BAB VI PENELITIAN CAMPURAN
B. Penelitian dan Pengembangan
Tahap ini digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan dan mengembangkan perencanaan tindakan untuk melakukan perubahan sesuai dengan konteks penelitian. Langkah kedua adalah tindakan.
Tahap ini melibatkan beberapa intervensi dalam situasi pengajaran yang dapat diterapkan pada tindakan. Langkah ketiga adalah observasi. Tahap ini melibatkan peneliti dalam observasi secara sistematis yang mempengaruhi tindakan dan mendokumentasikan konteks, tindakan dan pendapat. Ini merupakan tahap pengumpulan data dimana setiap orang dapat menggunakan secara terbuka untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan apa yang terjadi.
Langkah terakhir adalah refleksi. Tahap ini peneliti merefleksi, evaluasi dan menggambarkan pengaruh tindakan terhadap data yang diperoleh.
Perbedaan model Kemmis dan McTaggart terletak pada proses yang dilakukan setiap tahap. Tahapan yang dilakukan pada model Mills masuk pada tahap pertama dalam model Kemmis dan McTaggart. Tahap perencanaan mencakup proses identifikasi masalah sampai perencanaan, setelah itu dilanjutkan pada proses tindakan dan observasi, yang kemudian dilanjutkan pada tahap terakhir yaitu evaluasi.
119 Menurut Gay, research and development (R&D) is the process of researching consumer needs and then developing products to fulfill those needs.
Tujuan penelitian dalam pendidikan tidak untuk merumuskan atau menguji teori tetapi untuk mengembangkan produk yang efektif untuk digunakan di sekolah. Contohnya materi pelatihan guru, materi pembelajaran, media materi dan sistem manajemen. Produk yang dikembangkan berdasarkan pada spesifikasi yang dibutuhkan.
150
Evaluasi berperan penting sebagai kunci utama dalam penelitian pengembangan. Penelitian pengembangan dalam pendidikan adalah pengembangan model berbasis industri sebagai hasil penemuan penelitian yang digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru, kemudian secara sistematik diuji di lapangan, dievaluasi, dan dipilih sampai mendapatkan kriteria khusus yang efektif, berkualitas, atau standar yang sama.151
Barab dan Squire menunjukkan secara umum salah satu yang meliputi dalam variasi rancangan penelitian pengembangan, “a series of approaches, with the intent of producing new theories, artifacts, and practices that account for and potentially impact learning and teaching in naturalistic settings.”
152Van den Akker dan Plomp (1993) mendeskripsikan penelitian pengembangan berdasarkan dua tujuan yakni:153 1) pengembangan prototipe produk dan 2) perumusan saran-saran metodologis untuk pendesainan dan evaluasi prototipe produk tersebut
Barab dan Squire menunjukkan secara umum salah satu yang meliputi dalam variasi rancangan penelitian pengembangan, “a series of
150Gay, Geoffrey, and Airasian, Educational Research Competencies for Analysis and Applications Ninth Edition.
151Gall, Gall, and Borg, Educational Research an Introduction Seventh Edition.
152Et.al Akker, Jan Van Den, Educational Design Research (London & New York:
Routledge, 2006).
153Van den Akker J. (1999). Principles and Methods of Development Research.
Pada J. Van Den Akker, R.Branch, K. Gustafson, Nieven, dan T. Plomp (eds), Design Approaches and Tools in Education and Training (pp. 1-14). Dortrech:
Kluwer Academic Publishers
approaches, with the intent of producing new theories, artifacts, and practices that account for and potentially impact learning and teaching in naturalistic settings.”154 Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam proses pengembangan model dalam pendidikan memerlukan pemahaman pengaturan dalam proses belajar mengajar.
Seal dan Rickey, kerangka literatur penelitian secara langsung berkaitan dengan pengembangan instruksional yang dikenal sebagai penelitian pengembangan: “the systematic study of designing, developing and evaluating instructional programs, processes and products that must meet the criteria of internal consistency and effectiveness.”155Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Baume dan Baume dari Nevo dalam Macdonald dan Wisdom bahwa strategi evaluasi yang dapat diadaptasi untuk pengembangan model pendidikan adalah menentukan apa yang dievaluasi dan kapan melakukan evaluasi, identifikasi stakeholder, identifikasi kebutuhan stakeholder, identifikasi kriteria untuk jawaban kebutuhan stakeholder, menentukan metode dan instrumen evaluasi, menghasilkan produk evaluasi, melaporkan kepada stakeholder, merubah implementasi projek sebagai kebutuhan, dan mereview metode evaluasi setiap saat.156
Cobb et al.; Kelly; Design-Based Research Collective; Reeves et al.;
van den Akker rancangan penelitian dicirikan sebagai berikut: 157
Interventionist: the research aims at designing an intervention in the real world;
Iterative: the research incorporates a cyclic approach of design, evaluation, and revision;
154Akker, Jan Van Den, Educational Design Research.
155B. B. Seels and R. C. Richey, Instructional Technology: The Definition and Domains of the Field. (Washington DC: Association for Educational Communications and Technology, 1994).
156Ranald Macdonald and James Wisdom, Academic and Educational Development Research, Evaluation and Changing Practice in Higher Education (London: Kogan Page, 2002).
Akker, Jan Van Den, Educational Design Research.
121
Process oriented: a black box model of input–output measurement is avoided, the focus is on understanding and improving interventions;
Utility oriented: the merit of a design is measured, in part, by its practicality for users in real contexts; and
Theory oriented: the design is (at least partly) based upon theoretical propositions, and field testing of the design contributes to theory building.
Selanjutnya, Borg and Gall menjelaskan empat ciri utama dalam penelitian dan pengembangan, yaitu:158
Studying research findings pertinent to the product to be develop. Artinya, melakukan studi atau penelitian awal untuk mencari temuan- temuan penelitian terkait dengan produk yang akan dikembangkan.
Developing the product base on this findings. Artinya, mengembangkan produk berdasarkan temuan penelitian tersebut.
Field testing it in the setting where it will be used eventually. Artinya, dilakukannya uji lapangan dalam seting atau situasi senyatanya, yaitu produk tersebut nantinya digunakan
Revising it to correct the deficiencies found in the field-testing stage. Artinya, melakukan revisi untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ditemukan dalam tahap-tahap uji lapangan.
Banyak model penelitian pengembangan dalam bidang pendidikan. Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino menunjukkan model pengembangan instruksional berorientasi pada kelas, ASSURE, yang secara tepat paling luas diadopsi dari teks dalam media pembelajaran dan teknologi untuk saat ini dan akan datang. A (Analyze leaners) adalah analisis siswa yang menentukan masukan karakteristik siswa. S (State objectives ) merupakan tujuan pembelajaran yang menekankan pada kebutuhan yang diharapkan dari hasil pembelajaran secara khusus dan terukur. S (Select media and materials )
158W.R. Borg and M.D. Gall, Educational Research: An Introduction, Fifth Edition (New York: Longman, 1989).
merupakan pemilihan media dan materi pembelajaran yang memperkenalkan para guru yang mempunyai waktu sedikit untuk merancang dan mengembangkan materi mereka. U (Utilize media and materials ) menggambarkan bagaimana guru harus merencanakan pemilihan media dan materi pembelajaran di kelas. R (Require learner participation ) meminta partisipasi siswa yang menekankan pada pentingnya memelihara siswa secara aktif. Langkah terakhir yaitu E (Evaluation and revise ) untuk evaluasi dan revisi.159
Model Newby, Stepich, Lehman dan Russell terdiri dari tiga langkah yaitu PIE (planning, implementing, and evaluating).160 Fokus model ini pada instruksi di kelas yang diciptakan dan ditransfer oleh individu atau kelompok yang sama dengan menekankan pada penggunaan media dan teknologi. Planning termasuk pengumpulan informasi tentang siswa, isi, dan lingkungan. Implementing merupakan matriks yang menunjukkan beberapa pertanyaan yang berhubungan untuk mengetahui bagaimana siswa memahami pembelajaran, bagaimana kelas akan dikelola, dan bagaimana teknologi dapat mempengaruhi pembelajaran. Langkah terakhir evaluasi yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas pembelajaran yang dibutuhkan.
Menurut Borg dan Gall, “Educational research and development (sometimes called research-based development) appears to be the most promising strategy we now have for improving education education. Educational research and development is a process used to develop and validate educational products.”
Pendekatan research and development (R & D) dalam pendidikan meliputi sepuluh langkah. Adapun bagan langkah-langkah penelitiannya seperti ditunjukkan pada gambar berikut.161
159Kent L.Gustafson and Robert Maribe Branch, Survey of Instructional Development Models, Fourth Edition (New York: ERIC Clearinghouse in Information & Technology, 2002).
160Ibid.
161Walter R. Borg and Meredith Damien Gall, Educational Research: An Introduction; Fourth Edition, Fourth Edi. (New York & London: Longman, 1983).
Gambar 6.4 Langkah-langkah Metode Penelitian Pengembangan Menurut Borg dan Gall
Morrison, Ross dan Kemp menunjukkan model pengembangan pembelajaran yang fokus pada perencanaan kurikulum. Pendekatan pembelajaran mereka dari persfektif siswa daripada memahami dari isi dan perbedaan pengembangan pembelajaran dengan rancangan tradisional. Model mereka mengkomunikasikan keyakinan mereka bahwa pengembangan pembelajaran berkelanjutan dalam lingkaran dengan revisi sebagai aktivitas yang saling berkaitan dengan elemen lainnya. Berikut ini gambar model Morrison, Ross dan Kemp.
Gambar 6.5 Model Morrison, Ross dan Kemp162
Model yang paling banyak digunakan dalam penelitian pengembangan pendidikan adalah model pendekatan sistem (systems approach model) yang dirancang oleh Walter Dick dan Lou Carey. 10 langkah yang termasuk dalam model ini tergambar berikut ini:163
162L.Gustafson and Branch, Survey of Instructional Development Models, Fourth Edition.
163Meredith D. Gall, Joyce P.Gall, & Walter R.Borg, op.cit,.h. 570-571 dalam Dick W., & Carey L., The Sytematic design of instruction (5th ed). New York:
Longman, Another R&D model is presented in Gagne, R.M., Briggs, L.J., &
Wager, W.W. (1992), Principles of Instructional design (3rd ed). New York: Holt, Rinehart and Winston.
Gambar 6.6 Model Dick dan Carey
Langkah pertama melibatkan definisi tujuan instruksional program atau produk yang termasuk analisis kebutuhan. Langkah dua merupakan analisis instruksional yang dilakukan untuk mengidentifikasi kemampuan khusus, prosedur dan tugas pembelajaran yang melibatkan jangkauan tujuan pembelajaran.
Langkah ketiga dirancang untuk mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki siswa dan prilaku, karakteristik pembelajaran, dan karakteristik dalam pengetahuan baru serta keterampilan yang digunakan. Langkah keempat melibatkan penerjemahan kebutuhan dan tujuan pembelajaran menjadi tujuan operasional yang spesifik.
Langkah kelima pengembangan instrumen penilaian.
Langkah keenam strategi pembelajaran khusus untuk menilai siswa dengan upaya pencapaian prestasi mereka. Langkah ketujuh melibatkan pengembangan instruksional materi. Jika rencana instruksional khusus guru, rencana pembelajaran atau panduan untuk pembelajaran dikembangkan sebagai bagian dari langkah ketujuh.
Langkah kedelapan, kesembilan dan kesepuluh dari model Dick dan Carey melibatkan perbedaan antara evaluasi formatif dan sumatif yang dirancang oleh Michael Scriven. Dalam model Dick dan Carey, evaluasi formatif dilangkah delapan dilaksanakan secara menyeluruh
dalam pengembangan proses dan hasilnya digunakan untuk memperbaiki (langkah sembilan) pekerjaan yang ada selama langkah ketujuh yaitu untuk memperbaiki tujuan pembelajaran, analisis pembelajaran, prilaku, tujuan operasional, ujian, strategi pembelajaran dan instruksi materi.
Dick dan Carey merekomendasikan tiga tingkatan proses evaluasi formatif: (1) mengusulkan prototipe materi satu per satu (yaitu satu evaluator membimbing satu siswa), (2) kelompok kecil terdiri dari enam sampai tujuh siswa, dan (3) percobaan lapangan dengan keseluruhan kelas.
127