C. Seks dalam Relasi Sosial-Ekonomi
I. Pendahuluan
17
AJARAN SANGGAMA DALAM DHARMA I Nyoman Ariyoga
STAH NEGERI MPU KUTURAN SINGARAJA Email: [email protected]
ABSTRACT
Copulating philosophical perspectives in ancient manuscripts, is not just to meet biological needs, but to find secrets in copulation itself. Hinduism as a universal religion views sanggama as something that has a portion that can be tolerated, this is evidenced by the existence of texts with nuances of the underlying sexuality that are dhrama. Hinduism in Bali, in accordance with the concept of Catur Purusha Arta, namely Dharma, Artha, Kama, and Moksa. Dharma, Artha, Kama, are the basis for achieving copulation, so that they merge into the holy existence of moksa. Certainly a deep satisfaction if knowledge, feelings and sexual sensations can go hand in hand. His heart was learned, his ethics was carried out, sexual pleasure and satisfaction were enjoyed.
Keywords: Sanggama, Dharma, tradition ABSTRAK
Sanggama perspektif filosofis dalam naskah-naskah kuno, bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis, melainkan menemukan rahasia dalam sanggama itu sendiri. Agama Hindu sebagai agama yang universal memandang sanggama itu sebagai hal yang memiliki porsi yang bisa ditoleransi, ini terbukti dengan adanya teks-teks yang bernuansa seksualitas yang mendasarinya adalah dhrama. Agama Hindu di Bali, sesuai dengan konsep Catur Purusha Arta yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Dharma, Artha, Kama, adalah dasar pencapaian sanggama, sehingga melebur dirinya dalam eksistensi yang suci yaitu moksa. Tentu menjadi kepuasan yang mendalam jika pengetahuan, perasaan dan sensasi seksual bisa berjalan seiring. Tattwanya dipelajari, etikanya dijalankan, kenikmatan dan kepuasan seks itu dinikmati.
Kata Kunci: Sanggama, Dharma, tradisi
memandang seks sebagai hal yang tabu, Dalam artian seks diberikan prioritas untuk dipelajari secara teoritis. Sehingga dalam perkembangan jiwa dan kebutuhan hidup masyarakatnya secara biologis dapat terpenuhi serta meminimalisir adanya kekeliruan- kekeliruan yang menyebabkan kejahatan seksualitas. Berbeda halnya dengan masyarakat timur yang memandang seks itu sebagai hal yang kurang baik dipelajari apalagi sampai menyentuh ranah pendidikan di suatu lembaga pendidikan. Karena dianggap sebagai pemicu adanya keingintahuan yang menyebaban adanya dampak negatif, sehingga terjadi kejahatan seksualitas. Sebagaimana Sara (2005:12) menyatakan secara garis besar pandangan-pandangan tersebut secara tidak langsung menolak seks itu sebagai kebutuhan biologis yang memang pada dasarnya harus terpenuhi. Namun sebagaian masyarakat yang memahami, bahwa seks itu adalah sebuah teori dan praktek yang lebih mendalamyang bertujuan untuk memuliakan diri serta mengembangkan kasih sayang dengan pasangan hidup sebagai cara untuk menghasilkan keturunan yang cerdas bermatabat.
Membicarakan seks di dalam masyarakat, merupakan sebagai hal yang sangat unik, beberapa orang menganggap bahwa seks itu sebagai hal yang lumrah-lumrah saja, beberapa orang membicarakan seks itu sangat malu-malu apalagi sampai ke arah yang erotis, dan sebagaian orang menganggap seks itu tidak layak diperbincangkan serta tidak ikut dalam perbincangan hal tersebut.
Dari beberapa pengamatan itu dapat ditafsirkan berbagai variasi jiwa seseorang mengartikan seks dan keterlibatanya memenuhi kebutuhan seks itu dengan pasanganya. Sebagaian orang yang menganggap seks itu hal yang lumrah-lumrah saja, mereka adalah jiwa-jiwa yang ingin menggali pemahaman-pemahaman baru dalam seks, dalam artian ingin mengembangkan seks itu tidak hanya sebagai alat pemuas kebutuhan biologis dengan dorongan nafsu birahi, namun lebih menginginkan variasi-variasi baru dalam menyalurkan kasih sayang dengan pasangan. Sehingga puncak dari sanggama itu dapat tercapai. Berbeda halnya dengan seseorang yang memperbincangkan seks dengan malu-malu dapat ditafsirkan orang tersebut mempunyai daya imajinasi tinggi mengenai seks itu sendiri namun untuk mempelajari seks secara teoritis serta mendalam tidak dilakukan karena beranggapan jika sampai ketahuan oleh orang banyak membaca buku-buku tentang seks membuat mentalnya menjadi lemah karena dianggap sebagai orang yang haus seks.
Namun bagi seseorang yang menganggap seks itu hal yang tidak menarik di perbincangkan mungkin dengan alasan tabu atau munafik, bisa saja orang yang demikian menderita kelainan-kelainan seks, dalam artian tidak bisa memberikan kepuasan dengan pasangan dalam berhubungan seks. Adanya keunikan ini menjadi daya tarik dalam memahami seks itu sendiri sebagai sebuah kebutuhan biologis mendasar dari setiap orang.
Ketertarikan terhadap sanggama membuat beberapa penelitain-penelitain dilakukan, baik berupa penelitain lapangan atau penelitan tekstual, sehingga hasil penelitian tersebut dapat dipublikasi ke sebuah artikel, seminar, sarasehan, hingga dijadikan penelitain ilmiah dan lain sebagainya. Penelitain tekstual bernuansa kama tattwa merupakan penelitian yang dilakukan dalam pengkajian teks-teks kuno. Penelitain tersebut berupaya mengali nilai-nilai prinsif disetiap proses sanggama yang ada dalam naskah tersebut. Beberapa peninggalan naskah-naskah kuno yang bernuansa hakekat sanggama dikalangan tradisi Hindu masih sangat populer dijadikan referensi di era industri 4.0. Pengetahuan- pengetahuan yang terkandung di dalamnya sangat mengelitik setiap penikmat pembaca teks-teks tersebut. Bait demi bait hakekat sanggama itu diulas dikupas sehingga pembaca menjadi sangat terinspirasi untuk menjadi seorang laku sanggama dengan pasanganya. Sejatinya naskah-naskah kuno tersebut menguraikan dharma yang dilaksanakan sebagai seorang yang ingin melaukan sanggama, bukan saja sanggama yang diajarkan dalam artian melakukan hubungan fisik, melainkan dharma sebagai seorang yang penuh kasih sayang menjalin hubungan sanggama dengan pasangan hidup, lebih dari itu sanggama dalam tataran sebagai laku suci menemukan ruang kosmik hening sunyi untuk menuju pada kebahagiaan tertinggi.
Sanggama dalam artian filosofis (tattwa) dalam naskah- naskah kuno bukanlah sekedar untuk memenuhi kebutuhan biologis, melainkan menemukan rahasia dalam sanggama itu sendiri. Putra (2006:5) menyatakan walaupun terkadang sanggama itu hanya dipandang sebagai “pemain figuran” yang hanya sekali terlintas dan tidak menunjukan diri lagi dalam ulasan naskah- naskah kuno, dikarenakan rakawi sebagaian besar hidupnya sebagai seorang petapa yang hidupnya menjauhkan diri dari ikatan perkawinan (sukla brahmacari). Sehingga pembahasan sanggama atau seks mendapat porsi yang kurang dari naskah-naskah tattwa lainya.
Agama Hindu sebagai agama yang universal memandang sanggama itu sebagai hal yang memiliki porsi yang bisa di toleransi, ini terbukti dengan adanya teks-teks yang berbau seksualitas.
Seperti Lontar Rsi Sambina, Rahasya Sanggama, maupun Smarakridalaksana. Dijadikan pokok acuan dalam mencapai titik erotis dan puncak kebahagiaan seksual. Toleransi tersebut sejalan sepanjang teks itu selalu dalam sangkar dharma. Perkembangan teks-teks ini sampai sekarang tersimpan dengan baik di tengah- tengah masyarakat, bahkan tidak menutup kemungkinan teks-teks kuno yang bernuansa seksual sudah diungkapkan dari segi filsafatnya (tattwa), etikanya (susila), dan tuntunan seks praktis yang menghantarkan pelakunya pada kepuasan tertinggi yang tersaji luas dalam teks-teks kuno beserta tattwanya.
Agama Hindu di Bali, sesuai dengan konsep Catur Purusha Arta yaitu dharma, artha, kama, dan moksa. Konsep ini jika dijabarkan bagaikan lokomotif penggerak kereta, dharma adalah relnya, artha adalah bahan bakarnya, dan kama adalah tenaga penggeraknya. Sehingga ketika kereta dalam keadaan siap dan semua komponenya sudah bisa beroperasi sesuai dengan fungsinya barulah kereta tersebut dapat mencapai tujuan menuju pulau harapan. Dimana dalam keadaan tersebut melebur dirinya dalam eksistensi yang suci yaitu moksa. Dharma adalah kecerdasan dan itelegensi, apapun yang dilaksanakan seseorang semua berawal dari kecerdasan untuk berpikir baik dan buruk. Dalam arti yang sangat mengkhusus dharma adalah kebijaksanaan itu sendiri. Artha adalah sarana realisasi yang dimana terdapat modal dasar dalam merealisasikan sesuatu. Tanpa artha banyak yang tidak dapat direalisasikan dengan baik terlebih lagi hal yang bersifat material.
Kama adalah hasrat didalam diri sebagai mesin penggerak dari dharma yang dalam hal ini memfokus pada pengerak hasrat merealisasikan sesuatu yang masih dalam tatanan rel dharma.
Perkawinan adalah dharma itu sendri, artha adalah sarana penunjangnya, kama adalah keinginan menghasilkan keturunan, sedangkan moksa adalah kebahagiaan sejati dari perkawinan tersebut.
Sebagain orang tesesat dan buta dalam melaksanakan sanggama, karena mereka mengesampingkan arti dharma, dan artha bagi kama. Sebagain orang melecehkan arti penting dalam memulai sanggama, mengesampingkan ritus-ritus penting dalam memulai sanggama yang suci itu, mereka hanya teggelam dalam relung nafsu untuk hanya sekedar mengincar kenikmatan semata.
Seks yang suci itu adalah seks yang telah memiliki mata, hati, dan pikiran. Demikian juga nafsu atau kama yang suci itu selalu dalam relung dharma dan artha. Tentu akan menjadi kepuasan yang mendalam jika pengetahuan, perasaan dan sensasi seksual bisa berjalan seiring. Tattwa nya dipelajari, etikanya dijalankan, kenikmatan dan kepuasan seks itu dinikmati. Dalam tulisan ini sangat perlu diulas dengan bijak bagaimana ajaran sanggama dalam dharma, sehinnga tidak adanya bahasan-bahasan yang tabu atau kemunafikan dalam mengartikan sanggama itu sendiri.
II. Pembahasan