BAB III PELAKSANAAN PENGABDIAN
3. Pendampingan dan Bimbingan Agama
3. Pendampingan dan bimbingan agama melalui
merubah sikap seseorang atau suatu kelompok serta dalam mencapai tujuan bersama.71
Agar komunikasi timbal balik dapat berjalan lancar maka model two ways symmetric sangat cocok untuk pengaplikasiannya. Karena model ini lebih berfokus membangun hubungan dan menguntungkan kedua belah pihak melalui komunikasi dua arah timbal balik. Timbal balik yang dimaksud di sini ialah ketika publik bukan sebatas penerima yang pasif lagi tetapi publik juga akan memberikan feedback dan pihak organisasi harus menanggapi feedback mereka.
Komunikasi akan berjalan lancar jika source (sumber) dan receiver (penerima) memiliki ilmu yang sama. Maka dari itu humas juga harus dapat beradaptasi dengan pengetahuan yang dimiliki oleh khalayaknya agar bisa saling memberikan feedback (umpan balik). Feedback menunjukkan pengiriman kembali pesan yang diterima komunikasi kepada komunikator. Feedback adalah esensial bagi humas yang efektif.72
Two ways symmetric menggunakan komunikasi untuk memengaruhi koalisi dominan dan publik untuk menerima kondisi “win-win solution,” yaitu menerima keputusan yang bisa diterima kedua pihak. Dalam prakteknya humas melakukan akomodasi yaitu humas memenuhi kebutuhan organisasi dan publiknya melalui dialog, negosiasi, dan kompromi. Akomodasi juga dapat diartikan sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan.
71 Onong Uchyana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), h. 24.
72 J.W. Londa, “Peran Humas Sebagai Komunikator Pembangunan (Studi di Bagian Humas Kantor Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan),
Penyesuaian ini juga mencakup kemampuan untuk berkolaborasi dengan pihak lain.73
Dalam prakteknya publik memberikan masukan dan akan ditanggapi oleh humas. Masukan yang diberikan bersifat menguntungkan bagi publik sehingga akan didapatkan kepuasan publik. Hanya melalui suatu pemahaman mengenai informasi kepada publik mengenai kebijaksanaan dan kegiatan organisasilah manajemen dapat memperoleh pengertian dan goodwill.74 Komunikasi yang efektif dengan para stakeholder adalah esensial bagi humas yang baik.
Hubungan dengan masyarakat hanya dibina dengan berkomunikasi dengan mereka. Seorang PR harus pandai dalam berkomunikasi. Setiap pesan yang diterima harus ditanggapi dengan baik. Dengan memberikan feedback ke publik yang dapat menguntungkan pihak publik. Feedback yang diberikan berupa tanggapan hingga tindakan yang dapat memecahkan masalah itulah poin penting dari model two ways symmetric.75 Sebuah pendekatan yang sistematis untuk masalah-masalah PR akan melibatkan analisis terhadap situasi, untuk menentukan apa masalah pokok yang sebenarnya. Dalam bahasa sederhananya, two ways symmetric menjelaskan jika lebih baik berbicara dan mendengar dari pada hanya berbicara saja. Praktisi humas lebih mementingkan negosiasiasi dengan publik dibanding mencoba
73 Frazier Moore, Humas : Membanngun Citra dengan Komunikasi, h.
90.
74 Frazier Moore, Humas : Membanngun Citra dengan Komunikasi, h.
85
75 Colin Coulson dan Thomas, Public Relations: Pedoman Praktisi
kekuatan untuk mengubah publik.76 Kebutuhan dan keinginan publik harus segera disikapi dan dipenuhi dengan bertujuan agar publik merasa puas atas pelayanan yang diberikan.
Publik merasa puas akan layanan yang diberikan jika humas memerhatikan hal-hal yang diinginkan dan dibutuhkan dengan cara bagaimana humas melakukan komunikasi, terutama sikap, tata krama dan perilaku.
Kegiatan humas sangat berkaitan dengan membangun hubungan baik organisasi dan publiknya.
Dalam hal ini untuk membangun hubungan baik humas harus dapat berkomunikasi dengan baik. Sama halnya dengan dakwah, penyampaian informasi yang dilakukan oleh seorang humas harus baik dan jelas. Kita sebagai manusia harus mengeluarkan kata-kata yang baik hingga tidak dapat dilupakan sang penerima pesan. Jika dalam humas, paka seorang humas harus berkata yang dapat mempengaruhi segala tindakan, perilaku maupun pola pikir publik ke kebenaran yang ada.
Seperti yang diterangkan dalam Q.S An Nisa’ ayat 63:
َ كِٕىٰۤلو ُ ا
َ نْي ِذ َّ َ لا
َ
َُم ل ْع ي
َ
َُ ٰ للّا
َ ا م
َْيِف َ
َْم ِهِب ْو ُ َ ل ق ُ
َ ْض ِر ْع ا ف َ
َ
َْم ُهْن ع
َ
َْم ُه ْظ ِع و
َ
َ ْ ل ق و ُ
َ
َْم ُه َّ
ل
َ ْيِف َ
َْم ِه ِس فْن ُ ا َ
َ ا ً
ل ْو ق ا ًغْيِل ب ََۢ
َ٦٣
َ
“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka.
Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah
76 Elvinaro Ardianto, “Teori dan Metodologi Penelitian Public Relations”,
Mediator 5, no. 2
mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwa mereka.”77
Sebagai praktisi humas dalam penyampaian pesan ke khalayak harus menggunakan kata-kata yang menyenangkan hati tanpa menyinggu perasaan khalayak. Berisi pesan-pesan yang dapat diingat oleh publik. Informasi yang seperti itu akan lebih mudah membangun hubungan antara organisasi dan publiknya.
Pada Q.S Al-Isra’ ayat 28, berbunyi:
ا َّمِا و
ََّن ض ِر ْعُت َ
َ
َُم ُهْن ع
َ ءۤا غِتْبا َ
َ ة م ْح ر َ
َْن ِِّم َ
َ كِِّب َّر َ
َ ا ه ْو ُج ْر ت
َ
َ ْ ل ق ُ ف
َ
َْم ُه َّ
ل
َ
ا ً ل ْو ق
َ ا ًر ْو ُسْي َّم
َ٢٨
َ
“Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut.”78
Untuk mendapatkan rahmat Allah, dalam penyampaian pesan kita harus berkata tanpa menyinggung perasaan khalayak. Maksud dari lemah lembut yaitu berbicara dengan menggunakan etika dan tata krama.
Sebagaimana dalam Q.S Thaha ayat 44:
ا ل ْو ق ُ ف
َ
َ ه ل
َ ا ً
ل ْو ق اًنِ ِّيَّل َ
َ
َ ه َّ
ل ع َّ
ل
َ
َُر َّ
ك ذ ت ي
َ
َْو ا
َى ٰشْخ ي َ
َ٤٤
َ
77 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Magfirah
(Jakarta: Magfirah Pustaka,
2006), h. 88.
78 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Magfirah (Jakarta: Magfirah Pustaka, 2006), h. 285.
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah- mudahan dia sadar atau takut.”79
Ketika berbicara ke publik dengan santun maka publik juga akan ikut santun. Komunikasi akan berjalan lancar jika komunikator dapat mengerti pesan yang dikirim oleh komunikan. Humas dituntut untuk berkomunikasi dengan bijaksana agar feedback dari publik akan baik bagi organisasinya.
Dari ayat-ayat yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Islam mengajarkan etika dalam berkomunikasi. Tata karma sopan santun adalah poin penting bagi humas ketika menyampaikan informasi agar publik menerima informasi tersebut tanpa penolakan, karena walaupun informasi yang diberikan sangat penting buat publik tetapi cara penyampaian yang dapat menyakiti atau menyinggung perasaan publik hal tersebut akan membuat publik mengabaikan isi dari informasi yang diberikan pihak Humas. Hubungan yang baik akan terbentuk jika dimulai dengan yang baik pula. Etika dalam Islam menuntun agar para praktisi humas dapat menjalankan tugas-tugasnya dalam menyampaikan informasi dengan baik tanpa menyinggung publiknya sehingga terjadi hubungan yang baik antara organisasi dan publiknya.
79 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Magfirah
4. Focus Group Discussion (FGD) mengenai masalah-