• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penafsiran Sayyid Quthub

Dalam dokumen THAGHUT DALAM AL-QUR’AN (Halaman 83-101)

BAB V Penulisan skripsi ini hanya terdiri dari lima bab, oleh karena itu bab ke lima diakhiri dengan penutup yang terdiri

B. Penafsiran Sayyid Quthub

berkata, “Saya akan menuntutmu kepada orang yang satu agama denganmu, atau dia berkata kepada Nabi Muhammad, „Dia mengatakan hal itu karena tahu bahwa beliau tidak mengambil suap dalam memutuskan perkara. Keduanya terus berselisih dan akhirnya mereka sepakat untuk mendatangi seorang dukun dari daerah Juhainah. Lalu turunlah surat An-Nisa‟ ayat 60.8

70

sesuatu yang baik (ath-Thayyibat ) yang telah di halalkan-Nya.

Kehendak Allah SWT ini telah termaktub dalam syariat-Nya melalui lisan para rasul yang hanya ditugaskan untuk menyampaikan dakwah islam kepada umat manusia.

Menurut Sayyid Quthb ketika menafsirkan ayat ini bahwa Beribadah kepada Allah SWT dan menjauhi thãghût adalah perintah sekaligus kehendak Allah SWT terhadap setiap hamba- hamba-Nya. Allah SWT tidak memerintahkan manusia dengan suatu perintah yang akan menghalangi seorang makhluk dari Qudrah-Nya, atau mendorong mereka secara paksa untuk menyalahinya. Dan tanda ketidak ridhaannya akan penentangan terhadap perintah-Nya adalah seperti yang di lakukan orang yang mendustakannya.9

Maksud kalimat di atas adalah bahwa perintah Allah SWT tidak melebihi kemampuan hambanya. Dan perintah Allah SWT selalu mengarah kepada hal-hal yang bisa mengantarkan hambanya untuk sampai pada qadha dan qadar Allah SWT. bukan menjauhkan dari ketentuan Allah SWT. itulah sebabnya seorang hamba yang tidak taat akan perintah Allah SWT akan di murka oleh-Nya, karena fasilitas untuk memenuhi perintah Allah SWT telah di sediakan oleh-Nya.

Oleh sebab itu ketika datang utusan Allah SWT yang mengajak mereka beriman kepada Allah SWT maka diantara umat itu ada yang di beri petunjuk oleh Allah SWT karena mereka mempercayai keberadaan Allah SWT dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatannya dengan mendurhakai Allah SWT. Oleh sebab itu Allah SWT

9 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,jilid,10,h 179

memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berjalan dan melihat daerah-daerah yang pernah menjadikan umat-umat terdahulu yang dibinasakan Allah SWT karena mereka mendustakan-Nya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Padahal Allah SWT telah menciptakan manusia dengan segala kesiapannya untuk menerima petunjuk atau menolaknya sehingga ia berada dalam kesesatan. Allah SWT membiarkan manusia bebas dalam memilih salah satu dari dua jalan tersebut.yakni jalan yang menuju kebenaran atau kesesatan , membekali mereka dengan akal sebagai sarana untuk memilih dua jalan itu. Allah SWT juga memeperlihatkan ayat-ayat yang menjadi petunjuk diri-Nya dijagad raya yang bisa di jangkau oleh mata, telinga, hati, dan akal manusia kapan saja meskipun di tengah pekatnya malam dan gemilaunya cahaya siang berpendar.10

Lebih lanjut Sayyid Quthb berkomentar bahwa rahmat Allah SWT berkehendak kepada hamba-hambanya agar tidak membiarkan mereka mengandalkan akalnya semata. Maka, dia meletakkan bagi akal itu barometer yang kuat (mizan tsabit) yang dibawa oleh para rasul-rasulnya. Akal akan merujuk ke barometer terebut setiap kali terasa samar pada urusan manusia di tengah perjalanan hidupnya, agar dapat memastikan kebenaran pilihannya atau kekeliruannya.

Allah SWT juga tidak menjadikan para rasulnya itu sebagai hamba-hamba yang keras, yang mematahkan leher

10 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,jilid 10,h179

72

manusia agar mereka beriman, tidak sama sekali. Akan tetapi, para rasul itu dijadikan-Nya hanya sebagai penyampai (muballigh) misi-Nya, tidak lebih dari itu. Mereka mengajak manusia untuk beribadah hanya kepadanya dan menjauhi setiap selain-Nya seperti berhala-berhala, hawa nafsu, syahwat, dan kekuasaan.11

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa perintah menyembah Allah SWT dan menjauhi thãghût merupakan perintah Allah SWT kepada setiap hambanya-hamba-Nya.dan Allah SWT murka terhadap hamba yang melanggar perintahnya seperti yang di lakukan Allah SWT terhadap kaum-kaum pendusta.

b. QS. Al-Baqarah [2]:256



















































“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);

Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thãghût dan beriman kepada Allah SWT, Maka Sesungguhn ya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. danAllah SWTMaha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Pada QS. al-Baqarah [2]: 256 Sayyid Quthb tidak mencantumkan musabah ayat ini, akan tetapi beliau langsung menafsirkannya. Beliau mengatakan bahwa kebebasan beragama adalah hak asasi manusia karena agamanyalah seseoarang itu

11 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,jilid.2.h 179

layak disebut manusia. Beliau menjelaskan bahwa islam adalah agama yang paling tinggi pandangannya terhadap alam dan kehidupan, paling lurus manhaj dan tatananya bagi masyarakat.

Islamlah yang mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam memeluknya, dan islam juga menjelaskan kepada pemeluk- pemeluknya bahwa orang islam tidak boleh memaksa orang lain untuk memeluk agama islam juga.12

Lebih lanjut sayyid quthb menjelaskan tentang iman. Iman itu adalah jalan yang benar, yang sudah seharusnya manusia menyukai dan menginginkannya. Sedangkan, kekafiran adalah jalan yang sesat, yang sudah seharusnya manusia berlari menjauhinya dan memelihara diri darinya. Tidaklah manusia merenungkan nikmat iman dengan fikiran yang jernih dan terang, dengan hati yang tenang dan damai, dengan jiwa yang penuh perhatian dan perasaan yang bersih, dan dengan tata kemasyrakatannya yang bagus dan lurus, yang mendorong pengembangan dan peningkatan kualitas kehidupan. Dengan demikian manusia akan mendapatkan jalan hidup yang benar dan lurus, yang tidak akan menolaknya kecuali orang yang bodoh.

Yakni, orang yang meninggalkan jalan yang benar menuju jalan yang sesat, mengutamakan kegelapan, kegoncangan, kehinaan,dan kesejahteraan.

Kemudian Sayyid Quthb memperjelas tentang hakikat keimanan yakni dengan mengingkari thãghût13 dan beriman

12 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,jilid.2. h. 343

13 Thãghût” adalah variasi dari kata thughyaan, yang berarti segala sesuatu yang melampaui kesadaran, melanggar kebenaran, dan melampaui batas yang telah di tetapkan Allah bagi hamba-hamba-Nya, tidak berpedoman kepada akidah Allah, tidak berpedoman pada syariat Allah. Dan yang termasuk dalam katagori thãghût adalah juga setiap manhaj tatanan sistem yang tidak berpijak pada peraturan dan setiap pandangan, perundang-

74

kepada Allah SWT. oleh sebab itu barang siapa yang mengingkari thãghût dan beriman kepada Allah SWT maka ia telah berpegang teguh kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus selama-lamanya. Tali itu sangat kuat, kokoh, dan tidak akan patah. Orang yang berpegang teguh pada tali tersebut tidak akan tersesat dari jalan keselamatan.14

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa syarat seseorang akan di katakan beriman apabila dia telah ingkar kepada thãghût. Dan apabila seseorang yang telah ingkar kepada thãghût, sungguh dia telah berada dalam jalan keselamatan.

Hal diatas senada dengan pendapat Abu Ja‟far at-Thabari dalam tafsirnya beliau mengatakan bahwa orang yang mengingkari semua yang di sembah selain Allah SWT maka ia telah kufur terhadap thãghût dan percaya kepada Allah SWT bahwa Dia adalah tuhannya dan yang Dia sembah. Dan sungguh ia telah berpegang teguh kepada pegangan orang yang mencari keselamatan diri dari adzab dan siksa Allah SWT.15

2. Kabar Gembira bagi yang Menjauhi Diri dari thãghût a. QS. Az-Zumar [39]:17



























“Dan orang-orang yang menjauhi thãghût (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah SWT, bagi mereka

undangan, peraturan, kesopanan, atau tradisi yang tidak berpijak pada peraturan dan syariat Allah SWT.

14 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h344

15 Abu Ja‟far Muhammad bin Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, (Jakarta: Pustaka Azzam,2008)cet.1.h.470-471

berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku.”

Asbabun Nuzul : Juwaibir meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah yang berkata, “Ketika turun ayat 44 surah al-Hijr,

(jahannam itu mempunyai tujuh pintu)”seorang laki-laki dari golongan Anshor mendatangi Rasulullah saw seraya berkata,”

wahai Rasulullah, sesungguhnya saya memiliki tujuh orang budak dan saya telah memerdekakan semua mereka dengan harapan saya akan terhindar dari setiap pintu neraka (yang berjumlah tujuh)itu. Terhadap sikap laki-laki ini turunlah ayat,

„…sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepda hamba- hamba-ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”( QS. Az-Zumar [39]:17-18)

“Dan orang-orang yang menjauhi thãghût…”( QS. Az- Zumar [39]:17).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa ayat ini turun berkenaan dengan tiga orang yang sejak masa jahiliah dulunya telah mengatakan,”Tiada Tuhan selain Allah SWT” mereka adalah Zaid bin Amru bin Nufail, Abu Dzar al- Ghifari, dan Salman al-Farisi.16

Dalam menafsirkan ayat ini Sayyid Quthb memulai penafsirannya dengan mengulang kembali makna thãghût.

thãghût adalah segala sesuatu yang melintas dan melampaui batas. Orang-orang yang menjauhi penyembahan thãghût ialah orang yang hanya menyembah Allah SWT saja dalam bentuk

16 Jalaluddin as-Suyuthi, Asbabun Nuzul: Sebab Turunnya Ayat Al-Qur‟an, (Depok:Gema Insani :2008) cet.1,h 483

76

apapun. merekalah orang-orang yang kembali kepada Allah SWT dengan tulus. Dan bagi mereka itu berita gembira yang bersumber dari barisan malaikat, dan Rasulullah saw menyampaikan berita itu atas perintah Allah SWT.17

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa Rasulullah saw menyampaikan berita gembira bagi orang yang menjauhi thãghût. Yaitu orang yang hanya menyembah Allah SWT saja dalam bentuk apapun. merekalah orang-orang yang kembali kepada Allah SWT dengan tulus.

Hal ini berbeda dengan Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya beliau menjelaskan bahwa berita gembira bagi orang yang menjauhi thãghût18 adalah memperoleh pahala yang melimpah yaitu surga.19

b. QS.Al-Maidah [5]:60

























































“Katakanlah: "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pem balasannya dari (orang- orang fasik) itu disisi Allah SWT, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah SWT, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thãghût?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”

17 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h.73

18 Orang yang menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan setan, menerima sepenuhnya menyembah Allah SWT semata dan berpaling dari selainnya.

19 Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir,h.237

Menurut Sayyid Quthb Ayat ini menggambarkan tentang sikap dan prilaku kaum yahudi serta sejarah mereka. Kaum yahudi termasuk orang-orang yang di laknat dan di murkai oleh Allah SWT. Di antaranya ada yang di jadikan kera dan babi.

Merekalah penyembah-penyembah thãghût.20

Lebih lanjut Sayyid Quthb mengatakan bahwa ahli kitab menyembah pendeta-pendeta dan rahib-rahib, mereka mengikuti syariatnya dan meninggalkan syariatAllah SWT. oleh sebab ituAllah SWT menyebut mereka sebagai kaum musyrik. Mereka juga menyembah thãghût. yang di maksud dengan thãghût adalah kekuasaan-kekuasaan yang melampaui batas dan wewenang. Mereka memang tidak menyembahnya dalam arti sujud dan rukuk pada-Nya. Akan tetapi mereka menyembahnya dalam arti mengikuti dan mentaati perintahnya.

Kemudian Sayyid Quthb mengatakan bahwa Allah SWT memberikan pengarahan kepada Rasul-Nya supaya menghadapi Ahli kitab yang menyembah tahghut dengan mengemukakan sejarah ini beserta balasan Allah SWT yang mereka dapatkan sepanjang sejarahnya. Hal ini seakan-akan mereka orang-orang yahudi mempunyai prilaku dan karakteristik yang sama.Allah SWTmemberi pengarahan kepada Rasulullah supaya mengatakan kepada mereka bahwa sikap mereka yang demikian itu akan berakibat fatal.21

Allah memberikan balasan ke pada orang-orang yahudi dengan balasan yang lebih buruk dari pada siksaan dan lebih buruk dari gangguan-gangguan yang di lakukan orang-orang

20 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h.269

21 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h269

78

yahudi terhadap orang islam. Maka apalah arti siksaan manusia yang lemah di bandingkan dengan siksaan dan azab Allah SWT.

Allah SWT menghukumi orang yahudi sebagai orang yang buruk dan sesat jalannya.22

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa balasan bagi orang yang menyembah thãghût adalah dirubahnya bentuk dan sikap mereka seperti kera dan babi, dan merekalah orang yang sangat tersesat.

Dr. Wahbah zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan pendapat mayoritas ulama tentang balasan bagi orang yang menyembah thãghût adalah mereka benar-benar di ubah wujud dan bentuk menjadi kera dan babi sungguhan, kemudian mereka punah.

Kaum yahudi yang di ubah wujud dan bentuknya menjadi kera adalah orang-orang yahudi yang melanggar kesakralan dan pantangan hari sabtu. Sedangkan yang di ubah wujud dan bentuknya menjadi babi adalah mereka yang kafir pada kasus maa‟idah (jamuan makan) nabi isa.

Ada riwayat lain juga yang menyebutkan bahwa pengubahan wujud dan bentuk menjadi kera dan babi, kedua- duanya adalah terhadap mereka yang melanggar kesakralan dan pantangan hari sabtu, yaitu mereka yang masih muda diubah wujud dan bentuknya menjadi kera, sedangkan yang tua di ubah wujud dan bentuknya menjadi babi.23

22 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h269

23 Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir,h.576

3. Pengikut setia thãghût.

a. QS. Al-Baqarah [2]:257

















































Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”.

Sayyid Quthb mengatakan bahwa Iman adalah cahaya yang pertama kali menyinari dan enerangi eksitensi seorang mukmin, yang memancar dalam hatinya dan yang menyinari ruhnya sehingga menjadi terang, cerah, dan memancarkan cahaya pada sekelilingnya dengan terang benderang. Cahaya yang menyingkap hakikat-hakikat segala sesuatu, hakikat-hakikat nilai, dan hakikat-hakikat semua tashawwur dan pandangan hidup.

Sehingga hati yang beriman dapat melihat semua kebenaran dengan jelas tanpa kesamaran, jelas tanpa kekaburan, mantap di tempatnya tanpa tergoyahkan.24

Sedangkan kesesatan kekafiran adalah kegelapan- kegelapan yang beraneka ragam. Kegelapan hawa nafsu dan syahwat. Kegelapan kebingungan dan keterombang-ambingan, dan kegelapan-kegelapan yang lainnya.kegelapan-kegelapan yang beraneka ragam dan tidak dapat dibatasi, yang semuanya terjadi

24 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h 345

80

ketika orang-orang kafir sudah menyimpang dari jalan Allah SWT, dan menjadikan thãghût sebagai wali yang mereka sembah.

serta berpedoman kepada selain Manhaj Allah SWT. Namun Apabila mereka tidak terbimbing dengan cahaya (iman), maka mereka akan kekal di dalam neraka. Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang, sedangkan kesesatan itu bermacam- macam dan beraneka ragam.25

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelindung orang-orang yang beriman adalahAllah SWT, yang menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus, sehinggan tidak ada keraguan di hati mereka untuk meninggalkan kekafiran. Dan pelindung bagi orang-orang kafir adalah thãghût yang mengeluarkan mereka dari keimanan menuju kekafiran.

Hal di atas senada dengan Dr Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya beliau mengatakan bahwa Allah SWT bertanggung jawab atas semua perkara orang yang beriman,dengan memberi perhatian, perlindungan petunjuk kepada sesuatu yang paling benar dan lurus. Allah SWT mengeluarkan mereka dengan petunjuk indra, akal, dsn agama dari gelapnya keraguan dan kesamaran, gelapnya kebodohan dan kesesatan, gelapnya kekufuran dan penyimpangan menuju cahaya ilmu.26

Adapun orang-orang kafir jiwa mereka dikuasai oleh sesembahan mereka yang bathil yang mengiring mereka kepada kesesatan. Jika tampak kepada mereka cahaya kebenaran dan keimanan, setan dengan senjatanya berupa was-was segera

25 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h 345

26 Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir,h 51

berusaha mematikan cahaya tersebut dan menjadikan orang-orang kafir tetap berada dalam gelapnya keraguan dan kesesatan.

b. QS. An-Nisa‟[4]:51











































“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thãghût, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang- orang yang beriman.”

Sayyid Quthb menafsirkan ayat ini bahwa sesungguhnya orang –orang yang diberi bagian dari kitab suci semestinya lebih layak mengikuti kitab tersebut, lebih patut mengingkari kemusyrikan yang dianut orang-orang yang tidak pernah datang kepadanya petunjuk dari Allah SWT SWT, lebih pas untuk memberlakukan kitab Allah SWT di dalam kehidupan mereka, dan tidak mengikuti thãghût. Akan tetapi kaum yahudi yang menganggap dirinya suci dan membangga-banggakan diri sebagai kekasih Allah SWT itu, pada waktu yang sama mengikuti kebatilan dan kemusyrikan dengan mengikuti perdukunan, dengan membiarkan para dukun dan pendeta mensyariatkan bagi mereka sesuatu yang tidak diizinkan Allah SWT.27

Mereka beriman kepada thãghût yaitu hukum yang tidak di dasarkan pada syariat Allah SWT. Hukum semacam ini adalah thãghût, karena merupakan tindakan melampaui batas, karena

27Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h 388

82

memberikan kepada manusia salah satu hak prerogative uluhiyyah,yaitu hak hakimiyyah membuat hukum-hukum yang tidak berpedoman pada hukum yang disyariatkan Allah SWT.

Maka hukum dan tindakan semacam itu adalah melampaui batas.

Ia adalah thghut, dan orang-orang yang mengikutinya adalah musyrik dan kafir.Disamping beriman kepada jibt dan thãghût, mereka juga berpihak kepada barisan kaum musyrikin dan kaum kafir untuk menentang kaum mukminin yang juga diberi kitab suci oleh Allah SWT. dan mereka juga mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa mereka mengatakan seperti itu dalam rangka hendak menarik simpati kaum musyrikin agar membantu mereka. Kaum musyrikin pun menyambut ajakan mereka, dan datang bersama-sama mereka pada hari perang ahzab, sehingga Nabi saw dan para sahabat beliau menggali lubang parit di sekeliling madinah. Cukuplah Allah SWT melindungi kaum mu‟minin dari kejahatan mereka.28

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang yahudi telah membangga-bagakan dirinya, dengan mengaku sebagai kekasihAllah SWT, padahal mereka telah percaya kepada sesuatu yang sangat di larang oleh Allah SWT, yakni jibt dan thãghût. Dan mereka mengatakan bahwa agama mereka lebih baik dari pada agama Nabi Muhammad saw, dan mereka lakukan semua itu agar mendapat simpati dari kaum musyrikin.

Dr Wahbah Zuhaili menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ayat di atas menjelaskan tentang bercampur aduknya aqidah

28 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h 389

kaum yahudi. Meskipun mereka beriman kepada Tuhan dan mereka mempunyai kita samawi, namun mereka tetap beriman kepada al-jibt dan thãghût yaitu patung dan berhala.29

c. QS. An-Nisa‟[4]:76











































“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah SWT, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thãghût, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.”

Sayyid Quthb dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Orang- orang yang beriman berperang di jalanAllah SWT adalah orang yang berperang untuk mengaplikasikan manhaj-Nya, memantapkan syariat-Nya, dan menegakkan keadilan”di antara manusia” dengan menyebut nama-Nya, bukan di bawah alamat lain yang manapun, sebagai pengakuan bahwa Allah SWT sendiri Ilah Tuhan yang notabene adalah AL-Haakim yang menetapkan hukum. Sedangkan porang-orang kafir berperang di jalan thãghût, untuk mengaplikasikan manhaj-manhaj lain selain manhaj Allah SWT, memantapkan syariat-syariat selain syariat Allah SWT, menegakkan tata nilai lain selain yang diizinkan Allah SWT, dan memberlakukan norma-norma lain selain norma

29 Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir,h 131

84

Allah SWT. Orang-orang yang beriman bersandar kepada perlindungan penjagaan serta pemeliharaan Allah SWT.30

Sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan thãghût, untuk mengaplikasikan manhaj-manhaj lain selain manhaj Allah SWT. Memantapkan syariat-syariat selain syariat Allah SWT.

Menegakkan tata nilai lain selain yang diizinkan Allah SWT. Dan memberlakukan norma-norma selain norma dari Allah SWT.

Orang-orang yang beriman bersandar kepada perlindungan, penjagaan, serta pemeliharaan Allah SWT, sedang orang-orang kafir bersandar kepada perlindungan syetan dengan bermacam-macam benderanya, manhaj, syariat, jalan, tata nilai dan normanya, yang semua adalah kawan-kawan setan.Allah SWTmemerintahkan orang-orang yang beriman supaya memerangi kawan setan, dan supaya jangan takut terhadap tipu daya setan.31

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa yang di maksud orang-orang beriman berperang di jalanAllah SWT adalah mereka yang berusaha untuk menegakkan hukum syariatAllah SWT, dan orang yang berperang di jalan thãghût adalah mereka yang berusaha untuk menegakkan hukum selain hukum yang Allah SWT , dan menegakkan norma-norma selain norma dariAllah SWT.

Menurut Dr Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya orang-orang yang berperang di jalan Allah SWT adalah orang yang berperang dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah SWT, menegakkan kebenaran, tauhid, keadilan dan berbuat baik kepada

30 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h23

31 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an,h23

Dalam dokumen THAGHUT DALAM AL-QUR’AN (Halaman 83-101)

Dokumen terkait