• Tidak ada hasil yang ditemukan

14210619.pdf - repository iiq - IIQ Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "14210619.pdf - repository iiq - IIQ Jakarta"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Permasalahn

  • Pembatasan Masalah
  • Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

Kajian Pustaka

Konstruksi epistemologi tafsir binti Asy-Syati pada surat ad-Dhuha menjelaskan tentang ciri-ciri, unsur-unsur yang membentuk epistemologi tafsir dalam surat ad-Dhuha dan metode penafsirannya. Majalah Adabiyyat vol 8 no 2 Desember 2009 karya Fuad Thohari berjudul Tafsir al-Tafsir al-Bayaniy lil al-Qur'an al-Karim menjelaskan metodologi tafsir di era modern dan membahas sinonim menurut Binti es-Syâthi yang tidak bermakna hal yang sama. Jurnal ini membahas tentang metodologi tafsir binti al-Syâthi sehingga memberikan kontribusi besar dalam pengerjaan proposal tesis penulis.

Tesis Nur Hidayah yang berjudul Menafsirkan Ayat-ayat Sumpah Allah dalam Al-Qur'an (Kajian Kitab al-Tafsir al-Bayan lil Qur'an al-Karim Karya 'Aisyah Binti as-Syâthi, Tafsir Ibnu Katsir, Karya Ibnu Katsir dan Kitab Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Yil Qur'an karya At-Thabari tahun 2009. Jurnal ini membahas tentang rekonstruksi tafsir yang digagas oleh Bintu es-Syâthi yang meliputi sabab nuzul dan qasam.10 No 1 Januari 2013 oleh Nasaiy Aziz yang berjudul Metode Tafsir Al-Qur'an Versi Bintu As.

1 Juni 2014, Karya Amir berjudul Qasam dalam Al-Qur'an (Tinjauan Uslub Nahwiyyah) di majalah ini menjelaskan tentang uslub qasam dan rahasia di balik surat qasam.

Metodologi Penelitian

Metode Analisis Data

Teknik dan Sistematika Penulisan

Penulis akan menyingkap keistimewaan pemikiran tentang wau qasam secara umum dan wau qasam dalam surat Ad-Dhuha dan Al-'Ashr melalui pelbagai aspek dalam pemikiran, penerapan konsep dan perbandingan antara kedua pemikiran tersebut dalam kajian aqsam Al menganalisis. - Al-Quran.

DISKRSUS SEPUTAR QASAM DALAM AL-QUR`AN

Kehidupan Muhammad Abduh

Abduh bin Hasan Khairullah dilahirkan di kampung Mahallat Nashr, Kabupaten Al-Buhairah, Mesir, pada tahun 1849 Masihi. Dia berasal dari keluarga yang tidak kaya dan bukan bangsawan, tetapi bapanya sangat dihormati di kampung. Semua saudaranya adalah petani yang membantu ayah mereka dalam bidang pertanian, tetapi 'Abduh - nampaknya kerana ibu bapanya menyayanginya - hanya ditugaskan untuk menuntut ilmu.

Karir Intelektual

Abduh kecil dihantar oleh bapanya pada usia tiga belas tahun ke Masjid Al-Ahmadi Thantha (kira-kira 80 km dari Kaherah) untuk mempelajari Al-Quran dan tajwidnya. Di kampung ini beliau bertemu dengan Syaikh Derwisy Khidr yang berilmu Al-Quran dan mengamalkan tasawuf dengan gaya Ash-Syadziliyah. Pertemuannya dengan syeikh mengubah Abduh daripada seorang yang enggan belajar kepada seorang yang cintakan ilmu.

Maka dari sini ia meminta Abduh untuk kembali belajar di Thantha, tempat yang direkomendasikan oleh orang tuanya. Namun sistem pengajaran di sana – saat itu – tidak berkenan kepadanya, karena pengajarannya dilakukan dengan menitik beratkan pada pendapat-pendapat ulama terdahulu, tanpa ada upaya untuk membandingkan atau menafsirkan pendapat-pendapat yang ada.3.

Kondisi Sosial dan Politik

Menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber keimanan dan hukum, bukan melegitimasi pandangan aliran sesat melalui Al-Qur'an. Mayoritas peminat kajian Al-Qur'an menganggap metode yang dikemukakan oleh Amin al-Khuli dan kemudian digunakan oleh Binti as-Syâthi dalam tafsirnya, al-Tafsir al-Bayaniy li Al-Qur'anal-Karim, adalah metode yang tepat. sebuah metode modern. Pembelajaran Al-Quran terus dilakukan setiap musim panas hingga akhirnya ia mampu menghafal seluruh Al-Qur'an.

Beliau ingin menunjukkan bahawa konsep kebebasan dan kesaksamaan dalam Islam telah termaktub dalam al-Quran empat belas abad yang lalu. Karya-karya beliau tidak terhad kepada pengajian al-Quran semata-mata, tetapi juga bersifat interdisipliner. Topik perbincangan yang dibentangkan beliau dalam bahagian pengajian Islam ialah Musykilat At-Taraduf fi Dhaui At-Tafsir Al-Bayani li Al-Qur`an Al-Karim (Masalah Perkataan Sinonim dalam Al-Qur`an, Perspektif Tafsir Al Bayan. ).

Bintu as-Syâthi' mengkritisi keasyikan mempelajari sastra dengan metode muallaqat, polemik, khamariyat dan hamasiyat, tanpa mengacu pada Al-Qur'an. Dalam hal ini beliau lebih banyak berpedoman pada kitab-kitab tafsir yang membahas aspek balaghah al-Qur'an.20. Selain itu, bersumpah demi Al-Qur'an berarti bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi.

Hal ini tidak berlaku pada wau qasam, yang membuka beberapa surat dalam Al-Qur'an yang tidak didahului oleh apapun untuk dibenarkan atau dibantah. Binti as-Syâthi' berpendapat bahwa sumpah Al-Qur'an hanyalah salah satu dari sekian banyak retorika yang digunakan untuk menarik perhatian terhadap permasalahan yang sedang dihadapi dengan menggunakan fenomena nyata untuk memperkenalkan hal-hal lain yang tidak kasat mata atau abstrak. Oleh karena itu, pemilihan objek sumpah dalam Al-Quran disesuaikan dengan situasi dan keadaan.

Dalam Al-Quran sendiri, pengertian malam dan siang mudah difahami tanpa perlu menggunakan qasami, contohnya dalam QS. Pendapat yang lazim di kalangan ulama terdahulu ialah sumpah al-Quran ini mengandungi maksud mengagungkan muqsam bih (benda yang digunakan untuk bersumpah). Menurut Bint es-Syâthi, idea di atas begitu meluas sehingga menyebabkan mereka wajib menjelaskan aspek keagungan dalam setiap perkara yang digunakan oleh al-Quran untuk bersumpah dengan layang-layang.

Demikianlah Al-Qur’an dengan sumpahnya “fajar ketika mulai terang dan terbitnya matahari”, “siang ketika cerah”, dan. Pernyataan al-'ashr mengandung segala taqwil filosofis dan isyari (kesan yang tercipta dari pernyataan tersebut) yang tidak dijelaskan, yang mana Al-Qur'an merujuk dengan pernyataan "رصعلاو".

Profil Tafsir Al-Qur`an al-Karim Juz ‘Amma

Profil Bintu as-Syâthi’ dan Tafsirnya

  • Profil Tafsir al-Bayân li Al-Qur`an al-Karim

Seorang mufassir modern Binti as-Syâthi dikategorikan sebagai mufassir modern, yang setidaknya dapat dilihat dari dua aspek. 12 Binti as-Syâthi'' yang berarti gadis tepi laut atau putri pantai, sengaja digunakan sebagai nama samaran dalam tulisannya yang dikirimkan ke majalah dan surat kabar agar ayahnya tidak mengenalnya. Semasa kecil, Binti as-Syâthi hampir tidak mempunyai waktu bermain dengan teman-temannya.

Berkat kemampuan intelektual Binti es-Syâthi, ia mampu menghafal beberapa ayat Al-Qur'an, khususnya surah pendek. Pada tahun 1920, Binti as-Syâthi terang-terangan mengutarakan keinginannya untuk masuk sekolah formal, namun ia sangat sedih karena ayahnya menolak keinginannya tersebut. Karena rasa simpati Ibu Binti es-Syâthi terhadap putranya yang tidak mendapat restu ayahnya untuk melanjutkan sekolah, hal tersebut disampaikan ibunya kepada kakeknya, Syekh Ibrahim Damhuji.

Setelah diskusi pendahuluan khusus dengan kakek Binti as-Syâthi, ayahnya menyetujui usulan untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi dengan syarat tertentu. Ketika ayahnya melakukan perjalanan sepuluh hari, ibunya mendorong Binti es-Syâthi untuk pergi ke al-Mansyūrah untuk mengikuti tes masuk sekolah guru. Namun setelah pengumuman ujian, Binti es-Syâthi tak segan-segan menerima ijazah dari pihak sekolah, padahal semua temannya sudah menerimanya.

Oleh karena itu, Binti as-Syâthi memutuskan untuk mengirimkan surat kepada pihak sekolah yang bersangkutan untuk menanyakan permasalahan tersebut. Akhirnya mereka menyampaikan hal tersebut kepada ayah Binti as-Syâthi dan memintanya mengembalikan berkas lamaran. Untunglah Binti as-Syâthi mendapat persetujuan dari atasan ayahnya, Syekh Mansur Ubayy Haykal al-Sharqaw, untuk melanjutkan studinya.

Bencana ini membuat Binti as-Syathi dan ibunya merasa kehilangan orang penting yang selalu mendukung dan membantu mereka menyelesaikan permasalahan khususnya mengenai sekolah. Setelah dua tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi, Binti as-Syâthi memperoleh gelar B.A. dan pada tahun 1939. Binti as-Syâthi' merupakan mufassir modern yang sangat langka di bidangnya; dialah satu-satunya mufassir perempuan yang sangat produktif.

ANALISA QASAM DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD

Penafsiran Qasam Pada Surat ad-Dhuha dan al-`Ashr Menurut

Menelusuri sumpah-sumpah al-Quran seperti yang terdapat dalam ayat Ad-Dhuha, kita dapati ia dikemukakan sebagai lafitah (memanggil perhatian) kepada gambaran material yang dapat dirasai dan realiti yang dapat dilihat, sebagai permulaan ilustrasi11 kepada orang lain. imej yang bermakna dan sopan, tidak kelihatan dan tidak bermakna. Penjelasan yang abstrak dan konkrit ini boleh dikemukakan kepada sumpah al-Quran dengan wau yang boleh diterima tanpa kewajipan dalam bacaan ayat-ayat tersebut. Menurut binti es-Syâthi, dia tidak mengetahui seorang pun pengulas yang menangani pertimbangan ini dengan perhatian yang jelas dan khusus.

Tidak ada satu pun mufasir yang mencoba menjelaskan sumpah dengan wau ini, dengan mengingkari kasam secara terbuka, yang secara jelas disebutkan dalam Al-Qur'an, karena didasarkan pada Allah. Binti as-Syâthi mengutip takwil Syekh Muhammad Abduh tentang sumpah Allah yang menggunakan waktu Ashar. Sehingga diksi Al-Qur'an dalam mengungkapkan ayat dan memberi contoh membuat masyarakat risih hingga menyebut tanda zaman seolah ingin menjelaskannya dengan penjelasan filosofis dan Islami.

Kita tahu bahwa pengamatan di beberapa tempat dalam Al-Qur'an mengenai penggunaan istilah "'ashr" pada umumnya mengarahkan perhatian pada dialek bahasa Arab mengenai kata "al-'ashr" dan. Seperti sebagian besar ahli tafsir sebelumnya, Abduh berpendapat bahwa Qasam dalam Al-Qur'an hanyalah cara Allah memuliakan makhluknya ketika menyampaikan pesan yang sangat penting baginya. Binti as-syâthi' dalam menjelaskan qasm yang biasa terdapat pada surat wau, sebagai upaya mengalihkan perhatian pembaca dari makna hissi (sensual) ke makna yang masuk akal.

Oleh karena itu, qasam dalam pandangan binti as-Syâthi' tautiah lil qasam yaitu suatu pendahuluan, suatu pembuka terhadap adanya muqsam alaih yang menyampaikan dan memahami apa yang dimaksud dengan qasam tersebut. Lebih lanjut dalam tafsir surah Al-Ashr Binti as-Syâthi' dalam konteks surah ini dikatakan maknanya sangat jelas menunjukkan cobaan hidup manusia pada masa yang melumpuhkannya dengan berbagai cobaan, pengalaman dan ujian. Sementara itu, Binti as-Syâthi' menawarkan alternatif baru, dengan menggeser fungsi wau qasam dari makna aslinya mengungkapkan keagungan muqsam bih menjadi perbandingan benda-benda indrawi sebagai persiapan penjelasan benda gaib.

Karena masih banyak kesempatan untuk mengkaji aspek-aspek yang belum pernah dipelajari sebelumnya, mengingat Al-Qur'an selalu terbuka untuk dipelajari. Masyru'uk al-khash ma'a Penerjemah Al-Qur'an Faruq Zaini, Jakarta: Lentera Hati, Cet 1, 2009 Al-Mazni, Aunur Rafiq, Pengantar Kajian Ilmu Al-Qur'an, Jakarta: Pustaka . Boulatta, Issa, Tafsir Al-Qur'an Modern: Kajian Metode Bintusy-Syati" Pengantar "Aisyah Abdurrahman, Tafisr bintusy-Syati, trans, Mudzakir Abdussalam, Bandung: Mizan, 1996.

Tinjauan Qasam Al-Qur`an Menurut Bintu as-Syâthi’

  • Qasam dalam Pandangan Bintu as-Syâthi’

Referensi

Dokumen terkait

janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum

Kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul pamungkas (khatam al-anbiya wa al-mursalin) Nampaknya difahami mereka secara kreatif. Untuk itulah, mereka dengan segala upaya dan

Shalawat dan salam penulis curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada Ayah dan Ibu tercinta, karena berkat do’a dan dukungan mereka

Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. Berkaitan dengan

orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena

Ibnu Taimiyah berkata : “Apakah kamu telah memberikan nasehat kepada mereka, atau kamu merasa lebih baik dari Nabi Muhammad SAW yang bersabda : ‘Siapa yang berkata Laa Ilaaha

Aisyah, yang ada di dalam rumah bersama Nabi, sangat marah dan menjawab dengan ucapan, “wa al- sammu ‘alayka wa la‘natullâhi ikhwâna al-qirâdata al-khasîr (Mampus kamu juga

Warisan Alquran dan Hadis yang dititipkan Nabi Muhammad dan Abu Bakar kepada anak cucunya, tidak membuat mereka menjadi anak-anak pengemis, tapi mereka mulia karena mereka