• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penataan Wilayah di Provinsi DKI Jakarta

Dalam dokumen ,ftr'! (Halaman 80-102)

IDENTIFIKASI MASALAH, RUANG LINGKUP, TUJUAN DAN KEGUNAAN, METODE, TIN.IAUAN LITERATUR'

S. Apakahregulasijelas,konsisten'komprehensifdanmudahdiakses?

3) Ilagian wilayah kerja sebagainrana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c adalah wilayah yang dapat dijangkau dalam meningkaikan pelayanan dan pembinaan

2.10. Penataan Wilayah di Provinsi DKI Jakarta

c)

Kalimantan. Nusa Tenggara, Maluku dan Papua paling sedikit 7 Km2.

3) Ilagian wilayah kerja

sebagainrana dimaksud

dalam

Pasal

4 huruf c

adalah

79

Dalam

Keputusan

Gubemur

tersebut,

yang

dimaksudkan Pengembangan Wilayah adalair

tindakan

pembentukan. pemekaran, penghapusan

dan

penggabungan wilayah KotarnatlyaiKabupaien

,

Kecamatan

dan Kclurahan.

Sementara

itu,

pembentukan

wilayah adalah pemberian status pada wilayah terlentu dalarn

wilayah

Kotarnadya/Kabupaten

,

Kecamatan dan Kelurahan yang telah ada. Pemekaran wilayah adalah pemecahan KotamaciyaiKabupaten

,

Kecamatan dan Kelurahan

menjadi

lebih dari satu dari Kotamadya/Kabupaten , Kecamatan dan Kelurahan;

Pengembangan

wilayah yang meliputi

Pembentukkan, Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan

Wilayah bertujuan untuk

rneningkatkan Kesejahteraan masyarakat dengan:

a)

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat;

b)

mempercepat pertumbuhan kehidupan demokrasi;

c)

mempercepat pelaksanaan pembangunan wilayah;

d)

mempercepat pengelolaan potensi wilayah;

e)

memperpendek lentang kendali pemerintahan

Pembentukkan. usul pemekaran, penghapusan dan penggabungan

wilayah

berdasarkan syarat - syarat sebagai berikr.rt.

a)

Tersedianya potensi wilaYah;

b)

Terciptanya kondisi sosial budaya yang konduktif;

c)

Tercapainyajumlah penduduk yang memadai;

d)

Terdapatnya luas wilayah yang rrremadai;

e)

P:rtimbangan lain yang memungkinkan'

Potensi w'ilayah merupakkan cerminan tersedianya sumber daya yang

dapat

dimanfaatkan

dan dapat

memberikan sumbangan terhadap penerimaan daerah serta kesejahteraan masyarakat yang dapat di ukur dari tersedianya:

a)

Sarana dan prasarana ekonomi;

b)

Sarana dan prasarana pendidikan;

c)

Sarana dan prasarana kesehatan;

d)

Sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi;

e)

Sarana dan prasarana ketenagakerjaan;

l)

Pertimbangan lain yang memungkinkan terbentuknya wilayah.

Kondisi

sosial budaya merupakan cerminan yang berkaitan dengan struktur sosial pola budaya yang dapai di ukur dari:

a.

Terdapatnya tempat peribadatan yang memadai , baik jumlah maupun mutunya;

b.

Terdapatnya tempat kegiatan institusi sosial dan budaya

yang konduktif

sebagai penunjang kesaiuan dan persatuan masyarakat;

c.

Terdapatnya sarana olahraga yang memadai;

d.

Dinamika hubungan masyarakat yang kondusif.

Kriteria

jumlah

pcnduduk merupakan batasan jumlah penduduk suatu wilayah, seperti:

r

Kotamadya Maksimal

:

1.500.000

jiwa

(300.000

KK)

dan

Minimal :

1.000.000

jiwa

(200.000

KK)

r

Kecamatan Maksimal

:

150.000

jiwa

(30.000

KK)

dan

Minimal :

100.000

jiwa

(20.000

KK)

.

Kelurahan

Maksimal :

40.000

jiwa

(8.000

KK)

dan

Minimal :

25.000

jiwa

(s.000

KK)

Luas wilayah merupakan wilayah yang berimbang dengan jumlah

penduduk.

Pertimbangan lain merupakan pertimbangan untuk penyelenggaraan pemerintahan yang dapat diukur dari:

a.

Keamanan dan ketertiban ;

b.

Ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan

(gedung

kantor,peralatan dan perlengkapan kantor);

c.

Rentang kendali pemerintahan;

b.

Kotamadya yang akan dibentuk minimal terdiri dari 5 Kecamatan;

c.

Kecamatan yang akan dibentuk minimal terdiri dari 4 Kelurahan.

Cara pengukuran dan penilaian persyaratan pembentukkan wilayah

dilakukan

berdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum

dalam lampiran

Keputusan Gubernur

Nomor 3

Tahun 2004 tentang Pedoman, Pembentukan, Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Wilayah Kotamadya Kabupaten , Keceamatan dan Kelurahan

di

Propinsi

81

DKI

Jakarta. Usul pembentukkan, pemekaran, penghapusan dan penggabungan

wilayah

yang sudah memenuhi persyratan

yang

dapat diproses

lebih laniut

dengan ketentuan yang berlahu.

Pembentukan

dan

pemekaran

wilayah

dapat

dilakukan

berciasarkan

kriteria

sebagai berikut:

a.

Tersedianya potensi wilayah.

b.

Terciptanya i<odisi budaya yang konduktif.

c.

Teruiptanyaiumlah penduduk yang memadai.

d.

Teniapatnya wilayah yang memadai.

e. Pertimbangan lain yang memungkinkan

terselenggaranya pemerintahan peningkatan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Cara

pengukuran

dan penilaian kriteria

pemekaran

wilayah sama dengan

syarat pengukuran

dan penilaian

pembentukan

wilayah. Usul

pembentukkan

wilayah

yang sudah memenuhi persyaratan dapat diproses

lebih lanjut

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Prosedur dalam pembentukkan Kelurahan menurut perundang-undangan yang berlaku harus melalui tahapan sebagai berikut:

a) Adanya

kemauan

politik dari

Pernerintahan Daerah

dan

masyarakat yang bersangkutan;

b)

Pembentukkan kelurahan disampaikan oleh Camat kepada Walikotamadya;

c) Mempcrhatikan usul Camat, Walikotamadya

memproses

lebih lanjut

usul

tersebut dengan

mengadakan

penelitian lapangan oleh Tim

Koordinasi Pengembangan

Wilayah Kotamadya yang hasilnya menjadi

rekomendasi kepada Walikotamadya;

d) Berdasarkan hasil rekomendasi

sebagaimana

dimaksud pada huruf

c, Walikotamadya mengusulkan kepada Gubernur Propinsi

DKI

Jakarta;

e)

Dengan mempertahatikan usulan Walikotamadya, Gubernur memproses lebih

lanjut dan dapat menugaskan Tim Koordinasi

Pengembangan Wilayah melakukan peninjauan lapangan

yang hasilnya menjadi

bahan rekomendasi kepada Gubernur;

0 Apabila Gubernur menyetujui usul dimaksud, maka

keputusan Gubernur Propinsi

DKI

Jakarta segera diterbitkan.

Prosedur peniekaran kelurahan sama Cengan prosedur pembentukkan Kelurahan.

Untuk

kelancaran proses pembentukkan, pemekaran, perrghapusan dan penggabungan Wilayah Kotamadya, Kecamatan dan Kelurahan baru pembiayaan yang diperlukan dibebankan

pada APBD Propinsi DKI Jakarta. Dalam proses pembentukan,

pemekaran, penghapusan dan penggabungan wilayah termasuk juga perubahan nama wilayah.

2.1l.

Pengalaman Pembentukan Daerah

di

Negara

Lain

Sub bab

ini

berisikan berbagai pengalaman pembentukan daerah

(baik

penggabungan maupun pemekaran)

di

negara

lain

yang ditemukan diberbagai literatur. Karena ruang penulisan yang tidak tersedia banyak, maka hanya beberapa negara yang akan dijadikan

contohnya. Untuk wilayah Asia,

Jepang

dan Yordania menjadi contohnya,

untuk wilayah Eropa yang dijadikan contoh adalah Hungaria, Slovakia, Polandia, dan Latvia,

dan untuk wilayah Afrika,

contohnya adalah

Zimbabwe,

Sudan, Rwanda. Maroko.

Tunisia. dan

Afrika

Selatan.

2.1

l.i.

.Iepangr8

Sejarah reformasi pemerintahzur daerah

di

Jepang hanya mencatat terdapatnya proses penggabungan (amalgamation) pemerintahan ciaei'ah

di tingkat kota

(municipaliiesy), diniaira

municipalilies

tersebut dapat berupa

city (kota

besar),

town (kota kecil),

dan

village

(desa). Terdapat

tiga

periode besar dalam proses penggabungan pemerintahan daerah,

yaitu

periode

Meiji

(ai,tara

tahun

1883-1898), periode Showa (antara tahun 1950-1960), dan periode setelah tahun 1961. Penggabungan pemerintahan daerah dalam

periode Meiji dan Showa umumnya yang terjadi adalah berupa

kombinasi (combinations), yaitu beberapa

kota

dengan ukuran yang sama bergabung membntuk suatu kesatuan baru. Sedangkan dalam periode setelah

tahun

1961, penggabungannya

adalah berupa

aneksasi

(annexation), dimana

beberapa daerah

town dan

village bergabung dengan kota besar yang berada

di

sekitarnya.

i8 Disarikan dari Masaru Mabuchi (2001), Municipal Amalgamation in Japan, The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank, Washington, D.C., USA

B3

Pada awal periode

Meiji,

municipalilies umumnya berupa village yang terbentuk secara

alarni dan

berukuran

kecil. Dari 71.497

municipalilies,50.00O

di

antaranya hanya

merniliki

kurang

dari

100 rumah. Tahun 1887, pemerintahan

Meiji

menetapkan sistcnr otcrnonri

lokal

dengan memberlakukan undang-undang tentang Otoritas

Lokal (Local Authority Law).

Pemerintahan

Meiji menilai bahwa municipalilies memiliki

ukuran

yang terlalu kecil terkait dengan

pendelegasian

tugas dan

{'ungsinya, misalnya mendirikan dan mengelola sekolah dasar, mengumpulkan pajak, dan registrasi alamat penduduk

di

wilaya-hnya. Pemerintah menyatakan

bahwa rnunicipalifies

seharusnya

terdiri dari minimal

300-500

rumah untuk dapat

menjalankan tugas

dan

fungsinya secara mandiri. Dengan dasar tersebut, maka yang terjadi adalah penggabuangan antar pemerintahan daerah. Penggabungan tersebut

berjalan

secara massive,

dan jumlah

pemerintahan

municipalities

berkurang

menjadi

14.289

di tahun 1898 atau

hanya

tinggal

seperlima dari

jumlah

municipalities sebclum diberlakukannya Locql

Authority

Lav,.

Tabel2.l4Jumlah

Municipaliry di Jepang Tahun 1883-1995

1883 1898

l90g

1922 1930 L940 1945 1950 1955

t9

48

6l 9l

109

178

205 235 488

12,194 1,173 1,167 1,242

1,528

1,706 1,797 1,862 1,833

59,284 13,068 11,220 10,982 10,292 9,614 8,518 8,364 2,885

71,497 14,289 12,448 12.3t5 11,929 11,498 10,520 10,461 5,206

1960 1965 1970 1975 1980 r985 1990 r995

555

560 564 643 646 601

651

663

1,922 2,005 2,427 1,974 I,991 2,001

2,001

1,994

i,049

827 689 640 618 652 601

5s7

3,526 3,392 3,280 3,257 1 ?55 3,254

?

?5i

3.214 Sumber: Mehuchi, 2001

Penggabungan pemerintahan

municipalities dilakukan

secara besar-besaran dalam periode

Meiji

dengan alasan bahwa municipalilies dapat berkontibusi daiam mendukung tugas penting dan utama

dari

pemerintahan

Meiji, yaitu

memodernisasi negara Jepang

di

bawah slogan

"Rich

Nation. Strong

Army".

Penggabungan municipalities dilakukan

tidak hanya untuk

mereformasi

dan

merasionalisasi organisasi pemerintahan serta mewujudkan

otonomi lokal,

namun

juga untuk

memperkuat

municipaiities

sebagai dasar kekuatan negara selain

juga

memperkuat

municipalfties sendiri

(Shima

et'

al..

l95S). Untuk

tujuan tersebut,

municipalilies

ditugaskan

untuk

melakukan pendaftaran keluarga untuk kepentingan pengumpulan pajak.dan

wajib militer. Untuk

memperbaiki

kemampuan municipalities yang kecil dalani menjalankan tugasnya,

pemerintah mendorong penggabungan

village yang kecil.

Penggabungan

dalam periode Meiji

berkontribusi terhadap penyederhanaan hubungan keuangan antar municipalities. Dalam penggabungan,

juga diijinkan untuk dilakukannya rasionalisasi terhadap

sistem anggaran dan akuntansi dari village yang kecil.

Setelah Perang Dunia (PD)

II,

Jepang mengalami reformasi dalam

politik,

ekonomi, dan

sosial.

Hu'oungan antara pemerintah

pusat dan

pemerintah daerah

juga

mengalami

perubahan. Pemerintah Jepang berusaha memperkuat

otonomi lokal

dengan kebi.iakan

B5

mendemokratisasi

politik

masyarakatnya.

Dalam tahun 1949, misi Shoup

meneliti hubungan antara pusat dan daerah

di

Jepang, dan menyimpulkan bahwa kewenangan pemerintahan harus diredistribusi dalam berbagai tingkat pemerintahan. Selain

itu,.jika

municipalilles menemukan kesulitan dalam meryalankan tugasnya secara efisien, maka

nmnicipalitles

tersebut harus bergabung dengan

municipalities

yang

lebih

marnpu

di

sekitarnya.

Pemerintah pusat kemudian

mendirikan

Research

Council on Local Ariminisiration

pacia

akhir tahun 1949 untuk menindaklanjuti

rekomendasi

dari misi Shoup

dan menyusun

aktifitas

pemerintahan

municipalities yeng

disesuaikan

dengan

aktifitas keseharian masyarakatnya,

seperti dalam hal operasi sekolah dasar dan

sekolah menengah pertama,

polisi,

fasilitas tempat sampah dan sanitasi, dan pengamanan s,sial

untuk

perbaikan terhadap masyarakat

miskin dan

perawatan

anak.

Setelah setahun berjalan, lembaga tersebut melaporkan bahwa

jumlah

penduduk sebesar g.000 orang seharusnya menjadi ukuran

minimum

bagi municipalities.

Hal ini

di4asari oleh alasan

bahwa jika municipalities berpenduduk kurang dari s.000 orang,

pemerintah

municipalilies tidak

mampu mengelola sekolah menengah pertama.

yang

merupakan tugas paling penting bagi municipalities setelah

pD II.

Proses penggabungan

municipalities kembali berlanjut dengan

massive se.iak Januari

l95l '

Undang-undang untuk mendorong dilakukannya penggabungan

town

dan village .irrga diberlakukan pada tahun

i953.

Undang-undang

ini tidak

berlaku

lagi

pada tahun 1956, dan

diganti

dengan undang-undang yang mendorong pembentukan municipality barrr yang berlaku sampai dengan

Juni

1961. Semua ukuran khusus diterapkan hanya

untuk lov'n

dan

willoge

karena hanya

municipalities

berukuran

kecil yang

didorong untuk digabung. Jumlah municipalities berhasil dikurangi

dari

10.461 pada tahun 1950 menjadi 3.526 pada tahun 1960.

Penggabungan

dalam periode Showa ditujukan untuk

memperkuat

otonomi

lokal.

Pemerintah menyimpulkan bahwa hampir semua

municipalities

yangada

terlalu

kecil

untuk melaksanakan otonominya dan mencapai keefisienan.

penggabungan dipertimbangkan sebagai syarat perlu (necessary condition) bagi pelaksanaan kebijakan desentralisasi.

Untuk

merealisasikan

hal tersebut, selain dengan

memberlakukan undang-undang,

pemerintah

lepang

juga mendirikan Headquarter for

promoting

Mu n i c i p a I A m a I ga ma t i o

n

dalam ti n gkatan kabinetnya.

Sanra dengan periode

Meiji,

tou,n dan

village

yang

kecil

menjadi target utama bagi proses penggabungan

dalarn periode Showa.

Penggabungan

dalam periode Meiji

clilakukan

untuk

memperkuat negara, sedangkan

dalam

periode Shorva adalah untuk memperkuat

otonomi

pemerintahan daerah. Walaupun keduanya

memiliki

orientasi yang berbeda, namun kcduanya

memiliki

tujuan

akhir

yang sama

yaitu

meningkatkan kualitas dan efi siensi penyelenggaraan pemerintahan daerah'

proses penggabun gan

municipalities di

Jepang

dalam

periode Showa dapat berjalan dengan baik, dikarenakan:

'

kepemimpinan nasional Yang kuat;

.

pemberian insentif berupa tambahan

kursi

yang

lebih

banyak bagi para

politisi

apabilaiumlah penduduknya lebih dari 500.000 orang (lihat

Tabel2.3);

.

pemberian insentif keuangan untuk penggabun gan municipalities,

yaitu

berupa

(i) fbrmula

khusus dalam alokasi dana transfernya yang menjamin

tidak

akan

lebih kecil

dari

jumlah total

yang

diterima municipaliries

sebelum bergabung;

dan (ii) ijin untuk

melakukan

pinjaman yang lebih

besar

dari

standar yang seharusnya untuk

meningkatkan

anggaran bagi municipalifies hasil dari proses penggabungan; dan

'

efek domino yang ditimbulkan dari penggabungan daerah cukup baik dirasakan'

ciari pusat kota ke wilayah pinggiran kota, dan pada akhirnya ke

wilayah

pedesaan di sekitarnYa.

Dari tahun 196l

sampai dengan 1992, tetdapat 231 kasus penggabungan, dimana 80 persennya diklasifikasikan sebagai aneksasi. Tujuan utama dari penggabungan tersebut adalah

memfasilitasi aktifitas ekonomi

dengan membuat batas

wilayah administratif

konsisten dengan aktifitas sosial dan ekonomi. Contohnya dala,n penyediaan pelayanan transportasi yang menghubungkan antara pusat dan pinggiran

wilayah,

penggabungan

dapat mengurangi transaksi biaya yang cukup besar (misal: biaya

perijinan

pembangunan rel kereta api, dan lain-lain).

87

Tabel2.l5 Jumlah Kursi

Dewan Daerah

< 2.000 2.000 - 4.99e 5.000 - 9.999

10.000

-

19.999 20.000

-

49.999 50.000

-

149.999 150.000

-

199.999 200.000

-299.999

300.000

-

499.999 500.000

-

sr9.999 520.000

-

s39.999 540.000

-

s59.999

tambahan 20.000

penaudiit

> 740.000

t2 t6

22 26 30 36 4A

44 48 52

56 60

tamba-han 4 kursi 100

Sumber:

Mabuchi,200I

Dalam periode

setelah

tahun

1961, penggabungan

juga ditujukan untuk

mendorong tercapainya pertumbuhan yang cukup

tinggi.

Dalam periode tahun 1960-an, pemerintah Jepang membuat kerangka peraturan dan program,

baik

nasional maupun daerah untuk mendorong pembiayaan dan investasi

publik

dalam kawasan industri baru, sumber daya

air, transportasi,

pelabuhan,

dan infrastruktur industri. Municipalities

diharapkan berkerjasama

dengan pemerintah pusat dalam

mengembangkan

investasi

industri

dengm

menyediakan kebijakan penurunan

pajak

perusahaan dan berbagai kebijakan ispsentif

lainnya.

Dengan

demikian,

dapat

disimpulkan

bahwa penggabungan dalarn periode setelah

tahun

1961

lebih

berorientasi pacia pembangunan ekonomi

ke

depan' tlengan tetap meningkatkan efr siensi penyelenggaraan pemerintahan daerah'

proses penggabungan antar pemerintahan municipalities

di

Jepang bukanlah

hal

yang

mudah. Perlu perdebatan panjang antara kelompok pro dan kontra

terhadap penggabungar tersebut,

yang

diaspirasikan

melalui partai politik, walikota'

anggota

ciewan, warga. cian organisasi ekonomi daerah.

Penciapat

bahwa

penggabungan municipalitie,r akan berdampak positif terhadap efisiensi penyelenggaraan pemerintahan

diterima

secara luas, namtln umumnya

juga

dipercaya bahwa penggabungan tersebut berdampak negatif terhadap kehidupan berdemokrasi.

Hayashi

(1995)

melakukan analisa terhadap hubungan antara pengeluaran

per

kapita

lokal dan jumlah penduduk dengan menggunakan data cross-secion

3.259

municipalities

pada tahun

l99l

untuk melihat bahwa ukuran

optimal bagi

pemerintah daerah

di

Jepang bisa ditentukan. Hipotesanya adalah bahwa kurva biaya akan menurun sampai pada ukurair tertentu, dan selanjutnya meningkat setelah meleu'ati ukuran yang

optirnal. Dia

menemukan hubungan

yang

berbentuk

kurva U, yang

dapat diartikan adanya peningkatan efisiensi sampai pada ukuran yang optimal pada pemerintah daerah' dan penurunan e{isiensi setelah

melawaiti

ukuran

optimal

tersebut'

Dari hasil

analisa

terhadap data yang digunakan,

nilai

minimum dari

total

pengeluaran per kapita adalah sebesar +28g.657 , dan ukuran optimal jumlah penduduknya adalah I I 5. I 09 orang. Hasil

ini

meriunjukkan bahwa municipalifies

di

Jepang

memiliki

ukuran yang

lebih kecil

dari ukuran optimal tersenut, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat kesempatan yang cukup besar untuk dilakukannya penggabungan antar muni c i p al i t i e s.

Dampak negatif dari

penggabungan terghadap kehidupan berdemokrasi dirarenakan penggabungan akan menghiiangkan rasa identitas warga, destruksi terhadap hubungan

antar kelompok

masyarakat,

dan

penurunan

kontrol

demokrasi terhadap pemerintah daerahnya.

Semakin kecil ukuran unit politik, maka semakin besar

kemampuan warganya

untuk

mempengaruhi

kebijakan publik.

Pengaruh

warga di wilayah

yang

memiliki jumlah

penduduk 5.000 orang

memiliki

pengaruh

yang lebih

besar

l0 kali

lipat

dibandingkan

warga yang tinggal di wilayah

dengan penduduk

50'000

ofang' Sehingga penggabungan

justru

dapat membuat lemahnya

kontrol

demokrasi warga terhadap urusan publik.

B9 2.11.2 Beberapa Negara

di

Eropale

Umumnya,

negara-negara

di Eropa Barat dan Eropa Utara mengalami

penurunan

.iumlah pemerintah

ciaerahnya

dalam periode

pertengahan

akhir abad ke-20

yang

dimotori oleh

masing-masing pemerintah pusatnya.

Lebih dari tiga

perempat

jumlah

pemerintah daerah dihapuskan, seperti

di

Swedia, Denmark, Inggris Raya, perancis, dan Swis. Sedangkan pemekaran wilayah hanya terjadi

di

ltalia.

Pada awal tahun 1970-an, negara-negara

di

Eropa Tengah dan Eropa

Timur

umumnya

.iuga melakukan

penggabungan

terhadap

pemerintah-pemerintah

daerahnya.

Hal tersebut dilakukan karena terinspirasi oleh pemikiran

traditional

reform dan merupakan

hal yang sangat dipercaya oleh para pimpinan komunis yang

berkuasa dalam menciptakan economies o./' scale.

Di

Polandia, proses penggabungan

dilakukan

pada tahun 1973 yang menjadikan

jumlah

municipalilres menurun dari 4.000 menjadi

2.400.

Di

Hungaria.

jumlah

municipalities-nya berkurang dari 3.021 pada tahun 1962 menjadi 1.364 pada

tahun

1988.

Di

Republik Ceko, penggabungan

juga

dilakukan

dari I1.45g

pada

tahun 1950 meniadi 4.104

paCa

tahun

1988. Penggabungan municipalitie.s

di Slovakia

meniadiican

jumlali municipalities

berkurang

dari 3.344 pada tahun

1950 menjadi 2-694 pada tahun 1989. Jumlah municipatities

di

Bulgaria

juga

menurun dari 2.178 pada

tahun

1949 menjadi 273 pada

tahun

1987, dan menurun

kembali

menjadi 262 pada tahun 2000.

Awal tahun

1990-an, beberapa diantara negara tersebut mengalami proses pemekaran pemerintah daerah yang dimungkinkan sebagai reaksi kekecewaan atas hasil dari proses 'penggabungan

yang dilakukan

pada

tahun

1970-an.

Di

H,:ngaria, proses,pemekaran menjadikan

jumlah municipalitles

meningkat drastis menjadi 3.155 pada

tahun

1991, 3.133 pada tahun 1992,

dan3.l77

pada tahun 2002, sedangkan

jumlah municipalities

di, Republik Ceko meningkat hampir

50

persen dan

di

Slovakia meningkat

lebih dari

20' persen'

Jumlah municipalities di Polandia meningkat dan 2.400 pada tahun lg73

menjadi 2.420 pada

tahun

1991, 2.481 pada tahun 1995, dan 2.489 pada tahun 2000.

Pada

tahun

1993,

Kroasia memiliki

120

municipalities

dan meningkat

menjadi

643

municipalities

pada

tahun l998.Walaupun demikian, masih terdapat negara

yang melakukan penggabungan terhadap

municipalities-nya,

diantaranya

Bulgaria, Latvia,

D Disarikan dari bukunya Pawel Swiani ewicz, Ed. (2002), Consolidotion or Fragmentation? The size of Local Government in Central and Eastern Europe, Local Government and Public Service Reform Initiative, open Society Institute (oSl), Budapes! Hungary dan william F. Fox dan Tami Gurley (z00sl, Will consolidation Improve Sub-Nationol Government?,The University of Tennessee, US

Yugoslavia,

dan Lithuania. Di pihak lain,

terdapat

juga

negara-negara

yang tidak

mengalami perubahan dalam

jumlah

municipalities-nya, misalnya Macedonia,

Albatria'

Siovenia, <ian Rumania.

Dilihat

dari segi

jumlah

penduduk,

hampir l0

persen municipalities

di

Republik Ceko dan lebih dari 4 persen municipalities

di

Slovakia hanya

memiliki

penduduk kurang dari 100 trrang.

Municipalilies

dengan penduduk kurang

dari

500 orang

di

Republik Ceko .iumlahnya sekitar 60 persen,

di

Slovakia

lebih

dari 40 persen, dan

di

Hungaria- sekitar

15

persen.

Kondisi

kontrasnya,

Bulgaria, Inggris, Lithuania, Yugoslavia'

Sweciia'

Denmark, Albania, clan Polandia tidak memiliki municipalilies

dengan penduduk kurang

dari

1.000 orang, dan hanya sedikit municipalilies dengan penduduk kurang dai

2.000 orang. Ukuran municipalities yang

besar

(lebih dari

10.000

penduduk) di

Lithuania dan Yugoslavia mencapai 90 persen, hampir 67 persen

di

Bulgaria' 33 persen

di

polandia, kurang

dari 5

persen

di

Estonia dan Hungaria, dan

lebih sedikit dari

2 persen

di

Republik Ceko dan Slovakia.

Negara yang mengalami pemekaran pemerintahan daerahnya dengan massive (seperti

Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria) menjadi isu yang cukup hangat

untuk diperdebatkan

oleh para akademisi dan politisi.

Szabo

(1991)

menyatakan bahwa pemerintahan daerah yang

kecil

(kurang

dari

100 penduduk)

tidak

dapat menyediakan pelayanan yang

baik

dan mengalami kesulitan dalam proses desentralisasi. Selain itu.

pemekaran

wilayah juga dapat meningkatkan

permasalahan

yang terkait

dengan

spillovers (Blazekm

1gg4).

Horvath (1995) dan Bucek

(1,997) dengan melakukan analisis terhaCap. penyediaan pelayanan

publik

menyimpulkan bahwa pemerintah daeah yang

kecil memiliki

kelemahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dikarenakan keterbatasan kapasitasnya dalam menangani pembangunan infrastruktur secara umum di wilavahnva.

91,

Penduduk

dan Ukuran Geografis

Pemerintah Daerah

Tabel 2.16

Rata-rata Jumlah Beberapa Negara

di

Eropa

",

1I

Inggris

Raya

Lithuania

Yugoslavia

Bulgaria

Swedia

Belanda

Denmark

Belgia Polandia Macedonia Slovenia

Albania Finlandia

Norwegia Kroasia Romania

Italia

0

0

0

0

0

0.2 0

"26.128 66.300 49.500 35.000 30.040 27.559 18.760 16.960 15.561

15.800 10.300 10.000 10.870 9.000 8.800 7.600 7.105

s33 r.166 487

432 1.595

30 150

n.a.

130

209 106

77 730 710 104

8l

38 n.a.

0

a rili r

3

0

5

4 J

2

24

18.

20.

Estonia

Jerman

Spanyol

Ukraina Latvia Austria Hungaria

Swis

Slovakia

Perancis

58

77 27.

28.

Republik Ceko

80

n.a.

5.7t3

5.575 4.930 4.600 4.300 3.421 3.242 2.468 1.900 r.659 1.580 19. n.a.

6l

n.a.

60 56

I

l5

32

n.a.

t7

l3

l5

n.a.

24.

25.

26.

21. n.a.

22.

23.

32

54

Sumber; swianiewick, 2002 dan Fox dan Gurley, 2005

Di Hungaria, hampir seluruh

masyarakat

tidak rnenjadikan proses

penggabungan

sebagai sebuah alternatif solusi untuk pembangunan daerahnya. Hal

tersebut

dikarenakan masyarakat

masih

mengingat pembangunan daerah

di

masa

lalu

yang

cenderung lamban dalam pemerintahan daerah yang besar.

Bagi

pemerintahan daerah yang

kecil,

permasalahan penyediaan pelayanan

publik

yang membutuhkan economies

of scale dapat

dipecahkan

dengan adanya kerjasama antar

pemerintahan daerah' Ketentuan tentang kerjasama antar daerah tersebut arfiaralain:

a)

terdiri dari minimum 3 dan maksimum 4 pemerintahan daerah;

93

b)

jumlah penduduk totalnya harus lebih besar dari 2.000 orang; dan

c)

bidang yang dapat dikerjasamakan antara lain sekolah dasar, pengamanan sosial, pemeliiiaraan

jaian

daerah, penanganan sampah, pcngembangan tempat tinggal, dan pemetaan.

Sampai tahun 1999, terda-pat lebih

dari

250

jenis

kerjasama antar daerah

di

Hungaria.

Walaupun demikian, ketidakpuasan terhadap penyediaan pelayanan publik

juga

muncul akibat ketidakpastian wilayah yang akan ditetapkan.

Pemekaran municipalities

di

Slovakia menjadikan

jumlah

municipaliries meningkat dari 2.694 pada

tahun

1989 menjadi 2.825 pada

tahun

1991 dan

2.883

pada tahun 2000

melalui

pemberlakukan

Municipal Law sejak tahun 1990. Dalam

undang-undang

tersebut dinyatakan

ba.hwa

referendum lokal dan

kesepakatan

antara

beberapa

municipalities cukup untuk ditentukannya pemekaran atau

penggabungan antar

municipalities. Hampir sama dengan Hungaria, pemekaran marak terjadi

karena ketidakpuasan dengan

sistem di masa lalu yang

cenderung

sentralistis di

bawah

pemerintahan sosialis. Pada

tahun 2001,

amandemen

dilakukan

terhadap

Municipol Law,

dan

efektif mulai I

Januari 2002 pemekaran dapat dilakukan

jika

dan hanya

jika

wilayah municipalities yangbaru merupakan wilayah yang terpadu,

memiliki

sedikitnya 3.000 penduduk, dan

tidak memiliki unit

yang dikerjasamakan dengan municipalities induknya. Sehingga. municipalities

tidak

dapat dimekarkan apabila terdapat investasi besar yang telah dikeluarkan untuk penyediaan pelayanan

publik

bagi seiuruh wilayah municipalilies sebelum dimekarkan. Hal

ini

dilakukan untuk stabilisasi struktur wilayah

tempat tinggal dan

mencegah tcrbentulinya

municipalities' yang kecil ke

depannya.

Seperti

di

Hungaria

juga,

penggabungan antar

municipalilies

bukan merupakan solusi dan

tidak

disukai dalam perubahan struktur pemerintahan

di

Slovakia.

Kerjama

antar-

municipalities, misal salah satu

diantaranya kerjasama

dalam kantor

pemerintahan bersama, dapat dijadikan sebagai solusinya.

Stabilisasi

di

Slovakia

diperlukan

agar

municipalities

dapat menyediakan keseluruhan kemampuannya

dalam

memenuhi

kewajibannya. Ukuran minimal 3.000

penduduk dirasa merupakan

ukuran yang

hanya

cukup untuk

menyelenggarakan pemerintahan saja. Jumlah penduduk 5.000 orang

juga didiskusikan

sebagai

ukuran minimal

agar

pemerintahan dapat berjalan dengan baik, dimana selain memiliki

kapasitas

administratif yang cukup,

municipalities

juga dapat menutupi anggarannya sendiri. Di

Slovakia, apabila

jumlah

penduduk municipalities

di wilayah village

berjumlah 5.000 orang, maka statu s municipalities akanditingkatkan dati village ke city'

iv{asalah pemekaran

di

Siovakia menjacli penting terkait dengan kcbijakan desentralisasi yang diterapkan. Dalam desentralisasi, selain

municipalilies

harus meiaksanakan tugas

dasar

pemerintahann)/a,

municipalities juga harus melaksanakan tugas

yang

didelegasikan

oleh pemerintah

pusatnya.

Dengan

mempertimbangkan kemampuan municipaiitie.s-nya 169 rvilayah nodal

municipalilies

direkomendasikan sebagai pusat adrninistrasi dasar

daiam

penyelenggaraan desentraiisasi, dengan

wilayah cakupal 2.883 municipalities. Cakupan penyediaan pelayanan publik akan

ditetapkan

berdasarkan

efisiensi ekonomi tialam

peni'ediannya.

Jika tetap rnenjadikan

2'883

municipalitic.r

sebagai penyelenegara desentralisasi, maka

dimungkinkan tujuan

dari desentralisasi pemerintahan daerah

dalam

penyediaan pelayanan

publik tidak

akan tercapai.

Di

Poiandia, ukuran pemerintahan daerah

tidak

menjadi perdebatan dan permasalahan yang serius. permasalahan menjadi penting hanya terjadi pada

tingkat

lokal, khususnya

di

masyarakat yang

terdiri

clari kota

kecil

dan beberapa desa yang mengelilinginya.

Di

beberapa pemerintahan daerah, yang biasa terjadi adalah

konflik

antara anggota dewan

dari

perkotaan

dan

pedesaan

yang

memperdebatkan masalah

alokasi

pengeluaran pemerintahan daerah. apakah

lebih besar di lingkungan

perkotaan

atau

pedesaan' Sehingga.

tidak

mengherankan apabila

terjadi

pemekaran

wilayah

pada periode tahun 1990-an.

iiamun, hal yang tidak dapat dihindarkan adalah meningkatnya

biaya penyediaan barang

publik

setelah. proses pemekaran

dilakukan' Untuk

mengatasi hal

tersebut, banyak municipalities melakukan kerjasama dengan municipalitie's

di sekitarnya.

Kerjasama

antar

municipalities

tersebut mengalami peningkatan

dari

50 jenis pada tahun

l99l

menjadi

l9l

jenis pada Januari tahun

200I.

Pada

awal tahun 1998, Latvia

mendorong pemerintah daerahnya

untuk

melakukan penggabungan dengan

intensif dari 542 menjadi 102.

Rata-rata

jumlah

penduduk pemerintah daerah diharapkan dapat meningkat, dari 4.300 orang menjadi 23.000 orang'

Tujuan

dilakukannya penggabungan tersebut adalah

untuk

meningkatkan kemampuan pemerintahan daerah dalam membangun ekonomi dan menyediakan pelayanan

publik

yang berkualitas bagi

masyarakatnya.

Pemerintah pusat akan memberikan

grant tambahan sebesar 5 persen dari anggaran pemerintah daerah yang bersangkutan apabila pemerintah daerah bersedia melakukan penggabungan dengan cepat,

yang

kemudian

Dalam dokumen ,ftr'! (Halaman 80-102)