BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
1. Diharapkan kepada pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat agar senantiasa menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi yang menjadi ciri khas seorang nelayan agar budaya Mandar tersebut tetap dapat dipertahankan dan mampu memperkaya kearifan lokal Indonesia khususnya di daerah Majene.
2. Tradisi makkuliwa lopi yang dilakukan para nelayan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur serta mengharapkan keselamatan, diharapkan kepada para nelayan untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi tersebut agar tetap dilestarikan,
3. Diharapkan kepada peneliti selanjutnya bisa menambahkan apa yang menjadi kekurangan dalam skripsi ini.
77
7 DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Alimuddin, Muhammad Ridwan. (2005). Orang Mandar Orang Laut. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia.
Alimuddin, Muhammad Ridwan. (2013). Orang Mandar Orang Laut:
Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman.
Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Alimuddin, Muhammad Ridwan. (2017). Laut, Ikan dan Tradisi, Kebudayaan Bahari Mandar. Polewali Mandar: Teluk Mandar Kreatif dan Armada Pustaka Mandar.
Bodi, Muh. Idham Khalid dan Ulfiani Rahman. (2006). Bahasa Busana Mandar.
Tangerang: Nuqtah.
Bungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif “Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Creswell, W John. (2016). Research Design, Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hakim, Moh. Nur. (2003). “Islam Tradisional dan Reformasi Pragmatisme”
Agama dalam Pemikiran Hasan Hanafi. Malang: Bayu Media Publishing.
Ismail, Arifuddin. (2007). Religi Manusia Nelayan Masyarakat Mandar.
Makassar: Indobis Rekagrafis.
Ismail, Arifuddin. (2012). Agama Nelayan: Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Majene, BPS Kabupaten. (2020). Kabupaten Majene dalam Angka 2020. Majene:
BPS Kabupaten Majene.
Majene, BPS Kabupaten. (2020). Kecamatan Banggae dalam Angka 2020. Majene: BPS Kabupaten Majene.
Maran, Rafael Raga. (2010). Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Pikiran Rakyat.
Moleong, Lexi J. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
78
Mustari, A. Suryaman. 2009 Hukum Adat Dulu, Kini dan akan Datang. Makassar:
Pelita Pustaka.
Nursalam, Suardi, Syarifuddin. (2016). Teori Sosiologi Klasik, Modern, Posmodern, Saintifik, Hermeneutik, Kritis, Evaluatif dan Integratif.
Yogyakarta : Writing Revolution.
Peursen, CA Van. (1988). Strategi Kebudayaan. Edisi Kedua. Yogyakarta:
Kanisius
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alvabeta
Suyanto, Bagong. (2015). Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Prenada Media
West, Richard, Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi Edisi 3. Jakarta: Salemba Humanika.
Jurnal:
Kawu, A. S. (2011). Sejarah Masuknya Islam di Majene History of the Entry of Islam in Majene. Al-Qalam, 17(2), 151-162.
Mansur. (2016). Kuliwa: Islam dan Tradisi Lokal Nelayan Mandar di Pambusuang Sulawesi Barat. Jurnal Annual International Conference on Islamic Studies, 147-156.
Skripsi:
Goncing, Isna Arliana. (2017). Tradisi Makkuliwa Lopi dalam Masyarakat Mandar Majene (Tinjauan Filosofis) (Skripsi). Makassar: UIN Alauddin Makassar.
Juliana, M. (2017). Tradisi Mappasoro Bagi Masyarakat Desa Barugariattang Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba (Skripsi). Makassar: UIN Alauddin Makassar.
Kiraman. (2015). Pengaruh Tradisi Makkuliwa Terhadap Masyarakat Mandar (Skripsi). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Tabrani. (2017). Nilai-Nilai Qur’ani dalam Tradisi Makkuliwa pada Masyarakat Nelayan di Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar. Skripsi, Makassar: UIN Alauddin Makassar.
Undang-Undang:
Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
79 Internet:
Kamus Besar Bahasa Indonesia Digital, kbbi.web.id/tradisi. (diakses 21 Agustus 2020).
Majene, Pemkab. (2019) www.majenekab.go.id (diakses tanggal 04 Januari 2021) Seputar Pengetahuan. (2017). Pengertian Tradisi Menurut Para Ahli.
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/10/pengertiantradisimenurUt -para-ahli.html. (diakses 21 Agustus 2020)
L A M
P
I
R
A
N
Interpretasi Teori Penelitian
No. Makna Tradisi Makkuliwa Sebelum Bergeser Makna Tradisi Makkuliwa lopi Setelah Bergeser
Interpretasi Teori Interaksionisme Simbolik 1. Masyarakat terdahulu menganggap tradisi
makkuliwa lopi dilakukan dengan tujuan untuk meminta pertolongan terhadap makhluk astral, kepercayaan nenek moyang seperti roh penunggu laut atau penjaga laut.
Masyarakat saat ini sudah tidak mempercayai hal-hal mistis seperti orang-orang terdahulu, sejak Islam memasuki wilayah Mandar, tujuan dilakukan makkuliwa lopi hanya semata-mata karena ungkapan rasa syukur terhadap sang pencipta dan untuk keselamatan selama mencari rezeki di lautan.
Masyarakat melakukan interaksi sosial dengan masyarakat lain melalui komunikasi sehingga tradisi dapat berkembang sampai saat ini.
2 Masyarakat terdahulu mempercayai hal-hal mistis.
Saat ini masyarakat hanya percaya kepada Allah Swt.
Dari proses interaksi tersebut membentuk kepercayaan yang tinggi terhadap nelayan-
nelayan yang berada di daerah tersebut.
3 Sebelum melakukan ritual makkuliwa lopi terdapat beberapa sesajian yang dibutuhkan dalam pelaksanaan makkuliwa seperti sokkol atau beras ketan yang berjumlah tujuh piring.
Masyarakat saat ini diberikan toleransi dalam pemenuhan sesajian yang disesuaikan dengan kemampuan pemilik perahu, dimana masyarakat dapat memenuhi sokkol tadi hanya dengan satu piring saja.
Pemenuhan sesajian tersebut disesuaikan dengan kemampuan masyarakat yang akan melakukan kuliwa.
4 Masyarakat terdahulu memaknai tradisi makkuliwa lopi karena sebuah tradisi yang sudah menjadi kebiasaan dari turun temurun.
Masyarakat saat ini memaknai tradisi makkuliwa lopi bukan hanya sekedar sebuah kebiasaan, tetapi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt karena telah memiliki perahu baru dan juga untuk keselamatan agar terhindar dari marabahaya selama melaut.
Tradisi makkuliwa dapat menjadi sebuah tradisi dikarenakan adanya pemaknaan masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur yang kemudian dikuatkan karena sudah menjadi didikan
nenek moyang sampai saat ini, kemudian melalui proses interaksi membentuk sebuah kepercayaan yang kuat.
5 Masyarakat terdahulu mengetahui makna dibalik beberapa sesajian yang dibutuhkan dalam makkuliwa lopi.
Masyarakat saat ini tidak begitu mengetahui makna dibalik beberapa sesajian yang dibutuhkan dalam tradisi makkuliwa lopi, mereka hanya mengetahui bahwa itu hanya sebagai suatu syarat ketika akan melaksanakan ritual makuliwa.
Masyarakat memaknai sesuatu sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dari orang- orang terdahulu.
Pedoman Wawancara
No. Pedoman Wawancara Pertanyaan
1. Pedoman Wawancara Informan Kunci
1. Apa itu tradisi makkuliwa lopi?
2. Bagaimana awal mula kemunculan tradisi makkuliwa lopi di tanah Mandar?
3. Siapa saja yang terlibat dalam tradisi tersebut?
4. Apakah tradisi makkuliwa lopi masih dilakukan masyarakat Mandar di kecamatan Banggae sampai saat ini?
5. Mengapa masyarakat masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
6. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
7. Apakah tujuan dari dilaksanakannya tradisi makkuliwa lopi
8. Apa makna yang terdapat dalam setiap proses pelaksanaan makkuliwa lopi 2. Pedoman Wawancara Informan
Utama
1. Sudah berapa lama Anda berprofesi sebagai seorang nelayan?
2. Apa yang Anda ketahui tentang tradisi makkuliwa lopi?
3. Apakah Anda masih melakukan tradisi hingga saat ini?
4. Sejak kapan Anda melakukan tradisi tersebut?
5. Jenis perahu apa saja yang biasanya digunakan nelayan dalam menangkap ikan?
6. Bagaimana proses dalam tradisi makkuliwa lopi?
7. Apa saja yang dibutuhkan sebelum memulai tradisi makkuliwa?
8. Berapa biaya yang dikeluarkan ketika melakukan tradisi tersebut?
9. Siapa saja yang terlibat di dalam proses makkuliwa lopi?
10. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi dari waktu ke waktu?
11. Apakah Anda mengetahui makna yang terdapat dalam tradisi makkuliwa lopi?
12. Mengapa tradisi tersebut masih dilakukan sampai saat ini?
13. Apakah Anda pernah tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi selama Anda berprofesi sebagai nelayan?
14. Apakah ada kendala yang terjadi pada saat Anda melaksanakan proses makkuliwa lopi?
15. Bagaimana jika tradisi makkuliwa tidak dilakukan oleh nelayan?
3. Pedoman Wawancara Informan Tambahan
1. Apakah Anda mengetahui tradisi makkuliwa lopi?
2. Apakah Anda pernah mengikuti tradisi tersebut? Jika iya, berikan alasannya mengapa Anda mengikuti tradisi tersebut.
3. Apakah Anda pernah melihat ada masyarakat yang tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi?
4. Apakah Anda mengetahui makna yang ada dalam setiap proses makkuliwa lopi atau Anda hanya sekedar mengikuti karena kebiasaan yang dilakukan setiap nelayan?
5. Bagaimana pendapat Anda tentang tradisi tersebut, apakah tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam?
6. Menurut Anda, sebagai masyarakat Mandar apakah tradisi tersebut tetap harus dilestarikan?
7. Apa harapan Anda ke depannya mengenai tradisi makkuliwa lopi?
TRANSKIP WAWANCARA
INFORMAN KUNCI (Tukang Lopi) Nama Informan : Haris
Pekerjaan : Tukang Lopi/Sando Lopi
Lokasi Penelitian : Tanangan Barat, Kelurahan Pangali-Ali Waktu penelitian : 04, Januari 2021
1. Apa itu tradisi makkuliwa lopi?
Makkuliwa itu untuk keselamatan, sama juga rumah.
2. Bagaimana awal mula kemunculan tradisi makkuliwa lopi di tanah Mandar?
Awal mulanya dari Nabi Nuh dan dari nenek moyang 3. Siapa saja yang terlibat dalam tradisi tersebut?
Tukang lopi, sando lopi, punggawa lopi
4. Apakah tradisi makkuliwa lopi masih dilakukan masyarakat Mandar di kecamatan Banggae sampai saat ini?
Dijalankan terus dari dulu sampai sekarang
5. Mengapa masyarakat masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
Karena tidak bisa tidak dilakukan, kalau tidak dilakukan pasti ada apa-apa ketika perahu itu akan dipakai
6. Apa makna yang terdapat dalam setiap proses pelaksanaan makuliwa lopi?
Makna dari loka, sokkol dll itu hanya sebagai suatu syarat 7. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam membuat perahu?
Kalau perahu ukuran kecil tidak cukup satu bulan, kalai perahu ukuran sedang sekitar satu bulan, semua terserah dari bahannya.
8. Berapa upah yang didapatkan tukang lopi dalam membuat sebuah perahu?
Sekitar 12 juta, tergantung ukuran juga Nama Informan : Ustadz Imran Pekerjaan : Imam Masjid
Lokasi Penelitian : Deteng-deteng, Kelurahan Totoli Waktu penelitian : 05, Januari 2021
1. Apa itu tradisi makkuliwa lopi?
Makkuliwa lopi dzi’o merau syukur sanna’I tau lao di Puang Allah Ta’ala, apa diang lopi baru anna untuk assalamakang.
2. Bagaimana awal mula kemunculan tradisi makkuliwa lopi di tanah Mandar?
Saya tidak mengetahui persis awal kemunculan tradisi makkuliwa lopi, yang saya ketahui tradisi ini ada sampai saat ini karena dilakukan secara turun- temurun dari generasi ke generasi.
3. Apakah tradisi makkuliwa lopi masih dilakukan masyarakat Mandar di kecamatan Banggae sampai saat ini?
Masih dijalankan oleh posasiq Mandar sampai saat ini.
4. Bagaimana pendapat Anda tentang tradisi tersebut, apakah tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam?
Iya dzi’e makkuliwa lopi merupakan tradisi yang dilakukan posasiq Mandar sejak dulu sampai sekarang. Dimana makkuliwa ini yakni memanjatkan doa kepada Allah Swt serta mambaca barazanji sebagai puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Selama tradisi makkuliwa ini dilakukan tidak keluar dari
ajaran Islam, maka boleh-boleh saja dilakukan posasiq. Tetapi semua itu kembali lagi kepada keyakinan masyarakat itu sendiri.
Nama Informan : Abdul Rahim Pekerjaan : Tukang Lopi
Lokasi Penelitian : Rangas Barat, Kelurahan Rangas Waktu penelitian : 07, Januari 2021
1. Apa itu tradisi makkuliwa lopi?
Makkuliwa lopi dzi’o untuk assalamakang, apa’ mambaca-baca do’a i tau 2. Bagaimana awal mula kemunculan tradisi makkuliwa lopi di tanah Mandar?
Awal mulana ya nenek-nenek yang dulu bassa nenek moyang, jadi kita ini keturunan.
3. Siapa saja yang terlibat dalam tradisi tersebut?
Termasuk Imam, tukang pakkappal, mua’ na mapparondongi ya’ ita mo si tukang lao.
4. Apakah tradisi makkuliwa lopi masih dilakukan masyarakat Mandar di kecamatan Banggae sampai saat ini?
Iye’ selalu dilakukan, setiap tau massorong lopi, biar perahu kecil, perahu besar sama juga, yang jelas perahu baru.
5. Mengapa masyarakat masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
Karena kebiasaan, Andani mala dipa’dai apa samanna to mindiolo nauwa to mauweng mua’ dipa’dai samanna to mindiolo diang manini anu ndang lao dihara’ mepolei, apa anu assalamakang tia dzi’o.
6. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
Pokokna iya tarrus di pogau mua’ massorong bomi tau lopi.
7. Apa makna yang terdapat dalam setiap proses pelaksanaan makuliwa lopi?
Ya’ ada’ na tomi tia dzi’o to Mandar
INFORMAN UTAMA (Nelayan) Nama Informan : Jasman Pekerjaan : Nelayan
Lokasi Penelitian : Tanangan Barat, Kelurahan Pangali-Ali Waktu penelitian : 04, Januari 2021
1. Sudah berapa lama Anda berprofesi sebagai seorang nelayan?
Hampir 30 tahun
2. Apa yang Anda ketahui tentang tradisi makkuliwa lopi?
Makkuliwa itu adalah sebuah tradisi dan juga iya dzi’o disanga makkuliwa, kita mengharap berkah dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam, karena ma’ barasanji tau, makkuliwa juga sebagai tAnda pelepasan tukang ke pemilik perahu.
3. Berapa biaya yang dikeluarkan ketika melakukan tradisi tersebut?
Biasa mencapai jutaan ongkosnya
4. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
Tidak ada perbedaan, sama saja.
5. Apakah Anda pernah tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi selama Anda berprofesi sebagai nelayan?
Jarang, kalau perahu baru itu harus dikuliwa.
6. Apakah ada kendala yang terjadi pada saat Anda melaksanakan proses makkuliwa lopi?
Kendalanya itu kalau hujan atau kencang angin itu mengganggu situasi.
7. Apakah masyarakat menentukan waktu dalam makkuliwa lopi dan hari apa mereka melakukan kuliwa?
Kadang hari senin karna merupakan hari kelahiran Nabi, kemudian hari rabu, jum’at dan sabtu.
8. Apakah lopi Sandeq juga digunakan nelayan dalam menangkap ikan?
Mulai dari tahun 70an itu perahu sandeq dipakai memang untuk mencari ikan di laut, tapi mulai dari tahun 90an sampai sekarang lopi sandeq sudah tidak digunakan untuk mencari ikan di laut, tetapi sudah diikutkan dalam ajang lomba perahu lopi sandeq pada setiap bulan Agustus.
Nama Informan : Firdaus Pekerjaan : Nelayan
Lokasi Penelitian : Tanangan, Kelurahan Baru Waktu penelitian : 05, Januari 2021
1. Sudah berapa lama Anda berprofesi sebagai seorang nelayan?
Sudah 10 tahun
2. Apa yang Anda ketahui tentang tradisi makkuliwa lopi?
Itu masalah makkuliwa lopi sudah dari dulu, tradisi orang Mandar dan makkuliwa itu juga untuk keselamatan selama melaut.
3. Apakah Anda masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
Iya, sampai sekarang
4. Jenis perahu apa saja yang biasanya digunakan nelayan dalam menangkap ikan?
Perahu tradisional
5. Berapa biaya yang dikeluarkan ketika melakukan tradisi tersebut?
Sampai 2 jutaan
6. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
Masih sama seperti dulu
7. Apakah Anda mengetahui makna yang terdapat dalam tradisi makkuliwa lopi?
Tidak mengetahui makna dari sokkol dan lain-lain, hanya mengetahui bahwa itu sebagai suatu syarat dalam makkuliwa.
8. Mengapa tradisi tersebut masih dilakukan sampai saat ini?
Karena itu sudah turun temurun dari nenek moyang kita.
9. Apakah Anda pernah tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi selama Anda berprofesi sebagai nelayan?
Selalu melakukan
10. Apakah ada kendala yang terjadi pada saat Anda melaksanakan proses makkuliwa lopi?
Tidak ada kendala
11. Apakah masyarakat menentukan waktu dalam makkuliwa lopi dan hari apa mereka melakukan kuliwa?
Biasanya nelayan mencari hari baik menurut yang mereka percayai.
Nama Informan : Hamma Ali Pekerjaan : Nelayan
Lokasi Penelitian : Rangas Pa’besoang, Kelurahan Rangas Waktu penelitian : 07, Januari 2021
1. Sudah berapa lama Anda berprofesi sebagai seorang nelayan?
Kurang lebih 20 tahun
2. Apa yang Anda ketahui tentang tradisi makkuliwa lopi?
Iya dzo’ makkuliwa lopi, kita berdo’a dan bersyukur karena kita mempunyai kapal baru.
3. Apakah Anda masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
Sampai sekarang
4. Sejak kapan Anda melakukan tradisi makkuliwa lopi?
Dari dulu.
5. Jenis perahu apa saja yang biasanya digunakan nelayan dalam menangkap ikan?
Sandeq, alat geraknya katinting
6. Bagaimana proses dalam tradisi makkuliwa lopi?
Mambacai tau ya berdo’a, kemudian mappasadiai tau ule-ule istilahna Mandar, sokkol, loka, kemudian ada juga Imam, tukang perahu.
7. Berapa biaya yang dikeluarkan ketika melakukan tradisi tersebut?
Kurang lebih 1 juta, mua’ bassa katinting, tapi mua’ biasa kappal kayyang di atas 1 juta
8. Siapa saja yang terlibat di dalam proses makkuliwa lopi?
Sawi’, tetangga, pemilik perahu
9. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
Andang diang, itu terus
10. Apakah Anda mengetahui makna yang terdapat dalam tradisi makkuliwa lopi?
Simbol dari pisangnya, nauwa tomauweng, ussul Andang tu’u diang ponna loka mate sebelum membua, kalau si sokkol ya’ sebagai tradisi dami tia dzi’o dan kebiasaan dari nenek-nenek moyang yang dulu.
11. Apakah Anda pernah tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi selama Anda berprofesi sebagai nelayan?
Andani tau biasa ndang makkuliwa, walaupun habis di cat tetap kita melakukan kuliwa, karena itu sudah menjadi tradisi.
12. Apakah ada kendala yang terjadi pada saat Anda melaksanakan proses makkuliwa lopi?
Tergantung dari cuaca
13. Bagaimana jika tradisi makkuliwa tidak dilakukan oleh nelayan?
Biasa dzi’o mipolei rekeng ceritana, biasa diang kejadian-kejadian yang tidak disangka.
Nama Informan : Irfan Pekerjaan : Nelayan
Lokasi Penelitian : Pakkola, Kelurahan Banggae Waktu penelitian : 10, Januari 2021
1. Sudah berapa lama Anda berprofesi sebagai seorang nelayan?
Kurang lebih 7 tahun.
2. Apa yang Anda ketahui tentang tradisi makkuliwa lopi?
Demi keselataman.
3. Apakah Anda masih melakukan tradisi tersebut hingga saat ini?
Iya, masih
4. Sejak kapan Anda melakukan tradisi tersebut?
Sejak saya mulai berprofesi sebagai nelayan
5. Jenis perahu apa saja yang biasanya digunakan nelayan dalam menangkap ikan?
Kapal bodi dan lepa-lepa
6. Bagaimana proses dalam tradisi makkuliwa lopi?
Setelah sudah disiapkan bahannya, kita panggil Imam dan juragan kapal serta para anggota atau sawi’, kemudian kita mulai duduk bersila dan membaca barazanji.
7. Apa saja yang dibutuhkan sebelum memulai tradisi makkuliwa?
Pisang, telur, sokkol, peca-peca lopi, bubur kacang hijau serta cucur.
8. Berapa biaya yang dikeluarkan ketika melakukan tradisi tersebut?
Kurang lebih Rp. 1.500.000
9. Siapa saja yang terlibat di dalam proses makkuliwa lopi?
Imam, juragan kapal, serta para sawi’nya atau anggota.
10. Apakah ada perubahan atau perbedaan dalam proses pelaksanaan tradisi makkuliwa lopi tersebut dari waktu ke waktu?
Tidak ada
11. Apakah Anda mengetahui makna yang terdapat dalam tradisi makkuliwa lopi?
Makna dari makkuliwa lopi adalah untuk keselamatan bersama dalam mencari rezki, mudah-mudahan hasil dari semua itu ada berkah dari Allah SWT.
12. Mengapa tradisi tersebut masih dilakukan sampai saat ini?
Karena itu sudah menjadi keyakinan kami sebagai nelayan dan sudah wajib dilakukan dari turun-temurun.
13. Apakah Anda pernah tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi selama Anda berprofesi sebagai nelayan?
Tidak pernah, karena sudah diwajibkan bagi seorang nelayan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
14. Apakah ada kendala yang terjadi pada saat Anda melaksanakan proses makkuliwa lopi?
Tidak ada.
15. Bagaimana jika tradisi makkuliwa tidak dilakukan oleh nelayan?
Sesuai dengan keyakinan kami sebagai nelayan Mandar, akan banyak kendala dan kesulitan selama melaut, seperti kerusakan mesin secara tiba-
tiba, perahu atau kapal tiba-tiba retak dan dimasuki air, jaring ikan tiba-tiba robek atau putus pada saat menjaring ikan, serta rezki juga tidak karauan dalam mencari ikan.
INFORMAN TAMBAHAN (Masyarakat) Nama Informan : Maryam
Pekerjaan : IRT (Istri Nelayan)
Lokasi Penelitian : Tanangan, Kelurahan Pangali-Ali Waktu penelitian : 05, Januari 2021
1. Apakah Anda mengetahui tradisi makkuliwa lopi?
Iya, makkuliwa lopi bassa dzi’o seumpama diang kappal baru ya dikuliwai dolo, seperti mambaca-baca, mappasadiai tau sokkol dan lain-lain, kmudian mambaca di kappal.
2. Apakah Anda pernah mengikuti tradisi tersebut? Jika iya, berikan alasannya mengapa Anda mengikuti tradisi tersebut.
Iya, pernah.
3. Apakah Anda pernah melihat ada masyarakat yang tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi?
Ada sebagian yang tidak percaya, tapi kebanyakan yang kulihat ya’
makkuliwa i.
4. Apakah Anda mengetahui makna yang ada dalam setiap proses makkuliwa lopi, atau Anda hanya sekedar mengikuti karena kebiasaan yang dilakukan setiap nelayan?
Cuma ikut jaka saja, saya tidak ku tahu apa maknanya kenapa ada pisang dan lain-lain.
5. Bagaimana pendapat Anda tentang tradisi tersebut, apakah tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam?
Tidak bertentangan.
6. Menurut Anda, sebagai masyarakat Mandar apakah tradisi tersebut tetap harus dilestarikan?
Ya harus, karena itu sudah menjadi turun temurun.
Nama Informan : Ichwan
Pekerjaan : Pegawai Dispenda
Lokasi Penelitian : Camba, Kelurahan Baru Waktu penelitian : 05, Januari 2021
1. Apakah Anda mengetahui tradisi makkuliwa lopi?
Iya. Itu makkuliwa lopi untuk keselamatan selama di perjalanan dalam melaut, mudah-mudahan tidak sulit dalam menangkap ikan dan untuk syukuran juga.
2. Apakah Anda pernah mengikuti tradisi tersebut? Jika iya, berikan alasannya mengapa Anda mengikuti tradisi tersebut.
Iya, pernah. Karena kebiasaan di daerah Mandar, kalua ada perahu baru biasanya dikuliwa karna persyaratannya juga dari nenek moyang orang Mandar sampai sekarang.
3. Apakah Anda pernah melihat ada masyarakat yang tidak melakukan tradisi makkuliwa lopi?
Jarang sekali, selama saya lahir tidak pernah saya lihat ada masyarakat yang tidak makkuliwa.
4. Apakah Anda mengetahui makna yang ada dalam setiap proses makkuliwa lopi, atau Anda hanya sekedar mengikuti karena kebiasaan yang dilakukan setiap nelayan?
Saya hanya mengetahui syarat-syarat dalam makkuliwa, yaitu kita menyediakan pisang, sokkol, cucur, ule-ule, tallo, dan semua itu dilaksanakan di atas kapal sebelum diturunkan ke laut.
Andattoi tia mangapa mua’ Andani ganna ande-andena, inna ingganna pa’ulleanna ya’ iya tappa’mo. Itu juga namanya makkuliwa, setiap barang baru harus dikuliwa dulu sebelum dipakai, kuliwa juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan karena kita mempunyai sesuatu barang yang baru yang perlu kita syukuri dan makkuliwa juga dilakukan hanya sekali, selebihnya itu baca-baca syukuran.
5. Bagaimana pendapat Anda tentang tradisi tersebut, apakah tradisi tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam?
Tidak bertentangan, karena tidak pernah saya lihat ada yang membuang makanan ke laut, karena jika ada yang membuang itu sudah musyrik.