IDENTIFIKASI MASALAH, RUANG LINGKUP, TUJUAN DAN KEGUNAAN, METODE, TIN.IAUAN LITERATUR'
S. Apakahregulasijelas,konsisten'komprehensifdanmudahdiakses?
3) Ilagian wilayah kerja sebagainrana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c adalah wilayah yang dapat dijangkau dalam meningkaikan pelayanan dan pembinaan
2.10. Penataan Wilayah di Provinsi DKI Jakarta
c)
Kalimantan. Nusa Tenggara, Maluku dan Papua paling sedikit 7 Km2.3) Ilagian wilayah kerja
sebagainrana dimaksuddalam
Pasal4 huruf c
adalah79
Dalam
KeputusanGubemur
tersebut,yang
dimaksudkan Pengembangan Wilayah adalairtindakan
pembentukan. pemekaran, penghapusandan
penggabungan wilayah KotarnatlyaiKabupaien,
Kecamatandan Kclurahan.
Sementaraitu,
pembentukanwilayah adalah pemberian status pada wilayah terlentu dalarn
wilayahKotarnadya/Kabupaten
,
Kecamatan dan Kelurahan yang telah ada. Pemekaran wilayah adalah pemecahan KotamaciyaiKabupaten,
Kecamatan dan Kelurahanmenjadi
lebih dari satu dari Kotamadya/Kabupaten , Kecamatan dan Kelurahan;Pengembangan
wilayah yang meliputi
Pembentukkan, Pemekaran, Penghapusan dan PenggabunganWilayah bertujuan untuk
rneningkatkan Kesejahteraan masyarakat dengan:a)
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat;b)
mempercepat pertumbuhan kehidupan demokrasi;c)
mempercepat pelaksanaan pembangunan wilayah;d)
mempercepat pengelolaan potensi wilayah;e)
memperpendek lentang kendali pemerintahanPembentukkan. usul pemekaran, penghapusan dan penggabungan
wilayah
berdasarkan syarat - syarat sebagai berikr.rt.a)
Tersedianya potensi wilaYah;b)
Terciptanya kondisi sosial budaya yang konduktif;c)
Tercapainyajumlah penduduk yang memadai;d)
Terdapatnya luas wilayah yang rrremadai;e)
P:rtimbangan lain yang memungkinkan'Potensi w'ilayah merupakkan cerminan tersedianya sumber daya yang
dapatdimanfaatkan
dan dapat
memberikan sumbangan terhadap penerimaan daerah serta kesejahteraan masyarakat yang dapat di ukur dari tersedianya:a)
Sarana dan prasarana ekonomi;b)
Sarana dan prasarana pendidikan;c)
Sarana dan prasarana kesehatan;d)
Sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi;e)
Sarana dan prasarana ketenagakerjaan;l)
Pertimbangan lain yang memungkinkan terbentuknya wilayah.Kondisi
sosial budaya merupakan cerminan yang berkaitan dengan struktur sosial pola budaya yang dapai di ukur dari:a.
Terdapatnya tempat peribadatan yang memadai , baik jumlah maupun mutunya;b.
Terdapatnya tempat kegiatan institusi sosial dan budayayang konduktif
sebagai penunjang kesaiuan dan persatuan masyarakat;c.
Terdapatnya sarana olahraga yang memadai;d.
Dinamika hubungan masyarakat yang kondusif.Kriteria
jumlah
pcnduduk merupakan batasan jumlah penduduk suatu wilayah, seperti:r
Kotamadya Maksimal:
1.500.000jiwa
(300.000KK)
danMinimal :
1.000.000jiwa
(200.000KK)
r
Kecamatan Maksimal:
150.000jiwa
(30.000KK)
danMinimal :
100.000jiwa
(20.000
KK)
.
KelurahanMaksimal :
40.000jiwa
(8.000KK)
danMinimal :
25.000jiwa
(s.000KK)
Luas wilayah merupakan wilayah yang berimbang dengan jumlah
penduduk.Pertimbangan lain merupakan pertimbangan untuk penyelenggaraan pemerintahan yang dapat diukur dari:
a.
Keamanan dan ketertiban ;b.
Ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan(gedung
kantor,peralatan dan perlengkapan kantor);c.
Rentang kendali pemerintahan;b.
Kotamadya yang akan dibentuk minimal terdiri dari 5 Kecamatan;c.
Kecamatan yang akan dibentuk minimal terdiri dari 4 Kelurahan.Cara pengukuran dan penilaian persyaratan pembentukkan wilayah
dilakukanberdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum
dalam lampiran
Keputusan GubernurNomor 3
Tahun 2004 tentang Pedoman, Pembentukan, Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Wilayah Kotamadya Kabupaten , Keceamatan dan Kelurahandi
Propinsi81
DKI
Jakarta. Usul pembentukkan, pemekaran, penghapusan dan penggabunganwilayah
yang sudah memenuhi persyratanyang
dapat diproseslebih laniut
dengan ketentuan yang berlahu.Pembentukan
dan
pemekaranwilayah
dapatdilakukan
berciasarkankriteria
sebagai berikut:a.
Tersedianya potensi wilayah.b.
Terciptanya i<odisi budaya yang konduktif.c.
Teruiptanyaiumlah penduduk yang memadai.d.
Teniapatnya wilayah yang memadai.e. Pertimbangan lain yang memungkinkan
terselenggaranya pemerintahan peningkatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.Cara
pengukurandan penilaian kriteria
pemekaranwilayah sama dengan
syarat pengukurandan penilaian
pembentukanwilayah. Usul
pembentukkanwilayah
yang sudah memenuhi persyaratan dapat diproseslebih lanjut
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Prosedur dalam pembentukkan Kelurahan menurut perundang-undangan yang berlaku harus melalui tahapan sebagai berikut:
a) Adanya
kemauanpolitik dari
Pernerintahan Daerahdan
masyarakat yang bersangkutan;b)
Pembentukkan kelurahan disampaikan oleh Camat kepada Walikotamadya;c) Mempcrhatikan usul Camat, Walikotamadya
memproseslebih lanjut
usultersebut dengan
mengadakanpenelitian lapangan oleh Tim
Koordinasi PengembanganWilayah Kotamadya yang hasilnya menjadi
rekomendasi kepada Walikotamadya;d) Berdasarkan hasil rekomendasi
sebagaimanadimaksud pada huruf
c, Walikotamadya mengusulkan kepada Gubernur PropinsiDKI
Jakarta;e)
Dengan mempertahatikan usulan Walikotamadya, Gubernur memproses lebihlanjut dan dapat menugaskan Tim Koordinasi
Pengembangan Wilayah melakukan peninjauan lapanganyang hasilnya menjadi
bahan rekomendasi kepada Gubernur;0 Apabila Gubernur menyetujui usul dimaksud, maka
keputusan Gubernur PropinsiDKI
Jakarta segera diterbitkan.Prosedur peniekaran kelurahan sama Cengan prosedur pembentukkan Kelurahan.
Untuk
kelancaran proses pembentukkan, pemekaran, perrghapusan dan penggabungan Wilayah Kotamadya, Kecamatan dan Kelurahan baru pembiayaan yang diperlukan dibebankanpada APBD Propinsi DKI Jakarta. Dalam proses pembentukan,
pemekaran, penghapusan dan penggabungan wilayah termasuk juga perubahan nama wilayah.2.1l.
Pengalaman Pembentukan Daerahdi
NegaraLain
Sub bab
ini
berisikan berbagai pengalaman pembentukan daerah(baik
penggabungan maupun pemekaran)di
negaralain
yang ditemukan diberbagai literatur. Karena ruang penulisan yang tidak tersedia banyak, maka hanya beberapa negara yang akan dijadikancontohnya. Untuk wilayah Asia,
Jepangdan Yordania menjadi contohnya,
untuk wilayah Eropa yang dijadikan contoh adalah Hungaria, Slovakia, Polandia, dan Latvia,dan untuk wilayah Afrika,
contohnya adalahZimbabwe,
Sudan, Rwanda. Maroko.Tunisia. dan
Afrika
Selatan.2.1
l.i.
.Iepangr8Sejarah reformasi pemerintahzur daerah
di
Jepang hanya mencatat terdapatnya proses penggabungan (amalgamation) pemerintahan ciaei'ahdi tingkat kota
(municipaliiesy), diniairamunicipalilies
tersebut dapat berupacity (kota
besar),town (kota kecil),
danvillage
(desa). Terdapattiga
periode besar dalam proses penggabungan pemerintahan daerah,yaitu
periodeMeiji
(ai,taratahun
1883-1898), periode Showa (antara tahun 1950-1960), dan periode setelah tahun 1961. Penggabungan pemerintahan daerah dalamperiode Meiji dan Showa umumnya yang terjadi adalah berupa
kombinasi (combinations), yaitu beberapakota
dengan ukuran yang sama bergabung membntuk suatu kesatuan baru. Sedangkan dalam periode setelahtahun
1961, penggabungannyaadalah berupa
aneksasi(annexation), dimana
beberapa daerahtown dan
village bergabung dengan kota besar yang beradadi
sekitarnya.i8 Disarikan dari Masaru Mabuchi (2001), Municipal Amalgamation in Japan, The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank, Washington, D.C., USA
B3
Pada awal periode
Meiji,
municipalilies umumnya berupa village yang terbentuk secaraalarni dan
berukurankecil. Dari 71.497
municipalilies,50.00Odi
antaranya hanyamerniliki
kurangdari
100 rumah. Tahun 1887, pemerintahanMeiji
menetapkan sistcnr otcrnonrilokal
dengan memberlakukan undang-undang tentang OtoritasLokal (Local Authority Law).
PemerintahanMeiji menilai bahwa municipalilies memiliki
ukuranyang terlalu kecil terkait dengan
pendelegasiantugas dan
{'ungsinya, misalnya mendirikan dan mengelola sekolah dasar, mengumpulkan pajak, dan registrasi alamat pendudukdi
wilaya-hnya. Pemerintah menyatakanbahwa rnunicipalifies
seharusnyaterdiri dari minimal
300-500rumah untuk dapat
menjalankan tugasdan
fungsinya secara mandiri. Dengan dasar tersebut, maka yang terjadi adalah penggabuangan antar pemerintahan daerah. Penggabungan tersebutberjalan
secara massive,dan jumlah
pemerintahanmunicipalities
berkurangmenjadi
14.289di tahun 1898 atau
hanyatinggal
seperlima darijumlah
municipalities sebclum diberlakukannya LocqlAuthority
Lav,.
Tabel2.l4Jumlah
Municipaliry di Jepang Tahun 1883-19951883 1898
l90g
1922 1930 L940 1945 1950 1955t9
48
6l 9l
109
178
205 235 488
12,194 1,173 1,167 1,242
1,528
1,706 1,797 1,862 1,833
59,284 13,068 11,220 10,982 10,292 9,614 8,518 8,364 2,885
71,497 14,289 12,448 12.3t5 11,929 11,498 10,520 10,461 5,206
1960 1965 1970 1975 1980 r985 1990 r995
555
560 564 643 646 601
651
663
1,922 2,005 2,427 1,974 I,991 2,001
2,001
1,994
i,049
827 689 640 618 652 6015s7
3,526 3,392 3,280 3,257 1 ?55 3,254
?
?5i
3.214 Sumber: Mehuchi, 2001
Penggabungan pemerintahan
municipalities dilakukan
secara besar-besaran dalam periodeMeiji
dengan alasan bahwa municipalilies dapat berkontibusi daiam mendukung tugas penting dan utamadari
pemerintahanMeiji, yaitu
memodernisasi negara Jepangdi
bawah slogan"Rich
Nation. StrongArmy".
Penggabungan municipalities dilakukantidak hanya untuk
mereformasidan
merasionalisasi organisasi pemerintahan serta mewujudkanotonomi lokal,
namunjuga untuk
memperkuatmunicipaiities
sebagai dasar kekuatan negara selainjuga
memperkuatmunicipalfties sendiri
(Shimaet'
al..l95S). Untuk
tujuan tersebut,municipalilies
ditugaskanuntuk
melakukan pendaftaran keluarga untuk kepentingan pengumpulan pajak.danwajib militer. Untuk
memperbaikikemampuan municipalities yang kecil dalani menjalankan tugasnya,
pemerintah mendorong penggabunganvillage yang kecil.
Penggabungandalam periode Meiji
berkontribusi terhadap penyederhanaan hubungan keuangan antar municipalities. Dalam penggabungan,juga diijinkan untuk dilakukannya rasionalisasi terhadap
sistem anggaran dan akuntansi dari village yang kecil.Setelah Perang Dunia (PD)
II,
Jepang mengalami reformasi dalampolitik,
ekonomi, dansosial.
Hu'oungan antara pemerintahpusat dan
pemerintah daerahjuga
mengalamiperubahan. Pemerintah Jepang berusaha memperkuat
otonomi lokal
dengan kebi.iakanB5
mendemokratisasi
politik
masyarakatnya.Dalam tahun 1949, misi Shoup
meneliti hubungan antara pusat dan daerahdi
Jepang, dan menyimpulkan bahwa kewenangan pemerintahan harus diredistribusi dalam berbagai tingkat pemerintahan. Selainitu,.jika
municipalilles menemukan kesulitan dalam meryalankan tugasnya secara efisien, makanmnicipalitles
tersebut harus bergabung denganmunicipalities
yanglebih
marnpudi
sekitarnya.
Pemerintah pusat kemudian
mendirikan
ResearchCouncil on Local Ariminisiration
paciaakhir tahun 1949 untuk menindaklanjuti
rekomendasidari misi Shoup
dan menyusunaktifitas
pemerintahanmunicipalities yeng
disesuaikandengan
aktifitas keseharian masyarakatnya,seperti dalam hal operasi sekolah dasar dan
sekolah menengah pertama,polisi,
fasilitas tempat sampah dan sanitasi, dan pengamanan s,sialuntuk
perbaikan terhadap masyarakatmiskin dan
perawatananak.
Setelah setahun berjalan, lembaga tersebut melaporkan bahwajumlah
penduduk sebesar g.000 orang seharusnya menjadi ukuranminimum
bagi municipalities.Hal ini
di4asari oleh alasanbahwa jika municipalities berpenduduk kurang dari s.000 orang,
pemerintahmunicipalilies tidak
mampu mengelola sekolah menengah pertama.yang
merupakan tugas paling penting bagi municipalities setelahpD II.
Proses penggabungan
municipalities kembali berlanjut dengan
massive se.iak Januaril95l '
Undang-undang untuk mendorong dilakukannya penggabungantown
dan village .irrga diberlakukan pada tahuni953.
Undang-undangini tidak
berlakulagi
pada tahun 1956, dandiganti
dengan undang-undang yang mendorong pembentukan municipality barrr yang berlaku sampai denganJuni
1961. Semua ukuran khusus diterapkan hanyauntuk lov'n
danwilloge
karena hanyamunicipalities
berukurankecil yang
didorong untuk digabung. Jumlah municipalities berhasil dikurangidari
10.461 pada tahun 1950 menjadi 3.526 pada tahun 1960.Penggabungan
dalam periode Showa ditujukan untuk
memperkuatotonomi
lokal.Pemerintah menyimpulkan bahwa hampir semua
municipalities
yangadaterlalu
keciluntuk melaksanakan otonominya dan mencapai keefisienan.
penggabungan dipertimbangkan sebagai syarat perlu (necessary condition) bagi pelaksanaan kebijakan desentralisasi.Untuk
merealisasikanhal tersebut, selain dengan
memberlakukan undang-undang,pemerintah
lepangjuga mendirikan Headquarter for
promotingMu n i c i p a I A m a I ga ma t i o
n
dalam ti n gkatan kabinetnya.Sanra dengan periode
Meiji,
tou,n danvillage
yangkecil
menjadi target utama bagi proses penggabungandalarn periode Showa.
Penggabungandalam periode Meiji
clilakukanuntuk
memperkuat negara, sedangkandalam
periode Shorva adalah untuk memperkuatotonomi
pemerintahan daerah. Walaupun keduanyamemiliki
orientasi yang berbeda, namun kcduanyamemiliki
tujuanakhir
yang samayaitu
meningkatkan kualitas dan efi siensi penyelenggaraan pemerintahan daerah'proses penggabun gan
municipalities di
Jepangdalam
periode Showa dapat berjalan dengan baik, dikarenakan:'
kepemimpinan nasional Yang kuat;.
pemberian insentif berupa tambahankursi
yanglebih
banyak bagi parapolitisi
apabilaiumlah penduduknya lebih dari 500.000 orang (lihatTabel2.3);
.
pemberian insentif keuangan untuk penggabun gan municipalities,yaitu
berupa(i) fbrmula
khusus dalam alokasi dana transfernya yang menjamintidak
akanlebih kecil
darijumlah total
yangditerima municipaliries
sebelum bergabung;dan (ii) ijin untuk
melakukanpinjaman yang lebih
besardari
standar yang seharusnya untukmeningkatkan
anggaran bagi municipalifies hasil dari proses penggabungan; dan'
efek domino yang ditimbulkan dari penggabungan daerah cukup baik dirasakan'ciari pusat kota ke wilayah pinggiran kota, dan pada akhirnya ke
wilayahpedesaan di sekitarnYa.
Dari tahun 196l
sampai dengan 1992, tetdapat 231 kasus penggabungan, dimana 80 persennya diklasifikasikan sebagai aneksasi. Tujuan utama dari penggabungan tersebut adalahmemfasilitasi aktifitas ekonomi
dengan membuat bataswilayah administratif
konsisten dengan aktifitas sosial dan ekonomi. Contohnya dala,n penyediaan pelayanan transportasi yang menghubungkan antara pusat dan pinggiranwilayah,
penggabungandapat mengurangi transaksi biaya yang cukup besar (misal: biaya
perijinanpembangunan rel kereta api, dan lain-lain).
87
Tabel2.l5 Jumlah Kursi
Dewan Daerah< 2.000 2.000 - 4.99e 5.000 - 9.999
10.000
-
19.999 20.000-
49.999 50.000-
149.999 150.000-
199.999 200.000-299.999
300.000-
499.999 500.000-
sr9.999 520.000-
s39.999 540.000-
s59.999tambahan 20.000
penaudiit
> 740.000
t2 t6
22 26 30 36 4A
44 48 52
56 60
tamba-han 4 kursi 100
Sumber:
Mabuchi,200I
Dalam periode
setelahtahun
1961, penggabunganjuga ditujukan untuk
mendorong tercapainya pertumbuhan yang cukuptinggi.
Dalam periode tahun 1960-an, pemerintah Jepang membuat kerangka peraturan dan program,baik
nasional maupun daerah untuk mendorong pembiayaan dan investasipublik
dalam kawasan industri baru, sumber dayaair, transportasi,
pelabuhan,dan infrastruktur industri. Municipalities
diharapkan berkerjasamadengan pemerintah pusat dalam
mengembangkaninvestasi
industridengm
menyediakan kebijakan penurunanpajak
perusahaan dan berbagai kebijakan ispsentiflainnya.
Dengandemikian,
dapatdisimpulkan
bahwa penggabungan dalarn periode setelahtahun
1961lebih
berorientasi pacia pembangunan ekonomike
depan' tlengan tetap meningkatkan efr siensi penyelenggaraan pemerintahan daerah'proses penggabungan antar pemerintahan municipalities
di
Jepang bukanlahhal
yangmudah. Perlu perdebatan panjang antara kelompok pro dan kontra
terhadap penggabungar tersebut,yang
diaspirasikanmelalui partai politik, walikota'
anggotaciewan, warga. cian organisasi ekonomi daerah.
Penciapatbahwa
penggabungan municipalitie,r akan berdampak positif terhadap efisiensi penyelenggaraan pemerintahanditerima
secara luas, namtln umumnyajuga
dipercaya bahwa penggabungan tersebut berdampak negatif terhadap kehidupan berdemokrasi.Hayashi
(1995)
melakukan analisa terhadap hubungan antara pengeluaranper
kapitalokal dan jumlah penduduk dengan menggunakan data cross-secion
3.259municipalities
pada tahunl99l
untuk melihat bahwa ukuranoptimal bagi
pemerintah daerahdi
Jepang bisa ditentukan. Hipotesanya adalah bahwa kurva biaya akan menurun sampai pada ukurair tertentu, dan selanjutnya meningkat setelah meleu'ati ukuran yangoptirnal. Dia
menemukan hubunganyang
berbentukkurva U, yang
dapat diartikan adanya peningkatan efisiensi sampai pada ukuran yang optimal pada pemerintah daerah' dan penurunan e{isiensi setelahmelawaiti
ukuranoptimal
tersebut'Dari hasil
analisaterhadap data yang digunakan,
nilai
minimum daritotal
pengeluaran per kapita adalah sebesar +28g.657 , dan ukuran optimal jumlah penduduknya adalah I I 5. I 09 orang. Hasilini
meriunjukkan bahwa municipalifiesdi
Jepangmemiliki
ukuran yanglebih kecil
dari ukuran optimal tersenut, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat kesempatan yang cukup besar untuk dilakukannya penggabungan antar muni c i p al i t i e s.Dampak negatif dari
penggabungan terghadap kehidupan berdemokrasi dirarenakan penggabungan akan menghiiangkan rasa identitas warga, destruksi terhadap hubunganantar kelompok
masyarakat,dan
penurunankontrol
demokrasi terhadap pemerintah daerahnya.Semakin kecil ukuran unit politik, maka semakin besar
kemampuan warganyauntuk
mempengaruhikebijakan publik.
Pengaruhwarga di wilayah
yangmemiliki jumlah
penduduk 5.000 orangmemiliki
pengaruhyang lebih
besarl0 kali
lipat
dibandingkanwarga yang tinggal di wilayah
dengan penduduk50'000
ofang' Sehingga penggabunganjustru
dapat membuat lemahnyakontrol
demokrasi warga terhadap urusan publik.B9 2.11.2 Beberapa Negara
di
EropaleUmumnya,
negara-negaradi Eropa Barat dan Eropa Utara mengalami
penurunan.iumlah pemerintah
ciaerahnyadalam periode
pertengahanakhir abad ke-20
yangdimotori oleh
masing-masing pemerintah pusatnya.Lebih dari tiga
perempatjumlah
pemerintah daerah dihapuskan, sepertidi
Swedia, Denmark, Inggris Raya, perancis, dan Swis. Sedangkan pemekaran wilayah hanya terjadidi
ltalia.Pada awal tahun 1970-an, negara-negara
di
Eropa Tengah dan EropaTimur
umumnya.iuga melakukan
penggabunganterhadap
pemerintah-pemerintahdaerahnya.
Hal tersebut dilakukan karena terinspirasi oleh pemikirantraditional
reform dan merupakanhal yang sangat dipercaya oleh para pimpinan komunis yang
berkuasa dalam menciptakan economies o./' scale.Di
Polandia, proses penggabungandilakukan
pada tahun 1973 yang menjadikanjumlah
municipalilres menurun dari 4.000 menjadi2.400.
Di
Hungaria.jumlah
municipalities-nya berkurang dari 3.021 pada tahun 1962 menjadi 1.364 padatahun
1988.Di
Republik Ceko, penggabunganjuga
dilakukandari I1.45g
padatahun 1950 meniadi 4.104
paCatahun
1988. Penggabungan municipalitie.sdi Slovakia
meniadiicanjumlali municipalities
berkurangdari 3.344 pada tahun
1950 menjadi 2-694 pada tahun 1989. Jumlah municipatitiesdi
Bulgariajuga
menurun dari 2.178 padatahun
1949 menjadi 273 padatahun
1987, dan menurunkembali
menjadi 262 pada tahun 2000.Awal tahun
1990-an, beberapa diantara negara tersebut mengalami proses pemekaran pemerintah daerah yang dimungkinkan sebagai reaksi kekecewaan atas hasil dari proses 'penggabunganyang dilakukan
padatahun
1970-an.Di
H,:ngaria, proses,pemekaran menjadikanjumlah municipalitles
meningkat drastis menjadi 3.155 padatahun
1991, 3.133 pada tahun 1992,dan3.l77
pada tahun 2002, sedangkanjumlah municipalities
di, Republik Ceko meningkat hampir50
persen dandi
Slovakia meningkatlebih dari
20' persen'Jumlah municipalities di Polandia meningkat dan 2.400 pada tahun lg73
menjadi 2.420 padatahun
1991, 2.481 pada tahun 1995, dan 2.489 pada tahun 2000.Pada
tahun
1993,Kroasia memiliki
120municipalities
dan meningkatmenjadi
643municipalities
padatahun l998.Walaupun demikian, masih terdapat negara
yang melakukan penggabungan terhadapmunicipalities-nya,
diantaranyaBulgaria, Latvia,
D Disarikan dari bukunya Pawel Swiani ewicz, Ed. (2002), Consolidotion or Fragmentation? The size of Local Government in Central and Eastern Europe, Local Government and Public Service Reform Initiative, open Society Institute (oSl), Budapes! Hungary dan william F. Fox dan Tami Gurley (z00sl, Will consolidation Improve Sub-Nationol Government?,The University of Tennessee, US
Yugoslavia,
dan Lithuania. Di pihak lain,
terdapatjuga
negara-negarayang tidak
mengalami perubahan dalamjumlah
municipalities-nya, misalnya Macedonia,Albatria'
Siovenia, <ian Rumania.Dilihat
dari segijumlah
penduduk,hampir l0
persen municipalitiesdi
Republik Ceko dan lebih dari 4 persen municipalitiesdi
Slovakia hanyamemiliki
penduduk kurang dari 100 trrang.Municipalilies
dengan penduduk kurangdari
500 orangdi
Republik Ceko .iumlahnya sekitar 60 persen,di
Slovakialebih
dari 40 persen, dandi
Hungaria- sekitar15
persen.Kondisi
kontrasnya,Bulgaria, Inggris, Lithuania, Yugoslavia'
Sweciia'Denmark, Albania, clan Polandia tidak memiliki municipalilies
dengan penduduk kurangdari
1.000 orang, dan hanya sedikit municipalilies dengan penduduk kurang dai2.000 orang. Ukuran municipalities yang
besar(lebih dari
10.000penduduk) di
Lithuania dan Yugoslavia mencapai 90 persen, hampir 67 persendi
Bulgaria' 33 persendi
polandia, kurangdari 5
persendi
Estonia dan Hungaria, danlebih sedikit dari
2 persendi
Republik Ceko dan Slovakia.Negara yang mengalami pemekaran pemerintahan daerahnya dengan massive (seperti
Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria) menjadi isu yang cukup hangat
untuk diperdebatkanoleh para akademisi dan politisi.
Szabo(1991)
menyatakan bahwa pemerintahan daerah yangkecil
(kurangdari
100 penduduk)tidak
dapat menyediakan pelayanan yangbaik
dan mengalami kesulitan dalam proses desentralisasi. Selain itu.pemekaran
wilayah juga dapat meningkatkan
permasalahanyang terkait
denganspillovers (Blazekm
1gg4).Horvath (1995) dan Bucek
(1,997) dengan melakukan analisis terhaCap. penyediaan pelayananpublik
menyimpulkan bahwa pemerintah daeah yangkecil memiliki
kelemahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dikarenakan keterbatasan kapasitasnya dalam menangani pembangunan infrastruktur secara umum di wilavahnva.91,
Penduduk
dan Ukuran Geografis
Pemerintah DaerahTabel 2.16
Rata-rata Jumlah Beberapa Negaradi
Eropa",
1I
Inggris
RayaLithuania
YugoslaviaBulgaria
SwediaBelanda
Denmark
Belgia Polandia Macedonia SloveniaAlbania Finlandia
Norwegia Kroasia RomaniaItalia
0
0
0
0
0
0.2 0
"26.128 66.300 49.500 35.000 30.040 27.559 18.760 16.960 15.561
15.800 10.300 10.000 10.870 9.000 8.800 7.600 7.105
s33 r.166 487
432 1.595
30 150
n.a.
130
209 106
77 730 710 104
8l
38 n.a.
0
a rili r
3
0
5
4 J
2
24
18.
20.
Estonia
Jerman
SpanyolUkraina Latvia Austria Hungaria
SwisSlovakia
Perancis
58
77 27.
28.
Republik Ceko
80n.a.
5.7t3
5.575 4.930 4.600 4.300 3.421 3.242 2.468 1.900 r.659 1.580 19. n.a.
6l
n.a.
60 56
I
l5
32
n.a.
t7
l3l5
n.a.
24.
25.
26.
21. n.a.
22.
23.
32
54
Sumber; swianiewick, 2002 dan Fox dan Gurley, 2005
Di Hungaria, hampir seluruh
masyarakattidak rnenjadikan proses
penggabungansebagai sebuah alternatif solusi untuk pembangunan daerahnya. Hal
tersebutdikarenakan masyarakat
masih
mengingat pembangunan daerahdi
masalalu
yangcenderung lamban dalam pemerintahan daerah yang besar.
Bagi
pemerintahan daerah yangkecil,
permasalahan penyediaan pelayananpublik
yang membutuhkan economiesof scale dapat
dipecahkandengan adanya kerjasama antar
pemerintahan daerah' Ketentuan tentang kerjasama antar daerah tersebut arfiaralain:a)
terdiri dari minimum 3 dan maksimum 4 pemerintahan daerah;93
b)
jumlah penduduk totalnya harus lebih besar dari 2.000 orang; danc)
bidang yang dapat dikerjasamakan antara lain sekolah dasar, pengamanan sosial, pemeliiiaraanjaian
daerah, penanganan sampah, pcngembangan tempat tinggal, dan pemetaan.Sampai tahun 1999, terda-pat lebih
dari
250jenis
kerjasama antar daerahdi
Hungaria.Walaupun demikian, ketidakpuasan terhadap penyediaan pelayanan publik
juga
muncul akibat ketidakpastian wilayah yang akan ditetapkan.Pemekaran municipalities
di
Slovakia menjadikanjumlah
municipaliries meningkat dari 2.694 padatahun
1989 menjadi 2.825 padatahun
1991 dan2.883
pada tahun 2000melalui
pemberlakukanMunicipal Law sejak tahun 1990. Dalam
undang-undangtersebut dinyatakan
ba.hwareferendum lokal dan
kesepakatanantara
beberapamunicipalities cukup untuk ditentukannya pemekaran atau
penggabungan antarmunicipalities. Hampir sama dengan Hungaria, pemekaran marak terjadi
karena ketidakpuasan dengansistem di masa lalu yang
cenderungsentralistis di
bawahpemerintahan sosialis. Pada
tahun 2001,
amandemendilakukan
terhadapMunicipol Law,
danefektif mulai I
Januari 2002 pemekaran dapat dilakukanjika
dan hanyajika
wilayah municipalities yangbaru merupakan wilayah yang terpadu,memiliki
sedikitnya 3.000 penduduk, dantidak memiliki unit
yang dikerjasamakan dengan municipalities induknya. Sehingga. municipalitiestidak
dapat dimekarkan apabila terdapat investasi besar yang telah dikeluarkan untuk penyediaan pelayananpublik
bagi seiuruh wilayah municipalilies sebelum dimekarkan. Halini
dilakukan untuk stabilisasi struktur wilayahtempat tinggal dan
mencegah tcrbentulinyamunicipalities' yang kecil ke
depannya.Seperti
di
Hungariajuga,
penggabungan antarmunicipalilies
bukan merupakan solusi dantidak
disukai dalam perubahan struktur pemerintahandi
Slovakia.Kerjama
antar-municipalities, misal salah satu
diantaranya kerjasamadalam kantor
pemerintahan bersama, dapat dijadikan sebagai solusinya.Stabilisasi
di
Slovakiadiperlukan
agarmunicipalities
dapat menyediakan keseluruhan kemampuannyadalam
memenuhikewajibannya. Ukuran minimal 3.000
penduduk dirasa merupakanukuran yang
hanyacukup untuk
menyelenggarakan pemerintahan saja. Jumlah penduduk 5.000 orangjuga didiskusikan
sebagaiukuran minimal
agarpemerintahan dapat berjalan dengan baik, dimana selain memiliki
kapasitasadministratif yang cukup,
municipalities
juga dapat menutupi anggarannya sendiri. DiSlovakia, apabila
jumlah
penduduk municipalitiesdi wilayah village
berjumlah 5.000 orang, maka statu s municipalities akanditingkatkan dati village ke city'iv{asalah pemekaran
di
Siovakia menjacli penting terkait dengan kcbijakan desentralisasi yang diterapkan. Dalam desentralisasi, selainmunicipalilies
harus meiaksanakan tugasdasar
pemerintahann)/a,municipalities juga harus melaksanakan tugas
yangdidelegasikan
oleh pemerintah
pusatnya.Dengan
mempertimbangkan kemampuan municipaiitie.s-nya 169 rvilayah nodalmunicipalilies
direkomendasikan sebagai pusat adrninistrasi dasardaiam
penyelenggaraan desentraiisasi, denganwilayah cakupal 2.883 municipalities. Cakupan penyediaan pelayanan publik akan
ditetapkanberdasarkan
efisiensi ekonomi tialam
peni'ediannya.Jika tetap rnenjadikan
2'883municipalitic.r
sebagai penyelenegara desentralisasi, makadimungkinkan tujuan
dari desentralisasi pemerintahan daerahdalam
penyediaan pelayananpublik tidak
akan tercapai.Di
Poiandia, ukuran pemerintahan daerahtidak
menjadi perdebatan dan permasalahan yang serius. permasalahan menjadi penting hanya terjadi padatingkat
lokal, khususnyadi
masyarakat yangterdiri
clari kotakecil
dan beberapa desa yang mengelilinginya.Di
beberapa pemerintahan daerah, yang biasa terjadi adalah
konflik
antara anggota dewandari
perkotaandan
pedesaanyang
memperdebatkan masalahalokasi
pengeluaran pemerintahan daerah. apakahlebih besar di lingkungan
perkotaanatau
pedesaan' Sehingga.tidak
mengherankan apabilaterjadi
pemekaranwilayah
pada periode tahun 1990-an.iiamun, hal yang tidak dapat dihindarkan adalah meningkatnya
biaya penyediaan barangpublik
setelah. proses pemekarandilakukan' Untuk
mengatasi haltersebut, banyak municipalities melakukan kerjasama dengan municipalitie's
di sekitarnya.Kerjasama
antarmunicipalities
tersebut mengalami peningkatandari
50 jenis pada tahunl99l
menjadil9l
jenis pada Januari tahun200I.
Pada