• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Relevan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Penelitian Relevan

Berikut ini dikemukakan penelitian yang relevan dengan membahas permasalahan yang sesuai dengan penelitian ini, yaitu antara lain:

Makkuliwa lopi merupakan ritual yang dilakukan nelayan ketika memiliki perahu baru, sebelum diturunkan ke laut dipanjatkan do’a guna memperoleh keselamatan selama melaut.

Perkembangan Tradisi Makkuliwa Lopi

Pemaknaan Masyarakat Mandar

Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene

1. Terdapat perbedaan dalam pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi.

2. Terdapat perbedaan pemahaman masyarakat terdahulu dan sekarang.

Masyarakat Banggae memaknai tradisi makkuliwa lopi sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam makkuliwa lopi terdapat nilai religius, nilai kesederhanaan, nilai sosial dan nilai

gotong royong

1. Kiraman (2015), dengan judul penelitian “Pengaruh Tradisi Makkuliwa Terhadap Masyarakat Mandar” yang berlokasi di daerah Pambusuang Kabupaten Polewali Manar. Dalam penelitian tersebut lebih memfokuskan bagaimana pengaruh tradisi tersebut bagi kehidupan masyarakat Mandar dan kemudian penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa tradisi makkuliwa merupakan tradisi yang berkembang secara turun temurun yang tidak terlepas dari pengaruh Hindu-Budha dan dalam penelitian tersebut menemukan adanya keterkaitan antara budaya lokal Mandar dengan nilai-nilai Islam. Kemudian perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan penulis yaitu terletak pada fokus penelitian yaitu pengaruh tradisi bagi kehidupan masyarakat, sedangkan penulis lebih memfokuskan pada makna yang terdapat dalam tradisi makkuliwa dan perbedaan lain juga terdapat pada lokasi penelitian. Persamaan pada penelitian yang dilakukan penulis yaitu sama-sama melakukan penelitian tentang kearifan lokal budaya yang ada di Mandar.

2. Isna Arliana Goncing (2017), dengan judul penelitian “Tradisi Makkuliwa Lopi dalam Masyarakat Mandar Majene”. Dalam penelitian tersebut memfokuskan pada proses pelaksanaan, bentuk dalam tradisi makkuliwa lopi dan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam tradisi tersebut serta nilai-nilai dan pengaruh tradisi makkuliwa lopi bagi masyarakat Majene.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa tradisi makkuliwa lopi memiliki maksud dan tujuan yaitu syukuran atas perahu dan permohonan doa keselamatan atas perahu. Dalam penelitian tersebut terdapat

perbedaan pada penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu terletak pada fokus penelitian, dimana penulis tidak hanya berfokus pada proses pelaksanaan dalam tradisi makkuliwa lopi tapi lebih kepada makna dalam tradisi tersebut serta bagaimana pemaknaan masyarakat Mandar terhadap tradisi makkuliwa lopi. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian penulis yaitu terletak pada metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif dan penelitian tersebut juga berlokasi di kabupaten Majene.

3. Tabrani (2017), dengan judul penelitian “Nilai-Nilai Qur’ani dalam Tradisi Makkuliwa pada Masyarakat Nelayan di Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar”. Tujuan penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi makkuliwa serta bentuk nilai-nilai Qur’ani dalam tradisi tersebut. Dalam penelitian tersebut menjelaskan bentuk nilai-nilai Qur’ani yang terdapat dalam tradisi makkuliwa pada masyarakat nelayan Pambusuang yaitu: Pertama, nelayan menjadikan Allah Swt. Sebagai pelindung dari bahaya sebagaimana anjuran dalam QS. Al-Muzammil (73:9). Hal ini dibuktikan dari penggunaan mantra-mantra dan doa yang diarahkan pada teologi dengan puncak spiritual kepada Allah Swt. Kedua, menjaga kesucian jiwa dengan cara menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela dan tidak mengambil hak-hak orang lain sebagaimana anjuran dalam QS. An-Nur (24:21). Ketiga, nelayan merasa cukup dengan rezeki yang telah didapatkan. Sikap seperti ini merupakan anjuran dalam QS. Al-

Hajj (22: 36). Keempat, berusaha menjaga ekosistem yang ada di laut dari kerusakan sebagaimana peringatan dalam QS. Ar-Rum (30: 41).

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan penulis sangat jelas perbedaannya yaitu terletak pada fokus permasalahan yaitu penelitian tersebut lebih memfokuskan pada nilai-nilai Qur’ani dalam tradisi makkuliwa, sedang penulis lebih memfokuskan pada pemaknaan masyarakat Mandar dalam tradisi makkuliwa lopi serta perbedaan yang paling mendasar terletak pada subjek dan objek dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan penulis yaitu sama-sama menggunakan jenis metode penelitian yang bersifat kualitatif.

25

3 BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Kualitatif. Metode Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia (Creswell, 2016).

Sedangkan menurut Moleong (2016) mengungkapkan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan suatu kejadian atau fenomena yang terjadi oleh sebuah subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, secara holistic dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa dengan suatu konteks yang alamiah. Berdasarkan pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan suatu fenomena dan masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap bagaimana perkembangan yang terdapat dalam tradisi makkuliwa lopi, serta bagaimana pemaknaan masyarakat Mandar terhadap tradisi makkuliwa lopi.

Sedangkan, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi kasus, dimana yang dimaksud dengan kasus di sini dapat

berupa suatu kejadian, proses, kegiatan, program, ataupun satu atau beberapa orang. Lebih lanjut, untuk memahami isu atau permasalahan secara mendalam, seorang peneliti perlu melakukan penyelidikan dan eksplorasi terhadap satu atau beberapa kasus dalam jangka waktu tertentu dan mengumpulkan data dari berbagai sumber melalui observasi, dokumen, laporan, atau wawancara (Creswell, 2016). Berdasarkan penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa pendekatan studi kasus merupakan pendekatan yang dilakukan untuk memahami suatu permasalahan secara mendalam dengan cara mengumpulkan data melalui berbagai sumber.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di daerah Majene Sulawesi Barat, tepatnya di kecamatan Banggae. Mengapa peneliti mengambil titik lokasi tersebut karena masyarakat di daerah kecamatan Banggae adalah mayoritas penduduk yang berprofesi sebagai nelayan atau posasiq. Waktu Penelitian yang dilakukan peneliti kurang lebih 2 bulan.

C. Informan Penelitian

Menurut Suyanto (2005), informan penelitian ini meliputi tiga macam, yaitu:

1. Informan kunci (key informan), yaitu berjumlah 3 orang yakni tukang lopi dan tokoh agama yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi tentang tradisi makkuliwa lopi.

2. Informan utama, yaitu nelayan berjumlah 4 orang yang pernah melakukan tradisi makkuliwa lopi

3. Informan tambahan, yaitu masyarakat (keluarga nelayan dan tetangga) berjumlah 5 orang yang menjadi pelengkap utama yang digunakan untuk menambah informasi mengenai tradisi makkuliwa lopi.

Sedangkan dalam menentukan informan, menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan informan tidak didasarkan pedoman atau berdasarkan perwakilan populasi, namun berdasarkan kedalaman informasi yang dibutuhkan yaitu dengan menemukan informan kunci yang kemudian akan dilanjutkan pada informan lainnya dengan tujuan mengembangkan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

Adapun alasan peneliti menggunakan purposive sampling tidak lain karena peneliti sebelumnya telah mengetahui terkait bagaimana lokasi yang telah digunakan untuk penelitian. Penentuan informan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling dimana pemilihan informan sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.

D. Fokus Penelitian

Adapun hal yang menjadi titik fokus peneliti dalam melakukan penelitian yakni perkembangan tradisi makkuliwa lopi dalam masyarakat

Mandar saat ini, serta pemaknaan masyarakat Mandar di kecamatan Banggae, kabupaten Majene terhadap tradisi makkuliwa lopi.

E. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah alat penelitian yang melibatkan peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti sebagai instrument harus “divalidasi”

seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian. Peneliti kualitatif “human instrument”, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2015: 305-306).

Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, kamera ponsel, alat perekam, alat tulis, dan peneliti sendiri.

1. Lembar Observasi, digunakan untuk mencatat berbagai informasi berdasarkan hasil pengamatan.

2. Kamera ponsel, digunakan untuk memperoleh bukti berupa dokumentasi.

3. Alat perekam, digunakan untuk memperoleh data-data dari narasumber melalui wawancara dengan beberapa informan.

4. Daftar pertanyaan wawancara, digunakan ketika peneliti melakukan wawancara dengan beberapa tukang lopi, nelayan dan beberapa masyarakat.

F. Jenis dan Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Namun untuk melengkapi data penelitian dibutuhkan dua sumber data, yaitu sumber data primer dan sekunder (Moleong, 2005).

Sumber Data Primer

Data primer adalah pengambilan data dengan instrument pengamatan, wawancara, catatan lapangan dan penggunaan dokumen. Sumber data primer merupakan data yang diperoleh langsung dengan teknik wawancara informan atau sumber langsung. Sumber primer adalah data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2015: 187). Adapun dalam penelitian ini sumber data primer adalah beberapa tukang lopi, nelayan dan masyarakat di kecamatan Banggae, kabupaten Majene.

Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang digunakan untuk mendukung data primer yaitu melalui studi kepustakaan, dokumentasi, buku, dan majalah, koran, arsip tertulis yang berhubungan dengan makna tradisi makkuliwa lopi dalam masyarakat mandar di kecamatan Banggae kabupaten Majene. Sumber data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen (Sugiyono, 2015:187).

G. Teknik Pengumpulan Data

Bila dilihat teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi.

Observasi

Observasi langkah yang ditempuh peneliti untuk mendapatkan gambaran konkrit dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap tradisi makkuliwa lopi yang ada di kecamatan Banggae kabupaten Majene.

Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah responden nya sedikit/kecil. Teknik pengumpulan data ini berdasarkan pada laporan tentang diri sendiri self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan atau keyakinan pribadi (Sugiyono, 2015: 188). Wawancara dilakukan dengan cara terstruktur, dan dilakukan melalui tatap muka (face to face). Maka dari itu, dengan ini peneliti menanyakan seputar perkembangan tradisi makkuliwa lopi dan pemaknaan masyarakat terhadap tradisi tersebut.

Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental

dari seseorang. Adapun dokumentasi dalam penelitian ini yaitu meminta data tentang sejarah kabupaten Majene dan kecamatan Banggae dari pihak Camat, data penduduk dan pada saat observasi dan wawancara. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2015: 326).

H. Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Bilken dalam Moleong (2007: 248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-bilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, menyintesiskan nya, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Berdasarkan penjelasan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa analisis data dalam proses penelitian sangatlah penting dengan memilih data-data yang telah diperoleh agar menjadi data yang dapat dipercaya.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Burhan Bungin (2003: 70) yaitu sebagai berikut:

Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi Data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusur

tema, membuat gugus-gugus, menulis memo, dan sebagainya dengan maksud menyisihkan data/informasi yang tidak relevan. Reduksi data dilakukan dengan memberikan pertanyaan kepada tukang lopi, nelayan dan beberapa masyarakat mengenai perkembangan tradisi makkuliwa lopi dan pemaknaan masyarakat terhadap tradisi tersebut

Display Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data tentang perkembangan tradisi makkuliwa lopi dan pemaknaan masyarakat terhadap tradisi tersebut di kecamatan Banggae kabupaten Majene.

Penarikan Kesimpulan

Merupakan kegiatan akhir dari analisis data. Penarikan kesimpulan berupa kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah disajikan. Antara display data dan penarikan kesimpulan terdapat aktivitas analisis data yang ada. Dalam pengertian ini analisis kualitatif merupakan upaya berlanjut, berulang, dan terus-menerus. Masalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara beruntun sebagai rangkaian kegiatan analisis yang terkait.

Selanjutnya data telah dianalisis, dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kata-kata untuk mendeskripsikan fakta yang ada di lapangan,

pemaknaan atau untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kemudian diambil inti sarinya saja.

Berdasarkan keterangan diatas maka setiap tahap dalam proses tersebut dilakukan untuk mendapatkan keabsahan data dengan menelaah seluruh data yang dari berbagai sumber yang telah didapat dari lapangan data dokumentasi melalui metode wawancara.

I. Teknik Keabsahan Data

Penelitian kualitatif baru mengungkapkan kebenaran yang objektif.

Karena itu keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting.

Melalui keabsahan data kredibilitas (kepercayaan) penelitian kualitatif dapat tercapai. Dalam pencapaian ini untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Adapun triangulasi menurut Moleong (2007:

330) adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang dimanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Jadi, triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Adapun jenis triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini menurut Sugiyono (2007) yaitu:

Triangulasi Sumber

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang diperoleh di

analisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dengan tiga sumber data.

Triangulasi Teknik

Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya untuk mengecek data bisa melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Bila dengan teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

J. Etika Penelitian

Etika penelitian adalah standar tata perilaku peneliti selama melakukan penelitian, mulai dari menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan (melakukan wawancara, observasi, dan pengumpulan data dokumen), menyusun laporan penelitian hingga mempublikasikan hasil penelitian. Misalnya:

1. Menginformasikan tujuan penelitian kepada informan 2. Meminta persetujuan informan (Informan Consent)

3. Meminta izin informan jika ingin melakukan perekaman wawancara, atau mengambil gambar informan.

Berdasarkan penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa peneliti harus memperhatikan etika dalam melakukan penelitian, jika informan tidak

ingin dimintai keterangan atau tidak ingin dicantumkan identitas aslinya dalam tulisan maka peneliti harus menghargai, tidak memaksa serta memperhatikan waktu pada saat melakukan wawancara agar informan tidak merasa terganggu dengan kehadiran peneliti.

36

4 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Lokasi Penelitian

Kabupaten Majene dikenal dengan masyarakatnya yang bersuku Mandar, dimana pada abad ke-16 di kawasan ini berdiri tujuh kerajaan kecil yang terletak di pantai. Pada akhir abad ke-16 kerajaan-kerajaan kecil tersebut bersepakat membentuk federasi yang dinamai dengan Pitu Baqbana Binanga yang bermakna tujuh kerajaan di muara sungai/pantai.

Pada Abad ke-17 federasi tujuh kerajaan di muara sungai ini kemudian bergabung dengan tujuh kerajaan yang berada di pegunungan yang bernama Pitu Ulunna Salu artinya tujuh kerajaan di hulu sungai. Gabungan kedua federasi itu bernama Pitu Baqbana Binanga dan Pitu Ulunna Salu artinya tujuh kerajaan di muara sungai dan tujuh kerajaan di hulu sungai (Alimuddin, 2013). Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, sipamanda (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka.

Kata Majene dipahami masyarakat Mandar dalam tradisi lisan, bahwa penamaan Majene sebenarnya berawal dari adanya pendatang (sebagian masyarakat mengatakan pendatang tersebut adalah orang Belanda dan sebagian pula mengatakan orang Melayu) yang tiba di pesisir pantai dan melabuhkan perahunya disana. Pendatang tersebut mendatangi penduduk lokal yang saat itu sedang ber wudhu di pinggir pantai dan kemudian

pendatang itu bertanya menggunakan bahasanya, ‘’apa nama tempat ini?’’.

Oleh karena itu, penduduk lokal tidak mengerti apa yang dikatakan pendatang tersebut dan menyangka bahwa pendatang itu menanyakan apa yang sedang dilakukannya, maka ia menjawab ‘’manje’ne’’ (berwudhu).

Mulai saat itulah daerah ini dikenal oleh pendatang luar dengan nama Majene (Kawu, 2011). Walaupun sumber penamaan Majene tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan maupun tahunnya, namun cerita inilah berkembang dalam pengetahuan masyarakat Majene dan dijadikan sebagai pijakan terkait asal mula penamaan Majene

B. Letak Geografis

Secara geografis, Kabupaten Majene terletak pada 20 38’ 45” – 30 38’

15” Lintang Selatan dan antara 1180 45’ 00” – 1190 4’ 45” Bujur Timur. Kabupaten Majene terletak di pesisir barat Pulau Sulawesi, yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar dan Pulau Kalimantan.

Kabupaten Majene ke ibukota Propinsi Sulawesi Barat kurang lebih 146 km. Letak geografis Kabupaten Majene berada dalam jalur lintas barat Pulau Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Secara kondisi Geomorfologi Kabupaten Majene berada pada ketinggian (5 – 1.327) meter dari permukaan laut. Berdasarkan keadaan bentang alamnya terdiri atas satuan 4 morfologi yaitu: Satuan Morfologi Pegunungan, satuan ini menempati Pegunungan Manatattuang;

Satuan Morfologi Perbukitan terletak di Daerah Banggae dan Pamboang;

Satuan Morfologi Karst menempati daerah pantai selatan dan utara (Daerah Tubo) dan Satuan Morfologi Pendataran menempati pesisir pantai barat.

Kabupaten Majene dibangun oleh wilayah yang topografi nya bervariasi dari datar sampai berbukit dan bergunung, dengan kemiringan lereng kurang dari 3 % sampai lebih dari 100 %. Hamparan daerah dengan topografi datar ditemukan di sepanjang wilayah paralel dengan garis pantai kabupaten ini. Hamparan wilayah datar terutama ditemukan mulai dari pantai barat Kecamatan Sendana menuju ke selatan sampai ke Kecamatan Banggae dan Banggae Timur yang merupakan (Ibukota Kabupaten).

Sebagian besar wilayah Kabupaten Majene dengan kondisi topografi berbukit dan bergunung hampir merata di semua kecamatan (Majene, 2020).

Kecamatan Banggae terletak antara 20 38’ 45” - 30 38’ 15” Lintang Selatan dan antara 1180 45’ 00” - 1190 4’ 45” Bujur Timur. Luas wilayah Kecamatan Banggae, adalah seluas 25,15 km2. Sampai Akhir tahun 2019, wilayah administrasi Kecamatan Banggae terdiri dari 8 wilayah Desa/Kelurahan, dengan luas daratan masing-masing yaitu:

- Totoli: (4,33 km2) - Rangas (2,23 km2) - Baru (2,46 km2) - Pangali-Ali (4,49 km2) - Banggae (2,27 km2) - Galung (2,14 km2)

- Desa Palipi Soreang (4,12 km2), Serta - Pamboborang (3,11 km2)

Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), Desa/

Kelurahan dengan dataran tertinggi di Kecamatan Banggae adalah Desa Pamboborang dengan ketinggian 0,25 meter di atas permukaan laut sedangkan Desa/ Kelurahan dengan dataran terendah adalah Kelurahan Rangas dengan ketinggian hanya 0,10 meter di atas permukaan laut (Majene, 2020)

Kecamatan Banggae berbatasan dengan Kecamatan Pamboang di sebelah utara dan Barat Kabupaten Polewali Mandar sebelah timur, Batas sebelah selatan masing-masing Teluk Mandar dan Selat Makassar.

C. Keadaan Penduduk

Penduduk merupakan sumber daya, baik untuk kegiatan ber konsumsi maupun sebagai sumber tenaga yang juga dapat berpengaruh kepada seluruh kehidupan, sehingga sering diistilahkan sumber daya manusia (SDM).

Keadaan penduduk (population features) dapat diidentifikasi untuk mengaitkan dengan luas wilayah dan pemerataan penyebarannya, sedangkan proses penduduk (population process) lebih menekankan pada perubahan penduduk berdasarkan jumlah/keadaan/sifat yang berlaku secara berurutan dalam jangka waktu tertentu.

Penduduk Kecamatan Banggae berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2019 sebanyak 43.532 jiwa yang terdiri atas 21.506 jiwa penduduk laki-laki

dan 22.026 jiwa penduduk perempuan. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2019 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 9764. Kepadatan penduduk di kecamatan Banggae 2019 mencapai 1,731 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga 4,68 orang (Majene, 2020).

Kepadatan Penduduk di 8 Desa / Kelurahan cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kelurahan Rangas dengan dan terendah di Desa Palipi Soreang dari tahun 2019.

D. Keadaan Pendidikan

Pendidikan Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah tersedianya cukup sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ketersediaan fasilitas pendidikan akan sangat menunjang dalam meningkatkan mutu pendidikan. Berikut tabel memuat data tentang jumlah murid, sekolah dan tenaga pendidik atau guru dari tingkat taman Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas dan sederajat. Jumlah murid sekolah terbanyak berada pada jenjang sekolah dasar sekitar 4.199 orang.

Selanjutnya pada jenjang sekolah menengah pertama sekitar 1.520 orang.

Dalam mendukung kehidupan sosial, pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin mutu sumber daya manusia (SDM).

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir, pola tingkah laku dan interaksi sosial seseorang sebagai bagian dari anggota masyarakat dalam melakukan aktivitas untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Pendidikan

Dokumen terkait