BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian Nappu et al., (2016) yang berjudul “ Sistem Usahatani Kakao Berbasis Bioindustri Pada Sentra Pengembangan di Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan” merupakan penelitian yang sama dengan rumusan pertama tentang sistem integrasi kakao-kambing di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek.
Tujuan penelitian untuk menelaah sistem usaha tani kakao berbasis bioindustri di Luwu, Sulawesi Selatan melalui integrasi kakao-sapi dengan prinsip zero waste sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. Implementasi sistem integrasi kakao dan ternak sapi diharapkan mampu mengurangi biaya produksi usaha tani maupun biaya usaha ternak karena tersedianya bahan pakan bagi ternak dan sumber pupuk bagi tanaman kakao. Hal ini karena selain menghasilkan produk utama berupa biji, tanaman kakao juga menghasilkan produk sampingatau limbah, yaitu kulit buah kakao yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Tanaman penaung kakao dan gulma juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ternak yang diusahakan di area pertanaman akan menghasilkan kotoran (feses dan urine) yang dapat diolah menjadi pupuk organik padat maupun cair. Parameter integrasi tanaman kakao-sapi terdiri atas empat komponen penting, yaitu pemanfaatan limbah tanaman menjadi pakan, pengolahan limbah ternak sapi, pemanfaatan hasil pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik dan biopestisida. Selain itulimbah sapi dapat diolah menjadi biogas.
Penelitian Agustono et al., (2017) yang berjudul “Identifikasi Limbah Pertanian dan Pekebunan Sebagai Bahan Pakan Inkonvensional di Banyuwangi”
yang merupakan penelitian yang sama dengan rumusan pertama tentang sistem integrasi kakao-kambing. Hasil penelitian kulit buah kakao dimanfaatkan sebagai pupuk, pembuatan gas bio atau sebagai bahan pembuat pectin. Selain ittu pulp dari limbah fermentasi biji berguna dalam pembuatan alkohol. Buah cokelat terbagi atas kulit buah, pulp, placenta dan biji. Kulit buah adalah kulit bagian terluar yang menyelubungi buah kakao dengan tekstur kasar, tebal dan agak keras.
Kulit buah kakao merupakan hasil dari proses pengolahan buah kakao yang telah dipisahkan dari buahnya dan merupakan salah satu imbah yang sangat potensial untuk dijadikan bahan makanan ternak ruminansia. Kulit buah kakao dapat menjadi salah satu bahan makanan ternak yang berserat tinggi dan mengandung bahan lognoselulotik. Buah kakao terdapat 30-50 biji. Biji dikelilingi oleh pulp yang berlendir seperti getah. Penggunaan kulit kakao untuk ternak sapi bisa 30- 40% dari kebutuhan pakan, dengan demilikan pemanfaatan kulit buah kakao dapat mengantisipasi masalah kekurangan pakan ternak serta menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hijauan.
Penelitian Anas et al., (2017) yang berjudul “Kecepatan Inovasi Limbah Coklat Sebagai Pakan Ternak Kambing Ettawa di Kecamatan Tanjung Baru”
merupakan penelitian yang sama dengan rumusan masalah yang kedua tentang faktor-faktor keputusan petani dalam melakukan sistem integrasi. Hasil penelitian ialah program penyuluahan tidak akan berjalan efektif jika sasaran (peternak) dari program tidak akan mendukung. Karakteristik peternak berhubungan dengan kecepatan adopsi inovasi terhadap pemanfaatan limbah kakao sebagai pakan kambing PE di Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar. Karakteristik peternak dalam hal diri peternak seperti umur, tingkat pendidikan, lama beternak, skala usaha, luas lahan, pendapatan dan status kepemilikan usaha. Kisaran umur pada Kecamatan Tanjung Baru ialah 15-64 tahun merupakan usai produktif dalam berusaha. Tingkat pendidikan sebagian besar tamatan SLTA tergolong menengah.
Pengalaman beternak juga mempengaruhi kecepatan adopsi. Mutu intensifikasi dengan membandingkan penerapan dengan rekomendasi yang disampaikan oleh penyuluh sebanyak 73,33% peternakan menjawab baik dilaksanakan.
Penelitian Syamsuddin et al., (2014) yang berjudul “Analisis Potensi dan Peluang Pengembangan Kakao di Sulawesi Barat” yang merupakan penelitian yang sama dengan rumusan masalah ketiga tentan perbedaan produktivitas. Hasil penelitian ialah produktivitas kakao di Sulawesi Barat menunjukkan bahwa dari total luasan tanaman kakao sebanyak 179.375 ha atau 47,27% tanaman belum menghasilkan (TBM) terdapat seluas 30.838 ha atau 17,19% dan tanaman tua atau rusak dengan hasil rendah seluas 62.945 ha atau 35.09%. Aspek dukungan
teknologi dalam mendukung pengembangan kakao rakyat di Sulawesi Barat, teknologi produksi dan peningkatan pendapatan petani kakao telah ada, meskipun masih sangat terbatas. Badan Litbang Pertanian melalui Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) Sulawesi Barat telah memperkenalkan dan mengitoduksi model pengembangan pertanian melalui inovasi pada tanaman kakao di Sulawesi Barat. Model yang diperkenalkan adalah model sistem integrasi tanaman kakao dengan ternak kambing. Hasil penerapan pada beberapa kelompok tani atau gapoktan telah berhasil meingkatkan produktivitas kakao rata-rata 0,15 t per ha dari 775 kg per ha per tahun menjadi 930 kg per ha per tahun. Selain itu pendapatan petani juga meningkat dari tambahan hasil ternak kambing yang dipelihara.
Penelitian Harli (2017) yang berjudul “Sistem Integrasi Tanaman-Terak Kambing Untuk Produksi Kakao yang Resilien” yang merupakan penelitian yang sama dengan rumusan ketiga. Hasil penelitian ternak kambing dengan sistem kandang di areal perkebunan kakao akan dihasilkan pupuk organik berasal dari kotoran ternak dan dapat digunakan langsung di areal perkebunan sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tiap hektar kebun tanaman kakao. Di dalam model usahatani, ternak dinntegrasikan dengan tanaman pangan untuk mencapai kombinasi optimal, sehingga input produksi menjadi lebih rendah dengan tidak mengganggu tingkat produksi yang dihasilkan. Sistem integrasi kakao ternak jika dikelola dengan manajemen yang baik akan melahirkan produksi yang tinggi bagi kakao maupun kambing. Indonesia memiliki luas areal kakao 1.191.742 ha dengan produksi kakao sebesar 474.000 ton. Hal ini memberi peluang besar untuk menerapkan model integrasi kakao dan ternak kambing.
Peluang penambahan jumlah ternak kambing. Semakin tinggi produksi kakao, maka meningkat pula potensi limbah kakao yang dihasilkan.
Penelitian Gunawan et al., (2016) dengan judul “Technology Innovation in Cocoa-Goats Integration System for Increasing of Productivity and Farmers Income in Kulon Progo Regency, Yogyakarta Special Region Province, Indonesia” sama dengan rumusan keempat tentang pendapatan. Hasil dari penelitian para petani dibagi menjadi tiga model. Model A ialah model petani
yang mekakukan integrasi kakao-kambing dengan inovasi teknologi, model B yang mewakili integrasi kakao-kambing tanpa melakukan inovasi teknologi dan model C yang tanpa integrasi kakao-kambing dan tanpa teknologi inovasi.
Pendapatan usahatani kakao model A lebih tinggi daripada model B dan C karena p6erbedaan jumlah produksi kakao yang dihasilkan oleh masing-masing model.
Pendapatan dalam pemeliharaan kambing pada model A lebih tinggi daripada B tertutama karena perbedaan jumlah kambing yang dibesarkan oleh petani dan penjualan kambing jantan pada saat hari raya Idul Adha. Pendapatan usahatani petani yang mengadopsi integrasi kakao-kambing dengan inovasi teknologi lebih tinggi daripada tanpa inovasi teknologi dan budidaya kakao tanpa integrasi.
Penelitian Gunawan et al., (2016) dengan judul “Pengembangan Bioindustri Pakan dan Pupuk Organik Berbasis Integrasi Kakao – Kambing”
merupakan penelitian yang sama dengan penelitian rumusan masalah ke empat tentang perbedaan pedapatan pada sistem usahatani non integrasi kakao-kambing dan sistem usahatani intgerasi kakao-kambing. Hasil penelitian ialah pendapatan petani per tahun di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DIY per tahun dapat ditingkatkan dari Rp 473.950 menjadi Rp 2.280.500 melalui pengembangan bioindustri berbasis integrasi antara tanaman kakao dengan ternak kambng. Petani memiliki kebun seluass 0,20 Ha dan pemilikan ternak kambing sebanyak 3-5 ekor. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pendapatan petani per tahun meningkat dari Rp 423.000 menjadi Rp 2.481.000 melalui pengembangan bioindustri berbasis integrasi tanaman kakao dengan ternak kambing. Hasil pengkajian pada tahun 2013 menunjukkan bahwa dengan mengoptimalkan penggunaan biomassa kakao dan kambing dapat meningkatkan pendapatan petani per tahun yaitu dari Rp 983.000 menjadi Rp 2.720.000. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan bioindustri berbasis usahatani kakao integrasi dengan ternak kambing memiliki potensi ekonomi untuk dikembangkan di masyarakat terutama bagi petani kakao.
2.2 Landasan Teori