• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Penelitian Terdahulu

PPh terutang

CTTOR = x 100%

Penjualan

Nilai CTTOR menunjukkan besarnya PPh yang terutang dalam suatu tahun relatif terhadap Penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Makin besar CTTOR menunjukkan makin besar proporsi hasil penjualan perusahaan yang digunakan untuk membayar Pajak Penghasilan.

b) Pretax Profit Margin (PPM)

Pretax Profit Margin (PPM) merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak terhadap Penjualan. Nilai PPM dihitung sebagai berikut:

Laba Bersih sebelum Pajak

PPM = x 100%

Penjualan

Nilai PPM menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan relatif terhadap nilai penjualan. Makin besar PPM menunjukkan makin tingginya tingkat laba bersih yang dihasilkan baik dari kegiatan operasional maupun dari kegiatan lainnya.

1. Ringga Tiara Tanjung (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Rasio Keuangan Industri Kelapa Sawit terkait Pajak Penghasilan Badan terhadap Rasio Benchmarking Direktur Jenderal Pajak periode 2005 – 2008”. Hasil penelitian menunjukan secara rata-rata setiap tahunnya kinerja operasional dan penghasilan luar usaha perusahaan sampel secara signifikan berada di bawah standar.

Sedangkan, untuk rasio koreksi fiskal, rata-rata setiap tahunnya tidak secara signifikan berada di bawah standar. Namun secara kumulatif, signifikan berada di bawah standar.

2. Budi Purnama (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Pemanfaatan Total Benchmarking dalam Melakukan Pengujian Kepatuhan Wajib Pajak Perbankan (Studi Kasus pada Wajib Pajak BPR di Sulawesi Utara”. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata nilai rasio yang dimiliki oleh BPR di Sulawesi Utara berada di bawah benchmark yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

3. Theresia Woro Damayanti dan Eko Sukmono Adiritonga (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Ratio Total Benchmarking Sesuaikah dengan Kondisi Wajib Pajak ? (Studi pada Empat Perusahaan Rokok yang Terdaftar di BEI)”. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan antara rasio benchmarking pada perusahaan rokok yang terdaftar di BEI dibandingkan dengan acuan rasio benchmarking yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak. Terdapat perbedaan pada setiap rasio,yaitu perbedaan terbesar terdapat pada rasio pembayaran deviden (DPR), yaitu rata-rata sebesar 31.50% jauh dibawah benchmark. Sedangkan perbedaan terkecil terdapat pada rasio Sewa(s) yaitu rata- rata sebesar 0.13% dibawah benchmark.

4. WPJ Alexandro Sianipar (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Rasio Keuangan Industri Properti dan Real Estate Terkait Pajak Penghasilan Badan terhadap Rasio Benchmarking Direktorat Jenderal Pajak Periode 2008- 2010“. Hasil penelitian menunjukan dengan menganalisis 3 macam pertimbangan yaitu rasio biaya operasional, rasio penghasilan luar usaha neto dan rasio koreksi fiskal, maka dapat disimpulkan pada hasil penelitian bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara rasio biaya operasional perusahaan real estate dengan rasio benchmarking Direktorat Jenderal Pajak dan terdapat perbedaan signifikan antara rasio penghasilan luar usaha neto serta rasio koreksi fiskal pada perusahaan real estate dengan rasio benchmarking Direktorat Jenderal Pajak.

5. Rini Anggi Riani (2013) dalam penelitiannya yang berjudul ” Analisis komparatif antara Rasio Keuangan Perusahaan Industri Farmasi dengan Rasio Benchmarking Direktorat Jenderal Pajak”. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara rasio biaya usaha perusahaan sampel dengan rasio benchmarking, sedangkan pada rasio penghasilan luar usaha terdapat perbedaan yang signifikan selama tahun 2007-2011, dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara rasio koreksi fiskal pada tahun 2007, 2009, 2010 dan 2011, tetapi terdapat perbedaan signifikan antara rasio koreksi fiskal perusahaan sample dengan rasio benchmarking yang telah ditetapkan oleh DJP pada tahun 2008.

Berikut ini adalah tinjauan penelitian terdahulu dalam bentuk tabel :

Tabel 2.5

Penelitian Terdahulu

No Judul Penelitian

Peneliti Variabel Penelitian

Metodologi Penelitian

Hasil Penelitian 1. Analisis Rasio

Keuangan Industri Kelapa Sawit terkait Pajak Penghasilan Badan terhadap Rasio

Benchmarking Direktur Jenderal Pajak periode 2005 – 2008.

Ringga Tiara Tanjung (2010)

Rasio biaya operasional, rasio penghasilan luar usaha neto dan rasio koreksi fiskal.

Pengujian hipotesis di uji secara statistik dengan

menggunakan uji beda (uji t) yaitu dengan

menggunakan one sampel t test.

Secara rata-rata setiap tahunnya kinerja operasional dan penghasilan luar usaha perusahaan sampel secara signifikan berada di bawah standar.

Sedangkan, untuk rasio koreksi fiskal, rata-rata setiap tahunnya tidak secara signifikan berada di bawah standar.Secara kumulatif, signifikan berada di bawah standar benchmarking.

2. Pemanfaatan Total

Benchmarking dalam

Melakukan Pengujian Kepatuhan Wajib Pajak Perbankan (Studi Kasus pada Wajib Pajak BPR di Sulawesi Utara).

Budi Purnama (2011)

Rasio-rasio benchmarking yang ditetapkan oleh DJP

Metode analisis data

menggunakan metode analisis deskriptif. Dan teknik analisis data

menggunakan teknik statistik (Mean dan Median).

Secara rata-rata nilai rasio yang dimiliki oleh BPR di Sulawesi Utara berada di bawah benchmark yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

3. Ratio Total Benchmarking Sesuaikah dengan Kondisi Wajib Pajak ? (Studi pada Empat Perusahaan Rokok yang Terdaftar di BEI).

Theresia Woro Damayanti dan Eko Sukmono Adiritonga (2011)

Penghasilan Perusahaan, Biaya Operasional Perusahaan, dan Pendapatan dan biaya di luar usaha.

Membandingkan rasio total benchmarking yang dikeluarkan DJP dengan rasio kinerja

keuangan empat perusahaan rokok yang terdaftar di BEI, tanpa melakukan pengujian secara statistik.

Rasio rata-rata

komponen penghasilan dari perusahaan masih dibawah nilai rasio rata- rata yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak, biaya operasional perusahaan masih dibawah benchmark karena beban usaha wajib pajak pada tahun 2005 berada 13.73% diatas benchmark, dan rata- rata penghasilan luar usaha netto berada dibawah benchmark.

No Judul Penelitian

Peneliti Variabel Penelitian

Metodologi Penelitian

Hasil Penelitian 4. Analisis Rasio

Keuangan Industri Properti dan Real Estate Terkait Pajak Penghasilan Badan terhadap Rasio

Benchmarking Direktorat Jenderal Pajak Periode 2008- 2010.

WPJ Alexandro Sianipar (2011)

Rasio biaya operasional, rasio penghasilan luar usaha neto dan rasio koreksi fiskal

Pengujian secara statistik dengan menggunakan uji beda (uji t) yaitu Pengujian Satu Sampel (One Sample t Test).

Dan

menggunakan uji Normalitas data untuk menguji data terdistribusi secara normal.

Rasio biaya operasional yang berada di atas benchmark, rasio penghasilan luar usaha neto perusahaan sampel pada tahun penelitian berada di bawah standar benchmark, dan rasio koreksi fiskal yang lebih rendah daripada benchmark

5. Analisis komparatif antara Rasio Keuangan Perusahaan Industri Farmasi dengan Rasio Benchmarking Direktorat Jenderal Pajak

Rini Anggi Riani (2013)

Rasio biaya operasional, rasio penghasilan luar usaha neto dan rasio koreksi fiskal

Pengujian secara statistik dengan menggunakan uji beda (uji t) yaitu Pengujian Satu Sampel (One Sample t Test).

Dan

menggunakan uji Normalitas data untuk menguji data terdistribusi secara normal.

Tidak terdapat perbedaan signifikan antara rasio biaya usaha perusahaan, sedangkan pada rasio penghasilan luar usaha terdapat perbedaan yang signifikan selama tahun 2007-2011, dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara rasio koreksi fiskal pada tahun 2007, 2009, 2010 dan 2011, tetapi terdapat perbedaan signifikan antara rasio koreksi fiskal pada tahun 2008.

Sumber : Jurnal Penelitian dan Skripsi