• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penanganan Dan Konseling Tunalaras & Tunagrahita

Dalam dokumen “Bunga Rampai” - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 130-135)

oleh trauma mekanis terutama pada kelahiran yang sulit

b. Faktor Lingkungan

Banyak faktor lingkungan yang diduga menjadi penyebab terjadinya ketunagrahitaan. Telah banyak penelitian yang digunakan untuk pembuktian hal ini, salah satunya adalah penemuan Patton & Polloway (Mangunsong, 2012), bahwa bermacam-macam pengalaman negatif atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi selama periode perkembangan dapat menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan.

Latar belakang pendidikan orangtua sering juga dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan.

Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsangan positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi penyebab salah satu timbulnya gangguan.72

E. Penanganan Dan Konseling Tunalaras & Tunagrahita

kembali materi yang telah diberikan. Contohnya seperti bermain puzzle. Puzzle memiliki bermacam-macam jenis dan warna sehingga menarik minat anak untuk belajar dan meningkatkan daya ingat anak dalam proses belajar.

Puzzle juga bentuk permainan yang berorientasi dalam pemecahan masalah, namun tetap menyenangkan sebab bisa diulang-ulang. Tantangan dalam permainan ini akan selalu memberikan efek kegiatan yang menantang dan membuat anak berusaha untuk selalu mencoba dan terus mencoba hingga berhasil.73 Berdasarkan hasil penelitian Yalon dkk, bahwa menangani anak dengan tunagrahita ringan dengan cara Occupational Therapy. Terapi ini bertujuan melatih gerak fungsional seluruh anggota tubuh , adapun latihannya meliputi gerak kasar dan halus. Teknik selanjutnya Play Therapy diberikan dengan menyesuaikan teknik dengan konsep tunagrahita, yaitu guru memberikan pembelajaran menggunakan pertunagrahitaan agar pembelajaran mudah diserap oleh anak.cara selanjutnya dengan activity daily living pendekatan ini adalah cara merawat diri, agar memberikan pengetahuan kepada anak tunagrahita tentang keterampilan sehari-hari agar dapat merawat diri sendiri tanpa bantuan orang lain, keterampilan lifeskill dapat memberikan kemampuan pada siswa tunagrahita agar menjadi bekal mereka dalam hidup di masyarakat.

Hal-hal ini juga menunjukkan bahwa keterkaitan antara olah raga ritmik dalam meningkatkan perkembangan sosial emosional anak tunagrahita dapat dilakukan dengan efektif. Permainan ini dirasa permainan yang tepat bagi anak tunagrahita yang dapat meningkatkan keterampilan sosial mereka sehingga mereka akan siap menghadapi kehidupan dalam lingkungan masyarakat.74 Berdasarkan penelitian Piri, bahwa permainan ritmik memberikan pengaruh terhadap

73 Sutinah. Terapi Bermain Puzzel Berpengaruh terhadap Kemampuan Memori Jangka Pendek Anak Tunagrahita. Jurnal Endurance, 4(3), 630-640. (2019).

74 Cahyati, N. Permainan Ritmik bagi Perkembangan Sosial Emosional Anak Tunagrahita Ringan. Jurnal Golden Age Universitas Hamzanwadi, 3(2), 116-125. (2019).

perkembangan sosial anak tungrahita, hasil penelitian menunjukan bahwa permainan ritmik berpengaruh secara signifikan terhadap erkembangan sosial siswa yang tunagrahita, menerapkan permainan ritmik dalam 12 minggu (dua hari seminggu) mempengaruhi perkembangan sosial anak tunagrahita walaupun perubahan yang muncul tidak terlalu banyak tetapi permainan ini memberi pengaruh.

Selain itu menurut Chan, dengan kegiatan olahraga, kelenjar tubuh mulai mengeluarkan bahan kimia santai yang mengurangi hiperaktif, agresi dan depresi. Ray menjelaskan efek latihan fisik pada gangguan komunikasi siswa tunagrahita , kita dapat mengatakan bahwa kegiatan olahraga, selain untuk merangsang relaksasi, efektif untuk memperkuat otot lidah, mulut dan wajah. Efek ini secara langsung meningkatkan gangguan berbicara dan komunikasi, sehingga akan meningkatkan perkembangan sosial anak dalam berkomunikasi dengan masyarakat.

Selain itu Salehpoor mengatakan kegiatan olahraga meningkatkan kepercayaan diri dan komunikasi sosial serta mengurangi ketakutan dan kecemasan orang dan demikian meringankan gangguan komunikasi. Naghshiniyan mengatakan bahwa permainan ritmik membantu anak-anak ini menjauhi dunia mereka yang dingin dan mulai hubungan sosial.75 Salah satu bentuk terapi yang dijalankan bagi anak tunagrahita yaitu melalui terapi sensori integrasi. Terapi sensori integrasi bertujuan untuk menimbulkan, meningkatkan atau memperbaiki tingkat kemandirian seseorang yang mengalami gangguan fisik maupun mental.

Beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan terapi sensori integrasi menunjukkan bahwa pelaksanaan terapi wicara, dan sensori integrasi hendaknya diberikan kepada anak sejak dini. Karena terapi wicara dan sensori integrasi pada anak terlambat berbicara mempunyai peran penting

Cahyati, N. Permainan Ritmik bagi Perkembangan Sosial Emosional Anak

dan sangat menentukan dalam proses perkembangan bahasa dan motorik anak selanjutnya.76

Terapi permainan yang diperuntukkan bagi anak tunagrahita bukan sembarang permainan, tetapi permainan khusus yang memiliki muatan antara lain :

a. Setiap permainan hendaknya memiliki nilai terapi yang berbeda,

b. Sosok permainan yang diberikan tidak terlalu sukar untuk dicerna dan mudah dipahami anak tunagrahita.

Beberapa model latihan pendahuluan yang berfungsi sebagai pendukung dalam pengembangan kemampuan bahasa dan bicara anak tunagrahita antara lain sebagai berikut.

a. Latihan pernafasan. Latihan ini dapat dilakukan dengan meniup perahu kecil dari kertas/ plastik yang diapungkan di air, meniup lilin pada jarak tertentu, meniup harmonika, meniup kincir dan kertas sampai berputar atau meniup gelembung balon dari busa dan kapas ke udara.

b. Latihan otot bicara seperti lidah, bibir, dan rahangnya.

Untuk latihan ini anak tunagrahita disuruh mengunyah, menelan, batuk-batuk, atau menggerakkan bibirnya, lidah dan rahangnya, latihan ini juga dapat diakali dengan menggunakan permen yang dikunyah dan dipindah- pindahkan.

c. Latihan pita suara. latihan ini diusahakan untuk menyebutkan nama-nama benda yang ada disekitar dengan menggunakan kata lembaga, yaitu daftar kata yang disusun sesuai dengan tingkat kesulitan konsonan tertentu, dapat dipadukan pula pada peniruan suara macam-macam binatang dan benda-benda lain

76 Komariah, F. Program Terapi Sensori Integrasi bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Miftahul Qulub. Journal of Disability Studies, 5(1), 46-72. (2018).

disekitarnya sebagai improvisasinya. Seperti suara kucing, anjing, bebek ayam dan lain-lain.77

2. Tunalaras

Secara umum, bahwa anak berkebutuhan khusus juga dapat disembuhkan melalui terapi Al-Qur’an. Terapi Al- Qur’an adalah obat bagi semua penyakit termasuk gangguan perilaku karena makna yang terdapat di dalam Al-Qur’an menjadi tuntunan kehidupan bagi umat manusia termasuk bagi para penyandang. Program terapi Al-Qur’an ini sendiri dapat dilakukan siswa yang dibimbing oleh guru agama membaca Al-Qur’an di awali dengan juz ke -30 sampai benar dan kemudian dilanjutkan dengan juz lainnya yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Program terapi Al-Qur’an ini dapat berupa pembinaan dan pendampingan secara intensif kepada siswa khususnya siswa tunalaras. Program juga dapat disisipi dengan konsep sharing mengenai makna yang terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca . Bagi siswa tunalaras yang belum bisa membaca agar terus diupayakan dan didampingi agar mampu membaca dengan tartil. Terapi ini merupakan cara tepat yang dapat membantu siswa tunalaras untuk merubah perilaku. Nilai-nilai yang terdapat dalam Al- Qur’an merupakan bagian dari kajian yang menjadi bimbingan dalam terapi ini dan dapat dikembangkan lebih jauh.78

Salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan dalam memberikan relaksasi pada anak dengan gangguan emosi adalah dengan terapi musik dan mendengarkan murrotal Al- Qur’an, karena dengan adanya menciptakan suasana yang menyenangkan, juga diketahui dapat mempengaruhi proses emosional, akademik, dan interaksi sosial. Terapi musik ini menjelaskan bahwa penerapan musik sejenis mozart dapat

77 Efendi, M. Pengantar Psikopedagogik Anak Bekelainan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

(2006).

Kusmawati, A., Hadi, C., & Putra, B. A. Terapi Al-Quran pada Siswa

menurunkan frekuensi kesulitan berperilaku dan meningkatkan kognitif pada siswa sekolah dasar. Selain terapi musik mozart adapula sejenis seperti terapi alqur’an yang dapat dijadikan alternatif yang aman dan terbukti lebih efektif.79

Dalam dokumen “Bunga Rampai” - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 130-135)