A. Penyajian dan Analisis Data
3. Penanaman Nilai Akhlak Melalui Pembiasaan
Penanaman nilai Akhlak melalui pembiasaan di beri bimbingan dalam hal bertingkah laku. Hal ini dibuktikan dengan diberikannya materi akhlak / budi pekerti setiap hari sabtu santri juga diberikan wejangan- wejangan oleh pengasuh dan pendidik agar mereka senantiasa
melaksanakan perintah agama Islam. Pembentukan akhlak yang baik sangat penting, karena untuk menjadi pegangan di masa depan anak asuh agar mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang keji dan perbuatan yang melanggar syari'at Islam.
Penanaman akhlak melalui pembiassan agama merupakan usaha yang baik dan tepat, karena agama dapat mengatur manusia ke arah tingkat yang paling mulia di sisi Allah. misalnya:
a) Menghormati Guru
b) Taklim pengajian kitab ahklak misal : kitab Aklaqul banin, Ta’limul mutaallim dan kitab Bidayatul hidayah. sesuai dengan kelas masing- masing.
Dalam Penanaman ini ditanamkan pula cara hidup sederhana, pergaulan dalam bermasyarakat kelak, penanaman rasa tanggung jawab, pembelaan kebenaran, penahanan hawa nafsu dan sebagainya, yang kesemuanya ditujukan untuk pembentukan tingkah laku serta mental yang baik sesuai dengan tuntunan agama Islam. Saling menghormati dan berlaku sopan juga sangat dianjurkan di pesantren ini, dan juga rasa saling menyayangi dan memiliki juga ditanamkan di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul ini agar mereka merasa satu saudara dan tidak ada rasa saling membenci, iri dan dendam sehingga yang ada adalah rasa aman dan damai di antara mereka.
Dalam Penanaman nilai akhlak sangat dibutuhkan pembiasaan sejak mereka masuk sampai mereka keluar dari pesantren ini, selain itu
keteladanan dari seorang pengasuh/pendidik dan anak asuh yang dewasa (sudah lama tinggal) juga sangat dibutuhkan karena sebagai motivasi khususnya bagi anak yang baru masuk untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sudah berjalan di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul ini. Pembinaan akhlak ini tidak lain adalah agar santri menjadi anak yang ber-akhlakul karimah yang selalu mencerminkan Islam. Kemudian dalam penginternalisasian nilai-nilai agama Islam ini, maka sedikit demi sedikit dengan pembiasaan yang dibarengi dengan keteladanan maka nilai-nilai agama Islam dapat meresap kedalam jiwa anak dan membentuk sebuah kepribadian.
Selain pembiasaan akhlak mereka juga dilatih untuk menjadi orang yang bisa mandiri, yaitu dengan mengadakan kegiatan muhadhoroh, menjadi MC, memimpin tahlil, kegiatan diba' dan sebagainya yang dilaksanakan setiap seminggu sekali, yang mana kesemuanya itu adalah bekal kelak mereka hidup di masyarakat.
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul-Ulum, KHM Husni Zuhri, mengatakan bahwa:
“Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan.”
Hal ini menegaskan bahwa kesopanan (akhlak, adab dan sopan santun) merupakan hal yang sangat penting. Maka di Pondok Pesantren Miftahul-Ulum Banyuputih, akhlak santri merupakan hal yang sangat ditekankan, baik dalam ucapan maupun tindakan” (KHM Husni Zuhri wawancara, 11 Mei 2018)
. Penanaman dan pembentukan santri berakhlak mulia diprogramkan dengan berbagai cara, di antaranya:
a. Pembiasaan penggunaan “bhasa alos” atau “bhasa krama inggil”
Mayoritas santri Pondok Pesantren Miftahul-ulum Banyuputih berasal dari etnis Madura dan sebagian lainnya etnis Jawa. Sehingga, bahasa sehari-hari santri adalah bahasa Madura.
Maka pesantren ini sangat menganjurkan setiap santri menggunakan “bhasa alos: enggi bhunten” antar sesama santri terlebih terhadap santri-santri yang lebih senior (asatidz) dan kepada Kiai dan keluarga besarnya.
Menurut Ustadz Saifurrijal, pengajar kitab Hadits Bulughul Maram di Pondok Pesantren Miftahul-Ulum,
“Bhasa Alos merupakan simbol kesopanan seseorang yang gampang dinilai. Terlebih, para santri diharapkan ketika telah kembali ke kampungnya masing-masing menjadi sorotan dan teladan masyarakat. Hal ini selaras dengan titah Kanjeng Nabi yang sangat menganjurkan untuk selalu berkata benar, baik dan sopan.” (Ustadz Saifurrijal, Wawancara, 15 Mei 2018)
Bahkan menurut, Ustadz Zainuddin, M.Pd.I, Kepala Pengurus PP Miftahul-Ulum Banyuputih Kidul mengatakan bahwa:
“Ustadz dan santri senior dianjurkan juga untuk menggunakan “bhasa alos” kepada santri-santri juniornya agar tetap terbiasa dan dapat ditiru oleh junior-juniornya itu.” (Ustadz Zainuddin, M.Pd.I wawancara 15 Mei 2018).
b. Pembiasaan memakai pakaian yang layak dan sopan
Pakaian juga merupakan symbol kesopanan. Maka setiap santri dibiasakan memakai pakaian yang layak dan sopan sesuai situasi dan kondisi. Terlebih di saat santri melaksanakan shalat.
Semuanya dianjurkan memakai pakaian putih polos berupa baju taqwa atau jubah. Saat shalat dilarang memakai kaos. Di samping itu, santri dianjurkan agar terbiasa menggunakan penutup kepala (peci, kopyah, topi dll) saat di luar kamar.
Hal ini karena Kata Ustadz Abd. Rohim E yang merupakan salah satu staf pangajar PP Miftahul-Ulum.
“Menghormati budaya lokal Madura yang masih menganggap orang yang tak berpenutup kepala sebagai tidak sopan. Juga sejalan dengan petuah ulama salaf yang mengangap orang yang Kasyfu alrra’s (tak bertutup kepala) mengurangi muru’ah.” (Ustadz Abd. Rohim E. wawancara 02 Juni 2018).
Anjuran untuk selalu memakai songkok (peci, kopiah) itu dibenarkan oleh Ahmad, salah seorang santri yang menuturkan Bahwa santri yang keluar kamar tanpa memakai songkok akan dipanggil ke kantor pondok oleh ustadz untuk mendapat peringatan. (Wawancara, Ahmad, Santri 02 Juni 2018)
c. Penanaman nilai-nilai akhlaq melalui pengajaran di dalam kelas.
Mata pelajara Akhlak diajarkan di setiap tingkatan satuan pendidikan yang ada di linkungan Pondok Pesantren. Nilai akhlak
standar kelnaikan kelas. Betapapun tingginya jumlah nilai pelajaran yang lain, jika nilai akhlaknya jelek bisa berakibat tidak naik kelas.
Kitab-kitab standar yang dipakai dalam pembelajaran akhlak tergambar pada tabel berikut.
Tabel 4.6.
Daftar Kitab Mata Pelajaran Akhlak N
o. Tingkat Kls Kitab Akhlak Yang Ditetapkan
1 Sifir Durusul-Akhlaq
2 Ibtida’i
1 Akhluqul-Banin 1 2 Akhluqul-Banin 3 Akhluqul-Banin
4 Washayal-Aba’ Lil-Abna’
5 Qomi’ut Thughyan 6 Ta’limul-Muta’allim 3 Tsanawi
1 Adabul-‘Alim Wal-Muta’allim 2 Idhatun-Nasyi’in 1
3 Idhatun-Nasyi’in 2
Sumber: buku Profil PP.MIFTAHUL ULUM BAKID
Disamping Kitab-kitab Akhlak yang diajarkan di dalam kelas (klasikal), juga ada banyak Kitab-kitab Akhlaq/Tashawwuf sebagai Materi Pengajian Umum. Kitab-kitab itu dibacakan oleh Santri-santri Senior atau langsung oleh Pengasuh baik secara sorogan atau bandongan. Kitab-kitab itu antara lain:
1) Bidayatul-Hidayah, Abu Hamid Al-Ghazaly 2) Syarh Al-Hikam, Ibnu Atha’illah As-Sakandariy
3) Ihya’ Ulumuddin, Abu Hamid Al-Ghazaly B. Diskusi dan Intepretasi.