ءﺎَﻋْﺪَﺟ
B. Kajian Teori
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Dalam bahasa Arab pengertian pendidikan, sering digunakan beberapa istilah antara lain, al-ta’lim, al-tarbiyah, dan al-ta’dib, al- ta’lim berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampaian pengetahuan dan ketrampilan. Al-tarbiyah berarti mengasuh mendidik dan al-ta’dib lebih condong pada proses mendidik yang bermuara pada penyempurnaan akhlak/moral peserta didik.40
39Elfi Mu'awanah, Bimbingan Konseling Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), 51.
40 Titin Syahrowiyah, “Pengaruh Metode Pembelajaran Praktik Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Sekolah Dasar”, Studi Didkatika Jurnal Ilmiah
Menurut UU No. 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.41
Pendidikan Agama Islam menurut Zakiah Darajad adalah pembentukan kepribadian muslim, atau perubahan sikap atau tinglah laku sesuai dengan petunjuk ajaran Agama Islam.42 Di dalam Pendidikan Agama Islam, memiliki banyak aspek yang megarah kepada penanaman ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
melalui ayat-ayat. hadist, hukum, maupun syariat yang dituangkan melalui sebuah proses pembelajaran. Demikian sangatlah penting dalam rangka mewujudkan generasi yang berakhlak dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Oleh karena itu Agama perlu diketahui, dipahami, dan diamalkan oleh manusia di Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh. Pelaksanaan pendidikan agama dilakukan oleh pengajar yang meyakini, mengamalkan, dan menguasai agama tersebut.
b. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Adapun dasar atau landasan pendidikan Agama Islam itu adalah Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pendidikan Agama Islam merupakan
41 Sekretariat Negara RI, Undang undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
42Zakiah Darajat, Methodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara,1996), 34.
kebutuhan mutlak untuk dapat melaksanakan ajaran Islam sebagaimana yang dikehedaki oleh Allah SWT. berdasarkan makna ini maka pendidikan Agama Islam memiliki peran penting dalam mempersiapkan diri manusia guna melaksanakan amanat yang dipikulkan kepadanya. Dari pandangan tersebut jelaslah bahwa Al- Quran dan Hadis sebagai landasan umat Islam dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya termasuk di dalamnya adalah konsep dan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam.43
Sebagaimana ulasan di atas dasar Pendidikan Agama Islam memiliki dua landasan yakni Al-Quran dan Al-Hadis sebagaimana berikut:
1) Al-Qur’an
Al-qur’an sebagai kalam Allah yang telah diriwayatkan kepada Nabi Muhammad SAW bagi pedoman masing-masing merupakan petunjuk yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang Universal yang mana ruang lingkupnya mencakup ilmu pengetahuanyang luas dan nilai ibadah bagi yang membacanya, yang isinya tidak dapat dimengerti kecuali dengan dipelajari kandungan yang Mulia itu.44
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan oleh malaikat jibril kepada Rosulullah SAW. dengan lafadz arab dan makna yang benar. Agar menjadi hujjah bagi Nabi Muhammad
43Masduki Duryat, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Alfabeta, 2016), 73.
SAW. bahwa ia benar-benar Rosulullah SAW, menjadi pedoman manusia sebagai petunjuk dan sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah bagi pembaca.
2) As-sunnah (Hadist)
Hadist adalah segala bentuk prilaku, bicara Nabi yang merupakan cara yang diteladani dalam dakwah islam yang termasuk dalam tiga dimensi yaitu; berisi ucapan. Pertanyaan dan persetujuan Nabi atas peristiwa yang teradi. Semua contoh yang ditunjukan Nabi nerupakan arah yang dapat diteladani oleh manusia demi aspek kehidupan.45 Posisi hadist sebagai sumber Pendidikan utama bagi pelaksanaanya Pendidikan Islam yang dijadikan referensi teoretis maupun praktis. Acuan tersebut dilihat dari dua bentuk yaitu:
a) sebagai acuan syariah yang meliputi muatan-muatan pokok ajaran islam secara teoretis.
b) sebagai acuan oprasional aplikatif yang meliputi cara Nabi memerankan perannya sebagai pendidik yang profesional, adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam
Tujuan ialah suatu yang diharapkan dapat tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai, maka pendidikan yang merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannyapun bertahap dan
45Ali Hamzah, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, 44.
bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan kepribadian seseorang yang berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya.46
Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan, hal ini disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya. Pertama tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik. Fungsi ini menunjukkan pentingnya perumusan dan pembatasan tujuan pendidikan yang jelas, proses pendidikan akan berjalan tidak efektif dan tidak efisien, bahkan tidak menentu, dan salah dalam menggunakan metode, sehingga tidak mencapai manfaat. Tujuan yang menentukan metode apa yang seharusnya digunakan untuk mencapainya.
Kedua, tujuan pendidikan mengakhiri usaha pendidikan, apabila tujuannya telah tercapai maka berakhir pula usaha tersebut. Usaha yang terhenti sebelau tujuannya tercapaui, sesungguhnya belum bisa dianggap berakhir, tetap hanya mengalami kegagalan yang antara lain oleh tidak jelasnya rumusan pendidikan.
Ketiga, tujuan pendidikan disatu sisi, membatasi lingkup suatu usaha pendidikan, tetapi disisi lain mempengaruhi dinamikanya. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan usaha
berproses yang didalamnya usaha-usaha pokok dan parsial yang saling terkait. Tiap-tiap usaha memiliki tujuannya masing-masing.
Usaha pokok memiliki tujuan yang lebih tinggi dan lebih umum, sedangkan usaha-usaha parsial memiliki tujuan yang lebih rendah, dan lebih spesifik.
Keempat, tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan untuk melaksanakan pendidikan, hal ini berlaku juga pada setiap perbuatan, sebagai contoh seseorang diperintah untuk berjalan dijalan tertentu tanpa dijelaskan kepadanya mengapa ia harus menempuh jalan itu atau tanpa diberi kesempatan untuk memilih jalan lain. Dengan perinta barang kali orang itu akan berjalan ragu-ragu akibatnya, ia akan berjaln lamban, lain halnya apabila dijelaskan kepadanya bahwa dijalan itu ia akan mendapatka kebun yang indah serta pemiliknya seorang yang ramah tamah dan suka mengajak orang yang sedang lewat untuk makan bersamanya, sementara kebetulan ia lapar, tentu ia akan menempuh jalan itu dengan penuh semangat.47
c. Materi Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek, yakni akidah, ibadah dan akhlak. Ketiga pokok Pendidikan Agama Islam ini selengkapnya diungkapkan sebagai berikut:
47Masduki Duryat, Paradigma Pendidikan Islam, (Bandung: Alfabeta, 2016), 77.
1) Akidah
Kata akidah berasal dari bahasa Arab yaitu ‘al-aqdu’
yang berarti ikatan, ‘at-tautsiqu’ yang berarti kepercavaan atau kevakinan yang kuat, ‘al-ihkanu’ yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ‘ar-rabthu biquwwan’ yang berarti mengikat dengan kuat. Sedangkan menurut istilah aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.48Akidah adalah inti dasar dari keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak oleh orangtua, hal ini telah disebutkan dalam surat Lukman ayat 13 sebagai berikut:
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku!
Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”49
Dari ayat tersebut Lukman telah diangkat kisahnya oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi dasar pedoman hidup setiap muslim. Ini berarti bahwa pola umum pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya menurut Islam dikembalikan kepada pola yang dilaksanakan Lukman dan
48Ali Hamzah, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi (Bandung: Alfabeta, 2017), 60.
anaknya. Allah mengingatkan kepada Rasulullah nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada putranya ketika ia memberi pelajaran kepadanya. Nasihat itu adalah “Wahai anakku, Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Dia Allah adalah kedzaliman yang besar.”
Mempersekutukan Allah dikatakan ke zaliman karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang melimpahkan nikmat dan karunia dengan sesuatu yang tidak sanggup memberikan semua itu.50
Pokok bahasan Akidah Islam dibangun atas enam dasar keimanan yang disebut Arkanul Iman atau rukun iman, yang tersimpul dalam Syahadatain atau dua kalimat syahadat.
Rukun iman merupakan pokok bahasan aqidah Islam, terdiri dari iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhirat, dan ketentuan Allah qadha dan qadhar.
Jelaslah bahwa asas pendidikan keimanan, terutama akidah tauhid atau mempercayai ke-Esa-an Tuhan harus diutamakan, karena akan hadir secara sempurna dalam jiwa anak “perasaan ketuhanan” yang berperan sebagai fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya.
50Kementrian RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Adhi Aksara Abadi, 2011), 545.
2) Ibadah
Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yang berarti pengabdian, penyembahan, ketaatan, merendahkan diri atau doa. Secara istilah ibadah berarti konsep untuk semua bentuk perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah dari segi perkataan dan perbuatan yang konkret atau nyata dan yang abstrak atau tidak nyata dan tersembunyi.
Orang yang melakukan ibadah disebut abid sebagai subjek dan yang diibadahi atau disembah disebut ma'bud atau objek. Semua orang diharapkan Allah sebagai abid, karena manusia tersebut harus mengabdi diri kepada Allah SWT.
seperti di dalam surat Adz-dzariat ayat 56 yang bunyinya:
Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.51
Ibadah dalam Islam secara garis besar terbagi kedalam dua jenis, yaitu ibadah mahdah atau ibadah khusus dan ibadah ghoiru mahdah atau ibadah umum. Ibadah mahdah meliputi sholat, puasa, zakat, haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdah meliputi shodaqoh, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya.52
51Al-Qur’an, 51:56.
3) Akhlak
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khilqun atau khuluqun, yang secara etimologis berarti tabiat, budi pekerti, keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, agama dan kemarahan. Khuluq atau akhlak merupakan sesuatu yang tercipta atau terbentuk melalui sebuah proses.53
Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Sementara menurut Imam Al-Gazali, akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Dengan demikian akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatarn spontan itu baik menurut akal dan agama, maka tindakan itu disebut akhlak yang baik atau akhlak karimah. Sebaliknya apabila buruk disebut akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah54.
Akhlaq Islam dibagi menjadi tiga pokok ketika dilihat dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut:
53Ali Hamzah, Pendidikan Agama Islam, 140.
54Ali Hamzah, Pendidikan Agama Islam, 140-141.
a) Akhlak terhadap Khalik
Akhlak kepada Allah yaitu tidak menyekutukan Allah, bertaqwa kepada Allah dan mencintai Allah dan yang paling utama adalah mempercayai bahwa Allah itu ada dan kekal.
b) Akhlak terhadap sesama manusia
Akhlak terhadap manusia bisa dilakukan terhadap siapa saja seperti sesama teman atau masyarakat, keluarga dan orangtua. Akhlak terhadap sesama manusia dibagi menjadi dua yaitu akhlak mahmudah dan madzmumah.
Akhlak mahmudah adalah segala tingkah laku yang baik.
Akhlak madzmumah adalah segala tingkah laku yang buruk atau jahat bisa juga dikatakan tercela.
c) Akhlak terhadap Lingkungan
Akhlak terhadap lingkungan diantaranya kepada tumbuhan, hewan, benda-benda tidak bernyawa. Karena semua yang diciptakan oleh Allah dibumi tidak ada yang sia-sia maka harus selalu menjaga dan tidak merusaknya.55
Berkaitan dengan upaya mengambangkan perilaku moral pada anak, ada beberapa kiat yang dapat ditempuh orangtua yaitu:56
55Aminah, Studi Agama Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), 75-77.
a) Menciptakan kasih sayang dan kehangantan keluarga.
Kasih sayang yang diberikan oleh orangtua sangat mempengaruhi perilaku moral anak. Demikianlah juga hubungan yang hangat dalam keluarga antara anak dan orangtuanya.
b) Menjadi teladan yang baik atau Uswah Hasanah.
Orangtua yang biasa menunjukkan teladan yang baik dilingkungannya, sikapnya akan ditiru oleh anak- anaknya. Hal ini secara positif akan mengembangkan pola perilaku anak dalam pergaulannya.
c) Mengajarkan disiplin dan Empati. Disiplin yang dilakukan oleh orangtua dapat berfungsi sebagai upaya untuk memberikan pelajaran tentang empati kepada anak. Namun perlu diingat orangtua hendaknya tidak melakukan cara-cara kekerasan karena dengan begitu akan membuat kreativitas anak berkurang.
Nilai akhlak mengajarkan kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku baik sesuai norma atau adab yang benar dan baik, sehingga akan membawa pola kehidupan manusia yang tenteram, damai, harmonis, dan seimbang.
Lingkungan dapat membentuk karakter anak, sebagimana anak tersebut berada dalam lingkungan yang seperti apa. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh para
ahli psikologi diperoleh petunjuk bahwa faktor lingkungan lebih berpengaruh dalam hal pembentukan kebiasaan, kepribadian, dan nilai-nilai. Pola pembinaan pendidikan dikembangkan dengan menekankan keterpaduan dalam lingkungan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati.57 Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi atau data deskriptif berupa kata-kata maupun lisan tentang “Motivasi Belajar Siswa Broken Home pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPI AN-Nur Rambipuji Jember.
Jenis penelitian ini adalah Studi Kasus kasus. Jenis penelitian ini merupakan bagian dari metode kualitatif yang hendak mendalami suatu kasus tertentu secara lebih mendalam dengan melibatkan pengumpulan beraneka sumber informasi. Creswell mendefinisikan studi kasus sebagai suatu eksplorasi dari sistem-sistem yang terkait atau sebuah kasus. Suatu kasus menarik untuk diteliti karena corak khas kasus tersebut yang memiliki arti pada orang lain, minimal bagi peneliti. Dengan memahami kasus itu secara mendalam maka peneliti akan menagkap arti penting bagi kepentingan masyarakat organisasi atau komunitas tertentu.58
Studi kasus dalam penelitian ini yakni sebuah usaha untuk menyelidiki siswa broken home secara integrative dan kompregensif sebagai upaya
57Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2014), 4.
58Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatifm dan R&D, 216.
memahami kondisi psikologisnya yang berpengaruh terhadap motivasi belajarnya pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam.