• Tidak ada hasil yang ditemukan

penanaman nilai-nilai pendidikan islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "penanaman nilai-nilai pendidikan islam"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada:

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember

Untuk Diujikan Dalam Rangka Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

`

Oleh:

MOCH. SUKRI NIM: 084 148016

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

“Jagalah oleh kalian shalat-shalat (mu) Dan peliharalah shalat wustha dan berdirilah karena allah (dalam Shalat mu) dengan khusyu’.”

(QS. Al-Baqarah [1]: 238) (Kemenag RI, 2008:123)

(6)

Kepada ayahku dan mamaku tercinta yang telah menanamkan arti cinta, kesabaran, dan kegigihan dalam mencari kebenaran serta yang telah mencurahkan kasih dan pengorbanannya kepadaku.

Kepada bapak pembimbing skripsiku,yang selalu memberi motivasi tiada henti, serta teman-teman dan sahabat-sahabatku senasib dan seperjuangan, khususnya Mahasiswa IAIN Jember, yang selalu melontarkan kritikan tajam pada setiap ungkapan-ungkapan yang termaktub dalam karyaku ini, sehingga dengan kritikan tersebut aku selalu berusaha mencari jawaban yang obyektif dan logis, Semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi pendidikan, bernilai ibadah, dan berbuah ridha dari-Nya, amin.

(7)

Segala puji hanya milik Allah Swt, shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw yang telah membimbing ummat manusia melalui lembaga pendidikan terbaik Islam. Alhamdulillah karya yang berjudul “Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam Melalui Pembiasaan di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten Lumajang Tahun Pelajaran 2017/2018.ini telah tersusun. Semoga kehadirannya dapat memberi manfaat bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.

Lahirnya karya sederhana ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak.

sekecil apa pun andil mereka, tentu hal itu telah melengkapi hitungan lahirnya skripsi ini. Ucapan terimaksih yang sedalam-sedalamnya penulis haturkan kepada:

1. Dr. H. Abdullah, S.Ag., M.HI, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember. Yang telah memberikan izin kepada kami untuk melakukan penelitian ini

2. Dr. H. Mundir, M.Pd. selaku Ketua Jurusan.

3. H. Mursalim, M.Ag. sebagai ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam 4. Nuruddin. M.Pd.I selaku Pembimbing Skripsi, yang telah memberikan waktu

dan kesabarannya dalam membimbing menyelesaikan skripsi ini.

5. Segenap dosen yang telah mengajarkan ilmu kepada kami hingga kami dapat menyelesaikan studi di IAIN Jember.

(8)

kesempurnaan hanya milik Allah. Oleh karena itu, penulis selalu membuka diri untuk menerima saran dan kritikan dari semua pihak demi perbaikan skripsi ini.

Jember, Januari 2018 Penulis

(9)

Pendidikan dapat menjadi tolak ukur bagi kemajuan dan kualitas kehidupan suatu bangsa, sehingga dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa atau Negara dapat dicapai melalui pembaharuan serta penataan pendidikan yang baik.

Keberadaan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang cerdas, pandai, berilmu pengetahuan yang luas, berjiwa demokratis serta berakhlaqul karimah di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang yang menjadi lokasi penelitian ini.

Fokus penelitian ini mengkaji bagaimana penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada santri melalui pembiasaan di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang, yang meliputi tiga pembahasan, yaitu: (1) bagaimana penerapan penanaman nilai - nilai Akidah pada santri melalui pembiasaan (2) bagaimana penerapan penanaman nilai - nilai syari’ah pada santri melalui pembiasaan.(3) bagaimana penerapan penanaman nilai-nilai akhlak pada santri melalui pembiasaan. Sedangkan tujuannya yaitu untuk mendeskripsikan penanaman nilai - nilai pendidikan Islam pada santri melalui pembiasaan di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang. Penentuan informan menggunakan: teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan: wawancara, dokumentasi, dan observasi. Adapun analisis data menggunakan: data reduction, data display, dan verification. Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber.

Adapun hasil penelitian ini yaitu: (1) Penanaman nilai nilai Akidah di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Melalui Pembiasaan sudah berjalan.

ini antara lain: berupa Iman kepada Allah, Malaikat, Rosul, Kitab, Hari ahir dan Qodo’ dan qodar (2) Penanaman nilai-nilai syari’ah di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Melalui Pembiasaan sudah berjalan. Seperti ; Syahadat, pembiasaan Sholat berjama’ah, puasa, zakat dan haji. (3) Penanaman nilai-nilai Ahklak di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Melalui Pembiasaan melakukan akhlak mahmudah dan menjauhkan akhlak madzmumah.

(10)

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR GAMBAR………... x

DAFTAR LAMPIRAN……… xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Istilah ... 7

F. Sistematika Pembahasan ... 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 12

A. Penelitian Terdahulu ... 12

B. Kerangka Teori... 14

1. Penanaman Nilai- Nilai Pendidikan Islam ... 11

2. Metode Pembiasaan ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 29

2. Lokasi Penelitian ... 32

3. Subyek Penelitian ... 32

4. Teknik Pengumpulan Data ... 33

5. Analisis Data ... 37

(11)

2. Penyajian dan Analisis Data ... 56

a. Penerapan penanaman nilai nilai akidah ... 56

b. Penerapan penanaman nilai nilai syari’ah ... 60

c. Penerapan penanaman nilai nilai ahklak... ....62

3. Diskusi dan Intepretasi ... 68

BAB V PENUTUP ... 71

A. Kesimpulan ... 71

B. Saran-saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ...74 LAMPIRAN-LAMPIRAN

BIODATA PENULIS

(12)

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dapat menjadi tolak ukur bagi kemajuan dan kualitas kehidupan suatu bangsa, sehingga dapat dikatakan bahwa kemajuan suatu bangsa atau Negara dapat dicapai melalui pembaharuan serta penataan pendidikan yang baik. Keberadaan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang cerdas, pandai, berilmu pengetahuan yang luas, berjiwa demokratis serta berakhlaqul karimah.

Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 adalah sebagai berikut:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengemban potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” (UU No. 20 Tahun 2003: 72).

Azra (2012:44) mengingatkan bahwa globalisasi yang terjadi pada saat ini adalah bersumber dari barat, dan terus memegang supremasi dan hegemoni dalam berbagai lapangan kehidupan masyarakat dunia umumnya.

Globalisasi yang bersumber dari barat ini, tampil dengan watak ekonomi- politik, dan sain-teknologi. Hegemoni dalam bidang-bidang ini bukan hanya menghasilkan globalisasi ekonomi dan sain-teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang lain seperti intelektual, sosial, nilai-nilai, gaya hidup, dan seterusnya.

(13)

Paparan di atas adalah sebagian dari bentuk-bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat tidak terkecuali anak-anak dan santri.

Banyak sekali aspek yang menyebabkan mereka melakukan perilaku yang menyimpang. Salah satunya adalah kurangnya pendidikan yang diperoleh yang dapat menuntun pada jalan yang lebih benar. Padahal dengan pendidikan, diharapkan mereka dapat memfilter peradaban dan budaya yang masuk ke negara Indonesia.

Namun pada kenyataannnya masih banyak warga negara Indonesia yang tidak medapatkan pendidikan yang layak terutama para generasi muda.

Hal ini disebabkan karena warga Indonesia banyak yang tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk bersekolah. Pendidikan masih dirasakan sebagai hal yang mewah karena bagi sebagian besar kalangan, pendidikan masih menyita biaya yang luar biasa besarnya hingga sulit dipenuhi, terutama oleh kalangan menengah kebawah dengan keuangan terbatas. Hal ini dirasakan sangat 'menyiksa' para orang tua untuk menyekolahkan anak- anaknya setinggi mungkin. Padahal, menggapai cita-cita setinggi ‘langit’

menjadi keinginan semua orang, tak terkecuali keluarga kurang mampu.

Karenanya, kehadiran sebuah bantuan baik itu berupa beasiswa maupun bantuan materi lainnya bisa menjadi obat penawar bagi para orang tua kurang mampu, untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Mike Rini, 2010.).

Sedangkan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 berbunyi:

(14)

“(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu; (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus; (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus; (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus; (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.”

Dalam hal ini, anak-anak yatim dan terlantar dihadapkan pada masalah pendidikan yang sangat rendah. Mereka membutuhkan pendidikan dalam proses menuju kedewasaannya. Karena pada masa ini adalah masa berkembangnya potensi-potensi yang dimilikinya dan itu semua ditentukan oleh pendidikan yang diperolehnya. Dengan pendidikan mereka diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk bisa mandiri, memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan tanggung jawab terhadap bangsa dan agama, serta mampu menjadi muslim yang baik. Untuk itu mereka juga perlu dibekali pendidikan agama, karena pendidikan agama mengajarkan dan membina manusia agar berbudi pekerti yang luhur seperti kebenaran, keikhlasan, kejujuran, keadilan, kasih sayang supaya terjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia atau masyarakat, dan dapat menuntun mereka menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Hasan Langgulung, 2010: 178).

Demi masa depan anak santri, maka diperlukan pembinaan secara utuh, baik pembinaan secara jasmani maupun rohani, dan pesantren adalah tempat yang paling tepat bagi perkembangan potensi anak santri tersebut.

Karena pada dasarnya kepribadian anak bukan terjadi secara sertamerta akan tetapi melalui proses kehidupan yang panjang. Oleh karena itu banyak faktor

(15)

yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian anak tersebut.

Dengan demikian apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan hidup anak tersebut.

Dalam hal ini, maka perlu ditanamkan sebuah nilai-nilai agama khususnya agama Islam agar anak yang ada di pesantren dapat memiliki jiwa yang kuat serta dapat menjalankan apa yang telah disyari’atkan oleh agama.

Mereka dapat menghayati, menguasai secara mendalam tentang nilai-nilai agama Islam baik melalui pembinaan, bimbingan dan sebagainya (yang identik dengan internalisasi) agar nilai-nilai agama tersebut tidak hanya menjadi wacana semata namun akan dapat merasuk ke dalam jiwa mereka sehingga menjadi sebuah kepribadian yang Islami.

Pesantren Miftahul Ulum merupakan salah satu lembaga atau naungan yang sangat memperhatikan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam dalam setiap rutinitas kesehariannya. Misalnya, setiap setelah melaksanakan shalat jamaah para santri dibiasakan membaca surat Yasin dan surat Waqi’ah, serta para santri dibiasakan untuk membaca doa setiap melakukan apa pun.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui pembiasaan bagi anak-anak, baik pelaksanaannya maupun faktor yang mendukung dan menghambat serta bagaimana upaya yang dilakukan oleh Pesantren miftahul ulum dalam mengatasi kendala penanaman nilai-nilai pendidikan Islam, maka peneliti ingin mengkaji dan mengadakan penelitian tentang: “Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam

(16)

Melalui Pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten Lumajang Tahun Pelajaran 2017/2018?

B. Fokus Penelitian

1. Bagaimana penanaman nilai – nilai Akidah melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018?

2. Bagaimana penanaman nilai – nilai Syari’ah melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018?

3. Bagaimana penanaman nilai – nilai Akhlak melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018?

(17)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mendeskripsikan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan penanaman nilai-nilai Akidah melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018

b. Mendeskripsikan nilai-nilai Syari’ah melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018

c. Mendeskripsikan penanaman nilai-nilai Akhlak melalui pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul Kecamatan Jatiroto Kabupaten lumajang Tahun Pelajaran 2017/ 2018.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis, kajian ini menjadi tolok ukur seberapa dalam pengetahuan dan wawasan terkait dengan konsep-konsep yang terdapat dalam skripsi ini, serta sebagai sarana latihan dalam pengembangan keilmuan dalam keterampilan penyusunan karya ilmiah.

2. Bagi IAIN Jember, kajian ini diharapkan agar dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan keilmuan khususnya pada Jurusan Tarbiyah, khususnya Program Studi Pendidikan Agama Islam.

(18)

3. Bagi Pesantren miftahul ulum Lumajang, diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan dapat memberikan solusi untuk penunjang keberhasilan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui pembiasaan.

4. Bagi para pembaca dan penulis lain, kajian ini dapat memberikan informasi atau wawasan terkait dengan judul skripsi ini, serta sebagai pijakan dalam kajian atau kajian berikutnya.

E. Definisi Istilah

1. Penanaman Nilai – nilai Pendidikan Islam

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, penanaman yakni proses, cara, perbuatan, menanami, atau menanamkan (Poerwadarminta, 2007:1134). Istilah ini dipergunakan dalam upaya menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai Islam pada anak usia prasekolah melalui:

pembiasaan, latihan-latihan, keteladanan dan lain sebagainya.

Nilai diartikan sebagai “harga atau ukuran” (Poerwadarminta, 2007:783), yang berupa aturan-aturan di dalam ajaran Islam yang dipatuhi, seperti: cara berpakaian, cara mendidik anak, cara bertingkah laku, cara berteman, serta cara beribadah.

Konsep dasar pendidikan Islam adalah konsep atau gambaran umum tentang pendidikan, sebagaimana dapat difahami atau bersumber pada ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan penjelas tentang berbagai hal yang berhubungan dengan permasalahan hidup dan perikehidupan uamt manusia di dunia ini, sedangkan As-Sunah berfungsi untuk memberikan penjelasan secara

(19)

operasional dan terperinci tentang berbagai permasalahan yang ada dalam Al-Qur’an tersebut.

2. Pembiasaan

Pembiasaan adalah salah satu metode yang sangat penting dalam penginternalisasian nilai-nilai agama Islam, terutama bagi anak-anak.

Mereka belum menginsafi apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila. Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti pada orang dewasa. Ingatan mereka belum kuat. Mereka lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Disamping itu, perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru dan disukainya. Apalagi pada anak-anak yang baru lahir, semua itu belum ada sama sekali atau setidaknya, belum sempurna sama sekali. Dalam kondisi ini mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, dan pola pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan, dan tidur secara teratur; serta bermain-main, berbicara, belajar, bekerja, dan sebagainya (Noer Aly, 1999: 185).

Seseorang yang mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati. Bahkan, segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk diubah dan tetap berlangsung sampai hari tua. Untuk mengubahnya sering kali diperlukan terapi dan pengendalian diri yang serius. Ambillah contoh orang yang mempunyai kebiasaan merokok, ia sadar bahwa kebiasaannya itu buruk, tetapi usaha untuk menghentikannya dengan kompensasi

(20)

menghisap gula-gula dan sebagainya sering kali mengalami kegagalan. Ia baru bisa menghentikannya di bulan Ramadhan. Itupun hanya di siang hari ketika ia berpuasa, di malam hari ia kembali pada kebiasaannya. Atas dasar ini, para ahli pendidikan senantiasa mengingatkan agar anak-anak segera dibiasakan dengan sesuatu yang diharapkan, sebelum terlanjur mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengannya. Contoh lain, menurut kajian psikologi kalau seorang anak dibiasakan mencaci maka ia akan belajar mencaci.

3. Santri

Santri adalah istilah lain dari murid atau siswa yang mencari ilmu pada lembaga pendidikan formal, bedanya santri ini mencari ilmu pada pondok pesantren. (Adapun Asal muasal kata santri dapat dilihat pada halaman sebelumnya). Dalam dunia pesantren istilah santri terbagi menjadi dua kategori. Pertama, santri mukim, yaitu santri yang berasal dari luar daerah pesantren yang hendak bermukim dalam mencari ilmu. Ketika hendak berniat untuk bermukim, santri tidak perli disibukan dengan membawa perlengkapan tidur seperti layaknya dirumah. Karena dalam lingkungan pesantren sudah ditanamkan kesederhanaan dan tanggungjawab. Santri mukim yang paling lama tinggal (santri senior) di pesantren terebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang tanggungjawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Santri senior juga bertanggungjawab mengajar santri – santri yunior tentang kitab - kitab

(21)

dasar dan menengah. Kedua, santri kalong, yaitu para santri yang berasal dari desa – desa di sekitar pesantren.mereka bolak-balik (ngelajo) dari rumahnya sendiri. Para santri kalong berangkat ke pesantren ketika ada tugas belajar dan aktivitas lainnya. Apabila pesantren memiliki lebih banyak santri mukim daripada santri kalong, maka pesantren tersebut adalah pesantren besar. Dan sebaliknya, pesantren kecil memliki lebih banyak santri kalong dari pada santri mukim.

F. Sistematika Pembahasan

Bab satu akan menjelaskan mengenai latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan. Fungsi dari Bab satu ini adalah untuk memperoleh gambaran umum dari skripsi ini.

Bab dua akan menjelaskan mengenai penelitian terdahulu dan kajian teori yang meliputi: konsep tentang nilai-nilai pendidikan Islam dan konsep tentang metode pembiasaan. Fungsi dari Bab dua ini adalah untuk mengetahui hasil-hasil dari penelitian yang pernah ada dalam bidang yang sama, serta membicarakan teori yang terkait dengan topik penelitian ini.

Bab tiga akan menjelaskan mengenai metode penelitian, meliputi:

pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisa data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

Fungsi Bab tiga ini adalah untuk acuan atau pedoman dalam penelitian ini.

Bab empat akan menjelaskan mengenai gambaran obyek penelitian,

(22)

adalah pemaparan data yang diperoleh dilapangan dan juga untuk menarik kesimpulan dalam rangka menjawab masalah yang telah dirumuskan.

Bab lima akan memaparkan mengenai kesimpulan dan saran-saran.

Fungsi dari bab lima ini adalah sebagai rangkuman dari semua pembahasan yang telah diuraikan pada Bab sebelumnya, sekaligus penyampaian saran- saran bagi pihak yang terkait.

(23)

A. Penelitian Terdahulu.

Penelitian yang mengangkat tema mengenai masalah penanaman nilai- nilai Pendidikan Islam melalui pembiasaan bukanlah tema baru dalam dunia penelitian. Paling tidak ada penelitian terdahulu yang pernah mengangkat tema ini. Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu yang dapat peneliti lacak, antara lain:

1. siswa di SDN Kalitapen 03 dapat dilaksanakan dengan praktek shalat jamaah, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, dengan harapan agar menghasilkan akhlak mulia; (c) Aplikasi pembelajaran akhlak dalam membina akhlak karimah siswa di SDN Kalitapen 03 diwujudkan dengan mengendalikan nafsu, menghindari sifat dusta, baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri, serta memiliki sifat amanah dan toleransi sudah cukup baik karena sudah membentuk akhlakul karimah siswa, baik kepada Allah Swt., kepada sesama manusia, dan kepada lingkungannya.

2. Skripsi yang ditulis oleh Ismail dengan judul: “Urgensi Pendidikan Agama Terhadap Remaja Pada Masyarakat Nelayan di Desa Padelegan Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan.” Hasil penelitiannya yaitu:

Pendidikan agama memiliki posisi penting bagi terwujudnya sebuah generasi yang agamis, sehingga nantinya akan dicapai sebuah kehidupan yang harmonis baik secara fisik maupun psikis. Oleh karena itu orang tua maupun masyarakat hendaknya selalu memberikan bimbingan keagamaan

(24)

kepada para remaja di masyarakat nelayan, supaya pada waktu yang akan datang keagamaan remaja benar-benar berjalan secara optimal.

3. Skripsi yang di tulis oleh Farid Zainul Musthofa, 2010 dengan judul:

“Peran pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Akhlakul Karimah Siswa PAI Akhlak di SMPN 23 Malang Tahun pelajaran 2010/2011.”

Dengan hasil penelitian menunjukkan: bahwa pendidikan agama Islam berpengaruh dalam pembentukan moralitas peserta didik. Pendidikan yang efektif dilakukan adalah pembentukan lingkungan yang agamis sehingga dapat berpengaruh langsung dengan aktifitas mereka. Sedangkan lingkungan yang kurang mendukung dalam pembentukan moral mereka adalah adat istiadat pergaulan serta kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan kedalaman spiritual.

4. Skripsi yang di tulis oleh M. Haliq fathoni, 2011 dengan judul: “Upaya Guru pendidikan Agama Islam Dalam Pembentukan Akhlakul Karimah Peserta Didik di MTs Miftahul Ulum Suren Jember Tahun Pelajaran 2011/2012”. Berdasarkan hasil penelitian ini, bahwa pendidikan agama Islam sangat menentukan hasil dalam pembentukan akhlakul karimah peserta didik dan mengenai pendidik dalam memberikan pendidikan, dan juga pengaruh kemajuan teknologi yang secara tidak langsung memberikan dampak pada akhlak peserta didik atau prilaku seseorang.

Dari beberapa penelitian terdahulu tentang tema penelitian ini sudah banyak sekali, fokus utama masalah yang diteliti adalah urgensi pendidikan

(25)

agama Islam dan kaitannya dengan akhlakul karimah siswa. Hal yang berbeda antara penelitian terdahulu dengan penilitian ini adalah:

a. Terkait dengan setting atau lokasi penelitian, tema penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di lokasi yang sama.

b. Terkait dengan fokus penelitian, dari penelitian tersebut belum ada yang secara spesifik memfokuskan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui pembiasaan.

Terkait dengan metode penelitian, bahwa ada beberapa penelitian di atas menggunakan metode kuantitatif, sedangkan penelitian ini menggunakan metode kualitatif.

B. Kerangka teori

1. Penanaman Nilai nilai Pendidikan Islam

Untuk dapat melaksanakan pendidikan Islam dengan hasil yang baik, maka dibutuhkan seorang pendidik yang mengetahui dasar-dasar dari pendidikan agama tersebut. Dasar-dasar pendidikan Islam adalah aqidah, syari’ah, akhlak, dan berbagai aspek ajaran-ajaran Islam (Daud Ali, 2000:

35). Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu dasar-dasar dari pendidikan islam tersebut:

a. Aqidah

Aqidah secara etimologis berakar dari kata ‘aqada-ya’qidu-‘aqdan-

‘aqidatan. ‘aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi ‘aqidah berarti keyakinan. Sedangkan secara

(26)

terminologis adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fithrah (H. Yunahar Ilyas, 1995: 2).

Dari pendapat di atas menjelaskan bahwa pendidikan aqidah merupakan suatu proses untuk mewujudkan kepercayaan. Aqidah dapat melahirkan bentuk keimanan yang mengikat pada segala aktivitas manusia dalam keislaman.

Agama Islam menghendaki manusia tidak setengah hati dalam menentukan pilihan apakah seseorang itu akan masuk Islam atau tidak.

Aqidah adalah suatu ikatan yang terjadi pada diri manusia dengan sang pencipta, tidak ada pilihan diantara keduanya sehingga orang-orang yang tidak mempercayai adanya Allah berarti seseorang tersebut mengingkari eksistensi Tuhan dan aqidah yang ada pada dirinya juga akan hilang. Ketika kepercayaan terhadap Allah telah diikrarkan maka seluruh jiwa raga orang terbuat berada dalam keadaan beriman dan percaya kepada Allah.

Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran (bertuhan), indera untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman yang dapat menentukan mana yang benar dan mana yang tidak (H.Yunahar Ilyas, 1995: 2).

Menurut Ash-Shiddieqy (1998: 290-293) pembahasan mengenai aqidah pada umumnya berkisar pada rukun iman yang enam, yaitu:

1) Iman kepada Allah

Iman kepada Allah ialah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah; membenarkan dengan yakin akan keesaannya, baik

(27)

dalam perbuatannya menciptakan alam, makhluk seluruhnya maupun dalam menerima ibadah segenap makhluk-Nya; dan membenarkan dengan yakin bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangannya dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk).

2) Iman Kepada Malaikat

Pengertian malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah dari cahaya dengan wujud dan sifat-sifat tertentu.

Sebagai makhluk ghaib, malaikat tidak mempunyai nafsu. Oleh karenanya malaikat tidak makan, minum, tidak tidur. Malaikat selalu tunduk dan patuh terhadap semua perintah Allah, tidak pernah melawan atau menyimpang dari yang diperintahkan Allah kepada mereka.Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempuyai makhluk yang dinamai malaikat yang tidak pernah durhaka kepada Allah yang senantiasa melaksankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, dan secermat-cermatnya.

3) Iman Kepada Kita-kitab Allah

Allah memberikan kepada Nabi dan Rasul pedoman ajaran, ada yang berbentuk lembaran-lembaran dan ada yang disebut kitab.

Jadi iman kepada kita-kitab Allah, berarti kita wajib percaya atau beriman, bahwa Allah telah menurunkan firman-Nya yang telah diwahyukan kepada Rasul-Nya untuk menjadi pedoman manusia

(28)

dalam kehidupanya guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tiap-tiap umat di manapun ia berada, kepada umat itu diturunkan wahyu. Karena itu orang Islam harus percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, yaitu: Taurat, Injil dan Zabur.

4) Iman Kepada Para Rasul

Iman kepada para Rasul adalah mempercayai bahwa Allah telah memilih diantara manusia beberapa orang utusannya yang berlaku sebagai perantara antara Allah dengan hamba-hambanya.

Mereka bertugas menyampaikan kepada hamba Allah segala yang diterima dari Allah dengan jalan wahyu dan menunjukkan manusia dala menempuh jalan keselamatan dunia akhirat.

Para nabi dan Rasul itu suci dari segala macam keburukan, terpelihara dari perbuatan-perbuatan tercela dan ma’siat baik yang kecil maupun yang besar. Mereka diberi hiasan oleh Allah dengan akhlak yang luhur dan budi pekerti yang mulia. Walaupun demikian para Nabi dan Rasul adalah manusia biasa, mempunyai kebiasaan yang sama dengan kita, seperti makan, minum, dan sebagainya.

5) Iman Kepada Hari Akhir (Qiamat)

Hari akhir adalah hari pembalasan yang pada hari itu Allah menghitung (hisab) amal perbuatan setiap orang yang sudah dibebani tanggung jawab (taklif) dan memberikan putusan ganjaran sesuai dengan hasil hitungan itu.

(29)

Hari akhir adalah suatu hari atau zaman setelah alam dunia ini mengalami kehancuran. Hari akhir merupakan masa kehidupan kedua bagi manusia, masa pembalasan terhadap perbuatan manusia yang ada hubungannya dengan apa yang telah dikerjakan di dunia.

6) Iman Kepada Qadla’ dan Qadar

Iman kepada Qadla’ dan Qadar yaitu mempercayai benar- benar bahwa tiap-tiap yang terjadi di alam ini adalah dengan takdir, menurut takdir yang telah ditentukan oleh Allah. Beriman dengan qadla’ artinya kita beri’tikad bahwasanya segala perkerjaan yang dilakukan baik sebagai usaha atas kemauan sendiri atau suatu peristiwa, kejadian tidak atas kemauannya semua itu akan terjadi dengan ridla Allah. Sedangkan beriman dengan qadar yaitu kita beri’tikad bahwa segala perbuatan, perkataan, tingkah laku kita baik berupa kebaikan ataupun berupa keburukan itu terjadi dengan gerak dan kehendak dari Allah, atau disebut juga dengan takdir Allah.

Sekalipun Allah telah menetapkan adanya qadla’ dan qadar, manusia juga diberi kebebasan untuk menentukan tindakannya sendiri, maka teranglah bahwa manusia itu mempunyai kemerdekaan berkehendak dan mempuyai hak untuk memilih dalam segala perbuatannya dan tindakannya, dan inilah yang disebut dengan ikhtiar atau usah. Sehingga segala sesuatu yang dilakukannya adalah karena pilihannya sendiri. Di akhirat nanti ia harus mempertanggung jawabkan di hadapan Allah.

(30)

Hal Tersebut sesuai hadits Umar Bin al-Khattab beliau berkata, ‘Dahulu kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu

‘alaihi wasallam, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas- bekas perjalanan. Tidak seorang pun dari kami mengenalnya, hingga dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, (Sunan Abu Dawud Juz 4 Hal 223)

َﺷَو ِﻩِْﲑَﺧ ِرَﺪَﻘْﻟﺎِﺑ َﻦِﻣْﺆُـﺗَو ِﺮِﺧ ْﻵا ِمْﻮَـﻴْﻟاَو ِﻪِﻠُﺳُرَو ِﻪِﺒُﺘُﻛَو ِﻪِﺘَﻜِﺋ َﻼَﻣَو ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ َﻦِﻣْﺆُـﺗ ْنَأ َلﺎَﻗ َﺖْﻗَﺪَﺻ َلﺎَﻗ ِﻩﱢﺮ

Artinya: Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang iman. ‘ Beliau menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat- Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” Dia berkata, ‘Kamu benar

b. Syari’ah

Makna asal dari kata syari’ah adalah jalan ke sumber mata air.

Perkataan syari’ah dalam bahasa arab berasal dari kata syari’, secara harfiah adalah jalan yang harus dilalui oleh semua muslim. Dilihat dari segi ilmu hukum, syari’ah adalah norma hukum dasar yang diwahyukan Allah, yang wajib diikuti oleh semua orang Islam, baik dalam berhubungan dengan Allah maupun dalam berhubungan dengan sesama manusia dan benda dalam masyarakat (Daud Ali, 2000: 235).

Pembahasan mengenai syari’ah pada umumnya berkisar pada islam (rukun islam yang lima) yaitu:

1) Syahadat

(31)

Syahadat adalah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Allah dan Nabi Muhammad sebagai rasulnya dan merupakan dasar bagi rukun Islam lainnya. Syahadat merupakan ruh, inti dan landasan seluruh ajaran islam.

2) Shalat

Shalat berarti doa. Shalat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Arti pentingnya shalat dapat dinilai dari kenyataan bahwa merupakan kewajiban pertama.

3) Puasa

Arti puasa menurut bahasa adalah menahan. Menurut istilah puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari/fajar/subuh hingga matahari terbenam/ maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.

Puasa memiliki fungsi dan manfaat untuk membuat kita menjadi tahan terhadap hawa nafsu, sabar, disiplin, jujur, peduli dengan fakir miskin, selalu bersyukur kepada Allah dan juga untuk membuat tubuh menjadi lebih sehat.

(32)

4) Zakat

Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir miskin dan sebagainya) menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syarak. Zakat merupakan rukun ketiga dari Rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat- syarat tertentu. Zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia dimana pun.

5) Haji

Haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Haji merupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, puasa dan zakat. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

Hal Tersebut sesuai Hadits Umar Bin al_khattab Riwayat Abu Dawud:

(33)

َأ ُم َﻼْﺳِ ْﻹا َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻘَﻓ ِم َﻼْﺳِ ْﻹا ْﻦَﻋ ﻲِﻧْﺮِﺒْﺧَأ ُﺪﱠﻤَﺤُﻣ ﺎَﯾ َلﺎَﻗَو ْن َو ُ ﱠﷲ ﱠﻻِإ َﮫَﻟِإ َﻻ ْنَأ َﺪَﮭْﺸَﺗ َﻲِﺗْﺆُﺗَو َة َﻼﱠﺼﻟا َﻢﯿِﻘُﺗَو َﻢﱠﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠﷲ ﻰﱠﻠَﺻ ِ ﱠﷲ ُلﻮُﺳَر اًﺪﱠﻤَﺤُﻣ ﱠنَأ

ُﮫَﻟ ﺎَﻨْﺒِﺠَﻌَﻓ َلﺎَﻗ َﺖْﻗَﺪَﺻ َلﺎَﻗ ًﻼﯿِﺒَﺳ ِﮫْﯿَﻟِإ َﺖْﻌَﻄَﺘْﺳا ْنِإ َﺖْﯿَﺒْﻟا ﱠﺞُﺤَﺗَو َنﺎَﻀَﻣَر َمﻮُﺼَﺗَو َةﺎَﻛﱠﺰﻟا ُﮫُﻗﱢﺪَﺼُﯾَو ُﮫُﻟَﺄْﺴَﯾ Artinya: kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam. ‘ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta pergi haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.’ Dia berkata,

‘Kamu benar.’ Umar berkata, ‘Maka kami kaget terhadapnya karena dia menanyakannya dan membenarkannya.’(sunan Abu Dawud Juz 4 Hal 223)

c. Akhlak

Perkataan akhlak dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab akhlaq atau al-khulq, yang secara etimologis bararti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak bisa juga diartikan dengan sikap yang melahirkan perbuatan (perilaku, tingkah laku) yang mungkin bisa baik dan mungkin bisa buruk (Daul Ali, 2000: 235).

Adapun pembagian akhlak berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua bagian yaitu:

a) Akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak al-karimah (akhlak yang mulia).

Akhlak al-karimah ialah ridla kepada Allah, cinta dan beriman kepada-Nya, beriman kepada malaikat, kitab Allah, Rasul Allah, hari kiamat, takdir Allah, taat beribadah, selalu menepati janji, melaksanakn amanah, berlaku sopan dalam ucapan dan perbuatan, qana’ah (rela terhadap pemberian Allah), tawakkal

(34)

(berserah diri), sabar, syukur, tawadhu’ (merendahkan diri) dan segala perbuatan yang baik menurut pandangan atau ukuran Islam.

b) Akhlak madzmumah (akhlak tercela) atau akhlak sayyi’ah (akhlak yang jelek).

Adapun perbuatan yang termasuk akhlak al-madzmumah ialah, kufur, syirik, murtad, fasiq, riya’, takabur, mengadu domba, dengki/iri, kikir, dendam, khianat, memutus silaturrahmi, putus asa dan segala perbuatan tercela menurut pandangan Islam.

Hal tersebut berdasarkan sebuah Hadits yang menjelaskan tentang urjennya Akhlaq bagi manusia sebagai hubungannya dengan sang khaliq dan juga sesama makhluk:

قﻼﺧﻷا مرﺎﻜﻣ ﻢﻤﺗﻷ ﺖﺜﻌﺑ ﺎﻤﻧإ Artinya: Saya diutus hanya untuk menyempurnakan keagungan Akhlaq (Albayhaqi juz 10 Hal 323)

2. Metode Pembiasaan a. Pengertian Pembiasaan

Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah ‘biasa’. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, ‘biasa’ adalah: lazim atau umum, seperti sedia kala, sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. (Poerwodarminta, 2007: 129). Dengan adanya prefiks ‘pe’ dan sufiks ‘an’ menunjukkan arti proses. Sehingga pembiasan dapat diartikan

(35)

dengan proses pembuatan sesuatu atau seseorang menjadi terbiasa (Armai Arief, 2002: 110).

Pembiasaan adalah salah satu metode yang sangat penting dalam penginternalisasian nilai-nilai agama Islam, terutama bagi anak-anak.

Mereka belum menginsafi apa yang disebut baik dan buruk dalam arti susila. Demikian pula mereka belum mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan seperti pada orang dewasa. Ingatan mereka belum kuat. Mereka lekas melupakan apa yang sudah dan baru terjadi. Disamping itu, perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru dan disukainya. Apalagi pada anak-anak yang baru lahir, semua itu belum ada sama sekali atau setidaknya, belum sempurna sama sekali. Dalam kondisi ini mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, dan pola pikir tertentu. Anak perlu dibiasakan untuk mandi, makan, dan tidur secara teratur; serta bermain-main, berbicara, belajar, bekerja, dan sebagainya (Noer Aly, 1999: 185).

Seseorang yang mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati. Bahkan, segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk diubah dan tetap berlangsung sampai hari tua. Untuk mengubahnya sering kali diperlukan terapi dan pengendalian diri yang serius. Ambillah contoh orang yang mempunyai kebiasaan merokok, ia sadar bahwa kebiasaannya itu buruk, tetapi usaha untuk menghentikannya dengan kompensasi menghisap gula- gula dan sebagainya sering kali mengalami kegagalan. Ia baru bisa

(36)

menghentikannya di bulan Ramadhan. Itupun hanya di siang hari ketika ia berpuasa, di malam hari ia kembali pada kebiasaannya. Atas dasar ini, para ahli pendidikan senantiasa mengingatkan agar anak-anak segera dibiasakan dengan sesuatu yang diharapkan, sebelum terlanjur mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengannya. Contoh lain, menurut kajian psikologi kalau seorang anak dibiasakan mencaci maka ia akan belajar mencaci.

Di samping itu, menurut Abdurrahman al-Nahlawi, Islam bukanlah agama mantera - mantera dan jampi - jampi. Segala penjelasan ajarannya menuntut manusia untuk mengarahkan tingkah laku, insting, bahkan hidupnya untuk merealisasikan hukum-hukum Ilahi secara praktis. Praktek ini akan sulit terlaksana manakala seseorang tidak terlatih dan terbiasa untuk melaksanakannya (Noer Aly, 1999: 186).

Al-Shabuni (dalam Hery Noer, 1999: 187), ahli hukum Islam dan studi Islam dari Mekkah ketika menafsiri surat An-nur ayat 28 mengatakan bahwa khitab perintah dalam ayat tersebut ditujukan kepada anak-anak dengan hukum sunnah, tetapi diberlakukan juga bagi pembantu perempuan dengan hukum wajib bagi orang dewasa. Dan dari ayat tersebut dapat dipahami, (1) terdapat tanggung jawab pendidikan atas tuan atau orang tua untuk mendidik pembantu dan anak-anaknya agar memelihara tatakrama meminta izin apabila hendak memasuki kamar pribadi orang lain, (2) adanya unsur pembiasaan meminta izin bila hendak melakukan sesuatu - dalam hal ini- masuk kamar.

(37)

Sedangkan menurut Suryapratondo (1992:153) kebiasaan terbentuk melalui pengulangan dan memperoleh bentuknya yang tetap apabila disertai dengan kepuasan. Anak yang sering mendengar orang tuanya mengucapkan nama Allah, umpamanya, akan mulai mengenal nama Allah.

Hal itu kemudian mendorong tumbuhnya jiwa keagamaan pada anak tersebut. Demikian pula anak dapat berdisiplin dengan berlatih mematuhi peraturan yang secara berulang-ulang di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan lainnya.

Bagi pendidik ataupun para orang tua asuh, pembiasaan hendaknya di sertai dengan usaha membangkitkan kesadaran atau pengertian terus- menerus akan maksud dari tingkah laku yang dibiasakan. Sebab, pembiasaan digunakan bukan untuk memaksa peserta didik agar melakukan sesuatu secara optimis seperti robot, melainkan agar ia dapat melaksanakan segala kebaikan dengan mudah tanpa merasa susah atau berat hati.

Allah akan meminta pertanggung jawaban dari manusia atas segala amal perbutannya sesuai dengan kadar keterkaitan perbuatan itu dengan niat. Atas dasar itulah, pembiasaan yang pada awalnya bersifat mekanistis hendaknya diusahakan agar menjadi kebiasaan yang disertai kesadaran (kehendak dan kata hati) peserta didik sendiri. Hal ini sangat mungkin apabila pembiasaan dilakukan secara berangsur-angsur disertai dengan penjelasan-penjelasan dan nasehat-nasehat, sehingga makin lama timbul pengertian dari peserta didik.

(38)

b. Syarat Metode Pembiasaan

Ditinjau dari segi ilmu psikologi kebiasaan seseorang erat kaitannya dengan figur yang menjadi panutan dalam perilakunya. Seorang anak terbiasa sholat karena orang tua yang menjadi figurnya selalu mengajak dan memberi contoh kepada anak tersebut tentang sholat yang mereka laksanakan setiap waktu sholat. Demikian pula kebiasaan-kebiasaan lainnya. Oleh karena itu, ada syarat-syarat yang harus dilakukan dalam mengaplikasikan pendekatan pembiasaan dalam pendidikan (Armai Arif, 2002: 114), yaitu:

1) Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat. Usia sejak bayi dinilai waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan pendekatan ini, karena setiap anak mempunyai rekaman yang cukup kuat dalam menerima pengaruh lingkungan sekitarnya dan secara langsung akan dapat membentuk kepribadian seorang anak. Kebiasaan positif maupun negatif itu akan muncul sesuai dengan lingkungan yang membentuknya.

2) Pembiasaan hendaklah dilakukan secara kotinyu, teratur, dan berprogram. Sehingga pada akhirnya akan terbentuk sebuah kebiasaan yang utuh, permanen dan konsisten.

3) Pembiasaan hendaknya diawasi secara ketat, konsisten dan tegas.

Jangan memberi kesempatan yang luas kepada anak didik untuk melanggar kebiasaan yang telah ditanamkan.

4) Pembiasaan yang pada mulanya hanya bersifat mekanistis, hendaknya secara berangsur-angsur dirubah menjadi kebiasaan yang tidak

(39)

verbalistik dan menjadi kebiasaan yang disertai dengan kata hati anak didik itu sendiri.

c. Kelebihan Metode Pembiasaan

Sebagaimana pendekatan-pendekatan lainnya di dalam proses pendidikan, pendekatan pembiasaan tidak bisa terlepas dari dua aspek yang saling bertentangan, yaitu kelebihan dan kekurangan. Sebab tidak satupun dari hasil pemikiran manusia yang sempurna dan bebas dari kelemahan (Armai Arif, 2002 : 115).

Kamus Umum Bahasa Indonesia, penanaman yakni proses, cara, perbuatan, menanami, atau menanamkan (Poerwadarminta, 2007:1134).

Istilah ini dipergunakan dalam upaya menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai Islam pada anak usia prasekolah melalui: pembiasaan, latihan- latihan, keteladanan dan lain sebagainya.

Nilai diartikan sebagai “harga atau ukuran” (Poerwadarminta, 2007:783), yang berupa aturan-aturan di dalam ajaran Islam yang dipatuhi, seperti: cara berpakaian, cara mendidik anak, cara bertingkah laku, cara erteman, serta cara beribadah.

(40)
(41)

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, permasalahan yang diangkat merupakan permasalahan yang tidak bisa dijelaskan dan dianalisa melalui data-data statistik sehingga perlu pendekatan tertentu untuk memahaminya. Penelitian kualitatif merupakan cara untuk memahami perilaku sosial sebagai upaya menjaring informasi secara mendalam dari suatu fenomena atau permasalahan yang ada di dalam kehidupan suatu objek, dihubungkan dengan pemecahan suatu masalah, baik dari sudut pandang teoritis maupun empiris (Sugiyono, 2008: 9).

Nasution (2010: 34) mengatakan bahwa penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Menurut Anselm Strauss dan Juliet Corbin (1997: 57), salah satu kelebihan penelitian kualitatif adalah karena ia bisa digunakan menjelaskan detail yang rumit dari suatu fenomena yang sulit dijelaskan jika menggunakan pendekatan kuantitatif. Selain itu jenis penelitian ini dapat digunakan untuk mempelajari organisasi,

(42)

kelompok maupun individu. Jenis penelitian kualitatif juga disebut penelitian naturalistik.

Menurut Sugiyono (2008: 207), gejala itu bersifat holistik (menyeluruh tidak dapat dipisah-pisahkan), sehigga peneliti tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan variabel penelitian tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat, pelaku, dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis. Dalam pembatasan masalah (fokus) lebih didasarkan pada tigkat kepentingan urgensi dan bilitas masalah yang akan dipecahkan, selain faktor keterbatasa tenaga, dana, dan waktu.

Teori dalam penelitian kualitatif sebagai bekal wawasan dan memudahkan peneliti dalam membuat instrument penelitian yang baik untuk dapat memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam.

Bahwa masalah dalam kuantitatif sudah harus jelas, spesifik, dan tidak berubah sampai proposalnya dilakukan di lapangan, tetapi pada masalah kualitatif itu belum jelas (bersifat sementara), tentatif, dan akan berkembang setelah memasuki lapangan. Dalam masalah batasan masalahpun juga sama bahwa dalm kuantitatif yang membatasi penelitian dalam satu variable atau lebih dari satu variable yang akan membuktikan suatu teori dalam penelitian yang dilakukan, sedangkan kualitatif masih berisi pokok masalah yang masih bersifat umum dan mencari suatu teori yang baru (Sugiyono 2008: 213).

(43)

Lexy Moleong (2007: 8), mengatakan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain- lain. Secara holistik mendiskripsikan dengan bahasa dan kata pada konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atas suatu fenomena sosial atau fenomena alam secara sistematis, faktual dan akurat. Metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang akan menghasilkan data kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau dari suatu proses yang diamati.

Data yang muncul yanag berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka didapatkan dalam beberapa cara, yaitu: observasi, wawancara, intisari dokumen, atau dengan cara lain yang biasanya diproses dahulu sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, penyuntingan, atau alih tulis), tetapi analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas (Miles dan Huberman, 1992:15-16).

Peneliti memilih jenis penelitian kualitatif, yaitu karena temuan- temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Misalnya, penelitian tentang penanaman nilai-nilai pendidikan

(44)

Islam. Yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah prosedur analisisnya non-matematis. Prosedur ini menghasilkan temuan yang diperoleh dari data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana.

Sarana itu meliputi pengamatan (observasi) dan wawancara, kemudian juga dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya data sensus.

Dengan demikian, peneliti akan berhubungan langsung dengan sumber data penelitian dan memerlukan komunikasi yang lebih mendalam dengan sumber data agar semua pertanyaan penelitian dapat dieksplorasi dengan sempurna. Penelitian ini memfokuskan pada penanaman nilai-nilai pendidikan Islam melalui pembiasan.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi merupakan tempat dilaksanakannya penelitian. Dalam hal ini peneliti menentukan lokasi di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang. Lokasi tersebut dipilih dengan pertimbangan berikut:

Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih dianggap cukup memperhatikan dan memberikan sumbangsih dalam penanaman nilai-nilai pendidikan Islam kepada santri-santrinya. keberadaan Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih terletak cukup dekat dengan peneliti, sehingga mudah untuk menjangkaunya.

C. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini teknik penentuan informan yang digunakan dengan cara purposive sampling dan. Purposive sampling adalah teknik

(45)

pengambilan sampel (informan) dengan pertimbangan tertentu. Sedangkan (Sugiyono, 2008:218).

Hal ini dimaksudkan untuk memilih informan yang benar-benar relevan dan kompeten dengan masalah penelitian sehingga data yang diperoleh dapat digunakan untuk membangun teori. Selain itu, peneliti juga menggunakan infoman tambahan. Informan awal diminta untuk menunjuk orang lain yang dapat memberikan informasi, dan kemudian informan ini diminta pula untuk menunjuk orang lain yang dapat memberikan informasi, dan seterusnya sampai menunjukkan tingkat kejenuhan infomasi. Artinya, bila dengan menambah informan hanya diperoleh informasi yang sama, berarti jumlah informan sudah cukup (sebagai informan terakhir) karena informasinya sudah jenuh.

Penelitian ini yang dipandang sebagai infoman awal (key informan) adalah Ustadz Nurkholis, M.Pd atau juga akrab dengan panggilan Muhammad Taufiq, salah satu pengajar Tauhid yang juga sebagai tenaga ahli Aswaja Center PP Miftahul-Ulum. Dari informan awal tersebut kemudian berlanjut kepada pengasuh pesantren, kepala pengurus, pengurus lain, Asatidz, serta santri Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih. (Buku Profil PP. Miftahul Ulum Bakid Hal 11)

D. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini. Teknik tersebut diantaranya:

1. Wawancara Mendalam

(46)

Secara umum dalam penelitian ini akan menggunakan wawancara secara mendalam. Wawancara merupakan cara pengumpulan data dengan jalan tanyajawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan didasarkan pada tujuan penelitian. Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal atau semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam dari suatu masalah dengan jumlah responden yang sedikit. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan metode campuran (semi struktur), yaitu mula-mula pewawancara menanyakan serentetan pertanyaan yang terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dengan mengorek keterangan lebih lanjut.

Tahapan wawancara ini dilakukan dengan: (1) mempersiapkan wawancara; (2) melakukan wawancara yang produktif; (3) mengakhiri dengan rangkuman hasil wawancara. Pelaksanaan wawancara ini merujuk pada rancangan terstruktur yang berupa pedoman wawancara.

Hasil wawancara direkam menggunakan recorder dan dirangkum secara langsung dari catatan-catatan yang dibuat di tempat penelitian, diringkas dan diberi kode-kode yang mudah dimengerti oleh peneliti.

Adapun data yang diperoleh dari wawancara adalah:

a. Bagaimana penerapan penanaman nilai- nilai akidah di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.?

b. Bagaimana penerapan penanaman nilai- nilai syari’ah di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.?

(47)

c. Bagaimana penerapan penanaman nilai- nilai ahklak di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang?

2. Dokumentasi

Menurut Usman Husain (2012:73), studi dokumenter adalah teknik pengumpulan data dengan dokumentasi atau pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Studi dokumenter digunakan untuk mempelajari berbagai sumber dokumentasi, terutama yang berada di lingkungan obyek penelitian dalam hubungannya dengan penerapan hukuman.

Studi dokumentasi ini bertujuan untuk mengungkapkan aktifitas dan tindakan-tindakan yang dapat menambah pemahaman peneliti terhadap masalah-masalah yang diteliti. Studi dokumentasi ini memungkinkan ditemukannya perbedaan atau pertentangan antara hasil wawancara dan observasi dengan hasil yang terdapat dalam dokumen.

Bila hal ini terjadi dapat mengkonfirmasikannya dengan bentuk wawancara kembali dengan narasumber yang terdahulu.

Studi dokumentasi ini merupakan kegiatan pengumpulan data yang dapat berupa foto, buku-buku, modul, jurnal, piagam, dan sebagainya yang diperoleh saat wawancara maupun observasi dilakukan.

Adapun data yang diambil dari metode dokumentasi adalah:

a. Latar belakang dan sejarah Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

(48)

b. Data-data tentang Pengasuh, Pengurus, , Santri, dan tata tertib di di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

c. Data-data tentang Sarana dan Prasarana Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

3. Observasi

Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.

Observasi langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki (Sugiyono, 2008:145).

Metode ini merupakan pengamatan langsung atau tidak langsung melalui fakta dan data yang ada, jadi dalam penerapan metode ini dilakukan pencatatan khusus secara sistematis terhadap fenomena yang diselidiki terkait dengan bukti fisik di lapangan yang ditemukan peneliti.

Tahapan observasi menurut Basrowi dan Suwandi (2008:98) terdiri dari pengamatan deskriptif, pengamatan terfokus, dan pengamatan terseleksi. Pengamatan deskriptif dilakukan pada tahap eksplorasi secara umum, memperhatikan dan merekam sebanyak mungkin aspek elemen situasi sosial yang diamati sehingga diperoleh gambaran secara umum.

Pengamatan terfokus merupakan kelanjutan dari pengamatan deskripsi yang lebih fokus terhadap detail suatu ranah yang diteliti. Pengamatan terseleksi merupakan pengamatan yang mengamati komponen tertentu untuk mendapat data yang diperlukan dalam analisis setiap perspektif.

(49)

Pelaksanaan observasi memerlukan rancangan yang sistematis, penyesuaian dengan tujuan penelitian, pencatatan dalam bentuk pencatatan lapangan, dan pengendalian terhadap hasil penelitian sehingga diperoleh validitas dan reliabilitasnya. Pelaksanaan observasi ini disusun dalam suatu tabel pedoman observasi yang memuat unsur-unsur, sasaran penelitian, dan pertanyaan observasi.

Adapun data yang diambil dari metode observasi ini adalah penerapan penanaman nilai- nilai Agama melalui pembiasaan yang ada di Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

E. Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisa deskriptif, yaitu suatu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan kebanyakan bukan angka, walaupun ada yang sifatnya hanya sebagai penunjang. Deskriptif bersifat menjelaskan sehingga tidak terjadi kekaburan atau kehilangan makna, penyimpangan data, apa adanya dengan tetap menjaga netralitas agar peneliti tidak terjerembab terhadap dampak yang mengacu pada ketidakobjektifan data yang diperoleh.

Proses analisis data dilakukan secara terus menerus, bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan. Sugiyono (2008: 246) menjelaskan, di dalam melakukan analisis data mengacu kepada tahapan berikut, yaitu:

1. Reduksi data (data reduction)

Pada tahap ini, yang dilakukan peneliti adalah:

(50)

a. Mencatat data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) baik dari observasi, field note, rekaman wawancara, serta dokumen ke dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. Laporan lapangan direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal pokok, difokuskan pada indikator dari sub variable yakni jenis peranan dan jalur pendidikan.

b. Pengkodean, yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap- tiap jawaban yang termasuk dalam kategori yang sama. Dan selanjutnya, tabulasi atau pentabelan, yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu tabel.

2. Penyajian data (data display)

Penyajian data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh.

3. Penarikan kesimpulan (verification)

Dalam penelitian ini, penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola, tema, hubungan persamaan, hal-hal yang sering timbul, hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentative, akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses

(51)

verifikasi secara terus menerus, maka akan diperoleh kesimpulan yang bersifat grounded. Dengan kata lain, setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interpretasi peneliti.

F. Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber data. Menurut Sugiyono (2008:221), Hal ini dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda dengan:

1. Membandingkan data yang sama kepada sumber yang berbeda, 2. Membandingkan apa yang dikatakan informan di depan umum

dengan apa yang dikatakan secara pribadi,

3. Membandingkan keadaan dan perspektif antar informan mengenai fokus penelitian,

4. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, 5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan.

Dari beberapa informasi tersebut, peneliti lebih menggunakan cara pertama dan kedua, yaitu: (1) Membandingkan data yang sama kepada sumber yang berbeda; dan (2) Membandingkan apa yang dikatakan informan di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. (3) Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. (4) Membandingkan hasil wawancara dengan suatu dokemen yang berkaitan.

(52)

Hasil dari perbandingan yang diharapkan adalah berupa kesamaan atau alasan-alasan terjadinya perbedaan.

G. Tahap-tahap Penelitian

Penelitian ini adalah suatu kegiatan yang bersifat komprehensif, dimana komponen yang satu berkaitan dengan komponen yang lain, sehingga dalam pelaksanaannya dilaksanakan dengan metode yang sistematis. Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu menghasilkan gambaran tentang Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Islam \ Melalui Pembiasaan di Pesantren miftahul ulum Banyuputih Kidul.

Langkah awal dalam kegiatan ini dilakukan melalui penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan tentang kondisi obyektif penerapan hukuman . Penelitian kepustakaan dilakukan dengan mengkaji teori, konsep dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan untuk mendukung studi pendahuluan di lapangan. Studi lapangan dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, pengamatan (observasi) dan dokumentasi, yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif sebagai bahan pertimbangan dalam mendeskripsikan temuan-temuan di lokasi penelitian.

Berdasarkan hasil temuan-temuan di lapangan tersebut kemudian dilakukan pengecekan ulang menggunakan triangulasi sumber untuk melihat keabsahan atau kebenaran data yang telah didapatkan

(53)
(54)

A. Gambaran Umum Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

1. Sejarah Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Lumajang.

Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul atau yang dikenal dengan Pondok Banyuputih atau PPMU Bakid merupakan pesantren yang sudah cukup tua di wilayah Kabupaten Lumajang. Secara legal formal pesantren ini diresmikan pada tahun 1957 M. Tepat di utara jalan raya Surabaya-Jember, jurusan Tanggul, pesantren ini mulai dirintis sejak 78 tahun yang silam.

Pesantren ini bermula dari sebuah majlis taklim yang dirintis oleh RKH. Sirajuddin bin Nasruddin bin Itsbat Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan Madura. Pembentukan majlis taklim tersebut berawal dari sebuah keprihatinan salah seorang alunmi pesantren yang dikenal dengan Kiai Zainal Abidin, melihat kondisi, tatanan sosial dan budaya masyarakat desa Banyuputih Kidul yang sangat jauh dari nilai- nilai ajaran Islam. Budaya amoral, politheisme, tindak kriminal serta berbagai tindak kejahatan telah menyelimuti dan memberi warna kelabu di Banyuputih tahun itu. Kiai yang lebih akrab dengan sebutan Kiai Haral ini adalah seorang tuna netra yang terkenal kaya raya dengan sawah ladangnya yang sangat luas. Melihat kondisi masyarakat di atas, Kiai

(55)

Haral yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan Madura mempunyai keinginan untuk mendirikan majlis taklim dalam rangka membina moral dan akhlak masyarakat sekitar yang sangat jauh dari norma-norma ajaran Islam. Untuk mewujudkan keinginan mulia tersebut, Kiai Haral kemudian meminta bantuan kepada salah satu ulama yang juga guru beliau sendiri yaitu RKH. Sirajuddin bin Nashruddin bin Itsbat. Menurut beberapa catatan, hal ini terjadi sekitar tahun 1932 M/1354 H. atau 13 tahun sebelum Indonesia Merdeka.

Di samping tugas mengajar, kedua tokoh tersebut juga mendapatkan tugas khusus dari RKH. Sirajuddin untuk menjadi pengasuh sementara di Banyuputih. Karena putra beliau Lora Zuhri bin Sirajuddin yang dipersiapkan untuk menjadi pengasuh saat itu masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sehingga pada waktu itu, pesantren Banyuputih belum resmi didirikan, karena belum ada pengasuh yang tinggal menetap di pesantren. Tugas-tugas pengasuh (RKH. Sirajuddin) untuk sementara digantikan oleh guru tugas. Baru pada tahun 1957, setelah RKH. Zuhri menyelesaikan studinya di Pesantren Sidogiri dan kembali ke Banyuputih, maka Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul secara resmi didirikan dengan ditandai piagam resmi dari pemerintah provinsi Jawa Timur.

Penamaan pesantren dengan nama ’Miftahul Ulum’ ini karena taf’ulan wa tabarrukan (baca: mengharap berkah) dari pesantren

(56)

leluhurnya, PP Miftahul Ulum Bettet Pamekasan dan juga nama madrasah Miftahul Ulum PP Sidogiri, pesantren almamater RKH. Zuhri.Sedangkan Kiai Sonhaji setelah menyerahkan kepemimpinan PPMU kepada RKH.

Zuhri, beliau merintis pendirian Pesantren Baru di Desa Banyuputih Lor yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren “Raudlatul Jadid”

yang hingga saat ini tetap eksis. Beberapa tahun kemudian, Pesantren Miftahul Ulum di bawah asuhan RKH. Zuhri, semakin berkembang.

Jumlah santri pun kia hari semakin meningkat pesat dan santri dari berbagai daerah luar wilayah Lumajang pun mulai berdatangan, sehingga membutuhkan penambahan asrama santri yang semakin banyak pula.

Pembangunan asrama santri pun terus dilakukan dan dikembangkan. Namun demikian, sarana dan bangunan fisik pondok santri saat itu masih sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Asrama santri hanya berupa gubuk bambu yang dibangun oleh santri sendiri. Konon, pernah ada beberapa santri membangun asrama tembok (seperti asrama saat ini), namun ketika RKH. Zuhri - yang terkenal zuhud dan wira’i - mengetahui hal tersebut, Beliau langsung memerintahkan santri-santri tersebut untuk membongkarnya. RKH. Zuhri membimbing para santrinya untuk menerapkan hidup sedarhana, zuhud dan tawakkal kepada Allah, menjauhi kemewahan hidup duniawi yang fana’ ini serta selalu mendekatkan diri kepada Allah swt.

(57)

Hari berganti hari, bulan berganti demi bulan, tahun pun terus berganti, selama 25 tahun, dengan penuh keteladanan dan kesabaran, RKH. Zuhri, membimbing para santri untuk menjadi orang yang mutafaqqih fid din serta menjadi ibadallah as-shalihin. Namun seiring dengan semakin bertambah waktu dan usia, tanpa disangka, RKH. Zuhri pun akhirnya dipanggil oleh Ar-Rafi’ Al-A’la Dzat Yang Maha Kuasa.

Menurut penuturan salah satu khadim-nya, RKH. Zuhri wafat pada malam Rabu tahun 1982 tepatnya pada bulan Sya’ban.

Setelah wafatnya RKH. Zuhri, estafet kepemimpinan PPMU kemudian dilanjutkan oleh menantu beliau yang juga masih sepupu yaitu RKH. M. Thayyib Rafi'i dari Pamekasan. Kepemimpinan RKH. M.

Thayyib ini berlangsung selama 8 tahun, yaitu dari tahun 1982 s/d 1990 M. Walaupun demikian, banyak keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh RKH. M. Thayyib. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman yang terus berkembang, PPMU mengalami perkembangan yang signifikan, pembangunan gedung madrasah pun terus dilakukan, asrama santri pun perlahan-lahan mulai dibangun dari tembok dan tidak lagi terbuat dari gubuk bambu sebagaimana pada masa sebelumnya.

Pada periode kepemimpinan RKH. M. Thayyib inilah, lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan PPMU mulai dikembangkan, tidak hanya meliputi pendidikan diniyah saja, tetapi juga membuka pendidikan formal, dari tingkat Ibtidaiyah/SD sampai tingkat Aliyah/SMA. Pada tahun

(58)

1983, PPMU berhasil membuka dan mendirikan lembaga pendidikan formal setingkat SLTP, yaitu MTs Miftahul Ulum. Setahun kemudian yaitu pada tahun 1984 PPMU berhasil mendirikan MI Miftahul Ulum.

Setelah berhasil meluluskan siswa angkatan pertama dari MTs, maka untuk menampung lulusannya, pada tahun 1986, PPMU kemudian mendirikan Madrasah Aliyah Miftahul Ulum.

Di era kepemimpinan RKH. M. Thayyib ini pula, manajemen pesantren mulai dibenahi dan ditata dengan rapi dan professional dengan dibentuknya sebuah yayasan yang tidak hanya bergerak di bidang pendidikan saja, tetapi juga bergerak di bidang sosial dan dakwah.

Yayasan tersebut kemudian diberi nama Yayasan Sosial, Pendidikan dan Dakwah Islamiyah Miftahul Ulum (YSPDI-MU) dengan akte notaris H.

Abdul Wahib Zainal, SH. Nomor : 8/BH/85.

2. Visi Dan Misi

Visi Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah mencetak dan mengkader generasi muslim yang ber-IMTAQ, ber-IPTEK serta ber- Akhlakul Karimah ala Aqidah Ahlu as-Sunnah wal Jama‘ah.

Misi Pondok Pesantren Miftahul Ulum adalah mencetak dan mengkader intelektual muslim yang ber-IMTAQ dan ber-IPTEK dan ber- Akhlaqul Karimah serta menciptakan kader ulama yang mampu mentransformasikan ilmu agama dalam berbagai kondisi. (Sumber: Buku

(59)

3. Struktur Organisasi

Saat ini, Pondok Pesantren Miftahul Ulum merupakan salah satu unit kerja di bawah naungan Yayasan Sosial, Pendidikan dan Dakwah Islamiyah (YSPDI) Miftahul Ulum. Yayasan ini membawahi tiga lembaga, yaitu Lembaga Sosial, Lembaga Pendidikan, Lembaga Dakwah.

Di bidang sosial, Yayasan Miftahul Ulum membawahi tiga unit kerja yaitu, Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), dan Koperasi Pondok Pesantren. Bidang pendidikan meliputi pendidikan umum (formal), pendidikan pesantren, dan pendidikan diniyah. Sedangkan di bidang dakwah yayasan ini memiliki dua unit kerja yaitu Pengurus Guru Tugas (PGT) dan majlis taklim.

Tujuan Yayasan ini adalah membina, menyebarluaskan dakwah Islamiyah dan meningkatkan kualitas pendidikan Islam dan mengusahakan kesejahteraan bagi umat Islam.

Adapun komponen yang terdapat dalam struktur atau susunan organisasi PPMU terdiri atas tiga komponen, yaitu:

a. Pengasuh yang dibantu oleh Majlis Penasehat/Keluarga (pemegang kebijakan)

b. Pengurus (sebagai tenaga pelaksana) c. Asatidz

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan penanaman nilai moral Islam kepada santri oleh kyai dan ustadz/ustadzah sudah mendekati kesusaian dengan teori

KEDISIPLINAN SANTRI DALAM AKTIVITAS KEAGAMAAN DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL ULUM.

Untuk mengatasi beberapa wali murid dan siswa yang belum bisa bekerjasama yang di lakukan sekolah dalam penanaman nilai-nilai Pancasila yaitu dengan melakukan pembiasaan di SDI

ii UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS DAN KEPRIBADIAN SANTRI MELALUI PENGABDIAN KEPADA KIYAI DI LEMBAGA PONDOK PESANTREN MIFTAHUL ULUM SUMBERJATI DESA BUNGBARUH KECAMATAN KADUR

Miftahul Ulum 2 Banyuputih Kidul, selanjutnya dapat diperoleh informasi tentang adanya pemberian penghargaan kepada guru pendamping lomba.218 Berikut dapat dibuktikan melalui kegiatan

Penanaman pendidikan karakter di RA Miftahul Falah dilakukan dengan cara memberikan kegiatan pembiasaan yang dilakukan setiap hari, mingguan dan juga kegiatan tahunan melalui praktek

Hasil pembahasan dalam artikel ini menyimpulkan bahwa Islam memiliki prinsip metodologi dalam menanamkan nilai akhlaq kepada peserta didik yaitu a Prinsip pembiasaan, dengan

ii HALAMAN JUDUL PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURAL MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP SIKAP EKSKLUSIVISME SISWA DI SMPN 1 KAYEN KIDUL KABUPATEN KEDIRI SKRIPSI Diajukan