• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penafsiran Qasam Pada Surat ad-Dhuha dan al-`Ashr Menurut

Dalam dokumen 14210619.pdf - repository iiq - IIQ Jakarta (Halaman 74-91)

BAB IV: ANALISA QASAM DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD

2. Penafsiran Qasam Pada Surat ad-Dhuha dan al-`Ashr Menurut

ِٰ َح ُّضلٱَو

ِ١

ِ لۡ لَّٱ ي َِو

ِٰ َجََسِاَذ إ ِ ٢

َِقِاَمَوِ َكُّبَرِ َكَعيدَوِاَم

ِٰ َلَّ

٣

ِٞ ۡيَۡخُِةَر خلۡأَٓلَو

ِ َن مِ َكيل

ِٰ َ لو ُ ۡ

لۡٱ

ِ٤

ِ َفۡو َسَلَو

ِى َضَۡ َتََفِ َكُّبَرِ َكي طۡعُي ِ ٥

ِاٗمي تَيَِكۡد َيَِۡم َلَأ

َِفَِ ِ

ِٰىَوا ٦

َِكَدَجَوَو

ِ

ِٰىَدَهَفِ لّآ َض ٗٗ

٧

ِٰ َنَۡغ َ أَفِ ٗ

لٗ ئ ٓ َعََِكَدَجَوَو ٨

ِايم َ

َِمي تَ لَّٱ ۡ أَف

ِ

ِۡرَهۡقَتِ َلَٗف ٩

ايم َ أَو

َِل ئ ٓايسلٱ ِ

ِ

ِۡرَهۡنَتِ َلَٗف ١٠

ِ ۡث ٗدَحَفِ َك ٗبَرِ ةَمۡع ن بِايم َ أَو ١١

ِ

9 Al-Qur`an yang menakjubkan h : 352

91 Artinya:

“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu, Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan, Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang anak yatim, lalu dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan, Maka terhadap anak-anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang, 10. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya, dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).10 Surat Ad-Dhuha ini dimulai dengan qasam (sumpah) dengan huruf wau.

Pendapat yang berlaku di kalangan ulama terdahulu mengatakan bahwa, sumpah Al-Qur`an ini mengandung makna pengagungan terhadap muqsam bih (objek yang digunakan untuk bersumpah). Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan bahwa sumpah Allah swt dengan sebagian makhluk-Nya membuktikan bahwa ia termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar.

Menurut Bint as-Syâthi gagasan di atas berkembang luas sehingga menyeret mereka untuk melakukan pemaksaan di dalam menjelaskan segi keagungan pada setiap hal yang digunakan Al-Qur`an untuk bersumpah dengan wau.

Para penafsir sebelumnya mereka mencari keagungan malam secara mutlak, padahal dalam ayat tersebut ia terikat dengan idzâ sajâ.

Dapat dicatat pula bahwa di dalam ayat Ad-Dhuha dan kebanyakan ayat- ayat sumpah dengan wau, mereka mencampuradukkan keagungan dengan

10 Qur`an Hafalan dan Terjemahan, (Jakarta: Al-Mahira, 2007), Cet ke-1.

hikmah makhluk yang digunakan untuk bersumpah. Padahal setiap sesuatu yang Allah ciptakan memiliki hikmah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Adapun keagungan, bukanlah sesuatu yang mudah dikatakan semata-mata untuk menjelaskan suatu aspek karena adanya hikmah yang tampak di dalam objek sumpah.

Bint as-Syâthi sudah lama memikirkan dan merenungkan surat-surat yang diawali dengan huruf wau ini, maka bersumpah dengannya mungkin telah keluar dari prinsip struktur kebahasaan, yaitu dari pengagungan ke makna bayani. Seperti keluarnya uslub-uslub amr (perintah), nahyu (larangan) dan istifham (pertanyaan) dari pengertian asal yang diperuntukkan baginya, karena pertimbangan keindahan bahasa. Sebab wau, dalam ungkapan ini telah menarik perhatian dengan kuat kepada hal-hal indrawi yang sama sekali tidak aneh, sehingga tak perlu dipertentangkan, sebagai inisiasi ilustratif bagi hal-hal maknawi, gaib, dan tidak dapat dipahami oleh indra.

Sumpah dengan wau pada umumnya adalah gaya bahasa untuk menjelaskan makna-makna dengan penalaran indrawi. Keagungan yang tampak dimaksudkan untuk menciptakan daya tarik yang kuat. Sedangkan pemilihan muqsam bih (objek yang dijadikan sumpah) dilakukan dengan memperhatikan sifat yang sesuai dengan keadaan.

Menelusuri sumpah-sumpah Al-Qur`an seperti yang terdapat dalam ayat Ad-Dhuha, kita menemukannya dikemukakan sebagai lafitah (penarikan perhatian) terhadap suatu gambaran materi yang dapat diindra, dan realitas yang dapat dilihat, sebagai inisiasi11 ilustratif bagi gambaran lain yang maknawi dan sejenis, tidak dapat dilihat dan diindra.

Dengan demikian, Al-Qur`an dengan sumpahnya “waktu subuh ketika mulai terang dan menyingsing”, “siang ketika terang benderang”, dan

93

“malam ketika hampir meninggalkan gelapnya yang menutupi dan telah berlalu”, menjelaskan makna-makna petunjuk dan kebenaran, atau kesesatan dan kebatilan, dengan materi-materi cahaya dan kegelapan. Penjelasan yang abstrak dengan yang konkret ini dapat kita kemukakan pada sumpah-sumpah Al-Qur`an dengan wau yang demikian dapat diterima tanpa paksaan dalam pentakwilan ayat-ayat.

Muqsam bih di dalam dua ayat surat ad-Dhuha adalah gambaran bersifat fisik dan realita yang konkret, yang setiap hari dapat disaksikan manusia ketika cahaya memancar pada dini hari. Kemudian turunnya malam ketika sunyi dan hening; tanpa mengganggu sistem alam.

Inilah yang kami yakini dalam tafsir bayani tentang sumpah dalam waktu dhuha dan malam ketika telah sunyi.

Menurut bint as-Syâthi ia tidak mengetahui seorang mufasir pun menoleh kepada pertimbangan ini dengan perhatian yang jelas dan khusus. Meskipun sebagian telah mendekatinya dengan hati-hati, tetapi mereka menggunakan berbagai apresiasi yang tidak lepas dari pemaksaan dan keganjilan. Tidak ada seorang mufasir pun mencoba menerangkan sumpah dengan wau ini, dengan terang-terangan menafikan qasam yang disebutkan secara jelas di dalam Al- Qur`an karena ia memang disandarkan kepada Allah.

Bahasa mendefinisikan dhuha sebagai waktu tertentu di siang hari, dan dengan itu dinamakan shalat dhuha karena ia dilakukan pada waktu tersebut.

Unta yang disebut Ad-Dhahiyah adalah unta yang minum pada waktu dhuha.

Inilah asal penggunaan lafal dhuha menurut Lisânul ‘Arab12. Dinamakan hari adha karena berkumpulnya adhhah, yaitu kambing-kambing yang disembelih waktu dhuha pada hari kurban.

Petunjuk yang jelas adalah petunjuk yang tampak dalam semua pemakaian kata itu secara konkret pada materinya. Misalnya, dhahiyah

12 Kamus mengenai pemaknaan bahasa arab

adalah langit, dan dari sini dikatakan bahwa apa yang tampak dan jelas adalah dhâhiyah. Dan mudhhâh adalah daerah yang selalu disinari matahari.

Dan dhahâ at-tharîq artinya jalan yang tampak dan jelas.

Dari kejelasan dan ketampakan yang tersirat di dalam penggunaan- penggunaan yang konkret bagi materi ini, dikatakanlah bahwa, fa’ala fulan kadza dhâhiyatan (Si Fulan melakukan hal ini secara terang-terangan).

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa qasam dengan ‘dhuha’

dan ‘malam ketika telah sunyi’, merupakan penjelasan bagi gambaran yang konkret dan realitas yang dapat dilihat, yang dipersiapkan untuk situasi yang sebanding yang tidak konkret dan tidak dapat dilihat. Yaitu terhentinya wahyu sesudah muncul dan terang.

Penafsiran Qasam Al-Qur`an dalam surat Al-Ashr

Surah al-‘ashr diawali dengan huruf wau qasam (wa untuk menyatakan sumpah) yang secara bahasa berfungsi untuk “mengagungkan” objek yang digunakan untuk bersumpah. Untuk itu, At-Thabari membahas berkenaan makna “mengagungkan” yang dominan di kalangan jumhur mufassir setelahnya. Mereka mentakwil sisi keagungan yang ada pada kata “رصعلا”

berdasarkan perbedaan-perbedaan penafsirannya.

Ar-Razi menghimpun sebanyak enam aspek dalam kaitannya dengan

“keagungan” al-‘ashr yang berarti “waktu”. Tiga dari enam aspek tersebut salah satunya berarti “waktu tertentu dalam sehari”. Keenamnya bisa bermakna “shalat ashar”. Lalu Ar-Razi menjelaskan maksud “agung” jika yang dimaksud berhubungan dengan "ةوبنلا رصع" atau masa kenabian.

Bint as-Syâthi telah menukil takwil Syekh Muhammad Abduh tentang sumpah Allah dengan menggunakan waktu ashar. Dan ia tidak mengetahui bahwa waktu ashar dalam kebiasaan mereka adalah waktu berkumpul, berdiskusi, dan berbincang tentang urusan mereka. Padahal waktu ashar lebih

95 bisa digunakan untuk hal yang lebih baik dari pada itu. Kemudian tentang pembicaraan yang tidak pantas, dan menyakitkan bagi yang lain tidak mungkin kita jadikan ciri khusus tentang waktu ashar tanpa tahu ternyata di waktu lain (mereka juga membicarakan kejelekan sesamanya), bisa jadi mereka juga membicarakan kejelekan sesamanya pada waktu malam, atau siang.

Berdasarkan pendapat At-Thabari, Ibn Al-Qayyim, dan mayoritas mufassir, kata “رصعلا” dipadankan maknanya dengan “نمزلا و رهدلا” atau bermakna “waktu”. Oleh sebab itu, kami simpulkan, maksud “keagungan”

dari al-‘ashr adalah keagungan waktu (urgensi waktu), bukan yang lain.

Pendapat para ulama’ tersebut dikuatkan oleh pendapat Ar-Razi tentang

“keagungan atau kemuliaan waktu”. Menurut beliau, “ad-dahr atau waktu itu tersusun dari berbagai hal yang menakjubkan, ia berisi kebahagiaan, kesedihan, sehat, sakit, kaya, miskin, dan lainnya. Tetapi dari semua hal menakjubkan itu adalah kenyataan bahwa akal tidak mampu mengatakan ketiadaannya. Karena ia terbagi-bagi menjadi tahun, bulan, dan hari. Akal juga tidak mampu menjelaskan bertambah-berkurangnya waktu, atau keberadaannya yang telah lalu, maupun yang akan datang. Lalu bagaimana menjelaskan ketiadaannya? Tidak mungkin bisa –secara logika- untuk mengatakannya “ada” karena masa yang sekarang tidak dapat tercover oleh pernyataan sumpah, sedangkan masa lalu, dan masa depan adalah dua hal yang sudah hilang dan belum terjadi. Maka bagaimana mengatakan bahwa waktu itu ada?”.

Sesungguhnya sisa umur seseorang tidak ada artinya, bahkan jika ia menyianyiakan ribuan tahun kemudian sebelum meninggal ia bertaubat, maka ia akan masuk surga selamanya. Dan dengan ini kamu akan menyadari bahwa yang paling berharga adalah (caramu menjalani) hidupmu. Dan masa (waktu) adalah himpunan kenikmatan hidup.

“Waktu” lebih tinggi dan lebih mulia dari pada “tempat”. Oleh karenanya, sumpah Allah dengan menggunakan “waktu” dua kali lebih mulia dari pada kerajaan Allah dan seisinya.

Sesungguhnya sebagian mereka mengatakan bahwa kerugian merupakan bagian dari waktu, padahal Allah bersumpah atas nama “waktu” yang ia adalah kenikmatan yang tidak ada cacat di dalamnya. Sedangkan yang merugi adalah manusia di dalamnya, bukan waktu yang menyebabkannya merugi.

Sesungguhnya Allah menyebut al-‘ashr “waktu” yang dengan terlewatnya ia maka berkurang pula usiamu, maka jika menjalani kehidupan tidak dengan usaha (serius) maka berkurangnya umur ini akan menjadi kerugian semata. Seakan-akan maknanya adalah: “Demi masa yang di dalamnya hal-hal menakjubkan. Ia bisa membuat manusia bahagia dalam menempuhnya karena yakin ia akan menemukan keberuntungan. Tetapi ia juga bisa menjadi sebaliknya, dan inilah yang dinamakan orang yang merugi”.

Ibn Al-Qayyim memperhatikan tempat di mana ungkapan itu dinyatakan.

Menurut beliau, “sesungguhnya berlalunya malam dan siang adalah karena takdir Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui, yang sudah diatur sesuai dengan kebutuhan alam dengan sebaik-baik pengaturan, saling bergantian satu sama lain dan seimbang, berbeda dalam gelap dan terang, panas dan dingin, saat beredarnya hewan dan diamnya. Ia terbagi menjadi abad, tahun, bulan, hari, jam, dan seterusnya. Ia juga salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan satu bukti dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Sebab itu, Allah bersumpah atas nama masa yang merupakan waktu dan tempat manusia menjalani kehidupan, dan karena perbuatannya manusia mendapat balasan. Waktu pada prinsipnya ialah tempat terciptanya manusia,

97 dan perbuatan di atasnya. Kapasitas waktu tidak terbatas pada prinsip tertentu, tidak pula pada materinya”.

An-Naisaburi menambahkan indikasinya, beliau menyebut: “Berakhirya hari sama dengan binasanya alam, sebagaimana awal hari yang sama seperti bangkitnya orang-orang yang telah meninggal dan terbentuknya alam. Dari sini jelas, isyarat bahwa masa aktif di dunia hanya sebatas antara waktu ashar dan maghrib. Maka sudah seharusnya manusia menyibukkan diri dengan jual-beli yang tidak ada kerugian di dalamnya (maksudnya: jual-beli (interaksi) dengan Allah yang tidak kenal merugi). Karena sesungguhnya waktu semakin mengerut (berkurang) tidak diketahui kapan berakhir”.

Sebagaimana telah disebutkan, keajaiban-keajaiban waktu menunjukkan tanda kesempurnaan penciptanya: “Waktu ada tapi seperti tiada, bergerak tapi seakan diam ... dan umur manusia, - jika hari berlalu, maka berlalu pula sebagian jatahnya - ”.

Umur tak memiliki jiwa. Sumpah dalam hal ini khusus mengisyaratkan bahwa manusia akan menyandarkan kemalangan dan urusannya pada waktu, mengatasi kesengsaraan dan kerugian di atasnya. Sumpah Allah atas nama waktu dinyatakan dengan tujuan memuliakannya. Sedangkan kesengsaraan dan kerugian hanya berhak dirasakan oleh manusia yang menyia-nyiakannya.

Oleh sebab itu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian mengutuk waktu karena sesungguhnya Allah itulah waktu”.

Lafal al-‘ashr mengandung semua takwil-takwil falsafi dan isyari (kesan yang ditimbulkan oleh lafal) yang tidak dijelaskan, bahwa Al-Qur`an mengisyaratkanya dengan lafal “رصعلاو”. Menurut penjelasan ayat-ayat al- Quran tentang malam dan siang selalu memuliakan hikmah di dalamnya yang keterangannya dapat dipahami manusia dengan pengamatan dan analisis yang mudah.

Kami menginduksi (mengambil kesimpulan umum) ayat-ayat tentang malam-siang membandingkannya dengan tafsir surah al-lail. Maka diksi Al- Qur`an dalam mengungkapkan ayat dan memberikan contoh pada manusia membuat kami tidak tenang sampai tanda waktu disebut di dalamnya, seakan ia ingin ditakwil dengan pentakwilan falsafi dan isyari.

Poin utama dari uraian ini kami batasi pada lafal “al-‘ashr” supaya kami mengetahui sisi perbandingannya dengan lafal “ad-dahr” yang disebutkan oleh para mufassir di atas sebagai padanan yang tepat.

Pemisah antara dua lafal ini (al-‘ashr dan ad-dahr) sangat tipis bagi orang yang berkecimpung dalam memahami bentuk indah dari lafal tersebut, serta memperhatikan bentuk fisiknya.

Ar-Razi berkata tentang pengaruh waktu dengan ungkapan: “seandainya Allah tidak menyebut ad-dahr dengan pengetahuan-Nya, sungguh orang- orang ateis (tak beriman) akan mengklaim penjelasan tentang masa dan keagungannya”.

Sampai pada pembahasan ini, An-Naisaburi berpendapat bahwa tujuan Allah bersumpah atas nama “waktu” ialah untuk menunjukkan kemuliannya.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari hadis berikut: ”Janganlah kamu sekalian mengutuk masa karena sesungguhnya Allah lah masa itu”.

Terlepas dari semua penjelasan di atas, alangkah baiknya kita merenungkan makna al-‘ashr jauh dari pandangan filsafat para ahli kalam dan ahli takwil isyari. Kita mengetahui bahwa observasi beberapa tempat di dalam Al-Qur`an tentang pemakaian istilah “’ashr” rata-rata menuju kepada perhatian terhadap dialek kebahasaan orang Arab tentang kata “al-‘ashr” dan

ad-dahr” dan seputar kehidupan manusia yang tertekan, dan penuh ujian.

Dengan pandangan umum orang Arab pada masa kenabian ini, dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang mereka gunakan, maka kata “al-‘ashr

dalam konteks surah ini maknanya sangat jelas menunjukkan kepada ujian

99 kehidupan manusia dalam waktu yang melumpuhkannya dengan berbagai kesengsaraan, pengalaman, dan ujian.

Sedangkan adanya huruf wau di sini berfungsi untuk memunculkan fenomena gaya bahasa dalam menyampaikan perasaan secara sadar, sebagai pengantar yang jelas mengungkapkan makna yang tidak dirasakan secara sadar. Hal ini yang telah banyak kami sampaikan secara rinci pada pembahasan tafsir surah ad-dluha, al-‘adiyat, an-nazi’at di juz awal tafsir ini, serta kami ulas juga pada tafsir surah al-lail dan al-fajr.

Dengan munculnya makna yang mengarah pada waktu yang hakikatnya adalah tempat manusia diuji.

C. KOMPARASI PEMIKIRAN QASAM MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN BINT AS-SYÂTHI’

Setelah pemaparan qasam dalam pandangan Muhammad Abduh dan Bint as-Syâthi’ pada pembahasan yang lalu, penulis telah meneliti, menganalisa dan melihat perbedaan dan persamaan qasam dalam pandangan penafsir tersebut:

1. Qasam dalam pandangan Muhammad Abduh tidak menegaskan dan membahas sama sekali posisi adat qasam yang berupa wau qasam dalam pembahasan qasamnya. Dalam pandangannya, qasam hanya dianggap sebagai salah satu cara Allah menyampaikan pesan yang sangat penting sehingga membutuhkan qasam.

2. Qasam dalam pemikiran Abduh tidak seluas apa yang dipahami oleh bint as-syâthi’. Seperti kebanyakan mufassir terdahulu, Abduh menganggap bahwa qasam dalam Al-Qur`an hanyalah cara Allah untuk mengagungkan makhluk-Nya ketika akan menyampaikan suatu pesan dimana itu sangat penting bagi-Nya.

3. Qasam dalam pemikiran Abduh lebih menjelaskan tentang ketauhidan, makna-makna yang tersirat yang dianggap berupa hikmah.

4. Bint as-syâthi’ dalam menafsirkan adat qasam pada huruf wau, sebagai upaya untuk menarik perhatian pembaca dari makna hissi (inderawi) pada makna maknawi.

5. Bint as-Syâthi’ dalam memberikan definisi mengenai qasam sudah memberikan perhatian khusus pada hakikat qasam melalui penjelasan makna semantik13 lafal dan rahasia kata, yakni perbandingannya dengan kata half yang mengandung makna pelanggaran sumpah, sehingga terdapat perbedaan antara sumpah yang diungkapkan dengan kata qasam dan sumpah yang diungkapkan dengan kata half. Adapun qasam secara terminologi di samping mengandung makna penegasan (taukid), juga bermakna pengalihan perhatian (lafitah) dari sesuatu yang dapat dirasakan (hissi) kepada sesuatu yang abstrak.

6. Bint as-Syâthi’ mengatakan bahwa qasam harus dipahami sesuai dengan model ungkapan yang digunakan. Dalam pemahaman terhadap wau qasam misalnya, ia mengharuskan ada pemisah dan pembeda antara penggunaannya dalam awal kalimat/surah dengan yang berada di tengah. Ia mengemukakan bahwa wau qasam sebagai alat retorika yang menganalogikan antara muqsam bih yang berupa hal-hal indrawi (yang umumnya dapat disaksikan dan tidak mungkin dipertentangkan dengan sesuatu yang non indrawi). Menurutnya ungkapan qasam tersebut tidak perlu diperselisihkan dan dapat disaksikan.

7. Maka dari itu qasam dalam pandangan bint as-Syâthi’ adalah tautiah lil qasam, yaitu pendahuluan, pembukaan terhadap adanya muqsam alaih yang mengantarkan dan memahami apa maksud qasam tersebut.

13 Ilmu tentang makna dan kalimat. (KBBI)

101 Penafsiran Muhammad Abduh dan Bintu as-Syâthi’ dalam menafsirkan surat Ad-Dhuha dan Al-‘Ashr:

Muhammad Abduh dalam menafsirkan surat Ad-Dhuha mengatakan bahwa dalam sumpah itu, Allah swt., mengisyaratkan kepadanya bahwa terbitnya wahyu pertama kali di atas hatinya, diumpamakan seperti terbitnya Ad-Dhuha, sinar matahari ketika baru sepenggalah tingginya; yang dengannya kehidupan menguat dan tanaman-tanaman tumbuh dengan suburnya. Sedangkan saat-saat sesudah itu diumpamakan sebagai malam hari ketika segalanya menjadi tenang; agar semua kekuatan dapat diperbarui dan manusia bersiap-siap untuk tugas yang menantinya di keesokan hari.

Selanjutnya dalam surat Al-‘Ashr Abduh menafsirkan kalimat sumpah ini adalah demi memberikan penekanan tentang pentingnya tema yang dibicarakan di dalam surah ini. Yaitu bahwa semua yang disebut ‘manusia’

sebagaimana dipahami oleh orang-orang yakni manusia yang berakal dan sudah dewasa (baligh)—yang secara relatif mengalami kerugian, kecuali mereka yang dikecualikan (pada ayat selanjutnya). Perbuatan-perbuatan manusialah yang merupakan sumber penderitaannya, bukan waktu ataupun tempat.

Sedangkan bint as-Syâthi’ dalam surat ad-Dhuha, huruf wau mengarahkan perhatian pada gambaran materi dan kenyataan indrawi, di mana manusia menyaksikan terangnya siang saat matahari naik sepenggalah, dan menyaksikan kelesuan malam apabila telah sunyi dan terang. Dua fenomena alam semesta ini selalu berganti setiap hari tanpa membangkitkan rasa heran dan tanda tanya, bahkan tidak pernah terbetik dalam benak seseorang bahwa langit telah meninggalkan bumi dan menyerahkannya pada kebuasan malam setelah benderangnya waktu dhuha di hari itu juga.

Ia menafsirkan secara panjang lebar makna adduha waktu pagi yang cerah, bangun tidur dalam keadaan cerah udara berhembus dengan segar itu

diibaratkan olehnya sebagai waktu atau masa-masa dimana nabi aktif menerima wahyu. Sedangkan wallaili, digambarkan sebagai waktu malam yang konotasinya menakutkan, menyeramkan ada kesamaran sehingga gambaran malam tidak selamanya menyenangkan.

Gambaran antara wadduha dan wallaili adalah gambaran yang sifatnya faktual , nyata. Dari sini dapat kita tarik bahwa waktu dhuha adalah waktu nabi beraktivitas, waktu malam adalah waktu Nabi berisitirahat.

Jadi kalau orang tidak merasakan perpindahan dari wadduha ke wallaili iza saja, (karena celaan orang musyrik makkah, istri abu lahab karena wahyu tidak turun selam 40 hari. Celaan istri abu lahab katanya nabi ditinggalkan oleh setannya) kalau kita tidak merasakan antara waktu duha ke waktu malam kenapa harus meributkan waktu turunnya wahyu dan waktu tidak turunnya wahyu? Mungkin saja ketika turunnya wahyu nabi sedang beraktivitas waktu malam nabi sedang berisitirahat, bukankah nabi juga manusia biasa yang butuh istirahat? Jadi tidak bisa menganggap bahwa nabi ditinggalkan oleh tuhannya.

Selanjutnya dalam menafsirkan surah Al-Ashr Bint as-Syâthi’ dalam konteks surah ini mengatakan bahwa maknanya sangat jelas menunjukkan kepada ujian kehidupan manusia dalam waktu yang melumpuhkannya dengan berbagai kesengsaraan, pengalaman, dan ujian. Al-‘Ashr adalah masa, tetapi masa yang harus dipahami sebagai sesuatu yang menjepit, menguasai manusia.Sama seperti halnya blender membuat buah terjepit lalu keluarlah jus (hasil dari perasan itu) semakin bagus di blender, jusnya semakin banyak. Artinya Semakin banyak kerja keras, beribadah, hasilnya pada kemanusiaan yang baik (output) manusia yang baik. Maka manusia dapat menjadi baik jika ia menafaatkan waktu sebaik-baiknya.. Al-ashr, bermakna ashr, ashir. Di dalam masa bukan enak-enakan tapi kita di peras,

103 tenaga pikiran, kemampuan, sehngga menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan.

104 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, pengamatan penulis dalam skrispi ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Bahwa menurut Muhammad Abduh muqsam bih dengan sebagian makhluknya adalah tanda kebesaran dan keagungan kekuasaannya, sedangkan menurut Bintu as-Syâthi’ pemahaman terhadap qasam harus dilihat perbedaan ungkapannya atau model ungkapannya.

Selanjutnya menurut Muhammad Abduh bahwa hubungan keserasian antara muqsam bih dan muqsam alaih telah disinggung oleh mufassir terdahulu hanya saja masih terjebak pada gagasan di atas dan memang penekanan dari pemikirannya adalah pada pengagungan muqsam bih. Baginya ini adalah tujuan utama diungkapkannya qasam. Sedangkan Bint as-Syâthi’ menawarkan alternatif baru, mengalihkan fungsi wau qasam dari makna aslinya yang mengungkapkan keagungan muqsam bih kepada pembandingan hal-hal yang indrawi sebagai persiapan untuk menjelaskan hal-hal yang gaib. Yang menjadi sandaran pemikiran seperti ini adalah pemikiran bahwa perbedaan ungkapan memungkinkan perbedaan pemahaman. Ia juga menekankan pembatasan yang ada pada muqsam bih sendiri berdasarkan situasi dan kondisi.

B. Saran-saran

Bagi seorang peneliti, sebaiknya jangan terburu-buru menyimpulkan apa yang telah diteliti ini telah selesai, dan sudah banyak dikaji. Karena masih banyak peluang untuk mengkaji aspek-aspek yang belum terkaji sebelumnya, mengingat pula Al-Qur`an selalu terbuka untuk dikaji.

Dalam dokumen 14210619.pdf - repository iiq - IIQ Jakarta (Halaman 74-91)

Dokumen terkait