BAB II LANDASAN TEORI
B. Penelitian terdahulu
Pada saat melakukan penelitian hal yang paling utama yang dibutuhkan adalah sumber-sumber atau rujukan yang telah lalu yang berkaitan dengan penelitian penulis. Dengan itu maka berdasarkan penelitian ini penulis menjadikan tinjauan pustaka berupa puisi-puisi Chairil Anwar dan rujukan lainnya seperti buku oleh karyanya sendiri yang berjudul “Aku Ini Binatang Jalang” diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 198628, yang di dalamnya terdapat kumpulan puisi nya serta biografi Chairil Anwar.
Buku ini memiliki kelebihan yaitu sajak-sajak Chairil Anwar yang sederhana tanpa terlalu banyak hiasan dikemas sangat menarik dalam buku ini dan akan membawa para pembaca berimaginasi dari setiap larik-larik dalam puisi yang ditulis oleh Chairil Anwar. Buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh semua kalangan karena dengan membaca buku ini kita akan mengenal sosok Chairil Anwar lebih dalam lagi. Tak hanya itu buku ini akan memanjakan imajinasi para pembaca khususnya bagi pembaca yang sangat menyenangi dunia sastra.
Selanjutnya ada karya yang berjudul “Deru Cmapur Debu” dimana buku ini di terbitkan oleh Dian Rakyat di Jakarta dan didalamnya juga terdapat kumpulan puisi Chairil Anwar.29 Lalu pada karya berjudul “Aku” yang di tulis oleh Sjuman Djaya yang di terbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 201630. Bukan hanya membahas puisi tetapi juga menceritakan gaya hidup Chairil Anwar yang riang, bebas, berani, bahkan terkesan mengejek ketika menghadapi orang-orang. Dengan buku ini dapat mudah memahami karakter tokoh yang diteliti yaitu chairil Anwar.
Maka tak lupa pula demi mendukung program studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau saya mengambil jurnal tentang Toleransi yaitu dari jurnal yang berjudul “Konsep Toleransi
28 Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang cet 1, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1986), didalam buku ini terdapat kumpulan puisi-puisi Chairil Anwar dari tahun 1942 sampai dengan tahun 1949.
29 Chairil Anwar, Deru Campur Debu cet 2, (Jakarta:Dian Rakyat, 1991).
30Sjuman Djaya, Aku Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar Cet 1, (Jakarta:PT Gramadia Pustaka Utama, 2016).
19
Dan kebebasan Beragama”31 oleh Abu Bakar, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, dimana beliau juga salah satu dosen di program studi Studi Agama Agama.
Selain itu buku-buku yang menyangkut tentang kehidupan atau biografi Chairil Anwar dan juga rujukan lainnya yang telah diteliti oleh peneliti yang telah lalu yang bersngkutan dengan penelitian penulis yaitu.
Penelitian pustaka ini akan lebih relavan ketika menganalisa dari penelitian-penelitian terdahulu, seperti Skripsi Berjudul “Pemikiran Ketuhanan Dalam Puisi Chairil Anwar” oleh Achmad Arfianto Arsyadani, jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2009.32
Skripsi Berjudul “Pemikiran Ketuhanan Dalam Puisi Chairil Anwar”
oleh Achmad Arfianto Arsyadani, jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2009 ini saya ambil karena di dalamnya terdapat analisis ketuhanan yang menurut saya cocok untuk sebagai bahan tambahan bagi penelitian ini, ditambah sama-sama meneliti puisi Chairil anwar, bedanya ialah di skripisi yang dibuat oleh Achmad Afrianto Asyadani ini lebih memfokuskan corak pemikiran filsafat tentang ketuhanannya saja sedangkang di penilitian saya kali ini ialah selain tentang konsep tuhan, saya juga meneliti tentang konsep toleransi beragama yang ada didalam puisi Chairil Anwar ini maka akan lebih kearah toleransi beragama nya. Dimana hasil penelitian Skripsi yang di buat oleh Achmad Afrianto Asyadani ini ialah, “mengenai pemikiran ketuhanan Chairil Anwar dapat di jumpai dalam puisi-puisinya lalu beberapa puisi nya tergolong kedalam corak teologi puisi yang tidak menggunakan eskatologi agama sebagai sumber penjelasannya. Melainkan melalui pembebasan diri.
Hingga akhir hidupnya cahiril anwar masih percaya dan mengakui akan kebesaran dan keberadaan Tuhan sebagai pengatur jagad semesta ini”.
31Abu Bakar, “Konsep Toleransi dan Kebebasan beragama”, Jurnal Toleransi: Media Komunikasi Umat Bergama, Vol.7, No.2 Juli-Desember 2015.
32 Arfianto Arsyadani, Skripsi :Pemikiran Ketuhanan Dalam Puisi Chairil Anwar, (Yogyakarta: Universitas Islam Negri Sunan Kali Jaga, 2009).
20
Selanjutnya ada di dalam jurnal yang dibuat oleh Yoseph Yapi Taum yang berjudul “Sang Kristus Dalam Puisi Modern” di terbitkan oleh jurnal ilmiah kebudayaan SINTESIS, Volume 10, Nomor 1, pada Maret tahun 2016.33 Hal yang membuat peneliti tertarik untuk menambah ini sebagai rujukan yaitu di dalamnya terdapat pandangan penulis beragama Kristen tentang sang Kristus yang terungkap dalam puisi Chairil Anwar dimana ada dua puisi yang di bahas olehnya yaitu puisi berjudul “Isa” dan “Doa”. Tentu ini sangat menarik ditelaah dari sisi toleransinya, bagaimana respon penulis beragama Kristen dalam membahas Puisi Chairil Anwar yang beragama Islam dimana Chairil Anwar membua puisi yang berjudul “Isa” dan “Doa”. Hasil penelitian jurnal Yoseph Yapi Taum ini ialah Sosok Sang Kristus dalam dua buah puisi Chairil Anwar ini menggambarkan Kristus sebagai Juru Selamat bagi umat kristen. Kristus datang dan menderita untuk menyelamatkan umat manusia. Disitulah nanti peniliti akan mendapatkan gambaran konsep toleransi dalam puisi Chairil Anwar.
Untuk penambahan bahwasannya agar menjadi lebih baik peneliti menambahkan sedikit dari pandangan Sastra yaitu terdapat jurnal yang ditulis oleh Silvania Bulderita dkk, berjudul “Epizeuksis Dalam Kumpulan Sajak Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang”. jurnal ini diterbitkan pada 24 November 2018 RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajarannya berada dibawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.34 Alasan peneliti mengambil ini ialah dikarenakan sama-sama meneliti tentang puisi Chairil Anwar yang terdapat pada kumpulann puisi Aku Ini Binatanag jalang dan di dalam Kumpulan itu terdapat puisi tentang ketuhanan dan toleransi beragama, ditambah peniliti berfikir bahwa dengan pembahasan epizeuksis atau yang biasa disebut makna kata yang berulang-ulang, disitulah nanti tergambarkan Tuhan dalam puisi
33 Yoseph Yapi Taum, Sang Kristus Dalam Puisi Modern, Jurnal kebudayaan SINTESIS,
Volume 10, Nomor 1, pada Maret tahun 2016.
34 Silvania Bulderita dkk, Epizeuksis Dalam Kumpulan Sajak Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, Jurnal Retorika :Bahasa, Sastra dan Pengajarannya, Universitas Negeri padang, pada tahun 2018.
21
Chairil Anwar itu karena dalam makna kata yang berulang ini akan nampak keseriusan, ditambah menyebut nama tuhan secara berulang-ulang. Hasil penelitian dari Silvania ini adalah dia mengatakan “Kumpulan sajak Chairil Anwar yang menjadi sumber data penelitian ini memiliki sajak-sajak yang mengisahkan hal yang berbeda setiap sajaknya. Sajak-sajak tersebut disampaikan menggunakan gaya bahasa epizeuksis. Gaya bahasa epizeuksis diulang langsung secara berturut-turut, kata penting diulang sebagai penegasan, dan kata-kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut- turut.
Dari 76 sajak yang dianalisis, ditemukan 21 sajak yang mengandung gaya bahasa epizeuksis”(kata yang berulang). Dari 21 sajak itulah termasuk puisi yang bertemakan Tuhan dan Toleransi yang memudahkan untuk menemukan gambaran seperti apa tuhan dan toleransi di dalam puisi Chairil Anwar.
22