• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5. Analisa Data

Setelah data terkumpul kemudian cara untuk mengetahui Peranan Usaha Budidaya Ikan Lele Terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar iyalah menggunakan metode deskriftif dan kuantitatif yaitu dengan menguraikan temuan dan fakta lapangan yang ada hubungannya dengan penelitian dan selanjutnya data tersebut dihubungkan dengan teori yang ada, di analisis dengan cara melihat kondisi kesejahteraan petani pemilik usaha budidaya ikan lele, agar bias dihitung pendapatan setiap per 3 bulannya. Sedangkan analisa kuatitatif digunakan untuk mengetahui bagaimana cara menghitung besarnya pendapatan atau penerimaan dan biaya yang dikeluarkan untuk proses pembenihan dan perawatan dan lain sebagainya kemudian dihitung besarnya pendapatan bersih.

1. Untuk mengetahui peranan usaha budidaya ikan lele terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dilihat dari pendapatan usaha petani budidaya ikan lele di Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar,

dengan menghitung pendapatan petani budidaya ikan lele setiap per 3 bulannya dengan metode :

a. PendapatanKotor

Di hitung dengan menggunakan rumus berikut ini:

TR = Q x P Dimana :

TR = Penerimaan atau pendapatan dari hasil budidaya ikan lele (juta/Rp) Q = Jumlah atau hasil budidaya ikan lele (Kg/3bulan)

P = Harga benih ikan lele (Rp) b. Biaya Total

Biaya total (TC) Biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi yang terdiri atas biaya tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC). Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada sedikit banyaknya jumlah produksi, seperti barang modal, gaji pegawai, bunga pinjaman, dan sewa gedung (Rahardja dan Manurung, 2002: 125). Sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung dengan banyaknya bibit ikan lele, pakan dan perawatan. Jadi rumus yang digunakan untuk menghitung biaya total produksi yaitu sebagai berikut:

TC = TFC+TVC Dimana:

TC = Biaya Total Produksi (Rp) TFC = Biaya Tetap Total (Rp) TVC = Biaya Tidak Tetap Total (Rp)

Dalam melakukan usaha para pengusaha budidaya ikan lele juga mengeluarkan biaya dalam proses pembesaran, dalam hal ini dapat dikelompokan menjadi Variabel Cost (biaya pembesaran bibit, pakan dan perawatan) dan Fixed Cost (biaya kolam dan peralatan).

c. Biaya Tetap

Untuk menghitung biaya tetap dilakukan dengan metode :

Besar kecilnya biaya penyusutan yang dilakukan pada setiap aset tergantung pada harga aset, umur ekonomis serta metode yang digunakan dalam penyusutan,dengan rumus (Ibrahim. Y, 2009 ).

P =

Dimana :

P = Jumlah penyusutan B= Harga beli aset S = Nilai sisa

N = Umur ekonomis asset

Pendapatan bersih adalah pendapatan kotor (jumlah produksi di kali dengan harga yang berlaku) yang diterima petani dari hasil penjualan ikan lele dikurangi dengan biaya produksi berupa tenaga kerja, dan lain-lain. Pendapatan bersih dihitung dengan rumus sebagai berikut :

π =TR – TC Dimana :

π = PendapatanBersih (Rp)

TR= Penerimaanataupendapatanpetanibudidayaikanlele (jutaRp) TC= Biaya Total Produksi (Rp)

Untuk menganalisa apakah usaha peternakan lele mempuyai prospek usaha dan memberikan keuntungan atau belum, dengan rumus (Soekartawi, 2002).

2. Analisa Peranan Usaha Budidaya Ikan Lele Terhadap Kesejahteraan

Untuk menganalisa peranan usaha budidaya ikan lele terhadap kesejahteraan masyarakat dilihat dari pendapatan petani budidaya ikan lele di Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar, iyalah dengan cara menghitung pendapatan kotor, biaya total, serta pendapatan bersih dari pendapatan bersih tersebut dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Kampar.

Untuk menganalisa peranan usaha budidaya ikan lele terhadap kesejahteraan masyarakat dilihat dari pendapatan petani budidaya ikan lele di Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar, iyalah dengan cara menghitung pendapatan kotor, biaya total, serta pendapatan bersih dari pendapatan bersih tersebut dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Kampar yaitu : Rp. 2.950.088 dimulai dari lajang, keluarga belum memiliki tanggungan, bekeluarga tanggungan satu anak, keluarga

tanggungan dua anak, bekeluarga tanggungan tiga anak bekeluarga tanggungan empat anak, dan bekeluarga tanggungan lima anak.

Table 3.1: Standar Kebutuhan Hidup Layak Dalam Sebulan di Kabupaten Kampar Berdasarkan Tanggungan Keluaraga Tahun 2020

No Keterangan KebutuhanHidupLayak

(KHL)

1 Lajang RP. 2.950.088

2 Keluarga Belum Ada Tanggungan (K/0) 1. RP. 3.450.088 3 Keluarga Ada Tanggungan 1 Anak (K/1) 2. RP. 3.950.088 4 Keluarga Ada Tanggungan 2 Anak (K/2) 3. RP. 4.450.088 5 Keluarga Ada Tanggungan 3 Anak (K/3) 4. RP. 4.950.088 6 Keluarga Ada Tanggungan 4 Anak (K/4) 5. RP. 5.450.088 7 Keluarga Ada Tanggungan 5 Anak (K/5) 6. RP. 5.950.088 Sumber : Data Olahan Tahun 2020

Dari data diatas dapat dilihat bahwa kebutuhan hidup layak (KHL) di Kabupaten Kampar yaitu : Rp. 2.950.088 dimulai dari lajang, keluarga belum memiliki tanggungan, keluarga tanggungan satu anak, keluarga tanggungan dua anak, keluarga tanggungan tiga anak, keluarga tanggungan empat anak, dan keluarga lima anak.

lele di Desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar relatif besar‟‟

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umun Daerah Penelitian

4.1.1. Keadaan Geografis Desa Sialang Kubang

Desa Sialang Kubang adalah salah satu desa di Kecamatan Perhentian Raja yang mempunyai luas wilayah 20.180.000 m2 . dilihat dari fototgrafi dan kontur tanah, desa Sialang Kubang Kecamatan Perhentian Raja, secara umum berupa dataran dengan mata pencarian penduduknya adalah petani perkebunan Kelapa Sawit, Peternakan, Perikanan dengan julukan Kampung Lele, keadaan desa dengan ketinggian 35 M di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 26,60C. Desa Sialang Kubang terdiri dari 4 (Empat) dusun, 8(Delapan) Rw, 24 (Dua puluh empat) Rt. Orbitasi dan waktu tempuh dari Ibu Kota Kabupaten 87 KM waktu tempuh 120 Menit dan dari Ibu Kota Provinsi 37 KM dengan waktu tempuh 45 menit. Adapun batasan wilayah Desa Sialang Kubang adalah :

a. Sebelah Utara berbatasan Dengan PTPV V b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Hangtuah

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sei Simpang Dua d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Mekar Jaya

39

4.1.2. Demografi Desa Salang Kubang

a. Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur

Penduduk adalah sumber daya manusia yang merupakan modal dasar dalam pembangunan desa. Oleh karena itu jumlah dan kualitas penduduk disuatu daerah sangat menentukan keberhasilan pembangunan di daerah tersebut. Jumlah penduduk Desa Sialang Kubang berjumlah 3.602 orang dengan rincian tabel 4.1 berikut

Tabel 4.1. Jumlah penduduk Desa Sialang Kubang menurut jenis kelamin tahun 2020

No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%) 1

2

Laki-laki Perempuan

1.879 1.723

52,16 47,84

Jumlah 3.602 100

Sumber : Kantor Desa Sialang Kubang, Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.1, terlihat bahwa jumlah penduduk Desa Sialang Kubang lebih banyak didominasi oleh jenis kelamin laki laki dengan jumlah penduduk sebanyak 1.879 orang atau 52,16 % dan sisanya adalah penduduk yang berjenis kelamin perempuan yaitu 1.723 orang atau 47,84 %.

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Umur di Desa Sialang Kubang tahun 2020 No Kelompok Umur

(Tahun)

Jumlah Penduduk

(Orang) Persentase %

1 0-1 246 6,83

2 1-5 316 8,77

3 5-7 395 10,96

4 7-15 847 23,51

5 15-54 1424 39,53

6 >54 373 10,40

Jumlah 3.602 100

Sumber : Kantor Desa Sialang Kubang tahun 2020

Simanjuntak (2003), bahwa penduduk yang berada pada kisaran umur 15- 54 tahun tergolong pada tenaga kerja produktif sedangkan pada umur 0-14 tahun

>54 tahun tergolong pada tenaga kerja tidak produktif. Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa penduduk dalam usia produktif berjumlah 1.424 orang. Sedangkan penduduk yang berada pada golongan umur 14 tahun kebawah dan 55 tahun keatas berjumlah 2.178 0rang yang merupakan tingkat umur yang menjadi beban tanggungan keluarga.

b. Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Tingkat pendidikan memegang peranan penting dalam keberhasilan pembangunan ekonomi. Apalagi dalam masa pembangunan sekarang ini menuju kepada kearah pengembangan sumber daya manusia yang aktif yang terampil hingga menjadi tenaga kerja yang mempunyai skill dan paling tidak dapat membaca dan menulis. Untuk lebih rinci tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Sorek Satu dapat di lihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Desa Sialang Kubang Tahun 2020 Berdasarkan Tingkat Pendidikan.

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase %

1 Tidak Sekolah 206 5,72

1 Belum Sekolah 366 10,16

2 Taman Kanak-kanak 301 8,35

3 Tamat SD/Sederajat 689 19,12

4 Tamat SLTP/Sederajat 776 21,54

5 Tamat SMUASederajat 1035 28,73

6 Akademi (D1-D3) 107 2,98

7 Tamat Perguruan Tinggi 122 3,40

Jumlah 3.602 100

Sumber : Kantor Desa Sialang Kubang Tahun 2020

Dari Tabel 4.3 Diketahui bahwa persentase terbesar latar belakang pendidikan masyarakat Desa Sialang Kubang berdasarkan tingkat pendidikam tertinggi adalah tamat SMA (28,73%), sedangkan yang terkecil adalah tamat Perguruan Tinggi (3,40 %).

c. Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Untuk memenuhi kehidupan hidup bagi diri dan keluarga, seseorang memerlukan lapangan usaha sebagai mata pencaharian. Besar kecilnya penghasilan yang diperoleh tida jarang dipengaruhi oleh lapangan usaha.

Tabel 4.4 mengenai bidang usaha di Desa Sialang Kubang :

No Mata Pencaharian Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 Petani 750 70,09

2 Petani Benih lele 105 9,81

3 Buruh Tani 135 12,61

4 Pedagang 65 6,07

5 TNI/Polri 5 0,46

6 Karyawan Swasta/BUMN 10 0,93

Jumlah 1070 100

Sumber : Kantor Desa Sialang Kubang Tahun 2020

Dari tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian tertinggi adalah petani yaitu 750 orang dengan persantase 70,09%. Sedangkan paling rendah yaitu TNI/POLRI yaitu 5 orang dengan persentase 0,46%. Sedangkan petani benih ikan lele sebanyak 105 orang dengan persentase 9,81%. Hal ini disebabkan Desa Sialang Kubang memiliki corak agraris dengan iklim tropis, maka banyaknya pekerjaan petani seperti bertani

kelapa sawit. selain itu pembudidayaan ikan lele dengan memanfaatkan sumber daya alam sangat cocok di Desa Sialang Kubang dengan menghasilkan kualitas dan kuantitas produksi ikan benih ikan lele.

4.2. Kondisi Umum Pembudidayaan Benih Ikan Lele di Desa Sialang Kubang

Usaha Budidaya (Pembenihan ikan lele) merupakan salah satu usaha pengembangan budidaya di Desa Sialang Kubang adalah budidaya ikan kolam..

Bagi petani kolam ikan lele di Desa Hangtuah dilakukan sebagai mata pencarian sampingan maupun mata pencarian pokok. Namun, usaha pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang merupakan salah satu usaha perikanan yang bersifat komersial artinya hasil pembenihan ikan lele tidak hanya untuk konsumsi sendiri tetapi juga dijual menjadi sumber pendapatan petani itu sendiri. Selain itu budidaya pembenihan ikan lele kolam di Desa Sialang Kubang dilakukan disekitar pekarangan rumah tempat tinggal petani.

` Dalam menentukan lokasi usaha pembenihan di Desa Sialang Kubang mempertimbangkan beberapa aspek yakni aspek sosial, aspek ekonomi, dan aspek teknis.

a. Aspek Sosial

Dari aspek sosial usaha pembenihan ikan lele dapat menggunakan sumber daya yang ada disekitar lokasi secara optimal. Sember daya tersebut tidak hanya sumber daya alam, tetapi juga sumber daya manusia yakni tenaga kerja serta sarana dan prasarana lain yang diperlukan.

b. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi yang harus diperhatikan adalah kedekatan jarak lokasi pembenihan dengan pasar tempat penjualan hasil sehingga produksi yang dihasilkan cepat sampai ke tangan konsumen (pembesaran ikan lele/penyalur) dalam kondisi baik. Oleh karena itu sarana penghubung seperti jalan raya dan sarana pengangkutan atau transportasi harus tersedia.

c. Aspek Teknis

Lokasi harus dekat dengan dengan sumber air dan diusahakan tanahnya subur. Tanpa dukungan teknis yang memadai, usaha pembenihan ikan lele tidak akan berhasil. Konstruksi kolam terpal pada usaha pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang pada umumnya terbuat dari dinding batako dan berbentuk segi panjang dengan kedalaman kolam 1 m.

Sistem pengairan yang dilakukan pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang berasal dari sumur bor dan dialirkan kekolam terpal melalui pipa-pipa yang sudah disiapkan khusus untuk pengisian air. Kualitas air sangat berpengaruh dalam proses pembenihan ikan lele. Air yang buruk dengan kadak oksigen rendah menyebabkan nafsu makan ikan jadi menurun, tentunya hal ini akan mengganggu pertumbuhan benih ikan lele, bahkan bisa memperlambat pemanenan, untuk itu kualitas air harus tetap terjaga disesuaikan dengan kelayakan hidup benih ikan.

Kolam usaha pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang ini terdiri dari 3 jenis kolam yaitu kolam indukan, kolam pemijahan dan kolam pembesaran.

a. Indukan

Sebelum pemijahan, induk betina dan induk jantan ditempatkan secara terpisah dalam kolam induk. Sebelum pemijahan indukan diberi pakan terlebih dahulu. Pakan yang diberikan kepada calon induk adalah pakan yang mangandung cukup protein. Benih yang berkualitas menjamin keberhasilan usaha ternak lele.

1. Seleksi Indukan

Sebelum dipijahkan, perlu dilakukan pemilihan induk terlebih dahulu.

Lele jantan dan lele betina yang dijadikan indukan harus benar-benar lele dewasa yang telah matang kelamin (gonad). Adapun ciri-ciri indukan yang telah matang adalah :

a. Warna kulit kemerahan mengkilap.

b. Berat induk berkisar antara 1,24 s/d 4 Kg.

c. Induk betina perutnya sudah membuncit.

d. Induk jantan kelaminnya sudah membengkak.

e. Bentuk tubuh normal, tidak ada cacat dan luka ditubuh , dan dalam kondisi sehat.

Indukan hasil seleksi kemudian dimasukkan kedalam kolam perawatan yang sebelumnya kolam sudah dibersihkan terlebih dahulu. Induk jantan dan induk betina harus dipisahkan dalam kolam yang berbeda. Selama perawatan,

indukan diberi pakan tiga kali sehari yakni pagi, sore, dan malam hari, pakan yang bisa diberikan berupa pelet, ayam, atau ikan.

b. Pemijahan

Induk yang sudah matang segera dimasukkan ke kolam pemijahan.

Pemijahan dilakukan dengan hati-hati agar ikan tidak mengalami stress, terutama induk jantan. Kolam pemijahan dibuat dengan ukuran 2 m dengan tinggi 60 cm.

indukan jantan dan indukan betina dimasukkan secara bersamaan. Setelah itu, diatas permukaan air ditaruh anyaman ijuk, yaitu tempat menempelnya telur pemijahan. Satu ekor induk betina lele bisa menghasilkan telur sebanyak 10.000- 15.000 butir sekali pemijahan. Keberhasilan pemijahan dapat diketahui dari adanya telur yang menempel pada anyaman ijuk. Ciri telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih.

c. Penetasan Larva

Setelah proses pemijahan selesai, induk segera dipindahkan ke kolam indukan. Anyaman ijuk yang sudah mengandung telur segera dipindahkan kekolam penetasan. Air yang ada dikolam pemijahan dibuang dan dibersihakan kembali kolamnya. Proses penetasan telur terjadi selama satu hati . setelah telur terus menetas anyaman ijuk diangkat agar tidak menjadi tempat bekumpulnya larva dan tidak menmbulkan bibit penyakit.

d. Perawatan Larva

Sampai umur dua hari, larva tidak perlu diberi pakan karena cadangan makanan yang berasal dari telur masih mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga larva masih belum siap dengan makanan dari luar. Larva yang baru menetas bentuknya seperti jarum-jarum kecil. Jumlahnya 10.000-15.000 dari tiap ekor induk betina . perawatan larva dilakukan dikolam penetasan atau kolam penampungan selama 3-4 hari stelah menetas. Saat berumur lima hari, larva baru bisa diberi pakan. Pakan diberiakan tiap enam jam sekali, hingga larva berumur tujuh hari. Umur 8-20 hari, pakan tambahan diganti dengan cacing halus. Umur sebelas hari larva sudah diberi pakan pelet halus. Umur 20 hari, saat ukuran mencapai 1-3 cm, benih sudah dapat dipanen untuk dijual langsung atau langsusng dibesarkan menjadi ikan konsumsi.

e. Pemanenan

Setelah berumur14 hari, benih sudah bervariasi ukurannya dan perlu disortir terlebih dahulu sebelum dipindahkan kekolam penampungan benih.

Pembagian penyortiran yaitu ukuran 1-2 cm, ukuran 2-3 cm, ukuran 3-4 cm, dan ukuran 4-5 cm, akan tetapi petani usaha benih lele di Desa Sialang Kubang rata- rata benih lele ukuran 3-4 cm sudah habis terjual karna benih lele yang berukuran lebig dari 4-5 cm harus dibuang Karena jumlahnya sedikit, ganas, dan suka memangsa benih lain yang berukuran lebih kecil.

Penyortiran benih ikan lele dilakukan berdasarkan besar kepalanya dengan cara benih dmasukkan kedalam bak plastik yang bagian pinggirnya telah

dilubangi dengan ukuran masing-masing 3mm, 4 mm, dan 5 mm. Benih ikan lele yang keluar dari lubang itulah yang kemudian dikelaskan berdasarkan ukurannya.

Dari hasil penyortiran ini dipisahkan berdasarkan ukuran, kemudian dikemas dalam kantong plastik yang telah disis oleh air, lalu diberi oksigen. Kepadatan disesuaikan dengan ukuran dan jarak pengiriman.

4.3. Karakteristik Responden

Identitas petani sampel merupakamn gambaran umum secara garis besar mengenai rincian indentitas petani seperti nama petani, usia petani, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga serta pengalaman dalam menjalankan usahataninya. Faktor faktor tersebut secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kemampuan petani dalam menjalankan usahataninya sebagai pelaku utama dalam proses usaha pembenihan ikan lele. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data mengenai karakteristik responden sebagai berikut : a. Struktur Umur Petani Pembenih Ikan Lele

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan fisik dan kinerja petani dalam mengelola usaha taninya. Selain itu faktor umur juga dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan petani dalam menerima dan memahami inovasi baru yang berhubungan dengan kegiatan taninya. Dalam hal usia biasanya petani yang lebih muda berusaha lebih dinamis dan mempunyai daya tangkap yang kuat sehingga ia lebih mudah dalam menerima arahan arahan dan pengalaman pengalaman yang baru dalam kegiatan usaha taninya.

Tabel 4.5. Jumlah Petani Sampel Menurut Kelompok Umur :

No Kelompok umur (Tahun) Jumlah Petani Persentase (%)

1 20-29 2 7,69

2 30-39 9 34,61

3 40-49 11 42,31

4 50-59 3 11,54

5 >60 1 3,85

Total 26 100

Sumber : Data olahan, 2020

Pada tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar responden terbanyak berumur antara 40-49 tahun yaitu sebanyak 11 petani atau 42,31 %, sedangkan responden paling sedikit berumur >60 tahun yaitu sebanyak 1 orang atau 3,85%.

Sebanyak 2 petani atau 7,69 % berumur antara 20-29 tahun, sebanyak 9 petani atau 34,61 % berumur antara 30-39 tahun, sebanyak 3 petani atau 11,54 % berumur antara 50-59 tahun. Dari semua responden adalah berusia produktif yatu antara usia 15-60 tahun yang terdiri dari 26 responden atau 100%.

b. Tingkat Pendidikan Petani Pembenihan Ikan Lele

Tingkat pendidikan setiap petani akan memberikan corak tersendiri dalam hal pola pikir, sikap dan tindakan yang diambil dalam menghadapi kemajuan teknonologi dibidang pertanian.

Keterbatasan pendidikan petani sangat berpengaruh pada sumber daya manusianya yang akan menjadi suatu kendala dalam pembangunan pertanian terutama dalam rangka menerima inovas baru yang berhubungan dengan

kemajuan tekonologi dibidang pertanian. Untuk mengetahui tingkat pendidikan petani sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini :

Tabel 4.6 . Jumlah Petani Sampel Menurut Tingkat Pendidikannya

No Tingkat Pendidikan Jumlah Petani Persentase (%)

1 SD 4 15,38

2 SMP 9 34,62

3 SMA 12 46,15

4 Tamat Perguruan Tinggi 1 3,85

Total 26 100

Sumber : Data olahan, 2020

Berdasarkan Tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan petani sampel sudah lumayan baik. Rata rata petani sampel sudah menempuh pendidikan di tingkat SMA yaitu 12 petani atau 46,15 %, SMP sebanyak 9 petani atau 34,62 %, SD sebanyak 4 petani atau 15,38 % dan tamat perguruan tingg sebanyak 1 petani atau 3,85%.

Dengan demikian sehubungan dengan jumlah petani sampel yang rata rata sudah mendapatkan pendidikan yang lumayan baik tentunya diharapkan mereka dapat lebih aktif lagi dalam menerima dan menerapkan inovasi-inovasi baru, Sebab tingkat pendidikan seseorang akan sangat berpengaruh pada tingkat kinerja mereka masing masing, agar kedepannya dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki dapat meningkatkan perekonomian mereka.

c. Jumlah Tanggungan Keluarga Petani Pembenihan Ikan Lele

Jumlah tanggungan keluarga secara langsung akan mempengaruhi tingkat pendapatan petani. Semakin besar tanggungan keluarga maka akan semakin tinggi pula beban ekonomi yang harus ditanggung oleh petani dan begitu juga sebaliknya. Dengan demikan petani harus mampu berupaya keras untuk meningkatkan pendapatan dalam usaha taninya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Yang dimaksud dengan tanggungan kelurga dalam penelitian ini adalah seluruh anggota keluarga yang petani seperti : anak, istri, orang tua, mertua atau sebagainya yang mana petani mempunyai tanggung jawab untuk membiayai kehidupannya.

Tabel 4.7. Jumlah Tanggungan Kelurga Petani Sampel

No Jumlah Tanggungan Keluarga (Jiwa) Jumlah Petani Persentase (%)

1 1-3 13 50,00

2 4-6 12 46,15

3 >6 1 3,85

Total 26 100

Sumber : Data olahan, 2020

Pada tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar 13 petani atau 50,00% mempunyai beban tanggungan sebanyak 1-3 jiwa, sedangkan 12 petani atau 46,15% petani memiliki tanngungan keluarga sebanyak 4-6 jiwa dan 1 petani atau 3,85 % memiliki tanggungan keluara >6 jiwa.

4.4. Analisis Pendapatan Usaha Pembesaran Ikan lele di Desa Sialang Kubang

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk usahatani pembenihan ikan lele. Biaya produksi terdiri dari biaya tetap (fixed cost), dan biaya tidak tetap (variabel cost).

4.4.1 Biaya Tetap (fixed cost)

Biaya tetap merupakan biaya yang tidak tergantung pada tingkat ouput, dalam penelitian ini meliputi biaya penyusutan. Sedangkan Biaya variabel merupakan biaya yang berubah ubah sesuai dengan perubahan output, meliputi biaya perawatan, pengadaan saprodi yang berupa pakan bibit, dan biaya pasca panen.

a. Biaya Penyusutan

Biaya penyussutan adalah biaya yang dikeluarkan berdasarkan alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu asset selama usia ekonomisnya. Pembelian alat tersebut tidak dilakukan pada tiap musim panen atau tiap tahun. Namun alat yang digunakan tersebut akan mengalami penyusutan setiap periodenya yang dapat dihitung melalui metode garis lurus, dimana biaya penyusutan didapat dari harga beli dengan umur ekonomis dalam satu periode

.

Tabel. 4.8 : Biaya penyusutan alat per periode pada usaha pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang

No Nama Total Biaya Penyusutan

(Rp/Periode)

1 Ujang Lesmana 484.604

2 Apit 174.137

3 Suratmin 180.679

4 Eko 145.095

5 Uja 347.054

6 Maksum 247.312

7 Bambang 157.437

8 Hairil 195.679

9 Yanto 305.929

10 Dadan 158.770

11 Khairil 146.479

12 Slamet 232.687

13 Jarjis 247.312

14 Darsono 296.895

15 Rianto 234.595

16 Teguh 251.262

17 Bedi 162.937

18 Amiruddin 169.187

19 Miskan 174.187

20 Saban 254.595

21 Wadri 297.679

22 Legimin 190.229

23 Waslim 170.437

24 Dede Ruhiyat 242.312

25 Wawan Darmawan 176.637

26 Sutrisno 252.312

Rata-rata 226.786

Sumber : Data olahan, 2020

Dari hasil hasil tabel diatas bahwa total biaya penyusutan alat dalam usaha Pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang ialah Rp 5.896.449 dengan rata- rata Rp. 226.786 dengan biaya penyustan tertinggi pada petani responden 1 yaiatu sebesar Rp. 484.604 sedangkan biaya penyusutan paling rendah yaitu pada petani responden 4 yaitu sebesar Rp. 145.095

4.4.2. Biaya Tidak Tetap

Biaya Variabel adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani sampel usaha pembenihan ikan lele di Desa Sialang Kubang sebagai penggunaan faktor produksi yang bersifat variabel.

Tabel 4.9 : Biaya Variabel (Periode Juli-September) Pada Petani Pembenihan Ikan Lele di Desa Sialang Kubang Tahun 2020

NPS

Nilai Beli Indukan

(Rp)

Biaya Pakan (Rp)

Biaya Cacing

(Rp)

Biaya Listrik

(Rp)

Upah Tenaga

Kerja (Rp)

Total Biaya Variabel

(Rp) 1 1.000.000 5.005.000 1.150.000 600.000 166.666 7.921.666 2 500.000 2.990.000 1.025.000 300.000 100.000 4.915.000 3 500.000 1.973.333 875.000 400.000 100.000 3.848.333 4 500.000 1.665.000 750.000 400.000 100.000 3.415.000 5 1.000.000 5.850.000 1.825.000 600.000 200.000 9.475.000 6 500.000 3.453.333 1.175.000 500.000 100.000 5.728.333 7 500.000 2.795.000 1.050.000 300.000 100.000 4.745.000 8 500.000 2.990.000 925.000 400.000 100.000 4.915.000 9 750.000 4.255.000 1.175.000 500.000 166.666 6.846.666 10 500.000 1.911.666 925.000 300.000 100.000 3.736.666 11 500.000 1.726.666 750.000 250.000 100.000 3.326.666

Dokumen terkait