BAB II LANDASAN TEORI
B. Penelitian Terdahulu
39
h. Pertimbangkanlah untuk menggunakan applied behavior strategy dalam melaksanakan programa pembelajaran.48
40
SLB 4 Kota Bengkulu, juga terdapat perbedaan pada variabel, yaitu penelitian terdahulu implementasi kurikulum 2013, sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan variabel sinergitas orang tua dan guru agama.
2. Peran orang tua dalam menembangkan potensi Anak Tunagrahita di Kelurahan Pasar Tais Kab. Seluma”, yang ditulis oleh Jeli Novita Sari, (2018). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research). Dalam penelitian ini menggunakan beberapa alat pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menyatakan peran orang tua dalam mengembangkan potensi anak tunagrahita adalah memperhatikan perkembangan minat dan bakat anak tunagrahita di rumah.50
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah pada lokasi penelitian, dimana penelitian terdahulu dilakukan di Kelurahan Pasar Tais Kab.Seluma, sedangkan penelitian sekarang dilakuakan di SLB 4 Kota Bengkulu, juga terdapat pada jenis penelitian yang dimana penelitian terdahulu menggunakan jenis penelitian lapangan (field research), sedangkan penelitian sekarang menggunakan jenis penelitian kualitatif, deskriptif.
3. Upaya Guru dalam Pembinaan Sikap Sosial pada Siwa Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri 01 Kota Bengkulu, yang ditulis oleh Tri Rahayu (2019). Menjelaskan bahwa pembinaan seorang guru berperan aktif dalam
50 Jeli Novita Sari, .“Peran orang tua dalam menembangkan potensi Anak Tunagrahita di Kelurahan Pasar Tais Kab. Seluma, Skripsi, IAIN Bengkulu, 2018
41
mendidik siswa yang memiliki kelainan atau kecerdasan khusus atau ciri khusus yang sesuai dengan kepintarannya, pembinaan sikap sosial yang baik yang dilakukan oleh guru dan lingkungan sekitar serta dukungan orang tua.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah pada lokasi penelitian, jenis penelitian lapangan, dan hasil peneliti berpendapat bahwa selain peran guru disekolah, maka kerja sama antara orang tua dan guru harus terjalin dengan baik dalam pembinaan anak tunagrahita.51 C. Kerangka Berpikir
Sinergitas
Menurut Covey yang dikutip melalui jurnal pembangunan pada student jurnal mengartikan sinergitas sebagai:”Kombinasi atau paduan unsun atau bagian yang dapat menghasilkan keluaran lebih baik dan lebih besar dari pada yang dikerjakan sendiri-sendiri, selain itu gabungan beberapa unsur akan menghasilkan suatu produk yang lebih unggul.
51 Tri Rahayu, Upaya Guru dalam Pembinaan Sikap Sosial pada Siwa Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri 01 Kota Bengkulu, (Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, IAIN Bengkulu, 2019), h. 6
Pembinaan Agama ggggjhfgjkf
kl
Orang Tua dan Guru Agama
Anak Tunagrahita
42
Pembinaan merupakan upaya untuk memberikan kesempatan sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi oleh peserta didik.
Dengan demikian, pembinaan pada hakekatnya diarahkan untuk meningkatkan akses bagi individu, kelurga dan kelompok masyarakat terhadap sumber daya untuk melakukan proses kesempatan berusaha. Supaya tercapai hal tersebut diperlukan berbagai usaha dan upaya untuk memotivasi dalam bentuk antara lain pembinaan sikap dan pengembangan sumber daya manusia.
Tujuan pembinaan untuk mengetahui fokus dan tujuan pembinaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang menunjukan seseorang itu mampu atau tidak. Sehingga ketika sebuah program pembinaan sosial diberikan, segenap upaya dapat dikonsentrasikan pada aspek- aspek apa saja dari sasaran perubahan (misalnya: sisa yang kurang mampu) yang perlu dioptimalkan.
Orang tua adalah yang melahirkan kita yakni ibu dan bapak. Dalam kamus besar bahsa indonesia, istilah orang tua diartikan dengan: ayah dan ibu kandung, orang tua-tua, dan orang dianggap tua (cerdik, pandai, para ahli dan sebagainya).52 Metode Pembinaan Orang Tua: a. Metode keteladanan, b.
Metode pembiasaan, c. Metode pemberian ganjaran
Kata guru sendiri berasal dari bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar, dalam bahasa Inggristeacher yang berarti pengajar. Metode Pengajaran Agama Islam: 1. Metode pembiasaan, 2. Metode keteladanan, 3.
Metode pemberian ganjaran.
52 Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama), h. 655
43
Seseorang dikatagorikan berkelaianan mental atau tunagrahita jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (dibawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.53
Anak-anak tunagrahita yang memiliki jumlah lebih banyak dari anak- anak yang berkebutuhan khusus lainnya yang ada di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu, tentunya menjadi bagian terberat guru agama dalam mengembangkan pembinaan agama di lingkungan sekolah. Kerjasama yang baik maka harus diciptakan antara orang tua dan guru agama agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
53 Mohammad Efendi, Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), h. 88
44
BAB III
METODE PENELITAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian Kualitatif Deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. 1 Penelitian deskriptif data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif. Selain itu, semua yang dikumpulkan berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah di teliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gamabaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawncara, catatan lapangan, foto, vidiotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumentasi resmi lainnya. 2
B. Setting Penelitian
1. Tempat penelitian dilakukan di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu, JL. Budi Utomo, RT.21, RW.05, Kelurahan. Kandang Mas, Kecamatan. Kampung Melayu.
1 Lexi J. Melong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018), h. 6
2 Lexi J. Melong, Metodelogi Penelitian Kualitatif,...h. 11 44
45
2. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 16 November sampai dengan 17 Desember 2020.
C. Sumber Data
Data penelitian yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa informasi yang akan di peroleh dari sumber-sumber sebagai berikut:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpulan data.3 Sumber data utama adalah orang tua dan guru agama yang mengajar anak Tunagrahita yang di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Negeri 4 Kota Bengkulu. Sumber ini yang memiliki kedekatan dengan masalah yang akan diteliti.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpulan data.4 Data sekunder merupakan data pelengkap sebagai penunjang data-data pokok yang diperoleh dari sumber data primer. Data sekunder diperoleh dari:
a. Arsip/dokumentasi, yaitu data dokumentasi mengenai keadaan sekolah b. Peristiwa, yaitu berbagai aktivitas yang terjadi di lokasi penelitian yang
berkaitan dengan permasalahan penelitian
c. Wawancara dengan guru, kepala sekolah, dan orang tua.
3 Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 62
4 Sugiono, Memahami Penelitian...,h. 63
46
Untuk mengetahui dan memilih sumber data dalam penelitian ini, maka penulis melakukan berbagai penilaian untuk dipertimbangkan, layak tidaknya sumber tersebut dijadikan sumber data.
3. Informan Penelitian
Adapun subjek dan informan pada penelitian ini adalah:
a) Kepala Sekolah
b) Guru Pendidikan Agama Islam c) Guru Wali Kelas
d) Empat Orang Tua Anak Tunagrahita D. Instrumen Penelitian
Tabel 3.4 Instrumen Penelitian
No Indikator Sub Indikator Aspek yang diobservasi 1. Pembinaan Persiapan 1. Menganalisis cara pembinaan
orang tua terhadap anak .
a. Membandingkan pembinaan orang tua dan guru
b. menentukan faktor penyebab kesulitan dalam pembinaan anak terhadap pengalaman agama. (faktor internal dan faktor exsternal).
2. Pelaksanaan Pembinaan
Metode Pembinaan orang tua dan guru agama
2. Metode keteladanan 3. Metode pembiasaan
4. Metode pemberian ganjaran 3. Hasil
Pembinaan orang tua dan guru agama
Ketercapaian 5. Cara menerapkan pembinaan pengalaman agama anak tunagrahita
47 E. Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian apa pun, termasuk penelitaian kualitataif, dan digunakan untuk memperoleh informasi atau data sebagaimana tujuan penelitian. Istilah observasi dalam penelitian kualitatif biasanya hanya dikenal dengan satu sebutan saja, yakni teknik observasi (pengamatan).
Tujuan data observasi adalah untuk mendeskripsikan latar yang diobservasi; kegiatan-kegiatan yang terjadi di latar itu; orang-orang yang berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan; makna latar, kegiatan-kegiatan, dan partisispasi mereka dalam orang-orangnya.5
Observasi secara langsung, yaitu dengan cara melihat secara langsung tentang situasi, kondisi dan lingkungan di SLB, guru, orang tua dan anak-anak penyandang tunagrahita maupun peristiwa penting dan relevan dengan penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan untuk mengetahui “ Sinergitas Orang Tua dan Guru Agama Dalam Membina Pengalaman Agama Anak Tunagrahita di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu”.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka si penanya atau pewawancara dengan si penjawab dengan menggunakan alat panduan yang dinamakan interview guide (panduan wawancara), metode ini digunakan
5 Rulam Ahmadi. Metodelogi Penelitian Kualitatif. (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), h. 161
48
untuk memperoleh data tentang kajian pembinaan pengalaman agama yang berhubungan dengan penelitian ini.
Dalam metode wawancara peneliti menggunakan jenis wawancara, yaitu wawancara terpimpin dan wawancara tidak terpimpin. Wawancara terpimpin adalah tanya jawab yang terarah untuk mengumpulkan data-data yang relevan saja. Sedangkan wawancara tidak terpimpin ialah wawncara yang tidak terarah, teknik ini digunakan untuk memperoleh data dan keterangan-keterangan mengenai kajian yang terjadi pada masyarakat setempat, kepada informasi tersebut gengan wawancara secara langsung sehingga permasalahan yang ada dapat digali.6
Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi yang sedalam- dalamnya tentang “Sinergitas Orang Tua dan Guru Agama Dalam Membina Pengalaman Agama Anak Tunagrahita di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu”.
Tabel 3.5
Kisi-Kisi Wawancara pada Orang Tua dan Guru Agama No Indikator Sub indikator No. Item Keterangan 1. Pembinaan Persiapan orang tua
dan Guru Agama
1, 2, 3 dan 1, 2, 3
6 soal 2. Pelaksanaan
pembianaan
Metode pembinaan orag tua dan guru agama
3, 4 dan 3, 4 4 soal 3. Hasil
pembinaan orang tua dan guru agam
Ketercapaian terhadap anak tunagrahita
5, 6, 7, 8, dan 5, 6, 7, 8
8 soal
6 Sugiyono, Model penelitian pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D...h.145
49 3. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan observasi dan wawancara (data-data yang diperoleh dan diambil ialah foto hasil wawancara) jenis data yang penelitian kumpulkan dengan teknik dokumentasi ini adalah data skunder.7
Metode dokumentasi ialah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan dan sebagainya. Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data data tentang berapa jumlah data anak penyandang tunagrahita yang ada di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu, serta data lain yang bersifat dokumen yang berhubungan dengan penelitian ini.
F. Teknik Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan data yang diperoleh dilapangan, maka penulis menggunakan teknik keabsahan data yang diperoleh, maka penulis ini menggunakan teknik pemeriksa triangulasi data. Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.8
Triangulasi sumber untuk menguji kreadibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberpa sumber, sedangkan triangulasi teknik untuk menguji kreadibilitas data yang dilakukan dengan
7 Lexy, J Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), h.312
8 Sugiyono, Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D... h. 372
50
cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, data triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kreadibilitas data.9
Jadi, penelitian yang akan dilakuakan oleh peneliti akan menggunakan uji keabsahan data dengan menggunakan triangulasi sumber, teknik, dan juga waktu. Dimana dari ketiga rangkaian tersebut akan saling berkaitan untuk menguji kreadibilitas data.
G. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian teknik data menggunakan komponene analisis data (interactive model), adapun langkah-langkah yang akan diambil dalam analisis data ialah:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu di catat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti: merangkum memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dn mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.
Reduksi data bisa dibantu dengan alat elektronik seperti: computer, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. Dengan reduksi maka peneliti merangkum, mengambil data yang penting, membuat katagorisasi, berdasarkan huruf besar,huruf kecil dan angka. Data yang
9 Sugiyono, Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D... h. 373-374
51
tidak penting dibuang dalam bidang manajemen peneliti mereduksi data lebih memfokuskan pada bidang pengawasan, metode kerja, tempat kerja, interaksi antara pengawas dengan yang diawasi, serta hasil pengawasan.10 2. Data Display (penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya yaitu dengan mendisplaykan data. Display data dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk: uraian singkat, bagan, hubungan antar katagori dan sebagainya.
Fenomena sosial bersifat kompleks dan dinamis sehingga apa yang ditemukan saat memasuki lapangan dan setelah berlagsung agak lama dilapangan akan mengalami perkembnagan data. Peneliti harus selalu menguji apa yang telah ditemukan pada saat memasuki lapangan yang masih bersifat hipotesis yang dirumuskan selalu didukung data pada saat dikumpulkan dilapangan, maka hipotesis tersebut terbukti dan akan berkembang menjadi teori yang grounded. Teori grounded adalah teori yang ditemukan secara induktif, berdasarkan data-data yang ditemukan dilapangan, dan selanjutnya di uji melalui pengumpulan data yang terus menerus. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut menjadi pola yang baku tidak lagi berubah.
Pola tersebut selanjutnya didisplaykan pada laporan akhir penelitian.11
10 Sugiyono, Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D...h. 338
11 Sugiyono, Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D..., h. 341
52
3. Conclusion Drawing/Verivication (penarikan kesimpulan)
Langkah ketiga penarikan kesimpulan dari verivikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya, tetapi apabila kesimpulan yang di temukan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kreadibel (dapat dipercaya).
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah, yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada dilapangan. Kesimpulan dari penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas, sehingga setelah diteliti menjadi jelas.12
12 Sugiyono, Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D...h. 345
53
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Wilayah Penelitian
1. Sejarah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 4 Kota Bengkulu
Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 4 Kota Bengkulu didirikan pada Tahun 2016 dari Dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara melalui Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) SLB Negeri 4 Kota Bengkulu didirikan untuk menjalankan amanat Undng-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa ABK membutuhkan pendidikan yang sama dengan anak normal untuk dapat belajar kemandirian sehingga dapat mandiri tanpa bantuan orang lain.
Pada Tahun 20017 SLB Negeri 4 Kota Bengkulu beroprasi dengan nama SLB Negeri Kampung Melayu dan berdasarkan peraturan Gubenur Bengkulu nomor 2 Tahun 2018 terjadi perubahan nama menjadi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu.
SK Pendirian Sekolah No 814/147.30/10/Dikprov dengan Tanggal SK Pendirian 01 April 2016, dengan SK izin Oprasional 814/147.30/10/Dikprov dengan Tanggal SK Pendirian 01 April 2016 dan melayani berbagai jenis kebutuhan khusus dilayani: A, B, C, CI, D, DI, Q.
Luas tanah milik 4.000 M. Waktu penyelenggaraan pagi. Adapun yang memimpin Kepala Sekolah SLB Negeri 4 Kota Bengkulu sebagai berikut:
Siwi Wiyandari, S.Pd dari tahun 2017 hingga sekarang.
53
54 2. Indetitas Sekolah
Nama Sekolah : SLB NEGERI 4 KOTA BENGKULU No Statistik : -
Status Sekolah : Negeri Bentuk Sekolah : Biasa Katagori Sekolah : - Waktu Belajar : Pagi
Alamat Sekolah : JL. Budi Utomo RT 21 RW 05, Kelurahan
Kandang Mas, Kecamatan Kampung
Melayu, Kota Bengkulu, Kode Pos. 38215 SK Setatus Sekolah : 814/147.30/10/Dikprov tanggal 02 April 2016 Keterangan SK : Sekolah Baru
Akreditas : Belum Terakreditasi
3. Visi, Misi dan Tujuan SLB Negeri 4 Kota Bngkulu VISI:
Terwujudnya peserta didik yang mandiri dalam berkarya di bidang keterampilan, seni dan olahraga berdasarkan pada nilai budaya serta berpijak pada pada imam dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
MISI:
a. Meningkatkan mutu yang relevan dalam pendidikan khusus dan layanan khusus.
b. Menanamkan keyakinan / akidah melalui pengalaman ajaran agama.
55
c. Mengembangkan pengetahuan di bidang keterampilan, bahasa, olahraga, dan seni sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan siswa.
d. Meningkatkan mutu pendidikan sesuai tuntunan masyarakat dan perkembangan IPTEK.
e. Meningkatkan profesionalisme guru.
f. Menjalankan kerjasama dengan instansi terkait.
TUJUAN:
a. Meletakan dasar pengetahua, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan serta kecakapan hidup bagi peserta didik sebagai bekal untuk hidup mandiri dan dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.
b. Mengembangkan sekolah yang dinamis dan nyaman untuk mendorong usaha pencapaian sekolah sesuai visi dan misi.
4. Sarana Pendidikan
a. Bentuk Layanan Pendidikan 1.) A= Tunanetra
2.) B= Tunawicra 3.) C= Tunagrahita 4.) D= Tunadaksa 5.) Autis
b. Ketenagaan
1.) Kepala Sekolah
Kepala sekolah pada satuan pendidikan penyelenggaraan pendidikan sekolah luar biasa memiliki tugas mengkoordinasi,
56
mengakomodasi, dan menyelenggarakan kegiatan belajar di sekolahnya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan tugas evaluasi kegiatan. Koordinasi dilakukan berkenaan dengan tugas-tugas dan pengembangan profesionalisme guru-guru yang menyangkur kompetensi dan khusus berkenaan dengan pelayanan anak berkebutuhan khusus.
2.) Guru
Guru yang mengajar seluruhnya sudah berpengalaman dan dukungan penataran dan pelatihan ditingkat provinsi dan tingkat nasional dan akan ditambah guru dengan rasio murid, sesuai latar belakang dan pendidikan dan perkembangan sekolah. Sekolah Luar Biasa 4 Kota Bengkulu memiliki struktur kepemimpinan yang sama seperti sekolah biasa, sekolah di pimpin oleh kepala sekolah dan di bantu oleh wakil.
5. Pendidik Dan Tenaga Kependidikan SLB Negeri 4 Kota Bengkulu Berdasarkan data sekolah berikut pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 4 Kota Bengkulu.
Tabel 4.1
Data Pendidik Dan Tenaga Kependidikan No Personal
Jumlah personal menurut pendidiksn SI Ket
PLB
SI UMUM
S2 D3 SMP SMA JM
L 1. Kepala
Sekolah
1 - - - 1 PNS
2. Guru Tetap 3 1 - - - - 4 PNS
3. Guru Tidak Tetap
- - - -
4. Guru Honor - 17 - - - - 17 Hon
or
57
5. Tata Usaha - 2 - - 1 2 5 Hon
or 6. Penjaga
Sekolah
- - - 1 1 Hon
or
7. Perpustakaan - 1 - - - - 1 Hon
or 8. Petugas
Kebersihan
- - - - 1 - 1 Hon
or
JUMLAH 4 21 - - 2 3 30
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 6. Data Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 4 Kota Bengkulu
a. Tingkat SDLB
Pada tingkat SD DARI SLB Negeri 4 Kota Bengkulu terdapat beberapa jenis ketunaan yaitu: B. Tunawicara, C. Tunagrahita, C1.
Tunagrahita Berat, D. Tunadaksa, D1. Tunadaksa Berat.
Tabel 4.2
Tabel Siswa Tingkat SD Tahun
Pelajaran
Kelas
Jenis Ketunaan Jenis Kelamin
A A1 B C C1 D D1 Autis JM
L
L P JM
L 2019/
2020
I - - 1 8 - - - - 9 6 3 9
II - - 3 2 11 2 4 - 22 14 8 22
III - - - 17 5 1 - 23 16 7 23
IV - - - 7 - - 2 - 9 5 4 9
V - - - - - - -
VI - - - - - - -
JUMLAH - - 4 34 16 2 7 - 63 41 22 63
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 b. Tingkat SMPLB
Pada tingkat SMP di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu terdapat beberapa jenis ketunaan yaitu: B. Tunawicara, C. Tunagrahita, C1.
Tunagrahita Berat.
Tabel 4.3
58
Tabel Siswa Tingkat SMP Tahun
Pelajaran
Kelas
Jenis Ketunaan Jenis Kelamin
A A1 B C C1 D D1 Autis JM
L
L P JM
L 2019/
2020
VII - - 2 5 1 - - - 8 6 2 8
VIII - - - 5 1 - - - 6 5 1 6
IX - - 1 1 - - - - 2 1 1 2
JUMLAH - - 3 11 2 - - - 16 12 4 16
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 c. Tingkat SMALB
Pada tingkat SMA di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu terdapat beberapa jenis ketunaan yaitu: A. Tunanetra Ringan, C1. Tunagrahita Berat.
Tabel 4.4 Tabel Tingkat SMA Tahun
Pelajaran
Kelas
Jenis Ketunaan Jenis Kelamin
A A1 B C C1 D D1 Autis JM
L
L P JM
L 2019/
2020
X - - - - - - -
XI 1 - - - 1 - - - 2 - 2 -
X11 - - - - - - -
JUMLAH 1 - - - 1 - - - 2 - 2 2
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 7. Sarana dan Prasarana SLB Negeri 4 Kota Bengkulu
Sebagai suatu sekolah luar biasa tarap negeri, yang memiliki luas tanah 4.000m2, yang ukup luas untuk bangunan sekolah yang menjadi tempat belajar siswa/siswi berkebutuhan khusus. Kepala sekolah, guru bersama komite sekolah berusaha untuk menjadikan sekolah ini lebih baik
59
untuk mmenjadi tempat belajar yang menyenangkan dan mampu meningkatkan mutu yang lebih baik lagi. Terutama masalah kebersihan lingkungan sekolah yang harus dijaga oleh siswa, guru, maupun bagian kebersihan sekolah, adapun beberapa ruangan dan alat-alat yang ada di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu.
a. Fasilitas Utama
Tabel 4.5
Jumlah Ruangan Sekolah Utama
No Ruangan Jumlah Lokal
1. Ruang Belajar/ Kelas 19 lokal
2. Ruang Kepala Sekolah 1 lokal
3. Ruang Guru 1 lokal
4. Ruang Tata Usaha 1 lokal
5. Ruang Keterampilan 1 lokal
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 b. Fasilitas Pendukung
Tabel 4.6
Jumlah Ruangan Pendukung Sekolah
No Ruangan Jumlah Unit
1. Musholah 1 unit
2. Rumah Penjaga 1 unit
3. Perpustakaan 1 unit
4. Ruang Uks 1 unit
5. Wc Kepala Sekolah 1 unit
6. Wc Guru 2 unit
7. Wc Murid 4 unit
8. Gudang 1 unit
9. Kotak Sampah 10 buah
10. Wastafel 5 buah
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020
60 c. Ruang Internet (ICT) 1 ruang
Tabel 4.7 Jumlah alat-alat ICT
No Nama Jumlah Unit
1. Komputer 10 buah
2. Laptop 3 buah
3. Printer 2 buah
4. Televisi 1 buah
5. DVD Player 0
6. Infokus 1 buah
7. VCD 0
8. Wireless 1 buah
Sumber: Dokumentasi SLB Negeri 4 Kota Bengkulu 2020 B. Penyajian Hasil Data Penelitian
Hasil penelitian diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik wawancara digunkan untuk memperoleh informasi dari responden yaitu kepala sekolah, guru agama, wali kelas, dan orang tua anak tunagrahita.
Hasil wawancara diperoleh dalam bentuk wawancara berupa pertanyaan atau jawaban dari pertanyaan peneliti untuk mendapatkan informasi yang diburuhkan peneliti mengenai sinergitas orang tua dan guru agama dalam pembinaan agama anak tunagrahita di SLB Neger 4 Kota Bengkulu, Efektifitas metode yang digunakan orang tua dan guru agama dalam pembinaan agama anak tuna grahita di SLB 4 Kota Bengkulu, Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pembinaan agama pada anak Tunagrahita di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu.
Berikut penjabaran hasil penelitian tentang “sinergitas orang tua dan guru agama dalam pembinaaan agama anak tunagrahita di SLB Negeri 4 Kota Bengkulu.