• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Kajian Teori

2. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (Intellect) dan tubuh anak. Sedngakan menurut Sigmund Freud “Character is striving system wich underly behavior” (karakter adalah kumpulan tata nilai yang mewujudkan dalam suatu system daya juang yang melandasi pemikiran,

33 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam Upaya pembentukan pemikiran dan kepribadian muslim, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006) hlm 10

34 Jawiah Dakir. Dkk, (2015). Islamic Education and Level Of Character Internalization of Secondary School Students In Malaysia. Mediterranean Journal Of Social Sciences, MCSER Publishing, Rome-Italy. Vol. 6, No. 4, 613

sikap, dan prilaku). Sementara dalam islam karakter lebih dikenal dengan akhlak, imam- Ghozali mengatakan “ Akhalak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa dan dengan sifat itu seseorang akan secaraa spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan, dan perbuatan.35

Pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan di Indonesia, yang dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan untuk membangun kemampuan peserta didik untuk memeberikan keputusan baik atau buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati, sehingga terbentuk manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, piker, raga, rasa, serta karsa.36 Pendidikan karakter yang dibangun dalam pendidikan dapat mengacu pada pasal 3 UU Sitem pendididkan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, bahwa“ pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban babngsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembabngnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhuan

35 Abidinsyah, Urgensi Pendidikan Karakter dalam Membangun Peradaban Bangsa Yang Bermartabat, (Jurnal Ilmu-ilmu Sosial “Socioscienta”, vol. 3 no. 1, Februari 2011), Hlm. 03

36 Abidinsyah, Urgensi,. Hlm 03

yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab”.37

Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi adalah “sebuah usaha untuk mendidik anak-anank agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan konstribusi yang positif kepada lingkungannya”.38 Sedangkan menurut Ramli, pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, agar menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga Negara yang baik. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai- nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.39

Menurut Thomas Lickona, karakter adalah nilai dalam tindakan.

Karakter seseorang terbentuk melalui proses, seiring suatu nilai menjadi suatu kebijakan. Untuk menghasilkan karakter yang baik (Component of good character), harus memiliki tiga komponen, yaitu yang berkaitan

37 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Nasional 2003, (Jakarta: Cemerlang, 2003), Hlm.07

38 Dharma Kesuma, Cepi Triatna dan Johar Permana, pendidikan karakter kajian teori dan praktik di sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012) Hlm. 05

39 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter Konsep dan Implementassi, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm 24

dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral Filling), dan perilaku moral (moral action).40 Adapun penjelasan tentang ketiga komponen tersebut, sebagai berikut:

1) Moral Knowing (Pengetahuan Moral), adalah sebagai langkah pertama dalam pembentukan karakter, dimana pada tahap ini peserta didik diharapkan mempunyai kemampuan dalam pemahaman tentang nilai-nilai. Ada enam aspek yang menjadi dominan sebagai tujuan pendidikan karakter, yaitu moral awarnes (kesadaran moral), Knowing Moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking (penentuan perspektif), moral reasoning (pemikiran moral), decision making (pengambilan keputusan), dan self knowledge (pengetahuan pribadi)

2) Moral Feeling (perasaan moral) adalah tahapan emosional, dimana pendidik harus dapat menyentuh ranah emosional, hati dan jiwa peserta didik. pada tahapan ini peserta didik diharapkan memiliki rasa cinta kesadaran babhwa dirinya butuh untuk berkarakter sehingga peserta didik dapat menilai dirinya sendiri atau intropeksi diri, tahapan ini adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada peserta didik yang merupakan sumber energi dari diri

40 Thomas Lickona, Educating For Character mendidik untuk membentuk karakter, Terj. Uyu Wahyudin, (Jakarta: PT Bumi aksara 2012) 85-99

manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral.

Terdapat 6 hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seorang untuk menjadi manusia berkarakter yaitu : conscience (nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (mampu mengontrol diri), dan humality (kerendahan hati).

3) Moral action (tindakan moral) adalah bagaimana membuat pengetahuan moral agar dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata.

Perbuatan atau tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik, maka harus dilihat 3 aspek lain dari karakter yaitu : competence (kompetensi), will (keinginan), dan habit (kebiasaan).41

Ketiga komponen tersebut saling berhubungan antara satu dengan lainnya. moral knowing, moral feeling dan moral action tidak akan berfungsi manakala satu bagian dari ketiga komponen tersebut terpisah. Menurut teori tersebut proses pembentukan karakter adalah bagaimana peserta didik diberi pengetahuan dan pemahaman akan nilai- nilai kebaikan yang universal, (moral knowing) sehingga pada akhirnya

41 Thomas Lickona, Educating For Character mendidikan untuk membentuk karakter, Terj. Uyu Wahyudin, ( Jakarta: PT Bumi Aksara 2012). 85-99

membentuk keyakinan. Peserta didik tersebut tidak hanya sampai memiliki pemahaman saja namun sistem lembaga pendidikan yang ada juga harus mendukung dan mengondisikan nilai-nilai tersebut, sehingga peserta didik mencintai nilai-nilai tersebut sebagai sebuah kebaikan untuk diikuti. (moral feeling) setelah membentuk pemahaman dan sikap, maka dengan penuh kesadaran peserta didik akan bertindak dengan nilai- nilai kebaikan (Moral Action). Selanjutnya ditambahi lagi pengertiannya oleh Anne Lockwood, yang mana ia mendefinisikan pendidikan karakter sebagai kegiatan berbasis sekolah yang bertujuan untuk secara sistematis membentuk perilaku siswa sebagaimana yang ia katakan “any school- instituted program, designed in cooperation with other community institutions, to shape directly and systematically the behaviour of young people by influencing explicitly the non-relativistic values believed directly to bring about that behaviour.” (semua program yang dilaksanakan sekolah, dirancang bersama dengan lembaga-lembaga masyarakat lain, untuk membentuk perilaku generasi muda secara langsung dan sistematik, dengan memberikan pengaruh secara jelas berupa nilai-nilai non-relativistik yang diyakini secara langsung menghasilkan perilaku tersebut).42

42 Anne Lockwood, Character Education: Controversy and Consensus, (London: Corwin Press/sage, 1997)

Sedangkan karakter menurut Depdiknas (2010: 3) “Karakter adalah watak, budi pekerti, tabiat, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir, bertindak dan bertindak”.43

Pendidikan karakter juga dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikkan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungan dengann sesame manusia maupun dalam hubunugan dengan tuhannya.44

Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengarahkan siswa didik untuk berprilaku terpuji kepada sesama manusia dan kepada tuhannya yang dikembangkan dan di biasakan melalui pembelajaran, dan pada akhirnya akan tertanam pada diri siswa yang menunjukkan ciri khas seseorang dalam bertindak, bertutur, dan merespon sesuatu.

Hlm. 179

43 Zarkasyi Dkk, “Internalization of Islamic religious education values in scouting extracurricular activities in forming student character in public middle school 2 peunaron east aceh” Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), Volume 3, No 2, May 2020. Hlm 839

44 Muchlas samani, Konsep dan Model pendidikan karakter, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012) Hlm 44

Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat diantara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya.

Berhubungan dengan pendektan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di Negara-negara barat seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendektan analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi, yakni sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai social tertentu dalam diri peserta didik.45

Dengan kata lain, pendekatan yang telah disarankan tersebut kembali lagi ke dalam kebutuhan yang diinginkan oleh lembaga pendidikan. Seperti lembaga pendidikan pesantren pasti berbeda dengan pendidikan formal di luar pesantren. Perbedaan tersebut tidak serta- merta membedakan semua kultur dan pendekatan yang dilakukan.

Nemun perbedaan tersebut seharusnya dijadikan sebagai nilai lebih, Karena setiap lembaga pendidikan mempunyai inovasi baru dengan mamadukan kedua pendekatan tersebut.

45 Heri, pendidikan karakter, hlm 24

b. Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan di Indonesia saat ini memerlukan adanya perubahan pendidikan untuk kmenjadikan Indonesia masa depan yang bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Namun sampai saat ini belum semua pendidikan di Indonesia berhasil dalam setiap lininya, hal tersebut dikarenakan kurangnya penanaman pendidikan karakter yang berarti dalam pembelajaran. Oleh karena itu, pendidikan di indonesianya kedepannya harus selalu di perbaiki secara bertahap. Salah satu cara memperbaikinya yakni dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang tertui dalam undang-undang selalu memiliki tujuan tertentu, agar kualitas dan keluarannya dapat bersaing di era globalisasi seperti saat ini.

Pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan nteknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, kesatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proposional agar mecapai bentuk dan kekuatan yang ideal.46

Tujuan pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan

46 Heri, Pendidikan Karakter, Hlm. 29

perilaku yang baik dan bertanggungjawab. Nilai-nilai ini juga digambarkan sebagai perilaku moral.47 Pendidikan karakter selamam ini baru dilaksanakn pada jenjang pendidikan pra sekolah/ madrasah (taman kanak-kanak). Sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya kurikulum di Indonesia masih belum optimal dalam menyentuh aspek karakter ini, meskipun sudah ada materi pelajaran pancasila dan kewarganegaraan. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu sumber daya manusia dan segera bangkit dari ketinggalannya, maka Indonesia harus merombak system pendidikan yang ada, antara lain memperkuat pendidikan karakter.

Sedangkan tujuan pendidikan karakter yang tertuang dalam panduan pelaksanaan pendidikan karakter oleh kementrian pendidikan nasional, menyebutkan bahwa pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu pancasila, meliputi: 1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. 2) membangun bangsa yang berkarakter pancasila. 3) mengembangkan

47 Zuchdi, Humanisasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009) Hlm. 39

potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya, serta mencintai umat manusia.48

Selain tujuan pendidikan karakter dari kementrian pendidikan, tujuan dari pendidikan karakter adalah membentuk pribadi anak, agar menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga Negara yang baik.49

Dari keterangan para pakar pendidikan yang telah disebutkan menunjukkan bahwa pendidikan karakter di Indonesia diarahkan menjadikan pancasila sebagai dasar manusia indonesia untuk bernegara dan mencintai sesame manusia. Hal tersebut diungkapkan oleh heri gunawan yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotic, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada tuhan yang maha esa berrdasarkan pancasila.50

Secara subtantif, tujuan pendidikan karakter adalah membimbing dan memfasilitasi anak agar memiliki karakter positif (baik). Tujuan

48 Kementrian Pendidikan Nasional, Panduan pengajaran karakter, pusat kurikulum dan pembukuan, 2011.

Hlm 07

49 Ni Putu Suwardani, “QUO VADIS” Pendidikan Karrakter (dalam merajut harapan bangsa yang bermartabat), (Bali: UNHI Press, 2020) Hlm 41

50 Heri, Pendidikan Karakter, Hlm 30

pendidikan karakter yang harus dipahami oleh guru meliputi tujuan berjenjang dan tujuan khusus pembelajaran. Tujuan berjenjang mencakup tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan umum pembelajaran.51

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan disetiap jenjang, mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, harus dirancang dan diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Dalam rangka pembentukan karakter peserta didik sehingga beragama, beretika, bermoral, dan sopan santun dalam berinteraksi dengan masyarakat, maka pendidikan harus dipersiapkan, dilaksanakan, dan dievaluasi dengan baik dan harus mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya guna mewujudkan insan-insan Indonesia yang berkarakter mulia.

Dengan demikian, hasil pembelajarannya ialah terbentuknnya kebiasaan berpikir dalam arti peserta didik memiliki pengetahuan, kemauan, dan keterampilan dalam berbuat kebaaikan. Melalui pemahaman yang komprahensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola- pola manajemen pembelaajaran yang dapat menghasilkan anak didik

51 Agus Zainul Fitri. Reinventing Human Character: Pendidikan karakter berbasis nilai & etika di sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012) Hlm 22

yang memiliki karakter yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan, dan perilaku shaleh, baik secara pribadi maupun social.

Pendidikan karakter pada tingkat satuan penddidikan megarah pada pembentukan budaya sekolah/madrasah yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta symbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah/madrsah, dan masyarakat sekitarnya.52

c. Nilai Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalahh wujud dari pengembangan nilai-nilai dasar Negara, pendidikan karakter di Indonesia bersumber dari empat nilai dasar yang telah tercantum pada tujuan pendidikan nansional, yaitu agama, nilai pancasila, nilai budaya, dan nilai tujuan pendidikan nasional.53

1) Nilai Agama, agama menjadi aspek yang utama dikarenakan Indonesia merupakan bangsa yang memiliki kepercayaan, oleh sebba itu seluruh kehidupan rakyat Indonesia selalu didasarkan oleh aspek keagamaan, dan secara nasional agama adalah dasar kenegaraan.

2) Nilai Pancasila, Negara Indonesia berdiri tegak dibumi NKRI Negara kesatuan republic Indonesia berideologi pancasila, pancasila

52 E. Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011) Hlm 09

53 Zubaedi, Desain Pendidikan karakter, (Jakarta: Kencana, 2012) Hlm 72

tertanam dan tertera pada pembukaan UUD 1945, hal tersebut berarti nilai-nilai yang terkandung dalam mpancasila adalah nilai yang mampu mengatur kehidupan dalam segala bidang, termasuk politik, hukum ekonomi, budaya dan masyarakat, serta seluruh aspek nilai yang teraplikasi oleh Indonesia.

3) Nilai Budaya, tiada seorangpun yang dapat hidup bermasyarakat tanpa dasar nilai budaya, oleh sebab itu dikarenakan sangat mempengaruhi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadikan nilai budaya sebagai aspek dari sumber nilai pendidikan karakter Indonesia.

4) Nilai tujuan pendidikan nasional, yang tecantum pada UU RI No 20 tahun 20003. Fungsi pendidikan nasionall adalah mengembangkan dan membentuk watak bangsa yang beradab dan bermartabat, serta bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi pribadi beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mullia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga demookratis serta bertanggungjawab.54

54 Zubaedi, Desain…, (Jakarta: Kencana, 2012) Hlm 74

Empat nilai dasar tersebut dapat dikembangkan menjadi delapan belas nilai yang tercantum sebagai berikut:55

a) Religius (sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Adapun dalil yang menjelaskan tentang nilai religious terdapat dalam surat An- Nisa’ Ayat 59 yang mana di dalamnya menjelaskan tentang akhlak kepada Allah SWT.

ٰٓ ي

ٰٓ آٰ َنْيِذَّلآٰ اَهُّيَا

ٰٓ ْوُنَم

ٰٓ للآٰ اوُعْيِطَآٰ ا

َٰٓه

ٰٓ ْمُكْنِمٰٓ ِرْمَ ْلْآٰ ىِلوُا َوٰٓ َل ْوُس َّرلآٰ اوُعْيِطَا َوٰٓ

ٍٰٓءْيَشٰٓ ْيِفٰٓ ْمُتْع َزاَنَتٰٓ ْنِاَفٰٓ

ٰٓ للآٰىَلِآُٰه ْوُّد ُرَف

ٰٓ للاِبَٰٓن ْوُنِمْؤُتْٰٓمُتْنُكٰٓ ْنِآِٰل ْوُس َّرلا َوِٰٓه

ٰٓ ْلْآٰ ِم ْوَيْلا َوِٰٓه

ٰٓ ِر ِخ

ٰٓ

ٰٓ الًْيِوْأَتُٰٓنَسْحَا َّوٰٓ ٌرْيَخٰٓ َكِلٰٓ ذ

ٰࣖٓ

٩٥

ٰٓ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).”

b) Jujur (perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan). Adapun dalil yang sesuai dengan nilai ini

55 Yulianti dan Hartatik, Implementasi Pendidikan Karakter di kantin kejujuran, ( Malang: Gunung Samuudera, 2014) Hlm 26

adalah dalil tentang akhlak terhadap diri sendiri yang mana tercantum dalam suarah al-ma’idah ayat 119 yang berbunyi

ٰٓ للآٰ َلاَق

ٰٓ هٰٓ ُه

ٰٓ صلآٰ ُعَفْنَيٰٓ ُم ْوَيٰٓ اَذ ْٰٓمُهُقْد ِصٰٓ َنْيِقِد

ٰٓ نَجٰٓ ْمُهَلٰٓ

َْٰٓلْآٰ اَهِتْحَتٰٓ ْنِمٰٓ ْي ِرْجَتٰٓ ٌت

ٰٓ هْن

ٰٓ خٰٓ ُر

ٰٓ اَهْيِفٰٓ َنْيِدِل

ٰٓ

ٰٓاادَبَا

ٰٓ للآَٰي ِض َر ُٰٓهْنَعٰٓا ْوُض َر َوْٰٓمُهْنَعُٰٓه

ُٰٓمْيِظَعْلآٰ ُز ْوَفْلآٰ َكِلٰٓ ذ ١١٥

ٰٓ

Allah berfirman, “Ini adalah hari yang kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka. Bagi merekalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”

c) Toleransi (sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan oaring lain, yang berbeda dari dirinya). Hal ini dijelaskan al-qu’an dalam surat al-kafirun ayat 1-6 yang berbunyi:

ٰٓ يٰٓ ْلُق

ٰٓ كْلآٰاَهُّيَا

ٰٓ َن ْو ُرِف

ٰٓ

١

ٰٓ

ٰٓ َلْ

ٰٓ َن ْوُدُبْعَتٰٓاَمُٰٓدُبْعَآٰ

ٰٓ

٢

ٰٓ َلْ َوٰٓ

ٰٓ عْٰٓمُتْنَآٰ

ٰٓ اَمٰٓ َن ْوُدِب

ٰٓ

ٰٓ ُدُبْعَا

ٰٓ

٣

ٰٓ َلْ َوٰٓ

ٰٓ

ٰٓ اَنَا

َّٰٓمٌٰٓدِباَعٰٓ

ٰٓ ْمُّتْدَبَعٰٓا

ٰٓ

٤

ٰٓ

ٰٓ َلْ َو

ٰٓ عْٰٓمُتْنَآٰ

ٰٓ اَمَٰٓن ْوُدِب

ٰٓ

ٰٓ ُدُبْعَا

ٰٓ

٩

ٰٓ ِنْيِدَٰٓيِل َوْٰٓمُكُنْيِدْٰٓمُكَلٰٓ

ٰࣖٓ

٦

ٰٓ

1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. 4. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5. Kamu tidak pernah (pula)

menjadi penyembah apa yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

d) Disiplin (tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan). Hal ini dijelaskan dalam al-quran surah Al- Jumu’ah ayat 9-10

ٰٓ ي

ٰٓ آٰ َنْيِذَّلآٰاَهُّيَا

ٰٓ ْوُنَم

ٰٓ لَّصلِلٰٓ َيِد ْوُنٰٓاَذِآٰا

ٰٓ لِآٰا ْوَعْساَفٰٓ ِةَعُمُجْلآٰ ِم ْوَّيٰٓ ْنِمِٰٓةو

ٰٓ للآٰ ِرْكِذٰٓى

ٰٓ َعْيَبْلآٰاو ُرَذ َوٰٓ ِه

ٰٓ

ْٰٓمُكِلٰٓ ذ

ٰٓ َن ْوُمَلْعَتْٰٓمُتْنُكٰٓ ْنِآْٰمُكَّلٰٓ ٌرْيَخ ٥

ٰٓ لَّصلآِٰتَي ِضُقٰٓاَذِاَفٰٓ

ٰٓ للآٰ ِلْضَفٰٓ ْنِمٰٓا ْوُغَتْبا َوٰٓ ِض ْرَ ْلْآٰىِفٰٓا ْو ُرِشَتْناَفُٰٓةو

ِٰٓه

ٰٓ للآٰاو ُرُكْذا َو

ٰٓ َن ْوُحِلْفُتْٰٓمُكَّلَعَّلٰٓا ارْيِثَكَٰٓه ١١

ٰٓ

9. Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

10. Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.

e) Kerja keras ( perilaku yang menunjukkan upaya yang sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan

tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya) Hal ini dijelaskan al-qur’an dalam surat al-qashas ayat 77 yang berbunyi:

ٰٓ اَمْيِفِٰٓغَتْبا َو

ٰٰٓٓ ا

ٰٓ ت

ٰٓ للآٰ َكى

ٰٓ ْلْآٰ َراَّدلآُٰه

ٰٓ اَمَكٰٓ ْنِسْحَا َوٰٓاَيْنُّدلآٰ َنِمٰٓ َكَبْي ِصَنٰٓ َسْنَتٰٓ َلْ َوَٰٓة َر ِخ

ٰٓ للآٰ َنَسْحَآٰ

ٰٓ َكْيَلِآُٰه

ْٰٓبَتٰٓ َلْ َو ٰٓ ِض ْرَ ْلْآٰىِفَٰٓداَسَفْلآِٰغ

ٰٓ للآٰ َّنِا

ٰٓ َنْيِدِسْفُمْلآٰ ُّب ِحُيٰٓ َلَْٰٓه ٧٧

ٰٓ

77. Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

f) Kreatif (berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki) Hal ini dijelaskan al- qur’an dalam surat Az- Zumar ayat 9 yang berbunyi:

ٰٓ آٰ ٌتِناَقٰٓ َوُهٰٓ ْنَّمَا

ٰٓ اَن

ٰٓ اَق َّوٰٓااد ِجاَسِٰٓلْيَّلآَٰء

ٰٓ ْلْآٰ ُرَذْحَّيٰٓاامٰٓ ى

ٰٓ هِ ب َرَٰٓةَمْح َرٰٓا ْوُج ْرَي َوَٰٓة َر ِخ

ٰٓ َنْيِذَّلآٰىِوَتْسَيْٰٓلَهْٰٓلُقٰٓ

َّٰٓلا َوَٰٓن ْوُمَلْعَي ٰٓ َن ْوُمَلْعَيٰٓ َلَْٰٓنْيِذ

ِٰٓباَبْلَ ْلْآٰاوُلوُآٰ ُرَّكَذَتَيٰٓاَمَّنِآٰ

ٰࣖٓ

٥

ٰٓ

9. (Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya?

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak

mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.

g) Mandiri (sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas) Hal ini dijelaskan al-qur’an dalam surat Al-Mulk ayat 15 yang berbunyi:

ْٰٓز ِ رٰٓ ْنِمٰٓا ْوُلُك َوٰٓاَهِبِكاَنَمْٰٓيِفٰٓا ْوُشْماَفٰٓ الْ ْوُلَذٰٓ َض ْرَ ْلْآُٰمُكَلَٰٓلَعَجْٰٓيِذَّلآٰ َوُه

ٰٓ هِق

ٰٓ ُر ْوُشُّنلآِٰهْيَلِا َوٰٓ

١٩

ٰٓ

15. Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

h) Demokratis ( cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain) Hal ini dijelaskan al- qur’an dalam surat Ali Imran ayat 159 yang berbunyi:

ٰٓ للآٰ َن ِ مٰٓ ٍةَمْح َرٰٓاَمِبَف

ٰٓ ْٰٓمُهَلٰٓ َتْنِلٰٓ ِه

ْٰٓلَقْلآٰ َظْيِلَغٰٓاًّظَفٰٓ َتْنُكٰٓ ْوَل َوٰٓ

ٰۖٓ َكِل ْوَحٰٓ ْنِمٰٓا ْوُّضَفْن َلْٰٓ ِب

ْٰٓمُهْنَعٰٓ ُفْعاَفٰٓ

ٰٓ ِرْمَ ْلْآٰىِفْٰٓمُه ْرِواَش َوْٰٓمُهَلٰٓ ْرِفْغَتْسا َو

ٰٓ للآٰىَلَعْٰٓلَّك َوَتَفٰٓ َتْم َزَعٰٓاَذِاَفٰٓ

ِٰٓه

ٰٓ

ٰٓ للآٰ َّنِا

ٰٓ َنْيِلِ ك َوَتُمْلآٰ ُّب ِحُيَٰٓه ١٩٥

ٰٓ

159. Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu.

Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan

(penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang- orang yang bertawakal.

i) Rasa ingin tahu (Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalaam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan di dengar) hal ini dijelaskan al-qur’an dalam surat At-Tin ayat 4 yang berbunyi:

ٰٓ ْيِفَٰٓناَسْنِ ْلْآٰاَنْقَلَخْٰٓدَقَل

ٍٰٓۖمْيِوْقَتِٰٓنَسْحَآٰ

ٰٓ

٤

ٰٓ

4. sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

j) Semangat Kebangsaan (cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya) Hal ini dijelaskan al-qur’an dalam surat al-Hasyr ayat 9 yang berbunyi:

ُٰٓدُصٰٓ ْيِفٰٓ َن ْوُد ِجَيٰٓ َلْ َوٰٓ ْمِهْيَلِآٰ َرَجاَهٰٓ ْنَمٰٓ َن ْوُّب ِحُيٰٓ ْمِهِلْبَقٰٓ ْنِمٰٓ َناَمْيِ ْلْا َوٰٓ َراَّدلآٰ وُء َّوَبَتٰٓ َنْيِذَّلا َو

ْٰٓمِه ِر ْو

ٰٓ اَّمِ مٰٓاةَجاَح

ٰٓ لَعَٰٓن ْو ُرِث ْؤُي َوٰٓا ْوُت ْوُآٰ

ٌٰٓةَصاَصَخْٰٓمِهِبٰٓ َناَكٰٓ ْوَل َوْٰٓمِهِسُفْنَآٰى

ُٰٓشٰٓ َق ْوُّيٰٓ ْنَم َو

ٰٓ هِسْفَنَّٰٓح

ٰٓ

ٰٓ لوُاَف

ُٰٓمُهٰٓ َكٰٓ ى

ٰٓ َن ْوُحِلْفُمْلا

ٰٓ

٥

ٰٓ

9. Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan

Dokumen terkait