• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penatalaksanaan Urtikaria Akut Di Rongga Mulut

Dalam dokumen Vol. 8 No. 1 Februari 2014 (Halaman 96-99)

(Management Of Acute Urticaria In Oral Cavity)

Herlambang Prehananto*, Dwi Setianingtyas**

*PPDGS Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya

**Poli Oral Medicine Departemen Gigi dan Mulut Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan Surabaya

ABSTRACT

Background: Acute urticaria is a skin response with clear boundaries , occurs in the superficial epidermis . Acute urticaria suffered by patients who are less than 6 weeks after exposure alergren . Acute urticaria is a reaction caused by systemically circulating antigen , thus causing a good reaction in the mucosa and skin . In lesions that appear on the oral mucosa commonly referred to as allergic stomatitis.Purpose: This case report discusses the management of acute urticaria in the oral cavity with the etiology of inhalant allergens .Case:

Male patients aged 43 years suffering from acute urticaria was referred to the Oral Diagnosis poly Naval Hospital dr. Ramelan Surabaya. On clinical examination of the oral cavity obtained on oral mucosal erosions and papules on the dorsal tongue , and teeth are suspected of focal infection. Case Management: Patients referred for release denture and tooth decay to be treated as well as the scaling due to focal infection is suspected.Conclusion:Giving betadine gargle to avoid secondary infections in the oral cavity .

Keywords: Allergic stomatitis, urticaria, acute.

Correspondence: Herlambang Prehananto, PPDGS Oral Pathology,Faculty of Dentistry, Airlangga University, Prof DR Moestopo No.47, Surabaya, Phone 031-5030255 ext123, 08562508507, Email: [email protected]

LAPORAN KASUS

Vol. 8 No. 1 Februari 2014 ISSN : 1907-5987

93 ABSTRAK

Latar belakang: Urtikaria akut adalah respons kulit dengan batas yang jelas, terjadi pada epidermis superfisial. Urtikaria akut diderita oleh pasien yang kurang dari 6 minggu setelah paparan alergren.Urtikaria akut merupakan reaksi yang terjadi akibat antigen yang beredar secara sistemik, sehingga menyebabkan reaksi baik pada mukosa dan kulit.Pada lesi yang muncul di mukosa mulut biasa disebut dengan stomatitis alergika. Tujuan: Laporan kasus ini membahas tentang penatalaksanaan urtikaria akut pada rongga mulut dengan etiologi alergen dari inhalan. Kasus: Pasien laki-laki berusia 43 tahun menderita urtikaria akut dirujuk ke poli Oral Diagnosis Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan Surabaya. Pada pemeriksaan klinis rongga mulut didapatkan erosi pada mukosa rongga mulut dan papula pada dorsal lidah, serta terdapat gigi yang dicurigai menjadi fokal infeksi. Tata laksana kasus: Pasien dirujuk untuk melepaskan gigi tiruan dan gigi berlubang untuk dilakukan perawatan serta scalling karena di curigai sebagai fokal infeksi. Simpulan: Pemberian betadine kumur untuk menghindari infeksi sekunder di rongga mulut.

Kata kunci: Stomatitis alergika, urtikaria, akut.

Korespondensi:Herlambang Prehananto, PPDGS Ilmu Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga, Prof DR Moestopo No.47, Surabaya, Telepon 031-5030255 ext123, 08562508507, Email:[email protected]

PENDAHULUAN

Urtikaria merupakan respons kulit dengan batas yang jelas, terjadi pada epidermis superfisial, berupa urtika, yaitu lesi eritematous dan menonjol (1- 2 mm sampai beberapa cm) yang timbul dan hilang dalam beberapa jam disertai rasa gatal yang hebat. Urtikaria diklasifikasikan menurut lamanya, yaitu urtikaria akut dan urtikaria kronis.1 Urtikaria akut bila bentol kemerahan dengan ukuran yang bervariasi serta gatal, timbul dan tidak lebih dari 6 minggu.2 Sedang urtikaria kronis berlangsung lebih dari atau sama dengan 6 minggu.2,3

Urtikaria akut terjadi pada 15- 20% populasi di Rumah Sakit Dermatologi di Inggris dan setidaknya pernah sekali mengalami serangan urtikaria akut dalam hidupnya.

Diagnosis urtikaria akut dapat ditegakkan berdasar catatan riwayat pasien, anamnesis, dan pemeriksaan klinis. Urtikaria menyebabkan

pembesaran pembuluh darah kapiler disertai peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, sebagian besar cairan plasma melewati endotel dinding pembuluh darah keluar ke jaringan. Hal ini mengakibatkan hipovolaemia yang berarti turunnya tekanan darah secara berlebihan.1,4

Urtikaria akut biasanya menimbulkan rasa gatal yang hebat disertai bercak merah di seluruh tubuh, telapak tangan dan kaki.Timbul rasa panas dan terjadinya ulser pada Rongga Mulut (RM), disertai keluhan pusing, lemah, perasaan tidak enak badan. Bronkospasmus (pengerutan otot bronkus) yang mengakibatkan sesak nafas. Hiperperistaltik yang menyebabkan rasa mual disertai muntah. Kejang otot tubuh karena adanya gangguan pusat syaraf.1

Urtikaria akut dapat menyebabkan munculnya lesi pada permukaan mukosa RM. Reaksi ini dapat terjadi akibat antigen yang beredar secara sistemik, yang

Vol. 8 No. 1 Februari 2014 ISSN : 1907-5987

94 menyebabkan reaksi baik pada mukosa dan kulit. Reaksi antigen-antibodi dapat menyebabkan penyakit klinis pada mulut dan wajah. Jenis anafilatik atau jenis segera ditandai dengan edema seperti misalnya urtikaria.3

KASUS

Pada tanggal 11 November 2013, pasien laki-laki berusia 43 tahun datang ke bagian Oral Medicine Departemen Gigi dan Mulut Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr Ramelan Surabaya atas konsulan dari poli rawat inap kulit dan kelamin dengan keluhan utama gatal diseluruh kulit. Selain itu Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Sp.KK) juga meminta untuk mencari adanya fokal infeksi pada RM.

Pada anamnesis, ternyata awalnya pasien melakukan kegiatan di lapangan yang penuh debu limbah sekitar tempat latihan. Kemudian pasien merasa sesak nafas dan muncul bentol-bentol pada seluruh tubuhnya dan rasa tidak enak pada mukosa RM sejak tanggal 22 Oktober 2013.

Karena rasa gatal yang berlebihan dan merasa berat bila bernafas kemudian pasien berobat ke poli Kulit dan Kelamin RSAL dr. Ramelan Surabaya.

Dokter memberinya obat eritromycin 500mg diminum 3 kali sehari, loratadin diminum sehari sekali, Methyl prednisolon salep digunakan 3 kali sehari 2 oles, antihistamin 3 kali sehari, cimetidin 3 kali sehari, dan dipenhydramin. Kemudian pasien dikonsulkan ke departemen gigi dan mulut, poli THT dan penyakit dalam untuk dilakukan penelusuran penyakit yang mungkin menyertai.

Keadaan umum pasien cukup, Glasgow Coma Scale (GCS) 4 5 6,

tekanan darah 130/80 mmHg, Nadi 84 kali/menit. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi sebelumnya.

Pemeriksaan ekstraoral didapatkan pada seluruh kulit muka dan hampir seluruh tubuh dimulai lengan, kaki, punggung dan dada pasien terdapat papula dan makula, multipel, berwarana merah, berbatas jelas, diameter 2-3 mm, terasa gatal.Pada pemeriksaan kelenjar limfe sub mandibularis, palpasi kanan dan kiri teraba, kenyal, dapat digerakkan, bentuk bulat, ukuran sekitar 1x1x1 cm, dan sakit.

Pemeriksaan intraoral pada regio palatum, nampak erosi, bilateral, multipel, warna merah, berbatas jelas, bentuk irreguler, luas sekitar 3 mm, dan terasa sakit. Pada lidah nampak papula, multipel, bilateral, diameter 1 mm, berbatas jelas, berwarna putih.

Nampak gigi 21 dan 37 hilang, gigi 22 karies gangren pulpa, dan gigi 36 terdapat tumpatan komposit. Secara umum Oral hygene (OH) pasien jelek karena banyak kalkulus dan stain pada seluruh permukaan gigi, hal ini dikarenakan pasien adalah perokok dan seluruh permukaan mukosa RM terasa parestesi.

Pada pemeriksaan penunjang darah lengkap didapatkan Sel Darah Putih (SDP) 20,7 (4,0-10,0 10³/μL), granulosit 18,3 (2,0-7,0 10³/μL), limfosit 7,5 (20,0-40,0 %), granulosit 88,3 (50,0-70,0 %), sel darah merah (SDM) 4,92 (3,50-5,5010³/μL), hemoglobin 15,0 (11,0-16,0 g/dL), hematokrit 45,0 (37,0-54,0 %), SGPT 22 (0-45 U/L), SGOT 25 (0-35 U/L), BUN 12,3 (8,0-23,0 mg/dL), kreatinin 1,4 (0,9-1,5 mg/dL), gula darah acak (GDA) 116 mg/dl, laju endap darah (LED) 35 mm/jam.

Vol. 8 No. 1 Februari 2014 ISSN : 1907-5987

95 TATA LAKSANA KASUS

Kunjungan I (11 November 2013)

Dalam dokumen Vol. 8 No. 1 Februari 2014 (Halaman 96-99)