor harus memperhatikan temuan penelitian mengenai proses dalam kelompok, dan berusaha menerapkan penemuan itu untuk meningkatkan efektivitas kelompok yang dipimpinnya.
Pertimbangan selama tahap selanjutnya dari perkembangan kelompok a. Konselor harus sering bertanya kepada diri sendiri mengenai pemberian contoh perilaku yang baik bagi para anggota konseling kelompok; apakah konselor sendiri jujur dan terbuka terhadap para anggota kelompok? apakah konselor sendiri bersedia melakukan sesuatu yang dianjurkan kepada para konselinya?
b. Konselor berusaha mengembangkan kemandirian para anggota dan untuk tidak bergantung kepada kelompok.
c. Konselor tidak mencoba menerapkan teknik yang tidak dikuasai sepenuhnya, kecuali bila penerapan itu dibimbingan oleh orang yang benar-benar ahli dalam pelaksanaannya.
71
d. Konselor memberikan kesempatan kepada para anggota konseling kelompok untuk menyatakan pendapatnya mengenai kemajuan dan pengalaman dalam kelompok pada akhir setiap pertemuan.
e. Konselor membantu anggota dalam menangani kemungkinan reaksi negatif dari anggota lainnya dalam upaya menerapkan hasil belajarnya dalam
kehidupam seharihari.
Pertimbangan setelah selesai kegiatan kelompok
a. Membuat rencana untuk tindak lanjut dari kegiatan kelompok yang baru selesai, sehingga anggota sehingga agar anggota kelompok dapat melihat apa yang telah dilakukannya dan konselor dapat menilai keefektifan kelompok sebagai pranata berubahan.
b. Merancangkan wawancara pasca kegiatan kelompok dengan para anggota secara individual untuk mengetahui sampai di mana telah berkembang dan mencapai tujuan pribadi mereka masing-masing.
c. Mengembangkan metode-metode penilaian untuk menentukan efektivitas kegiatan kelompok.