Pertanian Integrasi Kakao-Jave: Integrasi Sistem, Analisis Pendapatan dan Produktivitas di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek” sebenarnya adalah karya saya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya kutip sumbernya, belum pernah diserahkan ke instansi manapun, dan merupakan tidak menjiplak. Pertanian Integrasi Kakao-Jave: Analisis Integrasi Sistem, Pendapatan dan Produktivitas di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek;. Petani kakao di Desa Suruh mempunyai dua usahatani yang berbeda yaitu usahatani kakao-kambing terpadu dan usahatani kakao-kambing non-integrasi.
Semula penggunaan teknologi sistem integrasi kakao-kambing digunakan oleh semua peternak, sehingga beberapa tahun terakhir kambing mulai ditinggalkan karena tidak ada yang membantu beternak kambing, kebutuhan pun semakin meningkat. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mengetahui sistem peternakan kambing kakao terpadu di Desa Suruh, analisis Linear Probability Model (LPM) untuk mengetahui faktor-faktor keputusan peternak pada sistem peternakan kambing kakao terpadu, analisis. viii. Uji Independent Sample T-test untuk mengetahui perbedaan produktivitas dan pendapatan usaha peternakan kambing kakao sistem terpadu dan sistem peternakan kambing kakao non terpadu di Desa Suruh. Kemungkinan petani memilih sistem integrasi kambing kakao sebesar 58,8%, 3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara produktivitas produksi kambing integrasi kakao dengan produktivitas peternak integrasi kambing non kakao. Rata-rata produktivitas kakao yang menggunakan sistem usahatani kakao terpadu sebesar 978,06 Kg/ha dengan sistem usahatani kakao-kambing non terpadu sebesar 876,70 kg/ha, 4) Terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani kakao-kambing terintegrasi dengan pendapatan usahatani kakao-kambing non-integrasi. pendapatan pertanian terpadu.
Rata-rata pendapatan peternak kambing kakao non-integrasi adalah Rp Ha/tahun, sedangkan peternak kambing kakao non-integrasi rata-rata pendapatannya sebesar Rp Ha/tahun. Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Integrasi Bisnis Kakao-Kambing: Analisis Integrasi Sistem, Pendapatan dan Produktivitas di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek”.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan Tabel 1.2 terlihat wilayah pengembangan kakao di Pulau Jawa adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Banten. Produksi Kakao di Provinsi Jawa Timur sebesar 28,58 ribu ton pada tahun 2012, dengan peningkatan produksi pada tahun 2013 sebesar 30,36 ribu ton. Berdasarkan Tabel 1.3 terlihat bahwa di Jawa Timur terdapat lima kabupaten yang menjadi sentra kakao yaitu Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Kediri.
Program Gernas Kakao dinilai cukup efektif dalam meningkatkan produksi kakao di Indonesia khususnya di Provinsi Jawa Timur (Danial et al., 2015). Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur dengan produksi kakao tertinggi setelah Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Lumajang. Berdasarkan Tabel 1.4 terlihat produktivitas tertinggi pada tahun 2016 adalah Kecamatan Panggul, Kecamatan Dongko, Kecamatan Pogalan, Kecamatan Tugu, disusul Kecamatan Suruh.
Berdasarkan Tabel 1.5 Luas Komoditi Kakao Menurut Desa di Kecamatan Suruh Tahun 2016, luas lahan komoditi kakao terluas berada di Desa Suruh dengan luas 98,75 ha. Berdasarkan tabel 1.6 populasi kambing tertinggi pada tahun 2015 adalah sebagai kambing, pada tahun 2016 mengalami penurunan pada bagian ekor dan meningkat pada tahun 2017 pada bagian ekor karena kambing merupakan hewan ternak yang berkembang biak cukup cepat karena dapat melahirkan 2 ekor atau lebih banyak dengan usia kehamilan 5 bulan, sehingga dengan manajemen perkawinan yang baik dalam 2 tahun bisa melahirkan hingga 3 kali.
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran untuk mengambil kebijakan integrasi kakao. Bagi peneliti, diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan menulis dalam menganalisis masalah dan menambah pengetahuan.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan Anas et al., (2017) berjudul “Kecepatan Inovasi Limbah Coklat Sebagai Pakan Kambing Ettawa di Kecamatan Tanjung Baru”. Hasil penelitian ternak kambing yang dikurung di areal perkebunan kakao akan menghasilkan pupuk organik dari kotoran sapi dan dapat langsung dimanfaatkan di areal perkebunan sehingga dapat meningkatkan produksi dan produktivitas per hektar perkebunan kakao. Sistem integrasi kakao ternak apabila dikelola dengan manajemen yang baik akan menghasilkan produksi yang tinggi baik pada kakao maupun kambing.
Pendapatan usahatani petani yang mengadopsi integrasi kakao kambing dengan inovasi teknologi lebih tinggi dibandingkan tanpa inovasi teknologi dan budidaya kakao tanpa integrasi. Penelitian Gunawan et al., (2016) berjudul “Pengembangan bioindustri pakan dan pupuk organik berbasis integrasi kakao – kambing”. Hasil penelitian adalah pendapatan tahunan petani di Kabupaten Kulon Progo Provinsi DIY dapat ditingkatkan dari Rp 473.950 menjadi Rp 2.280.500 melalui pengembangan bioindustri berbasis integrasi antara ternak kakao dan kambing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani per tahun meningkat dari Rp 423.000 menjadi Rp 2.481.000 dengan berkembangnya bioindustri berbasis integrasi tanaman kakao dan kambing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan bioindustri berbasis budidaya kakao yang terkait dengan peternakan kambing mempunyai potensi ekonomi bagi pengembangan masyarakat khususnya petani kakao.
Landasan Teori
- Usahatani Kakao
- Peternakan Kambing
- Teori Zero Waste
- Konsep LEISA
- Teori Pendapatan
- Analisis Linear Probability Model (LPM)
- Pengambilan Keputusan
- Produktivitas
Menurut Karmawati et al., (2010) bahwa sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi penghambat pertumbuhan tanaman. Menurut Susilorini et al., (2008), kambing merupakan hewan pertama yang didomestikasi oleh manusia, atau kedua setelah anjing. Kurangnya pemahaman peternak terhadap pemanfaatan kambing berdampak pada sistem subsisten, selain itu peran mereka hanya sebagai usaha paruh waktu dan tabungan keluarga untuk memenuhi kebutuhan mendesak (Kurniasih et al., 2013).
Di sisi lain, hewan ternak menghasilkan kotoran yang dapat diubah menjadi pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman (Syarif et al., 2017). Namun dalam pertanian terpadu, satu perusahaan dapat digabungkan dengan perusahaan lain, sehingga limbah dari satu perusahaan dapat menjadi bahan baku bagi perusahaan lain (Setiawan et al., 2011). Kekuasaan dinyatakan sebagai kemampuan dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi kehidupan berkeluarga, dalam hal ini dapat dilihat apakah kekuasaan antara suami dan istri sama atau tidak (Harahap et al., 2018).
Pengambilan keputusan petani yang bersedia mempertaruhkan alokasi faktor produksi pada usahataninya akan lebih optimal dalam pengalokasian faktor produksi (Apriliana et al., 2016). Daerah yang kondisi lingkungannya tidak sesuai dengan keinginan tanaman akan menyebabkan tanaman terserang penyakit fisiologis.
Kerangka Pemikiran
Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani untuk menerapkan sistem peternakan kakao dan kambing terpadu adalah umur, lama usahatani, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah anggota keluarga dan jumlah pohon. Kecukupan pupuk organik pada sistem peternakan kakao dan kambing terpadu diharapkan dapat meningkatkan kesuburan tanah sehingga meningkatkan produktivitas. Terdapat perbedaan nyata dalam produktivitas yang dicapai, yang akan berbeda dengan sistem peternakan kakao dan kambing yang tidak terintegrasi.
Tujuan dari usahatani integrasi kakao-kambing adalah untuk menghasilkan pupuk kandang sebagai kompos, sehingga dapat menghemat biaya pembelian kompos. Petani yang tidak melakukan usaha integrasi kakao-kambing dapat membeli kompos dari ketua kelompok tani, sedangkan petani yang beternak kambing tidak perlu membeli pupuk kompos, sehingga terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan petani integrasi kakao-kambing dengan Petani kakao integrasi non kambing, peneliti akan menganalisis perbedaan pendapatan dan produktivitas petani kakao non integrasi dan terintegrasi dengan analisis pendapatan yang dilakukan uji Independent Sample T-test untuk mencari perbedaan pendapatan dan produktivitas yang diterima petani kakao integrasi dan non integrasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani untuk menerapkan sistem peternakan terpadu kambing kakao adalah umur, lama beternak, tingkat pendidikan, pendapatan, jumlah anggota keluarga dan jumlah pohon.
METODOLOGI PENELITIAN
- Metode Penentuan Daerah Penelitian
- Metode Penelitian
- Metode Pengambilan Contoh
- Metode Pengumpulan Data
- Metode Analisis Data
- Definisi Operasional
Objek yang diamati adalah para petani dan hubungannya dengan sistem usahatani integrasi kakao-kambing dalam usahataninya. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan terhadap petani kakao yang melakukan usaha ternak kambing kakao terpadu dan non terpadu di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Jember yang dijadikan sampel dalam penelitian. Analisis deskriptif dilakukan untuk memperoleh sistem usahatani integrasi kakao-sapi dan alasan petani melakukan usahatani kakao-kambing secara terpadu dan non terpadu.
Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui perbedaan pendapatan, produktivitas usahatani kakao kambing terpadu dan non terpadu di Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek. H0 : koefisien regresi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam penerapan sistem usahatani tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani pada usahatani integrasi kakao-kambing di Desa Suruh. H1 : koefisien regresi faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan petani pada sistem integrasi kakao-kambing di Desa Suruh.
Jika skor t ≤ tα maka H0 diterima yang berarti koefisien regresi faktor tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap petani dalam pengambilan keputusan penerapan sistem usahatani terpadu kakao-kambing dan non-kakao-kambing. Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan diteliti dengan kriteria petani kakao dengan sistem usahatani integrasi kakao-kambing dan integrasi kakao-kambing.
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
- Keadaan Geografis Desa Suruh Kecamatan Suruh
- Keadaan Penduduk Desa Suruh Kecamatan Suruh
- Potensi Pertanian Desa Suruh Kecamatan Suruh
- Potensi Peternakan Desa Suruh Kecamatan Suruh
- Gambaran Umum Petani Integrasi Kakao-Kambing di Desa Su-
- Karakteristik Responden
Berdasarkan Tabel 4.4, keadaan penduduk di Desa Suruh ditunjukkan dengan jumlah keluarga laki-laki dan perempuan. Karakteristik responden merupakan ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh masing-masing responden dalam penelitian ini, yang terdiri dari petani kakao-kambing integrasi dan petani kakao-kambing non-integrasi di Desa Suruh.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sistem Usahatani Integrasi Kakao-Kambing di Desa Suruh Ke-
Faktor yang Mempengaruhi Petani dalam Pengambilan Kepu-
Produktivitas Petani Sistem Usahatani Integrasi dan Non Inte-
Pendapatan Petani Sistem Usahatani Integrasi Kakao-Kambing
- Pendapatan Usahatani Integrasi Kakao-Kambing di Desa Su-
- Perbedaan Pendapatan Petani Integrasi Kakao-Kambing dan
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Tanaman utama dalam sistem integrasi koko-kambing ialah koko, dan tanaman penaung ialah petai dan alpukat. Pokok koko menghasilkan buah dan daun, manakala daunnya digunakan sebagai tanaman penutup makanan kambing. Najis kambing dalam bentuk air kencing dan pepejal ditapai selama 3-12 bulan dan digunakan sebagai kompos untuk tanaman koko dan pelanggan.
Rata-rata produktivitas biji kakao kering pada petani kakao kambing sistem terpadu adalah 978,06 Kg/Ha sedangkan pada petani kakao kambing non terpadu adalah 876,70 Kg/ha. Hasil analisis berbagai pengujian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara produktivitas usahatani integrasi kakao-kambing dengan produktivitas petani integrasi kakao non-kambing. Hasil analisis uji variatif menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan usahatani kakao-kambing terintegrasi dan pendapatan usahatani kakao-kambing non-integrasi.
Saran
Berapa biaya pernya? tenaga kerja yang diperoleh petani perempuan dan laki-laki dengan menjalankan integrasi kakao-kambing per hari atau setengah hari. Berapa jumlah anggota keluarga petani yang terlibat dalam penerapan sistem integrasi kakao-kambing yang masih menjadi tanggung jawab ayah/ibu? Berapa jumlah anggota keluarga peternak kakao-kambing non-integrasi yang masih menjadi saudara Anda?